Polkadot Man (Chapter: 5)

polkadot man

Title
Polkadot Man (Chapter 5)
Author
DeliaAnisa
Genre
Romance, Comedy, and Fantasy
Length
Multichapter
Rating
PG-15
Main Cast
Kim Taeyeon and Xiou Luhan
Other Cast
Bang MinAh and other
Disclaimer
Ini FF hasil dan murni dari imjinasi saya, maaf jika ada kesamaan dan tentunya itu tidak disengaja, and don’t plagiat.
Author Note

Hai hai ketemu lagi dengan saya author gaje yang suka bikin cerita ngawur ?// wkwk :v
Oke.. dichapter ini ada pacar saya nyempil (jongin) hahah :v tidak jadi main cast kok, cuman jadi cameo aja. Ya.. namanya juga gratisan ?/ -_-
Baiklah, saya rasa cuap-cuapnya agak alay yah XD
Langsung aja kalau gitu,
So happy reading and enjoy ^_^

Ini benar-benar membuat taeyeon bahagia.
Ia terbangun, pertama yang ia lihat adalah pria dengan kulit polkadot, atau kau bisa mengatakan pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya mulai dari sekarang. taeyeon tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, tak lelah ia menatap dan mengusap wajah itu. pemiliknya, tampak lelap tertidur tanpa mendengkur, oh taeyeon bersyukur akan hal itu.
Taeyeon menggerakan kedua matanya dari luhan menjadi kejendela. Bukan, bukan jendela yang tengah menariknya. Ia terlihat berpikir, ya.. ia berpikir untuk memasak pagi ini.
Dengan hati-hati ia beranjak dari ranjang yang ia tempati semalaman dengan luhan. Sebelum benar-benar pergi kedapur, taeyeon tak akan setega itu membiarkan kekasihnya dalam keadaan menggigil seperti ini. Ia mengambil selimut dari lemari lalu ia sampirkan ketubuh luhan dan membuatnya senyaman mungkin. Diam-diam taeyeon mencium pipi luhan sebelum akhirnya ia berlari kearah dapur.
Sesampainya didapur, ia hanya menggaruk-garuk kepalanya dan menatap pantry bingung. Ini kali pertamanya ia memasak, ia takut percikan minyak dan api. Namun taeyeon harus bertarung dengan rasa takut itu. hei, ini demi kekasihmu. Kau harus tampil baik dimatanya. Taeyeon meyakinkan dirinya.
Ia terlalu pintar dalam menyontek. Ya, ia akan melihat resep-resep diinternet melalui smartphone-nya. Ia memakai apron dan sarung tangan. Sesekali mengintip resep itu dari smartphone-nya yang sengaja ia simpan dekat penggorengan.
Ia akan memasak beberapa menu untuk pagi ini.
“fighting.. fighting.” Ia menyemangati dirinya sendiri.
Perjalanannya dalam memasak tidak semulus apa yang dipikirkannya. Ia hampir membakar dapur jika saja ia terlambat satu detik mengambil ember berisi air dan menyemburkannya pada kain yang dilahap api.
Ia mengelap keringatnya dan menghela napas lega, setidaknya makanan yang ia buat masih baik-baik saja.
Taeyeon menghabiskan waktu memasaknya selama kurang lebih 2 jam lamanya. Tepat setelah ia membereskan meja makan dan menyimpan makanannya kesana, luhan keluar dari kamar dengan keadaan yang berantakan. Lazim pada seseorang yang baru usai dari mimpinya.
Taeyeon menoleh pada luhan sembari meletakkan gelas dan piring kemeja makan. “chagia, apa kau tidur dengan baik?”
Luhan mengangguk dan tersenyum manis, ia berjalan menuju salah satu kursi dimeja makan, dengan semangat ia mendudukan pantatnya disana. “merasa lebih baik saat kau disampingku.”
Taeyeon menuangkan segelas susu untuk dirinya dan luhan dengan pipi yang merona. “baguslah, lihat! Aku memasak semua ini untuk pertama kalinya.” Ucap taeyeon berbangga hati namun tetap tersenyum rendah diri.
Luhan terlihat tak percaya, terbukti matanya membulat. “kau memasak untukku?” ia memandang taeyeon masih dalam ekspresi yang tidak berubah.
“Yah, demi kekasihku aku rela pergi kedapur.” Taeyeon tertawa kecil sembari duduk disamping luhan.
Luhan tersenyum mengejek, menatap hidangan didepannya. “aku tidak yakin dengan masakanmu.”
Taeyeon tau, luhan tidak sepenuh hati mengejeknya. Luhan hanya mencoba untuk menghangatkan suasana.
“hei, kau meragukanku? Tenang.. aku pintar mengamati resep. Aku yakin, masakanku akan sangat sama dengan yang kubaca.” Taeyeon menatap luhan, memberikan pandangan semeyakinkan mungkin.
Luhan tertawa kecil, ia mengusap rambut taeyeon lembut. “kau sungguh berusaha eoh?”
Seperti biasa, taeyeon akan menggenggam tangan luhan yang terangkat dikepalanya. “yah ini demi cinta kita. kita menjalin hubungan seperti ini.. akan terpikir sebuah masa depan yang indah. Kita akan menikah dan tentunya sebagai istri yang baik aku harus bisa memasak untuk suamiku.” Taeyeon menatap penuh cinta dan sayang pada luhan.
