Loving You More and More

UntitledDS

Title : Loving You More and More (Sequel of No Reasons To Love You)
Author : Rosalia
Cast : Kim Taeyeon, Luhan, other
Genre : Romance, School life, Fluff
Rating : PG-17
Lenght : Oneshot

Karena readers pada minta sequel, maka dibuatlah ini fanfic. Maaf kalau tidak sesuai keinginan, saya sudah berusaha loh supaya readers puas..heuheu

Ini fanfict murni buatan author, bila ada kesamaan dengan yang lain hanyalah sebuah ketidaksengajaan, jadi mohon apresiasinya yaa
Mohon maaf untuk segala kesalahan ketik, kalimat rancu, ataupun bahasa kacau.

Happy Reading….

Backsound : Westlife – Nothing’s Gonna Change My Love For You (OST Up)

*

Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love

*

Luhan menaikkan ujung blazer seragamnya hingga sebatas siku sembari sesekali mengibaskan rambut coklat tuanya yang sedikit basah. Laki-laki bermata rusa itu menyapukan pandangan menelusuri koridor sekolah yang belum begitu ramai. Hari masih pagi namun hujan sudah mengguyur kota menyebabkan udara dingin yang memaksa siapapun enggan keluar dari selimut hangat mereka. Jadi jangan terkejut jika di sekolah favorit semacam ini pun sepi siswa disaat cuaca sedang tak bersahabat.

Beberapa siswa perempuan bergerombol di sisi koridor dan asyik berbisik-bisik ria begitu Luhan melintas di hadapan mereka. Ahh, ayolah.. Si cassanova sekolah ini tetap menyandang predikat ‘Murid yang Paling Diinginkan No 1 Untuk menjadi Kekasih Impian’ meski nyatanya ia telah resmi menjadi milik Kim Taeyeon seorang sejak tiga bulan lalu.

Kendati demikian, percayalah bahwa pesona Luhan masih tak luntur sedikit pun. Siswa-siswa perempuan itu tak jarang menjerit histeris ketika Luhan mengibaskan rambut basahnya lantas meniup poninya yang menutupi dahi. Tentu saja hanya satu pendapat bagi mereka saat menyaksikannya. LUHAN BENAR-BENAR COOL!

Di ujung koridor, Taeyeon hanya menggelengkan kepala dan beberapa kali gadis itu berdecak sebal. Menjadi kekasih seorang idola sekolah macam Luhan benar-benar lebih rumit dari yang diperkirakannya. Bayangkan saja! Tiap hari ia selalu menahan diri untuk tidak marah saat belasan, puluhan, atau bahkan ratusan gadis-gadis gila di seantero sekolah tak gentar membullynya. Tiap hari ia selalu menahan diri untuk tidak cemburu saat mereka mulai kehilangan kendali dan seenaknya saja ‘menyentuh’ kekasih tampannya itu.

Luhan memang tak pernah menggubris mereka sedikit pun. Namun tetap saja Taeyeon tak tahan diri dengan segala gangguan yang dialaminya sebagai kekasih Luhan. Dan Taeyeon tak bisa menyalahkan Luhan karena kepopulerannya meski hanya tingkat sekolah.

Luhan melihat Taeyeon yang berdiri mematung di ujung koridor depan kelas mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Luhan sadar gadis itu akan kembali merajuk padanya. Toh ini sudah kesekian kalinya Taeyeon protes dengan tingkah laku Luhan yang seolah menebar pesona di hadapan gadis-gadis fans-nya.

“Apa kau akan marah lagi padaku, Taeng?” Luhan mengacak lembut rambut hitam panjang Taeyeon yang dibiarkan terurai. Si pemilik hanya mendengus.

“Maafkan aku. Percayalah kalau aku tak pernah sekalipun mencoba tebar pesona seperti yang kau duga.” Luhan berusaha menjelaskan duduk perkaranya agar tak lagi terjadi kesalahpahaman.

Tempo hari, Taeyeon juga melakukan aksi mogok bicara padanya oleh sebab Luhan yang mencoba bertelanjang dada saat pelajaran renang. Saat itu terjadi hal aneh yang menyebabkan kaos-kaos Luhan di lokernya menghilang tanpa jejak. Terpaksa Luhan hanya mengenakan celana pendek saja saat hendak berenang. Namun belum sempat Luhan keluar dari tempat ganti, Taeyeon muncul dengan sebuah kaos hitam bertuliskan ‘eye’ di bagian depannya. Taeyeon bilang ia meminjam kaos itu dari salah seorang kawannya agar Luhan tak coba-coba memamerkan tubuhnya di hadapan banyak orang. Masalah selesai, namun setelah itu Taeyeon tak banyak bicara pada Luhan kecuali beberapa kata seperlunya.

