Beautiful Creature (chapter 4)

beautiful-creature-copy

Author : RYN

Length : Multichapter

Rate : M

Cast :

L Infinite

Taeyeon SNSD

Other : find it by yourself

Genre : Dark Fantasy, Romance

This my own idea

Any similarities with other stories is pure coincidence

Please do not plagiarize and claim as your own

I have enough trouble writing chapter and,

I don’t need someone stealing my hardwork.

 

Prolog | 1 | 2 | 3

– – –

Bunyi guntur membahana, langit biru yang tadinya cerah kini diselimuti awan gelap. Suara raungan mengerikan di sertai benda tajam yang beradu dalam gemuruh suara pekikan memelas, terdengar hingga ke seluruh pelosok. Ketika Taeyeon tiba di pusat kota, matanya terpana melihat pemandangan sekelilingnya. Negeri yang damai beberapa jam yang lalu, kini terlihat seperti neraka. Mungkin hanya beberapa bangunan saja yang bisa dibilang masih utuh. Itupun hanya tinggal rangkanya sementara bagian lainnya hangus terbakar. Seluruh tempat sangat berantakan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi disana. Sebagian besar tempat itu telah rusak.

Taeyeon terkesiap, sesaat terhenyak. Memperhatikan sisi kanan dan sisi kirinya setiap ia melangkah, jiwa-jiwa tak berdosa di antara reruntuhan bangunan, tergeletak begitu saja di tanah. Rasa dingin segera saja menjalari punggungnya atas pemandangan tak mengenakkan dihadapannya. Makhluk-makhluk itu telah membantai Arian dengan sangat kejam. Anak-anak kecil yang seharusnya memiliki masa depan yang panjang dan cerah, terenggut dalam sekejap karena perbuatan keji yang tak termaafkan. Amarah Taeyeon menghantarkan kedua telapak tangannya mengepal kuat di bawah sana.

Namun kemudian, pandangannya melembut dan ia merasa sedikit lega ketika beberapa Guardian dan Fayn yang dilihatnya, tengah sibuk membantu Arian lain yang selamat dan membawa mereka ke tempat aman. Taeyeon menangkap keberadaan Baekhyun, Chemi dan Daehyun dari Divisi Guardian serta V, Jaejin dan Hyuk dari Divisi Rean yang membentuk pertahanan melindungi Arian. Mereka menghalau para Arc itu agat tidak mendekati tempat mereka hingga seluruh Arian bisa diselamatkan. Sejenak, Taeyeon merenung, teringat kembali kata-kata Krystal dan Bomi. Divisi Rean ingin menginterogasinya, kalau be-

‘awas!’ suara Ace tiba-tiba terdengar dalam kepalanya.

Insting Taeyeon langsung bekerja. Ia segera menghindar dengan melompat menjauh dari serangan dua Arc yang tiba-tiba mengincarnya. Kedua makhluk itu mengikutinya sembari mengayunkan kepalan besar mereka, tapi Taeyeon yang telah memprediksi itu tanpa ragu menghindar dan secepat kilat melumpuhkan mereka hanya dengan telapak tangan kosong. Keduanya tiba-tiba tak bisa bergerak, Taeyeon mengambil kesempatan dengan melayangkan tinjunya serta menendang mereka dengan kekuatan penuh sebelum akhirnya, Arc-Arc itu hancur menjadi debu hitam yang segera terhapus oleh hembusan angin.

Raungan dalam gemuruh suara terdengar semakin keras, mengalihkan perhatian Taeyeon dan Angel di sekitarnya ke atas. Betapa terkejutnya mereka, lubang hitam yang membentuk di langit luas disana kian terbuka lebar dan menurunkan Arc lagi dengan jumlah yang tak terhitung. Taeyeon dan Angel lainnya tidak punya pilihan selain menghadapinya. Makhluk-makhluk gelap itu menyerang bertubi-tubi tanpa jeda. Meski sedikit kewalahan, Taeyeon masih mampu membalas mereka. Namun karena jumlah kian bertambah, ukuran mereka yang melampaui ukuran tubuhnya sendiri serta kekuatan yang mereka miliki membuatnya nyaris kelelahan. Taeyeon dan lainnya kesulitan menghadapi mereka sekaligus apalagi jika diserang tanpa bergantian.

Salah satu makhluk menyemburkan api dari mulutnya tapi Taeyeon berhasil menghindarinya. Setiap saat ia harus waspada terhadap pergerakan mereka yang tiba-tiba. Menyadari kondisi yang tidak menguntungkan bagi pihak mereka, Taeyeon merasa sudah saatnya ia menggunakan kekuatan maksimalnya. Kekuatan istimewa yang hanya dimiliki oleh jenis Angel seperti dirinya. Sudah cukup ia melihat banyak Angel yang gugur hari ini dan ia tak ingin mengorbankan Angel lain yang masih hidup menjadi korban makhluk-makhluk tak berperasaan itu.

