[FREELANCE] Meet You (3 of 12 season)

PicsArt_1404198542176

Tittle : Meet You (3 of 12 season)
Author : Fany_aurel
Rating : PG-15
Leght : Chapter
Genre : Romance, School life, friends, family
Main Cast : Kim Taeyeon, Park Chanyeol
***
Season 3

***
“BIBI…BIBI!!!!!!!!!” Yeoja bersurai hitam itu berteriak beberapa kali dari kasurnya. Ia masih bergelut dengan selimut tebalnya dan matanya masih tertutup rapat, Enggan bangkit dari kasur itu.

“BI!!!tutup tirainya bi!!!aku silau!!”
“Heyy..”

Tak seperti yang ia harapkan, sang bibi yang selalu ada untuknya tidak kunjung datang, dan sekarang terganti dengan lelaki tua yang sekarang duduk dikasurnya, mencoba untuk membangunkan.

“Wake up dear..” Taeyeon menjauhkan tangan sang daddy dari puncak kepalanya.

“Aku ingin bibi! Bibi..” Ucapnya seperti mengigau

Tuan kim menghela nafas berat. Anaknya memang benar-benar terlalu cinta dengan para bibinya.

“Taeyeon,kau harus sekolah sekarang” lelaki itu kembali mencoba membangunkan taeyeon dengan lembut.

Dengan malas,taeyeon membuka kedua matanya. Ia menatap dengan tak sepenuhnya jelas kepada daddynya yang sudah berpakaian rapi.

“Daddy, aku malas sekolah. Nanti saja ya sekolahnya?” Ucap yeoja itu memohon.

Tuan kim menggeleng,tak menyetujui permohonan taeyeon, “Ani. Kau sudah melewatkan 3 hari masa orientasimu,kau bahkan sudah melewatkan 2 hari pertama mu bersekolah. Taeyeon,jangan sampai kau membuat ku berpikir untuk memberhentikan mu dari sekolah. Biar kau tak mempunyai masa depan karena tidak memiliki pendidikan.”

“Ahh daddy kau mengancam ku ya? nde,arra, arra aku akan sekolah.” Panik taeyeon dengan ancaman sang daddy. Ia bangkit dari tidurnya dan menjauhkan selimutnya.

“Tapi aku tak bisa mandi tanpa air panas..” yeoja itu kembali menatap tuan kim dengan penuh harapan.

.
Daddy, izinkan aku untuk tidak sekolah satu hari lagi..
.

“Daddy sudah menyiapkan air panas untukmu. Cepat!tak ada tapi-tapian!”. Taeyeon menghela nafas kesal dan dengan malas beranjak kekamar mandi.

Taeyeon menatap jalanan disampingnya kesal. Bisa kah ia kembali kekehidupannya yang dulu? Entah lah kenapa sekarang sang ibu membuangnya pada daddynya. Apa itu terlalu kasar? sebenarnya memang hak asuh dirinya jatuh pada sang daddy, tapi hampir 5 tahun ini daddynya mengikhlaskan mantan istrinya untuk merawat taeyeon. Dan secara tiba-tiba satu bulan yang lalu ibunya mengatakan bahwa taeyeon harus mencoba untuk tinggal bersama daddynya, agar ia bisa mengenal lebih daddynya kata ibunya. Walau taeyeon tau alasan utama ibunya mengirimnya pada daddynya adalah karena ia ingin menikah lagi dan dirinya hanya akan menjadi penghalang.

Sekarang,yeoja itu berada diseoul. Tinggal bersama daddynya. Sudah hampir satu bulan ia tinggal menetap dikota kelahirannya tanpa ibunya,supir,dan para pembantunya.

Daddynya hidup sendiri, tak mempunyai pikiran untuk kembali menikah. Menanggung hidupnya sendiri dengan bekerja disebuah perusahaan ternama dikorea. Walau dapat dibilang daddy taeyeon mampu untuk mengajih pembantu toh lelaki berumur 48 tahun itu berpikir dirinya dan taeyeon sudah terlalu tua untuk menggunakan jasa pembantu, mereka bisa mengurus dirinya sendiri. Tanpa ia sadar, anak semata wayangnya yang sekarang sudah memasuki masa sma itu ternyata tak bisa dibilang cukup mandiri.

Taeyeon adalah sosok yeoja yang sangat manja dan kekanak-kanakan. Semua yang ia lakukan harus dilakukan oleh pembantu. Tuan kim sempat marah besar pada mantan istrinya karena selama ini sudah keterlaluan memanjakan sang anak. Bahkan untuk menyalakan kompor pun taeyeon tak bisa melakukannya.

“ok, taeyeon. Jangan cemberut seperti itu. Cari teman dan bergaullah. Semoga harimu bahagia dear” tuan kim mengacak rambut taeyeon yang hanya bisa semakin mengerucutkan bibirnya sambil merapikan kembali poninya.

Ia keluar dari mobil itu dan menatap sekolah yang ada dihadapannya. Ia menghela nafas berat, Jika tidak karena permintaan daddy,ia tak ingin bersekolah seperti ini.

Taeyeon yang selama ini selalu home schooling sejak kelas 1 smp itu pun melangkahkan kakinya gontai kegerbang besar sekolah tersebut.

.
Tuhan, Bisa kah kau ciptakan monster untuk menyerang dan menghancurkan sekolah ini?
.

Benar tentang perkiraannya. Sekolah ini hanya akan membuat harinya semakin membosankan. Inilah alasan kenapa selama ini ia memilih untuk tidak bersekolah dan memilih home schooling, tidak perlu ada guru yang galak, penjadwalan pelajaran yang terkesan memaksa dan teman-teman yang aneh.

Saat pelajaran sains, yeoja itu akhirnya meminta izin untuk pergi ketoilet setelah sekian lama ia menahan kencingnya. Ia memang sangat tak tahan lagi, ia harus buang air kecil.

Tapi satu kesalahan taeyeon,ia lupa kalau ia tak tau dimana toilet berada. Ingin bertanya,tapi para guru dan murid sedang asik didalam kelas. Alhasil taeyeon harus berputar-putar untuk mencari toilet itu.

Taeyeon bernafas lega setelah ia keluar dari toilet yang ternyata berada didekat kelasnya sendiri.

Hanya ingin berniat untuk melangkah meninggalkan tempat itu, telinga taeyeon tiba – tiba diganggu dengan suara berat yang sedang asik tertawa. Taeyeon memicingkan telinganya dan mengedarkan pandangannya. Ia bukan mendengar suara hantu kan?

“Katakan bahwa aku sedang diuks. Nde,tenang saja. Kau aku traktir malam ini”

Tidak itu bukan hantu.

Taeyeon kembali menautkan alisnya dan meyakini suara itu berasal dari dalam gudang disamping kantin itu.

Entah apa yang membuatnya penasaran, niatnya yang dari tadi ingin cepat-cepat pergi ke kelasnya dan melanjutkan tidurnya sekarang berubah menjadi ketertarikannya pada asal suara itu.

Dari sebuah celah pintu gudang yang terbuka itu,taeyeon menyipitkan matanya mencoba untuk mengetahui orang itu.

Dengan mengendap-endap mencoba untuk tidak ketahuan, ia bisa memastikan dengan jelas bahwa lelaki itu murid sekolah ini. Dan..dia merokok?

Sangat santai lelaki itu mengisap ujung rokoknya dan mengeluarkan asap itu dari mulutnya, seakan bermain-bermain dengan gumpalan asap tersebut.

Taeyeon semakin intens meneliti lelaki itu sampai akhirnya kedua mata mereka bertemu.

Seketika taeyeon berubah panik dan begitu juga dengan lelaki itu. Lelaki itu dengan cepat bangkit dari kursinya dan mengejar taeyeon yang bersiap-siap untuk kabur.

“Yak!”

Taeyeon tak mengindahkan panggilan lelaki itu,ia hanya berlari menghindarinya.

Tapi sayang, taeyeon sepertinya sudah terlanjur masuk kesarang lawan, langkah cepat taeyeon tak bisa mengalahkan gerak lelaki itu.

Dengan sekali gerakan, lelaki itu berhasil menahan sebelah tangan taeyeon.

“Heh kau!” Seru lelaki itu penuh kesal membalikan tubuh taeyeon, ia terlihat ngos-ngosan mengejar yeoja itu.

Tak bisa dipungkiri yeoja itu. Taeyeon sempat terkesima menatap wajah lelaki dihadapannya itu. Dengan rambut berwarna hitam kecoklatan, tubuhnya yang tinggi, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dan oh suaranya yang besar dan penuh kharisma, apa boleh taeyeon mengatakan bahwa lelaki ini sangat sempurna?

“Apa yang kau lihat hah?kau mata-mata hyoyin songsaenim ya?” Tuduh lelaki itu penuh dengan penekanan.

Taeyeon yang akhirnya tersadar dari berbagai imajinasinya, menatap lelaki itu dengan perasaan takut yang seketika menyelubunginya. Bagaimana tidak, lelaki ini menatapnya dengan tatapan ingin membunuhnya. Tanpa membuang waktu, taeyeon pun mencoba kembali melepaskan eratan lelaki itu.

“Yak lepaskaan!” Cobanya memberontak lelaki itu tanpa menjawab rentetan pertanyaan dingin lelaki itu.

“Aku bertanya padamu-”

“Lepaskan atau kau ku laporkan pada guru!” Ancam taeyeon masih memberontak.

“Benar kau memata-matai ku?” Ucap lelaki itu dengan melototkan kedua matanya.

“Aishh jinjja!!! lepaskan!” Balas taeyeon tak mempedulikan ucapan lelaki itu, ia lebih fokus untuk mencari cara melepaskan dirinya dari lelaki ini.

“Sudah ku bilang,aku tak akan melepa-”

“Akhhh!!!” Kalimat lelaki itu terpotong saat ia merasakan sakit ketika tiba-tiba taeyeon mengigit tangannya yang mengerat pergelangan yeoja itu.

Lagi-lagi taeyeon mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari menjauhi lelaki itu. Ia harus menyelamatkan nyawanya, batinnya. Sedangkan lelaki itu berbeda. Kali ini ia membiarkan yeoja itu pergi. Ia hanya diam melihat taeyeon berlari dan hanya meneriaki yeoja itu.

“KALAU SAMPAI ADA GURU YANG MEMANGGILKU, KAU TAK AKAN SELAMAT!KITA BELUM SELESAI!” Teriaknya chanyeol ketegasan dengan masih memegang tangannya. Ia yakin dengan suaranya yang lantang yeoja itu pasti bisa mendengarnya.

***

3 days later

“Permisi, apa disini kelas kim taeyeon?” Seorang yeoja berlambang kelas XII itu memasuki kelas yang riuh itu dan menghampiri tiffany yang duduk tepat berada didekat pintu.

“Taeyeon?” Tanyanya lagi. Yeoja yang bertittle kakak kelas itu hanya menganggukan kepalanya.

“Taeyeon,kau dipanggil!” Panggil tiffany dengan suara yang tak begitu nyaring tapi tetap bisa didengar orang-orang disitu termasuk taeyeon, yang sedari tadi menaruh dagunya dimeja sambil memainkan handphonenya sontak menatap tiffany dan yeoja yang juga ikut menatapnya.

