Fall in Love with you (chapter 1)

fwy

 

Author : RYN

Length : Multichapter

Rating : PG 17

Cast :

Taeyeon SNSD

Sehun EXO

Other Cast : find it by yourself

Genre : Romance, Fluff

Disclaimer : seluruh plot murni hasil pemikiranku. Inspirasi datang dari berbagai hal namun semuanya tetap dalam imajinasiku. Of course, seluruh cast milik tuhan dan orang tua mereka.

Annyeong!!!

Kali ini aku datang membawa kisah baru dengan cerita cinta yang baru. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membuat story baru. Kisah yang kubawa adalah cerita cinta dari pasangan SeYeon. Mungkin aku harus mengingatkan bahwa akan ada beberapa kata dan adegan yang berate M. So basically, ceritanya tidak cocok dibaca bagi reader yang masih polos atau kepolosannya tidak ingin terkontaminasi. Jadi aku meminta kebijaksanaan dari kalian.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

This my own idea

Any similarities with other stories is pure coincidence

Please do not plagiarize and claim as your own

I have enough trouble writing chapter and,

I don’t need someone stealing my hardwork.

 

Chapter 1

 *Background song, Beautiful by Donghae SJ

 ***

Bunyi klik disertai kilasan cahaya, terdengar dari sebuah benda berlensa. Di dalam ruangan berdinding putih dengan paduan warna krem, terlihat seperti berkelap kelip oleh kilauan yang tanpa henti. Sejauh mata memandang, tampak disetiap sudut ruangan beberapa model pria dan wanita tengah menjadi obyek kamera. Para model menampilkan berbagai pose yang menarik di depan fotografer. Setiap ekspresi tak luput dari kilasan kamera. Pemotretan telah berlangsung sejak beberapa jam yang lalu namun para model tersebut berusaha agar tetap kelihatan fresh dan bersemangat. Sebagai model profesional, mereka dituntut untuk selalu tampil sempurna di depan kamera. Mengabaikan suasana hati yang bisa menghancurkan hasilnya, mereka tetap harus menampilkan yang terbaik karena ini sudah menjadi pekerjaan mereka.

Seringkali terlihat fotografer yang tidak puas dan mengoreksi para model jika pose yang mereka tampilkan kurang sempurna atau tidak sesuai. Sedikit saja kesalahan, hal yang didapat pun tidak akan bagus. Beruntung semua itu bisa terbantu dengan pencahayaan yang mencolok. Para staf yang bekerja pun tak tinggal diam. Sesekali mereka merapikan make up model mereka yang mulai berkurang atau sekedar merapikan pakaian yang dikenakan agar foto yang dihasilkan juga sempurna.

Seorang gadis bertubuh ramping dengan perawakan kecil, tampak sibuk mondar mandir memeriksa dandanan salah satu model yang mulai terlihat sedikit berantakan. Pekerjaannya sebagai seorang asisten salah satu model ternama membuatnya lebih sibuk dibandingkan yang lain. Ia harus selalu stand by di dekatnya dan mengamati apa yang kurang dari penampilannya sebelum kembali memperbaikinya.

Kim Woo Bin adalah seorang model yang memiliki ketampanan ideal dengan sosok manly. Dengan tampang berkharisma dan senyum misterius ditambah tubuh tinggi atletis, figurnya itu banyak diinginkan oleh para gadis muda. Ia mengenalnya sejak beberapa tahun yang lalu dan menjadi dekat dengannya karena pekerjaannya sebagai asisten model. Ia masih mengingat hari dimana ia ditunjuk menjadi asisten Woobin, saat itu sepertinya sikap seluruh orang jadi lain. Cara mereka memandangnya menjadi berbeda, mengincarnya seolah ia adalah mangsa empuk yang setiap saat bisa diburu. Ada ada saja yang mereka lakukan padanya. Tak terhitung berapa kali ia menerima omelan dan amarah setiap kali ia melakukan kesalahan kecil. Tentu saja sebagai ‘anak baru’ ia tak mungkin menolak atau mengeluh. Pada akhirnya, semua masa masa sulit itu perlahan-lahan berakhir, meskipun mungkin tidak semuanya, setidaknya sebagian dari mereka telah memperlakukannya dengan baik.

“masih berapa lama lagi?” setengah berbisik, sang model bertanya seraya sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah asistennya. Sementara fotografer memberinya waktu untuk istrahat, ia mengambil kesempatan itu untuk berbicara dengannya.

Seperti biasa, gadis itu tersenyum lalu melirik jam tangannya. “tinggal 30 menit lagi, oppa.”

Pria itu menarik tubuhnya dan mendesah kecewa. Ekspresinya yang cemberut membuat gadis itu tersenyum geli saat akan menambahkan make up ke wajahnya.

“jangan cemberut. Make upnya nanti tidak berhasil.” Gadis itu memasang tampang pura-pura marah.

“tsk.” Sahut pria itu dengan kesan mencemooh.

Gadis itu tersenyum sumringah dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa geli dengan tingkah kanak-kanaknya. “salahmu sendiri oppa. Kau bangun terlambat.” Ia telah menyelesaikan sentuhan terakhirnya.

Sekali lagi pria itu mendecak membuat gadis itu terkikik saat meletakkan peralatan make up kembali ke dalam tasnya. Gadis itu tahu, ia telah memberikan alasan yang tepat dan membuatnya tak bisa mengelak.

Beberapa menit kemudian, sesi foto terakhir akhirnya selesai. Setelah mengucapkan terima kasih pada semua staf yang bekerja sama dengannya, pria itu pun kembali menghampiri asistennya.

“aku sudah mendengar dari manager.” Ujarnya seraya membantu gadis itu berkemas, namun sebelum ia sempat melakukannya, gadis itu sudah mencegahnya.

“oppa, aku bisa mengerjakannya sendiri.” kata gadis itu cemberut.

Pria itu menatapnya dengan tatapan tak setuju, tapi akhirnya menyerah. Ia tidak punya pilihan lain selain menurutinya dan membiarkannya merapikan semuanya jika tatapan tajam itu sudah mengarah padanya. Sambil melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan, pria itu menyandarkan punggungnya pada sebuah pilar besar dengan melipat kedua tangannya lalu kembali mengamati gadis yang tengah sibuk di sampingnya.

