Ma Boy~ (Chapter 6)

ma-boy-copy-8

 

Bina Ferina ( Kookie28)

 

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan EXO, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG 18

 

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster, chu~

Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

“Hyung, kau baru pulang?” sapa Sehun, saat dirinya hendak membuka pintu kamar. Kamarnya dan kamar Luhan memang bersebelahan.

“Eoh. Apa kalian sudah selesai latihan sepak bola?” tanya Luhan.

“Hari ini tidak ada jadwal. Besok juga. Aku baru dari kamar Jongin hyung, main games,” jawab Sehun. “Oh, ya hyung. Dari mana saja? Kencan dengan Taeyeon di perpustakaan lagi?”

Luhan tertawa pelan. “Aniya, hari ini kami makan ice cream. Aku penat juga lama-lama di perpustakaan,”

“Wah, wah, wah. Sekarang tempat kencan kalian bertambah satu lagi setelah perpustakaan, kelas, dan lapangan sepak bola. Sepertinya hubungan kalian akan bertahan cukup lama,” ledek Chanyeol, yang muncul tiba-tiba di belakang Luhan, menepuk bahu Luhan. Di samping Chanyeol ada Jongin dan Min Seok yang juga ikut tertawa.

“Baru kali ini aku melihat hubungan Luhan hyung dengan seseorang bisa bertahan selama sebulan. Biasanya paling lama seminggu. Apa Luhan hyung sudah menemukan pelabuhan hatinya?” sambung Jongin.

“Ya! Kenapa kalian tidak pernah berhenti meledekku?” tanya Luhan, pura-pura kesal.

“Biasanya pacar Luhan hyung yang selalu mengekori kemanapun Luhan hyung pergi. Sekarang? Luhan hyung, pun rela berjam-jam di perpustakaan demi kekasih tercinta. Apa tempatmu sekarang di perpustakaan, hyung?” goda Chanyeol.

Jongin, Sehun, Min Seok, dan Chanyeol tertawa keras. Luhan, pun juga ikut tertawa. Ia merangkul tubuh Chanyeol dan mengepit kepalanya.

“Aah, hyung appo,” keluh Chanyeol, masih tertawa.

“Hyung kita satu ini sedang kasmaran. Hyung, bagaimana rasanya jatuh cinta?” tanya Sehun.

“Apa maksudmu?” Luhan balik tanya, ia melepas pitingannya pada Chanyeol.

“Kami yang seharusnya bertanya seperti itu padamu, Lu,” ujar Min Seok. “Kau selalu bilang pada kami kalau kau ingin menargetkan seseorang. Tapi, kau tidak bilang apa-apa soal Taeyeon. Kau juga sampai memohon padanya, berjanji untuk menjadi laki-laki yang bisa di percaya dan tidak akan melukainya. Kau tidak pernah berjanji apa-apa kepada yang dulu-dulu, Lu,”

“Kalian, ‘kan tahu itu strategi. Taeyeon berbeda dengan yang lainnya, jadi untuk mendapatkannya aku tidak bisa sembarang bicara,” elak Luhan.

“Ne, kau berhasil mendapatkannya. Bukankah uri Luhan tidak suka hubungan yang datar-datar saja? Kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan. Dan dengan Taeyeon, apa kau mendapatkannya? Kau akan jenuh. Tapi, sepertinya kau tidak jenuh lagi setelah merasakan benih cinta di dalam hatimu,” lanjut Min Seok. Sehun dan Chanyeol bersiul. Jongin hanya tertawa geli.

“Itu sungguh menggelikan, membayangkan Luhan hyung menyukai seseorang,” ejek Sehun.

“Aku punya alasannya,” jawab Luhan pelan.

“Apa?” tanya mereka berempat serempak.

“Aku akan memberitahunya kapan-kapan,” jawab Luhan. Ia merasa belum saatnya untuk memberitahu keempat sahabatnya mengenai dirinya yang berusaha mendekatkan Taeyeon dengan Jaejoong, dan alasan kenapa ia mau membantu Taeyeon. Luhan tersenyum lebar dan membuka pintu kamarnya, hendak masuk.

“Keundae, hyung. Hati-hati saja, suatu saat nanti kau mungkin bisa menyukai Taeyeon. Untuk itu kami ingatkan, jangan menyakitinya kalau kau tidak ingin menyesal nantinya, hyung,” kata Chanyeol dengan mimik serius.

Luhan terdiam sejenak. Ia menatap keempat teman dekatnya sambil tersenyum simpul. Entah apa arti dari senyuman itu. Lalu, Luhan pamit masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan mereka di depan pintu kamarnya.

“Luhan… dia hanya belum tahu dengan perasaannya sendiri. Dia terlalu takut untuk menyadarinya. Takut untuk mencintai dan takut untuk merasa kehilangan. Tapi aku yakin, meskipun ia membohongi hatinya sendiri, ia tidak akan menyakiti Taeyeon dan akan terus melindunginya,” kata Min Seok pelan, saat Luhan sudah mengunci dirinya di dalam kamarnya.

“Jadi maksud hyung, cepat atau lambat Luhan hyung akan berubah?” tanya Jongin.

“Bisa jadi. Kita tidak tahu alasan apa yang membuat Luhan bertahan dengan Taeyeon, tapi sepertinya, ia mulai merasakan cinta,” jawab Min Seok sambil tersenyum kecil.

Sedangkan di dalam kamarnya, Luhan tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha untuk tidur. Namun, pernyataan Chanyeol barusan membuatnya tidak bisa tidur.

“suatu saat nanti kau mungkin bisa menyukai Taeyeon. Untuk itu kami ingatkan, jangan menyakitinya kalau kau tidak ingin menyesal nantinya, hyung,”.

(OST. Baek Ji Young – Love Is Not a Crime)

Luhan perlahan-lahan membuka kelopak matanya dan ia bangkit dari tempat tidurnya. Kakinya melangkah ke arah jendela kamarnya dan menyibakkan gordennya. Ia bisa melihat jendela kamar Taeyeon yang berada tepat di hadapan jendela kamarnya. Setiap pagi Luhan selalu memerhatikan gerak-gerik Taeyeon, sampai ia keluar dari kamarnya untuk berangkat sekolah. Begitupun malam harinya. Luhan memerhatikan Taeyeon sampai Taeyeon mematikan lampu kamarnya untuk tidur.

Kembali teringat kejadian di mana ia mencium Taeyeon tadi. Ia memang mencium banyak perempuan, dan seharusnya mencium Taeyeon adalah hal yang biasa. Namun, sosok yang dia cium itu bukanlah seperti perempuan kebanyakan, yang dengan mudahnya memberikannya pada Luhan. Itu sebabnya Luhan merasa tidak enak hati melakukannya.

