Red Light 1 – The Light On The Eye

10612725_1462334114047500_5177407384779008672_n

Title : Red Light 1 — The Light On The Eye
Author : Rosalia
Cast : Kim Taeyeon, Wu Yifan
Genre : Mystery, Romance
Rating : PG-17
Lenght : Chapter

Poster by StephLulu Artworks

Ini fanfict murni buatan author, bila ada kesamaan dengan yang lain hanyalah sebuah ketidaksengajaan, jadi mohon apresiasinya yaa
Mohon maaf untuk segala kesalahan ketik, kalimat rancu, ataupun bahasa kacau.

Happy Reading….

*

 

Yifan hanyalah mahasiswa biasa yang beruntung memperoleh beasiswa untuk bersekolah di sebuah universitas seni ternama di Seoul. Laki-laki berusia dua puluh empat tahun itu tak pernah lepas dari tali kamera yang terkalung di lehernya. Tak sebentar pun tangannya sibuk memutar lensa bilamana dijumpai objek yang menarik perhatian. Yifan dan fotografi tak dapat dipisahkan satu sama lain. Bahkan dengan segenap kejadian ganjil dengan unsur mistis yang ditemuinya berkat benda pengabadi momen kesayangannya itu. Hingga pada akhirnya Yifan bertemu seorang gadis yang juga mengalami kejadian aneh sama dengannya. Mereka bertekad menguak misteri yang tiba-tiba mengusikkehidupan normal mereka.

 

*

 

Rutinitas belajar yang wajib dilakoni kawanan manusia —yang menyebut diri mereka mahasiswa— benar-benar membosankan. Tak urung separuh dari keseluruhan populasi mahasiswa di ruangan dengan ragam pameran lukisan abstrak itu menguap lebar-lebar mendengarkan penyampaian materi kuliah—atau lebih mereka sebut ocehan jemu— dari dosen bertubuh pendek gempal dengan uban dan kumis tebalnya di depan sana. Masih bisa dihitung jari jumlah mahasiswa yang benar-benar layak disebut mahasiswa. Dan satu dari sepersedikit jenis ini tak lain adalah seorang laki-laki yang beruntung dikaruniai wajah tampan dengan hidung mancung dan ekspresi stay coolnya tengah mencatat penjelasan sang dosen.

Sesekali laki-laki itu melongok arloji hitam yang terpasang manis di tangan kirinya. Waktu kuliah untuk pelajaran seni lukis tersisa delapan menit. Artinya ia tak perlu lagi terkurung di ruangan panas ini bersama orang-orang dengan tampang mengantuk yang sudah kesekian kalinya menguap. Begitu benar waktu kuliah telah usai, Yifan —laki-laki itu— meringkas barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam ransel coklatnya. Dengan satu tangan menggaet ransel serta satu tangan lainnya menenteng sebuah DSLR berwarna hitam, Yifan melangkahkan kakinya menyusuri koridor kampus yang sedikit lengang.

Yifan terlalu asyik dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari ada satu sosok yang bertabrakan dengannya. Sontak Yifan yang terkejut, tanpa sengaja menjatuhkan barang-barang yang dibawanya. Yifan membelalakkan matanya ketika melihat lensa kameranya sedikit retak. Tidak. Tidak ada yang boleh menyentuh kameranya apalagi sampai merusaknya. Dipenuhi oleh rasa geram, Yifan mengambil kameranya yang tergeletak di lantai koridor dengan pualam hitam itu.

“Permisi.. Ehh.. Tuan.. saya mohon maaf. Saya tidak sengaja, Tuan. Mohon maafkan saya. ” Suara itu terangsang indera pendengaran Yifan namun tak diacuhkan olehnya. Yifan terlalu sibuk memeriksa bagian lain kameranya untuk mencari barangkali ada kerusakan tertentu.

“Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja menabrak anda. Maaf kalau kamera anda rusak karena saya. Sungguh. Saya mohon maaf.”

Yifan menggertak. Gigi-giginya saling bertaut menimbulkan bunyi gemeletukan yang cukup memberi sinyal akan kekesalannya.

“Nona, apa dengan anda memohon maaf seperti itu bisa memperbaiki kerusakan kamera saya? Haishh.. benar-benar.” Omel Yifan pada gadis dengan tubuh yang —ehh jauh— lebih pendek darinya itu. Gadis dengan permata kepala berupa rambut hitam panjang dan raut wajah baby-face itu mengerutkan dahinya mendengar kalimat yang dilontarkan mulut Yifan.

“Tuan, kamera anda terjatuh bukan salah saya sepenuhnya. Anda pun ikut andil karena anda kurang memperhatikan keadaan di depan anda saat berjalan.” Gadis itu merapikan letak poninya yang menutupi bagian atas wajahnya. Ekspresinya mengeras ketika indera penglihatannya berkontak dengan mata tajam Yifan.