“sayang sekali, mulai besok kau bukan asistenku lagi.” ujarnya.

Gadis itu menghentikan pekerjaannya dan melihat pria yang telah cukup lama dikenalnya itu mengulas senyum padanya.

“bukannya bagus? Oppa tidak perlu lagi mendengar suara teriakanku setiap pagi.” Ia memberikan kedipan jenaka, sehingga pria itu berwajah cemberut.

“aku serius Taeyeon.” ujarnya merajuk.

Taeyeon lagi-lagi tak bisa menahan tawanya. Tingkahnya yang seperti anak-anak yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, terlihat menggelikan. Tapi detik selanjutnya, ia harus menutup mulutnya karena pria itu memelototinya. Meskipun ia tahu kalau itu hanyalah akting, Taeyeon tetap merasa terintimidasi.

“kau tahu sendiri oppa, aku tidak bisa menolak pekerjaan itu. Manager sudah memberikan pekerjaan itu padaku dan tentu aku harus bertanggung jawab.” Ujarnya mantap dengan mimik serius.

Woobin mendesah panjang dan beberapa detik setelahnya, sebuah senyuman tulus mengulas di bibirnya. “aku pasti akan merindukanmu.”

“kita ‘kan masih bisa bertemu disini oppa.”

“tsk, itu tidak akan sama saat kau masih menjadi asistenku.”

“Woobin oppa…”

Taeyeon tak sempat lagi melanjutkan kalimatnya karena dari jauh, seorang pria bertubuh sedang dengan usia kira-kira 40an lebih, berjalan ke tempat mereka. Taeyeon mengenalnya sebagai manager, tapi seseorang yang berjalan dibelakangnya, ia sama sekali tak mengenalnya atau lebih tepatnya baru melihatnya.

Saat pertama kali pandangannya jatuh pada sosok pria berperawakan tinggi itu, untuk alasan yang tak diketahuinya, tiba-tiba saja jantungnya berpacu dengan kencang. Tak sadar, Taeyeon telah menahan nafasnya selama beberapa detik karena kehadirannya dan entah mengapa ia mendapati dirinya tak bisa melepaskan mata dari pria itu. Diluar dari sosok dingin dan kelihatannya tak suka berbicara, wajah pria itu sangat tampan. Terlalu tampan. Tidak mengherankan jika perhatian seluruh model–terutama wanita–kini mengarah pada mereka. Samar-samar Taeyeon mendengar bisik-bisik dari beberapa pasang mata yang berisi pujian terhadap pria berkulit putih itu. Dan kalau tidak salah lagi, Taeyeon juga sempat mendengar helaan nafas tertahan–sama seperti dirinya puluhan menit yang lalu tapi beruntung ia bisa menutupinya–yang terkejut berlebihan dari mereka.

Seperti yang biasa dilakukan oleh pria sok tampan dan merasa diri satu-satunya yang sempurna–begitu Taeyeon menyebutnya, pria itu juga hanya berjalan dengan angkuh tanpa memberikan respon kepada hampir seluruh pasang mata yang terpesona menatapnya. Bahkan tak sekalipun melirik dan terus memandang lurus ke depan dengan memasang ekspresi datar yang kelihatan galak. Taeyeon tersenyum mencemooh, nyaris tertawa mendengar gadis-gadis itu masih saja mengelu-elukan ketampanan dan betapa kerennya pria angkuh itu meskipun tak mendapat balasan.

Paduan warna jingga dan coklat pekat yang menjadi warna rambutnya, terlihat sangat mencolok bila melihat kulit putih susunya. Taeyeon sangat yakin, pria itu pasti sengaja mewarnai rambutnya dengan kedua warna terang tersebut untuk mencari perhatian. Tapi semakin diperhatikan, rambut itu kelihatan asli. Entah darimana datangnya, Taeyeon mendadak ingin menyentuh rambut itu. Penilaiannya beberapa detik yang lalu perlahan berubah. Taeyeon diam-diam mengakui, apapun warna rambut pria itu nantinya, tidak akan membuat aura good looking darinya berkurang, malah mungkin ia akan semakin terlihat tampan dan menarik.

Taeyeon buru-buru mengumpat dalam hati, ia tak seharusnya memuji pria itu secara tidak langsung. Meski demikian, matanya tetap memperhatikan dan menilai sosok di depannya. Pria yang memiliki sepasang alis yang tebal, hidung terbentuk sempurna, garis rahang yang kokoh dan sepasang mata yang tajam dengan tatapan dingin, begitu memancarkan aura kemisteriusannya. Terakhir, pandangannya mengarah ke bibir merahnya yang begitu menggoda dan . . . Taeyeon mengerjap kaget bersamaan dengan rona merah disekitar pipinya. Ia segera memalingkan pandangannya agar tak ketahuan sambil merutuk dalam hati menyadari bahwa ia telah menilai seseorang yang tidak dikenalnya dengan cara yang tidak sopan dan . . . mesum?

*oh god* ingin rasanya ia berlari dan menghilang dari tempat itu sekarang. Namun sekali lagi, atas dorongan ganjil dalam hatinya, Taeyeon mencoba memberanikan diri melihatnya. Tidak ada yang berubah. Wajah pria itu masih kaku, tak menunjukkan mimik muka mengenai apa yang sedang dipikirkannya, tak berkedip dan hanya menatap dengan tatapan kosong yang kadangkala kelihatan dingin. Seolah ia hanya berbicara lewat matanya, entahlah, Taeyeon tak begitu yakin, yang jelas tatapan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Tatapan pria asing itu mengusiknya, seakan menembus ke dalam jiwanya. Dan lagi, untuk alasan yang tak diketahuinya, cara pria itu menatapnya membuat perasaannya di dalam sana berkecamuk. Aneh.

Taeyeon akhirnya memilih menghindarinya bersamaan dengan ketika ia mulai merasakan atmosfir berbeda antara dirinya dan pria tak dikenalnya itu. Ada sebuah perasan aneh menyelimutinya, sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata, jauh dalam hatinya, Taeyeon merasakan perasaan ini, perasaan familiar saat memandangi wajah pria itu. Tak ingin merambat terlalu jauh, segera saja Taeyeon menepis perasaan itu dan mencoba untuk tak memikirkannya.

“selamat sore manager.” Taeyeon tersenyum menyapa seraya membungkuk hormat pada pria dihadapannya, sementara Woobin yang telah berdiri disampingnya hanya mengangguk pelan. “apa yang anda lakukan disini?” tanya Taeyeon, tanpa bermaksud terdengar kasar.

Manager itu hanya sesekali mengunjungi studio karena ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan kerjanya. Jadi jika hari ini ia terlihat disini, itu pasti ada sesuatu yang sangat penting atau mendesak.

Pria itu terkekeh pelan kemudian berbicara dengan suara tenang. “seperti yang kau ketahui Taeyeon, mulai besok kau bukan lagi asisten Woobin,” Taeyeon hanya mengangguk lalu diam-diam melirik pria muda disamping managernya sembari menerka-nerka, apakah ini ada hubungannya dengan pria itu? Pria dingin itu masih tak menunjukkan reaksi meskipun ia telah beberapa kali memandanginya. Atau mungkinkah pria itu tak peduli? Terserahlah.

Ucapan managernya selanjutnya membuat Taeyeon mengalihkan perhatiannya.

“aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Sambil tersenyum, managernya melihat sekilas ke sampingnya lalu padanya. “mulai besok, kau resmi bekerja sebagai asisten Oh Sehun.”

Kening Taeyeon mengernyit, “Oh Sehun? Maksud anda…” kalimatnya dibiarkan menggantung begitu saja saat pandangannya mengarah pada pria yang sejak awal menarik perhatiannya.

Manager itu mengangguk membenarkan. Taeyeon manggut-manggut tanda mengerti namun kerutan di keningnya tak menghilang seiring benaknya yang tiba-tiba saja dipenuhi rasa ingin tahu tentang sosok Oh sehun itu.

*Oh Sehun?* kembali nama itu terulang dalam pikirannya. *aku sepertinya pernah mendengar nama itu disuatu tempat, tapi dim–* matanya sontak mengerjap kaget bersamaan telapak tangannya membungkam mulutnya, menghindari memperlihatkan rahangnya yang nyaris jatuh karena terkejut. Taeyeon diliputi kengerian dan rasa tak percaya, segera melempar pandangannya kembali pada pria bernama Sehun di depannya dan meneliti wajah itu sekali lagi. Ini hanya perasaannya atau memang Sehun sedang menyeringai padanya tanpa siapapun mengetahuinya? Bulu kuduknya mendadak meremang padahal cuaca sedang dalam batas normal, ketika sebuah pecahan ingatan lama melintasi benaknya. *ti..dak mung..kin..* jantungnya berhenti berdetak sejenak lalu mulai berpacu dua kali lipat.

Managernya sepertinya menyadari perubahannya dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Taeyeon buru-buru mengangguk dan mengatakan ia baik-baik saja padahal sebenarnya tidak. Pikirannya diliputi kebingungan tapi berusaha ditutupinya dengan senyuman. Tentu saja managernya menerimanya begitu saja. Taeyeon tak berani menatap pria itu lagi, namun dari jarak mereka yang hanya beberapa langkah, ia bisa merasakan tatapan dingin pria itu padanya.

“Oh Sehun akan bekerja mulai besok di agensi kita. Ia baru tiba dari Amerika, jadi kupikir akan lebih baik mengenalkanmu padanya sekarang. Aku berharap, sebagai asistennya yang baru, kau mampu membimbingnya karena ia lebih muda darimu dan tentu saja mengurus seluruh keperluannya seperti yang kau lakukan pada Kim Woobin. Apa kau mengerti Taeyeon?”

Meskipun terkejut mendengar kata-kata managernya, Taeyeon berhasil menyamarkannya dan menjawabnya dengan anggukan lemah. Di dalam kepalanya timbul berbagai asumsi tentang Sehun. Jika ternyata Sehun adalah orang yang sama, mungkinkah pria itu mengenalnya? Melihat penampilannya sekarang, ia sungguh meragukannya. Lihat saja raut wajah pria itu yang sama sekali tak berubah. Dalam hatinya, Taeyeon hanya bisa berharap dan berdoa Sehun tak mengingatnya. Atau memang ia sendiri yang tak ingin di ingat? Yah, akan lebih baik seperti itu.

“aku mengerti manager.”

“bagus. Kau akan menerima jadwal Sehun besok.”

Taeyeon mengangguk mengerti. Daripada merasa bahagia karena menyukai pekerjaannya, ia justru terlihat muram dan tak bersemangat. Woobin yang mengamatinya sejak tadi menyadari hal itu. Wajah gadis itu kelihatan pucat dan ia menjadi penasaran mengapa Taeyeon berubah drastis seperti itu. Menggeser penglihatannya ke arah Sehun, Woobin jadi bertanya-tanya apakah ini ada hubungannya dengan anak di depannya itu? Ia ingin menanyakannya tapi manager sudah lebih dulu berbicara.

“nah Sehun, gadis ini adalah Kim Taeyeon.” manager berbicara pada Sehun. “ia akan menjadi asisten pribadimu selama kau bekerja di agensi kami. Taeyeon akan membantumu mengurus semua keperluanmu, kau bisa menanyakan apapun padanya.”

Sehun hanya menatap Taeyeon membuat gadis itu menjadi tak nyaman dibawah tatapannya.

Kemudian, manager melihat Taeyeon lagi. “aku tidak bermaksud memberikan pekerjaan ini pada orang lain selain dirimu Taeyeon. Karena aku sangat mempercayai cara kerjamu, kuharap kau bisa bertanggung jawab.” Ia mempertegasnya lagi.

“aku akan melakukannya manager. Anda tidak perlu khawatir.” Taeyeon mengulas senyum tipis. Setidaknya, selama ini ia telah berusaha dan jika mendapat pujian, itu adalah bonus untuknya. Bukan hanya itu saja, managernya bahkan mempercayainya. Apapun yang terjadi, ia telah bertekad akan menerima pekerjaan ini.

Menjadi asisten seorang model merupakan pekerjaan yang sulit. Membangun hubungan baik agar sejalan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, karena harus ada kerjasama diantara asisten dan sang model. Belum lagi tekanan yang datang dari berbagai pihak yang tidak menyukainya. Awalnya memang sulit tapi seiring berjalannya waktu, ia akhirnya menjadi terbiasa.

Selama ini Taeyeon bekerja pada Woobin dan sudah terlatih mengurus semua keperluannya. Mulai dari pakaian, makanan, menyusun jadwal hingga pekerjaan yang menurutnya yang paling susah yaitu membangunkannya setiap pagi. Woobin termasuk pria paling sulit dibangunkan saat pagi hari, padahal jadwal pemotretan biasanya dilakukan di pagi hari. Tak jarang pula Taeyeon mengomel dan memarahi pria itu, beruntung, meskipun kesal Woobin tidak pernah protes dan selalu menurutinya. Itulah salah satu alasan yang juga membuatnya senang bekerja sama dengan model itu.

Taeyeon menghela nafas berat kemudian memberikan perhatian penuh pada Sehun. Apa boleh buat, ia telah bertekad. Sambil memberikan senyumnya, ia memperkenalkan dirinya secara resmi.

“aku Kim Taeyeon. Senang bertemu denganmu Oh Sehun.”

Mengantisipasi respon yang dingin darinya, Taeyeon sontak terkejut. Diluar dugaan, Sehun tersenyum padanya. Entah mengapa, bunyi ketukan jantungnya tiba-tiba saja terdengar lebih keras dan berdetak dalam tempo yang cepat. Senyuman yang sangat indah dari seorang pria dingin. Entah Taeyeon harus bangga dengan itu karena ini pertama kalinya ia melihat pria itu tersenyum, atau dia harus tertekan karena detik selanjutnya senyuman itu berubah menjadi seringaian kecil yang tersamar yang hanya disadari oleh dirinya seorang.

“senang bertemu denganmu juga, Kim Taeyeon.”

Taeyeon sedikit berjengit mendengar namanya disebut oleh pria itu. Nada dingin penuh kesan mengejek membuat tubuhnya merinding untuk alasan yang dia sendiripun tak yakin. Tatapan Sehun menguncinya, membungkamnya tanpa disadarinya. Hanya itu saja kalimat yang didengarnya, selanjutnya hanya ada rasa canggung diantara mereka khususnya dirinya sendiri.

Taeyeon diam-diam menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan sambil mencoba mengatur debaran jantungnya yang entah sejak kapan belum bekerja dengan normal. Ia sudah bisa menggambarkan akan seperti apa nanti, mengetahui model bernama Sehun ini adalah pria dingin yang tidak memiliki ekspresi lain selain ekspresi dingin dan terkadang datar yang membuatnya sukar dipahami, sepertinya akan menjadi sulit baginya untuk bekerja bersamanya. Taeyeon mulai memikirkan, bagaimana nanti cara berkomunikasi dengannya? Dengan sikap dingin seperti itu, apa pria itu akan meresponnya? Ia meragukan itu. Dan jika ditilik lagi, sejak awal pria itu memang tak pernah mengeluarkan suara selain menyapanya tadi, itupun dengan cara yang membuatnya tak nyaman. Ini pasti akan lebih sulit dari Woobin.

“ah, aku lupa memberitahu. Oh Sehun adalah seorang model di Amerika. Sebelumnya, beberapa agensi terbesar disana telah mengontraknya dan ada beberapa majalah ternama pernah memakainya sebagai model mereka. Kau pasti sudah bisa mengerti mengapa agensi kita ingin mengontraknya.” Manager kembali menjelaskan dengan penuh semangat.

Model di Amerika, huh? Kenapa ia tak pernah mengetahuinya? Ah benar, kau tak punya waktu untuk melihat internet Taeyeon. Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya, sedikit merasa menyesal mengapa ia tak memanfaatkan waktu untuk menyelami tekhnologi modern itu.

“buat Sehun nyaman bekerja di agensi kita Taeyeon. Ingat, aku mempercayakannya padamu.” ucapan terakhir manager sebelum meninggalkannya diikuti Sehun yang berjalan disampingnya.

“hei, kau kenapa? Sejak tadi kau lebih banyak melamun dan wajahmu juga kelihatan pucat. Ada apa?” Woo bin berbisik padanya. Pria itu sudah tak sabar ingin menanyainya dari tadi.

“oh..itu karena…” Taeyeon mencoba mencari kata yang tepat, “karena…”

“karena anak bernama Sehun itu?” Woo bin langsung menebak membuatnya terkejut.

“b-bukan itu..” bantah gadis itu cepat, tapi tak mampu menutupi ekspresinya.

Mata Woo bin menyipit menatapnya dengan serius. Dan entah bagaimana, pandangan itu membuat Taeyeon tak nyaman. Ia tidak punya pilihan lain selain tersenyum kaku menutupinya.

“kau kenal dengan anak itu? Kulihat tadi, kau kelihatan terkejut saat mendengar namanya dan kau juga kelihatan aneh saat anak itu berbicara padamu.”

Apa tadi itu ia terlalu kentara? Taeyeon merutuki dirinya yang tak pandai menutupi ekspresinya.

“jangan mengira aku tidak menyadarinya Taeyeon.” Woo bin menambahkan lagi.

Wow. Taeyeon terpaksa salut pada kecermatan pria itu. Woo bin mengenalnya dengan sangat baik. Bahkan terlalu baik hingga ia merasa tidak memiliki privasi lagi dalam melindungi pikiran dan tindakannya. Meski demikian, ia tak mungkin mengatakannya begitu saja pada pria itu. Bagaimana tidak? Ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya. Semuanya masih berantakan.

*tidak mungkin anak itu*

Maka disinilah Taeyeon, memasang wajah senetral mungkin dengan senyum tipis terulas lalu berbicara. “aku tidak mengenalnya oppa.” awalnya Woo bin masih kelihatan tak percaya, maka ia melanjutkan, “aku hanya merasa dia mirip seseorang yang kukenal.”

“oh.” Woo bin dengan mudah menerimanya.

Taeyeon diam-diam menghela nafas lega. Jika Woo bin bertanya lagi dan mengorek apa yang ia pikirkan tadi, mungkin nanti dia tak akan mampu memberikan alasan yang lebih bagus lagi.

– – –

“aku pulang.”

Bunyi pintu yang ditutup disertai nada klik kunci otomatis, terdengar beberapa detik setelah suara itu. Langkah kaki yang diseret malas membuat seorang gadis yang sedang menonton TV sambil memakan snack yang dipegangnya, menoleh ke arah pintu. Kening gadis itu lantas berkerut menyaksikan raut wajah di depannya.

Taeyeon menghela nafas seraya menghempaskan tubuh dan tasnya di sofa putih depan TV.

“ada apa dengan muka kusut dan helaan nafasmu itu?” gadis yang sejak awal acara TV sudah mengklaim tempat disampingnya, memandangnya heran.

“bukan apa-apa.” Taeyeon menjawab acuh sambil memijat kedua sisi keningnya dengan mata terpejam.

Tidak puas dengan jawabannya, gadis itu menatapnya secara mengejek. “aku bisa melihat itu.”

“diamlah Jessie. Aku sedang tidak mood hari ini.” Yang sejujurnya, Taeyeon sedang tidak ingin mendengar kalimat-kalimat sarkasme selanjutnya dari sahabatnya itu.

Gadis itu menatapnya sejenak dan akhirnya mengangkat bahunya, tanda mengalah. Matanya beralih kembali memandangi acara reality show di TV. Tanpa menoleh pada Taeyeon, ia berbicara lagi.

“aku dengar mulai besok kau tidak lagi menjadi asisten Woo bin oppa. Apa itu sudah diputuskan?”

“itu benar.” Taeyeon menghela nafas, kemudian bangkit menuju dapur. Mengambil air minum dari dalam kulkas lalu kembali ke ruang TV bersama gelasnya. Jessica sahabatnya masih disana, menatapnya dengan rasa ingin tahu.

“lalu?” tanyanya tak sabar.

Taeyeon meneguk air minumnya. “apa lagi menurutmu?” sahutnya santai.

“oh.” Jessica tampak kecewa.

Tsk, memangnya apa lagi yang gadis itu harapkan dari jawabannya.

“aku kira kau sedang diet.” Ejek Taeyeon melirik snack di tangannya sambil kembali duduk ditempatnya.

“aku hanya akan makan sedikit.” Jessica membela diri.

*yeah sedikit* Taeyeon merotasikan bola matanya, jelas tak percaya.

Jessica hanya mengerutkan bibirnya melihat reaksinya, tapi tetap melanjutkan. “lagipula, My baby tidak begitu suka dengan tubuh kecilku. Katanya aku terlalu kurus.”

“sekarang kau baru menyadarinya?” Taeyeon meliriknya, pura-pura kaget. “apa lagi yang dikatakan My–oh–baby–mu itu?”

Jessica mendecak kesal mendengar ejekannya. Tapi kemudian menjawabnya yang langsung membuat Taeyeon tak bisa menahan tawanya.

“pfftt….muahahahaha…kurang asupan gizi? My–oh–baby–mu bilang seperti itu? hahaha..jeongmal?..hahaha.”

“yah! Jangan mengejekku! Dan berhentilah memanggilnya seperti itu.” Wajah Jessica cemberut. “itu sama sekali tidak lucu.” rajuknya.

Taeyeon mencoba untuk tidak tertawa tapi tidak berhasil. Ia membayangkan, bagaimana jika orang-orang diluar itu tahu seperti apa Jessica yang sebenarnya. Seorang model cantik yang dijuluki Ice Princess, kini merajuk seperti anak-anak. Tentunya sisi yang satu ini hanya dia dan My–oh–baby–nya itu yang tahu.

Jessica yang melihat Taeyeon senyum-senyum sendiri menjadi semakin kesal. Ia sudah menduga, sahabatnya itu pasti tengah membayangkan hal-hal yang lucu dan memalukan tentang dirinya.

“kau tidak perlu marah, lagipula tubuhmu memang terlalu kurus.” Tatapan Taeyeon berubah serius meskipun pada akhirnya ia tersenyum sebagai pengganti tawanya yang nyaris keluar.

Raut wajah Jessica berubah datar sebelum memelototinya. “ini tuntutan. Seorang model harus menjaga pola makannya.”

“aku tahu. Tapi terlalu kurus juga tidak bagus untukmu.” Jessica hanya menghela nafas panjang. Taeyeon tersenyum menatapnya. “aku bersyukur kata-kata Yongguk mampu mempengaruhimu. Tidak heran kau sangat cocok dengannya.”

Jessica akhirnya ikut tersenyum, dalam hati membenarkan ucapannya sekaligus sindirannya. Hanya dengan mendengar nama kekasihnya disebut, moodnya langsung baik kembali.

Mereka akhirnya menonton TV bersama dengan bungkusan snack yang bertambah di meja. Taeyeon sebenarnya tidak benar-benar fokus. Matanya saja yang melihat layar TV tapi pikirannya melayang-layang. Disampingnya, Jessica tampak sangat menikmati acara TV tersebut. Tentu saja, gadis itu selalu menyukai acara reality show.

Taeyeon diam mengumpulkan pikiran. Sejenak kemudian, kepalanya mengangguk mantap di iringi dengan tubuhnya yang ditegakkan lalu diposisikan menghadap lurus ke arah Jessica. Jessica yang tak tahu apa-apa, kembali menatapnya dengan raut heran.

“mm…aku ingin menanyakan sesuatu.” ragu-ragu, Taeyeon memulai. Kening Jessica mengernyit. Taeyeon melanjutkan, “begini…aku ingin menanyakan tentang seseorang. Mungkin kau tahu dia siapa.”

“siapa?” Jessica telah mengabaikan TV sepenuhnya dan fokus padanya.

Taeyeon masih ragu-ragu namun akhirnya mengeluarkan kalimat pertanyaannya. “kau kenal dengan seseorang bernama Oh Sehun?”

“Oh Sehun?”

Taeyeon mengangguk cepat.

“hm…” Jessica tampak berpikir sejenak, “sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” Beberapa saat kemudian, wajahnya berubah cerah. “aha! Tunggu sebentar.” Dalam hitungan detik, gadis itu menghilang ke dalam kamarnya. Saat keluar, kedua tangannya telah menggenggam sebuah kotak tipis persegi berwarna putih dengan gambar ikon apple kecil tercetak di sampulnya.

“apa yang kau lakukan?” tanya Taeyeon heran. Dia hanya menanyakan Sehun tapi kenapa Jessica malah keluar membawa laptopnya. Tapi Jessica tidak langsung menjawabnya. Gadis itu sibuk mengetik beberapa kata sambil memandangi layar benda itu. Kadang-kadang keningnya berkerut, kadang-kadang senyumnya membentuk yang disambut dengan mata berbinar-binar. Taeyeon sama sekali tak memiliki petunjuk apa yang dilakukan Jessica sekarang.

Sepertinya Jessica telah menemukan apa yang dicarinya karena ia mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar pada Taeyeon.

Finally. Nyaris bosan, Taeyeon memutuskan untuk tetap mendengarkannya.

“setelah searching dan browsing, aku mendapatkan ini.” Jessica nampak bangga, seraya memutar layar laptopnya ke arah Taeyeon dengan senyum masih diwajahnya.

Segera setelah melihat layar itu, kedua mata Taeyeon sontak membundar. Di dalam laptop itu, tepatnya apa yang terpampang didepannya membuatnya kehilangan kata-kata. Seluruh foto dan juga profil Sehun ada disana. Taeyeon memajukan wajahnya untuk melihat lebih dekat, matanyanya menyipit, keningnya mengernyit. Tidak salah lagi, itu adalah Oh Sehun yang dimaksudnya.

Sebanyak ini? Woah..apa Sehun itu seorang bintang? Supermodel? Woah!

“disitu tertulis, Oh Sehun adalah seorang supermodel. Dia lahir di Korea dan besar di Amerika.” Jessica menjelaskan dengan lancar.

*aku..juga tahu itu* Taeyeon tak sadar menggigit bibir bawahnya. Sedikit lagi, perkiraannya akan menjadi kenyataan dan sudah terlambat untuk menghindari itu.

“dia sudah beberapa kali memenangkan penghargaan sebagai model terbaik di ajang internasional. Selain itu, dia juga beberapa kali mendapat tawaran menjadi model merk pakaian ternama dan juga model untuk beberapa majalah terkenal selama di Amerika…” Jessica menjelaskan. “woah, umur semuda itu sudah setenar ini.” ia seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Tidak heran, SM mengontraknya sekarang. Taeyeon membatin.

Sambil mendengarkan Jessica menjelaskan panjang lebar, Taeyeon tengah memandangi salah satu foto Sehun yang memakai sweater putih lembut, sambil berdiri menoleh keluar jendela bertirai putih. Sosoknya yang sengaja diambil setengah dari samping, entah dengan konsep apa, tampak begitu sempurna dalam ruangan bernuansa putih di foto tersebut. Rambutnya tampak berkilau diterpa sinar matahari pagi. Hidungnya, bibirnya, serta rahangnya membentuk lekukan yang seolah telah tertata sedemikian sempurna. Pandangan matanya yang menunjukkan kelembutan, disaat bersamaan juga terlihat kesepian dan Taeyeon masih bisa merasakan aura dingin itu dari raut wajahnya. Apa yang diperlihatkan foto itu begitu sempurna. Hanya dengan melihat foto itu saja, pasti sudah bisa membuat gadis-gadis diluar sana terpukau olehnya.

“tapi jangan tertipu oleh ketampanannya. Sehun itu bisa saja sangat keren dan tampan, tapi satu hal yang harus kau tahu, anak itu sangat dingin.” Jessica menambahkan.

“aku tahu. Tidak heran saat bertemu dengannya tadi, suasananya jadi terasa seperti di musim dingin. Ugh.” Taeyeon pura-pura bergidik.

“kau bertemu dengannya?!” seru Jessica tak percaya.

Taeyeon nyengir, baru sadar bahwa sepenuhnya ia belum menceritakannya pada Jessica. Ia kemudian mengangguk. “mulai besok aku menjadi asisten barunya.” Jawabnya acuh, seolah itu bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan.

Mulut Jessica langsung menganga, kelihatan sangat shock. “kau bercanda.”

“untuk apa? Tidak ada untungnya bagiku.”

Detik selanjutnya, Jessica bersikap seperti orang kehabisan nafas. “omo.omo.omo..”

“yah. Yah. Yah.” Taeyeon terkejut dan segera memeriksa keadaannya setelah sebelumnya menggoyang-goyangkan badannya. “kau baik-baik saja ‘kan? yah! Jangan membuatku takut.” ujarnya cemas.

“woah, tidak menyangka SM akhirnya mengontraknya. Kau tahu, aku pernah mendengar rumor yang tersebar diantara para staf senior, bahwa para petinggi SM sudah lama ingin mengontrak Oh Sehun. Tapi karena ia masih terikat kontrak dengan agensi di Amerika, mereka memutuskan untuk menunggunya sampai kontrak itu berakhir.”

Kening Taeyeon mengernyit, memperhatikan Jessica yang kembali bersikap normal. Mungkin seharusnya belum bisa dikatakan sepenuhnya normal. Baru beberapa saat yang lalu gadis itu kelihatan sesak nafas dan membuatnya khawatir, sekarang lihatlah caranya menjelaskan panjang lebar dengan lancar dan tanpa ada beban.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. “lalu tujuanmu bersikap seperti tadi apa? Untuk memberitahuku bahwa Sehun adalah model ekslusif?” tanyanya dengan kesan mengejek.

“lebih dari itu.” Jessica mendecak kesal. “kau tidak tahu dengan siapa kau bekerja Taeyeon.”

“kau terlalu berlebihan. Memangnya kenapa dengan anak itu? Dia sama seperti Woo bin oppa. Seorang model.” Taeyeon memberi penekanan pada kalimat terakhir.

Memangnya kenapa dengan Sehun? Kalau dipikir-pikir lagi, ia jadi ingin tahu juga, mengapa tiba-tiba Jessica yang tidak biasa bersikap seperti tadi menjadi luar biasa aneh hanya karena mendengarnya menjadi asisten baru Sehun. Apa yang istimewa dari menjadi asistennya?

“tentu saja berbeda!”

Sungguh? Jessica ingin mengambil topik Sehun sebagai bahan perdebatan mereka? Yang benar saja. Taeyeon menatap sahabatnya itu dengan pandangan bingung, sebelum mengambil salah satu snack di atas meja dan memakannya.

“Oh Sehun adalah model yang sangat keren, tampan, menarik dan tentu saja sexy. Kau mungkin saja tidak tahu, tapi diluar sana banyak gadis yang bahkan rela membunuh untuk berada didekatnya.”

“psh, kau terlalu berlebihan.” Taeyeon mencemoohnya.

“aku serius~” lagi-lagi Jessica merajuk dengan membubuhkan aegyonya. “kau sangat beruntung Taeyeon. Kau sangat beruntung.”

Taeyeon bergidik ngeri. “jangan melakukan itu. Aku tidak akan terpengaruh.” Ucapnya dengan perasaan iritasi. “terdengar biasa saja bagiku.” Ia cukup kaget dengan reaksi sahabatnya ini. Tidak biasanya gadis itu begitu antusias dan luar biasa bersemangat untuk membicarakan orang lain, terutama pria selain kekasihnya. Ralat, terkecuali pria tampan.

Senyum Jessica segera terhapus dari wajahnya. “kau tidak serius ‘kan?”

“aku serius.”

“Taeyeon~”

Taeyeon menaikkan bahunya. “memangnya apa untungnya bagiku? Aku hanya asisten yang akan bekerja bersamanya entah sampai berapa lama. Lalu? Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan. Setidaknya aku tidak perlu bersikap seperti gadis-gadis itu yang rela membunuh untuk berada disampingnya ‘kan? Berkat manager, aku bisa menjadi asisten baru anak itu.” ujarnya dengan nada malas, tanpa perlu merasa bangga dan berterima kasih.

“kau sama sekali tidak tertarik padanya? Setelah bertemu dengannya untuk pertama kalinya, kau tidak merasa terpesona pada ketampanannya?” Jessica masih berusaha merubah cara berpikirnya.

Taeyeon diam sejenak lalu mengangguk. Untuk yang satu ini, ia tak bisa memungkirinya.

Jessica mengedip-ngedipkan matanya dengan jenaka. Taeyeon hanya merotasikan bola matanya. Kemana nanti arah pembicaraan mereka nanti dan sampai kapan berakhir, sepertinya ia sudah memiliki gambaran.

“kau tahu, julukan untuk si Sehun itu? Karena sikapnya yang dingin, selalu berwajah datar dan hampir tak pernah berbicara, orang-orang menyebutnya ice prince.”

“tsk.”

“bagaimana dengan cool prince?” Jessica mengedip-ngedipkan bulu matanya.

Taeyeon mencibir. “cold prince lebih cocok untuknya.” Tandasnya kemudian memandang kembali barisan foto-foto Sehun. Disampingnya, Jessica hanya terkekeh pelan.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja apa yang dikatakan Jessica perlahan-lahan tak terdengar lagi ditelinganya. Sebuah foto Sehun yang terpampang jelas mengikuti ukuran besarnya layar, membuat mata dan perhatiannya terpaku. Dalam ruangan bernuansa putih itu, di tengah-tengahnya terdapat sebuah ranjang besar bertudung putih transparan. Di atas ranjang berselimut putih, Sehun berlutut sambil memeluk seorang gadis dari arah belakang. Gadis itu hanya memakai gaun tidur berwarna putih ukuran mini sementara Sehun bertelanjang dada.

Taeyeon tahu bahwa itu hanyalah tuntutan pekerjaan, iapun sering melihat pose seperti ini setiap kali berada dalam ruangan penuh pemotretan. Tapi mengapa, melihat adegan itu disini–meskipun hanya lewat layar laptop–mendadak perutnya menjadi mulas, jantungnya luruh begitu saja serasa habis ditusuk benda tajam. Perasaannya jadi tidak enak dan hitungan detik setelahnya, ia tidak berminat lagi melihatnya. Cara Sehun melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu, cara Sehun mengecup bahu gadis itu, serta cara mereka berdua yang berbagi skinship mesra di setiap foto-foto diatas ranjang itu, dilihat dari sudut pandang manapun keduanya terlihat sangat serasi.

Entah mengapa, sekilas Taeyeon merasakan perasaan ganjil dalam hatinya. Ketidaksukaannya itu ternyata tak mampu di tutupinya dari Jessica yang sempat menangkap ekspresinya. Taeyeon mendapati dirinya masih memandangi deretan foto-foto itu meskipun pikirannya yang lain menyuruhnya untuk berhenti. Dan seperti dugaannya, Jessica mulai menggodanya.

“kenapa? Kau cemburu melihat foto itu?”

“cemburu? Yang benar saja. Aku tidak punya hubungan apapun dengan Sehun, jadi untuk apa aku merasa cemburu?”

Jessica membuat ekspresi wajah yang mengolok-oloknya sambil bersenandung. “kau tidak bisa membohongiku~”

“hentikan itu. Apapun yang kau pikirkan, itu hanya akan ada dalam khayalanmu.”

“gadis itu bernama Alana dan usianya sama dengan Sehun.” Jessica lalu menjelaskan tanpa ditanya. Mengabaikan tatapan tajam protes dari Taeyeon, ia tetap melanjutkan. “gadis itu berkewarganegaraan Inggris tapi ibunya adalah warganegara Jepang.”

Jadi itu yang menjelaskan mengapa gadis bernama Alana itu berwajah Asia. Taeyeon diam-diam melirik foto itu lagi.

“dia adalah model hebat, salah satu supermodel seperti Sehun. Mereka telah menjadi partner selama di Amerika. Banyak yang bilang, mereka berdua sangat serasi. Tapi setelah Sehun kembali ke Korea, aku tidak yakin mereka akan tetap berpasangan dalam pemotretan. Itu tergantung.” Jessica menutup penjelasannya sambil mengangkat bahunya.

“darimana kau mendapat infonya sebanyak itu? Tunggu, mengapa kau menjelaskan semuanya padaku? Aku ‘kan tidak bertanya.”

“wajahmu mengatakan sebaliknya.” Jessica menyindirnya tapi Taeyeon pura-pura tak mendengarnya. “dan untuk menjawab pertanyaanmu, kau ingat saat aku berangkat ke Amerika untuk menghadiri fashion summer bulan lalu?” Taeyeon mengangguk. “disana aku bertemu dengan Alana dan juga Sehun. Alana sangat ramah padaku sementara Sehun, ia sama sekali tak berbicara padaku. Awalnya kukira mereka berpacaran tapi ternyata tidak. Yang kulihat, Alana saja yang sepertinya sangat menyukai Sehun.”

“apa yang terjadi diantara mereka, aku sama sekali tak tertarik untuk mengetahuinya.” Taeyeon menanggapinya dengan cuek. “lagipula, aku tidak pernah memintamu menjelaskan bagaimana kisah cinta mereka.”

Jessica menaikkan sebelah alisnya sembari melipat tangan. Ia meneliti mata Taeyeon yang membuat gadis itu langsung merasa tidak nyaman dan menghindari tatapannya.

“really?” sindirnya. “karena terakhir kali kulihat, seseorang memandangi foto itu dengan pandangan seolah ingin membakarnya.”

“Yah Jessica!”

Jessica tergelak dan beberapa saat kemudian menyandarkan bahunya pada sofa sambil memakan snacknya. Wajahnya tiba-tiba berubah serius. “menurut rumor yang kudengar, Alana dan Sehun memiliki hubungan yang lebih dari sekedar partner dalam modeling.” Ujarnya dengan suara setengah berbisik.

Taeyeon mengerutkan hidungnya dan berpura-pura mencari kesibukan lain seperti menekan remote TV berulang-ulang, mengganti channel yang sedang ditonton Jessica.

Kenapa aku tidak begitu terkejut? Oh benar, budaya barat.

Hanya dengan sekali lihat, Taeyeon bisa menangkap makna dari ucapan Jessica. Mereka tidak lagi hidup di zaman dimana hal-hal berbau keintiman secara fisik dianggap tabu. Bukan lagi menjadi hal sakral tapi sudah menjadi kebutuhan biologis yang sepertinya harus dipenuhi seperti halnya kebutuhan sehari-hari. Pertanyaannya, tidak ada ikatan perasaan tapi mengapa bisa begitu mudah? Tidak heran, baik Sehun maupun Alana tidak canggung beradegan mesra seperti itu. Sudah tidak ada batas diantara mereka.

*sebaiknya aku menghentikan pikiranku sebelum menjadi liar* Taeyeon mematikan laptop lalu menaruhnya diatas meja di depan mereka.

Sejenak ruangan TV itu menjadi hening. Tak lama kemudian, Jessica mulai menguap. Jam dinding telah menunjukkan pukul 22.00.

“aku tidur duluan.” Ujarnya sambil meraih laptop miliknya dan berjalan ke kamarnya. Sebelum masuk, ia sempat menoleh pada Taeyeon yang masih diam di sofa dan berbicara, “besok pemotretanku jam 8 pagi, kau ingin ikut bersamaku?”

Taeyeon menoleh dan menggeleng sambil tersenyum. “aku harus ke kampus dulu untuk membayar biaya semester, setelah itu baru ke studio.”

Jessica mengangguk tanda mengerti. “uangnya cukup? Aku bisa memberi–”

“tidak perlu Jessie. Tabunganku cukup untuk membayarnya.”

Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya. “terkadang, aku merasa kau terlalu bekerja keras Taeng.”

Taeyeon tertawa ringan, “aku akan baik-baik saja Jessie. Kau sudah terlalu banyak membantuku. Selama kau tidak mengusirku dari apartemenmu, aku pasti baik-baik saja.” candanya.

Jessica mau tidak mau akhirnya tersenyum. “selamat malam Taeng.” Ucapnya, kemudian menutup pintu kamarnya.

Tinggallah Taeyeon sendiri diruangan itu. Suara TV sudah tak terdengar lagi, hanya bunyi detik jam dinding yang menggema dalam ruangan.

 

To be continued…

Yup Sehun adalah seorang model dan Taeyeon adalah asistennya. Seperti apa kisah cintanya nanti, harap sabar karena sekali lagi aku katakan, next chapnya gak akan cepat. ~kekeke

Karena Exoshidae sepertinya masih lama buka, mungkin aku akan konsen di ff ini sama Beautiful Creature. Juga rencana tambah satu ff lagi. (maybe KaiYeon?) *evilgrin

Belum ada rencana bikin story Lutae, blog ini lagi full Lutae soalnya. ~kekeke

©RYN

 

 

Advertisements

77 comments on “Fall in Love with you (chapter 1)

  1. Sumpah, deg-degan baca ff ini saking senengnya..aku suka banget couple seyeon, lanjut lagi ya eonni..aku kangen banget sama eonni dan karya-karyanya..semangat eonni!! Ditunggu blog pribadinya..hehehe

  2. huhuhuhu ff nya bikin aku ber wow ria, kekeke taeng eonnie jdi assistent model. huuuhhh pasti capek bgt tuh. tunggu momen seyeon di next chaptnya thor 😀 SEMANGAT

  3. Oh my! Aku sukaa sama ceritanya, ttg model-asisten, dan akhirnya ada SeYeon lagii ><
    plus add castnya Woobin lagi xD
    ditunggu chap 2-nya author-nim, semangat yaa~ ^^

  4. Ciecie author bikin aku penasaran ‘-‘) ayo dong lanjutnya cepetan ._.)/ //plakk
    btw, aku tidak sanggup membayangkan foto Sehun sama siapa itu? Si Alana itu /.\
    oke aku tunggu ya ffnya ‘-‘)/ :* /waks

  5. Eonni, mau request dong..gimana kalo fic eonni yg pernah dipublish di exoshidae fanfiction diposting ulang disini..sumpah kangen banget baca fic eonni yg dulu..hueee, *nangis di pojokan

  6. Ff author ryn yang baru….. huaaah seyeon omaigaaaaatt tumben thor/? Kenapa taeng kek gitu? Apa sebelumnya mereka pernah kenal ato gimana? Entah lah ff” author yang satu ini selalu memuaskan jadi selalu ga sabar buat nungguin kelanjutan ff” nya. Aiguuuu fightiiiiiing authornim/? Saranghaeyooooo ;*

  7. Seyeon yeay~ Taeyeon kok terkejut gtu- Udah kenal sehun sbelum nya kah?
    Haha daebak taeyeon cemburu cma karna liat foto sehun sma alana 😀
    Keren ff nya thor 😀 (y)

  8. Kekeke baru baca ini ff, woah keren.. Maksudnya Taeng apaan?? Kok kayaknya Taeng udah pernah lihat Sehun sebelumnya?? Sehun gitu banget. Lanjut chapter 2 😀

  9. Taeyeon kaget ketemu sehun ? Cemburu liat poto sehun ama cewek ? Mereka pasti dulu pernah ada hubungan soalnya gak mungkin sekali ketemu trus cemburu gitu, semoga diperjelas di chap selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s