Ma Boy~ (Chapter 4)

ma-boy-copy-8

Bina Ferina ( Kookie28)

 

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan EXO, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG

 

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster J

Author’s Note :

Annyeeeooongg^^ masih ingat siapa sayaaa?ahahahah mungkin ada yang ingat, mungkin juga ngga ada yang ingat#lapingus, okee, kali ini otak saya di penuhi oleh ide-ide baru yang terus bermunculan dan jujur saya kesel karena FF saya yang lain jadi ngadat hiks tapi saya janji bakalan terus lanjutin, kookk janji deehhhhh hehehe. Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

“Sial, masih ada 2 hari lagi,” umpat Taeyeon ketika ia melihat kalender di dalam kamar YoonA. YoonA yang sedang berbaring di ranjangnya sambil membaca sebuah majalah, langsung menutup majalahnya begitu ia mendengar umpatan Taeyeon. Ia bangkit duduk di atas tempat tidurnya. Ia tidak memperdulikan rambut hitam panjangnya yang awut-awutan.

“Apa yang 2 hari lagi? Kau sudah menentukan kapan tanggal meninggalmu?” tanya YoonA polos.

“2 hari lagi aku harus menjadi asisten tim sepak bola Chanyeol dan teman-temannya,” jawab Taeyeon dengan raut wajah sedih. Ia duduk di atas tempat tidur YoonA. “Aku ingin semuanya berakhir,”

“Wae? Selama 3 hari belakangan ini kau terlihat murung. Ada apa? Apa yang terjadi padamu? Apa kau lelah menjadi asisten mereka?” tanya YoonA. Ia mengelus-elus punggung belakang Taeyeon dengan sayang.

“Ya, aku lelah. Aku tidak ingin lagi berurusan dengan mereka,” jawab Taeyeon pelan. Ia meletakkan dagunya di pundak YoonA.

“Kau punya masalah dengan mereka? Atau mereka menyakitimu?” tanya YoonA lagi.

“Ani. Mereka tidak pernah menyakitiku. Hanya saja, aku ingin membuat jarak,” jawab Taeyeon pelan.

“Wae? Kenapa seperti itu? Pasti ada alasannya, ‘kan? Dengar, kau bukan seseorang yang kukenal sejam yang lalu, jadi aku tahu kalau aku ada masalah. Kau sama sekali tidak pernah berubah, Taeyeon-ah. Kalau ada masalah kau pasti menyembunyikannya dan membiarkan masalah itu berkecamuk dalam dirimu. Kau harus cerita padaku. Tidak biasanya kau diam selama 3 hari ini. Pasti ada sesuatu. Ayolah, katakan padaku,” bujuk YoonA dengan menampilkan wajah memelasnya.

Taeyeon tersenyum terpaksa pada YoonA. Ia menggenggam kedua tangan YoonA. “Aku tidak apa-apa. Aku kurang suka dekat dengan Luhan,”

“Luhan? Sudah kuduga. Apa dia melakukan hal yang buruk kepadamu?” tanya YoonA pelan.

Seketika itu juga tubuh Taeyeon membeku. Namun, detik berikutnya ia mencoba untuk bersikap santai, walaupun monster dalam hatinya meraung mengatakan ‘ya’. Tapi untuk saat ini, entah mengapa, Taeyeon belum bisa meceritakan semuanya pada YoonA. Akan ada saat yang tepat, dan itu bukan sekarang. Taeyeon merasa takut dan malu.

“Dia tidak melakukan apa-apa,” jawab Taeyeon bohong. “Aku tidak suka padanya sejak pertama kali kami bertemu. Dia playboy, dan kau tahu kalau aku benci playboy. Dia juga bersikap sok manja padaku, membuatku muak,”

“Taeyeon-ah, kenapa kau tidak bilang padaku? Aku bisa memukul wajahnya di tempat saat ia bermanja-manja denganmu. Aku tahu dia akan seperti itu. Itu sebabnya aku kurang setuju saat kau harus menyuapinya makan ketika dia sakit,” oceh YoonA kesal. “Keundae, kau tidak harus menjauhi semuanya, ‘kan? Maksudku, semenjak kau menjalani hukumanmu dengan baik, teman satu kelas juga sudah menganggapmu sebagai keluarga. Dan kurasa itu juga berkat bantuan mereka semua,”

Memang benar. Setelah menjalani hukumannya selama 2 hari, teman-teman sekelas Taeyeon mulai akrab dengannya. Mereka mulai sering mengajak Taeyeon belajar ataupun makan di cafe sekolah bersama-sama. Mereka juga sering mengajak Taeyeon bercanda tawa. Dan Taeyeon tidak memungkiri itu semua karena Chanyeol dan teman-temannya. Taeyeon juga sebenarnya tidak ingin menjauh dari mereka.

“Aku tidak akan jauh dari mereka. Aku senang di dekat mereka, jujur saja. Tapi, kalau ada laki-laki itu, kurasa aku akan menjauh,” jawab Taeyeon. “Bukannya kemarin-kemarin kau membelanya?”

“Luhan memang playboy, tapi kelakuannya tidak pernah sampai membawa perempuan lain ke dalam asramanya. Kalau masalah betapa playboy dan pervert dirinya, itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi,” jawab YoonA sambil tertawa. “Tapi sekarang kau sudah tidak membuatkan dia bekal lagi, ‘kan?”

“Tidak. Aku sudah bilang pada Jung seonsaengnim kalau tangan Luhan sudah membaik. Dan aku juga bilang tidak ingin buat makanan lagi di dapur. Aku katakan saja pelayan dapur jadi merasa terganggu,” jawab Taeyeon.

YoonA tersenyum. “Kau sepertinya benar-benar tidak suka pada Luhan. Tapi, hati-hatilah. Karena rasa sukamu itu bisa saja jadi rasa cinta yang mendalam,” goda YoonA, yang langsung mendapat pukulan bantal di wajahnya.

~~~

Taeyeon membuka matanya secara perlahan-lahan dan mengerjap-ngerjapkannya selama beberapa detik, untuk menghilangkan rasa kantuk di matanya. Setelah matanya terjaga, Taeyeon bangkit dan ia menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Kepalanya sedikit terangkat ke atas, dan tatapannya lurus ke atas langit-langit kamarnya.

Perlahan, Taeyeon menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk kanannya. Kejadian 4 hari lalu masih terngiang-ngiang di benaknya dengan sangat jelas. Bahkan masih terasa di bibirnya, membuat Taeyeon semakin kesal dengan laki-laki yang sudah menyentuh bibirnya sembarangan.

“Namja sialan,” umpat Taeyeon. Ia mendengus kesal. Ia ingin yang menciumnya pertama kali adalah orang yang ia cintai, bukan laki-laki tak tahu diri seperti Luhan.

Sejak Luhan dengan sengaja merebut tomat yang ia kepit dengan bibirnya menggunakan bibir Luhan, Taeyeon langsung merasa marah dan pergi dari hadapan Luhan. Ia juga mengatakan kepada Jung seonsaengnim kalau Luhan sudah cukup sembuh dan ia tidak perlu lagi menyuapinya makan. Untunglah Jung seonsaengnim setuju.

Dan sejak itu juga, Taeyeon tidak mengucapkan sepatah katapun pada Luhan. Ia juga tidak mendengarkan setiap perkataan Luhan di kelas. Taeyeon merasa masih sangat marah. Ia tidak ingin laki-laki itu memandangnya rendah seperti yang selama ini ia lakukan kepada perempuan lain.

Taeyeon menghembuskan nafasnya kuat. Ia kembali berbaring di tempat tidurnya dan berusaha memejamkan matanya. Mencoba melupakan rasa malasnya setiap kali ia mengingat ia harus ke sekolah dan duduk di samping laki-laki brengsek itu.

~~~

“Ada masalah apa antara kau dan Taeyeon, Luhan-ah?” tanya Kris pada Luhan saat mereka sedang berjalan menuju gedung sekolah bersama-sama.

“Tidak ada masalah,” jawab Luhan enteng.

“Jadi, kenapa Taeyeon menghindari kita akhir-akhir ini? Ani, kenapa dia menghindari kami ketika kau ada di dekat kami? Kalau kau tidak ada, Taeyeon bercanda tawa seperti biasanya. Tapi sewaktu kau datang dan bergabung, Taeyeon mendadak diam dan ia berpura-pura punya kesibukan lain. Apa kau ada menyinggung perasaannya?”

“Mana mungkin aku menyinggung perasaan seorang perempuan, Kris-ah,” jawab Luhan. “Kau tahu,’kan aku selalu lembut pada perempuan,”

“Atau… kau melakukan sesuatu padanya?” tanya Kris, curiga.

“Melakukan sesuatu apa? Aku bersikap baik, kok padanya. Kenapa kau menuduhku macam-macam?”

“Karena aku mengenalmu, Xi Luhan. Kau bosan dengan perempuan yang selalu mengejar-ngejarmu. Dan Taeyeon bukanlah termasuk perempuan yang seperti itu. Aku tahu kalau kau suka mencoba hal baru. Dan kau menganggap kalau Taeyeon adalah hal yang baru. Kau penasaran dengannya dan berusaha untuk membuatnya jatuh ke pelukanmu. Benar, ‘kan? Kau pasti melakukan sesuatu yang membuatnya marah,” ujar Kris. “Dengar, Taeyeon bukanlah perempuan yang bisa kau anggap remeh. Jangan gegabah dengannya kalau kau memang ingin mendekatinya,”

“Arraseo, Tuan Wu. Arraseo. Aku akan lebih berhati-hati lagi dengannya. Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang menolak pesonaku,” ujar Luhan.

Kris hanya memutar bola matanya.

Begitu mereka sampai di lobby sekolah, Luhan dan Kris tidak sengaja bertemu dengan Taeyeon dan YoonA yang hendak menaiki tangga sekolah.

“Yoong!” panggil Kris.

YoonA menoleh, diikuti Taeyeon. Mata Taeyeon seketika membulat begitu ia melihat ke arah Kris. Mood Taeyeon langsung turun.

“Aku ke toilet sebentar,” kata Taeyeon dan ia menaiki anak tangga dengan cepat.

“Kemana Taeyeon?” tanya Kris begitu ia dan Luhan menyusul YoonA di anak tangga.

“Pergi ke toilet sebentar di lantai dua,” jawab YoonA.

“Kurasa ia menghindari seseorang,” kata Kris, sedikit melirik ke arah Luhan.

“Dan kurasa pendapat kita sama,” sambung YoonA.

Luhan menghela nafas panjang. Mereka bertiga menaiki tangga bersama-sama. Kris dan YoonA terlibat percakapan asyik, sedangkan Luhan hanya diam saja, sepertinya ia sibuk memikirkan sesuatu. Dan ketika mereka hendak memasuki kelas, Luhan balik badan, tidak jadi masuk kelas dan lebih memilih menyusuri koridor lantai 2 itu sampai ia berhenti di depan toilet perempuan dan laki-laki.

Luhan menyandarkan punggungnya ke tembok di samping toilet perempuan sambil melipat kedua lengannya di atas dadanya. Kelihatan sekali ia sedang menunggu seseorang. Para siswi yang keluar masuk toilet memekik pelan saat mereka melihat Luhan disitu. Luhan hanya memberikan senyuman simpulnya yang manis, yang mampu membuat siswi-siswi itu meleleh.

Tidak sampai sepuluh menit Luhan berdiri menunggu di samping tembok kamar mandi, seseorang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya mengeluarkan batang hidungnya. Luhan, yang melihat gadis itu sudah keluar, langsung menarik lengannya pelan, membuat sang gadis terkejut setengah mati dan ia balik badan, menatap seseorang yang tiba-tiba menarik lengannya.

“Neo?!” seru Taeyeon kaget.

Luhan langsung meletakkan telunjuk kanannya di atas bibir Taeyeon yang soft pink, menyuruhnya diam. Taeyeon diam dan ia menghempaskan telunjuk Luhan dari bibirnya. Matanya menatap wajah Luhan dengan tatapan kesal.

“Jangan pernah menyentuhku,” kata Taeyeon sinis. Ia menarik lengannya yang di genggam Luhan dengan kasar.

Luhan tersenyum. “Padahal aku sudah sengaja untuk menunggumu di sini supaya kita bisa pergi kekelas bersama. Kau, ‘kan teman sebangkuku,”

“Pergi saja sendiri. Aku tidak pernah memintamu menungguku. Jangan melakukan hal konyol,” jawab Taeyeon, masih dengan wajah murka.

Melihat hal itu Luhan sama sekali tidak takut. Ia tertarik untuk terus membuat Taeyeon marah, marah, dan marah. Selama ini ia selalu mendapatkan respon positive dari para perempuan. Dan melihat reaksi Taeyeon yang sama sekali berbeda, membuatnya tertantang.

“3 hari belakangan ini kau seperti menghindariku. Kau bahkan tidak mau bicara denganku. Wae? Apa aku ada salah padamu?” tanya Luhan santai, yang semakin membuat ubun-ubun kepala Taeyeon hampir meledak. Si brengsek ini sama sekali tidak tahu apa salahnya?

“Kau pikirkan saja sendiri,” jawab Taeyeon singkat dan ia membalikkan badannya lagi, hendak pergi dari hadapan Luhan. Namun, Luhan mencegahnya dengan menghadang jalan Taeyeon.

“Aku sepertinya tahu jawabannya,” ujar Luhan dengan mimik lucu, tapi bagi Taeyeon mimik itu membuatnya muak.

“Kau ingin perang denganku?” tanya Taeyeon.

Luhan malah tersenyum. “3 hari yang lalu di taman kau menamparku dengan keras di pipi kananku. Kau tahu, aku masih bisa merasakan panasnya pipiku waktu itu. Saat itu terakhir kali kau membuatkanku bekal dan disitulah kau menghindariku. Apa hanya karena aku merebut tomat ceri itu dari bibirmu?”

Taeyeon diam. Jika ia bersuara, perang benar-benar akan terjadi, dan ia tidak mau semua orang mendengar masalah mereka berdua.

“Apa kau menganggap aku merebut ciumanmu?” tanya Luhan lagi. Ia tersenyum simpul pada Taeyeon. Sedangkan Taeyeon hanya mengalihkan tatapannya dari mata Luhan. “Apa kau pikir itu adalah sebuah ciuman? Ani, kau salah besar. Yang seperti itu sama sekali bukanlah sebuah ciuman. Kau belum pernah merasakannya, ya? Apa perlu aku menunjukkan padamu ciuman yang sesungguhnya?”

“Kalau kau berani menyentuhku sedikit saja, aku jamin pipimu tidak akan berada di tempatnya lagi,” ancam Taeyeon, saat tangan Luhan bergerak mendekati dagu Taeyeon.

Luhan menurunkan tangannya dan ia hanya tertawa singkat. “Aku hanya ingin memberi penjelasan padamu mengenai masalah itu. Aku bosan dituduh teman-temanku kalau aku telah melakukan sesuatu yang buruk padamu. Jadi, aku ingin mengatakan padamu, kalau memang masalahmu denganku adalah saat aku merebut tomat ceri itu, itu bukan berarti aku menciummu. Itu artinya aku ingin membagi sedikit tomat itu yang kebetulan sudah berada di bibirmu. Jadi kau jangan berprasangka buruk dulu. Aku bisa membuktikan padamu mana ciuman yang sebenarnya,”

“Lakukan itu dengan perempuan yang kau anggap rendahan,” jawab Taeyeon ketus. Ia hendak pergi dari Luhan lagi dan lagi-lagi, Luhan menahan lengannya.

“Aku minta maaf jika itu mengganggumu. Aku tidak tahu kalau bagimu hal itu merupakan sebuah ciuman. Tapi, cobalah untuk melupakan hal itu. Cobalah bersikap biasa padaku. Kalau tidak, aku akan terus menghantuimu dimana dan kapan saja,” kata Luhan sambil memamerkan senyumannya yang menawan.

Walaupun Luhan saat ini sedang minta maaf, tapi bagi Taeyeon itu merupakan sebuah ancaman. Mau tidak mau ia harus memaafkan laki-laki ini dan bersikap biasa saja.

“Arraseo,” jawab Taeyeon setelah kira-kira lima menit lamanya mereka terdiam.

“Nah, begitu,” kata Luhan. Kedua tangannya refleks memegang kedua pipi Taeyeon dan menariknya mendekat ke wajah Luhan.

Taeyeon membelalakkan matanya. Wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Luhan, dengan kedua pipinya yang dipegang Luhan.

“Padahal aku berharap kau menjawab “tidak” tadi,” bisik Luhan tepat di depan wajah Taeyeon.

Taeyeon langsung memukul belakang kepala Luhan, membuat Luhan sedikit mengaduh dan melepaskan tangannya dari kedua pipi Taeyeon. Jarak mereka kembali normal.

“Apa-apaan kalian? Kalau kalian mau melakukan “itu”, jangan di depan kamar mandi,” kata salah seorang teman sekelas Taeyeon, yang Taeyeon lupa namanya. Ia sedang menuju kamar mandi dengan beberapa orang temannya dan mereka tertawa kecil melihat Luhan dan Taeyeon.

“Jangan salah paham—,”

“Tenang saja, nanti malam aku tidak akan ikut latihan sepak bola. Aku akan sibuk dengan Kim Taeyeon di kamar asramaku,” potong Luhan sembari tersenyum lebar kepada teman-temannya.

“Aigoo,” sahut temannya sambil menutup mulutnya, pura-pura terkejut.

“Jangan berkhayal yang tidak-tidak,” sahut Taeyeon ketus. Ia segera meninggalkan Luhan, dan kali ini Luhan membiarkannya pergi.

“Dia hanya malu,” kata Luhan kepada teman-temannya. Lalu ia menyusul di belakang Taeyeon, menuju ke kelas.

Setelah menyesuaikan langkah dengan Taeyeon, Luhan dengan seenaknya mengalungkan lengan kirinya ke pundak Taeyeon. Taeyeon menghentikan langkahnya dan menatap tajam Luhan.