Luhan melepaskan tangannya dari taeyeon, ia mengambil sendok dan memakan nasi dan sup. Wajahnya berubah. “kau terlalu jauh.” Ucapnya tanpa melirik kearah dimana taeyeon tengah menatapnya.
Taeyeon menopang dagunya dengan kedua tangannya pada meja. Ia menatap luhan lembut. “itu impianku… impianku untuk segera hidup bersama denganmu. Aku ingin cepat menjalani kehidupan baru itu.” taeyeon tampak tenggelam bersama dengan khayalannya.
Luhan menunduk lesu, tidak ada tanda-tanda antusiasme diwajahnya. “aku takut tidak dapat membuatmu bahagia.” Luhan memandang taeyeon nanar.
Taeyeon menempatkan kembali tangan luhan kedalam dekapannya. Ia menggeleng dan tersenyum menenangkan. “tapi aku percaya, kita akan bahagia dengan cinta yang kita miliki bersama. Itu sudah lebih dari cukup.”
“ti-tidak, kau tidak mengerti.”
Kening taeyeon terlipat, bingung apa yang luhan dikatakan sulit untuk ia cerna. Sebenarnya apa yang ia tidak mengerti?
“apa maksud-“
Secepat itu luhan memotong, dan secepat itu juga luhan menampakan wajah sumringahnya. “setelah ini, kau akan ikut bersamaku kebukitkan?”
Dan dalam sekejap, taeyeon lupa kemana seharusnya arah pembicaraan mereka tertuju. “bukit? Tentu, aku ingin kau mengajariku melukis.” Taeyeon tersenyum cerah.
“dengan senang hati aku akan mengajarimu.” Luhan mengelus pipi taeyeon lembut sebelum akhirnya ia kembali menyantap makanan yang sempat ia diamkan dalam beberapa saat.
.
.
.
taeyeon dan luhan duduk dibawah pohon yang biasa luhan sambangi ketika ia melukis sesuatu. Posisi mereka berdekatan, didepan mereka ada kanvas dan kuas. Taeyeon sepertinya benar-benar tidak ingin kehilangan luhan meskipun dalam jarak satu meter, ia selalu mengunci luhan dengan mengaitkan tangannya pada lengan luhan. Luhan tentu tidak keberatan dengan itu, justru hatinya tentram dan damai saat taeyeon bergelayut dilengannya.
Luhan memulai untuk mengajari taeyeon melukis, namun sebelum pada inti luhan menjelaskan arti melukis bagi dirinya. “melukis adalah tuangan jiwaku, sama halnya saat kau bernyanyi. Melukis tidak hanya menggerakan jari-jemari kita. tapi juga dengan jiwa kita. pada saat jiwa kita ikut serta, kita akan merasakan bahwa kegiatan yang akan kita lakukan terasa sangat mudah. Itu sebabnya, jangan terlalu serius dan anggaplah ini seperti sebuah permainan yang menyenangkan tanpa ada beban sedikitpun.”
Napas itu menguar dihidungnya, taeyeon mengerti apa yang dijelaskan oleh kekasihnya itu. disamping itu, taeyeon terkagum-kagum atas kehebatan luhan yang begitu mendalami lukisan.
Dari luhan ia belajar arti ketulusan, ia hanya tau bernyanyi dan uang. Dengan bernyanyi ia akan mendapatkan hasilnya –uang. Ia akan tetap menyanyi meskipun dalam keadaan buruk untuknya. yang ia ingin dapatkan dari itu adalah, uang.
Ia bernyanyi tanpa ketulusan dalam hati.
Karena luhan ia akhirnya tau apa itu hati yang murni. Benar, anggaplah ini sebuah permainan. Menyenangkan hidup dan tidak perlu memikirkan hasilnya.
“pertama tema, maka kita akan memfokuskan pada imajinasi. Tema tak jauh beda dengan hidup kita. bila kita tidak memiliki tujuan atau persiapan untuk hidup, maka selanjutnya tidak akan berhasil dan tiada bermakna……” hembusan napas luhan begitu menyergap hidung taeyeon, lembut dan segar. Taeyeon setengah mengerti juga setengah tidak terfokus. Ia memandang luhan penuh takjub, bagaimana saat bibir manis itu tergerak, bagaimana saat mata itu terlihat serius terpancar pada kanvas, dan bagaimana saat detak jantung luhan terdengar ditelinganya.
“kita menggunakan cat air sebagai pemula….” Pikiran taeyeon melayang-layang sampai memikirkan betapa besarnya rasa penasarannya ia terhadap pria ini. pria ini begitu penuh dengan misteri yang sulit terpecahkan. Kulit polkadotnya, taeyeon yakin itu bukanlah cat biasa atau apapun yang dibuat-buat. Ia merasa kulit itu, sudah melekat ditubuh luhan sejak lahir.
“media yang akan kita gunakan adalah kanvas…” tatapan mereka bertemu, tenggelam akan mata indah satu sama lain. Detak jantung keduanya kembali terdengar bergemuruh.
Mata luhan berkedip-kedip, ia memegang pipi taeyeon dengan sebelah tangannya lalu mendekatkan diri pada sesuatu yang telah menjadi candunya akhir-akhir ini, bibir taeyeon yang merah menggoda. Luhan menciumnya ditengah-tengah semilir angin berhembus pada mereka. tak ada ciuman menuntut dan mendesak, luhan mencium taeyeon penuh kehati-hatian dengan lembut dan manis.