Luhan paham sesungguhnya sikap Taeyeon yang demikian menunjukkan betapa gadis itu cemburu padanya. Luhan senang Taeyeon cemburu, itu berarti Taeyeon tak ingin kehilangannya. Tetapi di lain pemikiran, Luhan tak ingin menyakiti Taeyeon lebih jauh dengan membuatnya terus cemburu dan berpikiran negatif.

“Taeng.. kuharap kau tidak mogok bicara lagi padaku. Aku tak bermaksud membuatmu salah paham.Aku hanya bersikap biasa dan entah mengapa mereka histeris hanya dengan melihatku yang mengibaskan rambut basah. Apa menurutmu itu sikap tebar pesona? Baiklah aku minta maaf.” Luhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jika Taeyeon masih tak bicara, maka masalah bisa lebih rumit.

‘Asal kau tau saja, Xiao Lu. Bahkan dengan rambut basah yang kau kibaskan semacam itu membuatmu tampak sangat memukau. Kau benar-benar tampan dan mau tak mau aku ikut terbawa pesona itu. Jika kau ingin minta maaf, apa kau berniat minta maaf karena ketampananmu? Hehh.. itulah letak kesalahanmu. Kau bahkan terlalu tampan untuk ukuran manusia. Dasar.’ Sayangnya Taeyeon lebih nyaman berkomentar dalam hati ketimbang mengungkapkannya pada Luhan. Taeyeon akan merasa malu jika ia sampai mengucapkan hal itu pada Luhan. Oleh karenanya, ia hanya diam.

“Yaa, Kim Taeyeon. Apa kau akan terus diam? Haish.. benar-benar. Aku hanya ingin meluruskan salah paham, dan aku mohon kau memaafkan aku jika memang aku bersalah.”

Luhan mulai frustasi dengan Taeyeon yang masih mengunci mulutnya. Namun perlahan sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman manis ketika Taeyeon berjinjit menarik lehernya lantas membuat bibir mereka bertaut selama beberapa saat.

“Kyaa… Kim Taeyeon itu mencium Uri Luhannie..”

“Yaa.. Oppa… kenapa kau melakukan itu..”

“Dasar Kim Taeyeon.. aku akan membuatnya sengsara setelah ini..”

“Huwee… apakah hal ini harus terjadi?? Aku ingin sekali menjadi gadis itu…”

“Aku akan membunuhmu, Kim Taeyeon…”

Dan banyak kalimat umpatan lagi yang terdengar oleh telinga keduanya. Mungkin Taeyeon perlu menyewa beberapa bodyguard untuk melindunginya dari kawanan massa yang mulai frontal itu. Tidak. Tidak. Taeyeon tak butuh bodyguard. Ia sudah punya Luhan yang akan melindunginya.

*

Luhan yang tengah berkacak pinggang, sibuk mondar-mandir di dalam kamarnya. Laki-laki yang hanya mengenakan sweater abu-abu dengan rajutan butir-butir salju itu menggelengkan kepalanya beberapa kali dan masih asyik berjalan kesana kemari sambil berdecak. Beginilah kebiasaan Luhan jika sedang dilanda kebingungan akut. Satu-satunya hal yang membuatnya demikian adalah Luhan tak yakin harus memberi Taeyeon kejutan semacam apa untuk merayakan anniversary 100 hari merekalima hari mendatang. Bagaimanapun ini pertama kalinya Luhan merayakan sesuatu semacam ini. Mau tak mau ia harus memutar otak agar jangan sampai mengecewakan kekasih tercintanya.

Pintu kamar Luhan berderit lantas terbuka secara mendadak. Sosok tinggi jangkung berkulit putih yang masih mengenakan seragam sekolah oranye itu muncul dari balik pintu. Oh Sehun —adik sepupu laki-laki Luhan yang lebih muda satu tahun darinya— menghampiri si kakak yang nampak kacau.

“Hyung, apa kau mendapat masalah? Terakhir kali kau bersikap begini ketika baru tiba di Seoul. Ketika itu kau bingung bagaimana kehidupan di sekolah barumu kelak. Apa sekarang muncul hal seperti itu lagi?” Sehun menyambar sebuah komik dari lemari di sudut kamar yang berisi koleksi Luhan, mulai dari novel, komik, CD atau DVD musik, dan lain sebagainya.

“Sehunnie, kau sudah punya kekasih, bukan? Apa yang kau berikan padanya saat anniversary 100 hari kalian? Lantas apa yang kau lakukan ketika memberikannya? Bagaimana reaksinya? Apa dia senang?” Luhan mencerocos Sehun dengan segumpal pertanyaan tanpa memberikan kesempatan bernapas bagi si penjawab.

“Yaa, Hyung. Jangan berlebihan! Tenanglah.” Sehun melemparkan komik Luhan yang diambilnya ke sembarang tempat karena jengkel. Laki-laki jangkung itu menggerutu tak jelas.

“Aku benar-benar bingung, Sehunnie. Tolong bantulah..” Luhan masih berkacak pinggang dan sesekali mengusap rambut belakangnya dengan gaya yang —erghh,— lumayan cool.