“Apa-apa maksudnya ini?” tanya Taeyeon, yang berusaha melepaskan diri dari rangkulan Luhan. Namun, Luhan lebih kuat. Ia menahannya.

“Bukankah sudah kujelaskan semua? Bukankah aku sudah minta maaf? Dan bukankah kau sudah memaafkanku? Jadi, sudah sepantasnya kita tampak bersahabat seperti ini. Apalagi kita teman sebangku,” sahut Luhan dengan senyuman manisnya yang selalu terpampang di wajahnya.

Taeyeon menghela nafas. “Arraseo. Tapi, kau tidak perlu melakukan hal ini. Cukup jalan berdampingan saja,”

“Arra,” sahut Luhan ceria. Senyuman manis itu kini semakin lebar. Taeyeon hanya memutar bola matanya ketika ia melihat Luhan tersenyum.

~~~

Taeyeon menghela nafasnya panjang. Ia menyibakkan poninya ke belakang dan menjepitnya dengan jepitan rambut yang kecil. Ia mengangkat sebuah baskom besar dan membawanya ke sebuah gudang yang letaknya tepat di samping lapangan sepak bola dan yang berisi peralatan-peralatan olahraga.

Ia baru saja selesai mencuci dan menjemur baju sepak bola teman-teman sekelasnya. Berhubung hari ini adalah hari terakhir, Taeyeon ingin sedikit membantu dengan sekedar mencuci baju mereka.

“Taeyeon-ssi,” panggil Jung seonsaengnim, saat Taeyeon hendak kembali ke asramanya.

“Ne, seonsaengnim?” sahut Taeyeon.

“Bisakah kau ke kantor guru sebentar? Sepertinya ponselku ketinggalan di atas meja. Cepatlah, sebelum kantor gutu ditutup, sebelum jam sebelas malam,”

Taeyeon menganggukkan kepalanya dan segera pergi ke gedung sekolah. Ia melirik jam tangannya, masih pukul sepuluh. Dan begitu Taeyeon tiba di lantai tiga, ia sedikit terkejut karena masih banyak siswa yang berkeliaran di koridor.

Ah, ya tentu saja. Semua siswa ini adalah siswa kelas tiga. Dan mereka memang biasa pulang tengah malam karena ada les lagi.

“Ah, itu dia,” gumam Taeyeon begitu ia melihat ponsel Jung seonsaengnim di atas meja guru. Taeyeon mengambilnya dan ia segera pamit keluar ruangan kepada guru-guru yang juga masih duduk manis di meja kerjanya.

Beep beep beep beep

Taeyeon merasakan getaran di saku celananya, yang menandakan ada seseorang yang meneleponnya. Taeyeon menduga kalau bukan ibunya, pasti YoonA.

Ia segera merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya di depan pintu kantor guru. Tidak sengaja ia menjatuhkan sapu tangan dari Jaejoong ketika ia merogoh sakunya.

“Eoh?”

Taeyeon hendak mengambilnya tapi seseorang tidak sengaja menendang sapu tangan itu sampai ke depan pintu sebuah kelas ketika seorang senior lewat di depan Taeyeon.

“Mianhae,” seru senior itu.

Taeyeon hanya menghela nafasnya dengan kasar dan hendak mengambil sapu tangan itu. Ponselnya ia masukkan kembali ke sakunya. Ia tidak begitu peduli siapa yang meneleponnya saat ini. Yang ia pikirkan adalah sapu tangan Jaejoong.

Sialnya, tinggal selangkah lagi Taeyeon akan menggampai sapu tangannya, pintu kelas itu terbuka dan beberapa orang senior keluar dari kelas itu. Taeyeon kaget karena ada seseorang yang akan menginjak sapu tangannya. Refleks, ia buru-buru membungkukkan badannya sembari meraih sapu tangan itu.

“Andwae, sunbae-nim!” seru Taeyeon.

Alih-alih sapu tangan yang Taeyeon raih, gadis mungil ini malah meraih celana salah seorang seniornya dan menariknya ke bawah. Alhasil, celana senior itu jatuh dan memperlihatkan boxernya yang bergambar labu.

“Kyaaaaa! Ige mwoya?!” seru para siswi yang ada di koridor itu. Mendadak dari ujung ke ujung koridor dipenuhi oleh teriakan perempuan.

Mereka semua berkumpul melihat peristiwa itu sambil berbisik-bisik dan menatap Taeyeon dengan pandangan bertanya-tanya. Sebagian senior ada yang menahan tawa melihat kejadian itu. Bahkan ada juga yang tertawa terbahak-bahak. Taeyeon sempat mendengar salah seorang senior laki-laki mengatakan “Boxer yang bagus!”. Sedangkan senior yang Taeyeon tarik celananya langsung memakai kembali celananya dengan wajah merah menahan malu dan amarah. Ia menatap Taeyeon seakan-akan ingin melahap Taeyeon hidup-hidup.

“Apa yang kau lakukan?! Neo micheyeosseo?!” seru senior itu.

“Apa yang gadis itu perbuat?” bisik para siswi itu.

“Ya, hoobae! Kenapa kau melakukan hal memalukan seperti ini?! Kau ingin mati?!” seru senior itu lagi.

“Jeoseonghamnida, sunbae-nim. Jeoseonghamnida, jeongmal,” ucap Taeyeon dengan wajahnya yang menunduk dan suaranya yang bergetar. Ia yakin senior yang ada di hadapannya ini murka sekali.

“Ada apa ribut-ribut seperti ini?!”

Suasana langsung hening. Sebagian senior yang tertawa tadi, pun menghentikan tawa mereka setelah mendengar suara berat seorang laki-laki yang menggelegar di koridor lantai tiga ini. Taeyeon dapat mendengar suara itu dari arah belakangnya. Karena senior yang ada di depannya ini memandang ke belakang Taeyeon. Taeyeon tidak tahu siapa. Tapi ia merasa terselamatkan.

“Jaejoong-ah, selaku ketua osis di sekolah ini, kau seharusnya menghukum hoobae yang ada di depanku ini. Dia telah membuat onar dan membuatku malu setengah mati,”

Mata Taeyeon membulat sempurna. Apa katanya? Jaejoong? Bukannya merasa terselamatkan, Taeyeon justru merasa ia semakin dijatuhkan ke dalam jurang yang sangat dalam. Ia bahkan semakin menundukkan wajahnya. Kalau bisa, ia ingin mengganti saja wajahnya saat itu juga.

“Diamlah, Chul-Woo-ah. Kau semakin membuat dirimu malu dengan bersikap kekanak-kanakkan seperti itu,” ujar Jaejoong dingin.

Taeyeon dapat mendengar siswi-siswi disitu berdecak kagum dan menatap Jaejoong dengan pandangan berbinar-binar, seakan-akan ia seorang idol.

“Para guru tidak senang mendengar kebisingan yang terjadi disini. Jadi, kuharapkan semuanya untuk pulang. Anggap kejadian ini tidak pernah terjadi. Biar masalah ini aku yang mengurusnya,” sambung Jaejoong.

Perlahan-lahan semua siswa yang ada disitu bergerak meninggalkan tempat kejadian itu. Para siswi serempak pamit pada Jaejoong. Namun, Jaejoong tidak membalasnya. Ia hanya diam dan mengangguk kepada teman laki-lakinya saja.

“Jaejoong-ah, ini tidak adil. Harga diriku seperti diinjak-injak,” ujar senior yang bernama Chul-Woo tersebut.

“Aku sudah katakan kalau aku yang akan mengurus kejadian ini, Chul-Woo-ah. Aku akan bertanya dan menginterogasinya sendiri. Ini urusan osis. Lagipula hoobae kita ini sudah minta maaf, ‘kan? Dia pasti tidak sengaja melakukannya. Kalau sengaja, aku akan menyerahkan hukumannya kepadamu. Jadi, sekarang pulanglah,” ujar Jaejoong.

“Apa kau yakin perempuan ini tidak akan berkelit?” tanya Chul-Woo. Ia menatap tajam Taeyeon.

“Untuk apa jadinya aku belajar psikologi selama 6 tahun, Chul-Woo-ah? Sudahlah, kita semua lelah dan ingin langsung istirahat. Pulanglah, agar masalah ini cepat kelar,” kata Jaejoong.

“Arraseo,” kata Chul-Woo. Ia merapikan rambutnya dan mengatur nafasnya. “Kalau kau sengaja membuatku malu, aku tidak akan melepasmu,”

Taeyeon hanya mengangguk dalam diam. Ia belum berani berdiri ataupun hanya sekedar menampakkan wajahnya pada Jaejoong.

“Berdirilah, dan angkat wajahmu. Jangan seperti itu. Kau tidak pantas melakukannya,” kata Jaejoong. Suaranya yang awalnya terdengar tegas, sekarang melembut.

Debaran dan desiran yang Taeyeon alami di dalam hatinya semakin menjadi-jadi. Apalagi saat dilihatnya Jaejoong mengulurkan tangan kanannya pada Taeyeon, ingin membantu Taeyeon berdiri. Dengan perlahan, Taeyeon menerima uluran tangan Jaejoong dan ia pun bangkit berdiri. Tangan yang saat ini digenggam Taeyeon memiliki aura yang berbeda. Tangan ini hangat, dan lembut untuk ukuran laki-laki. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Taeyeon menyukai tangannya digenggam oleh laki-laki.

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak merasa keberatan jika berdiri berdekatan dan berhadapan dengan seorang laki-laki. Untuk pertama kalinya, jantungnya tidak bisa ia kendalikan. Berdebar begitu cepat, hingga membuat dadanya sakit.

Tubuhnya serasa melayang saat yang ada di hadapannya ini adalah seseorang yang ia sukai. Cinta pertamanya, dan tengah tersenyum lembut kepadanya. Taeyeon tidak tahu harus berkata apa selanjutnya. Mulutnya seakan-akan terkunci rapat sekali. Bola mata Jaejoong yang hitam, yang tengah menatapnya lurus, seakan-akan membuatnya hilang ingatan sementara.

“Gwaenchannayo?” tanya Jaejoong, memecahkan lamunan Taeyeon.

Taeyeon menundukkan wajahnya dan ia melepas genggamannya dari Jaejoong dengan setenga hati. “Ne, sunbae-nim. Gamsahamnida,”

Jaejoong tersenyum. “Apa yang membuatmu masih berkeliaran di lingkungan sekolah pada jam segini? Kau masih kelas dua, ‘kan?”

“Aku… tinggal di asrama sekolah dan menjadi asisten tim sepak bola kelas XI-2, sunbae-nim,” jawab Taeyeon.

“Aahh, asisten baru kelompok Chanyeol, ya? Pantas aku pernah melihatmu di lapangan sepak bola bersama mereka. Kupikir kau salah satu pacar dari mereka,” kata Jaejoong.

“A… aniya, sunbae-nim. Aku tidak berminat pacaran dengan orang-orang bising seperti mereka,” kata Taeyeon.

Jaejoong tertawa renyah, dan itu membuat Taeyeon berdesir lagi. Bukankah Jaejoong tidak pernah seakrab ini dengan perempuan manapun?

“Baru kau yang mengatakan hal seperti itu. Semua siswi menyukai mereka, terutama Luhan. Aku yakin kau mengenalnya dengan sangat baik,”

“Aku justru tidak ingin mengenalnya kalau bisa, sunbae. Tapi dia seperti vampire, mendadak muncul dan sama sekali tidak diharapkan,”

“Kalau mereka mendengar ini, mungkin mereka akan kagum padamu, seperti aku. Kau tidak memuja-muja mereka seperti orang kebanyakan,” kata Jaejoong lagi, dan diselingi dengan senyumannya yang menawan.

“Ne?” tanya Taeyeon dengan wajah kagetnya. Kalau ia tidak salah dengar, Jaejoong baru saja mengatakan kalau ia mengagumi Taeyeon. Dan ia ingin mendengarnya sekali lagi, untuk memastikan. Wajahnya sudah sangat memerah saat ini.

“Oh, ya lalu buat apa kau kesini? Bukannya kelasmu ada di lantai dua?” tanya Jaejoong. Ia mengajak Taeyeon untuk turun dan keluar dari gedung sekolah.

“Ah, benar. Aku ingin mengembalikan ponsel Jung seonsaengnim yang ketinggalan di meja guru tadi. Apa dia masih menungguku di lapangan sepak bola, ya?”

“Kalau begitu, ayo kita kesana. Aku juga akan mengantarmu sekalian ke asrama,”

Taeyeon membelalakkan matanya. Ia sangat senang, tentu saja. Terlebih lagi, bukan dia yang mengajak Jaejoong. Taeyeon menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan beriringan keluar dari gedung sekolah.

“Keundae,” Taeyeon memulai percakapan setelah keheningan diantara keduanya mengusik Taeyeon. “Bukankah sunbae bilang akan menghukumku? Kenapa malah mengantarkanku kembali ke asrama?”

“Apa aku perlu menghukummu?” Jaejoong balik bertanya. Ia tersenyum sambil menatap langit malam. “Kau tidak mungkin sengaja menjatuhkan harga diri seorang senior, ‘kan?”

“Ne, tapi bukankah sunbae belum mengetahui alasannya?” tanya Taeyeon.

“Aku mungkin tahu alasannya,” jawab Jaejoong.

Taeyeon diam. Ia menatap laki-laki tampan yang dingin itu dengan tatapan bertanya-tanya.

“Aku melakukannya bukan karena aku ingin melihat boxer labunya,” gumam Taeyeon pelan. Namun, Jaejoong bisa mendengarnya. Ia menatap Taeyeon yang sedang menundukkan wajahnya. “Tapi, boxer labu itu lumayan imut juga,”

Jaejoong mengalihkan pandangannya dari Taeyeon sembari tersenyum lebar. Ia berusaha menahan tawanya. Jujur, belum pernah ia banyak tersenyum saat bersama dengan seorang perempuan. Ia merasa Taeyeon adalah perempuan yang polos dan lugu, yang mampu membuat dirinya yang dingin menjadi cair perlahan-lahan.

“Jung seonsaengnim,” panggil Taeyeon saat ia melihat Jung seonsaengnim sedang duduk menunggu Taeyeon di pinggir lapangan sepak bola.

Taeyeon mendekatinya dan menyerahkan ponsel itu kepada Jung seonsaengnim.

“Eoh, Taeyeon-ssi. Gomapta, Taeyeon-ssi,” kata Jung seonsaengnim sembari mengambil ponselnya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

“Annyeonghaseyo, Jung seonsaengnim,” sapa Jaejoong ramah. Taeyeon melihat senyuman Jaejoong, dan itu membuat dirinya diselimuti kehangatan.

“Eh? Jaejoong-ah? Wah, tumben sekali kau jalan berdua dengan seorang perempuan. Apa Taeyeon-ssi ini yang kau maksud “gadis kupu-kupu” itu?” tanya Jung seonsaengnim dengan senyuman menggoda untuk Jaejoong.

“Aku hanya ingin mengantar Taeyeon kembali ke asrama. Malam-malam begini perempuan tidak baik jalan sendirian,” jawab Jaejoong.

Taeyeon diam. Ia menatap Jaejoong. Ia tidak mengerti dengan maksud “gadis kupu-kupu” itu.

“Ah, geurae. Kalau begitu, Jaejoong-ah, jaga Taeyeon-ssi dengan baik, ne? Aku mau cepat-cepat pulang. Dan, Jaejoong-ah, kau juga cepat pulang, ya? Annyeong,”

Selepas Jung seonsaengnim pergi, ponsel Taeyeon berbunyi, menandakan ada yang meneleponnya. Ia merogoh sakunya dan melihat nama YoonA terpampang di layar ponselnya.

“Kenapa kau tidak mengangkatnya?” tanya Jaejoong begitu ia melihat Taeyeon memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

“Itu temanku. Ia pasti marah besar kenapa aku terlambat masuk asrama. Dan dia juga sudah menghubungiku ratusan kali. Daripada dia memarahiku habis-habisan di telepon, dia bisa langsung membunuhku di asrama nanti,” ujar Taeyeon sambil tertawa.

Jaejoong tersenyum mendengarnya. “Oh, ya. Chakkaman, Taeyeon-ssi,”

Taeyeon, yang mendengar namanya dipanggil oleh Jaejoong, langsung menghentikan langkahnya menuju asrama. Ia tidak menyahut. Ia takut salah dengar kalau baru saja Jaejoong memanggil namanya.

“Alasanmu menarik celana Chul-Woo itu ini, ‘kan?”

Jaejoong menarik sebuah sapu tangan lumayan dari saku seragam sekolahnya. Taeyeon sangat terkejut melihat sapu tangan itu, yang notabene adalah sapu tangan milik Jaejoong. Jaejoong menyerahkan sapu tangan itu kepada Taeyeon. Taeyeon menerimanya dengan wajah blank.

“Kau tidak ingin Chul-Woo menginjak ini, ‘kan? Kau berusaha menyelamatkan sapu tangan ini,” ujar Jaejoong.

“N… ne. Itu karena ini milikmu, sunbae. Jadi, aku merasa harus menjaganya dengan sangat baik,” jawab Taeyeon.

“Chul-Woo bisa saja membunuhku di tempat begitu ia tahu kalau alasannya hanyalah sapu tangan. Mungkin aku harus cari alasan lain,”

“Wae? Katakan saja itu padanya. Yang akan menghukumku, ‘kan sunbae. Karena aku memang tidak berniat menarik celana labu itu,” ujar Taeyeon.

“Aniya. Aku tidak akan menghukummu. Itu hanya bohong belaka,” jawab Jaejoong sambil tersenyum lebar. “Lagipula, kau melakukannya karena ingin menyelamatkan sapu tangan itu, ‘kan? Aku merasa terenyuh. Gomawoyo,”

Senyuman Jaejoong yang lembut benar-benar membuat hati Taeyeon tenang. Ia bahkan tersenyum lebar juga.

“Ah! Sebelum aku lupa, aku ingin mengembalikan sapu tangan ini, sunbae,” kata Taeyeon.

“Pantas saja akhir-akhir ini kau selalu kelihatan di depan mataku, apalagi di taman sekolah. Kau ingin mengembalikan sapu tangan itu tapi takut, ‘kan?” tanya Jaejoong.

Taeyeon kaget bukan main. Ia bahkan gelagapan ingin menjawab pertanyaan Jaejoong. Dan ia hanya bisa menundukkan wajahnya, malu. Ya, ia malu karena sudah tertangkap basah sering memerhatikan Jaejoong di taman. Ternyata Jaejoong selama ini mengetahuinya. Taeyeon berpikir mungkin saja Jaejoong membencinya. Karena setahu Taeyeon, ia tidak suka diikuti oleh perempuan secara diam-diam.

“Jeoseongeyo, sunbae. Aku hanya takut mengganggumu,” kata Taeyeon.

“Ani, tidak apa-apa sebenarnya. Kau lucu. Gerak-gerikmu saat itu lucu. Apalagi kalau aku sudah tampak mulai curiga,” jawab Jaejoong sambil tertawa pelan. “Setidaknya kau masih ada rasa malu, tidak seperti para siswi yang lainnya. Mereka memang mengikutiku, tapi ujung-ujungnya mereka mulai membuatku risih,”

Taeyeon perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Ia tampak lega dengan penjelasan Jaejoong. Ia senang sekali. Hanya dirinyalah yang tidak membuat Jaejoong kesal. Dan Taeyeon semakin optimis untuk bisa lebih dekat lagi dengan Jaejoong. Jaejoong bukanlah seperti laki-laki kebanyakan, yang hanya bisa membual dan menyakiti perasaan perempuan. Jaejoong adalah tipe laki-laki yang jujur, dan Taeyeon sangat suka laki-laki seperti itu. Ia sama sekali tidak merasa menyesal sudah jatuh hati untuk yang pertama kalinya dan itu kepada seseorang seperti Jaejoong. Taeyeon merasa ingin selamanya menjaga perasaan ini.

“Oh, aku pikir aku sudah menganggu sunbae,” ujar Taeyeon. Ia melihat sapu tangan milik Jaejoong yang berada di genggamannya saat ini. Saat ia mengembalikan sapu tangan ini, ia tidak ada alasan lagi untuk memerhatikan Jaejoong di taman, dan di manapun ia berada.

“Kajja, kita ke asrama. Aku juga harus pulang,” ujar Jaejoong.

“Sunbae,” panggil Taeyeon segera. “Biar aku sendiri tidak apa-apa. Tidak terlalu jauh juga. Sunbae pulang saja. Dan… ini sapu tangannya,”

“Sebenarnya, itu bukan milikku, Taeyeon-ssi. Itu milik adikku. Kau bisa mengembalikannya sendiri nanti,” ujar Jaejoong.

“Keundae, aku bahkan tidak tahu siapa adik sunbae,” kata Taeyeon.

“Oh, kau mengenalnya dengan sangat baik, kok,”

“Taeyeon-ah!!” seru seorang laki-laki yang suaranya sudah sangat Taeyeon kenal.

Taeyeon menolehkan kepalanya ke sumber suara. Benar saja, itu Luhan. Ia tampak agak sedikit kelelahan. Terlihat dari nafasnya yang terengah-engah. Luhan melangkahkan kakinya mendekati Taeyeon.

“Taeyeon-ah, neo…”

Omongan Luhan terputus begitu tatapannya jatuh ke Jaejoong. Ia tampak sangat terkejut melihat Jaejoong ada bersama dengan Taeyeon. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Jaejoong. Tatapannya benar-benar fokus ke Jaejoong.

“Kau pasti terkejut kenapa aku ada disini bersama perempuan, ‘kan?” tanya Jaejoong pada Luhan.

“Aku akan terkejut kalau kau bersama alien, hyung,” jawab Luhan ketus, yang membuat Jaejoong tertawa pelan.

Mendengar Luhan memanggil Jaejoong dengan panggilan “hyung”, Taeyeon mempunyai perasaan adik yang dimaksud Jaejoong adalah Luhan. Namun, segera ditepisnya pemikiran itu.

“Taeyeon-ah, berikanlah sapu tangan itu. Itu milik Luhan, adikku,” ujar Jaejoong pada Taeyeon.

Taeyeon membelalakkan matanya. Ia menatap Jaejoong dan Luhan secara bergantian dengan pandangan sulit dipercaya. Dugaannya benar, Luhan adalah adik Jaejoong.

 

-To be continued-

 

Fiuh~ akhirnya selesai juga kekekke ada yang nunggu FF ini? #plakk.

Karena bulan ini bulan kosong (?) jadi kemungkinan author bakalan rajin post FF #ngga janji kekeke#ditamparreaders.

Okee, readers yang baik, don’t be SIDERS, yaaa^^ keke

Advertisements

93 comments on “Ma Boy~ (Chapter 4)

  1. mwo??luhan adiknya jaejong?
    wkwkwk…ngakak banget waktu taeng eonie mlorotin celana sunbaenya..
    celana labu nya unyu2 pasti…
    lanjutannya gak pake lama y thor…awas aja kalo lama #maksa bget ni orang

  2. Siapakah ‘gadis kupu-kupu’ itu ? Gk tau knp srekk nya mlah ma taeng jaejoong #mengkhianati luhan
    My Flower Boss, kpan dpost nya author ? Dtnggu lho! Fic ini jga dtnggu sih, jgn lma ya
    FIGHTAENG!!

  3. Ni author kyknya pileknya gk sembuh” deh abisnya lap ingus mulu ydhlah author sy cpek dan author juga cpek bacanya semoga pilek nya cpet sembuh dan update ffnya cepet udah itu ajalah

  4. Luhan adiknya Jaejoong?! Oh Ya, aku reader baru ^^ 95Line~. Salam kenal ne? Panggil Xian Hua aja yah..^^ T^T Daebak! Usulinya sih, JaeJoong sama Taeyeon dong~._. Happy Ending thor?

  5. Luhan adik Jaejoong???? wajar sih, sama sama ganteng /g
    pantes laganya luhan kaya kenal saputangannya, ternyata emg pny dia lol-_-
    beda bgt sm jaejoong-_-a
    taeng suka bgt ya sm jaejoong?.-. gmn ya gue jadi ngeship sama jaejoong, tapi luhan juga sayang kalo dilepas/?
    oke next chapt ditunggu ya thooor mwah

  6. Akhirnya ada tae-joong moment….
    Suka thor….
    Wah ternyata jaejoong kakaknya luhan….?
    Next thor jangan lama2 ya …..
    Juga ff nya yg lain cepat dipublis ya thor….
    Fighting

  7. Gak nyanka luhan jaejoong adik kaka disini…
    Apa mereka bakal saingan buat dapet in taeyeon..
    Next chap jangan lama2 ya, thor..
    Kalu bisa dipanjangin lgi
    Fighting

  8. Aku aku aku nungguin tau thor :v nyampe lumutan nih :3 /plak/ tp kenapa pendek? T.T panjangin lg dong thor biar puas bacanya :v kkk.. Itu kenapa bisa Luhan adeknya Jaejoong? Bertolakan banget dah sifatnya XD udah taeng sm jejung aja yes, dia cowok setia lho /plak/ updatenya cepet ya thor, fightaeng!

  9. Bgs
    Itu si jaejong jgn2 udh mulai suka sama si taeng yah
    Kelihatannya makin seru aj nih
    Apalagi luhan sama jaejong saudaraan
    Hehe
    Ditunggu next chap nya deh
    FF yg laen jgn lupa di update jg yah 🙂

  10. Boxer labu wkwk ngakak bayangin gimana bentuknya/? Luhan adik jaejong?? Wahh makin seru!! Gimana nantinya kalo kakak beradik ini suka sama gadis yang sama?? Ga sabar nunggu kelanjutannya!! Jangan lama lama jebaaal nee >< /kedip kedip manja/? *author langsung muntah*(?)
    FIGHTING THOR 😀

  11. apaa luhan adek jaejoong?
    aduh plis deh kok bertolak belakang bgt ya hahahah
    kereen, jaejoong sama taeyeon aja

  12. Wah ternyata luhan adik jaejoong ? Pantes si luhan sperti kenal sm sapu tangan itu. trnyata punya luhan. Okedeh di tunggu kelanjutannya. Fighting!

  13. luhan jaejoong adik kaka?!
    wkwk gimana entar taeyeon? Luhan ama jaejoong sama” suka taeng kah??
    update soon thor….. Jan lama” ;D
    hwaiting!

  14. Luhan adiknya jaejoong ? Makin seru aja, pantesan aja dia kaya kenal sapu tangan siapa
    Ff My Flower Boss di tnggu yaa 😀

    Next dtnggu 😀

  15. akhirnya ffnya di lnjutin juga ! lumayan cepet updatenya thor jadi makin sukaaa
    OMO jadi jaejoong n luhan itu saudara #sudah kutebak gaya ala mafia kekekek 😀
    pantesan kok gelagat luhan aneh saat liat saputangan itu eh ternyata punya die
    taeng kayaknya terkejut bgt yha saputangan itu dikira punya jaejoong hingga rela di simpen simpen eh ternyata punya luhan 😀 😮
    bagus thor makin ke sini makin daebak makin bikin penasaran
    updatesoon thor banyakin moment Lutae bikin yg seseru mungkin n ff yg My Flower Boss nya di update juga pengen thu kelanjutan hubungan luhan n taeyeon di chap 11 bikin penasaran tingkat dewaaa sampai galau nungguin nya thor authornya kan janji kalau bakal di lanjutin #pupy eyes

    oke fighting yha thor nulis ffnya next next next harus di lanjutin #maksa di timpuk author 😀 ❤

  16. Luhan adik Jaejoong?!! GANYANGKA o.O
    bakal seru dong, kaka-adik jatuh hati ama yeoja yg sama.
    Boleh sedikit ralat ga, ada kata2 yg menurutku engga pas “Luhan langsung meletakkan telunjuk kanannya di atas bibir Taeyeon yang soft pink, menyuruhnya diam.” bahasanya terlalu berbelit2 menurut saya, seharusnya “Luhan meletakkan telunjuk kanannya di atas bibir soft pink Taeyeon.” jadi, bahasanya mudah dimengerti gitu.. mohon di perbaiki lagi 🙂
    adegan yg gasengaja melorotin celana ntu terinspirasi di To The Beautiful You ya?
    Fighting deh, buat kelanjutannya!

  17. Sapu Tangan yg di simpen Taeng eonni ternyata……
    punya Luge tohhhh
    kirain punya Jae oppa ^^

    ㅋ ㅋ ㅋ ㅋ ㅋ
    Taeng eonni kecewa kah????

    suka banget sama kararkter Jae oppa^^

    LuTae Moment nya sweet banget
    jadi makin cinta sama LuTae Couple <3<3<3<3<3<3<3 :-*

  18. ga nyangka ternyata Luhan adiknya jaejoong >< apa mungkin bakalan ada persaingan antara kakak beradik ini buat merebut hati taeyeon? waaaaaaaa aku berharapnya endingnya luhan sama taeyeon u,u

  19. Jaejoong sm Luhan kakak adik? O_O Ya ampun, smga ngga jadi saingan nntinya^^
    Btw, thor.. Taeyeon sukanya sm Jaejoong? Aku nunggu saat-saat dia akhirnya suka sm Luhan.. Mereka sweet bnget soalnya.. Hihi..

  20. Oh . . . . Jadi luhan jaejoong adik kaka?!
    wkwk gimana entar taeyeon? Luhan ama jaejoong sama” suka taeng kah?? Atau taeyeon suka keduanya /?

    Meluncur ke chapter selanjutnya . . Bye author-ssi ^^~

  21. (OoO) jadi luhan adknya jaejoong? pffftt kayaknya bakal ada cinta segitiga nih :v btw, gadis kupu2 itu betulan taeyeon? drmananya kupu2 ya? ._.a drpd penasaran, aku lanjut ke chapter 5 deh. untung udah komplit ffnya, jd gk usah penasaran lama2 😀 #plak! good luck buat author!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s