Lagipula, entah apa yang menyebabkannya nekat melakukan itu. Luhan sudah memperingatkan dirinya berkali-kali sebelumnya untuk tidak menyentuh Taeyeon terlalu dalam. Tapi malam ini, semua peringatan itu mendadak hilang saat dirinya melihat sisi imut Taeyeon. Yang lebih parahnya lagi, begitu ia mencium Taeyeon, jantungnya serasa akan melompat keluar dari rongganya. Dadanya sesak, dan suhu tubuhnya lebih panas dua kali lipat.

Bahkan first kiss-nya dulupun ia tidak merasakan hal yang seperti itu.

Saat ini Taeyeon pasti merasa sakit hati. Luhan bukan siapa-siapanya. Taeyeon mau berpura-pura pacaran dengannya karena Jaejoong. Dan Luhan dengan seenaknya mencium Taeyeon, yang sebenarnya Taeyeon harapkan dari Jaejoong.

“Mianhae, Taenggo-ah,” ucap Luhan dengan suaranya yang pelan. Ia berbicara sambil melihat ke arah jendela kamar Taeyeon. “Seharusnya kau menamparku tadi,”

Awalnya Luhan mengira Taeyeon akan menamparnya. Namun, Taeyeon hanya menunduk dan tidak bicara apa-apa. Luhan juga tidak minta maaf. Ia hanya berkata “Sebaiknya kita cepat pulang,”. Taeyeon hanya mengangguk dan mereka pulang ke asrama tanpa bicara apa-apa lagi.

Luhan menghela nafas panjang. Ia kembali duduk di atas tempat tidurnya. Matanya beralih ke sebuah tumpukan buku fisika. Luhan ingat buku-buku itu adalah buku-buku yang dipinjamkan Taeyeon untuknya dari perpustakaan agar ia mau belajar untuk ujian besok.

Luhan mengambil salah satu buku itu dan membukanya. Di beberapa halamannya Taeyeon sedikit menambahkan catatan kecil untuk Luhan. Luhan tersenyum kecil membacanya. Ia ingat bagaimana Taeyeon sabar mengajarinya. Padahal Luhan langsung mengerti jika dijelaskan sekali. Namun, karena ingin memandangi wajah Taeyeon lama-lama, Luhan pura-pura tidak mengerti.

~~~

“Kau sudah sarapan?” tanya YoonA pada Taeyeon saat mereka melangkahkan kaki bersama menuju gedung sekolah. “Kau kelihatan lesu,”

“Aku hanya mengantuk,” jawab Taeyeon.

“Ck ck ck, apa itu karena keasyikan berkencan dengan Tuan Xi? Kurasa dia juga belum bangun. Hari ini dia tidak menjemputmu, ‘kan?”

“Dia pergi duluan,” jawab Taeyeon pelan. “Tadi aku melihat Chanyeol dan yang lainnya pergi ke gedung sekolah,”

“Jinjja? Apa kau melihat Luhan?”

“Tidak juga, sih,” jawab Taeyeon dengan nada sedikit ragu. Ia memang tidak melihat Luhan di antara kerumunan teman-temannya. Apa ia memang benar-benar belum bangun?

“Kau tidak menghubunginya?” tanya YoonA.

“Nanti saja,” jawab Taeyeon.

Di dalam aula sekolah, saat mereka hendak ke lantai dua,  seseorang memanggil nama Taeyeon. Taeyeon sangat kenal suara itu. Suara Jaejoong. Taeyeon menolehkan kepalanya ke Jaejoong dan menatapnya, yang sedang berjalan ke arah Taeyeon dengan senyuman manisnya yang merekah di wajahnya yang tampan.

“Annyeonghaseyo,” sapa Taeyeon dan YoonA bersamaan.

Jaejoong tersenyum pada keduanya. Dan matanya kini teralih ke Taeyeon. “Taeyeon-ah, ada yang ingin kubicarakan,”

“Kalau begitu, aku duluan saja, Tae,” kata YoonA.

“Ani,” ujar Jaejoong cepat. “Kau bisa tetap disini. Aku tidak mau adikku salah paham,”

“Dia tidak akan salah paham,” ujar Taeyeon. “Apa yang ingin sunbae katakan?”

“Sebenarnya aku ingin minta tolong, Tae. Hari ini, aku ingin Luhan ada di rumah. Soalnya dua hari lagi ibunya berulang tahun. Kami sekeluarga mau Luhan pulang ke rumah untuk merayakannya,”

“Lalu? Apa yang bisa aku bantu, sunbae?”

“Aku mohon untuk mengingatkan Luhan. Mungkin dia lupa. Biasanya tiga hari sebelum ibunya ulang tahun dia akan pulang. Aku hanya minta tolong itu saja, Taeyeon-ah. Bisa, ‘kan?” tanya Jaejoong.

“Ah, ye. Aku akan mengingatkannya, sunbae,” jawab Taeyeon pelan.

Jaejoong tersenyum lembut. “Dan kau juga bisa datang, Taeyeon-ah. Ibu mungkin akan senang kalau Luhan membawa pacarnya untuk pertama kali ke rumah dan memperkenalkannya,”

“Ne, sunbae,” ujar Taeyeon.

“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Jaejoong.

“Kenapa Luhan harus diingatkan? Apa setiap tahun ia memang diingatkan ulang tahun ibunya sendiri?” tanya Taeyeon pelan ketika Jaejoong sudah pergi.

“Itu ibu tirinya,” jawab YoonA pelan. Wajahnya sendu. “Biasanya Sehun dan yang lainnya yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah tiga hari sebelum ibunya ulang tahun. Aku tahu Luhan pasti tahu kapan ibunya ulang tahun. Dia sudah empat tahun punya ibu tiri, mana mungkin masih belum ingat kapan ibunya ulang tahun. Luhan hanya masih merasa canggung bersama keluarga barunya. Dan kami semua paham itu. Tapi menurutku ada satu masalah antara dia dan ibunya yang menyebabkan mereka belum akur sampai sekarang,”

“Apa kau tahu masalah apa itu?” tanya Taeyeon penasaran.

“Aku tidak tahu. Bahkan teman-temannya tidak ada yang tahu. Luhan termasuk seseorang yang tertutup kalau masalah keluarga. Kalau kau datang ke acara ibunya, kaulah orang pertama yang berkunjung ke rumahnya. Tapi aku agak sedikit ragu Luhan akan mengajakmu. Semoga saja kau diajak. Karena ini pertama kalinya Luhan bertahan sebulan dengan pacarnya. Mungkin karena kau sosok yang hebat di mata Luhan,” ujar YoonA.

Taeyeon tidak berkomentar. Ia sibuk memikirkan perkataan YoonA tentang Luhan dan ibunya. Ia tidak menyangka karena ibu tirinyalah Luhan memilih tinggal di asrama sekolah daripada di rumahnya. Padahal, kalau Taeyeon disuruh memilih tinggal di asrama atau rumah sendiri, ia pasti akan memilih tinggal di rumahnya.

Ternyata ada sisi Luhan yang Taeyeon tidak tahu sama sekali. Ia memang benar-benar belum mengenal Luhan dengan baik.

“Yoong, kau mengenal Luhan dengan sangat baik daripada aku. Kau bahkan tahu dia tidak akan membawa perempuan masuk ke dalam kamar asramanya,” kata Taeyeon, saat mereka sudah sampai di depan kelas.

“Lalu?” tanya YoonA, bingung.

“Apa Luhan tidak akan marah kalau aku yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah? Maksudku, aku baru sebulan tiga minggu di sekolah ini,”

“Ya, kau ini, ‘kan pacarnya, tentu tidak akan ada masalah. Sudah sebulan kalian berpacaran dan aku yakin Luhan tidak akan terkejut kalau kau membujuknya datang ke rumah. Dan seperti yang dikatakan Jaejoong sunbae tadi, kau bisa saja diajak Luhan dan berkenalan dengan ibunya. Mungkin itu akan membuat Luhan dan ibunya akur. Siapa tahu kau yang akan mengubah keadaan mereka berdua?” ujar YoonA sambil mengedipkan sebelah matanya.

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya. Ia sibuk memikirkan bagaimana memulai pembicaraan dengan Luhan. Karena ia sendiri, pun masih canggung dengan kejadian kemarin malam antara dirinya dengan Luhan.

“Oh, ya. Sepertinya perasaanmu pada Jaejoong sunbae sudah agak sedikit berkurang. Kurasa karena Xi Luhan. Keutchi?” tanya YoonA sambil tersenyum menggoda Taeyeon.

Taeyeon membulatkan matanya dan menatap bingung ke arah YoonA. “Aku tidak mengerti apa maksudmu,”

“Kalau begitu, cobalah untuk mengerti hatimu,” ujar YoonA. Ia tersenyum simpul sambil menepuk pelan bahu Taeyeon dan ia langsung masuk ke dalam kelas.

Taeyeon hanya menatap kepergian YoonA sambil mencerna perkataannya barusan.

“Sedang apa di luar?” tanya seorang laki-laki di belakang Taeyeon.

Taeyeon terlonjak. Ia tahu betul suara siapa itu. Jantungnya mendadak berdebar-debar dan ia bisa merasakan kulit wajahnya memanas. Secara perlahan Taeyeon membalikkan tubuhnya dan menatap sosok laki-laki itu.

“Ayo masuk,” ajak Luhan sambil menguap. Ia sedikit mengacak-acak rambutnya sebelum masuk ke dalam kelas.

Taeyeon menelan ludahnya dan ia mengikuti Luhan masuk. Begitu sampai di tempat duduknya, Luhan langsung meletakkan kepalanya di atas meja beralaskan tasnya sendiri. Ya, ia berencana untuk tidur.

“Kau sudah belajar?” tanya Taeyeon pelan. Ia duduk di samping Luhan. Taeyeon memerhatikan teman-temannya yang sedang sibuk membaca dan mengerjakan beberapa soal fisika untuk ulangan nanti.

Pertanyaan Taeyeon tidak dijawab Luhan. Entah karena suara Taeyeon yang kecil atau karena Luhan sudah benar-benar terlelap, dan itu membuat Taeyeon sangat kesal. Sangat kesal hingga membuatnya ingin menangis.

Taeyeon bahkan tidak tahu kenapa ia ingin menangis. Padahal ia juga pernah tidak digubris oleh beberapa temannya dan tidak pernah sekesal ini. Mungkin karena Taeyeon menganggap Luhan adalah laki-laki yang tidak tahu sopan santun. Ya, rasa kesal Taeyeon didominasi oleh sikap Luhan yang biasa saja terhadap Taeyeon. Luhan seperti tidak merasa canggung dengan Taeyeon. Apa hanya Taeyeon yang merasakan kecanggungan ini? Kenapa ia harus merasakannya kalau Luhan saja bersikap biasa? Ia merasa bodoh.

“Tentu saja. Kau pasti sudah biasa melakukannya. Itu sebabnya kau tidak merasa canggung,” gumam Taeyeon kesal. Ia mengeluarkan buku-buku fisikanya dan membuka-bukanya, berusaha kembali memahaminya.