“Haishh.. ternyata masalah dengan kekasihmu, ya. Baiklah, baiklah. Aku akan memberikanmu rekomendasi.” Sehun pindah posisi menuju ranjang empuk Luhan yang berbalut bed cover Manchester United di sana-sini.

“Apa yang kau berikan pada Hayeon saat anniversary 100 hari kalian?”

“Ergh.. aku tak begitu ingat. Sudah nyaris satu tahun sejak peristiwa manis itu. Kau tau aku cinta dengan fotografi, bukan? Aku memberikannya album foto hasil jepretanku. Isinya tentang foto-foto kami, tempat-tempat yang kami kunjungi bersama, bahkan benda-benda yang menurut kami berharga. Hayeon senang menerimanya, Hyung. Asal kau tau saja, seorang Hwang Hayeon sampai tidur memeluk album itu di malam aku memberikan padanya.”

Luhan menghela napas dan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar, andai saja ia bisa mendapat wangsit dari atas sana. Sehun memang memiliki kemampuan di bidang fotografi yang menakjubkan, oleh karenanya si adik sepupu itu kini menempuh pendidikan fotografi di School of Performing Arts yang terkenal. Luhan tak tau kemampuan hebat apa yang dimilikinya untuk membuat Taeyeon terkesan.

“Apa yang harus kulakukan? Aku ingin memberi Taeyeon sesuatu yang bermakna. Aku ingin memberi kenangan tak terlupakan baginya di hari istimewa itu. Tapi aku bingung memikirkannya.”

“Kau tau apa yang paling disukai Taeyeon Noona?”

Luhan membiarkan ekspresi bengong menghiasi wajah tampannya untuk beberapa saat. Laki-laki itu merasa bodoh sekali. Sebagai seorang kekasih, apa saja yang sudah Luhan lakukan hingga tak tau apa yang paling disukai Taeyeon? Bagaimana bisa ia tak tau? Dan ia sudah merasa menjadi seorang kekasih yang baik? Oh, Luhan. Mengapa ada hal semacam ini? Luhan memutar otaknya mengira-ngira ‘sesuatu’ semacam apa yang ‘mungkin’ sangat disukai Taeyeon.

Yang Luhan tau, Taeyeon sangat suka ice cream. Tapi apakah ia akan memberikan setruk ice cream sebagai kejutan? Heh.. Luhan tak sekonyol itu. Dimana letak keromantisannya? Yang ada Taeyeon akan masuk rumah sakit karena overdosis ice cream yang Luhan berikan.

Luhan tau Taeyeon menyukai saat hujan deras dan angin bertiup kencang. Apa yang bisa dilakukan Luhan dengan hal ini? Apa mungkin ia harus memanggil badan meteorologi untuk membuat hujan turun agar ia dan Taeyeon bisa berduaan di satu payung? Romantis, tapi sangat tak logis. Badan meteorologi? Siapa yang mau berurusan dengan mereka?

Luhan tau Taeyeon menyukai warna ungu. Ia bisa saja memberikan apapun itu yang berwarna ungu, tapi apa yang akan terjadi jika Taeyeon tak menyukai pemberiannya? Mengingat yang terpikirkan oleh Luhan saat ini adalah ia ingin memberikan selusin underwear dengan warna mencolok itu. Ergh.. Luhan! Berhenti berpikir yadong, gadismu itu masih polos.
Ahh benar-benar! Luhan sangat benci kebingungan semacam ini.

“Aku tak yakin, Sehunnie. Entahlah apa yang Taeyeon sukai.” Gumam Luhan pelan. Merutuki kebodohannya. Ia bahkan tak tau apa yang paling disukai kekasihnya.

“Kau ini benar-benar, Hyung. Sudahlah, berikan yang umum saja. Aku melakukan ini saat anniversary 100 hari kami, dan Hayeon sampai menangis terharu karenanya. Gadis manapun menyukai bunga, Hyung. Kau bisa membuat sususan bunga yang disukai Taeyeon Noona membentuk inisialnya. Halaman samping rumah lebih dari cukup untuk membuatnya. Mungkin kau bisa menambahkan lilin di tengah-tengahnya. Setelah itu kalian bisa dinner di sana. Romantis kan?”

Luhan mempertimbangkan usulan Sehun. Cukup romantis, dan bisa diterima. Tapi entahlah, Luhan merasa gagasan itu terlalu umum. Luhan ingin sesuatu yang khusus, tapi untuk saat ini ia tak bisa memikirkannya.

*

Lagi-lagi hujan turun di hari musim semi yang sumringah ini. Nampaknya keceriaan musim semi harus tertunda oleh udara dingin yang memaksa siapapun mengenakan jaket ketimbang pakaian tipis mereka dikarenakan suhu mencapai 15o C meski siang hari.

