No Reasons To Love You

gd

Title             : No Reasons To Love You
Author         : Rosalia
Cast             : Kim Taeyeon, Luhan, other
Genre           : Romance, School life, Sad
Rating          : PG-17
Lenght          : Oneshot
Ini fanfict murni buatan author, bila ada kesamaan dengan yang lain hanyalah sebuah ketidaksengajaan, jadi mohon apresiasinya yaa RCL juseyo..

Happy Reading….

Aku mencintaimu tanpa alasan apapun, dan kumohon percayalah bahwa aku mencintaimu bukan untuk sebuah alasan. Aku mencintaimu dari hati.
*
Gadis itu memiliki rambut bergelombang hitam panjang dengan hiasan pita coklat kecil di atas telinga kanannya. Mata indahnya tengah menatap tajam jalanan padat yang dipenuhi kendaraan dengan suara bising mesinnya. Gadis itu duduk di bangku sebuah halte sambil sesekali mengibaskan debu dari blazer coklatnya. Satu jam sudah gadis itu menunggu bus yang akan membawanya pulang ke rumah, namun sepertinya si sopir bus sama sekali tak mentolerir keterlambatannya dalam mengemudi hingga menyebabkan gadis itu terus menghentakkan kaki kesal karena tak sabar lagi menunggu.

“Taeyeon-ssi?” Terdengar suara laki-laki yang sayangnya terlampau lembut hingga gadis itu mengira perempuan lah yang tengah memanggilnya. Perhatiannya terlepas dari jalanan macet dan beralih pada sosok tinggi dengan hidung mancung dan mata hazzle berkilau yang berdiri dua meter dari tempat gadis itu duduk.

“Eng? Luhan-ssi? Apa yang kau lakukan disini?” Gadis yang bernama Taeyeon itu pun bangkit begitu mengenali laki-laki dengan blazer yang sama dengan miliknya itu. Luhan. Teman sekelasnya yang konon menjadi cassanova di sekolah dan menempati posisi pertama dalam ajang tak lazim ‘Murid yang Paling Diinginkan No 1 Untuk menjadi Kekasih Impian’.

Sejujurnya Taeyeon enggan berurusan dengan Luhan. Siswa yang baru pindah dari China beberapa bulan lalu itu terus mengikuti Taeyeon kemanapun ia pergi. Tentu saja hal ini membuat Taeyeon tak nyaman karena faktanya gadis manapun yang ada hubungan dengan Luhan bahkan walau itu hanya sekedar teman sekelas saja, akan kena imbas berupa bullying dari sekumpulan murid kurang kerjaan yang menyebut diri mereka fans Luhan. Taeyeon sudah cukup merasakan sengsaranya menjadi gadis yang di-stalk Luhan dengan beragam perbuatan tak wajar dari para fans-fansnya.

Awalnya mereka hanya menegur Taeyeon untuk menjauhi Luhan disertai ancaman bahwa akan ada lebih banyak lagi murid-murid perempuan yang akan berbuat buruk padanya jika terus dekat dengan Luhan. Taeyeon yang memang tak pernah dekat sekalipun dengan cassanova pembawa sial —baginya— itu merasa keberatan dengan ancaman mereka. Sialnya saja Luhan tak gentar mendekati Taeyeon seolah memberi sinyal bahwa laki-laki itu memang menyukainya. Maka fans-fans Luhan pun tak terkendali lagi berbuat buruk pada Taeyeon.

Mulai dari menguncinya di kamar mandi terkutuk yang mampu membuat pingsan siapapun bila selama sepuluh menit di dalamnya, hingga terang-terangan mengeroyok Taeyeon begitu tiba waktu pelajaran renang. Gadis malang itu nyaris tenggelam jika saja tidak tertolong oleh ketangguhan Luhan yang bersikeras menolongnya.

Taeyeon mulai benci pada Luhan yang malah semakin mendekatinya. Dan alasan ini cukup kuat untuk membuat gadis itu tak mengacuhkan laki-laki tampan yang kini berdiri tak jauh darinya.

“Aku hanya melihatmu sedang menunggu bus dari kejauhan. Dan kebetulan aku juga sedang ingin pulang menaiki bus. Makanya kuputuskan untuk menemanimu menunggu disini.” Laki-laki dengan senyum manisnya itu mengambil posisi duduk yang hanya berjarak kurang dari satu meter dari sisi kiri Taeyeon.

Taeyeon menghela napas malas. Ingin sekali dilontarkan oleh mulutnya segala uneg-uneg agar Luhan tak lagi mendekatinya. Bagaimanapun juga gadis itu sudah bosan dengan perlakuan fans-fans Luhan yang keterlaluan. Hanya saja melihat senyuman Luhan, Taeyeon jadi berpikir apa salah Luhan sehubungan dengan laki-laki itu menyukainya? Bukankah itu hak Luhan sepenuhnya untuk menyukai seorang gadis yang kebetulan adalah Taeyeon?

“Yaa, Tuan Lu. Aku sedang ingin berada disini sendiri. Jadi, apa kau tak keberatan menunggu bus di halte lain? Sejujurnya aku keberatan dengan keberadaanmu disini.” Ujar Taeyeon sarkastik.