~~~

“Hun-ah,” panggil Taeyeon pada Sehun, yang sedang bermain games di smartphone-nya bersama dengan Jongin dan Minseok.

“Ya?” sahut Sehun, yang masih fokus pada games-nya.

“Di mana Luhan?” tanya Taeyeon.

Mendengar pertanyaan Taeyeon, mereka bertiga secara serempak langsung menatap Taeyeon dengan tatapan terkejut.

“Wae?” tanya Taeyeon lagi.

“Baru kali ini kulihat kalian berpisah. Biasanya Luhan selalu ada di dekatmu,” canda Minseok, membuat Jongin dan Sehun tertawa geli.

“Dia tadi pergi ke toilet, ‘kan? Kenapa belum kembali? Chanyeol hyung saja sudah kembali. Mungkin dia mampir ke kantin,” sambung Jongin, begitu Chanyeol sudah duduk manis di samping Minseok.

“Oh, ya. Luhan pergi ke atap sekolah. Dia bilang mau tidur sebentar. Mata dan otaknya penat karena ujian fisika tadi. Kalau kau mau, kau bisa menyusulnya,” kata Chanyeol.

Taeyeon mengangguk lalu ia pergi ke atap sekolah. Alasan ia mencari Luhan hanya satu. Ia ingin menyampaikan pesan Jaejoong tadi. Menurutnya ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah Luhan.

Sesampainya ia di depan pintu atap sekolah, yang sebenarnya tidak boleh asal didatangi oleh siswa, Taeyeon membukanya secara perlahan. Atap sekolah jarang didatangi, mungkin karena peringatan dari kepala sekolah. Hanya siswa-siswi yang tidak mau tahu-lah yang sering mendatanginya, contohnya Luhan.

Taeyeon menutup pintu atap dan ia bisa langsung melihat pemandangan langit yang sangat indah di hadapannya. Angin sejuk menghampiri wajah dan tubunya. Rambutnya yang hitam dan tergerai terayun-ayun dengan sangat indah akibat angin itu. Di atap sekolah tidak ada siapa-siapa. Taeyeon menyadari bahwa tempat ini memang bagus untuk menyendiri.

Taeyeon menolehkan kepalanya ke samping kanan. Ia bisa melihat Luhan sedang terbaring dengan nyamannya di lantai. Angin membuat rambutnya juga ikut bergerak. Taeyeon mendekati laki-laki itu dan menatapnya. Mata Luhan terpejam. Wajahnya damai. Jika ia sedang tidur seperti ini, Taeyeon seperti melihat sosok bayi. Bayi rusa yang lucu.