Luhan berdiri di depan lobbysekolah menunggu Taeyeon untuk pulang bersama. Mereka jarang bersama baik ketika berangkat maupun pulang sekolah. Luhan merasa Taeyeon sedikit aneh belakangan ini, entahlah atau mungkin hanya perasaannya saja. Taeyeon kembali menjalani hari-harinya dengan aura melankolis yang mau tak mau dunia Luhan ikut suram karenanya.

Taeyeon berjalan gontai menghampiri Luhan yang menyandarkan tubuhnya di dinding lobby sekolah dengan satu kaki tertekuk menjejak tembok abu-abu. Taeyeon mengakui pesona Luhan yang selalu tampak keren meski kini wajahnya kacau. Taeyeon baru tiba dari kamar mandi dan membuat Luhan menunggu beberapa saat agar mereka bisa pulang bersama.

“Kau lama menunggu, ya?” Serunya yang langsung membuat Luhan merubah posisi. Laki-laki itu berdiri tegak begitu didapatinya Taeyeon sudah berada dua meter darinya. Senyuman manis tersungging membuat mata rusa Luhan sedikit terlipat.

“Tak apa. Ayo kita pulang. Hujannya sudah reda.” Luhan menggaet tangan Taeyeon lantas keduanya berjalan beriringan menyusuri lobby depan sekolah yang mulai kosong.

Luhan bingung apa yang menciptakan suasana canggung diantaranya dan Taeyeon hingga membiarkan kesunyian mengiringi langkah kaki mereka, padahal keduanya tengah berjalan di trotoar yang ramai klakson dan deru mesin kendaraan dari jalanan. Bahkan Luhan berniat mencincang jangkrik tak tau diri yang bisa-bisanya menyuarakan ‘krik-krik’ di siang bolong begini.

“Taeng, ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.” Ujar Luhan pada akhirnya. Ia merasa kini saat yang tepat untuk membahas hal penting dengan kekasihnya itu.

“Aku tau apa yang akan kau bicarakan. Maafkan aku, Luhan. Aku memang berubah belakangan ini dan sudah membuatmu merasa tak nyaman. Aku benar-benar minta maaf, Luhan.” Taeyeon berkata dengan suara terlampau pelan hingga Luhan nyaris tak mendengarnya.

“Aku ingin mencoba mengertimu, Taeng. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu katakanlah padaku, aku ingin kita bisa saling percaya untuk berbagi apapun berdua. Tapi kau bahkan tak mencoba berbicara padaku. Kau langsung bersikap aneh dan itu membuatku kesal, asal tau saja.”

Taeyeon menendang keras-keras sebuah batu yang menghalangi jalannya. Ia merasa bersalah pada Luhan atas sikapnya yang kurang menyenangkan. Taeyeon masih terbayangi ingatan masa lalunya hingga nyaris menjadikan Luhan sebagai sasaran kepedihan hatinya.

“Luhan, aku ingin kita pergi ke taman bermain yang biasanya. Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.”

“Yaa, Kim Taeyeon. Bukankah aku yang lebih dulu mengatakan hal itu?”

Keduanya pun melangkahkan kaki lebar-lebar menuju tempat tujuan. Baik Luhan maupun Taeyeon begitu ingin tau apa yang ingin dibicarakan masing-masing mereka. Dan begitu tiba di tempat yang sepi dengan dua ayunan itu, Luhan segera menagih pada Taeyeon.

“Katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku.” Laki-laki itu menempatkan tubuhnya di salah satu ayunan yang segera diikuti tindakan sama dari Taeyeon.

“Ehh.. apa kau yakin aku boleh membahas hal itu, Luhan?”

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Taeng. Dan aku akan melakukan hal yang sama.”

“Baiklah. Aku akan percaya kau tak akan marah padaku. Kau ingat bukan bahwa saat pertama kali aku menyetujui berpacaran denganmu, aku pernah mengatakan akan menjadikan cinta tak terbalasmu dulu menjadi cinta tak terbatas. Kau percaya padaku, bukan? Sekali lagi aku minta maaf jika ini mungkin bisa menyakitimu. Tapi aku masih tak bisa melupakan Leeteuk Oppa, Luhan.”

Luhan hanya diam mendengar penuturan Taeyeon. Ia hanya ingin tau, sampai batas mana Taeyeon akan mengungkapkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Luhan berusaha mempercayai Taeyeon, mempercayai janji-janji gadisnya itu yang akan selalu mencintainya. Mungkin terdengar konyol mengingat mereka masih berada di tahun kedua sekolah menengah atas. Siapa sangka mungkin terjadi suatu hal kelak yang memang menghendaki keduanya untuk berpisah. Namun Luhan tak akan sanggup membayangkan sebuah kata ‘perpisahan’ akan memutuskan hubungannya dan Taeyeon. Luhan hanya ingin Taeyeon. Hanya ingin bersamanya.