Luhan tak langsung membalas perkataan Taeyeon. Ia sedang berusaha mencernanya. Mengapa Taeyeon begitu bersikap annoying terhadapnya? Memang apa yang sudah dilakukannya pada gadis itu? Luhan hanya menyukainya. Terlebih jauh lagi nampaknya Luhan mencintainya. Dan Luhan berusaha mendapatkan hati gadis itu yang sungguh sayang rasa sukanya hanya terjadi secara sepihak saja karena Taeyeon terang-terangan tidak menyukai keberadaannya atau bahkan gadis itu membencinya.

“Taeyeon-ssi, aku hanya ingin mengucapkan maafku kalau memang keberadaanku selalu membuatmu tak nyaman. Aku hanya menyukaimu dan sialnya aku berharap hal yang sama darimu. Maaf, maaf jika aku selalu merugikanmu dengan segala perilaku orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai fans-ku. Maaf, membuatmu semakin benci padaku.”

Taeyeon bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari serentetan kalimat Luhan. Ada setitik rasa bersalah singgah di hatinya.

“Luhan-ssi, ada sedikit kesalahpahaman di sini. Geurae, aku memang sedikit tak nyaman jika kau berada di dekatku. Tapi itu karena ulah sasaeng fans yang selalu menyakitiku dengan alasan tak logis. Kau tau? Sejak kau datang ke dunia damaiku, hidupku menjadi tak tenang. Sejak kau terus mendekatiku, aku selalu was-was untuk menghindari ulah orang-orang konyol itu. Kendati demikian, jika kau mengatakannya langsung, di telingaku seolah terdengar aku begitu membencimu. Itu tak benar.”

Taeyeon kembali menghela napas setelah melampiaskan segala yang mengganjal pikirannya. Sebenarnya bukan segalanya. Yang diucapkannya pada Luhan bahkan tak sampai sepersepuluh dari apa yang diinginkannya. Taeyeon hanya merasa sungkan jika terus menyalahkan Luhan atas perasaan suka pada dirinya.

“Arrayo. Aku akan berusaha tak mengganggu kehidupanmu lagi. Meskipun aku tak yakin apa dengan begitu bisa berhasil mengurangi perasaanku padamu.” Luhan tertunduk. Sedetik kemuian pandangannya tertuju pada Taeyeon yang tengah menatapnya dengan mata sendu. Melihat mata itu, Luhan kembali merasa tak enak. Apa yang sudah dilakukannya hingga membuat gadis itu tampak demikian menderita?

“Beri aku satu alasan. Satu saja. Apa yang membuatmu menyukaiku?”

“Eh?”

“Jawablah, Luhan-ssi. Sehingga aku tau bagaimana untuk menghindari alasanmu itu. Dengan begitu kau tak akan lagi menyukaiku.”

Luhan diam sejenak mendengar penuturan Taeyeon. Tampaknya gadis itu benar-benar ingin Luhan enyah dari dunianya.

“Tak ada alasan.”

“Luhan-ssi, aku…..”

“Tak ada alasan.” Ulang Luhan sungguh-sungguh memotong kalimat yang ingin dilontarkan Taeyeon. Mata berkilaunya memandang lurus bola mata hitam kecoklatan milik Taeyeon yang begitu bening di hadapannya.

“Aku menyukaimu tanpa alasan. Aku menyukaimu. Benar-benar menyukaimu sejak awal melihatmu. Aku menyukaimu, bahkan tampaknya aku mencintaimu.”

Taeyeon benar-benar tak habis pikir dengan Luhan. Bagaimana bisa ia mengatakan hal semacam itu?

Taeyeon masih terpaku dengan pandangan mengamati udara kosong saat Luhan berseru.

“Ahh busnya datang, Taeyeon-ssi. Tidakkah kau segera naik?” Luhan bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Taeyeon naik terlebih dahulu ke dalam bus yang mulai penuh dengan orang-orang. Baru ketika satu langkah kakinya hendak beranjak masuk ke dalam bus, diurungkan niatnya. Luhan turun kembali dari bus dan membiarkan bus itu melaju begitu saja.

“Kupikir akan tidak nyaman jika aku tetap bersikeras satu bus dengannya.” Gumamnya bersamaan dengan helaan napas yang keluar dari rongga hidungnya.

“Beginikah rasanya sakit hati saat ditolak orang yang sangat kau cintai?”

*

Malam yang damai. Angin musim panas bertiup hangat sesekali membawa udara kotor bercampur debu hingga membuat batuk siapapun yang menghirupnya. Luhan berjalan pelan menyusuri trotoar jalanan Seoul yang tak pernah sepi dilalui kendaraan. Ia memang berjalan. Dan matanya intens melihat ke depan. Namun pikiran Luhan melayang. Bahkan sesekali Luhan harus mengutuk batu kecil yang membuatnya tersandung meski nyatanya itu salah ia sendiri yang berjalan melamun.

Luhan sampai di sebuah tempat bermain anak-anak. Ada setitik rasa dalam dirinya yang menginginkan singgah sejenak di tempat itu. Luhan pun melangkahkan kakinya menuju satu ayunan yang kosong. Terdapat dua ayunan di tempat itu, dan satu yang lainnya diduduki oleh sesosok gadis berambut hitam panjang hingga menutupi wajahnya. Gadis yang hanya mengenakan hoodie putih dengan jeans panjang itu menunduk, bahkan saat Luhan mendekatinya ia tetap bergeming.

“Chogiyo, bolehkah aku menempati ayunan di sebelahmu?” Luhan bermaksud meminta izin gadis itu bilamana ia mungkin terganggu jika Luhan tiba-tiba sudah berada di sisinya. Gadis itu hanya mengangguk dan masih tetap menunduk seolah asyik menghitung berapa jumlah pasir di tanah yang tampak oleh matanya di malam gelap begini.