Taeyeon secepat kilat mundur sejauh mungkin ke belakang, membuat jarak antara dirinya dan puluhan Arc di depannya. Ia memejamkan mata untuk memusatkan pikiran. Suara raungan Arc-Arc yang mendekat, tak mengalahkan konsentrasinya. Saat kelopak matanya kembali terbuka, warna matanya kini telah berubah menjadi biru terang. Perubahan ini mendapat perhatian dari hampir seluruh Angel yang berada disekitarnya. Ini pertama kalinya mereka menyaksikan sendiri bagaimana kekuatan Royal Angel.

Tanpa berkedip, Taeyeon mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Arc-Arc yang kian mendekat ke arahnya. Sesuatu akhirnya terjadi. Seolah merasakan datangnya kekuatan itu, para Angel yang masih berdiri di tempat mereka nampak tercengang. Bulu kuduk mereka menegak kala mereka mengamati dan menunggu. Tiba-tiba saja, makhluk-makhluk itu tak bergerak seolah membatu. Taeyeon menyeringai, seketika makhluk yang ditatapnya melebur menjadi abu. Para Angel yang melihat kejadian tak terduga ini tampak terkejut. Mereka tak menyangka ada kekuatan mengerikan seperti itu. Mereka terpukau, menilai bahwa Royal Angel memang seharusnya memiliki kekuatan spesial sementara sebagian kecil dari mereka yang tercengang, mendadak merasa takut. Entahlah, yang jelas setelah melihat kekuatan nyata itu, mereka semakin mengakui bahwa ketua Fayn tersebut memang memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan mereka. Dan layaknya status sosial yang berbeda serta tingkatan kemampuan yang kuat, Taeyeon semakin disegani dan dihormati karena dimata mereka, dia adalah sosok pemimpin yang sempurna.

Dari telapak tangan Taeyeon memancarkan sinar yang menyilaukan. Tanpa perlu menyentuh, makhluk-makhluk itu sontak menjerit dan mengerang kesakitan saat cahaya menyilaukan tersebut mengarah pada mereka. Dalam sekejap mata, tubuh mereka pun musnah menjadi debu. Taeyeon mengepakkan kedua sayapnya dan terbang ke atas mereka yang notabene tak memiliki kemampuan sepertinya. Setiap melihat Angel lain kesulitan dalam menghadapi makhluk itu, ia dengan cepat menggunakan kekuatannya untuk membantu memusnahkannya. Taeyeon dengan gesit menghindar dan ketika ada sedikit cela, ia membalas dan melumpuhkannya.

“Demon!”

Suara keras bernada peringatan itu datang dari Chemi. Taeyeon menoleh dan benar saja, semakin banyak yang datang dari lubang hitam itu. Kini yang mereka hadapi bukan saja makhluk-makhluk Arc tapi para penghuni bersayap hitam dari dunia kegelapan juga ikut menyerang mereka. Situasi ini membuat Taeyeon khawatir. Makhluk bersayap itu lebih kejam dari Arc. Mereka memiliki kekuatan kegelapan yang hebat. Tapi setidaknya, sama seperti Arc yang tak menyukai sinar menyilaukan miliknya, Demon pun tak menyukainya. Ini memberikan keuntungan lagi padanya dalam mengatasi serangan mereka.

– – –

Di tempat lainnya, Krsytal dan Bomi disibukkan oleh monster-monster Arc. Krystal terbang ke atas dan menyerang makhluk itu dengan pedang yang muncul dari tangan kanannya. Hanya dengan sekali ayunan kuat, ketiga Arc itu menghilang dalam debu. Ia menghindar dengan gesit saat beberapa monster itu menyerangnya secara bersamaan.

Tak jauh di dekatnya, Bomi pun melakukan hal yang sama. Tidak seperti Krystal yang menggunakan pedangnya, Bomi hanya menggunakan tangan kosong. Meskipun tubuhnya kecil bila dibandingkan dengan monster-monster itu, ia mampu membuat mereka tak berdaya dengan kekuatan fisiknya.

Pertarungan mereka dengan makhluk-makhluk itu masih berlangsung sengit ketika tiba-tiba mata Krystal berubah keras dan dingin. Gadis itu langsung mengarahkan ujung pedangnya pada sosok yang muncul dihadapannya. Kini bukan lagi makhluk buas yang dihadapinya, tapi seseorang yang memiliki sepasang sayap sepertinya. Pria itu menyeringai padanya dan itu membuatnya jijik. Bomi berbalik dan ekspresi wajahnya berubah garang. Seorang lagi muncul dihadapannya, memandangnya dengan angkuh seolah ia adalah seonggok omong kosong. Melihat dari perangainya serta sayap dipunggungnya, ia sudah menduga kalau mereka berdua berasal dari dunia yang sama. Bomi melirik sekilas ke arah pria yang berada di depan Krsytal, lalu melihat pria di depannya dengan pandangan bosan. Sepasang sayap berwarna hitam yang hanya dimiliki oleh penghuni dunia kegelapan, berada di punggung mereka.