Taeyeon duduk di samping laki-laki itu sambil masih terus menatapnya. Ia bingung bagaimana memberitahu Luhan. Apakah ia harus membangunkannya? Taeyeon sedikit menghela nafasnya. Ia mengamati wajah Luhan dan entah kenapa senyuman kecil yang manis terukir di wajahnya. Ia senang menatap wajah Luhan.

“Oh, ya. Sepertinya perasaanmu pada Jaejoong sunbae sudah agak sedikit berkurang. Kurasa karena Xi Luhan. Keutchi?”

Perkataan YoonA tadi pagi terngiang-ngiang di kepalanya. Perkataan itu membuat perasaannya bimbang. Ia tidak bisa menjawab kata-kata YoonA karena ia pun tidak tahu apakah sampai sekarang ia masih menyukai Jaejoong. Selama sebulan ini yang ada di sampingnya adalah Luhan. Yang menolongnya adalah Luhan. Yang selalu membuatnya kesal sekaligus tertawa adalah Luhan. Bahkan, ketika ia merasa butuh bantuan, nama Luhan-lah yang tertera di otaknya.

Jujur, selama sebulan ini, hanya beberapa kali ia mengingat nama Jaejoong. Apa ia benar-benar sudah melupakan perasaannya kepada Jaejoong karena Luhan? Lalu, apa ia saat ini menyukai Luhan? Taeyeon tidak tahu. Saat ini ia sulit menafsirkan perasaannya sendiri. Tidak semudah saat ia menyadari bahwa ia menyukai Jaejoong.

Apa cinta semudah itu? Jika ia memang mulai menyukai Luhan, kenapa orang itu harus Luhan?

“Kalau begitu, cobalah untuk mengerti hatimu,”

“Aku bahkan tidak mengerti hatiku sendiri,” gumam Taeyeon. “Jika aku memang punya cinta baru lagi, kenapa itu harus dirimu? Apa tidak ada orang lain lagi? Kau menyebalkan dan playboy. Aku benci tipe yang seperti itu. Kenapa itu harus dirimu?”

Saat Taeyeon selesai bergumam, mata Luhan seketika terbuka. Taeyeon terlonjak kaget dan matanya langsung membulat dengan sempurna.

“Ne… neo? Kau tidak tidur?” tanya Taeyeon kaget.

Luhan bangkit dari posisi nyamannya dan kini ia duduk menghadap Taeyeon. Rambutnya berantakan dan itu terkesan sangat keren.

“Aku hampir saja terbang ke alam mimpi sebelum kau datang dan duduk di sampingku,” jawab Luhan pelan. “Kau mengganggu tidurku saat kau duduk di sampingku sambil menatap wajahku,”

“Kau tahu aku datang?” tanya Taeyeon, kaget.

“Eum, tentu saja,” jawab Luhan enteng. “Wae? Apa aku sangat tampan di matamu? Apa baru hari ini kau menyadarinya? Apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku? Bukannya kau menyukai kakakku? Jangan sampai kau menyukaiku,”

Luhan tertawa saat ia melontarkan leluconnya. Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan kosong. Ia hanya diam, tidak memberi komentar apa-apa.

“Luhan,” panggil Taeyeon pelan.

Luhan berhenti tertawa dan ia menatap wajah sendu Taeyeon. “Ne?”

“Apa kau tahu arti jatuh cinta?” tanya Taeyeon.

Luhan diam. Ia agak kaget mendengar pertanyaan tak terduga Taeyeon. Ia juga bingung dan sulit menjelaskan jawabannya. Karena ia juga belum pernah merasakan cinta yang sebenarnya.

“Aku… tidak terlalu tahu,” jawab Luhan pelan.

“Jadi dengan para perempuan sebelumnya kau tidak pernah merasakan rasa suka? Kau hanya mempermainkan perasaan mereka?”

Luhan diam. Taeyeon tahu arti di balik diamnya Luhan, yang menandakan jawabannya adalah ‘ya’. Taeyeon tersenyum tipis sambil menundukkan wajahnya. Luhan bukanlah tipe-nya. Jika ia sampai jatuh hati pada sosok Luhan, yang ada bukanlah kebahagiaan. Ia akan merasa tersakiti. Kalau memang ia sudah melupakan Jaejoong, Taeyeon tidak ingin jatuh cinta pada Luhan. Sebisa mungkin ia akan melupakan kata-kata YoonA tadi pagi. Ia bertekad akan menganggap Luhan sekedar teman sekelas.

“Kalau kau ingin tahu apa itu jatuh cinta, kau tidak perlu mencarinya. Kau sudah merasakannya. Bukankah kau jatuh cinta pada Jaejoong hyung? Anggap saja itu jatuh cinta. Ketika kau memikirkannya, kau akan merasa bahagia sekaligus sedih. Kau merasakan hal seperti itu, ‘kan ketika memikirkan Jaejoong hyung?” tanya Luhan.

Taeyeon tidak menjawab. Ia kembali melontarkan pertanyaan pada Luhan. “Jadi, selamanya kau tidak akan pernah merasakan jatuh cinta?”

“Aku akan merasakannya jika sudah waktunya,” jawab Luhan. “Tunggu saja, dan aku akan memberitahumu kalau aku sedang jatuh cinta,”.

“Bukankah setiap orang butuh merasakan cinta? Kenapa kau bahkan tidak berusaha untuk membuka hatimu?”

Luhan tersenyum. Taeyeon sadar senyuman Luhan bukanlah senyuman manisnya yang biasa. Senyuman itu senyuman pahit, penuh kesedihan.

“Ada banyak alasan. Dan kenapa kau sekarang mengkhawatirkan aku? Sekarang ini, urus saja masalah percintaanmu dengan Jaejoong hyung. Baru aku akan mencari cinta seperti yang kau suruh,” jawab Luhan.

Taeyeon tersenyum kecil. Ia menatap langit-langit yang terhampar di atasnya. Tidak, ia masih menyukai sosok Jaejoong, Taeyeon yakin itu. Hanya karena ia terus bersama Luhan, tidak berarti ia mudah melupakan Jaejoong. Ia tidak mungkin memiliki perasaan yang lain kepada Luhan. Ya, ia hanya terlalu serius dengan ucapan YoonA.

“Turunlah, aku ingin tidur,” ujar Luhan.

Taeyeon kembali menatap Luhan. Ia langsung ingat apa tujuannya menemui Luhan. “Kau tidak pulang ke rumah hari ini?”

Luhan diam, tampaknya ia agak sedikit kaget dengan pertanyaan Taeyeon. Namun, secepat mungkin ia menunjukkan senyuman manisnya. “Jaejoong hyung memintamu untuk mengingatkanku kalau dua hari lagi ibuku ulang tahun, ‘kan?”