Luhan tersenyum. Hanya saja gadis di depannya itu terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri hingga tak mau repot-repot mengangkat wajahnya untuk melihat senyuman manis Luhan.

“Agassi, bisakah aku tau apa yang kau lakukan disini?” Luhan bermaksud membuka pembicaraan dengan gadis aneh yang masih menunduk itu. Ia tak menjawab. Luhan pun ikut diam. Tak bermaksud mencari bahan pembicaraan yang lain lagi karena nyatanya ia tak akan iacuhkan gadis itu.

Sunyi. Malam yang cerah dengan jutaan bintang yang menghias langitnya ini terlalu indah untuk dijadikan setting kisah Luhan dan gadis itu yang bahkan tak saling bicara satu sama lain. Satu-satunya pemecah kesunyian antara keduanya hanyalah merdunya nyanyian jangkrik yang saling bersahutan menciptakan irama damai yang hanya bisa ditemui saat musim panas, karena begitu musim gugur jangkrik-jangkrik itu akan sibuk menyiapkan diri mereka menyambut musim dingin sehingga tak sempat lagi berpaduan suara.

Lima belas menit berlalu, dan dua anak manusia itu masih betah berdiam diri. Luhan asyik me-maju-mundur-kan anyunannya, sementara gadis yang kini mulai mirip Sadako —karena rambut hitamnya terus menutupi wajah— masih menunduk, dan…….. jika telinga Luhan memang sejeli itu, ada suara tangis yang sangat pelan tersensor indera pendengarnya. Luhan menghentikan laju ayunan, dan memperhatikan asal suara yang ternyata berasal dari gadis di sebelahnya itu.

“Agassi, kau menangis?” Luhan terlalu ingin tahu dengan gadis itu, hingga diangkatnya wajah yang tertutup rambut itu. Luhan terkejut.

“Ehhh… Taeyeon-ssi?” Luhan terkejut. Bahkan terlalu terkejut untuk bisa mengenali sosok dengan wajah yang kini basah oleh air mata itu.

Gadis yang ternyata adalah Taeyeon itu masih diam dengan tangisannya. Entah duka apa yang membuatnya terlalu larut hingga tampaknya tak menyadari Luhan yang kini persis di hadapannya. Bahkan gadis itu tak bereaksi saat Luhan membenamkan kepalanya ke dalam pelukan hangat.

“Kau kenapa, Taeyeon-ssi? Eh? Tak apa. Apapun itu alasanmu, silahkan kau menangis sampai hatimu lega. Kau bisa menangis bahkan sampai air matamu kering. Aku tak akan menyuruhmu menyudahi tangisanmu, dan dengan rela hati aku akan menyediakan bahuku untukmu.” Bisik Luhan seraya mengelus puncak kepala Taeyeon untuk menenangkannya. Hatinya sakit. Sakit sekali rasanya melihat orang yang dicintainya menangis seperti itu. Tangis Taeyeon begitu pilu.

“Jika kau tak keberatan, kau bisa menceritakan apapun masalahmu itu padaku.” Luhan masih mengelus lembut rambut Taeyeon yang dipeluknya ketika tiba-tiba gadis itu mengangkat wajah dan menyeka air mata yang sudah menganak sungai di pipinya.

“Luhan-ssi…. Aku… Terima kasih.. Terima kasih.. Kau… “ Entah apa sebenarnya yang ingin disampaikan Taeyeon pada Luhan, ia yang masih sesenggukan tak bisa mengatur kosakata dengan baik.

“Kau bisa percaya padaku kan? Aku tak keberatan jika kau ingin berbagi kesedihanmu.” Luhan kembali menampakkan senyuman. Kali ini senyuman penuh ketulusan yang tampak sangat manis hingga membuat Taeyeon merasa lebih baik untuk menceritakan kesedihannya.

“Ia.. Aku.. Aku menyukai dan mencintai seseorang, Luhan-ssi. Orang itu.. ia.. lima tahun lebih tua dariku. Aku menganggapnya sebagai sosok Oppa yang akan selalu melindungiku. Kami bersama sejak kecil.. dan bersama.. kami bersama hingga kini.. Dan sekarang.. Oppa itu.. sekarang.. ia.. ia…” Cerita Taeyeon terhenti dan gadis itu kembali menangis. Luhan mengusap pipinya untuk membuat gadis itu melupakan sejenak rasa sedihnya.

“Ia kenapa, Taeyeon-ssi? Apa ia menyakitimu?” Sejujurnya hati Luhan serasa terkoyak mendengar penuturan bahwa gadis yang dicintainya itu menyukai orang lain yang di luar dugaannya telah bersama Taeyeon lebih lama. Dan kini Luhan mungkin tahu alasan Taeyeon begitu tak suka saat Luhan berusaha mengambil hatinya. Hati Taeyeon hanya untuk laki-laki beruntung yang dikisahkan Taeyeon hingga gadis itu berlinang air mata.

“Ia.. telah meninggalkanku untuk selamanya, Luhan-si.. Ia.. Ia…” Taeyeon sudah tak mampu membendung tangisnya lagi. Luhan jadi tak mengerti. Apa maksud Taeyeon dengan ‘telah meninggalkan untuk selamanya’? Mungkinkah laki-laki itu menyukai gadis selain Taeyeon lantas menikahinya? Tidak mungkin sekali kan kalau laki-laki itu……

“Ia meninggal dunia……” Dugaan yang sempat Luhan tepis karena nilai kebenaran yang tidak memungkinkan, terjawab begitu saja oleh tiga kata yang diucapkan Taeyeon. Luhan membelalak tak percaya.. Apa benar Taeyeon mengalami kisah cinta yang setragis itu?