Taeyeon berkata dari mulutnya sendiri bahwa ia masih tak bisa melupakan Leeteuk. Luhan bisa menerima itu. Ia tak pernah menyuruh Taeyeon untuk melupakan orang yang —mungkin— masih dicintai Taeyeon. Luhan hanya menyuruh Taeyeon untuk tidak melupakan pula dirinya yang juga sangat mencintai gadis itu.

“Maafkan aku, Luhan. Aku akan berusaha mencintaimu sepenuhnya seperti janjiku. Tetapi akhir-akhir ini aku sering memikirkan Leeteuk Oppa. Apalagi hari ini adalah peringatan seratus hari ia meninggal. Melihat Soora Eonni —kekasihnya— menangis di makam membuatku teringat akan sosok Leeteuk Oppa.”

Hishh.. Luhan menyesal sekarang telah bertindak gegabah. Ia menyesal telah meresmikan Taeyeon sebagai kekasihnya beberapa hari setelah kematian Leeteuk. Tentu saja di tiap anniversary mereka, Taeyeon akan teringat sosoknya. Sosok Leeteuk yang —konon menurut Luhan— sangat Taeyeon cintai.

“Aku sudah mengatakannya. Sekarang giliranmu, Luhan. Sekali lagi aku mohon maafkan aku. Aku butuh perngertianmu jika sikapku berubah aneh belakangan ini.” Taeyeon meraih tangan Luhan yang melingkar di besi penyangga ayunan.

Taeyeon merasa senang tangan Luhanlah yang selalu ada saat ia butuhkan. Andai tak ada orang yang begitu mencintainya seperti Luhan, bisa dipastikan Taeyeon sudah berakhir tragis di harian lokal tiga bulan lalu dengan tulisan tebal yang artikelnya diada-ada wartawan ‘Seorang Gadis Sekolah Menengah Atas Ditemukan Tewas Bunuh Diri’. Sub judul yang mungkin akan memenuhi halamannya kira-kira demikian, ‘Diduga frustasi ditinggal kekasih, gadis malang tersebut memutuskan mengakhiri hidupnya dengan terjun dari atap lantai sekolah’. Konyol sekali nasibnya!

“Kau tau cinta segitiga yang terburuk? Yaitu cinta seseorang pada sosok dalam pikirannya. Jika sosok itu nyata, aku bisa saja menemuinya lantas mengajaknya berkelahi atau apapun itu agar membuatnya menjauhimu. Tapi jika sosok itu hidup dalam ingatanmu, apa yang bisa kulakukan? Taeng, aku mengertimu. Aku benar-benar mengertimu. Aku tidak akan marah sedikit pun bahkan jika kau masih mencintai Oppa kesayanganmu itu.” Entah karena apa suara Luhan mendadak sedikit serak. Taeyeon sempat mengira orang se-manly —begitu menurutnya Luhan demikian manly— akan menangis karena masalah cinta-cintaan. Sesaat Taeyeon sadar, Luhan bukan orang semacam itu. Anggap saja tenggorokannya sedang kering mendadak.

“Perlu ralat disini. Aku bukannya mengatakan masih mencintai Leeteuk Oppa, Luhan. Aku hanya bilang aku masih tak bisa melupakan Oppa. Itu karena peringatan seratus hari kematiannya. Itu saja. Aku berusaha mencintaimu sepenuhnya.” Taeyeon menaikkan satu alisnya. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada Luhan agar tak terjadi kesalahpahaman yang lain lagi.

“Berusaha, ya?” Luhan tersenyum hambar mengingat fakta Taeyeon yang masih BERUSAHA mencintainya dengan sepenuh hati.

“Haa.. ralat lagi. Baiklah, aku akan membuatmu puas kali ini, Tuan Lu. Aku sudah mencintaimu sepenuhnya. Percaya?” Taeyeon memajukan wajahnya hingga terpisah sejengkal jarak antara matanya dengan mata rusa Luhan.

“Sudah kubilang aku percaya padamu, Nona Kim. Ahh tidak, tidak. Kupikir kau akan menjadi Nyonya Lu kelak.” Luhan dengan jailnya menarik hidung Taeyeon hingga gadis itu reflek memukul tangan isengnya.

“Kalau kau sering memainkan hidungku, aku tak akan pernah mau menjadi Nyonya Lu.” Decak Taeyeon merengut manja. Luhan hanya memajukan bibir menirukan gaya bicara Taeyeon dengan sedikit kesan manja hingga Taeyeon gemas memukul ujung bibirnya dengan…..ups….. dengan bibir gadis itu juga..

Astaga. Mereka melakukan ciuman untuk kesekian kalinya di hadapan banyak orang —tanpa keduanya ketahui. Luhan punya lebih banyak mata-mata dari yang dipikirkan. Mereka tersebar di setiap sudut, dan lihai bersembunyi hingga layak ditilik untuk dipekerjakan oleh FBI—atau Dispatch mungkin.

Sekali lagi, ayolah! Luhan bukan artis tenar yang perlu dibuntuti banyak paparazzi.