“kalian hebat juga.” pria itu berkomentar yang langsung mendapat tatapan tajam dari kedua gadis itu. Melihat ekspresi galak yang tak berubah, pria itu terkekeh lalu kembali berbicara dengan kesan mengejek. “aku menghargai kerja keras kalian. Sungguh.”

Sekarang, Krytal ingin sekali menebas kepala pria itu dan merobek sayap yang mengiritasi penglihatannya. Bomi mencemooh pria dihadapannya. “berhentilah bersikap seperti pengecut. Kemari dan hadapi kami.” Tantangnya.

Rahang pria itu seketika mengeras. Ia sudah ingin menyerang Bomi jika pria yang satunya tidak menahannya. “kau tidak perlu terpengaruh oleh perkataan gadis kecil itu, Ren. Mereka belum tahu apa yang bisa kita lakukan terhadap mereka nanti.” Tatapnya penuh arti pada temannya. Ucapannya sukses membuat Bomi dan Krystal menahan geram.

Pria bernama Ren itu menunjukkan seringaiannya. “kau benar, meladeni mereka hanya membuang-buang waktu.”

Alis Krystal terangkat, “lihat siapa yang bicara sekarang. Bilang saja kalau kalian memang takut.”

Raut wajah Kai mendadak berubah datar dan keras. “sayangnya, kau tidak cukup kuat untuk melukaiku.”

Krystal mencemoohnya. “terlalu sombong.”

Bomi memandang ke atas, tersenyum sinis seraya melipat tangannya. “penghuni kegelapan yang pengecut.”

Ren menggeram tidak berniat lagi menahan amarahnya karena kalimat ejekan itu. Secepat kilat, ia sudah berada tepat di hadapan gadis itu. Sementara disisi mereka, Krsytal dan Kai sudah saling menyerang.

– – –

Taeyeon mengalihkan perhatiannya, mencari sosok Ace di tengah pertempuran. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menemukan pria itu tengah bertarung dengan banyaknya monster Arc yang ingin melumpuhkannya. Taeyeon tak pernah tahu kalau Ace ternyata sehebat ini dalam menggunakan pedangnya. Terpukau, Taeyeon tak melepaskan pandangannya seraya menghindari Arc yang mencoba mengunggulinya.

Tanpa diduga, Ace tiba-tiba saja tersungkur ke bawah sambil meringis kesakitan. Taeyeon terkejut dan berlari menghampirinya untuk melindunginya, memusnahkan monster-monster yang ingin menyerangnya dalam ketidakberdayaannya.

“Ace, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja? Kau sebenarnya kenapa?” tanyanya cemas. Beberapa saat lalu ia melihat pria itu bertarung dengan hebat dan sekarang melihatnya kesakitan dan tidak berdaya. Taeyeon sungguh tak mengerti.

“hei Ace!” Taeyeon nyaris frustasi karena merasakan tubuh pria itu tiba-tiba dingin.

Ace tidak menjawab, melainkan semakin mengerang kesakitan. Pria itu merasa tubuhnya seperti ditarik paksa oleh sesuatu, seluruh syarafnya mendadak lumpuh. Mengapa ia merasakan hal tak mengenakkan seperti ini, ia sendiri pun tak tahu dan ia benci melihat gadis dihadapannya ini mencemaskannya. Seharusnya, satu-satunya yang menjaga gadis itu adalah dirinya, bukan sebaliknya.

‘ugh!’ Ace hanya bisa mendengar panggilan Taeyeon dari kejauhan sebelum akhirnya suara gadis itu menghilang. Disaat bersamaan, kegelapan menelannya.

“Ace!” Taeyeon berteriak histeris. Air mata mulai menggenang di pipinya. Tubuh Ace terkulai di lengannya. Pria yang selama ini menjaganya, entah apa sebabnya, memejamkan matanya, tak bergerak juga tak bersuara. “kau tidak mungkin mati.” isaknya.

“Taeyeon!” Luhan memanggil gadis itu. Ketua Guardian itu terbang rendah dan mendarat di depannya, tepat ketika beberapa Arc berniat melukai gadis itu dan pria yang berbaring di pangkuannya. Tanpa pikir panjang, Luhan segera menebasnya.

Taeyeon menatap sayu Luhan. “Luhan, Ace…” ia tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa sekarang. Pikirannya kosong sejak Ace tak berbicara padanya.

Ekspresi Luhan mengeras. Jika terus seperti ini, dengan banyaknya Arc itu, tidak mungkin ia melawan mereka sementara Taeyeon berada dalam kondisi tak terlindung. Ia harus melindungi gadis itu. *sial!*

“jangan bergerak.” Luhan kemudian menyapukan tangannya ke udara dan seketika rangkaian bening mulai saling membentuk. Taeyeon mengangkat kepalanya melihat apa yang terjadi. Ia dan Ace kini berada dalam kubah besar yang tembus pandang. Luhan tersenyum puas akan hasilnya lalu memandang lembut ke arah Taeyeon dan mengangguk pelan.