“Ehh.. aku minta maaf mendengarnya. Aku turut menyesal, Taeyeon-ssi. Keundae, memangnya mengapa ia bisa meninggal mendadak?”

“Ia mengalami kecelakaan beberapa jam lalu. Oppa mengemudi mobil sembari mabuk. Ia memiliki masalah serius dengan kuliahnya setahun belakangan. Entahlah masalah apa. Dan bodohnya aku satu tahun itu juga tak menyadari apapun. Aku benar-benar bodoh. Aku bahkan tak bisa membantunya sedikit pun.” Taeyeon mengacak-acak rambutnya frustasi. Luhan jadi semakin iba.

“Sepertinya kau benar-benar mencintai laki-laki itu, Taeyeon-ssi. Tapi kuharap kau akan bisa menatap masa depan, dan berhenti menyalahkan diri sendiri. Jangan hanya terpuruk oleh karena kematiannya. Justru orang yang kau cintai itu akan merasa sedih jika kau sampai menghancurkan kehidupanmu karenanya.” Sebisa mungkin Luhan berusaha memblokir rasa putus asa yang tampaknya mulai menjalari diri Taeyeon. Hatinya tak ingin sakit lebih dalam diakibatkan gadis yang ia cintai merusak hidupnya sendiri hanya karena terbawa kenangan orang yang sudah tiada.

“Aku hanya mencintai Oppa. Hanya Oppa yang kucintai. Tak akan ada yang lain sampai kapanpun.”

Luhan tersenyum pahit mendengar kalimat Taeyeon. Sepertinya memang tak ada celah sedikitpun baginya untuk bisa memasuki ruang hati Taeyeon. Gadis itu tampaknya sudah menutup semua ruang hanya untuk satu orang —yang dipanggil Taeyeon sebagai Oppa, entah siapa namanya Luhan tak tau dan tak mau tau.
Yang pasti siapapun ia, laki-laki itulah yang sangat beruntung karena masih mendapatkan cinta Taeyeon seutuhnya meski sudah tiada.

“Kau harus pulang, Taeyeon-ssi. Kau masih harus sekolah. Hari mulai malam, dan kau harus istirahat agar besok saat memulai hari yang baru kau kembali bersemangat. Himnaeyo, Kim Taeyeon. Nan galkeyo.” Luhan memutuskan untuk membiarkan Taeyeon menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri.

Sudah cukup sakit hati Luhan mendengar segala penuturan gadis itu tentang sosok laki-laki lain yang sangat dicintainya. Luhan kini merasa terkurung dalam sebuah maze yang tanpa ia tau bagaimana ia bisa masuk. Jika pintu masuknya saja Luhan tak tau, lantas bagaimana ia akan meloloskan diri? Kemungkinan yang sangat kecil, bahkan sekecil harapan kau bisa memasukkan benang ke dalam lubang jarum dengan mata tertutup.

*

Beberapa hari berlalu semenjak Luhan bertemu dengan Taeyeon malam itu. Taeyeon benar-benar menjadi gadis pemurung. Selama ini Luhan memang selalu memperhatikan Taeyeon, dan tahu lah ia bahwa Taeyeon bukan tipikal gadis remaja yang melankolis. Taeyeon termasuk gadis ceria meski cenderung tertutup. Taeyeon hanya dekat dengan satu orang teman, Tiffany, gadis cerewet dari kelas sebelah yang selalu setia membantu Taeyeon mengatasi berbagai masalah yang menimpanya diakibatkan fans-fans tak tau diri Luhan.

Luhan cukup mengerti dengan keadaan Taeyeon. Ia bahkan terlalu mengerti agar tak menambah masalah gadis itu dengan mendekatinya. Luhan paham betul, bahwa satu langkah ia mendekati Taeyeon, maka sasaeng fans-nya akan dua langkah menyakiti gadis itu. Luhan benci dengan kenyataan ini.

Ayolah.. ia bahkan bukan artis populer yang akan terkena skandal percintaan dengan orang yang dicintainya. Ia bahkan bukan artis populer, namun ia merasa terkekang di dunianya sendiri. Luhan ingin mendekati Taeyeon sewajarnya. Luhan ingin selalu bersama Taeyeon sewajarnya, tanpa khawatir gadis itu akan disakiti karenanya. Luhan ingin menjalani percintaan sebagaimana remaja seusianya pada umumnya.

Yakinlah kalau Luhan hanya manusia biasa yang butuh cinta dari orang yang dicintainya. Ia bukan idola semua orang. Ia hanyalah manusia beruntung yang dikaruniai sedemikian kelebihan hingga memikat banyak orang. Dan tentu saja hal ini bukan salahnya.

Luhan tak lagi mengikuti kemanapun Taeyeon pergi sebagaimana biasanya. Luhan membiarkan Taeyeon seorang diri, meski nyatanya ia terus mengamati Taeyeon dari kejauhan. Luhan merasa sangat tak beruntung karena hanya bisa melihat orang yang dicintainya dari punggungnya saja saat orang itu menjauh. Mereka dekat, bahkan mereka dalam satu atap yang sama di ruangan kelas ini, namun Luhan merasa sangat jauh untuk menggapai Taeyeon. Gadis itu sendiri yang membangun benteng kokoh hingga Luhan tak mampu merobohkannya bahkan dengan segala perasaan tulus yang dimilikinya untuk Taeyeon.