“Anda yang jelas-jelas menabrak saya. Saya tengah berjalan ketika Anda tiba-tiba muncul dan membuat kamera saya terjatuh. Tentu saja itu salah Anda. Jadi saya harap Anda bersedia bertanggung jawab.” Yifan masih kukuh dengan spekulasi bahwa gadis yang kini menatapnya tajam itu bersalah dengan menabraknya yang tengah berjalan hingga kamera tercintanya harus mengalami —sedikit— goresan.

“Bertanggung jawab? Tuan.. Mengapa saya harus bertanggung jawab atas kamera anda? Saya juga punya kamera yang bermasalah, lantas mengapa saya harus mengurusi kamera anda?” Gadis itu bersiap mengambil langkah pergi ketika Yifan mencengkeram tangannya sekuat kepiting.

“Tak ada yang boleh menyentuh kamera saya. Apalagi membuatnya rusak barang sedikit pun. Ini. Perbaiki hingga seperti semula. Dan kita akan bertemu lagi.” Yifan berbisik horor di telinga gadis mungil itu dengan sedikit membungkukan tubuh jangkungnya lantas menyerahkan paksa si kamera malang. Usai itu Yifan mengambil langkah lebar dan pergi tanpa mengacuhkan si gadis yang masih tak terima dengan keputusan sepihak Yifan.

“Laki-laki gila! Kita bahkan tak saling kenal dan kau sudah bersikap tak sopan padaku, eoh? Apa itu yang namanya etika baik? Ergh… benar-benar!”

*

Yifan merutuki kebodohannya. Ia memang tak pernah merasa bodoh sekalipun, kendati kali ini Yifan benar-benar bertindak bodoh. Mengapa bisa dengan mudahnya ia menyerahkan kamera berharganya itu pada seorang yang bahkan tak dikenalnya? Tidakkah ia bisa memperbaiki kamera itu sendiri? Mengapa pula harus memaksa orang lain bertanggung jawab atas kerusakan kecil itu?

Ah tidak.. ralat jika kamera Yifan memiliki kerusakan kecil. Kamera itu retak di bagian lensanya, dan nyaris pecah. Jelas itu masalah besar bagi Yifan. Andaikata kamera itu adalah manusia, maka kerusakan yang dialaminya terletak pada bagian vital yakni mata. Bagaimana Yifan akan bisa mengabadikan objek jika lensanya pecah?

Di dalam sebuah ruangan luas yang terletak di lantai 24 apartemen mewah itu Yifan sibuk menyalahkan diri sendiri. Apa yang bisa dilakukannya kini tanpa kamera? Yifan hanya bisa sibuk mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan satu tangan berkacak pinggang sedang tangan yang lain mengacak rambut frustasi.

Ayolah.. Yifan. Hanya kameramu yang —nyaris— rusak, dan kau bertindak seolah masalah yang benar-benar besar telah terjadi.

*

Kim Taeyeon. Gadis itu bingung dengan segala isi kepalanya. Apa yang harus dilakukannya kini dengan kamera yang retak lensanya itu? Kameranya sendiri pun sedang bermasalah di bagian yang sama dan masih dalam proses perbaikan. Apa Taeyeon harus membawa kamera itu pula ke tempat optik yang sama? Heishh.. sayangnya Taeyeon masih berkutat dengan asumsinya yang menangkis fakta ia harus bertanggung jawab atas kerusakan kamera seseorang —yang bahkan tak ia kenal— hanya karena secara tak sengaja Taeyeon menabrak orang tersebut.

“Yaa, peristiwa ini bukan salahku sepenuhnya. Laki-laki tak tau diri itu tidak memperhatikan keadaan di depannya saat berjalan. Bagaimana jika seandainya ia yang menabrakku, bukan aku yang menabraknya? Aish,, benar-benar. Aku benci berurusan dengan laki-laki manapun.” Gerutu Taeyeon yang kini juga sedang mondar-mandir di ruang kamarnya sambil mencengkeram kuat-kuat kamera di tangannya seolah dengan begitu segala kekesalannya bisa terlampiaskan.

Iseng-iseng Taeyeon mulai mengutak-atik kamera —orang tak dikenalnya— itu. Benar sekali. Kamera itu tak bisa digunakan. Lensanya pecah. Namun benda hitam dengan tali leher bertuliskan canon warna putih itu masih menyimpan gambar dengan baik. Awalnya Taeyeon tak berniat untuk bertingkah tak sopan pada barang orang lain yang bukan miliknya. Jika ia melihat-lihat foto yang tercaptur disana, bukankah itu berarti Taeyeon sudah lancang? Namun ada hal lain yang mendorong gadis itu berhasil dikalahkan rasa ingin tahunya. Ia berpendapat mungkin akan menemukan sedikit clue mengenai siapa sebenarnya laki-laki tak tau diri pemilik kamera ini. Maka dengan segera, Taeyeon mulai memperhatikan tiap detail gambar yang dilihatnya.