“Aku?” Tunjuknya pada dirinya sendiri

“Ne, ikut aku sekarang” sebuah perintah dengan nada memaksa membuat seluruh isi kelas menaruh perhatian kepada taeyeon yang sekarang melangkah mengikuti perempuan itu.

.
.
.

“Mau kemana kak?” Tanya taeyeon ditengah langkah mereka. Setelah sekian lama taeyeon memberikan banyak prasangka diotaknya kemana ia akan dibawa, ia memberanikan diri untuk bertanya.

“Ikuti saja, kau juga pasti akan tau.” Balas perempuan itu. Taeyeon yang mengikutinya dari belakang hanya mencibirkan bibirnya bete.

.
.
.

“Duduklah.” Taeyeon menaikkan alisnya saat tau ternyata perempuan itu membawanya keruang kesiswaan. Ia semakin binggung,apa masalah yang ia buat?ia hanya satu hari bersekolah, 2 hari selebihnya ia kembali bolos. Dan hari ini, jika tidak ancaman pemotongan uang jajan dari daddynya, ia juga tak mau bersekolah. Jadi baginya tidak ada waktu untuk membuat masalah disekolah ini.

“Jadi,nama mu kim taeyeon?”. Taeyeon yang sedari tadi hanya diam sambil mengedarkan matanya pada sekeliling ruangan itu kembali menatap perempuan yang beberapa waktu tadi sibuk dengan sebuah berkas.

“Ne.” Ucapnya singkat.

“Kau ingat sudah berapa hari kau sudah tidak masuk?”

“Nde?” Binggung taeyeon dengan pertanyaan tiba-tiba kakak kelasnya itu, victoria, wakil ketua organisasi kesiswaan tertinggi disekolah itu.

“Sudah berapa kali kau bolos?” Ulang victoria dengan nada sesabar mungkin.

Taeyeon memutar kedua bola matanya, mencoba menghitung hari dimana ia melupakan sekolahnya, hari dimana ia selalu mencari alasan untuk tidak sekolah, sakit perut, sakit kepala, seluruh penyakit dideritanya saat itu. Dan apa 2 hari yang lalu harus ia hitung juga?

“Hmm.. Aku lupa kak,mungki-”

“Mianhe kami terlambat” Sebuah suara pintu yang diiringi permohonan maaf itu membuat taeyeon memotong kalimatnya, ia sontak menolehkan kepalanya dan menatap kedua orang yang datang itu.

.
Lelaki itu…
.

Taeyeon membekukan matanya menatap seorang lelaki tinggi yang sekarang juga terlihat terkejut dengan siapa yang ada dihadapannya sekarang.

“Jung songsaenim tadi meminta kami untuk mengurus acara vic, jadi terpaksa kami harus membantunya dan akhirnya membiarkan kau bekerja sendirian.” Kalimat teman lelaki tinggi itu berhasil menyadarkan kedua tatapan orang yang saling tidak percaya akan bertemu lagi.

“Yang lain kemana?sudah beres?” Mencoba biasa saja, lelaki yang bernama park chanyeol itu bertanya pada victoria dan mendekati kedua yeoja itu. Taeyeon, menginggat apa yang telah ia lakukan dua hari yang lalu pada chanyeol serta ancaman lelaki itu membuatnya menundukan wajahnya dalam-dalam. Berharap lelaki itu lupa dengan wajahnya.

“Yap. Sudah beres. Tinggal dia saja yang tertinggal. Hey, kim taeyeon?”

Taeyeon menaikkan wajahnya, menatap victoria dan mencoba untuk sama sekali tidak menatap chanyeol.

“Kau sudah berapa hari tidak sekolah?” Tanya lelaki lain yang juga termasuk anggota kesiswaan itu, sehun.

Taeyeon sempat diam. Binggung harus menjawab apa karena ia sendiri saja lupa sudah berapa hari tidak sekolah.

“Ini hari kedua aku bersekolah kak” ucapnya seadaanya.

Ketiga orang dihadapan yeoja itu seakan tercengang dengan jawaban taeyeon. Victoria dan sehun menggelengkan kepalanya dan chanyeol hanya diam sambil melipat tangannya didepan dada, bersandar disebuah meja tanpa melepaskan tatapan dinginnya pada taeyeon.

“Ah,pantas saja kepala sekolah meminta kami mengurusmu.” Helaan nafas sehun membuat taeyeon menatapnya tak mengerti. Kepala sekolah? Sebegitu beratkah masalah dirinya sampai menyangkut orang nomer satu disekolah itu?

“Tapi aku hanya tidak masuk sekolah kak, aku tidak membuat onar atau ribut disini” ucap taeyeon membuat sedikit pembelaan, bahwa hal yang dilakukannya itu tidak merugikan sekolah.

Victoria yang diduduk bersebrangan dengan taeyeon mengeluarkan tawa gelinya, ia sekilas menatap sehun yang ikut tertawa dan chanyeol yang terlihat masih serius pada keadaan itu.

“Kau benar-benar tidak tau ya sekarang kau bersekolah dimana?”

Tanpa tampang bersalah, taeyeon menyandarkan tubuhnya pada kursi itu dan menggelengkan kepalanya serta melipat kedua tangannya didepan dada.

Apakah salah bila victoria sedikit dibuat gerah dengan tingkah taeyeon?

“Aku bukan orang sini, aku anak pindahan.” Tambah taeyeon yang menyadari perubahan wajah victoria.

Victoria yang mengikat satu rambutnya itu menghela nafas berat melihat perilaku bak putri yeoja itu. Untung saja kali ini ia lah yang berada dihadapan taeyeon. Jika saja saat ini jadwal piket kerjanya hyoyeon atau jessica,ia tak berani jamin tidak ada perkelahian diruangan itu.

“Seoul internasional school ada lah sekolah dengan kedisiplinan tinggi. Dan, kau juga harus tau. Anak baru yang tidak mengikuti masa orientasi, akan terkena hukuman-”

Taeyeon yang sedari tadi mengangguk-anggukan kepalanya kaget mendengar informasi itu.

“Apa?” Ucapnya dengan keras. Kembali memotong segala kalimat victoria yang belum selesai itu.

“Oh tidak kak, aku tak melihat peraturan itu dibrosur sekolah ini.” Tambah taeyeon mengelak bahwa tujuan orang-orang ini membawanya kesini adalah untuk memberikannya hukuman.

Sehun yang sedari tadi memainkan bola basket, berdecak lucu. “Heh, brosur mana yang kau baca?brosur penerimaan siswa?” Ucap lelaki itu mengejek.

Taeyeon mengalihkan pandangannya pada sehun dengan mengerutkan alisnya mulai kesal.

.
Sabar taeyeon,kau anak baru disini. Mereka kakak senior mu. Ingat posisi mu bodoh
.

Yeoja itu menghela nafas mencoba tenang, ia tak meladeni ucapan sehun dan menatap victoria didepannya.

“Apa cuman aku yang tak ikut?” Kembali taeyeon membuat sebuah pembelaan. Ia yakin bukan hanya dia yang tidak mengikuti apa itu?masa orientasi?

“Mereka sudah dihukum saat hari pertama mereka sekolah dengan normal. Tapi kau, kau selalu saja tidak masuk sekolah.” Desis Vitoria.

“Baiklah, kalau begitu apa yang harus ku lakukan? hukuman? Atau uang?” Ucap taeyeon terlihat meremehkan dan to the point. Ya inilah taeyeon, ia sudah terlalu lama bermain dengan masalah uang.

Victoria yang mendengar ucapan sinis taeyeon benar-benar sudah terpacu emosi, ia yang sudah bersiap untuk menggebrak meja dan berteriak pada yeoja itu terhalang dengan chanyeol yang menghentikannya.

“Vic,sudah-” Lelaki itu menahan tangan kiri vicotria.

Taeyeon yang melihat sikap chanyeol hanya menatapnya datar. Jangan pernah sok bersikap pahlawan, batin taeyeon

“Tidak yeol, dia ini sudah keterlaluan. Dia pikir kita-”

“Nde.nde. Aku paham. Biar kali ini aku yang mengurus yeoja bermasalah ini vic ”

“Excusme?kau bicara apa tadi?” Taeyeon yang sekarang tak lagi merasa takut pada chanyeol mencoba meminta lelaki itu mengulang kalimatnya.

“Yeoja bermasalah.” Jawab chanyeol santai.

“Apa?kau pikir aku kelainan apa?” Sekarang baginya tak ada lagi kata takut serta perbedaan level antara dirinya dan ketiga orang didepannya, dan terutama pada lelaki bertubuh tinggi itu. Ia tak terima dengan penghinaan yang chanyeol buat.

Taeyeon menggelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan semua sistem yang diterapkan disekolah ini dan well juga pada orang-orang didalamnya, “Dari pada aku diurus kalian yang tak jelas seperti ini ya,lebih baik aku langsung mengurus masalah ku sendiri dan menemui kepala seko-”

Chanyeol yang benar – benar tak tahan dengan ucapan taeyeon yang penuh dengan nada meremehkan itu dengan tiba-tiba menariknya dari bangku dan menyeret taeyeon keluar dari ruangan itu. Menariknya dengan paksa yang secara langsung mencegah pertumpahan darah antara yeoja itu dengan victoria.

Sama seperti dua hari yang lalu, taeyeon mati-matian memberontak ingin melepaskan tangan chanyeol darinya. Tapi kali ini mereka tidak dalam posisi berhenti, chanyeol menarik taeyeon kearah toilet dan genggaman lelaki itu lebih kuat dari semalam.

“YAK!” Teriak taeyeon tak terima saat lelaki itu melepaskan eratannya sekaligus mendorong yeoja itu kedalam toilet.

“Kau kasar sekali!” Sambung taeyeon.

“Kau memang pantas dikasari” chanyeol melipat kedua tangannya didepan dada.

Taeyeon semakin menatap chanyeol kesal saat lelaki itu menampakan wajah super juteknya pada taeyeon.

“Aku tak segan-segan akan melaporkan mu pada kepala sekolah!” Ancamnya.

“Laporkan saja, memangnya siapa yang akan mendengarkan pengakuan bodoh mu? Atau mungkin kau sendiri yang akan kalah?anak baru yang sok merasa tuan putri serta menghina peraturan sekolah?” Chanyeol membalikkan ancaman pada taeyeon.

“Kami bertiga dan kau sendiri,kau harus ingat itu. Dan lagi, ketika kepala sekolah sudah memberikan tugas kepada kami, semua urusan yang bersangkutan dengan tugas itu otomatis menjadi urusan kami sepenuhnya. Kau mengerti huh anak baru?” Tegas chanyeol menampakan wajah dinginnya. Ia menekan kan pada taeyeon bahwa apa pun keadaannya kepala sekolah tak akan membantunya.
Taeyeon kalah telak dengan ancaman balik lelaki itu. Ia sempat tak bisa membalas ucapan chanyeol dan benar-benar berusaha untuk memikirkan cara melawan lelaki ini.