*

Happy 100th Days Anniversary, My Baby Taengoo ~
I believe in love as long with you
Saranghae, Chagi-ya

Happy 100th Days Anniversary, My Baby Xiao Ludeer ~
Thank you for believe me be your love
Nado saranghae, Nae Chagi

Suasana hati Luhan benar-benar baik hari ini. Dengan semangat menggebu-gebu, ia langkahkan kaki menuju sebuah coffee shop yang berada di area pertokoan jantung kota Seoul. Hari Sabtu, dan sekolah libur. Luhan memiliki janji untuk bertemu dengan Taeyeon disana merayakan hari istimewa mereka.

Sayangnya Taeyeon tak seantusias kekasihnya. Taeyeon bersikap biasa saja. Ia mendengar bunyi lonceng toko yang bergemerincing begitu pintu tertarik ke dalam menandakan seseorang baru saja masuk. Gadis itu mendapati Luhan yang memasang ekspresi sumringah tengah berjalan ke arahnya.

“Kau sudah lama menunggu, ya?” Luhan mendudukkan tubuhnya di bangku depan Taeyeon. Luhan masih setia dengan senyuman yang Taeyeon akui memang sangat manis.

“Aku baru tiba, Lu. Jadi… kau tak membawa apapun untukku?” Taeyeon memperhatikan Luhan dari atas hingga. Laki-laki yang mengenakan kaos biru berbalut jaket baseball coklat–putih itu tak nampak membawa apapun untuk disebut ‘hadiah’.

“Ehm… itu… kau tak perlu khawatir, Taeng. Aku sudah menyiapkannya, tapi di rumahku.”

“Rumahmu? Kau berniat membawaku ke rumahmu? Di sore hari begini? Yaa, Luhan! Hari senja menjelang malam. Bagaimana jika orang tuamu berpikir yang tidak-tidak tentangku?”

“Mereka sedang ke China hingga dua minggu lagi. Di rumah tak ada siapapun.”

“Tak ada siapapun? Dan itu lebih mengerikan, Xiao Lu.”

Taeyeon membelalakkan bola mata coklatnya. Apa yang Luhan pikirkan dengan membawanya ke rumah yang kosong tak ada siapapun? Bagaimanapun Luhan seorang laki-laki, dan Taeyeon sepenuhnya seorang gadis. Heh! Taeyeon tak ingin berpikir lebih jauh.

“Kau berpikir terlalu jauh, Nona Kim. Aku masih terlalu polos untuk melakukan sesuatu padamu.” Luhan memasang wajah tanpa dosa disertai cengiran.

“Baiklah. Baiklah. Jadi, apa yang mungkin kau siapkan untukku jika aku ikut bersamamu?”

“Kau akan senang, Nona Kim. Percayalah.”

“Mengingat tak ada lagi yang perlu kutolak, jadi ayoo..”

*

Taeyeon hanya bisa membuka mulutnya terlampau kagum. Oh, deer! Ia tak pernah tau Luhan bisa semanis ini. Taeyeon tiba di halaman luas yang berada di sisi kanan rumah mewah Luhan. Hamparan rumput hijau di hadapannya itu terhias banyak tangkai lily, bunga kesukaannya. Lily-lily itu tersebar membentuk karpet menuju sekumpulan lilin di ujung kolam sana yang juga terdapat kano kayu bercat ungu.

“Ikuti aku, Taeng.” Luhan menarik tangan Taeyeon membuat gadis yang sedang melongo itu terkejut.

“Kita tidak kesana?” Taeyeon bingung. Ia mengira Luhan akan membawanya menaiki kano itu atau apa, tetapi laki-laki itu malah mengajaknya menuju lantai dua rumah.

Mereka tiba di balkon terbuka yang menghadap taman samping rumah Luhan. Taeyeon lagi-lagi dibuat kagum. Di ujung balkon sudah terdapat sebuah matras dengan candle light menghias tepi balkon. Taeyeon duduk di matras, yang kemudian disusul Luhan.

“Tunggu sebentar…” Luhan mengambil gitar yang entah sejak kapan berada di pojokan balkon.

Luhan menampakkan senyuman, dan duduk di kursi depan Taeyeon dengan gaya yang —arrghhh— sangat amat cool. Perlahan tangan putihnya memetik satu persatu senar gitar memainkan nada sendu yang —yah katakan saja— menyayat hati.

Wo hai zai yong bao zhe zai ku qi deni
Na e meng tai qing xi xia yi miao wo ye jiu qing xing
Xin you xie tan xi da kai chuang xie xin
Ba yue guang huan xiang ceng
Fang fu ta ye zheng zhai shang xin

*EXO — My Turn To Cry Chinese Version

Taeyeon mendengar suara lembut Luhan yang berpadu dengan melodi indah dari lihainya tangan laki-laki itu memetik gitar. Ia sibuk menghayati lagu meski faktanya Taeyeon hanya paham beberapa lirik saja, mengingat itu bahasa China. Sesekali gadis itu menggoyangkan kepala dengan mata tertutup mengikuti alunan nada. Hingga tiba di bait terakhir, Taeyeon membuka mata dan sungguh terkejut dengan wajah Luhan yang begitu tepat di sepuluh senti di depannya.