Meski ingin menenangkan gadis itu dan menghiburnya disaat sedih, Luhan tak bisa membiarkan gadis itu dalam bahaya sementara mereka berada di tengah-tengah banyaknya Arc yang mengelilingi. Luhan membalikkan tubuh dan berhadapan dengan makhluk-makhluk itu. Ia tersenyum dingin sebelum berlari menerjang lawannya. Tidak satupun Arc yang luput dari tebasan pedangnya. Beberapa Arc yang berhasil mendekati Taeyeon, tetap tak bisa menyentuh gadis itu maupun pria yang bersamanya. Perisai yang dibuat Luhan melindunginya.

Tak lama kemudian, Luhan mulai kelelahan. Para Arc yang dihadapinya memiliki kekuatan hebat dan sangat kuat, tidak mungkin dia yang hanya seorang diri mampu menang melawan jumlah mereka yang tak kunjung ada habisnya. Taeyeon tak tahan melihatnya. Luhan susah payah bangkit meskipun tubuhnya telah lemas. Bertumpu pada sebelah lututnya, ia berusaha menarik tubuhnya ke atas dengan bantuan pedangnya. Namun sementara ia mencoba mengatur nafasnya, makhluk-makhluk itu menyerangnya secara beruntun. Luhan pun akhirnya ambruk dengan tubuh penuh luka. Mata Taeyeon membundar bersamaan dengan teriakannya memanggil nama Luhan. Air matanya mengalir deras kala menyaksikan pria itu menjadi bulan-bulanan makhluk kegelapan.

Ini harus berakhir. Taeyeon memantapkan hatinya. Ia memandang Ace di pangkuannya. Wajah pria itu sudah tak berwarna dan suhu tubuhnya pun sangat dingin. Hati-hati ia meletakkan tubuh itu di atas tanah.

“aku akan segera kembali Ace.” Bisiknya lembut lalu berdiri. Taeyeon meluangkan waktu menoleh untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya keluar dari pelindung Luhan.

Taeyeon membawa tubuhnya mendarat di depan Luhan yang tak berdaya, menghalau salah satu Arc yang mencoba melukainya lagi. Berhasil melumpuhkan makhluk-makhluk di dekatnya, Taeyeon segera mengangkat tubuh Luhan dan susah payah membawanya masuk ke dalam pelindungnya. Kini gilirannya yang harus melindungi mereka.

Saat Taeyeon bersiap untuk melawan mereka, suara yang terdengar dari atas membuatnya terhenti sejenak. Ia terkejut sekaligus senang. Kris dan beberapa Angel yang sangat dikenalnya datang menghampirinya. Untuk beberapa saat, Taeyeon lupa bahwa Divisi Rean ingin menginterogasinya sebelum kejadian ini terjadi. Nicole, Key, N, JR dan Aj akhirnya mendarat dihadapannya. Sama seperti dirinya, mereka tampak berantakan dan kelelahan. Meski begitu, ketampanan maupun kecantikan mereka tak berkurang sedikitpun.

“kalian…” Taeyeon sampai tak bisa mengungkapkan kata-kata. Keberadaan mereka berarti banyak untuknya dan ia sangat senang melihat mereka semua selamat. “masih hidup.” Lanjutnya dengan perasaan bahagia.

“geez, kau pikir aku akan mati secepat itu? Kau terlalu meremehkanku ketua.” Aj mengejekknya.

Mata Taeyeon berkaca-kaca dan ia hampir tertawa ketika N melambaikan tangannya dengan senyum konyolnya. Ketika ia melihat ke arah Key, Angel Fayn itu memberinya senyum simpatik. Nicole menghampirinya dan memeluknya. Saat itulah pertahanannya runtuh.

“Ace dan Luhan…” Taeyeon tak melanjutkan kalimatnya karena sekarang perhatiannya beralih pada dua pria yang berada di dalam kubah transparan. Semuanya melakukan hal yang sama.

“waw, itu cukup parah.” Gumam Aj.

Nicole yang berada disampingnya langsung menyikutnya. Aj melotot tajam padanya tapi Nicole pura-pura tak melihatnya.

“ssh, semua akan baik-baik saja unni. Tidak akan ada yang terjadi pada mereka berdua.” Nicole mencoba menenangkan Taeyeon.

“kita tidak punya banyak waktu.” Kris tiba-tiba berbicara mengambil seluruh perhatian mereka. “keadaan Utopia masih aman.” Ia menatap Taeyeon dengan ekspresi kaku, “jadi ayahmu dan yang lainnya pasti baik-baik saja.”

