Ma Boy~ (Chapter 7)

ma-boy-copy-8

 

Bina Ferina ( Kookie28)

 

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan EXO, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG 18

 

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster, chu~

Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

~~~

From : Taeyeon

Neo eodiseoyo?! Aku sudah sampai lima belas menit yang lalu kenapa kau tidak kelihatan? Aku sendirian di pesta ini. Cepat munculkan wajahmu, rusa!

 

Luhan tersenyum simpul ketika ia membaca pesan dari Taeyeon di ponselnya. Ia meletakkan ponselnya di sampingnya setelah mematikan ponselnya. Lalu, Luhan menyandarkan kepalanya ke bangku taman berwarna putih yang sedang ia duduki.

Ia tidak bisa pergi ke rumah untuk saat ini. Biarkan saja Taeyeon mencarinya. Luhan juga tidak percaya ia sendirian. Jaejoong tidak akan membiarkannya. Luhan hanya ingin sendiri untuk saat ini. Hanya ingin meluangkan waktunya bersama dengan gemerlapnya bintang dan semilir angin sejuk. Ia butuh menangkan hati dan pikirannya. Ia ingin menitikkan air matanya sekali saja, yang selama ini sudah ia tahan-tahan.

“Ya, pabo!”

Luhan terlonjak kaget. Matanya yang terpejam kini terbuka lebar. Ia mengubah posisinya menjadi duduk tegak dan memandang ke asal suara. Sudah tidak perlu diterka lagi, Luhan hafal suara siapa itu.

Taeyeon menghampirinya dan duduk di samping kirinya. “Kenapa kau ada di sini? Acaranya di dalam rumahmu, bukannya di taman,”

“Aku sudah ke dalam rumah tadi. Karena kau belum datang, aku menunggumu disini,” jawab Luhan.

“Geotjimal,” kata Taeyeon pelan. Ia menatap wajah Luhan dalam-dalam. “Kalau kau sudah ke dalam rumah dan bertemu ibumu, kenapa hadiah yang ingin kau berikan tergeletak di sini?”

Taeyeon mengambil bungkusan hadiah dari Luhan untuk ibunya dan menunjukkannya ke hadapan wajah Luhan. Luhan tidak bisa berkata apa-apa dan hanya membuang muka. Ia menghela nafas panjang dan menatap langit malam. Ia tetap menolak untuk menatap ke arah Taeyeon, membuat Taeyeon kesal setengah mati.

“Ya!” seru Taeyeon.

-Flasback-

“Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dulu, eonni,” kata perempuan yang bernama Young itu. Kini mereka sudah berada di tengah-tengah halaman depan rumahnya. “Aku Kim Young-Eun, adik kandung Jaejoong oppa dan adik tiri Luhan oppa. Aku pernah sekali melihatmu di depan pintu kamar asrama Luhan oppa. Wajahmu sangat terkejut, eonni. Apa saat itu kau cemburu padaku karena kau belum tahu siapa aku dan malah menyangka aku pacarnya oppa?”

“Aniya, aku sama sekali tidak cemburu,” jawab Taeyeon cepat. “Aku hanya kaget. Lagipula waktu itu aku belum pacaran dengan kakakmu,”

“Keureyo?”

“Lalu apa yang ingin kau katakan padaku, Young-ie?” tanya Taeyeon penasaran.

Mata bulat dan jernih langsung menatap mata Taeyeon dalam-dalam. Tatapan mata Young-ie menyiratkan kesedihan.

“Ini tentang Luhan oppa,” jawabnya. “Eonni adalah perempuan pertama yang mampu bertahan berpacaran dengan Luhan oppa. Eonni juga perempuan pertama yang Luhan oppa undang ke rumah. Luhan oppa selalu mempermainkan perasaan para perempuan dan tidak pernah merasa bersalah. Dia pernah bilang padaku kalau belum ada perempuan yang benar-benar membuatnya rela berkorban. Dan saat Jaejoong oppa cerita kalau Luhan oppa sudah punya pacar dan bisa bertahan sampai sekarang, aku langsung berpikir Luhan oppa sudah menemukan pelabuhan hatinya. Ia sudah menemukan seseorang yang bisa membuat dia bersandar ketika dia merasa sedih.

“Aku senang ia menemukanmu, eonni. Dan aku sangat berharap bisa bertemu denganmu. Aku ingin melihatmu, melihat seseorang yang sudah berhasil mengubah sikap dan sifat Luhan oppa. Ia sudah jarang mempermainkan perasaan perempuan lagi, dan saat ini yang ia fokuskan adalah menjaga dirimu. Aku senang akhirnya ia bisa menerangi kehidupannya,” tutur Young.

Taeyeon hanya diam mendengar penuturan dari Young. Ia ingin mendengar lebih lanjut apa sebenarnya yang ingin dikatakan Young mengenai Luhan.

“Karena eonni adalah perempuan yang paling ia cintai, maukah eonni selalu ada di samping Luhan oppa? Menghiburnya di kala ia sedih dan tertawa bersamanya di kala ia bahagia. Maukah eonni menghapus air matanya dan menyemangatinya ketika ia berencana ingin menyerah?” tanya Young dengan mata berkaca-kaca.

“Apa maksudmu, Young-ie?” Taeyeon balik tanya, heran dengan pertanyaan Young.

“Saat ini Luhan oppa sedang bersedih, eonni. Sebelum kau datang, dia datang dan bertemu dengan ibu. Lalu ia pergi dengan mata berkaca-kaca. Aku yakin ia mencari tempat sunyi untuk menenangkan hatinya. Luhan oppa sama sekali belum pernah menangis di pundak orang lain, eonni. Ia tidak pernah menunjukkan ke orang lain kalau ia sedang sedih. Hatinya pasti sudah lelah. Dan yang ia butuhkan saat ini adalah sebuah pelukan dan kasih sayang. Maukah eonni memeluknya dan menghiburnya saat bertemu dengan Luhan oppa?”

“Apa yang terjadi? Apa Luhan punya masalah?” tanya Taeyeon pelan.

Young mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman yang berada di dekat mereka. Ia menatap Taeyeon dengan mata berkaca-kaca.

“Walaupun aku ini adik tirinya, tapi aku sangat menyayangi Luhan oppa seperti rasa sayang adik ke kakaknya sendiri. Jaejoong oppa juga begitu. Tapi, eomma tidak seperti itu. Empat tahun ia menikah dengan ayah Luhan oppa tapi ia masih belum bisa menyayangi Luhan oppa seperti anaknya sendiri. Eomma pasti menganggap Luhan orang lain. Itu dikarenakan wajah Luhan yang sangat mirip dengan ibu kandungnya. Eomma benci dengan ibu kandung Luhan oppa karena ibunya dulu merebut ayah. Ya, eomma dan ayah Luhan oppa sudah dari dulu pacaran, tapi ayah Luhan oppa pergi menikah dengan ibu kandung Luhan oppa. Eomma masih belum bisa memaafkan ibu kandung Luhan dan masih membencinya begitu ia melihat wajah Luhan oppa.

“Aku bisa membayangkan betapa sakitnya Luhan oppa. Eomma membencinya, tapi Luhan oppa berusaha untuk tetap menyayangi eomma. Ia bahkan berulang kali membelikan hadiah ulang tahun eomma, tapi eomma selalu menolaknya. Aku selalu menangis dan meminta eomma untuk lunak kepada Luhan oppa, untuk memaafkan seseorang yang sudah meninggal dari Luhan oppa kecil dan menganggap Luhan oppa adalah anaknya. Luhan oppa sudah lelah, hatinya rapuh dan ia memutuskan untuk tinggal di asrama sekolah. Jika selama ini orang-orang melihatnya sebagai sosok laki-laki hebat, justru di dalam Luhan oppa butuh kasih sayang. Ia menutupi kekosongan hatinya dengan mempermainkan perasaan perempuan. Tapi aku tahu, yang ia lakukan hanyalah untuk mencari seseorang yang bisa menyayanginya seperti seorang ibu menyayangi anaknya,” isak Young.

Taeyeon yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, perlahan menitikkan air matanya. Ya, ia sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya Luhan. Dan disinilah ia tahu sosok Luhan itu seperti apa. Rasa sakit yang Luhan rasakan seperti ikut menghampiri hati Taeyeon.

“Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membujuk Luhan oppa agar terus berusaha membuka pintu hati eomma. Aku juga sudah berjuang keras untuk mencari tahu siapa yang bisa menjadi sandaran Luhan oppa. Tapi bahkan teman-temannya tidak ada yang tahu dia punya masalah dan Luhan oppa juga tidak pernah membawa mereka main ke rumah. Hanya eonni yang bisa kuharapkan. Aku sangat berharap eonni bisa memberinya kasih sayang dan tetap menyemangatinya. Aku ingin eonni bisa menyembuhkan perasaan sakit hatinya. Karena sampai sekarang ini aku dan Jaejoong oppa masih terus berusaha membuat hati eomma lunak,”

“Aku… tidak tahu apa yang harus aku lakukan,” ujar Taeyeon dengan suara parau.

“Luhan oppa pasti ada di taman belakang. Dia pasti menangis. Maukah eonni memberikan pundak eonni untuknya?”

-Flashback end-

Luhan bangkit berdiri. Ia menoleh menatap Taeyeon. “Ayo masuk,”

Taeyeon menatap Luhan dengan pandangan tidak percaya. Apa hatinya sudah kebal? Bagaimana ia bisa masuk ke dalam rumah dengan suasana hati yang kacau balau? Apa karena sudah keseringan disakiti oleh ibu sendiri membuatnya tidak bisa lagi merasakan sakit?

Taeyeon ikut bangkit dari duduknya dan ia berdiri menghadap Luhan. Matanya berkaca-kaca menatap mata Luhan. Mata itu penuh luka, tapi ditutupi oleh senyuman manis Luhan.

“Pabo,” gumam Taeyeon dan ia yakin Luhan mendengarnya.

Saat mengatakan hal seperti itu pada Luhan, Taeyeon hendak ingin pergi kembali ke dalam rumah. Sebelum Taeyeon melangkah lebih jauh, Luhan menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon dan ia menatap mata Taeyeon dengan matanya yang dipenuhi kesakitan.

“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Luhan. Air matanya sudah tergenang di pelupuk matanya.

Begitu mendengar pertanyaan Luhan, Taeyeon menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dan saat tangan Luhan melingkar erat di punggung belakangnya, Taeyeon dapat merasakan air mata Luhan mengalir membasahi pundak kanannya. Begitu Taeyeon merasakan debaran jantung Luhan, air mata Taeyeon juga mengalir dengan derasnya.

Luhan memeluk Taeyeon dengan sangat erat. Bahkan ketika Taeyeon balas memeluknya sembari membelai punggung belakang Luhan, Luhan semakin mempererat pelukannya dan air matanya semakin deras. Dapat Taeyeon rasakan air mata Luhan tidak kunjung berhenti, seakan-akan ingin menumpahkan semua kesakitan yang ia alami saat itu juga.

Perasaan sakit Luhan dapat Taeyeon rasakan. Ia tidak tahu kenapa ia bisa merasakannya, bahkan ikut menangis. Rasa sakit yang Luhan alami seperti ikut masuk ke dalam relung hati Taeyeon.