Wo ai ni, wo ai ni
Ni bie zai ku, guan diao yan lei, woo~

“Wo ai ni, Kim Taeyeon.” Lagi-lagi adegan romantis harus tercipta ketika bibir keduanya saling bertaut beberapa detik, karena di detik lain Taeyeon menarik wajahnya cepat.

“Terima kasih atas kejutannya, Xiao Lu. Sungguh aku senang. Dan.. aku memiliki sesuatu untuk kuberikan padamu, memang tak seberapa dibandingkan yang kau siapkan untukku. Tapi percayalah aku membuatnya dengan tulus.” Taeyeon mengambil sebuah bungkusan kado berwarna coklat krem dengan hiasan pita berukuran sedang dari dalam tasnya. Ia sodorkan bungkusan itu pada Luhan.

“Boleh kubuka sekarang, Taeng?” Tanya Luhan dengan antusias menerima kado pertama yang diterimanya dari si kekasih. Taeyeon hanya mengangguk membolehkan.

Luhan menarik pita penghias kado, lantas perlahan membuka kotaknya. Mata rusanya membulat ketika nampak sebuah syal berwarna putih tulang dengan rajutan namanya disana.

“Wooahh.. ini fantastic, Taeng.” Luhan segera mengalungkan syal baru itu ke lehernya.

“Aku membuatnya sendiri, Lu. Aku tau kau mudah terkena flu, dan saat musim semi udara cenderung dingin. Oleh karena itu aku membuatkannya agar kau selalu hangat.”

“Oh, My Taeng. Kau benar-benar hebat. Ahh,,benar. Sekarang kado dariku.”

Luhan beranjak meletakkan kembali gitarnya di tempat semula, lantas kembali dengan bungkusan kado berwarna biru laut.

“Aku tak tau apa yang paling kau sukai. Tapi kuharap kau akan menyukai ini.” Luhan mempersilahkan Taeyeon untuk membuka kado darinya.

Taeyeon membuka bungkusan itu, dan benar-benar terpukau dengan isinya. Sebuah kotak musik dengan gaya kuda karnaval berwarna emas berupa komedi putar, di bagian bawah kotak musik terdapat kunci berwarna emas pula yang terukir inisial 루태 —berarti Luhan Taeyeon— sedang di antara kuda yang berputar pelan itu terselip kertas yang bisa dipastikan sebuah surat.

Jika kau merindukanku, kau hanya perlu memutar kuncinya. Maka aku akan bernyanyi untukmu.

Demikianlah yang tertulis disana. Taeyeon memasukkan ujung kunci ke lubangnya di bagian bawah kotak musik. Muncul sebuah instrumen klasik dengan bunyi ting-ting. Setelah Taeyeon dengarkan lebih teliti, alunan ting-ting-ting tersebut membentuk irama lagu yang baru saja Luhan nyanyikan.

Oh.. Taeyeon tak pernah menyangka Luhan akan seromantis ini.

“Terima kasih, Luhan. Kau benar-benar yang terbaik. Aku menyayangimu.” Tanpa komando Taeyeon segera memeluk Luhan.

“Haha.. aku senang berhasil membuatmu terkesan, Taeng. Kau siap menaiki kano itu?” Luhan melepas pelukan Taeyeon, lantas menunjuk sebuah kano yang siap dinaiki mengarungi kolam di halaman rumah Luhan. Taeyeon mengangguk semangat, yang kemudian keduanya berlari dengan semangat menuju ratusan lilin dan ratusan tangkai lily di halaman.

Sialnya alam sedang tak ingin berkompromi dengan mereka. Tetesan air meluncur bebas dari langit. Awalnya hanya setetes, dua tetes. Namun kelamaan butirannya kian banyak dan makin banyak membuat Taeyeon dan Luhan yang berdiri di antara lilin mengerang kesal.

“Yaa, Luhan. Lilinnya padam terkena hujan. Kita harus berteduh secepatnya atau kau akan terkena flu.” Taeyeon menyambar tangan Luhan agar mengikutinya berteduh di beranda samping rumah. Namun Luhan menolak. Ia tetap diam di tempat.

“Karena aku mengenakan syal pemberian kekasihku, aku tak akan terkena flu. Percayalah.” Luhan mengencangkan syal putih yang melingkar di lehernya. Taeyeon hanya memajukan bibirnya manja.

“Lihat saja jika hidungmu sampai memerah dan kau tak berhenti bersin-bersin. Aku akan menjauhimu.”