“Walaupun dia itu ibu tirimu, tidak baik kalau kau lupa hari ulang tahunnya, ‘kan?” tanya Taeyeon.

“Aku tidak lupa,” jawab Luhan. Ia menolehkan kepalanya menatap langit biru.

“Lalu kenapa tiap tahun Chanyeol dan yang lainnya yang mengingatkanmu untuk pulang?” tanya Taeyeon lagi.

“Jaejoong hyung hanya takut aku benar-benar lupa. Aku selalu ingat, kok kapan saja aku harus pulang. Mereka, ‘kan hanya mengingatkan, bukan berarti aku lupa,” jelas Luhan.

“Terserahmu saja,” ujar Taeyeon. “Kau hanya banyak alasan,”

“Sekarang Jaejoong hyung sudah memintamu, ya? Ia tidak meminta Sehun dan yang lainnya untuk mengingatkanku. Itu artinya ia sudah benar-benar dekat denganmu. Fighting, Kim Taeyeon. Sebentar lagi aku akan membuat kalian bersatu,” ujar Luhan sambil tersenyum lebar.

“Diamlah,” kata Taeyeon, membuat Luhan tertawa.

“Aku mengantuk sekali,” ujar Luhan.

Tiba-tiba saja, Luhan kembali membaringkan tubuhnya dan ia meletakkan kepalanya di atas kedua paha Taeyeon. Taeyeon kaget sekali. Ia ingin menyingkir, tapi Luhan sudah memejamkan matanya dengan nyaman. Tindakan Luhan membuat Taeyeon tidak berkutik. Jantungnya kembali berdebar-debar.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah, aku mau kembali ke kelas,” usir Taeyeon dengan wajahnya yang panik.

“Sebentar saja,” gumam Luhan. “Aku sudah nyaman seperti ini,”

Taeyeon tidak menjawab. Kali ini, ia akan membiarkan Luhan. Luhan memang sudah benar-benar nyaman dengan posisinya ini. Taeyeon dapat mendengar suara nafas Luhan yang teratur, menandakan ia sudah terlelap. Bahkan mulutnya sedikit terbuka.

Taeyeon menghela nafas pelan. Ia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu Luhan bangun. Taeyeon membiarkan Luhan menjadikan pahanya sebagai bantal karena ia kasihan pada laki-laki itu. Sepertinya ia tidak tidur semalaman.

Sekitar dua puluh menit kemudian, kepala Luhan menggeliat sedikit di atas paha Taeyeon dan kelopak matanya terbuka. Ia menatap wajah Taeyeon yang berada tepat di atasnya. Taeyeon mengalihkan pandangannya dari tatapan Luhan.

“Kau berat sekali. Cepat bangkit,” ujar Taeyeon.

Luhan tidak menjawab. Ia hanya menatap Taeyeon dalam-dalam. Tidak mendapat jawaban dari Luhan, Taeyeon juga balik memandang wajah Luhan. Mata hazel milik Luhan telah menghipnotis mata Taeyeon untuk menatapnya lebih lama, menyelaminya lebih dalam. Walau Taeyeon ingin menolak, tapi matanya tetap tidak bisa bergerak dari mata Luhan.

“Apa ada yang salah di wajahku?” tanya Taeyeon, memecah keheningan yang tercipta di antara mereka selama beberapa menit. Dan selama beberapa menit itu Luhan hanya memandangnya. Taeyeon tidak bisa jika ia harus lebih lama lagi menatap Luhan.

“Ani,” jawab Luhan pelan. “Aku ingin minta maaf,”

Luhan mengambil beberapa helai ujung rambut Taeyeon yang berada di atas wajahnya dan memilin-milinnya. Rambut Taeyeon serasa halus dan lembut di tangannya, dan itu membuat Luhan ingin membelai keseluruhan rambutnya.

“Minta maaf?” Taeyeon balik tanya.

“Atas kelancanganku kemarin malam. Mungkin kau berpikir aku adalah laki-laki yang tidak tahu diri dan yang bisa seenaknya terhadap perempuan manapun, ‘kan? Tapi kemarin aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Aku hanya… kau…,”

Taeyeon menunggu kelanjutan dari perkataan Luhan. Ia penasaran apa alasan Luhan tiba-tiba menciumnya. Namun, tampaknya Luhan tidak ingin melanjutkannya. Ia hanya tersenyum sambil memandangi wajah Taeyeon dengan tatapan lembut.

“Yah, aku hanya ingin minta maaf saja. Seharusnya kau mendapatkannya dari Jaejoong hyung,” kata Luhan.

Taeyeon tidak memberikan komentar apa-apa. Ia juga tidak ingin melanjutkan pembicaraan mengenai masalah kemarin malam. Ia ingin melupakannya.

“Gwaenchanna, lupakan saja,” ujar Taeyeon pelan.

“Aku tidak bisa tidur tenang setelah kejadian kemarin malam. Rasanya tidak tenang kalau tidak minta maaf saat itu juga. Itu sebabnya aku memilih untuk belajar fisika saja sampai pagi,” ujar Luhan.

“Gwaenchanna. Lupakan saja. Kau juga sudah bilang itu tidak sengaja,” jawab Taeyeon. Perasaan kesalnya pada Luhan sudah berkurang setelah ia mengucapkan maaf, apalagi mendengar Luhan tidak bisa tenang kalau belum minta maaf.

Luhan bangkit dari posisi tidurnya dan ia duduk menghadap Taeyeon. Ia menunjukkan senyuman manisnya pada Taeyeon.

“Kau mau datang ke acara ulang tahun ibuku dua hari lagi? Aku bisa minta Jaejoong hyung untuk menjemputmu di asrama sekolah. Bagaimana?” tawar Luhan.

“Apa… tidak apa-apa?” tanya Taeyeon.

“Wae? Kau bisa lebih dekat dengan Jaejoong hyung. Kau juga bisa akrab dengan keluarganya. Ini kesempatan,” jawab Luhan. “Tidak apa-apa. Lagipula statusmu, ‘kan pacarku, jadi tidak masalah kalau aku mengajakmu ikut. Akan lebih mudah jika kau mengenal ibunya, jadi kau bisa lebih mengenal Jaejoong hyung,”

“Baiklah,” jawab Taeyeon. Ia ingat perkataan YoonA mengenai adanya masalah antara Luhan dengan ibu tirinya. Mungkin ini kesempatan bagi dirinya untuk mengetahui apa masalah itu dan ia berharap bisa membantu masalah Luhan.