~~~

“Aku tahu Young-ie pasti akan menceritakan semuanya padamu. Dia memang adik yang baik, dia tidak ingin hatiku semakin sakit karena aku menyembunyikannya dari Chanyeol dan yang lainnya. Aku berusaha untuk kuat, memendam semuanya sendiri,” ujar Luhan sambil tersenyum memandangi langit malam yang dipenuhi bintang.

“Kau benar-benar bodoh,” kata Taeyeon, ikut memandang ke langit. “Sekuat apapun dirimu, akan ada saatnya kau benar-benar lemah dan membutuhkan sandaran untuk menuangkan isi hatimu. Walaupun kau menangis, itu tidak berarti kau lemah, kau hanya terlalu kuat untuk memendam semuanya sendiri. Tidak ada salahnya berbagi cerita dengan satu orang temanmu,”

“Ne, aku juga sudah membagi ceritanya, ‘kan? Kepadamu,” jawab Luhan sambil tersenyum kecil menatap Taeyeon.

“Rasanya aku ingin memukulmu, Xi Luhan. Kalau bukan karena Young, aku tidak akan tahu, dan selamanya kau akan menjadi seseorang yang hatinya sudah mati,” kata Taeyeon kesal.

“Kalau begitu, pukullah aku. Ini, pukullah~” goda Luhan sembari mendekatkan pipi kirinya ke wajah Taeyeon.

“Ya! Jangan sampai aku benar-benar memukulmu!” seru Taeyeon.

Luhan menjauhkan wajahnya dan ia tertawa melihat Taeyeon. Ia kembali memandangi langit malam. “Gomapta, Taeyeon-ah. Karena dirimu, hatiku agak ringan dan bebanku seperti berkurang. Sepertinya aku memang harus menangis dan menceritakan semuanya pada satu orang. Ini membuat hatiku agak lega. Aku terlalu menyimpannya dalam-dalam,”

“Kalau kau ingin menangis atau merasa sedih, kau bisa datang padaku,” ujar Taeyeon dengan tulus. “Jangan menyembunyikannya dengan mempermainkan perasaan seorang perempuan. Pikirkanlah ibumu sebelum kau menyakiti perasaan perempuan lagi,”

“Aku mengerti. Terima kasih, eomma,” jawab Luhan sambil tersenyum.