“Kau tidak akan bisa jauh dariku, karena aku yang akan selalu mendekat kepadamu.” Luhan menarik tubuh Taeyeon ke arahnya. Smirk sempat muncul sejenak di wajah tampannya, ketika secepat tak terduga tergantikan ekspresi bingung yang aneh.

“Haatchhii…”

“Astaga, Luhan. Kau lihat yang kubilang?! Kau akan terkena flu jika sampai bereaksi dengan air hujan dan udara dingin begini.” Taeyeon menatap wajah Luhan yang mulai memerah. Hidungnya mulai keluar semacam lendir —sayangnya itu ingus— dan matanya mulai menyipit. Gadis itu hanya mengeratkan syal basah yang masih melingkar di leher Luhan berharap membuatnya tetap hangat.

“Hatchiiiii…. setidaknya aku senang sakit flu jika itu berarti kau lebih memperhatikanku.” Luhan kembali dengan smirknya meski kini tak terlalu berhasil karena wajahnya merah.

“Yaa, Luhan!” Taeyeon memukul kepala Luhan jahil.

Tidakkah ini romantis? Bisa merayakan anniversary 100 hari di antara ratusan lily dan ratusan lilin padam karena hujan yang deras. Love rain. Setidaknya Luhan dan Taeyeon bisa merasakan aura dramatis dari turunnya butir-butir air dari langit itu. Beruntunglah kali ini tak ada satu orang pun fans Luhan yang menjadi penguntit momen romatis mereka, karena di luar gerbang sana seorang Oh Sehun sibuk mengamankan rumah dari kawanan gadis-gadis aneh yang mengaku mencintai Luhan.

*

Luhan’s Note

Percayakah kau jika seorang idola sekolah yang digemborkan orang-orang kesana kemari untuk dijadikan pacar ini tak pernah sekalipun merasa jatuh cinta? Memang. Aku memang begitu, tapi sebelum aku mengenal seorang Kim Taeyeon. Gadis itu terlampau sederhana untuk dikatakan memiliki pesona yang bisa memikat seorang cassanova sepertiku. Tapi entahlah, aku menyukainya yang terlalu biasa.

Bisa menjadi bagian terindah dari hidupnya adalah saat-saat menakjubkan bagiku. Aku senang bisa berbagi tawa dan duka dengannya, meski nyatanya aku hanya berbagi dukaku saja Taeyeon cenderung tertutup saat merasa sedih. Tapi aku bisa memahami itu, karena aku percaya Taeyeon tak akan menyembunyikan apapun dariku naif memang.

Aku memang bodoh karena tak tau apa hal yang paling Taeyeon sukai. Sampai-sampai untuk membuat kejutan di hari perayaan pertama kami aku harus memakai saran Sehun dikarenakan kehabisan ide. Aku rela membobol tabunganku untuk memesan kotak musik istimewa itu agar jadi di waktu singkat dua haridan juga memesan kano berwarna ungu yang langka. Aku tak tau harus memberi hadiah semacam apa yang bisa membuat Taeyeon terkesan. Percayalah, bahkan cassanova tampan sepertiku masih polos dalam hal perempuan.

Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan Taeyeon. Aku hanya berharap bisa bersamanya untuk waktu yang lama. Lebih lama dari sekedar seratus atau seribu tahun. Yaah, manusia memang tak bisa selama itu. Tapi siapa bilang cinta tak bisa hidup lebih lama dari manusia. Kuharap aku masih mencintai Taeyeon bahkan setelah semillenium lagi.

END

Loha… Annyeonghaseyoo..akhirnya rampung juga.
Ada kisah dibalik efef ini, loh. Emang sih, jujur saja. Saya dapat inspirasinya dari kasusnya BaekYeon. (saya BaekYeon shipper, jadi harap maklum).
Ya ampun, bukannya apa ya. Tapi saya itu greget banget sama fans-fans abal di luar sana yang malah jadi antis biasnya sendiri, mana kebanyakan fans Baekkie bash Taeng T.T

# O.O jadi curhat

Saya selaku author baru, belum berkenalan resmi ya. (maaf readers). Oke. Oke. Kenalkan, nama saya Rosalia (panggilan aja, kalo aslinya panjang), line 98 (bulan November), dan bias saya EXOShidae, utamanya HunHanTaeng, karena itu jangan heran kalo efef saya cast-nya mereka aja. Tapi sebisa mungkin saya akan coba cast baru, walaupun saya takut gak maksimal karena feel yang kurang.

Sekian aja ya, bagi yang ingin kenal lebih jauh cukup add akun fb saya Rosalia Wulan
Maaf buat Twitter, Instagram, BBM, Line, Wechat, Path, atau apapun itu lainnya masih loading…..haha ~

sampai jumpa di fanfic saya selanjutnya….

much lovely, Rosalia ^^

 

Advertisements

56 comments on “Loving You More and More

  1. Awesome Luhan romantis ahh nan jeongmal joahae Lutae thor daebak deh ff nya ^^ i am wait your next ff Hwaitaeng !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s