.
.
.
.
Matahari tak terlalu terik siang ini, taeyeon dan luhan masih menikmati suasana dibukit. Taeyeon menempatkan kepalanya pada paha luhan, dalam kesempatan emas ini luhan terus-menerus mengusap rambut taeyeon.
“chagia.” Taeyeon memanggil luhan dengan suara menenangkan, terdengar seperti alunan lagu terbaik yang pernah luhan dengar ditelinganya.
Luhan berdehem sembari belum melepaskan tangannya disela-sela rambut taeyeon. “hmm.”
Taeyeon menatap luhan penuh keraguan. “kau..punya kekuatan?” ia bertanya dengan hati-hati. ini adalah pertanyaan terkonyol yang pernah ia pertanyakan.
Terdengar helaan napas berat dari luhan, taeyeon sudah tau akan luhan. Jika ada pertanyaan yang berujung pada rahasia pribadinya, luhan tiba-tiba akan berdiam diri seperti ini.
Taeyeon bangkit dari tidurnya, ia terduduk dan berhadapan dengan luhan. “kau ingin berbagi cerita denganku? Aku janji tidak akan membeberkan rahasiamu pada siapapun.” Taeyeon tersenyum meyakinkan.
“kau pasti tidak akan percaya, percuma bila aku menjelaskan kau tetap tidak akan mengerti.” Luhan menggeleng, namun taeyeon adalah seseorang yang keras kepala. Ia tidak gentar mendesak luhan menceritakan semuanya.
“apa kekuatanmu serumit itu?”
Luhan memasuki mata taeyeon, matanya menyiratkan sebuah kekhawatiran dan kecemasan besar. “yah, aku bisa saja melukaimu. Ada saatnya manusia meluapkan kemarahannya. Dan aku sangat takut jika aku marah, kau akan terluka. Tidak ada manusia sempurna didunia ini, kau tau?” luhan tersenyum geli menangkap wajah bingung dari kekasihnya.
“sudah kuduga kau pasti sangat bingung.” Luhan mencubit hidung taeyeon gemas.
Taeyeon mengerucutkan bibirnya, mulai dalam aksi memelasnya. “benar, chagia…. Sanggupkah jika kau menjelaskan?” mata taeyeon mengerjap-ngerjap, dalam arti beraegyo.
Luhan tertawa kecil sambil menangkupkan tangannya pada pipi taeyeon. “melihat wajahmu yang memelas seperti ini, mana mungkin aku menolak untuk menjelaskannya padamu.” Luhan tersenyum manis sebelum akhirnya ia menuntun taeyeon agar duduk disampingnya dan menginteruksi kepala taeyeon untuk bersandar kebahunya.
Tatapan mereka tertuju kearah burung-burung yang berterbangan dan berkicau lembut didahan pohon. Luhan melingkarkan tangannya dipunggung taeyeon. Sebelum benar-benar ia bercerita, ia mengambil waktu untuk menghirup udara dan melepasnya perlahan. “aku….aku adalah salah satu dari sekian orang yang mendapat kesialan. Ayahku yang mengatakan itu padaku. mungkin kau akan terkejut dan tidak percaya bahwa aku adalah seseorang yang terkutuk. Ibu menceritakan kisah lampaunya padaku. beliau berkata, ini semua karena mereka bersatu. Ada penentangan terhadap hubungan orang tuaku. Nenekku tidak menyutujui akan hubungan keduanya. Status yang tinggi menjadi alasannya. Dan kenyataan pahit yang harus diterima ayahku, appa tidak termasuk dalam itu. ia hanya orang biasa yang dalam kesehariannya bekerja dikonvensi. Nenek terlalu lama merubah pikirannya, pada akhirnya mereka menikah secara diam-diam. Hal itu membuat nenekku murka dan bersumpah akan membuat keluarga kecil kami menderita. Salah satunya dengan mengutukku…. menjadi seperti ini.” luhan tertawa getir, tertawa ditengah kesakitan mendera hatinya.
Taeyeon menunjukkan wajah terkejutnya dengan sangat jelas, namun saat ia menemukan wajah luhan berubah menjadi terlihat sedih, taeyeon mencoba untuk menenangkan luhan dengan cara mengusap lengan luhan berkali-kali.
“lalu, dimana orang tuamu?” Tanya taeyeon dengan suara yang nyaris berbisik.
Luhan memandang kosong dan hampa kedepan. “mereka meninggalkanku. Aku adalah sebuah beban berat untuk mereka. aku sering mencelakai teman-temanku dan hampir setiap hari ibu dan ayahku mengganti rugi untuk biaya rumah sakit atas kesalahanku. Aku…berbahaya.”
Taeyeon menatap luhan iba, ia sangat sakit melihat bagaimana senyum luhan pudar. Melihat bagaimana luhan mengigit bibir bawahnya, menahan air mata agar tidak jatuh terlihat olehnya. Semua itu begitu menyakitkan bagi taeyeon.
“karena itulah kau senang menyendiri?”
“ya, karena aku tidak ingin melukai semua orang. terutama orang yang kucintai.” Akhir kalimatnya, luhan memandang taeyeon sedih.
Taeyeon tersenyum tenang dan senyum itu sangat melegakkan hati luhan yang tengah dilanda rasa takut. Takut taeyeon akan menjauhi dirinya, dan berakhir meninggalkan ia kembali sendiri.