Taeyeon menghela nafas lega. Saat ini ia memang ingin mengetahui perkembangan Utopia dan ayahnya.

“apa betul kau…” Taeyeon nampak ragu-ragu sejenak. Ia ingin menanyakan langsung tentang informasi yang diterimanya dari Krystal. Tapi sebelum ia melanjutkan, Kris terlebih dulu memotongnya.

“kita tidak punya waktu untuk membicarakan itu sekarang.” ujarnya dingin dan acuh tak acuh.

Taeyeon mengangguk mengerti.

“sekarang…” Aj berbalik dan berhadapan dengan puluhan Arc. “kita harus menyelesaikan pesta.” Ujarnya menambahkan seringaian.

N mengusap-usapkan kedua tangannya dengan antusias. “aku sudah tidak sabar~” senandungnya dengan senyum lebar.

Kris, Nicole dan Taeyeon serempak merotasikan bola mata mereka. Sungguh? Mereka menganggap ini permainan?

“kurasa, mereka sedikit bersemangat hari ini.” Key menaikkan bahunya dan tersenyum.

JR tidak perlu kata-kata untuk mengungkapkan isi hatinya karena dalam sekejap, ia sudah menebas tiga kepala Arc sekaligus. Taeyeon dan Nicole hampir tertawa melihat rahang Aj dan N nyaris jatuh karenanya.

Tiba-tiba sebuah keanehan terjadi. Satu persatu Arc yang mengelilingi mereka mendadak musnah. Taeyeon dan lainnya terkejut, begitupun dengan Guardian, Fayn dan Rean yang berada tak jauh dari mereka. Mereka bereaksi sama terhadap keganjilan yang baru saja terjadi. Hanya berselang beberapa detik, suara bergemuruh terdengar di atas mereka. Demon yang tak terhitung jumlahnya turun dari lubang hitam itu. Ada yang berbeda dari sebelumnya. Taeyeon nampak terkejut ketika matanya menangkap sebuah obyek yang menurutnya berbeda dari Demon yang lain. Ia entah mengapa mendapati dirinya terus menatap sesuatu yang menarik perhatiannya tersebut.

Semakin mendekat semakin terlihat jelas. Taeyeon terkesiap, yang lainnya terkejut. Mereka mulai mempertanyakan apakah yang terlihat ini adalah mimpi atau kenyataan.

*ti…dak mung..kin* Taeyeon masih dalam shock, matanya terus mengikuti kemana pria itu mendaratkan kakinya. Wajahnya berubah pucat ketika melihatnya berhenti dimana Luhan dan Ace berada.

“pelindungnya!” Seru N tak percaya.

“m—menghilang…” Nicole menyelesaikannya dengan gumaman pelan.

Taeyeon membungkam dengan tubuh gemetar. Pria itu menatapnya dengan tatapan dingin yang begitu menakutkan. Dari jarak mereka yang tidak dekat, Taeyeon masih merasakan aura tidak mengenakkan dari pria itu mengelilinginya. Kemudian, mendadak sekitarnya menjadi hening. Taeyeon menoleh untuk melihat apa yang terjadi dan ia sontak terkejut ketika seluruh Angel termasuk teman-temannya terbaring di tanah. Tidak sadarkan diri. Seberapa kuatpun ia memanggil nama mereka, tidak ada satupun yang menjawabnya. Kini yang bisa membantunya hanyalah dirinya sendiri. Taeyeon mulai merasa takut ketika menyadari seluruh Demon telah berada di belakangnya, menatapnya seolah ia adalah mangsa mereka.

Taeyeon menggeser penglihatannya kembali ke pria itu. Ia baru menyadari sesuatu, pria itu tampak berbeda dari Demon yang berkumpul dibelakangnya. Ia memiliki sepasang sayap yang lebih besar dan kuat. Taeyeon mulai mengira-ngira, apakah pria ini adalah pimpinan mereka? Sorot mata yang dingin dari pria itu, aura gelap disekitarnya, sama persis seperti apa yang ia lihat dan rasakan dalam mimpinya. Bulu kuduk Taeyeon meremang ketika ingatan tentang mimpinya itu melintas.

Seperti Deja Vu, Taeyeon terkejut saat pria itu tiba-tiba ambruk dan mengerang kesakitan. Anehnya, tak satupun dari Demon dibelakangnya bergerak membantunya. Mungkinkah pria itu bukan pimpinan mereka? Taeyeon bertanya dalam hatinya.

Taeyeon tak sempat lagi menerka-nerka jawabannya karena ia dikejutkan oleh pemandangan tak lazim dan mengherankan yang pernah dilihatnya. Seolah digerakkan sesuatu, tubuh Ace bangkit dengan mata masih terpejam. Sementara pria itu makin mengerang, dari tubuh keduanya tiba-tiba memancarkan sinar hitam. Rahang Taeyeon nyaris jatuh, hampir tak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Tubuh Ace perlahan-lahan berubah menjadi bayangan hitam dan dalam hitungan detik, bayangan hitam itu terserap ke dalam tubuh pria itu.

Tercengang. Taeyeon menatap pria itu tak berkedip. Seperti habis disembuhkan, pria itu kembali berdiri dengan kokoh. Sama sekali tak terlihat tanda-tanda ia mengalami kesakitan beberapa detik yang lalu.

“menyusahkan saja.”

Taeyeon mendengar pria itu bergumam dan ia sama sekali tak menyukai tekanan dingin pada nada suaranya. Seakan-akan menganggap kejadian tadi bukanlah apa-apa, seolah-olah yang terjadi padanya adalah kesalahan Ace. Saat pria itu menatapnya kembali, tubuhnya seketika membeku.

“Yang Mulia.” Hoya datang bersama Kai. Beberapa Demon lainnya pun ikut bersama mereka.

Taeyeon tidak peduli lagi darimana kedua Demon itu datang, tapi apa yang terdengar olehnya baru saja membuatnya tersentak. Yang Mulia? Itu berarti—

“siapa Angel cantik ini?”

Taeyeon menolehkan pandangannya ke arah Demon yang kini memberikan seringaian padanya. Demon itu perlahan berjalan mendekatinya dan meskipun ia telah menggunakan kekuatannya untuk membuatnya berhenti–sama seperti yang ia lakukan pada para Arc dan Demon lainnya–entah mengapa itu sama sekali tak berefek padanya.

Merasakan kebingungan Taeyeon, seringaian Kai semakin lebar. “kenapa? Apa kau sedang berusaha menggunakan kekuatanmu padaku Angel?” tanyanya dengan kesan mengejek.

Taeyeon menahan geram.

“aww, apa Angel kita marah sekarang? perlu kau ketahui Angel, kekuatanmu tidak akan bereaksi jika hyung berada disini.”

“Kai, jaga ucapanmu.” Hoya kembali mengingatkannya tapi Kai pura-pura tidak mendengarnya. Ia tahu kesalahannya, tapi diingatkan saat Demon lain dan terutama makhluk bernama Angel di depannya sedang melihat, itu sedikit menyakiti harga dirinya.

Kerutan di kening Taeyeon sempat terbentuk, tapi segera ditutupinya dengan ekspresi sedatar mungkin.

“apa yang kau lakukan pada Ace?” mengejutkan, meskipun takut, pertanyaan itu berhasil keluar dengan mulus.

Pria yang memiliki sorot mata dingin itu ternyata masih menatapnya. Taeyeon tak sedikitpun menyukai cara pria itu menatapnya, seperti menelanjangi jiwanya dengan tatapan kosongnya. Tapi berlawanan dengan pikirannya, entah mengapa Taeyeon mendapati dirinya tiba-tiba merasa salah tingkah dibawah tatapannya dan ia membenci fakta bahwa pria itu sangat menarik. Tentu, Ace dan pria itu memiliki wajah yang sama tapi aura pria itu sangat berbeda. Pria itu, dengan alasan yang tak ia ketahui, berhasil menggetarkan jiwanya.

“j-jangan m-mendekat!” Taeyeon memiliki keinginan kuat untuk mundur selangkah demi selangkah ke belakang ketika pria itu mulai berjalan mendekatinya. Tapi anehnya, sekeras apapun ia mencoba, ia tetap masih berdiri di tempat. Tak bergerak sama sekali. Taeyeon memandang pria itu dengan penuh kengerian, “apa yang kau la—“

Dalam kecepatan kilat, sebelum ia sempat menyelesaikan pertanyaan tentang kondisinya, pria itu telah berada di hadapannya dengan jarak tak terukur. Mata Taeyeon sontak membundar karena terkejut, wajahnya mendadak memucat, disaat bersamaan lengan pria itu telah melingkar erat di pinggang rampingnya. Satu-satunya jarak yang mungkin memisahkan mereka hanyalah dua telapak tangannya yang tidak sengaja menyentuh dada telanjang pria itu, berusaha menjauhkannya darinya tapi, tentu saja itu hanya tindakan yang sia-sia.

Taeyeon terlalu takut mengeluarkan suaranya. Wajah mereka sangat dekat dan ia bisa menghirup aroma maskulin dari apapun cologne yang dipakainya. Ia tidak lagi berusaha menjauhkan dirinya karena ia tahu kekuatannya tidak berpengaruh padanya. Mendadak, entah keberanian darimana, Taeyeon mengangkat kepalanya, mencoba membalas tatapan pria itu dan mengamati setiap lekuk wajahnya. Satu lagi yang disadari oleh Taeyeon selain sepasang sayap yang tidak lagi berada disana adalah mata pria itu. Keduanya berwarna hitam pekat, terlalu gelap hingga sedalam apapun ia menatap, Taeyeon tetap tak bisa menemukan pupil disana. Semakin ia mencari, semakin tenggelam ia ke dalam tatapannya. Tidak ada refleksi dirinya, tidak ada ekspresi yang tersampaikan, tidak ada apa-apa. Tanpa sadar, Taeyeon mengernyitkan keningnya.

“kau…” bisiknya tertahan. Makhluk indah yang menakutkan. Batinnya menyelesaikan kalimatnya.

Sesaat Taeyeon melihat alis pria itu terangkat, menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Mungkin telah mendengar apa yang diucapkannya. Taeyeon cukup kaget, persis seperti yang terlihat dalam mimpinya, pria ini berwajah sama seperti Ace namun memiliki warna rambut yang berbeda. Hitam pekat, sama seperti mata dan sepasang sayapnya. Tidak heran ia berasal dari dunia kegelapan.

Taeyeon sontak menarik diri ketika pria itu menyentuhkan jari-jarinya ke pipinya. Tubuhnya bergetar dan ia merasakan dorongan kuat untuk menjauhkan tangan itu dari sana. Tapi seperti yang telah terjadi sebelumnya, sekuat apapun ia meronta, pria itu selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

“s-siapa kau? Apa yang kau lakukan pada Ace-ku?” tanyanya memberanikan diri.

Ekspresi pria itu masih tetap sama, tapi sedetik kemudian ia tersenyum. Senyuman misterius.

“Ace-mu?” masih tersenyum, pria itu balik bertanya. “siapa?”

Taeyeon tidak tahu apakah pria itu memang sungguh-sungguh tidak tahu atau memang sengaja mempermainkannya.

“jangan pura-pura tidak tahu! Aku melihat apa yang kau lakukan pada Ace tadi! Dan singkirkan tangan kotormu itu dariku!” seru Taeyeon frustasi. Mengabaikan beberapa suara geraman protes di belakangnya atas kalimat yang terlontar kasar, ia memberikan tatapan tajam terbaiknya pada pria–yang mereka sebut Yang mulia–yang beberapa saat lalu menyampirkan rambut ke belakang telinganya, menyusuri punggung dengan telapak tangan dinginnya, hingga akhirnya meletakkan tangannya kembali di pinggang dan punggungnya.

Taeyeon sama sekali merasa tak nyaman. Setiap kali pria itu menyentuhnya, tubuhnya entah mengapa tiba-tiba bereaksi aneh. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya merinding setiap kulit mereka bersentuhan dan sekujur tubuhnya terasa panas tanpa sebab, seperti percikan api yang menyebar ke dalam tubuhnya. Perasaan seperti ini menakutinya.

Tiba-tiba pria itu tertawa kecil. Taeyeon menjadi bingung sekaligus kesal.

“mulai saat ini tidak akan pernah ada nama Ace.” Ekspresi pria itu berubah keras, tajam dan kelam. “Ace yang kau kenal itu tidak pernah ada.”

“tidak mungkin! Omong kosong apa yang kau katakan?!”

Sorot mata pria itu berubah dingin. “aku dan orang yang kau panggil Ace itu adalah orang yang sama.”

Taeyeon ternganga tanpa kata. Ia seolah baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu. Matanya segera mengamati pria itu sekali lagi. Kali ini ia tak ingin melewatkan detail-detail kecil. Tapi meski mengulang, ia menyadari bahwa ia memang tak pernah melewatkan detail sekecil apapun ketika mengamati lekuk wajah pria itu disaat pertama kali mata mereka bertemu. Makhluk ini, meskipun memiliki wajah yang sama, tetap saja ia sangat berbeda dengan Ace. Baginya, mereka adalah dua orang yang berbeda.

“kau membunuh Ace!” hingga akhirnya Taeyeon sampai pada keputusan finalnya. Ia tak ingin menerima penjelasan pria itu. Ace tidak akan menghilang begitu saja jika saja pria itu tak datang. Tapi kemudian, ingatan saat Ace tiba-tiba mengerang kesakitan tanpa sebab hingga tak sadarkan diri, segera menghempaskan pikiran negatifnya terhadap pria itu. Tetap saja Taeyeon tak ingin percaya. Ace yang telah dikenalnya sejak ia masih kecil dan selalu bersamanya hingga sekarang, tidak mungkin menghilang begitu saja dan menyatu ke dalam tubuh pria itu.

“k-kau monster.” Segera setelah kata itu terucap dari mulutnya, Taeyeon dikejutkan oleh tindakan pria itu yang tiba-tiba meraih wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sedikit memaksa dan terkesan kasar, membuatnya menatapnya.

“Royal Angel.” Pria itu berkata dengan nada tenang namun Taeyeon bisa menangkap ada yang tersembunyi di dalam nada suaranya. Ini cukup mengejutkan baginya karena makhluk itu tahu mengenai kedudukannya. “menurutmu, apa yang akan terjadi jika aku mencium Royal Angel?”

Senyum dingin pria itu membuat Taeyeon bergidik. Namun setelah mendengar pertanyaan itu, nalurinya terhentak. Wajahnya seketika pucat pasi. Tidak. jangan. Taeyeon sangat ingin menyerukan kata-kata itu. Tubuhnya sangat ingin meronta. Satu-satunya kelemahan Royal Angel adalah tidak boleh terkontaminasi dengan makhluk kegelapan. Jika ia tak bisa menjaga kelemahannya itu…Taeyeon tak sanggup membayangkannya. Bagaimana ini? Ia sejak tadi telah berada dalam dekapan makhluk itu. Taeyeon mulai panik dan air matanya mulai membasahi pipinya.

“kumohon, lepaskan aku.”

Pria itu tersenyum penuh arti. “katakan alasannya, mengapa aku harus melepaskanmu.”

Oh tidak. Taeyeon meringis. Pria itu sudah memberinya jawaban. Ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

“waktumu telah habis.” Pria itu akhirnya menghilangkan jarak di antara mereka. Taeyeon tidak bisa lagi menolak. Makhluk itu telah menyentuh bibirnya. Ciuman yang lama, dalam dan penuh pemaksaan.

Dan sesuatu pun terjadi pada Taeyeon. Dengan air mata yang membasahi pipinya, ia merasakan tubuhnya perlahan-lahan melemah. Ketika pria itu melepaskan bibirnya, satu hal yang disadarinya sebelum ia tak sadarkan diri adalah tubuhnya berada dalam rangkulan lengan kokohnya.

“selamat datang di duniaku, Angel.”

L menatap Taeyeon di lengannya dengan senyum puas bersamaan dengan kedua sayapnya yang mengembang lebar di punggungnya. “kita tinggalkan tempat ini.” ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.

“baik Yang Mulia.” Seluruh Demon serentak menjawabnya.

Hoya dan Kai saling bertukar pandang penuh arti sebelum mengikutinya, terbang ke arah lubang hitam itu dengan puluhan Demon yang mengikuti dari belakang. Perlahan lubang hitam itu menutup, langit cerah yang biru pun kembali nampak. Tapi semua itu sudah tidak sama lagi. Ketika seluruh Angel yang pingsan tersadar, mereka harus mengetahui bahwa ketua Fayn dan beberapa Angel lainnya telah menjadi tawanan dunia kegelapan.

Dalam perjalanan kembali, Hoya dan Kai diam-diam mengamati L yang berada di depan mereka. Ini pertama kalinya mereka melihat sikap penguasa mereka itu sedikit berbeda. Tentu, sekian banyak wanita merelakan diri padanya dan ia akan menggunakannya untuk bersenang-senang. Dan bukan pertama kali bagi mereka berdua melihat L yang agresif seperti itu, dia memang selalu memiliki gairah yang tinggi terhadap wanita, hanya saja sepertinya gadis ini berbeda. Cara L menatapnya, entah mengapa Hoya merasa ada sesuatu yang lain disana, sesuatu yang lebih dari kata bersenang-senang. Untuk saat ini ia tak bisa berkomentar atau menilai lebih jauh karena terkadang sifat L yang selalu berubah-ubah. Ia merasa kasihan pada gadis itu. Royal Angel yang terkenal sebagai jenis Angel yang suci dan murni, akan kehilangan seluruh kekuatannya jika mereka ‘tersentuh’ oleh makhluk dari dunia kegelapan.

Hoya menyadari kediaman Kai di sampingnya. “kau baik-baik saja?”

“huh?” Kai sedikit tersentak tapi segera menutupinya. Ia menoleh dan menyeringai. “aku baik-baik saja.” ucapnya santai.

Hoya mengangguk menerima jawabannya. Sesuatu pasti terjadi pada Kai. Hoya membatin yakin. Tidak biasanya anak itu menjadi pendiam. Hoya samar-samar tersenyum begitu matanya menangkap sesuatu yang menarik. Apa dia pikir bisa menyembunyikannya darinya? Ekspresi terkejutnya saat ia bertanya padanya tadi.

“kau terlalu jelas.”

Kai memalingkan mukanya dan mendesah pelan. Hoya pasti sudah tahu sekarang.

Kai, kau menyukai gadis Angel itu.

 

To be continued…

Begitulah cara cast utama bertemu. ~kekeke

Ada yang udah memprediksikan ini???

© RYN

 

Advertisements

107 comments on “Beautiful Creature (chapter 4)

  1. Ternyata kekuatan taeyeon hebat tidak seperti Angel yang lainnya,, 😱😱
    Kasihan taeyeon kekuatannya hilang karena di cium sama L
    terus ntar gimana nasib mereka yang di bawa makhluk kegelapan..
    & nasib taeyeon juga gimana..
    aaaa
    penasaran..

  2. Woah akhirnya L dan taeyeon ketemu,kekuatanya L hbat bnget
    Gk nyangka klo ktemunya bgini
    Daebak deh buat author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s