“Luhan-ssi..! Kenapa kau murung?” Sebuah suara lembut mampir di telinga Luhan. Ada setitik harapan tak masuk akal bahwa suara itu milik Taeyeon, namun Luhan masih bisa menggunakan akal sehatnya untuk berpikir. Tak mungkin Taeyeon akan tiba-tiba bicara padanya tanpa ada keperluan.

Luhan yang tengah duduk di bangku dengan hanya membolak-balikkan halaman buku sains lekas membalikkan badannya, dan melihat seorang gadis berambut coklat bob yang dikenalnya sebagai teman sekelas. Namun Luhan tak tau siapa namanya. Bodoh! Mereka satu kelas tapi Luhan bahkan tak tau nama teman sekelasnya. Tak tau harus merespon apa, Luhan hanya tersenyum sedikit, lantas kembali pura-pura membaca buku agar tak ada lagi yang mengusiknya.

Entah karena sensor apa, reflek Luhan menoleh ke arah tempat duduk Taeyeon yang berada di dekat jendela baris ketiga dari depan. Gadis itu merapikan blazernya lantas berjalan keluar kelas. Luhan sempat memikirkan kemungkinan kemana gadis itu akan pergi. Lima menit lagi bel akan berbunyi, dan tidak mungkin Taeyeon berniat membolos dari pelajaran. Namun sampai bel berbunyi nyaring, Taeyeon belum kembali ke kelas. Luhan segera keluar kelas untuk mencarinya. Tak peduli lagi dengan pelajaran bahasa asing yang akan diajarkan gurunya di kelas.

Luhan berjalan sendiri di sepanjang koridor. Mata rusanya menyapu setiap tempat untuk menepatkan titik fokus lensa matanya pada objek sesosok gadis berambut hitam panjang dengan seragam yang sama dengannya. Namun tak terdapat tanda-tanda siluet yang diharapkannya akan terlihat.

Luhan menaiki tangga menuju loteng yang berada di atap sekolah. Konon tempat semacam itulah yang akan dipilih siswa-siswa dengan beragam masalah yang tengah mereka hadapi. Luhan intens mengamati tempat luas dengan tembok pagar setinggi dada di tepinya itu. Luhan menarik napas lega begitu tampak oleh indera penglihatannya Taeyeon tengah berdiri di salah satu pagar. Namun kelegaan Luhan berganti kecemasan secepat jarum detik jam berputar dari satu titik ke titik lainnya. Dari yang dilihat Luhan, Taeyeon mengambil posisi berdiri di pagar yang tak terlalu lebar itu, seolah siap melompat turun dari pagar menuju tanah dengan ketinggian kurang lebih sepuluh meter itu. Oh, apa gadis itu berniat bunuh diri? Benar-benar gila.

Tepat saja saat gadis itu benar-benar melompat dari pagar Luhan berhasil menangkap tangan Taeyeon. Luhan melongok melihat gadis yang kini memejamkan matanya itu. Sekuat tenaga Luhan menarik tubuh Taeyeon agar kembali menapak di lantai bangunan atap. Dengan tekad menyelamatkan gadis yang dicintainya dari maut, Luhan menarik tubuh Taeyeon perlahan dan…. hupp ….

Begitu Taeyeon sudah jauh dari pagar tempatnya —nyaris bunuh diri— gadis itu oleng dan roboh menimpa tubuh Luhan di bawahnya. Gadis itu begitu terkejut. Mungkin masih belum sadar jika aksi gilanya digagalkan Luhan. Namun begitu dilihatnya wajah Luhan yang begitu dekat —hanya lima sentimeter— di bawah wajahnya, taulah Taeyeon bahwa Luhan menolongnya. Taeyeon mengangkat tubuhnya menjauh lantas membantu Luhan berdiri, ia hanya meringis. Tampak oleh Taeyeon blazer di bagian siku Luhan robek dan terlihat luka lecet yang sedikit berdarah.Taeyeon masih diam, meski sejujurnya kata maaf akan segera terlontar begitu saja dari mulutnya.

“Kau tidak apa-apa, Taeyeon-ssi? Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?” Luhan mengusap sikunya lantas memperhatikan Taeyeon dari ujung rambut hingga ujung tumitnya. Luhan tersenyum ketika didapatinya Taeyeon baik-baik saja.

“Kenapa kau melakukan itu, Luhan-ssi? Lancang sekali kau mengurusi semua kehidupanku?” Suara Taeyeon yang tercekat terdengar sangat dingin. Luhan sempat tak percaya bahwa Taeyeon akan sedingin itu.

“Taeyeon-ssi, aku tidak tau apa ini bisa menghiburmu atau malah membuatmu lebih buruk. Aku hanya ingin berkata, mohon percayalah padaku. Aku benar-benar mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Karena itu aku mohon kau tidak akan berbuat nekat seperti ini lagi hanya karena kau merasa putus asa dengan kisah cintamu yang berakhir tragis.

Lalu bagaimana denganku? Bagaimana denganku yang mencintaimu? Apa kisah cintaku harus berakhir tragis juga hanya karena kau lebih memilih mengakhiri hidup demi orang yang sudah tiada? Mungkin bagimu aku hanya orang yang mendatangkan segala kesialan. Tapi percayalah aku benar-benar mencintaimu. Aku mohon, Taeyeon-ssi. Jangan berbuat hal konyol lagi.”