“kau tidak perlu takut aku akan menjauh darimu. Lebih baik aku mati jika itu karenamu. Asalkan aku menghabiskan sisa-sisa hidupku denganmu. Aku tidak akan pernah takut pada kematian.” Luhan tersentak mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir taeyeon. Luhan menyadari bahwa taeyeon adalah seseorang yang mengerti dirinya. lebih dari apa yang ia perkirakan sebelumnya.
Luhan menegak berat ludahnya, ia tidak boleh bahagia sebelum ia benar-benar yakin pada taeyeon. “kau tidak menyesalinya?” Ucap luhan, suaranya mendesis.
Taeyeon tersenyum, seolah itu adalah pertanyaan yang terlalu mudah untuk ia jawab. “menyesal karena aku telah mencintaimu? Hei, tidak ada kata penyesalan dalam cinta. Jangan berpikir seperti itu, aku akan tetap mencintaimu.”
Sekali lagi, luhan tersenyum lega. Ia menarik tubuh taeyeon menuju dadanya. Ia memeluk taeyeon erat. “aku sangat bersyukur kau bisa datang kemari dan kita saling mencintai. Kau membuat duniaku menjadi berubah. Terimakasih.” Luhan mengecup pucuk rambut taeyeon 3 kali.
.
.
.
Langit sudah berwarna oranye, matahari siap meluncur keperaduannya. Luhan dan taeyeon mulai meninggalkan bukit. Tangan mereka disepanjang jalan terus terikat tanpa ingin terlepas satu sama lain.
Mereka melewati pepohonan, danau, dan beraneka ragam bunga menyambut mereka. sesuatu yang tidak akan bisa kalian temukan dikota-kota besar yang padat akan lalu lintas dan penduduk.
Disela-sela mereka melangkah dengan ritme yang sengaja dilambatkan, taeyeon berujar. “aku menggenggam tanganmu seperti ini. terasa aku hidup dalam negeri dongeng. Ini tidak dapat kupercaya.” Taeyeon mengangkat tinggi-tinggi tangan mereka yang menyatu. Seolah menunjukkan pada dunia bahwa luhan adalah miliknya.
“itu karena aku manusia berbeda?” tebak luhan dan segera disambut anggukan dari taeyeon.
“ya, kau berbeda dan aku menyukai perbedaan itu.” taeyeon memberi pandangan pada luhan, memberikan banyak kebahagiaan dan kedamaian memasuki indra penglihatan luhan.
Luhan tiba-tiba berhenti dari langkahnya, ia maju satu langkah dan berbalik menghadap taeyeon. taeyeon tampak mengernyit tidak mengerti. “bisakah kau menutup matamu?”
Taeyeon memiringkan kepalanya, menatap luhan dengan tatapan menggoda. “kau ingin menciumku?”
Luhan tersenyum dan membalas tatapan taeyeon dengan pandangan polosnya. “tidak. Suasana dan tempatnya benar-benar tidak cocok untuk melakukan hal itu.”
“yak! jangan mengira aku mengharapkannya.” Tandas taeyeon, malu sebetulnya.
Luhan tersenyum gemas, ia memegang kedua pundak taeyeon. “arraso, sekarang tutuplah matamu.”
Taeyeon ragu pada awalnya, namun melihat bagaimana mata lembut luhan menyuruhnya, akhirnya ia menutup matanya tanpa tau apa yang akan luhan lakukan padanya.
Ada kilatan cahaya memasuki tubuh taeyeon. luhan menggunakan kekuatannya untuk membuat taeyeon tampak terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Menyadari perubahan dari taeyeon, luhan takjub dan matanya terus tertuju pada sang kekasih.
“apa bisa aku membukanya?”
Luhan tersadar akan ketakjubannya. “ya.. ya silahkan.”
Dengan cepat taeyeon meneliti setiap inchi tubuhnya, ini tidak berbeda. “tidak berbeda, ini masih sama. Sebenarnya apa yang kau lakukan?”
Luhan mencondongkan tubuhnya menyebabkan kening mereka saling beradu. “tunggu sampai kau pulang dan menatap dirimu dicermin.” Napas luhan kembali menguar dihidungnya, dan taeyeon menyukai hembusan itu. Perpaduan bunga mawar dan aroma mint.
Napas taeyeon tersenggal, melihat betapa dekat jarak mereka sekarang. kening mereka masih saling menempel, agar tak lepas akan ikatan itu luhan memegang kepalanya. “aku penasaran, apa yang kau rubah dariku?”
Taeyeon dapat bernapas normal kembali saat luhan menjauhkan kepalanya darinya. Namun tidak untuk tangan yang masih menyukai berdiam diri disekitar wajahnya. “kau terlihat semakin manis dan cantik.”
“aigoo, kau benar-benar menggodaku eoh? Ah aku baru teringat akan film-film simanusia kutukan. Ciuman dari cinta sejati. Dengan itu, kutukannya akan menghilang. tapi aneh, tiga kali kita berciuman hasilnya masih tetap sama. Kutukan itu tidak menghilang dari tubuhmu. Apa kau tau caranya agar kutukan itu hilang?”
“tidak, aku tidak tau. ini bukan difilm yang berakhir bahagia seperti yang kau lihat disana.”
Taeyeon memeluk luhan. “hm.. kau benar. Namun aku sama sekali tidak mempermasalahkan wujudmu seperti apa. Aku hanya ingin terus bersamamu, sampai kapanpun itu. saranghae.”