“Bersihkan toilet ini!” Tanpa menunggu sepatah kata dari taeyeon, chanyeol menyodorkan sebuah perlengkapan kebersihan padanya.

Yeoja yang sedari tadi tak mau menatap lelaki itu akhirnya menujukan mata nya pada chanyeol geram.

“Mwo?andwe!kau pikir aku petugas kebersihan apa? ” tolak yeoja itu mentah-mentah. Bagi taeyeon, tak ada kata mundur ketika seseorang sudah mulai berani menginjaknya. Bila lelaki ini mau mengibarkan bendera perang ia juga tak pernah takut untuk mengibarkan bendera perangnya. Tak peduli siapa orang itu dan dimana posisinya sekarang.

“Kau melawan?”

“You think?” Jawab taeyeon sambil mengangkat dagunya. Berlagak ia tak takut pada chanyeol.

“Baiklah-” lelaki itu menghembuskan nafasnya.

“Besok bersiaplah karena hari ini,kami akan mengirimkan surat laporan diskor mu pada kedua orang tua mu.”

“Hah?ya!jinjja!” Taeyeon terkejut bukan main.

“Kenapa?takut?”

Taeyeon benar-benar tak bergeming. Ia memang tak takut pada apapun kecuali satu orang, daddynya.

“Aku kan sudah bilang padamu. Jangan pernah coba-coba melawan kalau kau ingin selamat”

Oh well, sepertinya taeyeon benar- benar salah nilai terhadap lelaki ini dari awal. Benar saja wajahnya tampak gagah dan berwibawa,tapi ucapannya lebih tajam dari ujung pisau.

“Tapi tidak ada hukuman yang lebih logis apa? Hei,siapa nama mu?yeol?”

“Chanyeol”

“Nde,kau chanyeol ta-”

“Panggil aku kakak.” Ucap chanyeol dengan nada otoritasnya sebagai kakak kelas.

“kamu itu semakin lama semakin ngelunjak ya!” Sambung chanyeol

Betapa Inginnya taeyeon mengacak-acak wajah namja sok cool dihadapannya ini.

“Baiklah kakak. Aku mungkin bisa memahami sistem sekolah ini untuk memberikan hukuman bagi para murid yang tidak mengikuti orientasi seperti ku. Tapi aku benar-benar tak mengerti kenapa hukumannya harus seperti ini? oh-apa mungkin karena kau dendam pada ku?”

“Dendam?” Tanya chanyeol mengerutkan dahinya.

“Ya,kau dendam kan karena semalam aku mengigit tangan mu dan aku memergokimu yang sedang asik merokok? Benar-benar aku tak mengerti kenapa mereka bisa memilih murid sepertimu untuk menjadi ketua kesiswaan.” Ingat taeyeon saat ia melihat nama lelaki itu berada ditingkat tertinggi struktur kesiswaan yang tertempel diruangan yang ia masuki itu.

“Oh-jadi kau masih menginggatnya?”. Desis chanyeol

“Huh-, sebenarnya aku tak ingin membahas itu. Aku sudah berniat untuk memaafkanmu, tapi karena kau sendiri yang mengungkitnya ya sudah, pertambahan masa hukuman.” Chanyeol berbicara sangat santai, yeoja itu telah membongkar persembunyiannya sendiri, jangan salahkan dirinya kalau saat ini chanyeol menyerangnya tanpa henti.

“Tiga hari menjadi satu minggu ok?” Sambung chanyeol lagi-lagi setelah memikirkan sebuah ide cemerlang diotaknya.

Taeyeon terngangga mendengar rentetan kalimat yang bagaikan sebuah kesialan baginya. Satu hari saja ia tak mampu apalagi satu minggu?

“Mwo?ani! Kau benar-benar sinting ya?” Sinis taeyeon mempertanyaan otak lelaki itu.

“Hukuman atau laporan?” Kembali chanyeol memberikan sebuah pilihan yang sama-sama tak menguntungkan bagi taeyeon.

“Kau tak bisa mengelak. Kau tidak mempunyai siapapun untuk membantumu” ringkas chanyeol meyakini bahwa taeyeon tak akan bisa memilih.

“Kajja!aku tak mau tau, ketika aku datang kesini lagi tempat ini sudah harus bersih” perintahnya meninggalkan taeyeon dengan satu tangan kirinya dimasukan kesaku celana seragamnya.

“Akhh!!!” Teriak taeyeon setelah lelaki itu hilang dari pandangannya sambil menendang ember dan sabun itu sebal.

.
.
.

“What the..” Hanya dua kata yang bisa chanyeol ucapkan saat ia kembali masuk kedalam toilet dan melihat ruangan itu dipenuhi dengan sabun.

“Apa yang kau lakukan hah?” Binggung chanyeol pada taeyeon yang sekarang duduk diatas kloset. Yeoja itu terlihat kelelahan.

“Membersihkan tempat ini kan?” balas taeyeon seadanya.

“Ya,membersihkan bukan memenuhi tempat ini dengan sabun.” Omel chanyeol sambil mendekati yeoja itu dengan menjinjitkan sepatunya.

“Kau ini sebenarnya punya otak tidak sih?”

“Nde..” Taeyeon yang menyandarkan kepalanya pada ujung pel itu hanya menjawab dengan gumaman kecil. Terserah apa kata lelaki itu. Ia lelah, sungguh lelah.

“Lalu kenapa melakukan hal ini saja tidak bisa?”

“Ya mana aku tau!aku hanya mengikuti cara pemakaian dengan menuangkan cairan pembersih kelantai.” coba taeyeon membela dirinya.

“Tapi tidak perlu semuanya bodoh” ucap chanyeol benar-benar kesal dan tak habis pikir. Bahkan lelaki itu menekan semua kata yang ia ucapkan.

“Mwo?heh, jangan sementang-mentang kau kakak senior jadi bisa mengataiku ya!” Sadar taeyeon bahwa semenjak orang ini datang kembali, ia sudah 2 kali menghinanya.

“Kau memang bodoh, tak usah mengelak” Seru chanyeol emosi

“Sekarang aku tak mau tau,kau ambil air dan siram tempat ini”

Taeyeon menggelengkan kepalanya beberapa kali, bahkan matanya tertutup sekarang “aku capek,kau tidak melihat? Kalau aku mati kau tanggung jawab ya?” Ujar taeyeon yang dibalas dengan tatapan aneh dari chanyeol. Yeoja ini sudah kelebihan lebay, bagaimana bisa ia kelelahan sedangkan yang dilakukannya hanya menaburkan seluruh cairan pembersih dilantai dan memainkannya.

“Ck. Kau manja sekali-” chanyeol menggelengkan kepalanya, dengan berkacak pinggang ia kembali meninggalkan yeoja itu.

Taeyeon yang menyadari itu hanya diam dan syukurlah ia pergi dan aku bisa kekelas lagi batinnya.

Tapi ternyata dugaannya salah, chanyeol kembali ketoilet itu sambil membawa 2 buah ember berisi air. Mereka sempat bertemu pandang yang menyebabkan taeyeon memerah karena memandang kedua iris yang.. Apa bisa dibilang indah itu?

“Untuk sekali ini saja!ingat!” Ucap chanyeol menginggatkan taeyeon sebelum dirinya lah yang membersihkan toilet itu dari sabun. Dan taeyeon. Yeoja itu hanya duduk diatas kloset dan mengawasi lelaki itu membersihkan lantai.

***

“Taeyeon..”, Tuan kim membuka pintu itu sempit. Dari cela kecil itu ia bisa melihat anaknya sedang sibuk dimeja belajar yang tepat menghadap luar jendela.

“Nde?” Balas taeyeon tanpa menoleh.

“Boleh daddy masuk?”

“Masuk saja aku tidak tidur”

“Sibuk belajar huh?” Senyum lelaki itu masuk dan sekarang duduk ditepian kasur anaknya.

Taeyeon menolehkan kepalanya, dan menganggukan kepalanya.”Besok ada tes matematika” balas taeyeon sembari memeluk sandaran kursi sambil menatap ayahnya.

“Ada apa dad?” Tanya taeyeon menyadari betapa langka daddynya pergi kekamarnya malam-malam seperti ini.

“Aniyo-daddy hanya, senang ” lelaki paruh baya itu kembali mengeluarkan senyumnya saat ia menghela nafasnya.

Taeyeon tersenyum dan sontak mendekati daddynya itu, duduk disampingnya.

“Senang kenapa?” Ucapnya memancing sang daddy untuk berkata lebih banyak.

Tuan kim meletakan ujung pandangannya pada taeyeon kini, setelah ia beberapa saat menatap kelain arah.

“Karena ada kau disini. ” Ucapan tuan kim membuat hati taeyeon kembali membuka seluruh kenangannya.

“Daddy benar-benar merindukan mu yeon” dalam satu gerak,lelaki tua itu memeluk yeoja kecilnya yang sekarang beranjak dewasa itu. Tuan kim menaruh dagunya dikepala taeyeon. Mensyukuri segala hal yang telah tuhan berikan padanya.

“Kau tau bukan betapa kesepiannya daddy sendirian dikota ini?”

Taeyeon yang masih berada didekapan daddynya itu menyadari betapa beratnya kesendirian daddynya beberapa tahun ini. Ia memang sering berkunjung, tapi itu pun tak lebih dari 3 kali dalam setahun. Betapa sibuknya ia dengan para temannya,dengan hayeon, adiknya, dan segala kemewahan yang diberikan ibunya membuatnya kadang lupa untuk sekedar mengirim pesan pada daddynya.

“Kalau begitu daddy menikah saja-” yeoja itu melepaskan dirinya dari dekapan sang daddy.

“Untuk lelaki seumuran daddy, daddy masih termasuk paman gaul nan tampan. Aku yakin banyak perempuan yang mau menjadi istri daddy”

Tuan kim terkekeh, “are you seriuosly?”

Taeyeon mengangguk mantap, “mommy saja bisa punya pacar lagi. Masa daddy kalah?aku dan hayeon pasti sangat senang kalau daddy bahagia!”

Mendengar saran dari anak pertamanya itu membuat tuan kim tertawa geli.

“Aku tak akan menikah lagi yeon. Kau dan hayeon harus mengingat itu.”

“what?why?” Tanya taeyeon tak mengerti dengan tolakan daddynya.

“Karena-daddy selalu memikirkan ibumu” jujur tuan kim.

Taeyeon menaikkan alisnya,mendengar kepasrahan seorang daddy dihadapannya. Ada keheningan yang entah kenapa mereka buat. Tuan kim yang menyesali ucapannya dan taeyeon yang merasa bersalah karena ia kadang suka menyanjung pacar ibunya didepan daddynya.

“Kalau begitu,aku akan melarang dan tidak setuju ibu menikah dengan paman jung” koreksi taeyeon pada ucapan pertamanya yang akan menyetujui pernikahan ibunya.

Tuan kim tersenyum, “aniyo.kau tak boleh. Mereka sudah saling mencintai yeon. Dan mungkin, daddy hanya tak bisa melupakan bukan masih mencintai. Mungkin daddy harus berusaha lebih keras untuk melupakan ibumu”

Taeyeon tak bergeming mendengarkan seluruh kebijaksanan tuan kim disampingnya. Mendengarkan seluruh pilihan yang yang lelaki paruh baya itu pilih, walau harus menyakiti hatinya sendiri. Tapi menurutnya pilihan itu adalah suatu yang terbaik, bukan untuk dirinya saja, tapi untuk anak-anaknya.

“Aku tak akan meninggalkan daddy lagi.” Taeyeon kembali memeluk badan besar tuan kim.

“Aku tak akan merengek pulang lagi. Aku akan disini,bersama daddy. Selamanya” Yeoja itu mengeluarkan isak tangisnya sambil memeluk tuan kim erat.

Dan tuan kim, ia hanya bisa ikut larut dalam suasana itu. Bahagia karena akhirnya, anaknya mau mengalah untuk bersamanya. Menemaninya disisa hidupnya.
***
“Susun yang rapi!”

Taeyeon memainkan bibirnya meniru ucapan chanyeol saat menyuruhnya layaknya seorang pembantu. Sekarang adalah hari terakhir dimana taeyeon menerima hukuman. Entahlah sudah berapa banyak perkelahian yang ia buat bersama lelaki itu saat ia menerima hukumannya. Membersihkan halaman, membantu guru, membantu mengangkat kursi, membersihkan ruang kesiswaan tiap hari, bahkan sekarang menyusun semua buku diperpustakaan secara urut dan rapi. Semua dilalui dengan disertai berbagai gerutu, keluhan, omelan seorang kim taeyeon.

Bahkan pernah taeyeon yang berniat untuk membantu malah membuat masalah semakin rumit. Taeyeon menghancurkan berbagai peralatan. Tidak tahu segalanya. Tidak mengerti segalanya. Membuat chanyeol kadang geram, dan dibuat gemas dengan yeoja itu.

Tapi walau chanyeol selalu diselimuti kekesalan saat mendampingi yeoja itu tak pernah sesekali lelaki itu menyerah dan ia selalu sebar mengajari taeyeon, walau harus beribu – ribu kali. Begitu juga bagi taeyeon, walau ia keberatan dengan semua hukuman itu, entah apa yang menyihirnya, lambat laun taeyeon mereasa baik baik saja. Maksudnya, selama ini ia terkenal sebagai orang yang keras,tak suka diatur, tak suka diperintah oleh siapapun. Ia akan melawan apapun itu resikonya. Tapi dengan chanyeol, ia seakan bisa menerima perintah lelaki itu. Ia seperti tunduk dengan chanyeol, bahkan akhir-akhir ini ia jugamerasa semangat sekolah entah apa itu alasannya.

Apakah ia mulai jatuh cinta pada lelaki itu?

“Sudah selesai?” Ucapan lelaki itu sontak membuat taeyeon yang sibuk dengan pikirannya terkejut. Ia mengelus dadanya dengan tangan kanannya.

“Nde,sudah.” Balasnya pelan.

Lelaki itu mengangguk dan melangkahkan kakinya kemeja besar ditengah perpustakaan. Taeyeon mengekor lelaki itu dari belakang.

Chanyeol, mengambil tas hitamnya yang ada diatas meja yang terbuat dari jati itu. “Ayo pulang.” ajaknya membuat taeyeon hening dan menenggokan kepalanya kekanan dan kekiri. Tidak ada orang disini selain dirinya dan lelaki itu.

“Aku?” Tunjuknya pada dirinya sendiri.

Chanyeol tertawa kecil sebelum menganggukan kepalanya, “siapa lagi? tak mungkin kan aku mengajak hantu?” Candanya.

Yeoja itu mencoba untuk membalas tawa renyah lelaki itu. Bagaimana bisa lelaki ini bercanda saat hati taeyeon tak bisa saling mengontrol ketika chanyeol menampakkan senyumnya. Dan apakah baru kali ini taeyeon merasakan senyum yang benar-benar tulus dari lelaki itu?

“Kajja,kau tak ingin pulang kesorean kan?” Kembali chanyeol meruntuhkan lamunan taeyeon.

Yeoja itu mengangguk, “nde-” ucapnya sedikit canggung dan baru kali ini juga taeyeon merasa bahwa dirinya merasakan perbedaan dengannya. Bahkan untuk mengeluarkan banyak kalimat saja ia tak mampu.

.
.
.

“Rumah mu dimana?”

Chanyeol, orang pertama yang memecah keheningan. Setelah hampir satu minggu saling bertengkar,beradu mulut, entah kenapa sekarang mereka saling canggung satu sama lain. Sedari tadi mereka mati-matian saling membuang pandang. Chanyeol mencoba fokus dengan kemudinya dan taeyeon hanya berani menatap jendela.

“Di gangnam” Ucap taeyeon singkat tanpa melepaskan pandangannya dari luar kaca mobil.

Chanyeol menganggukan kepalanya, “di LA kau menetap dimana?” Kembali ia ingin merubah suasana canggung itu

“Nde?” Taeyeon akhirnya menoleh pada chanyeol.

“Katanya kau pindahan dari LA?”

“Oh-nde. kau tau dari mana?”

Chanyeol berdecak sambil terkekeh, “semua orang tau lagi. Siapa sih yang tidak kenal denganmu?”

Taeyeon tersenyum tipis, “kata siapa?” Ucapnya menggelak.

Sekarang chanyeol sudah berani beberapa kali menatap taeyeon begitu juga dengan yeoja itu, walau taeyeon belum berani menatap kedua matanya.

“Kau,anak kelas X yang selalu nyentrik dengan tatapan mematikan mu, dengan wajah super jutekmu, dan keberanian mu melawan para senior”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya, “itu pertanyaan apa sebuah hinaan?”

Chanyeol tertawa pelan, “Aku berbicara apa adanya. Dan satu lagi-kau terkenal karena kau bisa menaklukan seorang park chanyeol”

“Nde?” Sekarang yeoja itu tak mengerti. Menaklukan? apa maksudnya.

Chanyeol rasanya ingin sekali memukul mulutnya sendiri yang sudah keceplosan, “m-maksudku, telah berani melawanku”

Taeyeon yang mendengar itu hanya ber-oh ria.

.
Kau salah pikir taeyeon. Mana mungkin kan dia menyukai mu?
.

Setelah hampir 10 menit, akhirnya mobil elit berwarna hitam legam itu sampai didepan rumah taeyeon yang bergaya minimalis dengan taman kecil didepannya.

“Disini rumah mu?” Tanya chanyeol menundukkan kepalanya mencoba melihat rumah taeyeon dengan jelas dari balik kaca depan mobilnya.

“Ne”

“Apa dirumah ada paman?aku ingin bertemu dengan mereka”

“Huh?” Lagi-lagi taeyeon dibuat binggung. Sejak kapan lelaki ini menjadi sok kenal

“Y-ya maksudku orang tua mu. Aku hanya ingin pamit dan meminta maaf karena kau harus pulang selandung ini”

Mendengar kalimat itu membuat taeyeon menyunggingkan senyumnya, “tak perlu. Orang tuaku masih dikantor, dia pulangnya malam”. Jelas taeyeon.

Chanyeol mengerti dengan penjelasan itu dan kembali berkata, “ya sudah sampaikan salam ku pada mereka”

Taeyeon mengangguk, “Terima kasih atas tumpangannya” senyumnya lebih lebar dan menampakan lesung pipit unik diujung bibir bawahnya.

Belum yeoja itu membuka pintu mobil chanyeol kembali menahan yeoja itu dengan kata-katanya,

“Besok aku jemput ya?” Senyumnya menampilkan deretan giginya nan rapi dan langsung dibalas dengan tatapan tak percaya dari taeyeon.

.
Kau serius?
.

***
“Daddy,ayo berangkat” taeyeon menuruni tangga sambil memakai cardigan berwarna brownnya.

Tuan kim yang sedang asik dengan koran serta kopinya didepan tv menolehkan wajahnya pada taeyeon, “Sepertinya kau lupa ya kalau ada orang yang ingin menjemputmu?”

“Hah?” Tatap taeyeon tak mengerti.

“Dia sudah menunggu mu diruang tamu dari 10 menit yang tadi.”

“Who?” Tanya taeyeon semakin penasaran, seingatnya tidak ada teman sekolahnya yang tau alamat rumahnya kecuali….

“Namanya chanyeol”
.
BAM!
.

“Oh tuhan” yeoja itu menepuk dahinya. Benar-benar lelaki itu. Ia pikir chanyeol hanya bercanda saat mengatakan bahwa akan menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama.

“Daddy, aku berangkat denganmu saja ya. Biarkan saja dia. Aku tak kenal dengannya. Dia hanya orang yang tak ada kerjaan” ucap taeyeon memohon pada daddynya. Sesungguhnya ia sangat senang diajak lelaki itu,tapi hatinya terlalu bandel untuk sekedar tenang. Ia tak mau terlihat bodoh dihadapan chanyeol.

“Taeyeon,kau tak boleh seperti itu. Lagian daddy benar-benar capek hari ini. Sangat malas untuk menyupir. Sana, berangkat! nanti kau terlambat lagi” Tanpa sedikit pun melihat kearah taeyeon yang sekarang memasang wajah kesiannya,tuan kim malah mengusir anaknya itu.
Taeyeon menghela nafas berat.

.
Haruskah aku bertemu dengannya lagi?
.

“Pagi..” Sapa chanyeol bangkit dari duduknya saat taeyeon datang.

“Kau serius?” Tanya taeyeon to the point. Ia benar – benar tak habis pikir dengan perubahan drastis sikap lelaki dihadapannya ini.

“Aku tak pernah bercanda taeyeon.” Tukas lelaki itu menampakkan senyumnya.

“Chanyeol, aku-lebih baik kau pergi sendiri saja. Aku benar-benar tak enak padamu..” Ucap taeyeon bermaksud mengusir dengan lembut.

“Gwenchana. Bukannya kemarin aku yang menawari mu kan?”

“Tapi-”

“Kalian belum berangkat?” Kehadiran tuan kim yang tiba-tiba disamping taeyeon membuat yeoja itu memutar matanya sebal.

“Appa, kau saja yang mengantarkan ku ya?atau tidak aku akan menyetir sendiri.” Pinta taeyeon setengah mati mengharapkan pengertian daddynya.

Tuan kim menggelengkan kepalanya melihat kelakuan taeyeon, “Chanyeol-shi, paman titip taeyeon padamu ya? Soal ucapan anehnya, kau tak usah dengarkan. Diamkan saja dia ne?”

Taeyeon melototkan matanya pada tuan kim yang sekarang seakan tidak langsung menjelekan anaknya sendiri pada chanyeol, dan parahnya ia menyerahkan taeyeon pada chanyeol.

“Nde paman, tenang saja. Serahkan semuanya padaku” senyum chanyeol disambut tawa kecil dari tuan kim tapi tidak dengan anaknya.
.
Pintar sekali kau mencari muka dihadapan daddy
.

“Kajja,kalian pergi.”

“Taeyeon, jangan berbuat onar ya” Ingat tuan kim.

Yeoja itu tak menjawab nasihat daddynya itu, ia berjalan kesal mendahului kedua orang itu sambil menghentakkan kakinya kesal, menggerutu kenapa daddynya lebih memilih percaya pada chanyeol dibanding dirinya.

.
.
.

“Kenapa berhenti?sekolah kan masih jauh?” Tanya taeyeon saat chanyeol menghentikan mercedes benz mewahnya dipinggir jalan.

“Turun.” Perintah lelaki itu tanpa menatap yeoja disampingnya.

“Apa?” Taeyeon terlihat panik dan melotot kearah lelaki itu.

“Turun.kau tak mendengar?”

“Turun? Maksudmu? kau ingin mempermainkan ku ya?” Yeoja itu mengerucutkan alisnya saat menyadari permainan lelaki itu.

“Aniyo, Aku ada urusan mendadak bukan bermaksud mempermainkanmu. Lihat,disana ada bus yang akan mengantarkan mu kesekolah. Kau punya uang kan? Kau bisa naik bus kesekolah.” Lelaki itu menunjuk sebuah bus kuning yang sekarang ada dihadapan mereka.

“ARE YOU KIDDING ME?KAU BERCANDA KAN?” teriak taeyeon setelah ia mengikuti arah pandang lelaki itu.

“Jangan teriak-teriak, ini masih pagi. Untung saja aku menghentikan kau dihalte bus, Jadi kau tak perlu susah-susah mencari bus lagi. Ayo sana keluar”

“Tak mau.” Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Kau sudah berkata mau mengantarku. Apapun keadaannya, kau harus tetap mengantarkan ku” sambung taeyeon keukeh dengan pendiriannya. Ia tak akan turun.

“Ck, jangan sampai aku mengeluarkanmu dengan paksa” Desis chanyeol.

Taeyeon, yeoja itu tak bergeming dan sekarang menutup kedua telingannya.

“Andwe.andwe.andwe!”

Chanyeol menghela nafas lalu terpaksa keluar dari mobilnya.

“Keluar tidak?” Chanyeol sekarang telah berdiri disamping taeyeon dari luar. Lelaki itu membuka pintu mobilnya lebar dengan tangan kanannya ia taruh diatas mobil hitam mewahnya. Mencoba memberikan sebuah tawaran pada taeyeon sebelum ia melakukan cara kasarnya.

Taeyeon menggelengkan kepalanya. Tetap dengan tangan terlipat didepan dada, ia meluruskan pandangannya. Menolak untuk keluar dari mobil itu.

Chanyeol menatap kesekelilingnya sekarang, lalu kembali dengan terpaksa ia mencoba menggendong yeoja itu dan membawanya keluar dari mobilnya.

Taeyeon yang benar-benar tak mengira dengan tindakan lelaki itu hanya bisa terkejut menatap chanyeol yang menggendongnya dengan gaya bridal style.

.
Wajah lelaki ini terlalu dekat
.

“Ya-ya turunkan!”

“Kau ini benar-benar berisik ya!” Ucap chanyeol yang merasa telinganya hampir tuli mendengar teriakan taeyeon. Sekarang ia telah menurunkan taeyeon ditrotoar itu.

Lelaki itu pun memalingkan kepalanya menatap bus yang sudah dipenuhi orang dan bersiap untuk berangkat.

“Kau tak ingin pergi sekolah jalan kaki kan?” Pertanyaan chanyeol menghentikan segala macam pemikiran yang berkecamuk pada taeyeon. Yeoja itu masih menata jantungnya yang berirama tak jelas.

“N-nde?kau benar-benar menyuruh ku naik mobil aneh itu?” Tanya taeyeon balik menginggat bahwa lelaki yang telah membuatnya terpukau ini telah mengusirnya paksa dari mobilnya.

“Sudahlah, jangan banyak bicara. Sebentar lagi jam masuk sekolah,aku harus menjemput dara dulu. Awas-” chanyeol tampak tidak mepedulikan wajah taeyeon yang berubah. Lelaki itu dengan mantap menjauhkan taeyeon yang menghalangi jalannya.

“AUUWHH!” Teriak taeyeon sambil memegang bahu kanannya yang didorong chanyeol. Sekarang ia benar-benar dibuat kesal karenanya. Apalagi saat lelaki itu mengatakan bahwa ia ingin menjemput dara, siswa seangkatan chanyeol yang sangat populer seantero sekolah. Jadi urusan mendadak itu adalah karena ia ingin menjemput dara?

“KAU JAHAT CHANYEOL JAHAT!” Lagi yeoja itu meneriaki chanyeol yang sekarang telah masuk kemobilnya. Persetan dengan tatapan orang dijalan itu. Ia memukul kaca mobil chanyeol dengan keras.

Seperti harapan taeyeon, kaca mobil itu perlahan terbuka. Kembali menampakan wajah cool sang pemilik.

.
Tolong ajak aku lagi, bukankah mobilmu muat untuk 3 orang? Aku benar tak apa-apa bila harus duduk dimana saja.
.

“Kau benar-benar ingin jalan kaki?” Lelaki itu menatap intens taeyeon. Mengingatkan taeyeon bahwa bus didepannya tak akan menunggunya bak seorang putri.

Taeyeon menelan ludahnya, menatap chanyeol dengan penuh amarah.

“Sampai bertemu disekolah, hati-hati ya. Jangan sampai tersesat.” ucap chanyeol berpamitan sambil menaikan kaca mobilnya. Meninggalkan taeyeon dihalte bus itu.

“DASAR LELAKI KURANG AJAR!AWAS KAU!” Teriak taeyeon tak kontrol seraya mengambil sebuah kerikil dan melempari mobil itu kesal.

***

2 days later

“Kau kenapa?” Yuri yang sedari tadi mengamati taeyeon yang tak bersemangat mengikuti pelajaran olahraga menanyakan keadaannya yeoja itu.

Taeyeon, yang terduduk dipinggir lapangan itu menatap yuri sambil tersenyum, “gwenchana”

“Aishh-jangan bohong. Mukamu pucat yeon” Tampik yuri menggelengkan kepalanya.

Yeoja yang sekarang dirangkul yuri itu hanya bisa menghembuskan nafasnya lesu. Memang benar, ia merasa tidak sehat saat itu. Kepalanya pusing, perutnya seakan dililit-lilit. Ditambah perutnya yang merasa lapar karena pagi tadi ia tidak memakan sarapannya. Ya semua itu karena perkelahiannya dengan sang daddy yang saling berbeda pendapat tentang chanyeol. Ia tak mengerti kenapa sang daddy sangat membela chanyeol dari pada anaknya sendiri, bahkan saat taeyeon mengadu tentang chanyeol yang meninggalkannya dihalte bus, daddynya hanya bisa tertawa dan mengatakan

.
“Kau terlalu dramatis yeon sampai mau mempengaruhi daddy untuk membenci chanyeol. Mana mungkin sih dia tega meninggalkanmu?”

Sangat menyebalkan!
.

“Sebaiknya kau kembali kekelas yeon, aku akan mengatakan pada songsaenim kalau kau sakit” Saran yuri pada teman sebangkunya itu.

Taeyeon kembali menatap yuri yang terlihat sangat khawatir padanya, ia tak menyangka ternyata yuri bisa secemas ini padanya.

“Terima kasih yul” taeyeon benar-benar berterimakasih telah mempunyai teman seperti yuri, yah satu-satunya teman terdekatnya disini. Walau mereka hanya kenal beberapa minggu, tapi mereka seperti sudah kenal bertahun-tahun. Yuri selalu mengertinya, selalu menemaninya.

“Apa perlu aku antar?” Kembali yuri memberikan saran,ia tak tega melihat wajah taeyeon yang sangat pucat seperti mayat hidup.

Taeyeon menggelengkan kepalanya, “gwenchana. Aku masih bisa menggunakan kakiku” ucapnya sambil tertawa kecil. Yuri pun melepaskan tangannya dibahu taeyeon dan membiarkan yeoja itu pergi kekelas. Taeyeon sekuat tenaga untuk melangkahkan kakinya, walau ia merasa badannya terlalu lelah untuk bergerak.

Sebelum yeoja itu menaiki tangga, ia bisa melihat chanyeol, lelaki yang sangat ia benci itu berdiri didekat tangga sedang terlihat tertawa bersama yoona, salah satu siswa angkatan taeyeon yang terkenal. yah, kecantikannya. Untung saja sekarang chanyeol membelakanginya,sehingga ia tak perlu langsung melihat wajah lelaki itu.

.
Dasar lelaki playboy kelas kakap!norak sekali saling merayu dan tertawa seperit itu!
.

Taeyeon menghentikan langkahnya, ingin berputar arah dan menggunakan tangga lain. Tapi, kepalanya semakin terasa pusing dan kakinya sekarang bergetar. Bila ia memaksa menggunakan tangga lainnya, ia bisa bertaruh ia akan jatuh pingsan sebelum sampai kekelas.

Taeyeon menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Ia mencoba tenang dan berjalan melalui mereka seakan-akan ia hanya adik kelas yang tidak mengenal dara ataupun lelaki itu.

Yeoja itu kembali melangkahkan kakinya paksa sambil sesekali menundukan kepalanyaa. Mencoba untuk menghindari kontak langsung dengan mereka.

Chanyeol, lelaki itu menghentikan tatapan intensnya pada yoona saat melihat taeyeon berjalan melaluinya tanpa sesekali menatapnya. Ia bahkan sekarang tidak mendengarkan semua omongan dara, ia hanya tertarik menatap belakang taeyeon yang terhuyung-huyung menaiki tangga.

“kau mendengarkan ku tidak sih oppa?” Ucap yoona sebal.

“n-de.nde.lanjutkanlah” Chanyeol kembali mencoba fokus pada yeoja didepannya. Mendengarkan kembali tentang rencana yoona yang mengusulkan sebuah pensi disekolah itu.

Taeyeon menelungkupkan kepalanya dimeja. Menutup seluruh kepalanya dengan jaket yuri. Badannya serasa meriang. Kepalanya pusing dan perutnya lapar. Penyakit yang sangat kompleks.

Suara ketukan dimejanya sendiri menyadarkan tidur semu taeyeon. Ia masih dalam posisinya,enggan bangkit.

“Yul-lewat saja. Aku tak bisa bangun” malasnya untuk sekedar berdiri agar yuri bisa duduk dibangkunya.

“Yeon-”

Mendengar suara yang jelas-jelas bukan milik yuri itu membuat taeyeon sontak menjauhkan jaket dari tubuhnya dan mengangkat kepalanya.

“Kau?”

Plak!

Secara refleks taeyeon melemparkan kotak pensil yuri ketubuh lelaki yang sekarang duduk dimejanya itu.

“Ouwhh–” Sakit chanyeol saat kotak yang terbuat dari besi itu mengenai tubuhnya.

“Mau apa lagi bodoh?fu*ksh*t!!” Kesal taeyeon tanpa sadar mengeluarkan segala bentuk umpatan yang dulu sering ia pakai di LA. Dasar lelaki tak tau diri batinnya. Masih berani ternyata menampakan muka didepannya.

Hanya satu yang chanyeol perhatikan saat itu, bukan kekesalan yeoja itu,bukan sakit lengannya yang terkena kotak besi itu, ataupun ucapan kasar yeoja itu.

Semua perhatiannya tercurah hanya pada wajah taeyeon yang terlihat sangat pucat. Ia bisa melihat bibir taeyeon yang bergetar saat berbicara.

Tanpa mengindahkan segala tatapan benci taeyeon. Lelaki itu menarik sebuah bangku dan ditempatkanya disamping yeoja itu.

“Jangan dekat-dekat!!” Histeris taeyeon sambil menjauh dari lelaki itu. Ia memindahkan tubuhnya kebangku yuri sehingga ada sebuah bangku yang membatasi mereka.

Chanyeol yang sedari tadi tidak bicara akhirnya mengeluarkan kalimatnya. “Mianhe, maaf karena aku meninggalkan mu.” Maafnya dengan lembut. Ia tau yeoja itu masih sangat marah padanya

Plak!

Taeyeon kembali melempari lelaki itu, sekarang dengan penggaris besi.

“Yak!” Chanyeol memejamkan matanya berusaha untuk sabar saat penggaris itu menerpa wajahnya.

“SEKALIAN SAJA SEMUA BARANG KAU LEMPARKAN KE AKU!”

“Ok FINE.” Taeyeon sudah berniat untuk mengangkat bangku didepannya. Tapi tangan chanyeol berhasil menahannya. Lelaki itu mengenggam pergelangan taeyeon erat. Entah apa yang menuntut taeyeon, matanya menatap kedua iris chanyeol.

“Badanmu panas” ucap lelaki itu menyadari bahwa tangan yeoja itu panas. Sekarang taeyeon sudah melepaskan pergelangannya dari chanyeol.

“Aku tau. Kau tak usah mengatakannya lagi” balas taeyeon gelagapan. Kenapa setiap kali ia bertemu kedua mata itu,ia selalu saja menjadi lemah?

“ini..” lelaki itu memindahkan tubuhnya ke samping taeyeon dan menyodorkan sebuah kotak makanan dihadapan taeyeon.

“makanlah”

“Terimakasih, tapi aku tidak perlu belah kasihan darimu.” tolak taeyeon sejutek mungkin setelah beberapa waktu ia terkesan dengan perhatian lelaki itu.

“Kau itu sedang sakit. Cobalah untuk tidak gengsi kali ini saja” seru chanyeol sebal.

Taeyeon memicingkan matanya pada chanyeol, “aku tidak gengsi. aku hanya tak lapar” dusta taeyeon

Krrikk-krrikkk

Mulut taeyeon bisa saja berbohong tapi tidak dengan perutnya. Yeoja itu memejamkan matanya malu saat yakin bunyi perutnya itu pasti terdengar jelas ditelinga chanyeol.

“Mau mengelak lagi?” canda chanyeol dengan tawa yang ditahannya.

Taeyeon menatap chanyeol tambah kesal saat melihat lelaki itu menahan tawanya. “Tak ada yang lucu!”

“Huh, aigoo. Kau lucu sekali taeyeon.” Lelaki itu menggelengkan kepalanya setelah secara paksa ia harus menghentikan tawanya.

“Kau itu lapar,tak usah bohong padaku” ucap chanyeol sambil membuka kotak putih itu.

Taeyeon yang sedari tadi membuang muka seseakli mencuri pandang menatap menu makanan yang ada didalam kotak itu.

“Kau serius tidak mau makan?ini enak loh” licik chanyeol menggoda yeoja yang mati-matiaan meneguk air liurnya.

“Kau tenang saja,aku tidak membeli ini dikantin.Tadi aku menyuruh sehun untuk membelikannya diluar. Aku tau kau alergi dengan makanan murah.”

Entah apa yang terjadi pada yeoja itu saat mendengar kalimat terakhir chanyeol. Apa ia sudah sejauh ini?apa gengsinya sudah terlalu tinggi hingga masalah makanan saja ia pilih-pilih.

Sekarang yeoja itu menundukkan kepalanya, sama sekali sepenuhnya mengalihkan tatapannya pada makanan itu.

“Gomawo. Tapi kau tak usah repot-repot untuk ku” sebuah kalimat yang tak pernah taeyeon bayangkan keluar dari mulutnya. Terimakasih? kemana kekesalannya pada lelaki disampingnya ini?

“Aku bisa makan dirumah saja” sambung taeyeon yang akhirnya memilih untuk pulang sekarang,ya ia pulang saja.

Chanyeol menarik nafasnya mendengar suara serak yeoja itu.

“Nde,pulang. Tapi setelah makan ok?”

“A?” Seruan lelaki itu membuat taeyeon mengangkat wajahnya menampakan lingkaran hitam yang semakin jelas dibawah matanya. Taeyeon tersentak dengan apa yang dilakukan lelaki itu padanya. Menyodorkan sebuah sendok berisi nasi tepat didepannya. Mulut lelaki itu juga terbuka kecil menyuruhnya untuk makan.

“Makan beberapa suapan dan kau baru boleh pulang.” Ucapnya lagi menyadarkan keterpukauan taeyeon.

“Aku tak bisa membiarkan kau pulang dengan tampang ingin mati seperti ini” canda lelaki itu meruntuhkan semua ekspetasi pemikiran taeyeon tentangnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada lelaki ini?kadang baik kadang sejahat setan.

Taeyeon tertawa saat chanyeol dengan lihai memainkan sendoknya,

“Ah,ada pesawat-ngengggg” lelaki itu mengarahkan sendok ditangan kanannya kearah taeyeon. Tanpa taeyeon tolak ia akhirnya mau membuka mulutnya dan memakan nasi itu.

“Mana ada suara pesawat seperti itu?” Herannya sambil mengelap mulutnya yang penuh dengan makanan

Chanyeol hanya tertawa mendengar celotehan yeoja itu.

“Aku bisa makan sendiri” Taeyeon menghentikan tangan chanyeol yang kembali menyendokkan nasi.

“I’m not baby anymore” tambah taeyeon meyakinkan lelaki itu. Chanyeol mengerti dan membiarkan yeoja itu makan sendiri dengan memberikan sendok itu ke taeyeon.

“Yeon-” panggil chanyeol disela-sela makan lahap taeyeon. Yeoja itu sekarang sudah tak menjaga imagenya dihadapan chanyeol.

“Hmmm”

“Besok jalan ya?”

Taeyeon sempat menghentikan makannya,dan menoleh kearah chanyeol yang bersandar dibangku itu dan masih menatap lurus kedepan. Tak menentukan kemana arah pandangnya.

“Molla,aku belum yakin padamu” Bimbang taeyeon mengingat apa yang telah lelaki itu lakukan padanya.

Chanyeol menolehkan wajahnya pada taeyeon yang kembali melanjutkan makannya. Lelaki itu mengerti.

“Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi” Janji chanyeol, ia sangat mengharapkan taeyeon untuk mempercayainya.

Taeyeon masih tak bergeming dan masih sibuk dengan makannya, “ya kau dengar tidak sih?” Lelaki itu sekarang mendorong belakang bahu kiri taeyeon yang membuat yeoja itu sedikit tersengkal kedepan

“Aishh,aku sedang makan kau malah mendorongku. Kalau aku tersedak bagaimana? aku sedang sakit tau!” Marah taeyeon

Chanyeol mencibir ucapan lebay yeoja itu, “makanya dijawab. Mau tidak?kalau tidak bilang kalau mau bilang,jangan membuatku menunggu”

“Jam 5. Jangan telat atau tidak sama sekali” yeoja itu tanpa menatap chanyeol dan melanjutkan ucapannya secara singkat mengiyakan tawaran lelaki itu.

Senyum merekah chanyeol tampilkan diwajahnya.

“Baiklah anak ingusan” Senangnya seraya mengacak-acak rambut taeyeon.

“YAK PARK CHANYEOL KEPALA KU TAMBAH PUSING!!AKHHHHH”

***
“Kau serius?” Taeyeon sekarang menatap alat tranportasi lelaki itu. Kemana mobil mewahnya? kemana mercedes benz yang selalu dipakainya setiap hari senin dan kamis? Dan mini coopernya setiap hari selasa sampai rabu?dan bmw limitednya setiap hari kamis dan sabtu?

Chanyeol mengangguk mantap.

“Sore indah seperi ini sayang bila kau rasakan hanya dari dalam mobil”

Ucapan penuh arti itu berlawanan arah dengan taeyeon. Baginya, sore hari adalah waktu dimana angin-angin jahat merasuki tubuh. Dan well,ia bahkan hanya memakai t-shirt tipisnya. Ia tak mau sampai sakit lagi.

“Kajja,aku ingin menampilkan sesuatu padamu” lekas lelaki itu sambil menaiki motor dengan ban besar itu. Ia memasang helmnya lalu menjulurkan helm hitam satunya pada taeyeon.

Walau sangat malas dan rasa gengsi bekecamuk dihatinya, taeyeon yang tak mau mengecewakan chanyeol hanya menuruti lelaki itu dan duduk dibelakang chanyeol.

“Pegang ya kalau tak mau jatuh”

“Hah?” Tanya taeyeon yang masih sibuk dengan helmnya. Perlukah ia jujur kalau ini pertama kalinya ia naik motor?

“Pegangan yang erat!” Perintah chanyeol membuat taeyeon sedikit takut. Ia tak berpengalaman saat naik motor, dan tidak salah kan ia menuruti perintah seorang guide driver?

Ia memegang sebuah pengangan dimotor itu. “Sudah!” Sahut taeyeon.

Chanyeol menolehkan kepalanya kebelakang, menatap yeoja yang gugup setengah mati itu.

“Aku tak yakin kau akan selamat kalau hanya berpegangan seperti itu” Lelaki itu menampakan smirknya pada taeyeon lalu tanpa disangka ia melajukan motornya sangat kencang.

Bahkan lebih menggagetkan daripada naik roller coaster, jantung yeoja itu seakan ingin copot dan membuatnya tanpa sadar memeluk lelaki yang memakai jaket jeans itu dari belakang. Mengeratkan kedua tangannya dipinggang chanyeol. Memejamkan matanya takut.

Inilah yang chanyeol inginkan. Yeoja ini tak akan mau melakukan langkah pertamanya, dan dia lah yang selalu harus melakukannya.

Sepanjang jalan taeyeon tak henti-hentinya berteriak saat lelaki itu tiba-tiba melajukan motornya tanpa aba-aba.Dan tetap sama,taeyeon masih memejamkan matanya dipunggung chanyeol.
Motor itu semakin lambat laut melambat, taeyeon tau chanyeol mengurangi kecepatannya.

“Yeon. Tidak apa-apa. Aku tak akan mengajakmu ngebut lagi” ucap chanyeol keras agar yeoja itu bisa mendengar.

Perlahan, taeyeon membuka matanya dan melonggarkan eratannya. Ia menatap jalan disebelah kiri dan kanannya. Memang angin disore hari dapat membuatmu sakit, tapi kesejukan ini….

Taeyeon merasakan pengalamannya saat pertama menaiki motor. Ini kah rasanya? Sekarang tak ada lagi wajah takut yang menyelimuti yeoja itu, semua terganti dengan senyum merekahnya. Tawanya saat menyadari sekarang ia bisa naik kendaraan tanpa atap ini. Ia merasa…

Bebas

Taeyeon turun dari motor besar itu saat chanyeol menghentikan sepeda motornya ditempat yang taeyeon tak tau namanya itu.

“Kemana?” Tanyanya sembari melepas helmnya dan menyerahkannya pada chanyeol.

“Ikut saja”

Taeyeon terkekeh saat lelaki itu meraih tangan kanannya dan mengenggamnya erat. Lelaki itu menuntunnya, meminta taeyeon untuk mengikuti langkahnya.

Dan mereka pun berakhir disebuah rel kereta api dengan pemandangan sebuah danau dihadapannya. Taeyeon sempat binggung dengan tempat itu dan ditambah dengan chanyeol yang memanjat sebuah atap bangunan yang tak terpakai. Yeoja itu tertegun melihat chanyeol sangat lihai mencari cara agar bisa naik kegedung itu.

“Naik!” Perintah lelaki itu menjulurkan tangannya pada taeyeon.

“Hah?ani!aku tak bisa memanjat” seru taeyeon jujur.
.
Ya taeyeon kau selalu tidak bisa dalam segala hal
.

“Kau pasti menyesal kalau tidak naik” bujuk chanyeol dari atas .
Taeyeon menggelengkan kepalanya, ia mendudukan tubuhnya disebuah kursi.

“Ani.terimakasih.” Tolak taeyeon.

.
Apa ini? aku pikir dia akan mengajak ku dinner ditempat makan romantis,atau mengajak ku ke taman hiburan,atau tidak membawa ku kesungai han seperti didrama-drama. Dan ternyata? hanya ini? Tempat ayang sangat biasa.
.

Taeyeon meneliti semua yang ada disekelilingnya. Banyaknya sampah membuatnya beriyuh ria. Benarkan ternyata ia salah menerima ajakan lelaki itu.

“Hey-kau benar-benar tak mau naik?” Setelah sekian lama diam, chanyeol kembali menundukan kepalanya menatap taeyeon yang terlihat bosan.

Kali ini taeyeon tak menggeleng, hanya menatap lelaki itu berharap ia akan membawanya pulang.

“Yeon aku akan sia-sia membawa mu kesini kalau kau tak mau naik. Ayolah, ada tangga disisi sebelahnya. Kau bisa naik tanpa memanjat.”

Taeyeon membulatkan mulutnya saat mendengar kalimat chanyeol.

“Kenapa setelah hampir 10 menit kau tidak bilang bodoh?” Kesal taeyeon yang hanya dibalas dengan tawa nyaring chanyeol dari atas.

Tanpa pikir panjang,yeoja itu berlari kesisi kanan dan menaiki tangga besi yang melekat pada bangunan itu dengan hati-hati.

“Aish-kau in-” taeyeon mengunci mulutnya saat ia bisa melihat semua yang ada didepannya sekarang. Pemandangan indah yang tak bisa kau lihat dari bawah sana.

Chanyeol menenggadahkan kepalanya, “duduklah” ia menepuk tempat disampingnya. Menyuruh yeoja itu untuk duduk.

Taeyeon tak menolak, ia duduk disamping lelaki itu sambil tetap menatap pemandangan yang indah itu.

Matahari yang mulai tenggelam diufuk barat, memancarkan warna jingga yang sedikit menyilaukan mata tetapi tetap mengundang mata untuk menatap keindahannya. Benar-benar terlihat jelas dimatanya matahari itu mendekat malu-malu kearah barat.

“Tempat ini tepat menghadap kearah barat. Sangat tepat kan bila kau ingin melihat sunrise?” Chanyeol menolehkan kepalanya pada taeyeon yang masih terpukau.

Bersama-sama mereka memandang sunrise itu. Bersama-sama mereka saling diam meneliti sebuah seni indah sang kuasa. Chanyeol merogoh sakunya dan mengeluarkan sebatang rokok berbungkus putih itu. Ia pun menaruh benda mematikan itu diantara mulutnya lalu mengambil korek api dan menyalakannya.

Taeyeon yang menyadari apa yang dilakukan chanyeol itu menatap pria itu tak suka, “Sejak kapan kau merokok?” ingatnya pertama kali melihat chanyeol merokok digudang sekolah.

Chanyeol menolehkan wajahnya pada taeyeon dan sengaja ia meniupkan asap dari mulutnya tepat dihadapan yeoja itu.

“Ya-” seru taeyeon sambil mengibaskan tangannya menghilangkan asap itu darinya.

Lelaki itu berdecak dan menampakan tawa herannya pada taeyeon, “kau baru pertama kali ya melihat seorang pria merokok?”

Taeyeon menggeleng, “aniyo, hanya saja aku tak suka melihat pria merokok. ”

“Wae?” Ucap chanyeol meminta penjelasan. Sekarang ia melepaskan rokoknya dan menaruhnya diantara kedua jari tangan kirinya.

“Karena-molla, menurut ku seorang perokok adalah lelaki yang- ”

“nakal?” sambung chanyeol melengkapi kalimat yang sebenarnya sangat ragu untuk taeyeon katakan. Ia takut menyinggung lelaki itu.

Taeyeon hanya diam, ia takut lelaki itu marah padanya. Tapi tidak, chanyeol sama sekali tidak marah dan hanya tertawa kecil

“Aku tak mengerti kenapa kita selalu bertemu dikeadaan ketika aku terlihat sebagai seorang namja yang buruk dimatamu yeon.” Lagi chanyeol membuat taeyeon menaikkan alisnya binggung.

“Saat kau menemui ku sedang merokok, saat hukuman mu, saat kau melihatku bersama banyak yeoja, aku sangat buruk kan dimatamu?”

Tanya chanyeol membuat taeyeon menatap kedua iris itu. Mengiyakan semua ucapan lelaki itu walau hanya dalam diam.

Chanyeol menghela nafas berat, “kim taeyeon-apa kau bisa melihat perbedaan ketika kau diatas sini dan dibawa sana?” Tanya lelaki itu

Taeyeon mengangguk, “nde.” Ucapnya singkat.

“Dibawah sana, kau hanya bisa melihat apa yang ada disekelilingmu. Semua pemandangan yang biasa saja, ruang pandangmu sangat sempit. Tapi diatas sini? kau bisa melihat segalanya, lebih jelas. Dan begitu juga seharusnya cara mu menilai seseorang-”

Yeoja itu menjauhkan pandangannya dari chanyeol, walau telinganya tetap intens mendengar lelaki itu.

“Kau harus lebih mengenal lebih dalam untuk tau sesuatu lebih nyata. Untuk tau bagaimana sebenarnya dia. Mungkin dari luar ia terlihat buruk, jahat, dan tak baik padamu. Tapi kau tidak tau bukan apa yang sebenarnya ada dihatinya?”

Taeyeon menangkap dengan jelas inti ucapan lelaki itu. Ia kembali teringat dengan semua sifat yang ada didirinya, selama ini ia selalu memandang setiap orang dengan sebelah mata. Semuanya, teman sekelasnya, bahkan lelaki ini.

Yeoja itu tak bergeming beberapa saat memikirkan ucapan lelaki itu, matanya yang berkeliaran itu pun tak sengaja tertuju pada 2 orang anak yang terlihat sangat kotor dengan baju bekasnya sedang membuka sebuah roti.

Sangat miris bagaimana 2 orang anak yang sangat muda itu membagi sebuah roti itu satu sama lain.

Lagi-lagi pikirannya terlontar menginggat bagaimana ia selalu egois saat ibunya hanya membelikannya satu barang untuknya. Bukannya bersyukur taeyeon malah marah dan merajuk pada ibunya itu.

“Namanya taenun dan hyondai” Sebut chanyeol paham pada pandangan taeyeon yang membeku pada kedua anak itu.

“Kau kenal?”

Chanyeol mengangguk, “mereka 2 kakak beradik yang sudah tak memiliki orang tua”

“Jeongmal?” Tanya taeyeon meyakinkan.

“Aku juga tak mengerti yeon, kenapa tuhan memberikan hidup seperti itu pada mereka. Mereka masih kecil bukan?masih perlu kasih sayang, bukan malah mencari nafkah” Hela chanyeol menyayangkan.

Taeyeon semakin miris pada kedua anak itu, “dan kita seharusnya bersyukur bukan?” Yeoja itu menolehkan kepalanya menatap chanyeol dan meminta persetujuan lelaki itu.

“Nde,tapi aku tak yakin kau telah bersyukur dengan hidup mu.” ucap chanyeol secara blak-blakan. Memang benar, yeoja itu sepertinya tak pernah mensyukuri hidupnya

Taeyeon menampakkan tawa yang dibuat-buatnya, “kau pintar sekali mengira-ngira ya?”

“Memang, kau tidak bisa menyimpan apapun dari ku.”

Taeyeon menghentikan tawanya dan merubahnya jadi senyum tipis, “aku memang tak pandai bersyukur” ucapnya pelan.

“Kadang, dalam kehidupan kau pernah merasakan buruknya hidup. Begitu juga aku. Perkelahian hebat kedua orang tua ku, perceraian mereka, semua seakan menjatuhkan ku. Sejak saat itu, segala bentuk perasaan ku seakan hilang. Mungkin aku bisa dikatakan sebagai yeoja yang tak punya perasaan” yeoja itu memainkan kedua tangannya, binggung kenapa ia harus berkata terlalu banyak pada namja itu.

“Mereka tak hilang,hanya tersesat”

Kalimat chanyeol sontak membuat taeyeon mengangkat wajahnya. Ia bisa merasakan jari-jari chanyeol perlahan memgang rambutnya. Merapikan rambutnya dari terpaan angin yang membuat rambutnya yang terurai itu menghalangi wajahnya.

“Aku bisa melihat itu semua yeon. Kau masih punya sisi baikmu. Hanya saja kau yang melarangnya untuk muncul” senyum chanyeol memancarkan kejujurannya.

Taeyeon berdecak meski beberapa saat ia kembali terpukau dengan kata-kata lelaki itu, “kau itu berlagak menasehatiku. Tapi kau sendiri memangnya sudah pintar bersyukur?” serunya sambil menaikan dagu

Chanyeol menggeleng, “Ani. Aku belum pintar. Hanya saja setiap hari aku selalu berusaha.”

Yeoja itu masih diam, tak tau harus menjawab semua kata lelaki itu dengan apa.

“Berterima kasih pada tuhan, setiap hari, karena hidupku. Bahkan, entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu mengucapkan terima kasih ku karena kehadiranmu. Aneh bukan?” Chanyeol menggelengkan kepalanya

Ucapan lelaki yang sekarang memandang kearah matahari terbenam itu membuat taeyeon melototkan matanya.

“M-maksu-d mu?” Tanya taeyeon terbata.

Chanyeol menolehkan wajah tampannya yang terkena pantulan sinar matahari itu pada taeyeon yang sekarang menatapnya dengan tidak mengerti.

“Aku mensyukuri kau hadir. Aku mensyukuri akhirnya tuhan memberikan ku yeoja yang bisa membuatku bersyukur.”

“Nde?” Binggung taeyeon saat lelaki itu terlalu merumitkan ucapannya.

Chanyeol menghela nafas berat dan sempat menujukan kedua pandangannya kelain arah sebelum kembali membalas tatapan taeyeon

“Aku mencintaimu-.”

Byuuurrrrr

Tepat lelaki itu mengucapkan isi hatinya, saat itu juga hujan turun mendadak diantara mereka. Taeyeon terlihat sangat panik dan chanyeol hanya bisa memejamkan matanya kesal. Ia tak mengerti kenapa selalu ada penghalang saat ia ingin mengucapkan perasaannya.

“YA YEOL AYO PULANG!AISH JINJJA AKU BASAH KUYUP!” Teriak taeyeon gelagapan turun lebih dulu dari bangunan itu.

Lelaki itu memutar dua matanya kecewa lalu mengikuti yeoja itu. Satu hal yang ia pertanyakan sekarang. Apa yeoja ini mendengarnya atau tidak?

***
“DADDY FIRE DAD!!!HELLPP!”

Tuan kim yang asik dengan laptopnya seakan ingin menyemburkan kopinya mendengar taeyeon berteriak histeris dari dapur.

“ASTAGA KIM TAEYEON, KAU MAU MEMBAKAR RUMAH YA!” Teriak tuan kim itu ikut panik setelah ia sudah sampai didapur dan melihat kompor itu terbakar.

“JANGAN MENERIAKI AKU DADDY!ASTAGA CEPAT MATIKAN!” Balas taeyeon frustasi.

Dengan cepat tuan kim mengambil beberapa lap kering lalu melemparnya keatas kompor itu. Untung, api itu tak terlalu besar dan belum merambat kedinding. Sehingga dengan beberapa kain, api itu mau padam.

Taeyeon menghela nafasnya lega, ia terduduk dikursi dapur itu tak bisa membayangkan kalau ia benar-benar membakar rumahnya itu.

“Huh-sorry dad” maaf taeyeon sambil memijit dahinya.

“Kau sebenarnya mau apa sih?” Marah tuan kim berkacak pinggang.

“Masak.” Ucap taeyeon agak ragu.

“Apa? masak? kau serius?” Sekarang tuan kim yang sudah selesai membersihkan kain itu menatap taeyeon kaget.

“Cuman coba-coba” ujar taeyeon sambil mengangkat bahu malu.

Tuan kim merasakan ada yang aneh dari anaknya itu. Ia pun menampilkan decak tawanya.

“Ya sudah,kalau kau mau memasak bilang saja pada daddy, daddy akan senang hati membantumu. Jangan seperti ini lagi ya?”

“N-nde” balas taeyeon mengerti

***
Taeyeon melangkahkan kakinya riang kesekolah, sepanjang umurnya baru kali ini ia merasa bersemangat saat pergi kesekolah.

Bahkan ia rela bangun lebih pagi untuk memasak makanan yang sekarang sudah terbungkus rapi didalam sebuah kotak berwarna biru muda yang ditentengnya ditangan kanannya. Ia harap, chanyeol mau menerima masakannya.

Ia tersenyum berekspetasi membayangkan chanyeol akan memjui hasil masakannya. Walau hanya nasi goreng dan omelet sederhana.

.
.
.

“Bahagia sekali kelihatannya” yuri berdehem saat melihat wajah taeyeon yang sedari tadi bersemu-semu. Bahkan yeoja itu sampai tak sadar saat pelajaran kangta songsaenim telah selesai.

“Mau ikut kekantin tidak?” Yuri lagi-lagi memberikan tawaran terakhirnya.

Taeyeon mengangguk sambil mengambil kotak makanannya, pikirnya ia akan sekalian menemukan chanyeol dan memberikan makanan hasil buah tangannya itu.

Mata taeyeon menggedar mencari sosok yang dari pagi tadi ia sangat antisipasi kehadirannya, bahkan ia tak mendengarkan yuri yang berbicara sendiri yang binggung menentukan menu makanan mereka.

“Kau mau makan tidak?” Tanya yuri pada taeyeon yang masih memutar-mutar kepalanya.

Taeyeon menyadari wajah yuri yang menatapnya heran.

“Mau makan atau tidak?”

Taeyeon yang sekarang sangat cantik dengan rambut yang ia ekor satu itu menggelengkan kepalanya, “aku titip milkshake strawberry saja ya?” Pintanya lalu duduk disalah satu kursi kantin itu.

“Aku akan menjaga kursi untukmu” ucap taeyeon tanpa meminta persetujuan yuri lebih dulu. Temannya itu hanya memutar matanya aneh melihat sikap taeyeon dan langsung berlalu untuk memesan makanan mereka.

.
.
.

“Sebenarnya kau kenapa sih?” Yuri sekarang duduk dihadapan taeyeon sambil menyodorkan milk shake titipan taeyeon.

“tidak ada apa-apa” ucap taeyeon pelan sambil meminum milkshakenya. Hanya ini lah satu-satunya minuman yang ia mau minum dikantin itu. Hanya ini satu-satunya minuman higeinis disini,menurutnya.

Yuri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keanehan taeyeon yang sampai sekarang masih celingukkan. Yeoja itu pun mulai memakan ramennya, meniup beberapa kali ramen yang panas itu lalu melilitkannya disumpit

“Kau melihat chanyeol tidak sih?” Tanya taeyeon tiba-tiba menghentikan yuri yang sedang menyeruput ramennya.

“Mwo?chanyeol oppa?” Kekehnya.

Taeyeon mengangguk, “kau melihatnya?”

“Aniyo,dari tadi pagi aku tak melihat wajah tampan chanyeol oppa” ucap yuri tiba-tiba berfantasi mengingat betapa tampannya sang kakak kelasnya itu.

Taeyeon memajukan bibirnya melihat yeoja dihadapannya ini berperilaku layaknya seorang fangirl.

“Kau menyebutnya oppa?” Sadar taeyeon ketika beberapa kali yuri menyebutkan kata oppa setelah nama lelaki itu.

Yuri hanya mengedipkan matanya lentik, menampilkan wajah genitnya. Yeoja itu pun kembali menghentikan gerak tangannya yang sedari tadi lihai mengaduk ramennya.

“Kau tau?” Yuri memandang taeyeon dengan tatapan ingin mengurui yeoja itu.

Taeyeon tak menampakan wajah berminatnya, ia hanya bergumam kecil dan memfokuskan matanya mengaduk-aduk minumannya.

“Chanyeol oppa itu adalah satu-satunya lelaki yang ku kagumi disekolah ini. Walau minho belum tertandingi sih,tapi tetap saja chanyeol oppa itu yang terbaik. Bagaimana bisa coba tuhan menciptakan lelaki sesempurna dirinya? suara yang sexy, badan layaknya pemain basket, wajah yang benar-benar tampan, sifatnya yang gentlemen, kepintarannya, kebijaksanaannya. Ahh, Dia sangat sempurna..”

Taeyeon sekarang mengerutkan dahinya menatap yuri yang mulai kehilangan kontrol, yeoja itu bercerita dengan senyuman merekah yang melekat diwajahnya. Matanya seakan dipenuhi sihir cinta. Tangannya tak berhenti mengarah kesana kemari menggambarkan bagaimana perfectnya seorang chanyeol dimatanya

Yeoja ini benar-benar gila. batin taeyeon.

“Tapi sayang, sampai saat ini masih ada satu hal yang dipertanyakan orang tentang lelaki itu.”

Taeyeon menaikkan matanya kearah yuri, apa ia mulai beminat mendengar pembahasan tentang lelaki itu?

“Memang dia kenapa?”

“Oh god, kim taeyeon kau tak tau? bahkan setelah kau dekat dengannya kau tidak tau?” Kaget yuri pada taeyeon.

Taeyeon menggelengkan kepalanya dan menampakan wajah polosnya.

Yuri menarik nafasnya dalam. Menyayangkan betapa kudetnya yeoja dihadapannya ini. Bahkan setelah taeyeon dekat dengan lelaki itu.

Selama ini yuri tau kalau taeyeon dekat dengan lelaki itu, tapi hanya sebatas tau kalau taeyeon dan chanyeol adalah 2 orang yang saling hina dan tak pernah akur sama sekali.

Tapi apapun hubungan taeyeon dan chanyeol, yuri yang bisa dikatakan fans fanatik chanyeol tak pernah marah ataupun cemburu dengan taeyeon. Karena ia sadar ia dan chanyeol hanya sebatas fans dan artis. Ia hanya menganggumi, bukan mencintai.

“Apa kau tidak tau kalau selama ini ia tak mempunyai pacar?” Tanya yuri dengan suara sekecil mungkin. Ia tak mau orang mendengarnya dan yang lebih parah akan melaporkannya pada chanyeol yang sensitive dengan kata pacar.

Taeyeon hampir mengeluarkan kembali milkshake itu dari mulutnya, ia menatap yuri dengan mata yang membulat.

“Tak mungkin!kau pasti mendapatkan info yang salah.” Tampik taeyeon tak percaya.

“Aishh,kau bisa bertanya secara langsung padanya yeon kalau kau tak percaya padaku” ucap yuri memutar bola matanya.

“Oh iya, kau tau dara bukan?itu anak paling populer dikelas 12?yang ditobatkan orang banyak sebagai yeoja satu-satunya yang cocok untuk chanyeol?”

Taeyeon yang mendengar nama yeoja itu hanya mengangguk singkat. Entah kenapa ia tiba-tiba saja jadi naik darah ketika mendengar nama yeoja itu.

“Katanya, dari kelas 10 dara itu sudah mengejar-ngejar chanyeol oppa”

“Dan dari informasi yang kudapat, selama hampir 3 tahun ini, dara tak pernah menyerah untuk menaklukan chanyeol oppa. Mencoba untuk mengambil hati lelaki itu. Tapi yang herannya ya sampai sekarang chanyeol oppa tak pernah sama sekali mengajak dara untuk pacaran. Ia memang memperlakukan dara dengan baik, bahkan mengizinkan yeoja itu untuk memeluknya sesuka hati, tapi naas dara seperti digantung oleh chanyeol oppa ” jelas yuri panjang lebar.

Taeyeon hanya bisa mengangguk – anggukan kepalanya. Ia tak berniat mengeluarkan pendapatnya walau sedikit. Ia terlalu sibuk dengan berbagai pikiran diotaknya. Mengaitkan ucapan yuri dengan semua hal yang ia lalui dengan lelaki itu.

Taeyeon masih ingat 2 hari yang lalu lelaki itu mengatakan kata-kata cinta. Walau ia tak sepenuhnya mendengar karena hujan tiba-tiba menghancurkan moment indah itu. Tapi ia yakin, mulut lelaki itu mengucapkan sebuah lafal cinta.

Tapi menginggat ucapan yuri barusan, ia juga bisa menginggat selama ini chanyeol sepertinya selalu mementingkan dara daripada dirinya. Chanyeol lebih memilih menjemput dara daripada dirinya, chanyeol terlihat tertawa lepas dengan dara dihadapannya, chanyeol meninggalkan dirinya sendirian membersihkan lab karena dara memintanya untuk menemaninya. