Ma Boy~ (Chapter 5)

ma-boy-copy-8

Bina Ferina ( Kookie28)

 

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan EXO, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG 18

 

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster, chu~

Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

Luhan mengalihkan tatapannya dari Jaejoong ke Taeyeon, yang juga sedang menatapnya dengan pandangan tidak percaya, kaget, dan bingung.

“Luhan… adik sunbae?” tanya Taeyeon tidak percaya.

Jaejoong menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Taeyeon-ah, apa kau setega ini kepada teman sendiri? YoonA sudah dari tadi mencarimu dan aku juga sudah berkeliling gedung sekolah untuk mencarimu. Kau membuat YoonA khawatir. Aku tidak menyangka ternyata kau sedang senang disini,” ujar Luhan dingin.

Taeyeon semakin terkejut. Ia bahkan tidak bisa menjawab perkataan Luhan. Bukannya merasa sakit hati karena ucapan Luhan, melainkan karena memikirkan bahwa ucapan Luhan itu benar.

“Apa YoonA meneleponmu daritadi?” tanya Jaejoong pelan.

Taeyeon menganggukkan kepalanya. Ia menunduk.

“Gwaenchannayo. Kau bisa kembali bersama Luhan. Aku akan pulang. Angkat wajahmu, Kim Taeyeon. Jelaskan semuanya pada YoonA, dan aku yakin ia akan mengerti. Tidak perlu dibawa sedih. Kau sudah cukup mengalami masa-masa berat hari ini,” hibur Jaejoong, sedikit mengejek Taeyeon.

“Sunbae,” tegur Taeyeon. Ia memanyunkan bibirnya.

Jaejoong tertawa. “Aku pulang, ya? Luhan-ah, aku pulang. Dan… kapan kau kembali ke rumah? Semuanya sudah menunggu. Rumahmu bukan di asrama, Luhan-ah. Kembalilah,”

“Aku akan pulang kalau aku mau pulang. Kau tidak perlu memaksaku, hyung. Pulanglah. Young-ie juga baru dari sini tadi,” jawab Luhan, tanpa memandang Jaejoong.

“Jinjjayo? Dan hasilnya sama saja? Sepertinya ia sia-sia bolak-balik datang ke sini. Apa kau tidak iba?” tanya Jaejoong. “Dia pasti sangat menyayangimu,”

Mendengar perkataan Jaejoong, Luhan hanya tersenyum kecut dan tidak balas memandang Jaejoong. Taeyeon hanya bisa mendengarkan pembicaraan dua insan yang ada di depannya ini dengan tampang bingung. Ia tidak mengerti mereka sedang mengobrol apa, dan itu membuat Taeyeon penasaran. Young-ie? Dari tampang Luhan, Luhan tidak percaya gadis itu menyayanginya. Kenapa? Bukannya selama ini Luhan meladeni semua perempuan?

“Kalau begitu, aku pulang. Jaljayo, Taeyeon-ah,” pamit Jaejoong dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya yang tampan. Dan lagi, hati Taeyeon melayang tanpa bisa dikontrolnya.

Begitu Jaejoong pergi dari hadapan Luhan dan Taeyeon, Taeyeon memandang Luhan, yang sedang memerhatikan sekumpulan bunga mawar yang di tanam di sudut lapangan sepak bola. Tidak, dia tidak memerhatikannya. Dia memang melihat bunga itu, namun tampaknya pikirannya sedang melayang entah kemana.

Ekspresi yang sama sekali berbeda dari seorang Xi Luhan yang biasanya. Ekspresi yang baru pertama kali dilihat Taeyeon.

“Ya,” panggil Taeyeon pada Luhan.

Luhan sadar dari lamunannya. Ia menatap Taeyeon lalu menghela nafas panjang. Ia tersenyum lebar sekali pada Taeyeon, membuat Taeyeon heran setengah mati. Bukankah tadi dia bersikap dingin pada Taeyeon? Dan bukankah baru saja dia tampak seperti sedang tertekan batin? Kenapa sekarang tiba-tiba tersenyum lebar seperti biasanya?

Apa memang seperti ini Luhan yang sebenarnya? Selalu berubah-ubah?

“Kajja, kita kembali ke asrama. YoonA sudah menunggumu,” ajaknya.

Taeyeon mengangguk dan ia mengikuti Luhan menuju asrama dari belakang.

(OST. Baek Ji Young – Love is Not a Crime)

Selama perjalanan menuju asrama, keduanya diselimuti oleh keheningan. Luhan yang biasanya selalu membuat Taeyeon marah dan kesal kini hanya diam dan sesekali melihat langit malam. Ia bahkan tidak menunggu Taeyeon yang berjalan di belakangnya. Seakan-akan Luhan tidak menyadari adanya Taeyeon bersamanya. Taeyeon penasaran ada apa dengan Luhan. Namun, ia tampaknya tidak ingin memikirkan hal itu.

“Aahh!” seru Taeyeon tiba-tiba. Kaki kanannya tidak sengaja terpeleset saat ia tidak sengaja menginjakkan kakinya ke aspal yang basah.

Taeyeon akan terjatuh jika ia tidak langsung memegang pergelangan tangan kiri Luhan. Luhan, yang merasa pergelangan tangan kirinya ditarik, langsung menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Taeyeon dengan pandangan kaget. Ia langsung menggenggam tangan Taeyeon erat-erat.

“Apa yang terjadi denganmu? Gwaenchanna?” tanya Luhan, panik.

“Ani, gwaenchannayo,” jawab Taeyeon. Nafasnya sedikit terengah-engah karena kaget.

“Hati-hatilah,” ujar Luhan memperingatkan. Kini ia menggenggam telapak tangan Taeyeon kuat-kuat dan mereka berjalan berdampingan sekarang.

Taeyeon yang menyadari itu langsung berniat melepasnya. Namun, melihat Luhan yang tersenyum lembut membuat niat itu tidak terwujud. Ia hanya membiarkan tangan Luhan menggenggamnya dengan erat untuk sekali ini saja.

“Sepertinya aku harus sering berada di dekatmu. Kau gadis yang ceroboh dan sering menimbulkan masalah jika tidak di jaga. Dan akulah yang pantas menjagamu,” ujar Luhan dengan senyuman sombongnya yang lebar.

“Jaga saja dirimu sendiri,” jawab Taeyeon singkat.

Luhan hanya tersenyum.

“Kenapa kau tidak datang ke lapangan sepak bola tadi?” tanya Taeyeon.

“Wae? Kau merindukanku?” Luhan balas bertanya.

“Aku tidak akan bertanya lagi,” jawab Taeyeon.

“Ada urusan mendadak. Dan tidak bisa kutinggalkan. Mungkin besok malam aku akan main. Besok malam kau tidak lagi jadi asisten kami, ‘kan? Aku pasti akan merasa kesepian,”

“Kau bisa cari perempuan lain untuk jadi asistenmu,” kata Taeyeon. “Tapi urusan apa itu? Kau bawa perempuan lain lagi ke kamarmu? Dan apa ada hubungannya dengan gadis yang bernama Young-ie itu? Ckckck~. Kau pasti mendua,”

“Kenapa kau menuduhku yang tidak-tidak? Kalau kau penasaran dengan apa yang kulakukan, kau bisa terus menempel padaku,” ujar Luhan.

“Tidak akan,” gumam Taeyeon pelan. “Eoh, apakah aku boleh bertanya lagi?”

Luhan memutar tubuhnya menghadap Taeyeon. Tapi tautan di antara jari mereka belum terlepas, padahal sekarang ini mereka sudah berada di depan asrama perempuan.

“Mwonde?”

“Apa benar kau adiknya Jaejoong sunbae? Soalnya aneh sekali, bukan? Selain kalian tidak mirip, bukannya kau itu keturunan Chinese?” tanya Taeyeon.

Luhan tersenyum kecil pada Taeyeon. “Wae? Kau menyukai Jaejoong hyung? Ani, kau menyukai kakakku?”

“Aniyo—,”

“Jujur saja. Dari tatapanmu padanya itu sudah jelas sekali terlihat. Kau tidak bisa menipuku. Kau menipu seseorang yang sudah berpengalaman akan hal itu,” ujar Luhan.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kenapa kau malah mengatakan hal yang tidak-tidak?” tanya Taeyeon kesal.

“Sudah jelas, ‘kan? Aku ini adik tirinya Jaejoong hyung. Semuanya juga sudah tahu, bahkan Chanyeol dan yang lainnya sangat dekat dengan dia. Kau kurang mengorek-ngorek informasi soal Jaejoong hyung. Kalau kau menyukainya, seharusnya kau tahu banyak soal dia. Itu yang membuktikan kalau kau benar-benar peduli padanya. Setidaknya supaya dia tersentuh. Jaejoong hyung itu walaupun perawakannya dingin tapi ia akan merasa tersentuh juga dengan seseorang yang peduli dengannya. Tentu saja bukan dengan perempuan-perempuan yang bersikap berlebihan padanya,” kata Luhan panjang-lebar.

“Aku murid baru disini. Mana mungkin dengan mudahnya aku mengetahui semua tentang Jaejoong sunbae?” bela Taeyeon.

Luhan tertawa. “Bagaimana dengan para fans-nya? Mereka itu mengalah-ngalahkan sasaeng fans. Dua hari saja mereka semua tahu tentang Jaejoong hyung. Tapi, mereka tidak dekat dan tidak pernah mengobrol dengannya. Mungkin hanya dirimu yang beruntung. Lagipula, aku juga kaget sekali saat melihatnya berdua denganmu. Dia tidak pernah mau berduaan dengan perempuan biasanya. Jaejoong hyung memiliki pandangan yang berbeda padamu dari perempuan kebanyakan. Dan aku juga berpendapat begitu. Kemungkinan, kau bisa dekat dengannya dan mengetahui semua tentangnya. Walaupun memang tidak mudah,”

“Aku tidak tahu bagaimana caranya mendekati Jaejoong hyung atau mencari tahu tentangnya. Aku juga tidak tahu apakah Jaejoong sunbae akan suka aku dekati terus. Biarpun dia mau mengobrol denganku bukan berarti dia suka aku dekati terus, ‘kan? Jaejoong sunbae bukan seperti laki-laki kebanyakan. Dia tidak akan suka kalau aku dekati dan mencari-cari informasi tentangnya,” ujar Taeyeon pelan.

Luhan melepaskan genggamannya dan sebagai gantinya ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua pundak Taeyeon. Taeyeon menatap Luhan dengan pandangan bertanya-tanya. Luhan menatap manik mata Taeyeon lekat-lekat dan tersenyum simpul.

“Kenapa kau tidak mengandalkan aku?” tanyanya pada Taeyeon.

“Apa maksudmu?” Taeyeon balik tanya. “Aahh, aku mengerti. Tidak, tidak perlu. Kau tidak perlu membantuku mencari informasi tentang Jaejoong sunbae. Jaejoong sunbae bisa curiga dan ia akan mengira kalau aku memanfaatkanmu karena kau adik tirinya. Aku tidak ingin seperti itu,”

“Kenapa pikiranmu pendek sekali? Aku juga tidak sebodoh itu. Ada lagi caranya dan ini pasti manjur. Kau tidak hanya tahu segala sesuatu tentang Jaejoong, kau juga bisa dekat dengannya. Kau akan tahu kenapa ia bisa memiliki seorang adik tiri,”

“Bagaimana caranya?”

“Manfaatkan aku,” jawab Luhan tegas. “Kau benar-benar sangat menyukai Jaejoong hyung, ‘kan? Manfaatkan aku dengan cara—kita pacaran,”

Taeyeon langsung menepis kedua tangan Luhan dari pundaknya. “Andwae. Shirheo. Aku tidak pernah pacaran dan belum pernah merasakannya. Aku ingin pacaran dengan seseorang yang kucintai. Dan aku ingin pacaran dengan seseorang yang berperilaku baik. Aku tidak ingin berpacaran denganmu. Apa kau pikir itu akan berdampak baik. Ani, justru aku yang tampak seperti orang bodoh,”

“Ya, kau pikir aku seburuk apa di matamu? Aku hanya menyarankan. Dengan kau menjadi pacarku, kau bisa bebas dekat dengan Jaejoong hyung dan pergi kerumahnya. Dirumah, kau akan tahu kebiasaan hyung. Kau tidak mau? Begitulah cara yang aman. Katakan saja pada orang-orang kalau aku sampai berlutut padamu untuk memintamu menjadi pacarku, dan itu sebabnya kau memberiku kesempatan menjadi pacarmu. Beres, ‘kan?”

Taeyeon menyipitkan matanya menatap Luhan. “Aku tidak akan punya kesempatan untuk memiliki hubungan yang lebih dengan kakakmu. Karena otomatis, kakakmu tahu aku pacarmu,”

Luhan tertawa. “Ternyata kau sungguh-sungguh menyukainya, ya? Kalau seperti itu, apa gunanya aku menolongmu? Aku akan membuat dia menyukaimu dan aku akan berusaha menjodohkan kalian. Itu semua akan terwujud kalau aku yang mengaturnya. Kau percaya saja padaku,”

“Chakkaman, kenapa kau tiba-tiba saja ingin membantuku? Kau tidak punya niat yang lain, ‘kan?” tanya Taeyeon curiga.

Luhan diam sesaat. Ia tampak sedang memikirkan jawaban yang pas untuk ia katakan. Dan ini semakin membuat Taeyeon curiga.

“Wae? Kau memang punya niat lain, ‘kan?” tanya Taeyeon lagi.

“Aniyo. Aku ingin membantumu karena aku mengagumimu. Walaupun Jaejoong hyung itu kakak tiriku, tapi aku sangat menyayanginya. Semua perempuan yang mendekatinya bisa dibilang tertarik karena ketampanannya. Dan hanya kaulah yang tidak melihat itu. Benar, ‘kan? Kau gadis yang baik dan berbeda dari yang lain. Kurasa kau cocok untuk kakakku. Lagipula, kakakku juga suka dengan tipe sepertimu. Jadi, tidak ada salahnya aku mencoba membantu dan menghilangkan keanehannya yang tidak suka dekat dengan perempuan,” jawab Luhan.

Taeyeon diam. Ia mencoba membaca raut wajah Luhan, menelitinya apakah Luhan bohong.

“Otte? Kau tidak mau kubantu? Untuk masalah menjadi pacarku, tenang saja. Ini, ‘kan Cuma pura-pura. Di depan publik kita pura-pura pacaran, di belakang ya kita seperti biasa. Kau juga bisa belajar bagaimana menjadi pacar hyung nantinya,”

Taeyeon menundukkan wajahnya, ia tampak sedang menimbang-nimbang tawaran dari Luhan. Hati dan pikiran Taeyeon berkecamuk untuk menentukan jawaban dari tawaran Luhan tersebut. Logikanya mengatakan untuk menolak tawaran tersebut karena Taeyeon sudah merasa ada yang tidak beres dari diri Luhan yang mau membantu Taeyeon.

Namun, hatinya menjerit agar Taeyeon mau menerimanya. Bagaimana tidak? Tawaran itu memberikan keuntungan besar bagi Taeyeon. Wajah Jaejoong yang dihiasi senyuman manisnya langsung memenuhi pikiran Taeyeon.

“Bagaimana?” tanya Luhan lagi.

Taeyeon menelan ludah sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya. “Ne,”

Luhan tersenyum lebar. Bahkan tulang pipinya sampai naik. Ia kelihatan bahagia. “Kau memang pintar memutuskan sesuatu. Baiklah, mulai hari ini kita menjalin hubungan. Kalau orang-orang bertanya kenapa kau menerimaku, katakan saja seperti yang kukatakan tadi. Berpura-pura sajalah, dan manfaatkan aku dengan baik,”

Luhan mengacak-acak rambut Taeyeon dengan sayang. Taeyeon sedikit kaget. Ia belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari laki-laki kecuali kakek dan pamannya. Dan ia pernah diberitahu kakeknya kalau kakeknya melakukan hal seperti itu karena kakeknya sayang padanya. Itu sebabnya Taeyeon sangat suka kalau kepalanya dielus-elus.

Taeyeon menjauhkan kepalanya dari tangan Luhan, membuat Luhan menghentikan aktifitasnya.

“Wae?” tanya Luhan.

“Kau jangan mengacak-acak rambutku seenaknya,” jawab Taeyeon kesal. Tidak, Taeyeon tidak benar-benar kesal. Ia hanya tidak tahu harus melakukan apa kalau rambutnya dielus dengan sayang seperti tadi.

“Kalau di depan yang lainnya, kau harus suka diperlakukan seperti itu. Kalau tidak, semua akan gagal,” kata Luhan memperingatkan.

“Arraseo,” jawab Taeyeon pendek. Ia mengalihkan pandangannya.

“Kalau begitu, masuklah ke asramamu. Aku sudah memberitahu YoonA tadi kalau kau aman bersamaku dan menyuruhnya untuk tidur lebih dulu. Besok pagi, kau bisa menjelaskannya. Dan jelaskan tentang hubungan kita yang baru,” kata Luhan sembari tersenyum manis. “Biarpun itu YoonA, kau tidak bisa membeberkan yang sebenarnya. Karena satu orang saja yang tahu, semua akan tahu. Dan Jaejoong hyung akan semakin merasa tersakiti kalau dia tahu alasanmu pura-pura menjadi pacarku,”

“Ne, arraseo wangjanim,” jawab Taeyeon.

Luhan tertawa mendengar Taeyeon memanggilnya dengan sebutan “pangeran”. “Ya sudah, masuklah,”

Taeyeon hendak melangkahkan kakinya menuju asramanya. Namun, Luhan menghentikannya dengan menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon. Taeyeon menghadap wajahnya ke Luhan dan menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa?”

“Aku lupa sesuatu,” jawab Luhan. Ia menggenggam kedua telapak tangan Taeyeon dan menatap Taeyeon lekat-lekat. “Mulai hari ini kau kekasihku,”

Taeyeon mengerutkan dahinya mendengar perkataan Luhan. Tidak sampai disitu, Luhan sedikit memiringkan kepalanya mendekati wajah Taeyeon. Taeyeon membelalakkan matanya begitu wajah mereka berdekatan. Ia tidak bisa menjauhkan dirinya, dan Taeyeon tidak tahu kenapa. Ia semakin terkejut lagi ketika Luhan mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi kiri Taeyeon.

“Jaljayo, chagiya,” bisik Luhan.

Ia melepaskan genggamannya dan melangkahkan kakinya ke asrama laki-laki. Taeyeon hanya diam tidak bergerak. Ia terkejut. Ini pengalaman pertamanya. Sedangkan Luhan hanya tersenyum kecil melihat reaksi dari Taeyeon, yang kini menjadi kekasihnya.

~~~

“Mwo?!” seru YoonA saat Taeyeon sudah selesai bercerita tentang kejadian kemarin malam.

Begitu YoonA teriak, satu penghuni asrama yang tengah mengobrol di depan pintu gedung asrama menoleh melihat YoonA, yang menjadi orang pertama menimbulkan kebisingan di pagi hari.

Taeyeon hanya diam melihat reaksi YoonA. Ia sudah tahu bagaimana reaksi YoonA dan Taeyeon tidak ingin banyak komentar. Karena ia sendiri pun juga malas menanggapinya.

“Ya, Taeyeon-ah. Apa kau sadar yang telah kau ucapkan? Maksudku, kau tidak sedang bermimpi, ‘kan? Bagaimana bisa—ani, kau hanya bergurau, keutchi? Kau hanya mengerjaiku, ‘kan?” tanya YoonA, masih dengan wajah shock-nya.

“Aku serius. Kalau masalah seperti ini mana mungkin aku bercanda,” jawab Taeyeon pelan.

“Aku mengenalmu dengan sangat baik. Walaupun lebih dari 3 tahun kita berpisah, sifat anti-mu terhadap playboy tidak akan berubah. Kau tidak akan mungkin bisa dengan mudahnya termakan kata-kata manis Luhan. Kau bukan perempuan seperti itu,” ujar YoonA bersikeras.

“Gomawoyo, kau masih mengenalku dengan sangat baik. Keundae, jangan lupa juga kalau aku ini tidak suka membuat lelucon yang bertolak belakang denganku,”

“Aku tahu. Aku hanya sulit percaya. Dan bukannya kau menyukai Jaejoong sunbae? Kenapa tiba-tiba kau lari ke Luhan, yang sifatnya bahkan sangat bertolak belakang,” kata YoonA. Ia benar-benar sulit percaya. “Apa kau diberi ramuan oleh Luhan?”

“Dengar, Yoong,” potong Taeyeon sambil menghela nafas panjang. “Aku bermaksud untuk memercayai laki-laki itu. Aku tahu bagaimana sifatnya, aku bahkan pernah melihatnya. Tapi, kemarin malam ia memohon padaku untuk memberinya sedikit waktu. Ia berjanji akan berubah dan menjadi laki-laki yang aku inginkan. Aku tidak luluh dengan kata-kata manisnya. Aku hanya mencoba untuk percaya,”

Damn! Alasan macam apa itu? gumam Taeyeon dalam hati. Kalau saja ada seorang produser film di sekitar mereka, mungkin Taeyeon layak ikut casting.

“Aku tidak mendengar dari mulut Chanyeol dan yang lainnya kalau dia berniat mengejarmu. Kenapa tiba-tiba…?”

“Itu adalah salah satu bentuk perubahannya. Ia tidak ingin mengumbar siapa gadis yang akan menjadi korbannya. Melainkan dia akan memperkenalkan seseorang yang benar-benar ia sayangi,”

“Oh, God,” keluha YoonA.

“Aku memang tidak mencintai laki-laki itu, tapi aku hanya ingin sekali mempercayainya. Dia begitu menjagaku dengan sangat baik kemarin malam. Dia melindungiku, Yoong. Dan aku sangat tersentuh,” kata Taeyeon. “Kau pernah berpacaran dan aku belum. Aku ingin merasakannya,”

“Oke, aku tahu. Karena kau belum pernah merasakannya mungkin kau menjadi mudah terenyuh dengan sikap Luhan. Tapi, kalau kau sudah terlanjur mencintai dia, dan dia menyakitimu aku tidak akan pernah mau mendengar ceritamu, arraseo?”

“Arraseo. Aku juga tidak akan terlalu menyukainya. Ini hanya percobaan dan membuat dia senang,” jawab Taeyeon.

YoonA menatap Taeyeon dengan tatapan pasrah. Ia membuang nafasnya pendek dan menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak bisa melarang cintanya Luhan,”

Mianhae, YoonA, gumam Taeyeon dalam hati. Setelah bercerita cukup panjang, akhirnya Taeyeon dan YoonA bergegas menuju pintu asrama. Beberapa detik kemudian, mood YoonA sudah agak membaik setelah Taeyeon kembali menceritakan soal boxer labu itu, membuat YoonA terbahak-bahak. Walaupun YoonA itu dijuluki primadona di tingkat dua tidak membuatnya meninggalkan kesan laki-laki dalam dirinya, dan itu yang membuat Taeyeon nyaman dekat dengan YoonA sejak kecil.

“Luhan oppa ada di depan asrama kita?! Jinjjayo? Buat apa dia datang ke sini pagi-pagi begini?”

“Mwonde?” tanya YoonA keheranan.

Beberapa siswi berkumpul di depan pintu gedung asrama, membuat Taeyeon dan YoonA sulit keluar. Mereka terkikik pelan sambil menutup mulut mereka. Ada juga siswi yang berlagak malu-malu.

“Ada apa? Apa Rain konser di depan gedung asrama kita?” tanya YoonA pada salah satu siswi disitu.

“Aniya, Luhan dan teman-temannya sedang berdiri di depan gedung asrama. Sepertinya mereka menunggu seseorang,” jawabnya.

Hati Taeyeon mencelos. YoonA langsung menoleh menatap Taeyeon, yang berpura-pura memasang wajah tidak tahu apa-apa.

“Ternyata gurauanmu benar,” kata YoonA pada Taeyeon. “Dan seseorang itu akan keluar,” sambung YoonA pada siswi itu.

Begitu Taeyeon dan YoonA keluar, Luhan langsung menolehkan kepalanya dan tersenyum sangat lebar kepada Taeyeon. Dan Luhan tidak sendiri. Ia ditemani oleh Sehun dan Chanyeol.

“Jadi kekasih baru Luhan hyung itu Taengoo?” tanya Sehun.

“Ne,” jawab Luhan dengan wajah sumringah.

“Wah, daebak. Kenapa kau tidak cerita hyung?” tanya Sehun lagi.

“Aku tidak percaya Luhan bisa menaklukkan hati seorang Kim Taeyeon,” kata Chanyeol sambil tertawa. “Aku pikir cerita Luhan hyung kemarin hanya bualan saja,”

“Aku akan menjaga Taeyeon-ie dengan sangat baik,” kata Luhan sambil menatap Taeyeon. Taeyeon hanya menundukkan wajahnya. Ia belum terbiasa.

“Tentu saja. Aku tidak akan segan-segan membuangmu ke China jika kau menyakiti sahabatku,” kata YoonA dengan mimik serius.

“Omo,” ujar Sehun dan Chanyeol serempak.

Mendengar itu, YoonA tertawa. Sehun dan Chanyeol juga ikut tertawa. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju gedung sekolah. Sedangkan Taeyeon dan Luhan mengikuti di belakang mereka.

“Kenapa sampai menungguku di depan asrama?” tanya Taeyeon langsung.

“Sebagai pacar yang baik, memang harus melakukan itu,” jawab Luhan. “Tapi bagaimana caranya kau membuat YoonA percaya padaku?”

“Aku membujuknya. Aku katakan saja kau akan berubah menjadi laki-laki yang baik ketika berpacaran denganku,” jawab Taeyeon pelan.

Luhan hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mengatakan hal itu, Taeyeon menghentikan langkahnya perlahan. Baru saja ia melihat Jaejoong melintas tidak jauh di depannya. Ia pergi ke taman seperti biasanya sambil membawa sebuah buku dan pulpen. Beberapa siswi menyapanya dengan riang, dan Jaejoong hanya diam saja.

“Sapu tangannya masih ada bersamamu?” tanya Luhan, yang ikut melihat Jaejoong.

Taeyeon tersadar dan ia menatap Luhan. “Ne?”

“Kau masih punya alasan untuk menghampirinya hari ini. Berikan saja sapu tanganku padanya. Katakan padanya aku memintanya untuk menjaganya dengan baik. Aku akan pergi kekelas duluan,” kata Luhan. “Bye,”

Sebelum pergi meninggalkan Taeyeon, Luhan mengacak-acak puncak kepala Taeyeon dengan sayang. Taeyeon terkejut lagi. Lalu, Luhan kembali melangkahkan kakinya menuju gedung sekolah. Begitu Luhan pergi, Taeyeon menyentuh puncak kepalanya, yang tadi dielus Luhan. Perlakuan Luhan itu membuat para siswi yang melihatnya iri.

~~~

(OST. Back in Time – Lyn)

Taeyeon menyerahkan sapu tangan berwarna hijau itu kepada Jaejoong, yang tengah menengadahkan wajahnya ke langit biru yang diselimuti awan putih. Jaejoong menolehkan wajahnya menatap Taeyeon dan tersenyum. Ia membenarkan posisi duduknya dan meletakkan buku yang ia bawa di samping kirinya.

“Luhan menyuruhku untuk menjaga sapu tangan itu baik-baik?” tanya Jaejoong.

Taeyeon menganggukkan kepalanya.

“Ini sapu tangan kesayangannya. Semenjak aku menjadi kakaknya, ia seringkali menyuruhku untuk menyimpannya. Padahal aku sudah meletakkannya rapi-rapi di lemari pakaiannya, tapi tetap saja Luhan kembali menyuruhku untuk tetap menjaganya. Ia sayang dan benci sekaligus pada sapu tangan ini,” kata Jaejoong seraya mengambil sapu tangan itu dari tangan Taeyeon dan menyimpannya di dalam celananya.

“Wae? Kenapa bisa seperti itu?” tanya Taeyeon bingung.

Jaejoong menatap Taeyeon. Lalu ia sedikit menggeser tubuhnya ke kanan dan menepuk-nepuk bangku taman yang sedang didudukinya, menyuruh Taeyeon duduk. Taeyeon tersenyum kecil dan ia duduk di samping kiri Jaejoong. Sekilas Taeyeon melirik ke arah buku yang sering di bawa Jaejoong. Buku itu tertutup rapi di sampingnya.

“Kurasa hanya Luhan yang bisa menjelaskannya padamu. Kalau aku cerita, bisa jadi nanti malam ia membunuhku. Kalau kau berani, kau bisa tanya sendiri pada Luhan,” jawab Jaejoong.

Taeyeon diam mencerna jawaban dari Jaejoong. Ia sedikit penasaran apa yang membuat Luhan begitu marah perkara sapu tangan. Taeyeon dan Jaejoong sama-sama diam tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Taeyeon sibuk menerka-nerka apa yang membuat Luhan benci dan sayang pada sapu tangan itu.

Angin berhembus cukup kencang menerpa Taeyeon dan Jaejoong, membuat rambut Taeyeon berterbangan kesana-kemari. Buku Jaejoong pun juga terbuka dan memperlihatkan isinya. Taeyeon tidak sengaja melihat isinya dan mulutnya ternganga.

“Wah, daebak!” seru Taeyeon. Ia refleks mengambil buku itu dan mengelus gambar yang ada di dalam buku itu.

“Eoh, itu—,”

“Sunbae yang menggambarnya?” tanya Taeyeon. Wajahnya kelihatan sangat tertarik.

“Eoh, tapi itu belum selesai. Jangan memasang wajah seperti itu. Itu belum apa-apa,” jawab Jaejoong sambil tersenyum.

Taeyeon memerhatikan gambar yang dibuat sendiri oleh Jaejoong. gambar itu menunjukkan seorang laki-laki yang berada di dalam box telepon umum, berteduh dari hujan. Laki-laki itu tengah memerhatikan seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari box telepon. Tubunya dibiarkan basah oleh hujan. Dan perempuan itu melihat seekor kupu-kupu besar yang terbang di atasnya.

Taeyeon tidak tahu, tapi ia merasa begitu tersentuh oleh gambar Jaejoong ini. Simple, tapi terkesan romantis. Dan cara Jaejoong menggambarnya juga terlihat seperti seorang professional.

“Apa ini berkisah tentang cinta pada pandangan pertama?” tanya Taeyeon.

“Kenapa kau bisa tahu? Apa kau mengalaminya?” Jaejoong balik bertanya sambil bercanda.

“Ani. Aku bisa membacanya. Aku suka sekali membaca sebuah lukisan. Aku juga suka lukisan,” kata Taeyeon riang.

“Jinjjayo? Nado,” timpal Jaejoong sambil tersenyum.

“Jeongmal? Lukisan seperti apa yang sunbae sukai?” tanya Taeyeon semangat.

“Ehmm… lukisan yang seperti Starry Night-nya Vincent van Gogh. Aku suka ornamen-ornamen yang dia ciptakan. Lukisan klasik yang membuat jiwa tenang. Aku suka cara dia menggambarkan alam kebebasan dengan warna langit malamnya,” jawab Jaejoong antusias.

“Benar. Starry Night. Lukisan pertama yang kulihat, dan membuatku menyukai sebuah lukisan. Walaupun begitu, aku tidak bisa melukis. Tapi gambar sunbae benar-benar membuatku terpukau. Cara sunbae menggambarkannya begitu hangat. Aku jadi teringat lukisan Cafe Terrace-nya Vincent van Gogh,

“Jinjja? Aku memang suka dengan lukisan itu. Dan aku memang terinspirasi dari lukisan itu. Kelihatan, ya? Matamu jeli juga,”

“Kalau masalah lukisan, aku mungkin bisa menguasainya. Aku sangat suka melihatnya. Punya makna yang tersirat,” ujar Taeyeon. Ia memandangi gambar yang Jaejoong buat itu. “Apa selama ini sunbae ke sini pagi-pagi hanya untuk menggambar?”

“Tidak setiap hari. Di kelas biasanya aku tidak melakukan apa-apa. Biasanya sibuk dengan ujian dan osis. Tapi dua minggu ini free. Aku memanfaatkannya dengan menggambar. Hanya sekadar mengisi waktu luang dan menuangkan imajinasi saja,” jawab Jaejoong.

“Aah, begitu,” kata Taeyeon. Ia meneliti lagi gambar yang dibuat Jaejoong dan mencoba menebak apa isinya. Taeyeon menduga ini adalah kisah si laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada perempuan yang tengah memandang kupu-kupu. Namun, tampaknya si perempuan ini tidak mengetahuinya.

“Apa ini berdasar kisah nyata?” tanya Taeyeon.

Jaejoong diam. Ia sibuk berpikir. “Mungkin bisa dibilang begitu. Aku melihatnya secara langsung,”

“Ah, benarkah?”

“Kau mau menyimpan gambar ini?” tanya Jaejoong.

Taeyeon menatap Jaejoong dengan pandangan tidak percaya. “Bolehkah?”

“Tentu saja. Aku suka menggambarnya, jadi di rumah ada tiga lembar gambar yang sama. Kau boleh menyimpan yang itu,” jawab Jaejoong. Ia mengambil buku itu dari tangan Taeyeon dan merobek kertas yang berisi gambarnya. Lalu menyerahkannya kepada Taeyeon.

“Jinjjayo? Wah, gamsahamnida, sunbae,” kata Taeyeon senang. Ia menerimanya dengan senyuman lebar.

Jaejoong tersenyum melihat Taeyeon. “Aku sering mengunjungi pameran lukisan. Kalau ada lukisan yang baru keluar, aku mungkin bisa mengajakmu,”

“Jeongmal? Ne, aku mau sekali ikut,” ujar Taeyeon semangat.

“Karena kau dekat dengan Luhan, aku bisa mengontakmu lewat Luhan saja, ne?” ucap Jaejoong.

Taeyeon hanya mengangguk sambil tersenyum manis.

~~~

Taeyeon menatap kertas yang berisi gambar buatan Jaejoong sambil senyam-senyum. Ia senang bukan kepalang. Entah apa yang membuatnya begitu beruntung. Ia bisa mengobrol dengan Jaejoong saja sudah cukup. Dan sekarang? Ia bahkan diajak ke pameran lukisan yang sering Jaejoong kunjungi.

Taeyeon melangkah menuju kelasnya sambil menari-nari kecil. Namun, tarian kecilnya yang lucu itu harus terhentikan karena tepat di depan kelasnya, Taeyeon melihat kerumunan kecil yang semuanya adalah perempuan. Dan Taeyeon juga bisa melihat para siswi itu mengerubungi Luhan. Hal yang biasa Taeyeon lihat selama ia sekolah di sini.

Taeyeon melangkahkan kakinya menuju kelas dengan langkah perlahan. Ia tidak mau Luhan ataupun salah satu dari mereka menyadari kehadirannya. Namun, keinginannya tidak terkabulkan. Luhan melihat Taeyeon dan memanggilnya.

“Ne?” sahut Taeyeon seraya menoleh ke Luhan.

Luhan tersenyum dan ia keluar dari kerumunan itu. Luhan mendatangi Taeyeon dan tanpa diduga-duga, ia menggenggam telapak tangan kanan Taeyeon erat-erat. Taeyeon membelalakkan matanya sedangkan yang lain memekik perlahan.

“Mian, tapi aku tidak bisa lagi ada di samping kalian ataupun kencan dengan kalian satu per satu. Aku sudah punya Taeyeon-ie, dan dia adalah pacarku. Aku tidak akan menyakitinya,” kata Luhan dan ia hendak menarik Taeyeon masuk ke dalam kelas.

Taeyeon tak bisa berkata apa-apa. Dia bingung harus berkomentar apa, dan menyerahkannya semua pada Luhan.

“Bagaimana bisa? Apa perempuan ini sudah menyerahkan semuanya?” tanya salah satu dari mereka dengan nada sarkasme, yang membuat Taeyeon marah.

“Ne,” jawab Luhan cepat, sebelum Taeyeon meledak. Taeyeon menatap Luhan dengan pandangan tidak percaya setelah mendengar jawaban Luhan. “Dia menyerahkan semua kepercayaannya padaku dan aku tidak akan pernah mengotori kepercayaannya. Terima kasih,”

Setelah membuat semua siswi itu sekaligus Taeyeon tercengang, Luhan menarik tangan Taeyeon untuk masuk ke dalam kelas.

~~~

“Hhhh,” Luhan menghela nafas panjang saat dirinya sudah bosan setengah mati membaca buku-buku yang ada di hadapannya. Semakin kesal lagi saat dirinya tidak bisa keluar dari tempat yang penuh dengan buku dan ilmu itu. Ya, perpustakaan.

Sudah satu bulan lamanya Luhan mengikuti Taeyeon pergi ke perpustakaan. Meskipun Luhan bisa saja menunggui Taeyeon di luar perpustakaan, Taeyeon meminta dan memaksa Luhan untuk ikut juga ke dalam.

“Taeyeon-ah, aku ingin keluar. Bosan sekali rasanya disini,” keluh Luhan.

Taeyeon yang sedang membaca buku fisika mengalihkan pandangannya ke Luhan. Ia mengernyit memandang Luhan.

“Ani, kau tetap disini dan membaca buku-buku fisika ini,” tolak Taeyeon.

“Percuma. Aku sudah membaca tiga kali dan hasilnya aku bukan semakin pintar. Aku justru merasa sedang mengandung. Mual-mual tidak jelas,” tutur Luhan.

“Kalau kau tidak mengerti, kau bisa tanya padaku. Kalau kau tidak mencoba mengerjakan tugas ini sendiri, kau akan sulit mempraktekkannya di depan kelas,” kata Taeyeon kesal.

Luhan menghela nafasnya lagi untuk yang kesekian kalinya seraya melemparkan pulpennya ke atas meja perpustakaan.

“Taeyeon-ah, dua minggu lagi kurasa pameran lukisan itu akan segera diadakan. Chukkae, kau akan semakin dekat dengan Jaejoong hyung. Dan pastikan kalau kau bisa merebut hatinya,” kata Luhan.

Taeyeon tidak memberi komentar apa-apa. Dia sibuk membaca buku fisikanya dan tidak mendengarkan Luhan. Luhan depresi dan ia mengangkat buku itu dari hadapan Taeyeon.

“Ya!” seru Taeyeon dengan suara pelan.

“Sudah satu bulan kita pacaran tapi tempat pacaran kita kenapa tidak mengasyikkan? Perpustakaan, lapangan sepak bola, dan kelas. Selama aku pacaran, tempat pacaranku tidak pernah membosankan seperti ini,”

“Aku tidak ada waktu untuk bermain-main kalau banyak tugas menumpuk. Lagipula siapa yang mau memaksaku untuk jadi pacarmu? Terima resikonya karena aku tidak seperti para perempuanmu yang dulu,” jawab Taeyeon kesal.

Luhan meletakkan buku fisika Taeyeon diatas meja dengan kesal. Ia menyandarkan bahunya dan tampak sedang berpikir. Selama sebulan ini, dia senang-senang saja bisa jadi pacarnya Taeyeon. Dia bisa bebas datang dan selalu di samping Taeyeon kapanpun dia mau. Dan dia juga suka membuat Taeyeon marah misalnya dengan mencium pipi gadis itu sembarangan. Luhan suka melihat Taeyeon cemberut. Dan Luhan selalu menjaga kekasihnya itu.

Setiap kali ada siswi yang ingin menyakitinya karena ia berhubungan dengan Luhan, Luhan selalu ada menolongnya. Tak lupa Luhan memperingati mereka untuk tidak menyentuh Taeyeon seujung jari pun. Taeyeon memang merasa aman jika ada Luhan. Tapi ia juga merasa tidak enak hati kepada para penggemar Luhan. Untung saja teman-teman sekelasnya tidak ada yang mempermasalahkan hubungan Taeyeon dan Luhan.

“Taeyeon-ah, kau penat, tidak? Mau kutraktir ice cream?” tanya Luhan.

Taeyeon diam mendadak. Matanya langsung teralih ke Luhan. “Aniyo,” tolak Taeyeon dengan tegas.

~~~

“Ehhm, tubuhku serasa kembali segar,” ujar Taeyeon dengan nada riang. Ia kembali melahap ice cream cokelatnya dengan buru-buru.

“Ya, pelan-pelan makannya. Kau seperti tidak pernah makan saja,” tegur Luhan. Ia menelan ice cream terakhirnya dan sekarang menatap Taeyeon, yang tidak memperdulikan sekekelilingnya dan terus berjalan sambil melahap ice cream.

Luhan tersenyum kecil melihat Taeyeon. “Bukannya tadi ada yang menolak mati-matian makan ice cream?” ledek Luhan.

“Bukannya kau yang memaksa?” tuduh Taeyeon.

“Jinjjayo?” Luhan balas bertanya dengan nada mengejek.

“Ayo cepat. YoonA sudah menyuruhku untuk cepat pulang. Omo! Sudah jam delapan malam ternyata. Ppaliwa,” kata Taeyeon.

“Sekolah sudah dekat, tidak perlu buru-buru. Lihatlah, kau makan saja berantakan. Sudah kubilang makannya pelan-pelan,” kata Luhan.

Ia melihat di sekitar bibir Taeyeon sebelah kanan ada ice cream yang mengotori bibirnya itu. Taeyeon tidak sadar, karena ia terus memakan ice cream-nya yang hampir habis.

“Coba kulihat,” kata Luhan.

(OST. By Myself – Tiffany)

Luhan menempelkan kedua telapak tangannya ke kedua pipi kanan dan kiri Taeyeon. Taeyeon hanya diam, bingung dengan tindakan Luhan. Luhan mengarahkan wajah Taeyeon ke hadapan wajahnya dan sedikit menghapus jarak di antara mereka. Taeyeon mengernyitkan dahinya. Ia ingin lepas dari pegangan Luhan. Namun, tangan kanannya tengah memegang ice cream.

“Mwo? Ya!” seru Taeyeon.

“Pabo,” kata Luhan.

Perlahan, ibu jari kanan Luhan bergerak menghapus bekas ice cream itu. Taeyeon membelalakkan matanya. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat kencang.

“Kenapa kau makan tidak pernah beres?” tanya Luhan lembut.

“A… aku… aku akan makan dengan telaten mulai sekarang. Sekarang, lepaskan tanganmu dari pipiku. Aku akan menghapus bekas ice cream-nya sendiri,” jawab Taeyeon dengan gugup.

Luhan melepaskan pegangannya dari pipi Taeyeon. Sebagai gantinya, tangan kanannya menyentuh belakang kepala Taeyeon dan tangan kirinya memegang bahu kanan Taeyeon. Ia bahkan terus menatap wajah Taeyeon dalam-dalam. Mata, hidung, dan bibirnya yang tipis berwarna merah muda Luhan perhatikan, membuat Taeyeon susah menelan ludah. Tatapan Luhan saat ini susah untuk diartikan. Pandangannya berbeda dari biasanya. Seakan-akan Luhan sedang terkena hipnotis.

“Lu… Luhan-ah,” panggil Taeyeon pelan.

Begitu Taeyeon memanggil nama Luhan, entah apa yang ada dibenak Luhan. Ia menarik kepala Taeyeon dengan lembut ke hadapan wajah Luhan dan Luhan menyentuh bibir Taeyeon dengan bibirnya sendiri. Taeyeon semakin melebarkan matanya. Ia tidak percaya. Sama sekali tidak ingin percaya dengan apa yang kini dialaminya.

Taeyeon tidak bisa berontak, dan ia sama sekali tidak tahu alasannya apa. Taeyeon ingin melepaskannya tapi tubuhnya mendadak membeku di tempat. Padahal darahnya mengalir dengan sangat cepat dari atas ke bawah. Ice cream yang Taeyeon pegang jatuh begitu saja.

Hanya kecupan singkat yang biasa. Beberapa detik kemudian Luhan langsung melepasnya. Matanya menatap mata Taeyeon dalam-dalam. Taeyeon tidak bisa mengalihkan wajahnya. Ia terhipnotis. Wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter. Posisi Luhan belum berubah. Matanya menatap bibir Taeyeon lagi. Monster dalam hatinya meraung ingin mencicipi sekali lagi.

Andai saja Taeyeon menolaknya dan memukul kepalanya seperti setiap kali Luhan mendekatkan wajahnya, mungkin Luhan tidak akan seperti ini. Di kecupan pertama Taeyeon hanya diam, membuat Luhan ingin terus mencobanya.

Alhasil Luhan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Taeyeon. Kali ini ia lebih menekankan kepala Taeyeon agar ciuman mereka semakin dalam. Luhan sedikit memiringkan wajahnya agar ia bisa mendapatkan posisi yang pas untuk memperdalam ciuman mereka. Taeyeon shock sekali. Sekuat tenaga ia menggerakkan tangannya dan memukul kedua bahu Luhan.

Seperti kehabisan tenaga, pukulan Taeyeon hanya pelan. Taeyeon menutup matanya erat-erat, tidak ingin melihat apa yang terjadi karena setelah Luhan membuat ciuman mereka semakin dalam, bibir Luhan mulai bergerak. Jantung Taeyeon berdebar tidak karuan. Nafas Taeyeon memburu. Tapi tampaknya Luhan tidak mempermasalahkannya. Ia semakin melumat bibir Taeyeon dengan lembut.

Taeyeon sama sekali tidak berniat membalas ciuman Luhan. Namun, karena ulah bibir Luhan yang terus melumat bibir Taeyeon tanpa ampun, membuat Luhan tidak sengaja mengigit bibir bawah Taeyeon. Taeyeon kesakitan, ia mengerang, lebih tepatnya mendesah, membuat jantung Luhan berdebar.

Luhan ingin menghentikannya karena ia tahu itu akan menyakiti Taeyeon. Tapi ia malah memeluk tubuh Taeyeon, membuat ciuman di antara keduanya menggila.

Taeyeon tidak sanggup lagi. Ia butuh oksigen. Sangat butuh. Ia berpikir ia tidak ingin mati sekarang. Taeyeon berusaha mendorong kedua bahu Luhan dengan kuat.

“Lu… Lu…,” panggil Taeyeon di sela-sela ciuman mereka.

Tanpa disadari Taeyeon, setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Taeyeon, membasahi bibir mereka. Luhan merasakannya dan ia langsung membuka matanya. Ia melepas tautan bibir mereka dan melihat Taeyeon, yang sedang menarik napas dalam-dalam. Nafas Taeyeon yang memburu mengenai wajah Luhan. Begitu juga Luhan. Luhan-lah yang paling kehabisan nafas. Nafas mereka menjadi satu karena keduanya sama-sama tengah menarik nafas.

Luhan belum melepaskan pelukannya. Ia hanya meregangkannya. Wajah mereka masih berdekatan. Melihat air mata Taeyeon yang mengalir barusan, membuat Luhan sangat merasa bersalah. Ia dan Taeyeon pacaran hanya di depan publik, lalu kenapa Luhan dengan seenaknya merebut ciuman Taeyeon? Dan jika bukan karena air mata Taeyeon, mungkin Luhan akan melakukan lebih.

“Mi… mianhae,” ucap Luhan penuh penyesalan.

Taeyeon mendongakkan wajahnya menatap Luhan. Ia ingin menangis. Tapi air matanya tidak bisa keluar karena melihat penyesalan yang mendalam di mata Luhan.

Kenapa? Kenapa Taeyeon merasa dirinya lemah? Luhan sering menggodanya dengan mendekatkan wajahnya ke Taeyeon dan Taeyeon dengan sekuat tenaga memukul tubuh Luhan. Kenapa sekarang ia malah diam saja? Kenapa seakan-akan tubuhnya tadi tidak bisa digerakkan? Ini semua salahnya.

~~~

Taeyeon menutup pintu kamar asramanya dengan pelan. Ia bersandar di pintu dan tubuhnya langsung merosot jatuh. Ia terduduk di lantai kamarnya. Tangannya refleks menyentuh bibirnya yang sekarang ini tiba-tiba saja membengkak. Bibirnya juga menjadi merah.

Taeyeon teringat kejadian tadi dan air matanya mengalir begitu saja. Ia menangis karena merasa dirinya lemah, tidak bisa menjaga dirinya baik-baik. Kenapa ia lemah? Ini semua salahnya. First “deep” kiss-nya lagi-lagi direbut Luhan, bukan dengan orang yang ia cintai.

 

-TBC-

Hohoho, saya kembaliiiiiiii #bunyipetasan di chap ini aku buat agak panjang karena di chap sebelumnya pada protes kenapa pendek kekekeke~

Oh, ya maaf yaaa comment-nya pada ngga dibales, soalnya sibuk nulis FF ini supaya reader tercinta ngga nunggu lama #angelsmile

dan kalo di chap ini mgebosenin, maaf yaaa T,T

Thanks buat readers yang selalu comment di FF aku, yaa aku selalu tandain yang mana aja orangnya haha dan untuk SIDERS bertobatlah menjadi GOOD READERS, mumpung di bulan puasa #evillaugh. Oke, sekian aja deh cuap-cuapnya~

#flykissfromme#plakk

Advertisements

90 comments on “Ma Boy~ (Chapter 5)

  1. Bgs kok
    Ga ngebosenin
    Makin seru aj nih
    Si jaejong suka sama taeng ga tuh?
    Si luhan udh berani maen cium2 aj tuh yah
    Hehe
    Makin penasaran aj nih
    Ditunggu next chap nya deh
    Klo bs jgn lama2 yah

  2. Aduh… smp ikutan tahan nafas baca kisseu scene ny ><
    itu taeng kesian bgt, Lulu mulai ngelakuin hal2 yg ngak2 nih ke Taeng #poor Tae T_T
    next chap jgn lame2 thor! FighTAENG!!!

  3. Bagus kok ceritanya enggak ngebosenin
    Jaejoong suka sama taeng?
    Luhan main cium” aja 😀
    Waahh ditunggu next chapter ya thor^^
    Fighting

  4. KYAAAA LUHAN SUDAH BERANI MENCIUM BIBIR MY TAENGGO, untung aja dia mnta maaf. klo gak, aku bakalan gunain kekuatan bulan untuk menghancurkan luhan. kekekeke ff nya ga ngebosenin kok thor makin bagus aja. next chapnya ditunggu yah. SEMANGAT 😀

  5. aaaahhhhhhhhh ><
    author kookie bikin penasaran
    apa maksud Luhan oppa jadi pacar boongan nya ?? Taeng eonni kenapa ga ngelawan pas Luhan oppa cium ???
    Terus siapa Youngie ? gadis yg wakti itu ke kamar Luhankah?
    Gadis kupu-kupu itu siapa ? Lukisan itu kisah nyata ? apakah gadis kupu-kupu itu Taeng eeoni?? /banyaknanya/ /ditabokauthor/ ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
    chapter 6 nya ditunggu yah … kalo bisa kasih jawaban atas semua pertanyaan ku ㅋㅋㅋ
    ❤ LuTae Jjang ❤ 루태 짱 ❤

  6. akhirnya di update cepet deh ffnya
    sukkkaaaa gk ngebosenin kok, ff nya makin bagus makin bikin penasaran
    makin TOP BGT ff paling q tunggu ❤ 😀
    kayaknya jaejoong suka deh sama taeng 😦
    itu siapaaaa young~ie who is it ??? sooyoung kahh ?
    itu pasti gadis yg ada di kamar luhan 😥
    sebenarnya apa rencana luhan kok dia maksa taeng buat jadi pacar boong an nya ??? jgn2
    apa mungkin dengan cara itu taeng lama kelamaan akan suka sndiri sama luhan #aduh sotoy bgt sih q
    taeng unnie buka hati dan matamu kalo luhan itu suka sama kamu ntar nyesel lhoh 😦
    aduh duh duh luhan ini bulan puasa kok kiseu kiseu di tempat umum sih wkwkwkkw #daebak q suka kisseunya byuntae mode on 😀
    untung kmu sdar n minta maaf klo sampe gk awass yha #digebukin taegangsters lho
    unnie maafin oppa q yha udh bikin kmu nangis
    aduhh ini nice chap daebak updatesoon authornim banyakin moment lutae n ff yg MFB di lanjutin donk udah berabad abad nih gk ada kabarnya makin galau karna nungguin itu huhuhuhu 😥 😥
    paling gk di kasih kabar bakalan di lanjutin ato nggak ya thor yha ;( puppy eyes #banyak maunya reader gk tau diri
    FIGHTAENG thor nulis ffnya ditunggu chap selanjutnya oke oke oke nexttt GO GO GO

  7. Gk tau kenapa ya thor tp kok di chap ini serasa kurang gereget beda dari part2 sebelumnya yg sukses buat meledak2 pembacanya.

    Sepertinya moment nya disini tuh kurang bumbu2 magic yg menggetarkan hati , biasanya kan kalo moment2 kayak gini author tuh bisa sampe buat saya meledak2 gk karuan gituu

    Tapi yang saya salut banget sama author , chingu nepati janji yeye gitu donk update nya cepet , kyaaa jd Makin Excited bangett. . .
    Cepet2 update lagi ya thorr oke
    #FlyingKissFromMe :* :*

  8. Gk tau kenapa ya thor tp kok di chap ini serasa kurang gereget beda dari part2 sebelumnya yg sukses buat meledak2 pembacanya.

    Sepertinya moment nya disini tuh kurang bumbu2 magic yg menggetarkan hati , biasanya kan kalo moment2 kayak gini author tuh bisa sampe buat saya meledak2 gk karuan gituu , seperti ada mercon yang membuncah dalam hati
    hahai

    Tapi yang saya salut banget sama author , chingu nepati janji yeye gitu donk update nya cepet , kyaaa jd Makin Excited bangett. . .
    Cepet2 update lagi ya thorr oke
    #FlyingKissFromMe :* :*

  9. cinta mati aq ma ma boy 🙂 🙂 super duper dabbek love u thor, crita’y bagus anget d chapter 5 ini 🙂
    next harus makin seru author sy, hwaiting jgn lm” ya di post’y 🙂

  10. Huee pacar pura pura ntar jadi pacar beneran #siul
    Aigoo -,-luhan perhatian,romantis, jiwa playboy nya ilang/? Tobat tambah cakep eaaaa
    Taeng sabar ya lagi cobaan hidup/?
    Penasaran sama jaejoong tpi tetep lutae jjang /.\
    Lanjut author jangan lama lama nanti bikin penasaran/?
    Sungguh terlaluu
    Hehehe 😀 fighting

  11. taeyeon eonnie mungkin udh mulai suka sama lu ge? *hahaha sotoy* ahh itu adegannya *ekhem* wkwkwk. jaejoong itu sbenernya suka sama siapa? *bkin penasaran* haha. eonnie ff yg my flower boss kenapa gak diupdate2? aku menunggu T.T oke mian eonnie late comment hehehe 😀 fighting ya eonnie buat next ff/ next chapter!! 😀

  12. Aduuh ceritanya bagus 😀
    Itu si luhan yaa cium” aja 😀 , si taeyeon mulai luluh ya sama luhan ?pura” pacaran nanti jadi beneran loh , ngomong” yongie siapa ? Adiknya ? Mantanya ? Penasaran -__- , tapi aku suka banget taeyeon sama luhanya 😀

    Next dtnggu yaa 🙂

  13. akhirnya…………………… hehehe…. 😉
    udah nungu2,,, akhirnya ada….
    next chap jangan lama2 ya thor…. 😉
    udah g’ sabar ni tho next chaptrnya,,,
    jangan lama2 ya thor….. 😉

  14. Luhan inget tujuan kamu! Ngedeketin Taeyeon ke Jaejoong.
    Tapi..sepertinya, malah kena batunya sendiri. Pro Luhan-Taeyeon aja de, semoga beneran jadi. /ini ff punya siapa?/ iyasi terserah authornya aja.
    oiya, ada kata2 yg masi berbelit2, mohon di cek lagi. 😉
    FIGHTING BUAT CHAPTER BERIKUTNYA!!
    UPDATE SOON YA~

  15. ikut nyesek bacanya, tapi sweet bangeeeeettt. Aku tau kok luhan gitu sama taeyeon pasti dari hati terdalaaam :3
    berharap berharap berharap banget biar taeyeon sama luhan pacaran beneraaaan!! author nimmm jaaaang ceritanya bagus, dan menurutku authornim sudah sangat baik membangun karakter taeyeon sama luhan disini 🙂

  16. aaaahhhhhhhhh ><
    Terus siapa Youngie ? gadis yg waktu itu ke kamar Luhankah? Siapa sih gadis kupu-kupu itu? Taeyeon kah/?!?
    Yosh next chapter i'm coming !!!!!

  17. kyaaa~ moment luhan-taeyeoonya udah makin bertumbuh (?) di chapter ini >< omo omoo, aku masih polos, aku masih polos /.\ #plak sumpah ini romancenya aaaa~ banget! da boom! *buru2bukachapter6

  18. Ahhhhhhhhhh~ chap ini ngrbingungin. Knpa luhan minta taeyeon jdi pacarnya biar taeyeon bsa dket sma jaejoong trus knpa luhan jga nyium taeyeon? Sbnarnya prasaan luhan ke taeyeon itu gimana?😩😩😩

  19. Aduh…. so sweetttt~
    Suka banget kalo luhan udh pervert kyk gitu. Luhan, ntah knp pikiranku jd yadong klo kmu pasangan ama taeyeon 😂
    Jdi suka ama luhan gara2 author terus masangin luhan ma taeyeon, hiks 😂
    Fighting thor. Ceritanya bagus~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s