Taeyeon menatap Luhan lekat-lekat setelah ia mendengar Luhan menyebut “eomma”. Ia ingat Young bilang Luhan butuh kasih sayang seorang ibu.

“Sepertinya aku menghancurkan acaramu dengan Jaejoong hyung. Pergilah kembali ke rumah. Temui Jaejoong hyung dan mengobrol bersama dengannya dan juga ibunya. Ini kesempatanmu,” kata Luhan.

“Jangan bicara sembarangan,” tolak Taeyeon. “Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan?”

Luhan tersenyum. “Aku mau tidur langsung. Dan hadiah ini, aku akan memberikan untukmu saja. Maukan?”

Luhan menyerahkan bungkusan hadiah itu kepada Taeyeon dan Taeyeon menerimanya. Ia menatap wajah sendu Luhan. Tentu saja hadiah ini tidak akan diterima oleh Taeyeon. Ia akan memberikannya pada ibu Luhan.

“Tolong simpan dulu hadiah ini di kamarmu. Aku akan mengambilnya saat mau pulang,” kata Taeyeon. Ia menyerahkan kembali hadiah Luhan. Luhan menerimanya dan ia menganggukkan kepalanya.

Luhan bangkit berdiri. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan taman dan menuju ke dalam kamarnya, Luhan balik badan menatap Taeyeon. Ia tersenyum melihat perempuan yang ada di hadapannya. Taeyeon juga memandang Luhan dengan pandangan bertanya-tanya.

“Wae?” tanya Taeyeon.

“Terima kasih. Aku senang bisa menangis bersamamu. Aku senang bisa membagi kesedihan ini. Aku senang kau mau meminjamkan bahumu untukku. Ini pertama kalinya aku menangis di depan orang lain. Terima kasih untuk hari ini,” ungkap Luhan sambil tersenyum dengan setulus hati.

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman kecil pada Luhan.

“Dan Taeyeon-ah,” sambung Luhan. “Hari ini kau sangat cantik sekali,”

Taeyeon menatap Luhan. Bagaikan ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya, serta bagaikan ada gelombang besar yang meruntuhkan dinding hatinya saat ia mendengar perkataan Luhan. Taeyeon tersenyum kecil sembari mengangguk. “Gomapta,”

~~~

Ibu Jaejoong menarik pergelangan tangan Taeyeon dan menyuruhnya untuk duduk di sebuah sofa bersama dengan Jaejoong dan Young. Dua orang pelayan menghampiri mereka berempat sambil membawakan nampan yang berisi banyak makanan.

“Ayo, waktunya kita makan,” ajak ibu Jaejoong dengan sumringah di wajahnya.

Taeyeon dapat melihat di antara banyak makanan itu hanya ada satu piring yang berisi seafood. Ia teringat perkataan Luhan, bahwa ibunya ini suka makanan seafood.

“Silakan dinikmati,” ujar pelayannya sambil membungkukkan badan dan pergi.

“Taeyeon-ah, kau mau mencoba yang mana?” tanya Jaejoong ramah. Ia mengambil satu piring berisi pasta. Young mengambil sebuah sup dan ia menatap Taeyeon sambil tersenyum manis.

“Kau mau seafood, eonni?” tanya Young.

“Aniya,” tolak Taeyeon dengan lembut.

“Wae? Kau tidak suka?” tanya ibu Jaejoong.

“Aku sangat menyukai seafood, ahjumma. Keundae, aku akan membiarkan ahjumma makan seafood-nya, karena ahjumma juga sangat menyukainya. ‘kan?”

Taeyeon tersenyum lembut kepada ibu Jaejoong. Ibu Jaejoong menatap Taeyeon dengan pandangan terkejut, terharu, dan takjub.

“Bagaimana kau bisa tahu? Apa Jaejoong memberitahu semua tentangku kepadamu? Apa Jaejoong bermaksud mendekatkan kita?” tanya ibu Jaejoong dengan pandangan menggoda kepada Jaejoong.

“Taeyeon tidak mendapatkan informasi apa-apa dariku tentang ibu. Dia dapat dari Luhan, eomma,” sahut Jaejoong.

Ibu Jaejoong hanya tersenyum kecil. “Ayo makan. Dan aku akan makan seafood-nya seperti yang Taeyeon-ssi katakan,”

Jaejoong menghela nafas pendek. Ia menatap ibunya dengan tatapan sedih. Jaejoong mengambil sesendok pasta dan menyuapkannya ke mulutnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Sedangkan Young hanya menatap datar ibunya. Ia tidak menyentuh supnya. Tatapan matanya jatuh ke Taeyeon, yang juga tengah menatapnya. Mereka berdua saling menatap. Kemudian Young memberikan senyuman tipis kepada Taeyeon.

Andai kau tahu bagaimana perasaan Luhan, ahjumma, Taeyeon bergumam dalam hatinya. Ia memandang ibu Jaejoong sambil tersenyum sedih.

“Jaejoong-ah, tidak biasa kau mau satu mobil dengan perempuan lain selain ibu dan adikmu. Apa Taeyeon ini seseorang yang special buatmu?” tanya ibu Jaejoong sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Jaejoong.

Taeyeon terkejut dan ia memandang ibu Jaejoong dan Jaejoong secara bergantian.

“Lebih tepatnya seseorang yang special untuk Luhan, eomma,” ralat Jaejoong. “Luhan memintaku untuk menjemput Taeyeon. Dia pergi membeli hadiah untukmu, yang sayangnya kau tolak,”

“Ini bukan kali pertama Luhan punya pacar. Kau tidak pernah mau tahu siapa-siapa saja pacar Luhan. Dan baru dengan Taeyeon kau peduli, Jaejoong-ah. Jujur saja, Taeyeon adalah sosok yang berbeda, ‘kan menurut pandanganmu?” tanya ibu Jaejoong.

Jaejoong diam saja. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena memang, menurutnya Taeyeon adalah perempuan yang berbeda dari perempuan yang lain. Tapi bukan berarti dia menyukai Taeyeon. Taeyeon milik Luhan dan Jaejoong sangat menyayangi adiknya itu. Tidak mungkin dia tega menyakiti adiknya dengan memiliki perasaan khusus pada Taeyeon. Jaejoong sangat tahu dari pandangan Luhan dan dari cara Luhan menjaga Taeyeon. Ini untuk pertama kalinya Luhan sangat menyayangi gadisnya.

“Jaejoong-ah, dia tidak pernah membawa teman perempuannya ke rumah. Dia juga tidak pernah bicara tentang perempuan pada orang tuanya sendiri. Dia seorang yang pemilih. Itu sebabnya aku sangat terkejut sekaligus sangat bahagia ketika dia menjemputmu,” kata ibu Jaejoong lagi. “Youngie, bagaimana menurutmu? Bukankah Taeyeon cocok untuk Jaejoong? Kalian tampak serasi satu sama lainnya. Ayahmu pasti senang kau akhirnya bisa punya pacar,”

“Eomma, Taeyeon eonni milik Luhan gege. Ayah justru tidak akan senang jika Jaejoong oppa mengambil pacar adiknya sendiri,” jawab Young. “Jaejoong oppa pasti akan dapat pacar yang memang benar-benar dicintainya nanti,”

“Luhan mudah mendapatkan pacar, Youngie. Dan aku yakin, Luhan juga tidak terlalu serius dengan hubungannya ini. Aku tahu karena dia playboy. Maafkan ahjumma, Taeyeon-ah. Tapi aku harap, kau jangan terlalu jatuh pada Luhan. Kau gadis yang cantik dan baik, bisa mendapatkan yang lebih baik lagi. Sebelum Luhan berubah, jangan terlalu mencintainya. Kau bisa menoleh kepada Jaejoong. Aku yakin dia bisa menjagamu dan mencintaimu dengan setulus hati,”

Young tidak berkata apa-apa lagi. Jaejoong dan Taeyeon saling menatap. Taeyeon hanya tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca. Dia merasa bersalah pada Luhan. Dialah yang sebenarnya ingin ada di samping Luhan. Luhan tidak bisa disalahkan, karena ia selalu berada di samping Taeyeon dan menjaganya. Taeyeon merasa sakit mendengar ibu Jaejoong mengatakan hal seperti itu tentang Luhan.