Taeyeon hanya bisa membeku mendengar segala sesuatu yang tampaknya mengganjal di hati Luhan itu. Luhan telah mengungkapkan segalanya. Segalanya yang ia rasakan. Sedikit tapi pasti Taeyeon tergugah olehnya. Taeyeon menyadari sikap egoisnya akan menyakiti orang lain. Entah siapa yang masih mencintai dan menyayanginya, namun siapapun itu Taeyeon tak ingin menyakiti hatinya. Dan mau tak mau Taeyeon berpikir untuk mempercayai Luhan. Mempercayai Luhan untuk membuktikan seberapa besar cintanya untuk Taeyeon.

“Saranghae, Taeyeon-ssi. Wo ai ni, Kim Taeyeon.” Luhan merengkuh tubuh Taeyeon dalam pelukannya secepat kilat. Taeyeon yang terlalu terkejut bahkan lupa sejenak cara untuk bernapas.

“Aku minta maaf untuk selalu membuatmu terluka karenaku. Aku minta maaf untuk selalu menyusahkanmu karenaku. Aku minta maaf untuk selalu mengusik kehidupan damaimu karenaku. Aku minta maaf untuk segala ketidaknyamanan yang kau rasakan karenaku.” Luhan berbisik lembut di daun telinga Taeyeon.

Gadis itu entah kenapa merasakan perasaan lain saat di pelukan Luhan. Ini bukan pertama kalinya Luhan memeluknya. Malam itu, di taman bermain, Luhan juga memeluknya. Benar, saat itu jujur saja Taeyeon merasakan kehangatan yang tak biasa di pelukan Luhan. Taeyeon merasa nyaman berada di pelukan Luhan. Namun kali ini, kehangatan itu berpadu dengan kenyamanan tak tertandingi hingga membuat Taeyeon enggan melepasnya begitu saja. Tanpa sadar Taeyeon menarik punggung Luhan untuk memeluknya lebih erat.

“Aku ingin begini lebih lama, Luhan-ssi. Gomawo. Terima kasih untuk membuatku nyaman disaat aku merasa tak nyaman.” Taeyeon membenamkan kepalanya di dada Luhan. Biarlah seragamnya basah karena air mata Taeyeon, toh Luhan tak merasa keberatan sama sekali.

“Asal kau tau, aku akan berusaha selalu bersamamu, Taeyeon-ssi.” Luhan melepaskan pelukan Taeyeon secara mendadak. Taeyeon dengan mata berkilaunya yang basah hanya menatapnya bingung. Luhan menarik tengkuk Taeyeon dan menurunkan wajahnya agar sejajar dengan wajah gadis itu.

“Ini yang kumau sejak awal aku menyukaimu, Taeyeon-ssi.” Secepat Luhan memeluk Taeyeon, secepat itu pula Luhan mengecup bibir manis milik gadis itu. Basah. Setidaknya itulah kesan pertama pada first-kiss mereka. Hati Luhan melonjak gembira saat gadis itu tak berusaha melarikan diri dari ciumannya. Taeyeon malah melingkarkan tangannya di leher Luhan. Setidaknya inilah saat yang dinantikan Luhan. Yakni saat Taeyeon mulai memberinya kesempatan untuk menunjukkan betapa besar cinta yang akan diberikannya hanya pada gadis itu.

*

Taeyeon dan Luhan bergandengan tangan di sepanjang koridor menuju kelas mereka. Keduanya saling melempar senyum dan tak peduli lagi dengan sorakan yang ramai terdengar di sekitar mereka. Persetan dengan gonggongan anjing, mereka tak akan terganggu dengan itu. Begitu tiba di kelas, ada seorang gadis berambut bob coklat lagi yang melempar penghapus papan tulis ke arah Taeyeon. Luhan yang melihatnya segera menarik Taeyeon dan alhasil penghapus yang penuh kapur itu mampir ke wajah tampan Luhan. Gadis yang melemparnya hanya memekik sebelum kemuian menutup wajahnya dan berlari ke luar kelas.

Taeyeon melihat pipi Luhan putih sebelah yang membuatnya tampak lebih manis. Dengan tangannya, Taeyeon mengusap bekas kapur itu hati-hati, seolah tak ingin merusak tiap inchi kesempurnaan di wajah laki-laki itu. Pipi Luhan sudah bersih seperti semula. Orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka fans Luhan tampaknya kini sudah bertransformasi menjadi antis hanya karena Luhan terang-terangan menunjukkan hubungannya dengan Taeyeon.

Terdapat beragam spekulasi aneh di antara fans-fansnya. Sebagian besar dari mereka menangis karena tak rela pangeran pujaan hati mereka nyatanya kini telah menjadi milik Taeyeon. Sebagian dari mereka semakin gencar membully Taeyeon, dan sebagian lainnya masih bertahan dengan harapan hubungan Luhan-Taeyeon akan berakhir dengan segera.

Sekali lagi, ayolah.. Luhan hanyalah siswa sekolah menengah atas biasa. Ia bukan superstar yang akan mengadakan conferensi press untuk pernyataan cintanya pada Taeyeon.