“Kalau begitu, maukah kau menemaniku pergi untuk membeli hadiah ibu besok malam?”

~~~

“Woah, jinjja? Kau diundang Luhan?” tanya YoonA dengan suaranya yang menggelegar.

Taeyeon mengikat rambutnya dengan ikatan ekor kuda dan menatap YoonA dengan mengernyitkan dahinya.

“Bisakah suaramu lebih pelan?” tanya Taeyeon.

“Sepertinya Luhan benar-benar jatuh cinta. Kau adalah perempuan yang tidak akan pernah dilepasnya, Tae-ah. Kalau Luhan berencana mengenalkan ibunya padamu, itu artinya dia sungguh-sungguh. Oh, ya dan jangan lupa untuk mencari tahu sebenarnya ada masalah apa dengan Luhan, kenapa dia tidak mau kembali ke rumahnya,” kata YoonA sambil tersenyum sumringah.

“YoonA-ah,” panggil Taeyeon, setelah ia selesai berpakaian sehabis mandi. Ia duduk di atas tempat tidurnya di samping YoonA. “Apa kau tahu seperti apa jatuh cinta?”

“Jatuh cinta itu bisa dibilang sesuatu yang membahagiakan sekaligus menyakitkan yang datang di waktu yang sama. Kau memikirkan orang itu setiap malam dan tersenyum sendiri, tapi kau juga akan merasa sakit hati karena terlalu merindukannya. Ketika melihatnya, rasanya hatimu akan terbakar dan kupu-kupu di dalam hatimu akan beterbangan. Perutmu bergejolak dan seluruh tubuhmu akan memanas, bahkan di waktu musim dingin,” jawab YoonA panjang lebar. “Wae? Kau sudah jatuh cinta pada Luhan?”

Taeyeon menatap YoonA dengan pandangan sendu. “Apa menurutmu begitu?”

“Apa yang kau rasakan tiap ada Luhan? Apa jantungmu berdebar? Apa wajahmu memerah tiba-tiba? Kalau seperti itu, kau jatuh cinta padanya. Sebenarnya aku juga tidak begitu setuju kalau kau menyukai orang seperti dia. Tapi melihat ketulusan Luhan dan dia menjagamu dengan baik selama kalian berpacaran, rasanya aku yakin Luhan bisa berubah karena mencintaimu. Kurasa ia juga mencintaimu dengan hatinya. Jadi aku bisa percaya ia tidak akan menyakitimu,” jawab YoonA. Ia memandang Taeyeon dengan tatapan sayang.

“Lalu, bagaimana dengan perasaanku ke Jaejoong sunbae? YoonA-ah, apa cinta semudah itu? Kita bisa melupakan dan mencintai seseorang dengan mudahnya? Kalau memang aku jatuh cinta pada Luhan, bukankah itu artinya hatiku terlalu mudah untuk menerima seseorang? Apa cinta semudah itu?” tanya Taeyeon.

“Taeyeon-ah. Cinta tidak semudah yang kau maksud. Ini untuk pertama kalinya kau membicarakan laki-laki setelah sekian lama kita berteman. Kau bilang padaku kau jatuh cinta pada Jaejoong sunbae. Ani, kau hanya mengaguminya. Rasa kagum dan cinta itu berbeda jauh. Kau kagum padanya karena ia menolongmu dan ia termasuk tipemu. Rasa kagum bisa hilang dengan sendirinya ketika kita sudah memiliki seseorang yang kita cintai sepenuh hati. Kau selalu bilang padaku kalau kau sangat kesal pada Luhan, saking kesalnya sampai ingin menangis.

“Kalau kau menangis karena masalah sepele untuk seorang laki-laki, artinya kau butuh perhatiannya. Artinya dia telah memiliki hatimu sepenuhnya. Kau kesal karena Luhan pernah tidak menggubrismu ketika kau menyuruhnya untuk membaca buku, sedangkan Luhan sibuk dikerubungi oleh fans-nya. Kau butuh perhatiannya dan kau cemburu. Awalnya kau tidak pernah merasa kesal kalau Luhan sedang dikerubungi fans-nya. Kupikir sekarang kau bisa membedakan mana rasa kagum dan mana rasa cinta. Bukan salahmu kalau kau sudah melupakan Jaejoong sunbae. Karena sekarang ada seseorang yang benar-benar kau cinta,”

Taeyeon terdiam. Rasanya ia ingin menangis di depan YoonA dan menceritakan semua masalah yang menyangkut di hatinya. Jika ia benar-benar mencintai Luhan, lalu bagaimana dengan Luhan? Mereka berpacaran karena Luhan ingin dirinya bersama Jaejoong. Luhan tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Jika ia melanjutkan rencana ini, maka tidak ada gunanya sama sekali. Selain Taeyeon sudah tidak menyukai Jaejoong lagi, ia akan semakin tersakiti berada di samping Luhan. Cepat atau lambat Luhan akan melepasnya.

Tapi kalau ia menghentikan rencana ini, apakah ia dan Luhan tidak akan sedekat seperti ini? Apakah perhatian Luhan juga tidak akan ia dapatkan seperti saat ini?

“Wae? Kau sudah memiliki Luhan. Sekaranglah saatnya kau mempertahankan hubungan ini kalau kau sudah tahu kau jatuh cinta padanya. Aku yakin Luhan juga sedang mempertahankan hubungan kalian,” ujar YoonA sambil tersenyum.

Taeyeon balas tersenyum kecil dan hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak sadar kalau air matanya mengalir pelan melintasi pipinya, dan itu membuat YoonA merasa heran.

~~~

Sebuah mobil ferrari berwarna merah melintas dan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Sesosok perempuan dengan rambut yang diikat ekor kuda berdiri tidak jauh dari gerbang sekolah. Dan ketika dilihatnya mobil itu berhenti, si perempuan mendekati mobil itu. Ia membuka pintu depan mobilnya dan masuk ke dalam.

“Malam,” sapa si pengemudi sambil tersenyum cerah.

“Kenapa jam delapan baru datang? Kau, ‘kan tahu kalau asrama akan ditutup jam sebelas malam,” kata Taeyeon, si perempuan yang tadi menunggu mobil ferrari itu. Ia mengerucutkan bibirnya, kesal.

“Pesta ulang tahun ibuku besok malam. Rumahku sedang didekorasi untuk pestanya. Jadi, agak sulit untuk keluar dari rumah,” jawab Luhan sambil mengemudikan mobilnya. “Apa tadi Jongin yang mengantarmu ke depan gerbang sekolah?”

“Ne, dia memaksa untuk mengantarku. Apa kau yang menyuruhnya?”

“Ne, selama aku tidak ada di asrama, aku takut fans-ku akan mengerjaimu,” jawab Luhan.

“Mereka sudah lumayan baik,” ujar Taeyeon.

“Oh, ya? Apa mereka sudah lelah? Mungkin mereka sudah mulai menerima dirimu sebagai pacarku,” kata Luhan sambil tertawa.

Taeyeon hanya menghela nafas pendek.

“Jaejoong hyung setuju kalau dia yang akan menjemputmu besok. Alasanku tidak bisa menjemputmu karena aku mau beli hadiah untuk ibu. Sekarang, aku akan mencarikan hadiah darimu untuk ibuku,” kata Luhan sambil tersenyum manis ke arah Taeyeon. Ia menatap Taeyeon sekilas dan kembali memusatkan perhatiannya ke jalan.

“Pasti akan canggung nantinya bertemu dengan ibumu. Aku belum pernah bertemu dengannya,” kata Taeyeon.

“Ibuku adalah orang yang ramah. Kalau kau datang dengan Jaejoong hyung, ibuku pasti akan menyangka kau teman special­-nya hyung. Dan ibu pasti akan berusaha untuk mengenalmu. Aku berharap hyung tidak mengatakan kalau kau ini pacarku. Ibu pasti lebih senang kalau Jaejoong hyung bilang kau ini adik kelas satu-satunya yang dekat dengannya,”

Taeyeon ingin tanya kenapa bisa seperti itu tapi perhatiannya langsung teralih setelah ia melihat sebuah foto yang tertampang di atas radio mobil Luhan. Foto Luhan yang masih kecil dengan seorang wanita. Mereka berpelukan dengan sangat erat.

“Nuguya?” tanya Taeyeon.

“Oh, itu ibu kandungku,” jawab Luhan pelan.

“Yeppeo,” puji Taeyeon sambil tersenyum kecil. Ia masih memandangi foto itu.

“Gomawoyo. Dia mirip denganku, ‘kan?” tanya Luhan dengan senyuman miris.

(OST. Love Is Punishment – K. Will)

Wajah Luhan menjadi sendu. Taeyeon dapat melihat dengan jelas ada air mata yang menggenang di sudut mata kanan Luhan. Ia sedang mencoba untuk menahan air matanya yang hendak jatuh, dan itu membuat Taeyeon iba. Tangan Taeyeon sudah hampir menyentuh bahu kanan Luhan. Namun, ia membatalkan niatnya untuk sekedar menghibur Luhan.

“Toko bunga?” tanya Taeyeon saat mereka sudah sampai di depan sebuah toko bunga yang sangat besar.

Luhan tidak menjawab. Ia membuka pintu mobilnya dan keluar. Dan ia membuka pintu mobil Taeyeon.

“Silakan keluar, nona,” kata Luhan sambil tersenyum manis.

Taeyeon keluar dari mobil dan mereka sama-sama masuk ke dalam toko. Beberapa penjaga toko menyambut mereka dengan ramah. Luhan menarik pergelangan tangan Taeyeon ke arah sebuah bunga berwarna merah muda.

“Apa ini?” tanya Taeyeon pada Luhan.

Luhan memandangi Taeyeon sambil tersenyum. “Cantik, ‘kan?”

Taeyeon menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Sebenarnya bunga ini tidak cantik, tapi cantik sekali. Wanginya juga semerbak masuk ke hidung Taeyeon.

“Bunga ini bernama Agapanthus. Artinya “Bunga Cinta”. Kau bisa memberikan ini untuk hadiahmu pada ibu. Ibu sangat suka bunga ini,” kata Luhan. Ia tersenyum lembut sambil memandangi bunga itu.

“Baiklah,” jawab Taeyeon.

“Sebentar saja, ‘kan? Jadi kau tidak perlu khawatir akan lama pulang,” kata Luhan. “Dan kau tidak ada alergi apapun, ‘kan dengan seafood?”

“Aniyo, wae?”

“Ibu suka seafood. Apapun itu ia akan sangat menyukainya. Kalau ia mengajakmu makan bersama, kau bisa menawarinya seafood. Ia pasti senang sekali. Dan jangan lupa kenakan gaun berwarna hitam atau gelap. Ibu suka jika ia melihat seseorang pakai gaun berwarna gelap,” kata Luhan panjang lebar.

“Baiklah, aku akan mengingatnya,” jawab Taeyeon. Ia memandang Luhan sambil tersenyum lembut. “Kau pasti sangat perhatian sekali dengan ibumu. Kau tahu semua tentang dia,”

Luhan hanya tersenyum mendengar pernyataan Taeyeon.

~~~

From : Luhan

Aku membeli tas dan beberapa perhiasan untuk ibu. Ibu tidak begitu punya banyak tas karena ia tidak begitu suka belanja. Ibu juga suka memakai perhiasan, tapi perhiasannya sedikit. Jadi aku memutuskan untuk membelikannya kalung. Hyung akan menjemputmu sebentar lagi. Bersiaplah. Aku juga sedang dalam perjalanan ke rumah

 

Taeyeon membaca pesan singkat dari Luhan sambil tersenyum kecil. Ia benar-benar memperhatikan dan menyayangi ibunya. Mustahil ia dan ibunya kurang akur. Mungkin masalah dirinya yang tidak mau pulang kerumah bukan menyangkut masalah ibunya.

“Taeyeon-ah, Jaejoong sunbae sudah menunggumu di luar. Bersiaplah,” kata YoonA, di luar pintu kamar Taeyeon.

Taeyeon buru-buru mengambil bunganya dan ia kembali merapikan dirinya di depan cermin. Setelah semuanya beres, ia keluar dari kamar. YoonA menunggunya di depan pintu.

“Waah, neomu yeppeo,” puji YoonA sambil melihat Taeyeon dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

“Ya, kau jangan membuatku malu,” kata Taeyeon.

“Aniya, kau benar-benar cantik. Yasudah, cepat sana pergi, sunbae sudah menunggu,” kata YoonA, mendorong tubuh Taeyeon ke luar asrama.

Jaejoong memang sudah menunggu Taeyeon di depan gerbang sekolah dengan mobilnya. Ia berdiri menyandar di pintu mobil dengan memakai setelan jas berwarna biru tua. Rambutnya yang hitam dipotong lebih pendek, membuatnya terkesan sangat tampan. Bahkan Taeyeon berdecak kagum begitu ia melihat Jaejoong.

“Woah, sunbae hari ini begitu elegant,” puji Taeyeon.

Jaejoong menengadahkan wajahnya dan menatap Taeyeon. Matanya membulat begitu ia melihat penampilan Taeyeon malam itu. Taeyeon tidak biasa berpenampilan sangat feminim seperti sekarang ini. Dengan gaun hitamnya yang selutut dan rambutnya yang digerai indah membuat siapa saja akan menoleh beberapa kali ke arah Taeyeon. Ia benar-benar sangat anggun malam ini.

 

lutae~

 

“Kau juga sangat cantik malam ini,” puji Jaejoong sambil tersenyum lembut.

Taeyeon tersenyum sambil menundukkan wajahnya. “Gamsahamnida, sunbae,”

Jaejoong membukakan pintu mobil untuk Taeyeon dan Taeyeon masuk ke dalam mobilnya. Begitu Taeyeon masuk, Jaejoong ikut masuk dan mereka langsung beranjak menuju rumah Jaejoong.

“Apa Luhan sudah sampai di rumah, sunbae?” tanya Taeyeon.

“Ne, dia baru saja sampai. Seharusnya ia membeli hadiahnya kemarin malam, supaya dia bisa menjemputmu. Kau tidak keberatan, ‘kan kalau aku yang menjemputmu?”

“Tidak sama sekali, sunbae,” jawab Taeyeon.

“Ini pertama kalinya Luhan mengundang seseorang ke rumah. Kau adalah orang yang paling penting dan paling special untuk Luhan. Pertama kalinya Luhan mempertahankan hubungannya dan itu artinya ia sangat mencintaimu. Dia pernah bilang kau adalah perempuan yang berbeda, mungkin itu yang menyebabkan dirinya jatuh cinta padamu,” kata Jaejoong sambil tersenyum lembut.

Taeyeon tidak memberi komentar apa-apa. Ia hanya mengangguk dan sibuk memandangi jalanan yang ia lihat melalui jendela mobil.

Beberapa menit kemudian mobil Jaejoong berbelok ke arah kanan dan berhenti di sebuah rumah berwarna cokelat muda dengan halaman depan yang sangat luas, yang dipenuhi oleh banyak tanaman dan bunga-bunga indah dengan banyak warna. Halaman luas itu kini juga ditambah dengan beberapa lampu kelap-kelip di sepanjang jalan menuju rumahnya.

Banyak mobil yang terparkir rapi di depan gerbang rumah itu, membuat Jaejoong dan Taeyeon sulit untuk melangkah masuk ke halaman. Bahkan Jaejoong harus menggenggam pergelangan tangan kanan Taeyeon.

Rumah cokelat muda itu berdiri tegak dan mewah. Dindingnya kokoh dan tampak elegant. Pintu rumah itu terbuka lebar, memperlihatkan banyaknya orang yang berkumpul di sana sini sembari mengobrol atau sekadar makan dan minum saja. Di dalam rumah itu ada suara piano yang mengiringi pestanya.

Begitu Taeyeon masuk ke dalam rumah, Taeyeon langsung memerhatikan orang-orang yang ada di pesta itu. Semuanya tampak memakai gaun yang indah untuk yang perempuan dan yang laki-laki tampak sangat memesona dengan tuxedo mahal mereka.

“Aku akan langsung membawamu ke ibuku. Kurasa Luhan juga ada disana,” ajak Jaejoong.

Sebelum mereka berdua beranjak dari depan pintu rumah Luhan, seorang wanita dengan gaun panjang berwarna cokelat tua mendatangi Jaejoong dan Taeyeon dengan wajah bahagia.

“Joong-ah, bolehkah ibu tahu siapa gadis cantik yang kau undang ini? Apakah dia pacarmu?” tanya wanita yang memanggil dirinya “ibu”. Taeyeon langsung tahu kalau wanita yang ada di hadapannya ini adalah ibu Jaejoong dan ibu tiri Luhan. Walaupun ia sudah berumur, tapi kecantikannya tetap terpancar.

“Aniyo, eomma. Dia adalah pacar Luhan, Kim Taeyeon. Adik kelasku di sekolah yang paling dekat denganku,” jawab Jaejoong sambil tersenyum pada Taeyeon.

“Annyeonghaseyo, ahjumma,” sapa Taeyeon sambil membungkukkan badannya.

“Ne, annyeonghaseyo. Sayang sekali kau pacar Luhan. Kenapa kau tidak tertarik dengan Jaejoong?” tanya ibu Jaejoong.

“Eomma,” tegur Jaejoong lembut.

“Ah, mianhaeyo,” kata ibu Jaejoong. “Ayo masuk,”

“Ahjumma, aku membawakan bunga ini untukmu,” kata Taeyeon sambil memberikan bunga Agapanthus kepada ibu Jaejoong.

“Gomawoyo, jinjja-jinjja gomawoyo, Taeyeon-ssi. Ini adalah bunga kesukaanku. Bunga ini sangat cantik sekali, keutchi?” ujar ibu Jaejoong sambil menerima bunga itu dari Taeyeon. Senyumannya merekah dengan anggun di wajahnya ketika ia melihat bunga itu. “Aku akan menyimpannya dengan sangat baik. Joong-ah, tolong ajak Taeyeon ke dalam dan makan malam,”

Jaejoong menganggukkan kepalanya saat ibunya balik badan untuk meletakkan bunga kesayangannya di suatu tempat.

“Kajja,” ajak Jaejoong.

“Oppa,” panggil seorang perempuan yang langsung menghampiri mereka berdua.

Taeyeon membulatkan matanya begitu ia melihat perempuan itu. Perempuan cantik yang ia temui di depan kamar asrama Luhan. Perempuan ini mengenakan gaun kembang warna hitam di atas lutut. Rambutnya yang indah dibiarkannya tergerai.

“Young-ie,” ujar Jaejoong.

Perempuan yang bernama Young itu menatap Taeyeon sambil tersenyum manis. “Apa benar eonni adalah pacar Luhan oppa?”

Taeyeon menganggukkan kepalanya, ragu. Apakah perempuan ini pacar Luhan?

“Bolehkah aku bicara dengan eonni, oppa?” tanya Young pada Jaejoong.

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Taeyeon untuk bicara dengan Young. Jaejoong akhirnya masuk ke dalam rumah sendiri.

Young mendekati Taeyeon. “Ada yang ingin kusampaikan padamu, eonni,”

 

 

-To Be Continued-

 

A/N : annyeong, readerdeul hehehe update, nihh setelah sekian lama maaf ya kalo disini ff ini makin ngga nyambung atau begimana#plakk aku buatnya juga agak ngebut supaya reader ngga kelamaan nunggu. Gimana? Haruskah cerita ini dilanjut? Kalau begitu, share your opinion about my ff ^^ don’t be SIDERS, gaeesss kekkeke.

Oh, ya disini juga ada penjelasan kenapa perasaan Taeyeon bercabang dan labil. Para reader juga pernah, ‘kan punya perasaan bercabang? Pasti salah satunya hanya sekedar kagum keke jadi Taeyeon ngga bermaksud untuk cinta sama dua orang sekaligus hehe. Sekian aja, deh^^

Okee, next time i’ll be back chu~

Advertisements

163 comments on “Ma Boy~ (Chapter 6)

  1. Sbnarnya apa alasan luhan gak plang ke rmh? Trus apa jga alasan luhan ngedeketin taeyeon ke jaejoong? Hmmm apa luhan sbnarnya diam” naruh rasa sma taeyeon?

  2. Iya thor, ngerti banget sama perasaan taeyeon yg labil itu. Aku prnah ngerasainnya dan semua orang juga pasti pernah. Good story.
    Penasaran banget siapa ‘young’ itu. Adiknya luhan kan? Tapi siapa? Uuu gak sabar baca kelanjutannya~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s