~~~

Jaejoong memberikan sebuah nampan kecil yang berisikan semangkuk besar bubur dan segelas teh hijau kepada Taeyeon di dekat anak tangga yang menuju lantai dua rumahnya. Taeyeon menerimanya dan memegang nampan itu dengan berhati-hati. Agak berat memang.

“Luhan belum ada makan dari tadi pagi. Kurasa ia tidak akan turun lagi malam ini. Aku takut ia jatuh sakit nantinya,” ujar Jaejoong. “Ibu benar-benar keterlaluan hari ini. Ani, tahun-tahun sebelumnya ia juga menolak hadiah dari Luhan dan mengatakan kalau ia belum bisa melihat wajah Luhan yang mirip dengan ibu kandungnya. Hati Luhan bukanlah sekeras baja. Hatinya pasti sudah lebih dari rapuh,”

Taeyeon menganggukkan kepalanya pelan. Ia sedikit menundukkan wajahnya.

“Tolong paksa dia makan, ya Taeyeon-ah. Pastikan dia tersenyum walaupun itu terpaksa,” sahut Jaejoong dengan wajah sendu.

“Ne,” jawab Taeyeon dengan suara parau.

“Ucapan ibuku tadi jangan di masukkan dalam hati, ya Taeyeon-ah. Dia memang seperti itu karena aku belum juga memperkenalkan seorang perempuan padanya. Aku tahu pasti perasaanmu terluka karena ibu berkata yang tidak-tidak tentang Luhan. Luhan sudah tidak akan mempermainkan perasaan perempuan lagi, aku yakin. Karena sekarang baginya kau adalah perempuan yang terakhir untuknya. Teruslah percaya padanya. Kalau nantinya dia melukaimu, aku orang pertama yang akan memukulnya,” ungkap Jaejoong.

Taeyeon tertawa dan ia menganggukkan kepalanya. “Oh, ya sunbae kamar Luhan…”

“Pintu kamarnya berwarna merah marun di sebelah kanan,” jawab Jaejoong.

“Ne, gamsahamnida sunbae,” ujar Taeyeon sambil tersenyum lebar.

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan ia pergi meninggalkan Taeyeon. Taeyeon segera naik ke kamar Luhan dan ia bisa langsung menemukan yang mana kamarnya. Di depan pintu kamarnya yang berwarna merah marun, terdapat huruf “L” besar-besar yang tertempel rapi.

Taeyeon mengetuk pintu kamar Luhan tiga kali dan sama sekali tidak ada sahutan. Akhirnya, ia membuka kenop pintu kamar Luhan yang sama sekali tidak terkunci. Taeyeon masuk ke dalam kamarnya yang gelap gulita. Ia menutup pintu kamarnya dan menghidupkan lampu kamar Luhan yang tombolnya berada tidak jauh dari pintu kamarnya.

“Luhan-ah,” panggil Taeyeon lembut.

Taeyeon dapat melihat Luhan yang sedang tertidur lelap di tempat tidurnya dengan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala dan lehernya. Wajah Luhan saat tidur ini berbeda dengan wajah tidurnya di atap. Ekspresi wajah tidurnya sama sekali tidak tenang. Banyak keringat yang mengalir dari kepala hingga dagunya. Bibirnya juga sesekali tampak bergerak, seperti menggumamkan sesuatu.

“Luhan-ah,” panggil Taeyeon sekali lagi dengan lembut. Ia meletakkan nampan itu di atas meja rias Luhan dan duduk di atas tempat tidur Luhan, di sampingnya.

Taeyeon menyeka keringat di dahi Luhan menggunakan tissue yang kebetulan ada di meja Luhan. Taeyeon juga sedikit mengguncang tubuh Luhan, tapi Luhan tidak kunjung bangun.

“Lu—,”

“Eomma,” gumam Luhan.

Taeyeon langsung terdiam. Tangannya tidak lagi mengguncang tubuh Luhan dengan pelan. Ia diam membeku ketika Luhan bergumam. Ia memanggil ibunya. Berarti yang sedang ia mimpikan adalah ibunya sendiri atau ibu tirinya?

Taeyeon berniat untuk bangkit dari tempat tidur. Ia mungkin tidak akan bisa membangunkan Luhan hanya untuk sekedar makan malam. Untuk sekali ini, Taeyeon akan membiarkan Luhan tidur dan istirahat sejenak. Namun, saat tempat tidur itu sedikit bergerak karena Taeyeon akan bangkit, Luhan tiba-tiba saja membuka kelopak matanya yang merah. Ia menatap Taeyeon, yang terkejut karena Luhan bangun.

“Luhan-ah, kau bangun karena aku?” tanya Taeyeon. Ia tidak jadi bangkit dari tempat tidur Luhan.

Tangan Luhan perlahan mendekati pergelangan tangan kanan Taeyeon. Ia menggenggam tangan Taeyeon dengan sangat erat. Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan bingung. Luhan menatap Taeyeon dengan matanya yang berkaca-kaca.

“Kenapa eomma, kenapa ia pergi begitu cepat? Kenapa ia meninggalkanku ketika aku masih membutuhkan kasih sayangnya? Kenapa ia begitu cepat pergi?”

Air mata Luhan mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya. Hati Taeyeon begitu sakit mendengar pertanyaan yang dilontarkan dari mulut Luhan tanpa ia sadari. Taeyeon tahu, Luhan sedang memimpikan kepergian ibu kandungnya. Ibu Luhan pergi meninggalkannya disaat Luhan butuh akan kasih sayangnya. Dan ia pasti sudah menyimpan begitu banyak luka.

Perlahan tangan kiri Taeyeon mengelus kepala Luhan dengan penuh lembut dan penuh kasih sayang. Tangan kanannya masih digenggam erat oleh Luhan. Luhan kembali meneteskan air matanya begitu tangan lembut Taeyeon mengelus kepalanya dengan sayang, seperti seorang ibu yang mengelus kepala anaknya yang sedang tertidur.

“Eomma, kumohon jangan pergi,” pinta Luhan, tatapannya begitu menyakitkan saat matanya menatap lurus ke mata Taeyeon.

Taeyeon menganggukkan kepalanya pelan dan ikut menangis. Ia naik ke atas tempat tidur Luhan dan membaringkan tubuhnya di samping Luhan, tanpa berhenti mengelus kepala Luhan. Begitu Taeyeon berbaring di sampingnya, tubuh Luhan mendekat ke arah Taeyeon dan ia membenamkan kepalanya di leher Taeyeon. Air matanya membasahi leher Taeyeon. Taeyeon dengan gugup melingkarkan kedua tangannya di kepala Luhan dan mengelus-elusnya. Luhan melingkarkan tangannya di pinggang Taeyeon dan kembali memejamkan kedua matanya.

Taeyeon terus mengelus kepala Luhan sampai ia sendiri tertidur di samping Luhan. Untuk sekali ini, ia ingin memberikan kasih sayang seorang ibu kepada Luhan.

~~~

Jam menunjukkan pukul enam pagi. Matahari belum menunjukkan sinarnya yang menyilaukan. Langit juga belum terang. Orang-orang masih malas untuk sekedar membuka matanya. Tapi berbeda halnya dengan Xi Luhan. Ia sudah membuka kelopak matanya sejak sejam yang lalu. Tapi ia belum berani bangkit dari tempat tidur.

Jam lima pagi tadi, ketika ia membuka kedua matanya, ia begitu terkejut, tidak, sangat terkejut saat dilihatnya Taeyeon ada di sampingnya. Ia bahkan memeluk pinggang Taeyeon dan membenamkan kepalanya ke leher Taeyeon. Luhan tidak berani bergerak sedikitpun karena akan membangunkan Taeyeon.

Dan ini sudah jam enam pagi. Taeyeon belum juga membuka kedua matanya. Tidurnya benar-benar sangat lelap. Apa ia terjaga sampai tengah malam hanya karena ingin menjaga Luhan? Luhan ingat sekali kemarin malam ia mengigau. Ia kembali mengingat masa lalunya yang kelam di alam mimpi. Ketika ia berumur lima tahun dan ia berdiri di pusara putih ibunya.

Luhan tahu dan ia mendengar suara Taeyeon yang memanggil namanya. Tapi entah kenapa begitu ia membuka matanya, ia merasa melihat ibunya, walaupun tidak jelas. Luhan ingat semuanya. Ia juga ingat bahwa ia-lah yang membuat Taeyeon tidur di sampingnya. Walaupun begitu, Luhan tidak berusaha menyadarkan dirinya. Ia terlalu terobsesi dengan ibunya. Jika ia bangun, maka wajah ibunya tidak terlihat lagi.

Dan tidur dalam dekapan Taeyeon memang membuatnya nyaman dan tenteram. Belum pernah ia merasa senyaman ini ketika tidur. Tubuh Taeyeon yang hangat, wangi tubuhnya yang khas kemarin benar-benar membuat otaknya fresh. Belaian lembut Taeyeon semakin membuatnya tenggelam di zona kenyamanan. Ingin rasanya ia merasakan hal seperti ini setiap malam.

Luhan menatap wajah bening Taeyeon. Wajah bidadarinya membuat Luhan berdebar. Luhan sedikit menggerakkan badannya, menjauh dari leher Taeyeon tapi tidak melepaskan pelukannya di pinggang gadis itu. Lalu, Luhan mendorong pelan kepala Taeyeon ke dalam dekapannya. Tangannya yang di pinggang Taeyeon naik ke ke kepala Taeyeon dan Luhan semakin mempererat pelukannya. Dapat Luhan  rasakan debaran jantungnya semakin menggila ketika ia mencium puncak kepala Taeyeon. Ia hirup dalam-dalam wangi rambut Taeyeon yang membuatnya melayang.

Setelah itu, Luhan melepaskan ciumannya dan kembali memeluk erat tubuh Taeyeon. Ia ingin tidur lagi, dengan mendekap tubuh mungil Taeyeon. Luhan tidak peduli kalau seandainya nanti Taeyeon akan marah besar padanya karena ia memeluk tubuh Taeyeon seenaknya tanpa seizinnya.

Luhan juga tidak peduli kalau sebenarnya hubungan mereka hanya pura-pura belaka. Ia bisa saja membohongi semua orang kalau dia dan Taeyeon hanya pura-pura pacaran, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya kalau ia sudah jatuh terlalu dalam pada gadis itu. Ia tidak bisa membohongi hatinya kalau ia sudah sangat mencintai gadis itu. Ia tidak bisa membohongi naluri laki-lakinya untuk ingin memiliki gadis ini seutuhnya, dan bukan hanya bohongan belaka. Sebagai laki-laki brengsek sekalipun, Luhan juga ingin merasakan yang namanya cinta sejati. Ia ingin merasakan mencintai seseorang dengan setulus hati.

“Mian, Taenggo-ah. Aku tidak bisa menyerahkanmu pada Jaejoong hyung. Mian, karena semua sandiwara ini akan kuakhiri. Aku ingin memilikimu secara nyata,”

~~~

Taeyeon merasa seperti kehabisan nafas. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam dari hidungnya tapi sama saja. Nafasnya sesak, ia tidak bisa bebas menghirup udara, dan itu membuatnya membuka kedua kelopak matanya.

Hati Taeyeon mencelos. Jantungnya sudah jungkir balik dari tempatnya begitu ia melihat dengan jelas tepat di depan matanya adalah wajah Luhan. Sekitar lima centimeter jarak di antara wajah mereka dan Luhan juga tengah memandangnya. Taeyeon juga baru menyadari bahwa Luhan memeluknya dengan sangat erat sehingga ia sulit bernafas.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku,” ujar Taeyeon pelan. Ia buang muka, menolak menatap manik mata Luhan yang indah, yang masih terus menatap matanya dalam-dalam.

“Apa yang kau lakukan di tempat tidurku? Kenapa kau tidur disini?” Luhan balik bertanya dan masih mendekap erat tubuh Taeyeon.

Taeyeon menelan ludahnya sebelum ia menjawab. “A… aku membawakanmu makan malam. Tapi kau tertidur dan—,”

“Dan kau mengambil kesempatan itu untuk tidur di sampingku?” potong Luhan dengan senyuman liciknya. Ia jelas menggoda Taeyeon.

“Jangan pernah berharap yang tidak masuk akal. Sekarang lepaskan aku maka aku akan menjelaskannya,”

“Ani,” tolak Luhan cepat. “Sebentar saja, biarkan seperti ini. Pelukanmu sangat membuatku nyaman. Aku jadi teringat ketika masih kecil, saat ibuku memelukku seperti ini. Sebelum dia meninggal dunia, dia selalu memberikanku pelukan hangat seperti ini. Sebentar saja, aku hanya ingin merasakannya kembali. Lagipula hari ini hari libur sekolah. Aku akan mengantarkanmu kembali ke asrama,”

Taeyeon diam tidak menjawab. Karena alasannya menyangkut ibunya, Taeyeon akan memenuhi permintaan Luhan sekali ini saja. Walaupun nafasnya sesak, dan jantungnya terus berdebar tak kunjung henti, tapi Taeyeon akan membiarkannya, untuk sekali ini saja. Taeyeon juga berharap, Luhan tidak mendengar debaran jantungnya dan tidak melihat semerah apa wajahnya sekarang ini.

“Bagaimana kalau rencana kita gagal? Bagaimana kalau aku tidak bisa membuatmu menjadi seseorang yang berharga bagi Jaejoong hyung? Apa kau akan membenciku? Apa kau akan menyesal karena telah mengikuti ideku?” tanya Luhan pelan setelah beberapa menit lamanya mereka terdiam.

Taeyeon menatap Luhan dan menghembuskan nafasnya pelan. “Nan mollaseo,”

“Kenapa kau tidak tahu? Jawabannya sudah jelas, ‘kan? Kalau aku gagal, maka rencana kita tidak akan ada gunanya lagi. Kau akan semakin tersakiti kalau terus melanjutkannya jika hasilnya nihil. Bukankah lebih baik mencari cinta baru dan melupakan Jaejoong hyung?”

Taeyeon terdiam mendengar perkataan Luhan. Dari perkataannya Taeyeon tahu kalau Luhan menyuruhnya untuk menghentikan semua kebohongan mereka. Entah kenapa itu membuat Taeyeon sedikit terluka. Hatinya tidak terima kalau ia menghentikan kebohongan ini, karena sama saja mereka berdua tidak akan sedekat seperti sekarang.

Egoiskah? Taeyeon ingin selalu ada di dekat Luhan, ingin selalu dilindungi oleh Luhan, dengan terus melanjutkan kebohongan mereka dan walaupun itu akan menyakiti hatinya sendiri. Taeyeon tahu suatu saat nanti akan ada seseorang yang dicintai Luhan. Mau tak mau, Taeyeon harus melepaskannya. Sebelum semua itu terjadi, sebentar saja, Taeyeon ingin merasakan indahnya saat-saat bersama dengan orang yang dicintai.

Pemikiran itu membuat setitik air mata Taeyeon mengalir. Luhan melihatnya. Ia tersenyum kecut melihat air mata Taeyeon.

“Kau benar-benar sulit meninggalkan perasaanmu untuk Jaejoong hyung, ya?” tanya Luhan, suaranya terdengar getir. “Aku iri pada Jaejoong hyung. Dia banyak mendapatkan cinta. Aku juga ingin, dicintai sebegitu dalamnya oleh seseorang, sampai orang itu rela meneteskan air mata untuknya. Cintamu begitu indah dimataku, Taeyeon-ah. Aku juga ingin merasakannya. Dan ketika aku mendapatkannya, aku tidak akan melepaskan cinta itu. Jaejoong hyung bodoh tidak merasakannya,”

“Paboya,” ujar Taeyeon pelan. Kau sudah mendapatkannya, kau yang bodoh, gumam Taeyeon dalam hati.

Beep beep beep beep

Suara deringan telepon milik ponsel Taeyeon membuat keduanya terlonjak. Taeyeon menatap Luhan, memintanya untuk melepaskan pelukannya. Dengan terpaksa, Luhan melepaskan pelukannya dan membiarkan Taeyeon bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur Luhan. Taeyeon mengambil ponsel dari dalam saku gaunnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. YoonA.

“Yeoboseo?” sapa Taeyeon.

“Ya! Neo eodiga?!” seru YoonA di seberang telepon.

Taeyeon langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Aku menginap di rumah Luhan. Mianhae, tapi aku akan menjelaskannya semua padamu,”

“Kau membuatku khawatir, Kim Taeyeon. Baiklah, sepertinya aku akan mendapatkan undangan pernikahan atas nama dirimu dan Luhan sebentar lagi,” ujar YoonA.

Taeyeon hanya tersenyum. Tiba-tiba saja, Luhan bangkit dan ia langsung merebut ponsel Taeyeon. Taeyeon kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa saat Luhan sudah menempelkan ponsel Taeyeon ke telinganya dan berbicara pada YoonA.

“Berhenti mengomel, nenek. Taeyeon aman bersamaku. Aku menjaganya dari kemarin malam sampai pagi ini. Sudah, tunggu saja kepulangannya di asrama, kami mau mandi,”

Setelah selesai bicara pada YoonA di telepon, Luhan langsung mematikan ponsel Taeyeon dan memberikannya pada Taeyeon tanpa rasa bersalah. Taeyeon menerima ponselnya dengan mata terbelalak. Ia yakin di seberang sana YoonA pasti sudah membeku di tempat.

“Ya! Apa yang kau katakan pada YoonA?!” seru Taeyeon.

“Aku mengatakan yang sebenarnya,” jawab Luhan singkat. “Dari kemarin malam sampai pagi ini kau memang ada bersamaku, ‘kan?”

“Kata-katamu ambigu. YoonA pasti berpikiran yang tidak-tidak,” kata Taeyeon kesal.

“Itu karena kalian byuntae,” ejek Luhan. “Tapi kalau YoonA memang berpikiran seperti itu tidak apa-apa. Dan kalau ia ingin pikirannya menjadi kenyataan, ayo kita kabulkan,”

Luhan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Taeyeon dan ia melingkarkan tangannya di pinggang Taeyeon erat-erat. Nafas Luhan menyapu leher Taeyeon, dan itu membuat Taeyeon merinding ketakutan. Ia langsung mendorong tubuh Luhan ke belakang kuat-kuat sembari berteriak “Byuntae!”.

Luhan tertawa keras-keras dan ia beranjak dari tempat tidurnya, menghindari pukulan maut Taeyeon. Ia bergegas pergi ke kamar mandi.

“Oh, ya ambil saja bajuku di lemari. Ganti gaunmu!” teriak Luhan dari dalam kamar mandi.

~~~

Taeyeon segera turun dari kamar Luhan sambil membawa kado dari Luhan untuk ibunya dan bergegas menuju ruang keluarga, yang kini tengah dibersihkan oleh asisten rumah tangga Luhan yang berkisar lima orang. Taeyeon turun sendirian karena sehabis mandi, Luhan langsung berangkat ke bandara Incheon, menjemput ayahnya yang baru saja pulang dari China.

Begitu ia sampai di ruang keluarga, Taeyeon melihat keberadaan Jaejoong, Young, beserta ibunya yang sedang bercengkerama.

“Annyeonghaseyo,” sapa Taeyeon ramah kepada ketiga pemilik rumah.

Jaejoong, Young, dan ibunya bangkit dari sofa yang mereka duduki. Ibu Jaejoong langsung menghampiri Taeyeon dan tersenyum lebar.

“Kemarin malam kau tidur di mana?” tanya ibu Jaejoong langsung.

“Tentu saja di kamar Luhan oppa,” jawab Young cepat sembari tersenyum jahil kearah Taeyeon. Taeyeon hanya melongo menatap Young, tidak mengerti maksud dari gadis itu.

“Seorang perempuan tidak mungkin satu kamar dengan seorang anak laki-laki, Youngie. Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak,” tegur ibu Jaejoong. “Luhan membawamu ke kamar tamu, ‘kan? Jika dia menyayangimu, dia pasti tidak akan menuyuruhmu untuk satu kamar dengannya,”

“Aku… tidur di kamar tamu,” jawab Taeyeon pelan.

Ibu Jaejoong tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu ia menatap tubuh Taeyeon dari atas sampai bawah. Taeyeon mengenakan T-shirt kebesaran berwarna cokelat bergaris putih dan celana jeans yang juga kebesaran dengan kakinya yang kecil.

“Baju Luhan?” tanya ibu Jaejoong.

“Ne, aku  tidak tahu lagi harus pinjam punya siapa, ahjumma,” jawab Taeyeon.

“Kau bias pinjam punya Youngie, Taeyeon-ah,”

“Gwaenchannayo, ahjumma. Aku juga ingin langsung pulang ke asrama sekolah,” ujar Taeyeon.

“Eonni, sebaiknya kau sarapan dulu. Tunggu Luhan oppa pulang dan—,”

“Jaejoong-ah, kau juga belum sarapan, ‘kan? Kau bias menemani Taeyeon sarapan di café dekat sini dan langsung mengantarnya pulang ke asrama sekolah. Bagaimana? Kalau menunggu Luhan pulang, Taeyeon akan lama kembali ke asrama,” ujar ibu Jaejoong, memotong perkataan Young.

“Bukankah sama saja artinya menunggu Luhan?” tanya Jaejoong.

“Aniya, pesawat ayahmu hari ini delay selama satu jam, kemungkinan Luhan pulang agak sedikit terlambat. Ppali, Jaejoong-ah,” jawab ibu Jaejoong.

“Eomma terlalu memaksa menjodohkan Jaejoong oppa dan Taeyeon eonni. Luhan oppa-lah yang akan menjadi pendamping Taeyeon eonni, eomma,” ujar Young, membuat Taeyeon sedikit tersenyum.

“Tidak ada yang tahu nantinya Taeyeon, Jaejoong maupun Luhan akan berpasangan dengan siapa. Eomma hanya berusaha menyatukan mereka selagi Jaejoong belum memperkenalkan seorang perempuan kepada eomma secara resmi,” jawab ibu Jaejoong.

“Sudahlah, berurusan dengan ibu akan panjang. Kajja,” ajak Jaejoong. “Eomma, aku pergi,”

“Annyeonghigaseyo, ahjumma. Gamsahamnida atas semua kebaikanmu,” pamit Taeyeon sambil membungkukkan badannya 90 derajat.

“Ne, hati-hati di jalan. Jaejoong-ie akan selalu menjagamu,” jawab ibu Jaejoong sambil membelai kepala Taeyeon dengan sayang.

“Eonni, kau harus sering berkunjung, ne?” ujar Young dan ia tersenyum sangat manis. Taeyeon langsung teringat senyuman Luhan yang juga sama manisnya dengan senyuman Young.

“Arraseo, aku pergi dulu. Jaga kesehatan kalian berdua,” pamit Taeyeon sopan dan ia menyusul Jaejoong keluar rumah.

~~~

Incheon International Airport

Luhan melirik jam di dasbornya dan mengetuk-ngetukkan jarinya di kemudi mobilnya. Ia menunggu ayahnya yang kembali dari China karena urusan pekerjaan. Sudah dua jam lamanya ia menunggu di parkiran mobil dan sosok ayahnya belum juga muncul. Bukan apa-apa, ia takut Taeyeon akan menunggu terlalu lama di rumahnya. Soalnya YoonA sudah menyuruhnya untuk cepat kembali ke asrama.

Beep beep beep beep

Luhan mengambil ponselnya dan ia menerima satu pesan baru dari Taeyeon. Ia membuka dan langsung membacanya.

-Kim Taeyeon-

Aku pulang bersama dengan Jaejoong sunbae. Hubungi aku jika kau sudah sampai di rumah, okay? Dan kau! Tetaplah tinggal di rumah selama satu minggu, buat ibumu membuka hatinya. Annyeong~

 

Luhan tersenyum simpul membaca pesan singkat namun sangat bermakna di hatinya itu. Walaupun ia sedikit cemburu, setidaknya Jaejoong yang mengantarnya pulang. Itu artinya rencana mereka hampir berhasil. Padahal Luhan berharap rencana itu tidak akan pernah berhasil.

Tepat saat itu, pintu belakang mobil sebelah kanan terbuka. Luhan menolehkan kepalanya ke samping dan ia melihat ayahnya yang sedang membawa sebuah koper besar dan tas ransel yang disandangnya. Ia meletakkan koper dan tas ranselnya ke bangku belakang lalu ia membuka pintu mobil depan sebelah Luhan dan duduk di dalamnya.

“Ayo, kita pulang. Aku lelah sekali,” kata Tuan Xi, ia menggunakan bahasa cina. Jika hanya ia dan Luhan saja yang berada di satu tempat, maka keduanya akan menggunakan bahasa asli mereka.

“Mana asisten ayah?” tanya Luhan. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan langsung tancap gas ke rumah.

“Mereka naik taksi. Soalnya mau ke perusahaan dulu. Aku sudah terlalu lelah untuk ke perusahaan lagi hari ini. Kemungkinan nanti sore atau besok saja,” jawab Tuan Xi.

Luhan hanya menganggukkan kepalanya dan berkonsentrasi mengemudi.

“Oh, ya Lu. Ada yang ingin kubicarakan padamu. Setelah pulang ke rumah, kau langsung ke kantorku, ya?” kata Tuan Xi, yang hanya dianggukkan oleh Luhan. Luhan sudah tahu apa yang akan ayahnya bicarakan. Pasti mengenai dirinya yang memilih tinggal di asrama sekolah daripada di rumah.

Di lain tempat, di sebuah café yang tidak jauh dari rumah Luhan, Jaejoong dan Taeyeon tengah menikmati sarapan mereka. Jaejoong memilih bubur dan green tea hangat. Sedangkan Taeyeon hanya memakan pancake dan segelas susu putih segar.

“Kau seperti tidak makan semalaman,” ujar Jaejoong, yang menatap Taeyeon makan.

Taeyeon tengah menyantap pancake-nya dan melongo menatap Jaejoong. “Ne?”

“Aku tidak menyangka perempuan makan selahap dirimu. Apa tenagamu habis karena terlalu memikirkan kondisi Luhan? Kau bahkan tertidur di tempat tidurnya,” goda Jaejoong.

Taeyeon tersedak. Ia buru-buru meminum susunya seteguk. “Sunbae tahu?”

“Tentu saja aku tahu kalau kau berbohong pada ibuku,” jawab Jaejoong. “Soalnya kamar tamu saat itu aku gunakan untuk menggambar,”

Taeyeon hanya tertawa canggung. Ia piker tidak ada yang tahu di mana ia tidur. Dan kini ia merasa bersalah karena telah membohongi ibu Jaejoong.

“Mianhae, aku piker tidak ada yang tahu,” gumam Taeyeon.

“Young yang pertama tahu. Kurasa dia tidak sengaja mengintip,” kata Jaejoong. Wajahnya sedikit merah karena menahan tawa.

Ekspresi Taeyeon kini semakin lucu dan menggemaskan. Ia membulatkan matanya dan mulutnya menganga. Awalnya ia ingin menyuapkan pancake­-nya. Namun, pancake itu sukses jatuh dari sendoknya. Sepertinya Jaejoong sudah membuat Taeyeon mati kutu. Sebenarnya tidak masalah kalau mereka berdua tahu ia tidur di kamar Luhan. Tapi, bukankah semalaman ia tidur sambil memeluk Luhan? Dan bukankah paginya Luhan memeluknya? Taeyeon langsung pusing memikirkan apa yang ada di benak Young saat melihat mereka berdua.

Jaejoong tertawa tiba-tiba. Ia tertawa cukup keras, membuat pengunjung yang ada di sekitar mereka menolehkan kepalanya melihat Jaejoong. Taeyeon pun juga sedikit terkejut.

“Ya sunbae,” panggil Taeyeon hati-hati. “Wae? Gwaenchanna?”

“Kenapa kau mendadak diam seperti itu? Apa kau sangat terkejut? Kau benar-benar percaya Young-ie mengintip kalian?” tanya Jaejoong.

“Jadi maksud sunbae—,”

“Aku hanya bercanda. Tidak kusangka kau berpikiran yang tidak-tidak,” ujar Jaejoong. Ia menatap Taeyeon sambil menahan tawanya. “Kau takut Young-ie melihat apa yang seharusnya tidak dilihatnya, ‘kan?”

“Ya, sunbae! Itu tidak seperti yang sunbae pikirkan,” seru Taeyeon dengan wajah sangat merah. Sedangkan Jaejoong kembali tertawa terbahak-bahak.

Mereka berdua tidak menyadari, seseorang yang berada di dalam mobil tengah memerhatikan mereka berdua dengan mata rusanya. Awalnya ia merasa terbakar api cemburu. Namun, ia cepat-cepat membuang perasaan itu dan hanya tersenyum pahit. Ia menolehkan kepalanya kembali ke depan, dan langsung menancapkan gas begitu lampu lalu lintas berubah dari merah menjadi hijau.

“Luhan, pelan-pelanlah. Kau tahu, ‘kan yang kau bawa ini nyawa siapa?” tegur Tuan Xi.

Luhan hanya diam. Pikirannya kembali melayang ke peristiwa tadi. Jaejoong tertawa bahagia bersama dengan Taeyeon, yang wajahnya bersemu merah. Mungkin rencananya akan berhasil, tidak lama lagi. Dan ia harus mempersiapkan hatinya untuk meninggalkan gadis pertama yang benar-benar ia sayangi.

 

-To Be Continued-

 

A/N : miaann kalo update-nya agak lama heheheh dan satu lagi, don’t be SIDERS, yaa^^

Lagi ngga banyak cascuusss, paypayy*wink*

Advertisements

116 comments on “Ma Boy~ (Chapter 7)

  1. Ah. . . Spechles mau koment apa . . .
    Pokoknua chapter ini sukses bikin aku jungkir balik. Mulai dari blushing ketawa sedih wah sukses banget deh author-ssi . . .
    Yosh mau langsung capcus ke next chapter . . . Bye author-ssi ^^~ ❤

  2. cocwittt tidur sambil pelukan uhuk :3 ah luhan main cemburu aja deh, taeyeon kyk gtu karena eluu :v *gregetan oke deh next chapter aku baca 2morro

  3. Luhan kasian banget ya.. 😦
    Ternyata dia itu nggak betah dirumah karena eomma tirinya nggak anggap dia sebagai anak. Untung aja ada Taeyeon yg bisa menghibur Luhan. Semoga mereka jadi couple ya 😀
    Moment mereka disini sweet banget deh ^^

  4. Knpa jdi slah paham gini huhu jangan pisahin lutae plishhhh:((( cukup ibu tiri doang yg bkin luhan sakit jngan org lain lagi:”

  5. Aku nangis bener2 pas luhan inget ibunya yang udh meninggal. Hiks, hueee sedih banget thor T.T
    Izin baca cerita selanj6tnya ya thor… keep writing~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s