*

Taeyeon NOTE

Oppa, aku akan berusaha melupakanmu perlahan. Ani, aku melupakanmu bukan berarti aku menghapusmu dari kehidupanku. Aku hanya berusaha melupakan perasaan cintaku yang hanya untukmu. Terpaksa aku kini harus membaginya dengan satu namja bernama Luhan yang mulai menarik hatiku. Namja itu terus mengejarku meski aku bersikap kurang baik padanya. Syukurlah ia tak menyerah, hingga sekarang kami bisa bersama. Aku tak peduli dan tak akan pernah peduli lagi dengan banyaknya gangguan yang akan kuterima dari sasaeng yang nampaknya kini berusaha menghilangkanku dari muka bumi. Gwaenchana, aku akan baik-baik saja karena aku percaya Luhan akan menjagaku. Saranghae, Leeteuk Oppa.. meski kini aku hanya mencintaimu sebatas cinta adik pada kakaknya. Cinta tak terbagiku hanya akan kupersembahkan untuk Luhan seorang. Bodohnya aku yang butuh waktu lama untuk menyadari perasaanku sendiri.

Aku akan berusaha mencintainya. Dan bila aku sudah mencintainya, aku akan terus mencintainya,, mencintainya hingga kelak kami dewasa dan menikah lantas memiliki anak yang banyak anak O.O
Aku akan mencintainya lebih dan lebih lagi. Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk menjadikan cinta tak terbalasnya padaku dulu sebagai cinta tak terbatas. Aku percaya Luhan mencintaiku sebagaimana aku akan sangat mencintainya.

Advertisements

63 comments on “No Reasons To Love You

  1. Waahhh… luhan pantang menyerah ya utk dpt cinta taeyeon*patutditiru*
    thor nnti ada kelanjutannya gak?? Klu gak da gak papa kok thor. D tnggu karyanya yg lain lagi thor. Always fighting…

    • wahh.. ternyata ada juga yang suka..heuheu *terharu
      sequel masih dalam proses, gomawoo ya udah baca ~

  2. ihh paling sebel klo ada fans yg berlebihan kaya gtu! keren thor, bikin sequel’a pliss yg kehidupan setelah menikah’a atau lulus atau apalah #readermaksa…FIGHTING!

    • faktanya emang ada kok fans yang kayak gitu, hehe
      sequel masih dalam proses, tunggu yaa
      gomawo udah baca ~

  3. eoh ????
    akhirnya cinta Luhan tak setragis cinta TaeTeuk ㅋㅋㅋㅋ
    sequel plisssss…
    aahhhh … Taeng eonni udah berani terang”an ngelus pipi Lulu oppa ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

    ❤ 루태 ❤ LuTae ❤

  4. lantas memiliki anak yang banyak anak O.O
    wow Taeyeon dah mikir kesitu kekeke
    so sweet deh LuTaenya
    Lulu kamu keren, gak putus asa ma perasaanmu pada Taeyeon walaupun banyak halangan dan cobaan yang menghadang /ceilahbahasanya
    kamu tetap mempertahankannya dan membuktikannya terhadap Taeyeon

    next updatenya ditunggu thor~

  5. Woow daebak ff nya. Luhan so sweet bnget. hwa~ ada anti fansnya. kalau ada sequel bgus jg psti seru bnget. di tunggu next ff-nya. Fighting!

    • begitulah nasib si Lulu,, salahnya terlalu ganteng 🙂
      sequel masih dalam proses..ditunggu yaa
      gomawo udah baca

  6. Ini ff manis banget thor.
    Suka sama gaya u nyeritain ff ini.
    Tadinya aku pkir bakalan sad ending, eh ternyata..
    O ya thor, ini ff pertama u disini ya?
    Kok aq belom pernah liat nama author sebelumnya ya? ( atau mgkin aq yang lupa, hehe)
    fighting buat ff selanjutnya ya thor, 😀

    • heuheu.. makasih yaa
      iya nih author masih baru di sini, baru ngirim dua ff oneshot aja
      salam kenal yaa.. mohon bantuannya

  7. ffnya bagus thor^^
    Luhan nya pantang menyerah 😀
    Sequel dong thor?
    Ditunggu ff yang lainnya thor 😉 Fighting

  8. ffx bgs bgt thor,, ska bgt. lw bsa btin sequel donk thor,, psti seru bgt 2h.
    pi trsrh author sih..
    d’tgu ff lainx thor,,
    keep writing and Hwaiting!!

  9. kalau aku ketmu sma fans ya si luhan, hmm bakalan aku musnahin dari muka bumi ini juga. kekeke bercanda, abisnya jahat bgt sama taeng eonnie. kan kasian di dia judge abis-abisan kaya gtu. FF nya nice bgt thor, ditunggu karya2 lainnya 😀

  10. Luhan kuat bangett ya :”> udah di sakitin sama taeyeon masi setia aja sama taeyeon,untung aja mereka udah jadian :”> fansnya luhan annoying bangett -_- rasanya pengen namper satu satu wajah mereka -_-
    ffnya baguss authornimm JJANG! (y)

  11. Sequel juseyoo!!
    Ooh~ ternyata ‘oppa’ yang dimaksud Taeng itu Leeteuk..
    Taeng eonni!! Apa yang kao lakukann?! Jangan bunuh diri lagi, arra?!
    Lulu.. baguslah kau gak menyerah.. kalo kau menyerah mungkin kau gk bisa sama Taeng eon kayak gini~~ >.<
    Update soon yah eon.. ditunggu ff yang laennya
    Hwaitaeng!!

  12. Wahh thorr akhirnya happy ending juga luhan sm taeyeon………
    hwaa daebak thorr tapi aku boleh minta sequel g thorr? Jebal
    di tunggu sequelnya ya hehehehe…….lanjutin buat ff lainnyaaa thorr and happy ending
    -bye-

  13. aaa ini keren >.< lu ge pantang mnyerah buat dpet cintanya taeng, dan akhirnya mreka *yaya* thor ini btuh sequel xD next ff ditnggu authornim FIGHTAENG!

  14. Ahhhhhh
    aq jga mwu punya pcar kyak luhan oppa @ngarep
    sequel dong thor pngen twu nih khidupan mreka slanjutx

  15. Sequel donk ,, kenapa bagian akhir cuman ungkapan taeng doang luhan ga add… Sequel sequel

  16. Aiguuu kasian juga sih sama sasaeng fans nya wkwk daebak lah thor ga tau harus komen apa nih/? Fighting buat ff lain nya ㅅ.ㅅ

  17. akhirnya bersatu^^
    gak enak ya jadi luhan -_- bukan artis atau apapun itu, ada sasaeng fans yg berusaha ngelukain taeng #kkkk
    memang seperti itu mempunyai kelebihan pasti ada negatif dan positifnya..
    ff nya aku suka^^

    d tunggu ff selanjutnya thor^^ Hwaiting!!!^^

  18. waaa bagus-bagus
    jadi keinget Taeyeon yg pacaran sama Baekhyun trus dibash fan 😥
    buat ff BaekYeon ya, jebal !!!
    lagi ngefeel baca BaekYeon nih.. mungkin gra” mereka taken
    ditunggu ff yang lain
    keep writing… FIGHTING !!! ^^

  19. Rosaaaalll aku hadiir yaaaa>_< Gewla~ itu tuh Si Luhan manis banget tau gak? Tapi tapi sebenernya aku ga fokus ngebaca ini, karena Luhan jadi dibaca Baekhyun kejadian di ayunan itu kebayangnya malah BaekYeon di dalam mobil dengan kap terbuka '-' salahkanlah mataku dan juga otakku yang ngeyelan ini~ Tuhkan, si Oppak yg mati ternyata Lituk uda aku tebak sih.__. Pokoknya semua omongan Luhan disini aku sukaaaa, pinjem slogannya mastin dulu yaaa GOOD GOOD GOOD~~ Pokoknya Fighting Fighting!!! Kabarin aku kalo uda update yaaa yaaa, kbye♥

  20. Yay! Aku kira bakal sad ending tapi ternyata mereka jadi couple :*
    itu fansnya luhan sampe segitunya banget ya awloh -_-”
    Dan ternyata namja yg disukai taeng itu leeteuk? Taeteuk? 😮 hehe
    Kalau bisa bikin sequelnya yaa thor, kayanya bakal seru, luhannya romantis ><
    Ditunggu yaaa ff2 lainnya dari author^^

  21. Kyaaa kyaaa kyaaaa.. Tampol authornyaaaaaaa/? Wkwk.. Daebak thorrrr jeongmal daebak(?) FF iniiiii.. I love this FF more :* wkwk..
    Tp jujur, baca FF ini akusedih masa 😦 soalnya, taeng awalnya cinta sama org yg beda 5 thn dri dia.. Masalahnya aku jg cinta sama org yg beda 5 thn dariku.. Tp sayang kita putus/? #cie_curcol ini FF bener2 sama dah kayak kisah RL aku/? Tp bedanya klo si taeng ditinggal mati/? Sedangkan aku ditinggal putus/? :’D

  22. ff nya daebak gak tau lagi harus ngapain
    ampe terharu sakit banget kayaknya jadi luhan huhuhuhuhu 😥
    oh tane ayolah jangan bersikap gitu ke luhan dia kan baik !
    ini semua gara gara sasaeng fans gila itu sih mereka narkis banget ya jadi fans takut deh
    oh jadi oppa yang di sukai taeng itu leeteuk ya aku kira heechul hehehehe
    taeng unnie please jangan bunuh diri masih banyak yang sayang padamu ! untung ada luhan gak jadi deh bunuh dirinya
    tapi itu akhirnya ya ampun sosweet bingitz lega deh nafas #sambil teriak gaje
    itu yang taeyeon note nya kata kata juga menyentuh
    kayaknya kalo ada sequel bagus juga !!! tapi kalo gak ada gpp
    aku tunggu ff lainnya ya thor fightaeng !!!

  23. Min aku boleh minta tolong?
    Tolong buatin ff yg cast’a chanyeol sama taeyeon tp yg happy ending,aku jarang bgt liat ff disini yg make cast Chanyeol

    Tolong ya min 🙂
    Gomawo…

  24. Tinggalin jejak…………..
    Rada malu waktu baca yg bag ‘kiss’nya
    Tapi over all baguuss (Y)
    Semangat teruussss \^O^/

  25. Pingback: Loving Your More and More | All The Stories Is Taeyeon's

  26. Keren thor, aku jdi terharu dan mau menangis ;-(. Ceritanya itu seperti kisah cinta taeyeon saat ini ma baekhyun yg tdak byk dukungan dan restu dari para fans2 mereka. Author mau request ff taeyeon yg berchapter dong tapi ma suho ya, dan buat yg lebih bgus lagi spya aku bisa terus baca tulisan author dan selalu ngasih komen2 yg terbaik. Fighting thor dan salam taengers!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s