Helaan napas kecewa meluncur dari lubang hidung Taeyeon ketika tak ditemukannya satu pun foto tentang pemiliknya. Hampir semua objek kamera ini adalah benda mati, hanya sebagian saja diantaranya yang merupakan gambar makhluk hidup. Itu pun hanya sekedar anak-anak kecil yang berlarian, rumput tertiup angin, bahkan hanya seekor kumbang yang hinggap di dedaunan. Namun Taeyeon tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada hasil jepretan laki-laki itu. Tiap sasaran kameranya selalu tampak bagus, indah, dan tentu saja nyata. Entah bagaimana laki-laki itu melakukannya, yang pasti tiap angle yang diambilnya nampak sempurna.

Ada banyak hasil jepretan di kamera itu. Dan berhenti pada tiga foto terakhir, Taeyeon terpaku. Matanya intens memperhatikan tiap sudut gambar di layar penampil. Taeyeon tak bisa percaya yang dilihatnya. Foto ini….

Seorang gadis berambut hitam panjang hingga menutupi pinggang bagian belakang tubuhnya nampak tengah membalikkan separuh tubuhnya menghadap kamera. Background ilalang dan pantulan siluet cahaya putih membuat gambar ini tampak abstrak namun juga terkesan fantasi. Yang membuat Taeyeon tak bisa mengalihkan perhatian dari foto ini adalah adanya garis merah yang seolah memotong wajah gadis selaku objek foto. Dua foto lainnya pun tak jauh berbeda. Hanya berubah posisi si gadis yang menampakkan bagian belakang tubuhnya seperti sedang berjalan menjauh. Dan itu pun tetap dengan garis merah yang memotong tepat satu mata kanan si gadis.

Taeyeon meletakkan kamera yang dipegangnya di atas meja. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin tiga foto terakhir itu sama persis dengan hasil jepretannya? Persis. Bahkan background dan tata cahayanya. Ada pula garis yang memotong wajah gadis itu, garis merah yang hanya tepat menyiluet satu mata si gadis. Taeyeon ingat betul semua foto hasil jepretan kameranya. Dan yang Taeyeon ingat, beberapa waktu lalu saat ia mengambil gambar itu tak ada siapapun selain dirinya. Ia berada di sebuah tempat jauh di daerah pedesaan Chuncheong atau entah dimana, tempat yang sedikit terpelosok. Taeyeon mencuri jepretan agar gadis yang menarik perhatiannya itu tak terganggu. Namun hasil fotonya malah menampakkan eye-contact kamera Taeyeon dengan si gadis.

Tak ingin membuat kesimpulan yang aneh-aneh, Taeyeon segera menyambar kamera yang digeletakkannya di atas meja dan berjalan keluar. Ia akan segera memperbaiki kamera itu, agar lekas bisa dikembalikan. Taeyeon perlu menanyakan beberapa hal pada pemiliknya.

*

Yifan pergi mengunjungi sebuah toko optik milik kawan lamanya di pusat kota Seoul pagi buta. Suasana yang masih sedikit sepi membuat Yifan lancar mengemudikan Lamborghini putihnya menyusuri jalanan lengang. Hanya perlu lima belas menit bagi Yifan untuk tiba di dekat kawasan pertokoan Myeongdong.

Yifan menghentikan laju mobilnya di depan sebuah bangunan mungil berukuran sekitar enam kali enam meter bercat coklat kayu dengan banner besar ‘Zhanghai Optic’ di bagian atas bangunannya. Toko itu masih memasang tulisan hitam ‘CLOSED’ di kaca depannya namun Yifan tak menghiraukan itu. Dilihatnya sebentar arloji hitam yang terpasang di tangan kirinya sebelum kemudian Yifan meraih handle pintu toko dan membukanya. Tak terkunci.

Lonceng yang tergantung di atas pintu berkemerincing saat Yifan membuka pintu. Dan Yifan terpaksa mengutuk benda keemasan dengan bulatan di tengahnya itu karena terkejut. Seperti yang diduganya, ide memasang lonceng di pintu masuk toko optik adalah ide buruk. Tempat ini bukan coffee shop ataupun toko pernak-pernik yang menciptakan aura romantis bagi pasangan kekasih yang berkunjung. Ini hanyalah toko optik, dan Yifan yakin tak akan ada efek buruk jika tak perlu memasang bel yang harus menciptakan kerincing ketika pintu terbuka. Sayangnya si empunya bangunan tak sependapat dengan tanggapan genius Yifan.

Dugaan Yifan sebelumnya benar. Kawannya itu lebih senang menghabiskan waktu di toko optiknya ketimbang di rumah sendiri. Yifan tak terkejut dengan hal itu. Yifan hanya berdecak sembari menggelengkan kepala ketika tampak laki-laki seumurannya yang tertidur dalam posisi duduk dengan kepala tersandar pada gagang kursi sementara sekelilingnya sangat amat berantakan. Laki-laki berkulit putih dengan hidung mancungnya itu sesekali menggerakkan bibirnya tak sadar hingga menampakkan sebuah cekungan manis di kedua pipinya.

“Tuan Zhang Yixing! Apa kau akan tetap tertidur sementara tak lama lagi tokomu akan ramai?” Seorang yang dipanggil Yifan sebagai Yixing itu mengangkat kepalanya terkejut ketika Yifan memukul bahunya tiba-tiba. Yixing menyipitkan matadengan malas seolah menegaskan bahwa indera penglihatannya itu menolak untuk dibuka saat ini.

“Siapa kau? Apa kau perampok? Apa yang kau lakukan di tempatku?” Celotehnya tak sadar. Yifan kembali memukul bahu Yixing dengan kekuatan lebih ekstra dari sebelumnya hingga laki-laki itu benar-benar tersadar.

“Yixing, apa kau sedang sibuk?” Yifan duduk di sebuah kursi kayu setelah berhasil mengungsikan peralatan kerja Yixing yang tergeletak dimana-mana.

Yixing yang sedang berjalan suram menuju wastafel di bilik sudut ruangan itu hanya melengos mengisyaratkan jawaban ‘ya’. Yixing terlalu mengantuk dan butuh mencuci muka sebelum siap memulai perbincangan dengan Yifan.

“Sayang sekali. Aku ada masalah dengan kameraku, Yixing. Seorang gadis tak tau diri telah membuatnya terjatuh hingga lensanya retak. Kupikir kau bisa membantuku memperbaikinya.” Yifan berkata dengan perasaan melankolis seolah sang kekasih hati baru saja memutuskan untuk pergi meninggalkannya.

“Kameramu ada padaku.” Yixing yang sedang menyikat gigi terlalu malas menanggapi dan hanya menjawab dengan kalimat singkat. Namun Yifan sungguh terkejut bahkan dengan kalimat singkat itu.

“Apa?!” Yifan bangkit dari duduknya dan mendekati Yixing yang mulutnya masih dipenuhi busa pasta gigi.

“Seorang gadis yang juga pelangganku datang kemari semalam. Sepertinya pagi ini ia akan datang. Kameranya selesai diperbaiki, dan sudah waktunya untuk diambil.”

“Seorang gadis? Eh? Apa kamera gadis itu juga rusak?”

“Begitulah. Lensa kameranya pecah dan sudah kuperbaiki sejak dua hari yang lalu.”

Yifan menaikkan satu alisnya. Sedikit tapi pasti ia merasa bersalah pada gadis itu. Namun di satu pemikiran ia merasa heran sekaligus senang karena telah bertemu dengan gadis yang sepaham dengannya —dalam hal fotografi.

“Mungkinkah ia akan datang kemari sebentar lagi?”

“Kupikir begitu.” Yixing menyodorkan sebuah kamera hitam yang nampak seperti kamera Yifan, namun Yifan segera sadar itu bukan miliknya.

“Inikah kamera gadis itu?” Yifan mengutak-atik kamera yang diterimanya lantas mengecek di beberapa bagian.

“Lensanya juga retak sama seperti milikku. Aneh. Bahkan lokasi retak dan ukuran keretakannya pun sama.” Gumam laki-laki itu tak lebih pada dirinya sendiri.

Yixing kembali dengan aktvitas menggosok giginya ketika lonceng kecil di atas pintu depan toko berdering menandakan seorang pelanggan telah masuk. Tidak, bukan pelanggan. Toko optik Yixing masih belum buka, dan mana mungkin ada pelanggan tak sopan yang masuk begitu saja ke toko yang masih bertuliskan CLOSED.

“Oh Zhang Yixing, bagaimana dengan kameraku? Hishh.. aku menyesal harus ikut antrian kemacetan di hari sepagi ini. Seharusnya aku menuruti instingku untuk menikmati santainya subway meski harus berjalan kaki untuk sampai kemari daripada mengendarai mobil yang bahkan berjalan sepelan siput tanpa lendir. ” Suara yang nampaknya dikenal Yifan kembali mampir di telinga laki-laki dingin itu. Mata sipitnya membelalak dan mulut —seksi— nya dibiarkan terisi udara kosong beberapa detik.

Seorang gadis bertubuh pendek seperti yang sebelumnya dilihat Yifan membuka pintu dan sama terkejutnya ketika ia mengangkat wajah hingga harus berdiam diri beberapa saat dengan mulut yang terbuka juga.

“Apa yang kau lakukan disini?” Sebuah pertanyaan konyol terlontar dari dua insan yang sedang tak tampak bersahabat itu.

Yifan mendekat ke arah si gadis yang masih menyentuh gagang pintu hendak menutupnya. Yifan merasa berbangga hati dengan tinggi tubuhnya yang di atas rata-rata karena dengan demikian ia bisa memberikan sedikit intimidasi pada gadis pendek di hadapannya kini. Percayalah, si gadis tidak sependek itu. Ia hanya tampak pendek jika berdiri langsung di dekat Yifan yang bersyukur memiliki tinggi badan nyaris seratus sembilan puluh sentimeter.

“Kau? Tuan Tak Tau Diri itu lagi? Apa yang kau lakukan dengan kameraku?” Gadis yang tak lain tak bukan adalah Taeyeon itu berkata dengan suara yang sedikit gemetar karena tatapan sedingin suhu di kutub utara tepat tertuju di atas wajahnya. Taeyeon mendongak dengan ragu guna memberanikan diri membalas tatapan penuh intimidasi milik laki-laki tiang listrik itu.

“Tuan Tak Tau Diri? Kupikir ibuku tidak memberiku nama yang demikian.” Yifan sama sekali tak merasa berterimakasih dengan panggilan ‘istimewa’ dari gadis yang juga ia anggap tak tau diri itu.

“Kalau begitu kau punya nama, bukan? Namaku Taeyeon. Kim Taeyeon. Dan kupikir kau akan sedikit berbaik hati memberitahukan namamu agar aku berhenti memanggilmu Tuan Tak Tau Diri.” Taeyeon merebut cepat kamera yang digenggam Yifan sebelum kemudian gadis manis itu mengajukan satu tangannya bermaksud memperkenalkan diri.

Yifan membiarkan sedikit jarak tercipta diantaranya dengan gadis yang kini ia ketahui bernama Taeyeon itu. Sifat —sok— kerennya kembali muncul di waktu tak tepat. Bukannya ia balas menjabat tangan Taeyeon yang terulur dan menyebutkan nama, Yifan malah memberikan smirk dengan mimik wajah ala bad boy.

“Tidakkah kau begitu ingin tau namaku hingga repot-repot memperkenalkan diri? Ayolah, Nona. Aku tidak akan berbicara ‘saya-anda’ lagi denganmu, tapi itu tidak berarti aku ingin mengenalmu.” Yifan sedikit menyunggingkan ujung bibirnya membentuk senyum merendahkan.

“Oh.. begitu rupanya sopan santunmu. Benar-benar Tuan Tak Tau Diri.” Taeyeon menghembuskan napas kesal lantas mendorong tubuh Yifan menjauh dari hadapannya.

“Taeyeonnie? Oh, kau sudah kemari rupanya.” Yixing tengah mengusap mulutnya yang penuh dengan busa pasta gigi ketika dilihatnya Taeyeon melengos sembari mendorong tubuh Yifan.

“Terimakasih sudah memperbaiki kameraku. Uangnya akan kutransfer segera seperti biasa. Aku hanya harus lekas menyingkir dari tempat ini agar tak lagi berhadapan dengan Tuan Tak Tau Diri yang sungguh narsis. Aku pergi.” Taeyeon memberikan seulas senyuman begitu berbicara dengan Yixing namun juga memajukan bibirnya kesal disertai bonus tatapan sinis begitu gadis itu berpaling pada Yifan.

Taeyeon hendak meraih tangkai pintu toko untuk membukanya ketika tak disangka tangan Yifan terulur menahannya pergi. Taeyeon yang terkejut hanya diam.

“Jangan pergi secepat ini. Kumohon, beri aku waktu untuk sedikit berbincang denganmu, Nona Kim.” Yifan yang kurang dari satu menit lalu memberikan smirk untuk Taeyeon, kini sudah bertranformasi menjadi Yifan yang —nampak— lemah lembut dengan tatapan memelas. Taeyeon jadi berpikir beginikah cara seorang bad boy memohon sesuatu pada gadis yang baru dikenalnya.

“Tuan Tak Tau Diri yang sudah memberiku tatapan merendahkan kini berbalik memohon dengan tatapan memelas begitu. Baiklah, karena aku tidak sepertimu yang tak tau diri, maka tak ada alasan bagiku untuk menolak ajakan sedikit berbincang denganmu.” Taeyeon menepis tangan kanan Yifan yang melingkar di tangan kirinya sebelum kemudian gadis itu terlebih dahulu duduk di kursi pelanggan.

“Kalian lanjutkan saja aktivitas kalian. Tapi ingat. Aku tak ingin ada percekcokan dalam bentuk apapun yang bisa menyulut kemarahan masing-masing pihak hingga berniat membakar tempat ini untuk melampiaskan amarah.” Yixing menggelengkan kepalanya frustasi dengan dua tamu yang sudah menyelonong masuk ke tokonya sebelum tulisan CLOSED di depan kaca berganti OPEN.

“Percayalah aku sangat berjasa pada tempat ini hingga tak akan mungkin membakarnya, Tuan Zhang.” Taeyeon kembali menyunggingkan senyuman manis untuk si pemilik toko yang juga manis itu. Yifan hanya melengos melihat basa-basi Taeyeon yang menurutnya terlalu murah memberikan sebuah senyuman pada orang lain.

“Aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Jadi aku akan langsung berbicara padamu.” Yifan mengambil posisi duduk di kursi pelanggan lain tepatnya di sisi kiri Taeyeon.

“Yeah, kau bisa langsung bicara kalau begitu.”

“Namaku Wu Yifan. Kau bisa memanggilku apapun sesuai namaku tapi tidak dengan Tuan Tak Tau Diri. Aku juga menyukai fotografi dan kupikir kita memiliki kesamaan dalam bidang itu.” Entah mengapa Yifan merasa lidahnya sedikit kaku hanya untuk mengucapkan perkenalan singkat itu. Bukan style Yifan jika harus grogi saat harus berbicara dengan seorang gadis, namun nyatanya kini laki-laki itu tak bisa mungkir dari perasaan canggung.

“Oke… Kupikir tak ada masalah dengan itu. Aku bisa memanggilmu Yifan. Lanjutkan.” Taeyeon menganggukkan kepalanya beberapa kali karena jemu dengan Yifan yang nampaknya sedang mencoba mengatur kosakata.

“Aku.. ehm.. yaa. Maaf jika ini terdengar lancang. Tapi aku sempat melihat-lihat foto yang kau simpan di kameramu. Tidak. Tidak. Jangan marah padaku. Aku hanya melihat beberapa saja. Dan ada satu objek yang menarik perhatianku hingga aku ingin memastikannya langsung kepadamu.”

Yifan hanya menarik napas ketika Taeyeon membelalakkan matanya mengetahui fakta Yifan telah mengutak-atik kameranya tanpa ijin. Tapi Taeyeon tak akan marah karena hal itu. Pun ia sendiri juga melakukan hal yang sama pada kamera Yifan. Taeyeon mengerti apa yang dimaksudkan laki-laki itu sebagai ‘objek yang menarik perhatian’.

“Apa itu tentang foto gadis di padang rumput dengan rambut tertiup angin dan satu mata tersensor sinar merah? Percayalah aku pun juga ingin menanyakan hal itu padamu.”

“Benarkah? Apa kau juga dengan sembrononya mengutak-atik kamera orang?”

“Sudahlah. Bukankah kita berdua sama-sama berkedudukan sebagai orang yang salah dalam permasalahan ini?”

“Lalu?”

“Sudahlah, Yifan. Aku benar-benar ingin memastikannya padamu. Bagaimana bisa siuet yang kita ambil sama persis? Bahkan tiap inchinya? Tata cahayanya? Dan… objeknya?”

“Jika aku tau cara menjawab pertanyaanmu itu maka sudah kulakukan, Nona Kim.”

Taeyeon menimang-nimang kameranya yang sudah kembali baik berkat keahlian seorang Zhang Yixing. Reflek jari-jarinya menjelajahi tombol pemutar gambar pada kamera itu mencari objek yang sedang mereka bahas. Begitu Taeyeon menemukannya, segera saja ia sodorkan kamera itu pada Yifan untuk menunjukkan gambar yang dimaksudnya.

“Aku hanya ingin tau bagaimana ini terjadi, Nona Kim? Dimana kau mengambil gambar ini?” Yifan mendekatkan jarak pandangannya pada layar penampil gambar kamera Taeyeon.

“Aku tak ingat dimana mengambilnya. Yang kuingat hanyalah beberapa bulan lalu aku melakukan touring menjelajahi daerah-daerah terpencil dan tibalah aku pada tempat dengan gadis misterius itu. Aku tak ingat ada orang lain saat aku mengambil gambarnya. Juga… aku tak ingat gadis itu menoleh padaku saat aku mengambil gambarnya.” Taeyeon menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah layar yang memperlihatkan satu mata si gadis misterius dengan garis merah melintang.

“Eye contact? Benar sekali. Aku juga tak ingat dimana aku mengambil gambar itu. Aku mengambil gambar ini beberapa waktu lalu. Ada seorang gadis yang tengah menikmati semilir angin di antara ilalang yang seolah menjadi pagar pinggiran padang rumput hijau. Sepertinya di daerah Chuncheong. Tapi aku tak yakin ada padang rumput seindah itu di Chuncheong.”

“Kaupikir Chuncheong wilayah Eropa? Tapi aku juga ingat mengambilnya disana. Oh, apa itu suatu kebetulan? Kita mengambil foto yang sama, hasil yang sama, tempat yang sama, objek yang sama, hanya waktunya saja yang menurutku berbeda.” Komentar Taeyeon terdengar lebih dari suatu kebetulan di telinga Yifan. Laki-laki itu mengerutkan keningnya seolah berpikir keras menyusun spekulasi.

“Kau yakin tak mengenal sosok gadis di gambar itu? Kupikir semua ini adalah kode.”

“Kode? Yang benar saja? Kau pikir aku seorang mata-mata? Agen rahasia? Detektif? Oh, percayalah kata kode terdengar sangat konyol. Kalaupun aku mengenal gadis misterius itu, menurutmu kenapa ia ikut melibatkanmu? Kau yakin bukan kau yang mengenalnya?”

“Nona Kim, berpikirlah lebih luas. Kupikir kita tidak mungkin bertemu begitu saja dengan hobi sama yang kebetulan mengalami kerusakan kamera di bagian yang sama kemudian kita menyadari sudah mengambil gambar yang sama. Sama, sama, dan sama. Kenapa semuanya sama? Kau? Aku? Apa akan ada istilah kita?”

“Tidak akan ada kata kita, Tuan Wu. Apakah ada sesuatu di dunia ini yang tidak bisa dicerna akal sehat?”

“Banyak sekali yang tak bisa dicerna akal sehat olehmu. Tapi tidak bagiku. Menurutku semuanya memiliki makna.”

“Makna?”

“Tidakkah kau heran kenapa dalam gambar itu si gadis menunjukkan eye contact dengan kamera kita sedangkan saat kita mengambilnya tidak demikian? Kenapa gadis itu hanya menampakkan satu matanya sedang mata yang lain tertutup rambut hitamnya? Kenapa ada garis merah di mata gadis itu?”

“Baiklah, Tuan Genius. Jika kau memang secerdas itu, bagaimana kau akan menyelesaikan kasus ini?”

“Karena itu aku butuh bantuanmu untuk memecahkannya. Aku juga bukan seorang mata-mata, agen rahasia, ataupun detektif. Tapi aku ingin tau apa yang terjadi di balik semua ini!”

Taeyeon memutar bola matanya malas. Sejujurnya ia pun merasakan hal yang sama dengan Yifan. Penasaran dengan semua peristiwa dibalik kode-kode aneh itu. Namun ia tak ingin terlibat lebih jauh. Ia ingin kembali ke kehidupannya yang normal tanpa ada unsur mistis sedikit pun.

“Maaf. Sayang sekali aku tak bisa membantumu. Ada banyak yang harus kuselesaikan dengan kuliahku. Aku tak punya banyak waktu yang akan kusia-siakan dengan menyelidiki hal tak berguna semacam itu.” Taeyeon bangkit mengambil kameranya di tangan Yifan kemudian bergegas pergi ketika lagi-lagi Yifan menahan tangannya.

“Aku punya firasat aneh..” Yifan berkata dengan horornya.

“Jadi apa firasat aneh itu?” Taeyeon kembali memutar bola matanya dengan malas. Ia tak ingin lagi berurusan dengan seorang Wu Yifan yang baru saja dikenalnya itu.

“Menurutku…… gadis misterius………dalam gambar itu adalah………..kau, Nona Kim.”

“Apa?” Syukurlah kali ini Taeyeon tak lagi menanggapi dengan memutar bola mata karena manik-manik mata hitamnya membulat sempurna mendengar penuturan Yifan.

“Karena itu aku butuh bantuanmu. Menuruku kau sedang dalam bahaya, Nona Kim.” Yifan masih bicara dengan nada horornya membuat Taeyeon bergidik.

“Jadi……… bisakah aku percaya omonganmu itu tidak benar?” Sebisa mungkin Taeyeon ingin menepis pemikiran buruk Yifan tentangnya.

“Untuk membuktikannya kumohon kau tak keberatan menyelidikinya denganku.”

Taeyeon hanya diam. Bukannya apa, ia hanya tak ingin begitu saja percaya dengan orang yang baru dikenalnya. Asumsi Yifan benar-benar tak dapat diketahui nilai kebenarannya. Taeyeon tak merasa memiliki musuh nyata, jadi bagaimana bisa ia berada dalam bahaya? Namun sialnya kali ini Taeyeon berhasil dikalahkan rasa penasaran yang terlalu menggebu-gebu dalam dirinya. Oleh karena itu terang saja keputusan yang diambilnya.

“Baiklah. Kita akan bertemu lagi besok, Wu Yifan. Datanglah ke tempat ini lagi. Yixing tak akan keberatan kita menjadikannya markas.”

“Keputusan bijak, Kim Taeyeon.”

 

TBC

 

Hoah… maaf banget ya, buat eonni yang udah request fanfic. Eh.. hasilnya malah kayak gini -__- sumpah, eon. Saya gak sengaja bikin efef yang hancur macam ini. Maaf kalau gak suka, habisnya ini draf udah kesimpan dari dulu dan sempat ngadat :3

RCL ditunggu, ya readers.. author butuh banget saran untuk perbaikan. Apalagi ini efef chapter pertama yg author post di sini. Next chapter diusahakan secepatnya, tapi maaf kalo pada akhirnya kelamaan TT

Xie xie, Wo Ai Ni ~

Advertisements

40 comments on “Red Light 1 – The Light On The Eye

  1. Hihihi… mistery mistery
    Suka ma alur y tapi pas baca tadi aj dh takut seyemmmm… apalg gg next chap ya adh berarti klw mw reading harus di temenin ya …
    Lanjut thor penasaran & sekaligus ngeriii*atutt
    Fighting thor tenang readers mu semua pasti mendukung mu ne…

  2. suka sama alurnya thor ^-^
    mistery” thor next chapter cepetin ya?? penasaran sama kelanjutannya,
    ditunggu next chapter nya thor Fighting!!!! 🙂

  3. Huuuu aku penasaran sma kelanjutannya, ffnya daebbak bikin aku penasaran. SEMANGAT TERUS EONNIE BUAT LANJUTIN NEXT CHAPTNYA 😀

  4. keren thor! panjangin lg dong thor..
    oiya, gadis itu hantu / manusia?
    ah, jdi penasaran, ..
    next nya di tunggu thor!
    jgn lma² wkwkwk
    fighTAENG!!

  5. Keren. Bacanya di tengah malam kyak gini semakin menambah kesan horornya. Apalagi pas tentang mistery si wanita mata merah itu. Di tunggu kelanjutannya.

    Fighting!^^

  6. Kristae again yes i like it…
    Takdir yang aneh nih mreka baru ketemu semuanya samn penasaran sma sosok gadis itu… Ngeri juga bacanya sih hohoo next chap dtungguu

  7. ,Kristae again yes i like it…
    Takdir yang aneh nih mreka baru ketemu semuanya samn penasaran sma sosok gadis itu… Ngeri juga bacanya sih hohoo next chap dtungguu

  8. Bagus thor…. (y)
    buat aku penasaran…. siapa gadis red light tuh ya… lanjut lanjut thor.. d tnggu loh.. SEMANGAT 🙂

  9. Eiy eiy its a red light light~
    Nyanyi dulu authornim.
    Em, misteri. Aku suka FF genre misteri. Penasaran sama perempuan yang jadi model di foto Yifan sama Taey. Mungkinkah itu aku? Oh tidak aku tidak seseram itu. Dan pastinya aku jauh lebih cantik/gg
    Suka sama FF nya thor! Ngefans sama author nih akunya. Hwaiting thor!

  10. KEREEEEEEN^^d
    ada misteri misteri gitu nih ffnya, penasaran jg sbenernya siapa gadis yg ada difoto itu ><
    Atau jngn2 emng bner itu taeng? 😮
    alurnya udh bagus ko thor, bahasanya jg enak(?) buat dibaca, aku sukaaaaa^^d
    next chapnya ditunggu thor ❤ 🙂

  11. wah ff kristae 😀 genrenya misteri seruu bikin penasaran sama kelanjutannya >< next chap jangan lama" thor~ fighting!!!

  12. late comment saeng-_- aku suka sama alurnya brukali ini mau bca yg genre mystery. lucu jga momentnya KrisTae. thank yaa saeng. next part dtnggu dan FIGHTING !

  13. ih ko serem bayanginnya aja ya
    tapi kalo dibayangin juga kayaknya jepretannya keren, cuma gara gara ada ‘redlight’ nya itu jadi ga berani bayangin lol
    nice!!!

  14. Uaaa… I Like This! Chap selanjtnya jgn lama2 Ya thor-nim^^ Kris-ah, kok kau jadi aneh-_- awal2 dingin, cool, ujung2nya…… Lembek….. Wu Yi Pan! Giginya semakin didepan! #plak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s