“nado.. saranghae.”
.
.
.
.
“kau ingin tidur dirumahku, disampingku?” taeyeon memberikan nada merajuknya.
Luhan menengadah kelangit, sudah mulai gelap. Lalu beralih pada sepasang mata bulat itu, memberi isyarat pada taeyeon lewat matanya bahwa ia meminta maaf.
“tidak. Ada sesuatu yang harus kukerjakan.”
“sesuatu apa itu?” taeyeon masih senang bermain-main dengan tangan luhan. Seakan-akan anggota tubuh itu adalah benda kesayangannya.
“itu rahasia, kau akan tau besok.”
Terdengar decakan lidah berasal dari taeyeon, matanya terlihat jengah memandang luhan. “ckk.. kau selalu berhasil membuatku penasaran. Geurae… aku benar-benar tidak sabar untuk besok.”
Luhan tersenyum dan menggeleng bersamaan. “tapi ini bukan sesuatu yang special. Kau tidak perlu mengharapkannya. Ini hanya….sebuah kejutan kecil. Aku berusaha menunjukkan semua perasaanku terhadapmu.” Kalimat itu membuat tubuh taeyeon bergetar, degup jantungnya memompa cepat lagi.
“hei.. aku tidak menyangka kau akan seromantis ini. masuklah, dan kerjakan untuk kejutan itu.” mereka tertawa bersama, tawa bahagia dan saling memeluk sebelum akhirnya mereka masuk kedalam rumah masing-masing.
.
.
.
.
Taeyeon memang pernah menyukai seseorang, tapi tidak dengan cinta yang memberinya banyak kebahagiaan saat ia bersama dengan luhan. Pria itu adalah sosok yang berarti untuknya, tanpa ada kontak fisik dalam satu menit saja sudah membuat taeyeon kesepian dan merindukan sosok itu. luhan seperti sebuah teka-teki yang telah berhasil ia pecahkan satu persatu. Dan taeyeon telah berhasil membuka jati diri luhan yang sesungguhnya. Pertanyaan yang bergumul dibenaknya, sudah tuntas terjawabkan.
Luhan tidak jauh beda dengannya, itulah kenapa mereka dapat saling memahami. Ia dan luhan punya masa lalu yang bisa dikatakan menyedihkan. Mereka punya kepiluan didalam diri masing-masing. Cinta mereka yang menyatu, membuat kepedihan itu berangsur cepat terhapuskan, dan tergantikan oleh kebahagiaan karena cinta mereka.
Karena cinta, dunia gelap berubah menjadi terang.
Karena cinta, kita tau bahwa ia lebih baik dari penampilannya.
Mereka pantas mendapat sebuah kebahagiaan dari cinta itu sendiri.
Taeyeon tersenyum dipantulan cermin, luhan menyelipkan setangkai bunga mawar berwarna merah pekat kebalik telinganya. Itulah mengapa tadi luhan menyuruh dirinya berhenti dan menutup mata. Ternyata luhan benar-benar banyak kejutan. Ia menyukai apa yang jadi kejutan itu.
Ia tertidur tanpa melepaskan bunga mawar itu dari telinganya, diatas ranjangnya taeyeon berteriak gembira. Melampiaskan kesenangannya. Ia berdiri diatas ranjangnya dan berlompat-lompat.
“SARANGHAE XI LUHAN.” Teriak taeyeon, sengaja agar luhan dapat mendengar rentetan kalimat dari hatinya itu.
.
.
.
.
“SARANGHAE XI LUHAN.”
Tubuhnya meleleh mendengar teriakan itu.
Ia tidak tau kapan terakhir kali ia bahagia seperti ini? ia merasa beruntung dilahirkan kedunia ini, bertemu dengan taeyeon, berbagi kisah kasih dengan gadis itu, membelai dan mencium gadis itu, sampai ia mencintai gadis bernama kim taeyeon tersebut.
Taeyeon merubah penyesalannya, penyesalan tentang ia merasa tidak cukup beruntung untuk menapakan kakinya dibumi. taeyeon mengubah segalanya. Mengubahnya menjadi lebih berarti dengan hidupnya.
Ia tidak punya warna dalam hidupnya, sebelum taeyeon datang. Taeyeon datang, dan sekarang mewarnai hidupnya menjadi lebih menarik.
Luhan tidak tau dengan cara apa agar membuat kekasihnya itu tau betapa besarnya ia mencintai kim taeyeon, betapa berartinya gadis itu. ia bukanlah lelaki dalam tipikal pandai merangkai sebuah kata demi kata dengan indah yang membuat sang gadis lunglai atas kalimat romansa picisan itu. luhan berbeda. Ia bukan pria, tipe zaman sekarang.
Dengan caranya sendiri, luhan membuat sketsa gambar wajah taeyeon dibuku bersampul putih tanpa noda.
Dimulai saat pertemuan awal mereka, taeyeon masuk kerumahnya dan menginjak lem perekat ditangga. Ekspresi percaya diri taeyeon membuat luhan tak dapat menahan tawanya lagi.
Selanjutnya, dihalaman berikutnya luhan menggambar taeyeon yang tengah mengejar payungnya. Ia memasukkan gambar-gambar taeyeon dalam keadaan konyol dan menggelikan. Dihalaman terkahir, ia menggambar dirinya dan taeyeon tengah berpelukan dan saling berciuman dibawah pohon tepatnya dibukit beberapa jam yang lalu.
Tak ada guratan wajah lelah dan mengantuk dari wajahnya, ia tetap tersenyum dan semangat meskipun waktu tidrunya sudah terlewati.
Ia tidak tidur semalaman hanya untuk ini.
.
.
.
Taeyeon menghentikkan sarapan paginya saat suara bel pintu rumahnya berbunyi. Sebelum benar-benar beranjak, tampak senyum merona tampil diwajahnya. Ia yakin, kekasihnya datang sambil membawa hadiah itu untuknya.
Ia melangkah dengan gembira, senyumnya tidak menghilang sejak suara bel terus bergeming ditelinganya.
Krekk..
“Chagi.”
Senyuman lebarnya menghilang seketika ketika mendapati minah berdiri didepannya saat ini. taeyeon terlihat terkejut dan kecewa diwaktu bersamaan.
Minah langsung berhambur masuk kedalam pelukan taeyeon. “omo! Taeyeon-a aku sangat merindukanmu. Bagaimana bisa kau tidak menghubungiku selama kau disini eoh?” minah melepas pelukannya dan menatap taeyeon kesal.
Lengan taeyeon terlipat. “aku tau kau sibuk, kupikir dengan menghubungimu dan memberitakan keadaanku padamu membuatmu terganggu.” Minah cepat menggeleng dan memukul lengan taeyeon keras.
“yak! setiap hari aku menantikkan kau menelponku. Dasar bodoh!!” minah menyiksa taeyeon tanpa ampun, dari lengan sekarang minah memukul kepala taeyeon.
Taeyeon meringis sesaat, namun pandangannya segera teralihkan pada mobil Mercedes hitam.
“sudahlah, kau membuat telingaku mendadak tidak berfungsi. Tunggu.. kau datang sendiri?” taeyeon yakin, minah bersama dengan orang lain.
Minah menoleh kebelakang sejenak, lalu ia kembali menatap pada taeyeon. tatapan yang begitu penuh arti. “tidak, aku datang bersama jongin.”
Taeyeon tersedak akan ludahnya sendiri, seperti kilatan menyambar tubuhnya ditempat. “jongin?” tanyanya tak percaya.
Minah memajukkan wajahnya dan mengarahkan bibirnya ketelinga kanan taeyeon, ia berbisik. “ya, pria yang kau kejar-kejar diSMA dulu….” Minah berhenti sejenak dengan kalimatnya. Ia menyenggol lengan taeyeon dan tatapan itu membuat taeyeon naik pitam. Menggodanya seolah-olah mereka masih duduk dibangku SMA. “Biar kutebak, kau pasti senang ia kemari bukan?” taeyeon cepat memolototinya, bola matanya hampir saja keluar dari sarangnya.
“yak! siapa bilang seperti-jongin!” taeyeon tersentak saat jongin tiba-tiba memunculkan dirinya didepannya. Setelah bola mata yang hampir lepas kendali, sekarang jantungnya seperti akan melompat keluar dari tubuhnya.
Jongin tersenyum manis, senyuman yang masih sama dengan yang dulu. Tidak berubah, dan jongin masih menjadi seseorang yang berkharismatik. Jongin membungkuk rendah. “senang bertemu denganmu lagi, taeyeon.”
Taeyeon merasa tidak nyaman ketika jongin membungkuk, itu sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan jongin. dengan tidak nyaman, taeyeon ikut membungkuk juga. “eo, senang bertemu denganmu juga, jongin.” taeyeon sebisa mungkin melepaskan senyumnya. Mencoba bersikap ramah.
Jongin menyadari ketidaknyaman taeyeon dalam bersikap dan tersenyum. Terasa aneh dan dipaksakan. “kau terlihat tidak senang aku datang.” ekspresi wajahnya tidak lagi bersinar seperti beberapa detik yang lalu.
Taeyeon menandasnya cepat. “hei, mana mungkin itu terjadi. Aku hanya tidak percaya kita benar-benar bertemu lagi.” Taeyeon tersenyum selebar mungkin. Beberapa saat yang lalu, ia lupa bahwa jongin adalah seseorang yang pintar dalam mengamati. Setiap kita bersikap, jongin akan tau apa itu kebohongan ataukah kejujuran.
Jongin tak lagi mengambil pusing tentang apakah taeyeon bohong atau tidak. Jongin datang karena ada suatu hal mengenai perasaannya, membuat raut wajahnya berubah menjadi mimic sendu. “maaf tentang itu.” jongin berkata dengan suara rendah, sekilas ia menatap minah. Minah tertawa mencemooh, ia tau ia tidak pantas untuk ditengah-tengah mereka.
“oke! Aku mengerti. Privasi berdua? Taeyeon aku ingin tidur dikamarmu.” Tanpa menunggu jawaban, minah melesat pergi begitu saja menuju kamar taeyeon dan memasukinya.
Taeyeon mempersilahkan jongin masuk, jongin mengangguk dan duduk disamping taeyeon. entah karena apa, membuat taeyeon tidak terpikir untuk membuat cemilan atau paling tidak minuman untuk jongin.
Taeyeon memandang jongin, berusaha untuk menormalkan suasana. “bisakau lanjutkan?”
Jongin menghindari tatapan dari taeyeon, ia menyembunyikan mata merahnya. “aku..-maaf saat itu aku tidak benar-benar melihatmu.” Rahangnya mengeras, tangannya mengepal diatas lututnya, jongin merasa marah pada dirinya sendiri.
Mulanya tersirat wajah terkejut dari taeyeon, namun detik berikutnya taeyeon tersenyum dan mengangguk paham. “ahh mengenai itu. tidak perlu dipikirkan, umurku saat itu benar-benar dalam masalah. Masa remaja memang bodoh dan selalu bertingkah seenaknya. Mengingat hal itu, aku baru sadar ternyata apa yang aku lakukan padamu… betul-betul memalukkan.” Ia tertawa bodoh.
Jongin menelusuri bola mata taeyeon, gerak-geriknya menjadi tidak biasa. “tidak.. tidak.. itu-“
Taeyeon merasa sedikit panik melihat jongin menjadi gugup dan gagap dalam bicaranya. Ia menepuk pundak jongin, menenangkan. “kau kenapa? tenanglah.”
“itu karena aku tidak tau kau menyukaiku taeyeon.” tukas jongin dengan suara yang meninggi.
“lalu apa masalahmu?” suara taeyeon ikut menyesuaikan dengan nada yang tinggi seperti jongin.
Jongin menghembuskan napas berat, tak lagi berani menatap sepasang mata milik taeyeon. ia tertunduk, memainkan jari-jarinya gelisah. “karena aku menyukaimu juga.”
“jongin , tapi-“
“aku bodoh. Aku terlambat menyadarinya. Maaf membuatmu tertekan karenaku.” Ujarnya penuh rasa penyesalan.
Taeyeon menghela napas. “tidak, tidak apa-apa. Aku sudah melupakan semua itu.”
Kali ini, jongin mulai memberanikan diri menatap taeyeon. tatapan tegas namun lembut. “ayo lakukan lagi.” Katanya sungguh-sungguh.
“apa maksdumu?”
“kau dan aku.. maksudku tidak bisakah kita mengulangi itu? aku menyadarinya dan kita….berpacaran.” jongin tersenyum penuh permintaan. Sementara taeyeon menatap jongin dengan pandangan bersalah.
“hatiku sudah berubah. Maaf.” Bahu jongin seketika merosot, ia merasa sangat kecewa.
Kecewa pada dirinya sendiri, karena terlambat.
Jika saja saat itu ia sadar keberadaan taeyeon, jongin tidak akan merasa sesakit ini. mungkin sampai sekarang ia dan taeyeon berbahagia.
Dunia seolah tengah mengejeknya, mengejek ia yang bodoh.
Dan jongin sendiri pantas mendapatkannya. Betapa adilnya dunia ini.
“kau mencintai orang lain?” jongin mendesis, matanya suram dan gelap. Ia tak lagi berbinar.
Taeyeon mengangguk namun tidak tersenyum, ia takut semakin melukai hati jongin. “ya.. aku mencintainya dan tidak bisa meninggalkannya.”
Ia tersenyum pahit, bibirnya bergetar. “kalau begitu. Maafkan aku.” Ia menelan sulit ludahnya, sama halnya ia menelan rasa sakit itu.
“Maaf bukanlah kata yang tepat. aku memahamimu.. tapi bisakah kita berteman seperti dulu? Kau adalah teman yang menyenangkan.” Taeyeon berusaha untuk menghidupkan suasana yang mulai mendingin, membuat jongin tertawa kecil, jongin seharusnya tidak terlihat menyedihkan seperti ini didepan taeyeon, itu sangat-sangat memalukkan.
Sudut bibirnya membentuk menjadi sebuah senyuman yang hangat, senyuman yang taeyeon kagumi saat itu dan sekarang. ia hanya kagum, tidak lebih. “tentu, aku rindu melihatmu menangis saat es krim dikantin habis. Hampir setiap hari kau melakukannya.” Ucap jongin mengejek.
“eyy.. kau hanya mengenang masa laluku yang bodoh itu huh?” taeyeon tidak terima, ia memanyunkan bibirnya jengkel.
Jongin terkekeh pelan. “bukan hanya itu saja, aku merindukan namamu disebut-sebut kepala sekolah karena kau adalah murid yang dibanggakan mereka. sekolah kita menjadi popular karenamu.”
Hati taeyeon menjadi tenang, ia senang bisa seperti ini lagi dengan jongin. bercengkrama dan melihat senyum tulusnya. “aku senang kau mengingatnya. Dan aku juga rindu melihatmu bermain basket, tidak ketinggalan menari. Kau masih sibuk didunia menari?” ia merubah pertanyaan, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Jongin menggut-manggut. “ya, aku sibuk menjadi pelatih gerakan. Kau bisa datang padaku jika kau butuh bimbingan menari.” Jongin menepuk kepala taeyeon, menawarkan jasanya.
Taeyeon menggeleng, putus asa diawal. “aku tidak bisa.”
“dengan berlatih kau pasti bisa.” Ujar jongin yakin.
Taeyeon berdiri dengan semangat. Dalam beberapa waktu membuat jongin bingung. “kalau begitu, kau ingin melatihku sekarang?” jongin tersenyum manis. “ya, kalau kau ingin.”
“baiklah. Lagi pula aku tidak ada pekerjaan untuk sekarang.”
Jongin menggerakan tubuhnya yang lentur dan terlatih, ia memberikan beberapa gerakan bersama lagu yang diputarnya (exo=angel) tempo lagunya yang tidak terlalu sulit dan cepat. Itu memudahkan taeyeon mengikuti gerakan jongin.
Jongin melihat kebelakang, memperhatikan taeyeon yang menari dengan gerakan asal-asalan. Jongin tertawa prihatin, ia pergi kebelakang taeyeon, sejenak taeyeon bingung setelah jongin datang kearahnya dan sekarang berada dibelakangnya. Namun ia mengerti, saat jongin memegang kedua lengannya. Jongin memberikan cara tepat untuk taeyeon dapat melenturkan tubuhnya dan mengajarinya membuat gerakan yang tadi ia contohkan.
Napas jongin, menggelitiki lehernya. Ia merasa tidak nyaman.
“jangan terlalu tegang. Kau akan sulit menggerakan otot-ototmu nanti.” Jongin menginteruksi dari belakang, hampir menyentuh telinganya.
.
.
.
.
Luhan tanpa sadar menjatuhkan buku sketsa pada tanah, matanya tertuju pada balik jendela yang memperlihatkan seorang pria menyentuh kekasihnya –kim taeyeon. hatinya terbakar, matanya memanas, tangannya terkepal begitu kuat.
Kepalanya seperti mengeluarkan uap karena ia terbakar api cemburu, melihat bagaimana kemesraan dua sejoli didepannya. Sambil memunguti kembali buku sketsanya, napasnya tersendat-sendat, seperti ribuan pisau menebas tepat diulu hatinya. Luhan berbalik dan berjalan gontai menuju rumahnya.
Apa gadisnya itu mengkhianati cintanya?
.
.
.
Minah duduk dijendela yang terbuka, dikamar taeyeon. telinganya tersumbat oleh earphone. Alunan lagu ballad dan suasana yang menenangkan, betul-betul membuat kepenatan minah terobati. Minah memejamkan matanya, menikmati setiap nada dan lirik yang diamati melalui telinganya. Suara derap langkah, membuat kelopak matanya terpaksa terbuka. Suara itu mengganggu ketenangannya, ia sempat kesal pada awalnya namun ia urungkan ketika siapa orang yang ia umpati sebelumnya. Seorang pria yang mempesona.
Minah ternganga dalam keadaan sadar, pria itu melewatinya. Tatapannya mengikuti terus menerus kemana arah pria itu pergi. sampai ia berhenti menatap saat pria itu masuk kedalam rumah disebelahnya. Jantung minah berdegup sangat kencang, ia tidak mengerti apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
Minah berlari cepat keluar dari kamar, ia menemukan taeyeon dan jongin tengah menari –posisi mereka telah berubah, jongin sudah kembali didepan taeyeon-
Minah menarik kakinya, mendekat kearah taeyeon yang segera memberhentikkan aktifitasnya. Jongin tetap menari seiring lagu itu masih tetap mengalun.
Taeyeon menegak air mineral dan menatap sahabatnya, heran. Ia tidak pernah melihat minah yang merona dan tersenyum bahagia seperti ini. “tadi aku melihat seseorang. Dia tampak mempesona.” Adunya ceria, ia menangkupkan kedua tangannya didada.
“kau sedang jatuh cinta?” Tanya taeyeon, membersihkan keringat didahi dengan punggung tangannya.
Minah mengangguk, mengiyakkan. Ingat, senyum sumringah masih tercetak jelas diwajahnya. “sepertinya iya, dia punya mata yang indah. Tapi kulitnya sedikit aneh.”
Nama Luhan segera cepat menghampiri taeyeon, tidak ada orang dengan kulit aneh selain pacarnya sendiri. “kau melihat pria berkulit polkadot?” mata taeyeon membesar.
“ya, maksudku pria itu.” mata minah berkedip-kedip.
“minah itu –kau akan kemana?“
“memangsa pria itu.”
“apa?!!”

TBC
.
.
Note: Taeyeon sudah mengetahui rahasia luhan dan wujud aslinya. Meskipun begitu, cinta taeyeon pada luhan tidak berkurang dan berubah. Taeyeon menerima luhan apa adanya, begitupun juga sebaliknya.
Masalah jongin dan taeyeon. taeyeon hanya terikat pada jongin sebagai penggemar sewaktu SMA. Tidak ada cinta untuk jongin, melainkan sebuah kekaguman.
Jongin menyukai taeyeon, sejujurnya ia tidak rela taeyeon bersama dengan pria lain. Ia hanya tidak ingin terlalu menunjukkan betapa menyedihkannya dia.
Minah tidak akan menjadi perusak hubungan LuTae. Ia hanya akan senang mengerjai dan melihat sahabatnya itu cemburu pada lelakinya. Meskipun ia sendiri menyukai pria itu. polkadot man. ^^
.
.
.
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin 
Maaf apabila saya melakukan kesalahan dalam menulis, baik disengaja maupun tidak, itu semata-mata untuk menghibur para pembaca yang sudah setia berkunjung keblog ini ^^
Saya mengucapkan terimakasih karena telah bersedia meluangkan waktu kalian untuk membaca ff saya dan meninggalkan jejak dikomentar. Mohon maafkan saya karena tidak sempat membalas komen kalian satu persatu. Dikarenakan suatu alasan yang tidak memungkinkan untuk bisa membalas komenan kalian.
Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih dan selamat merayakan hari raya idul fitri  ^_^

Advertisements

53 comments on “Polkadot Man (Chapter: 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s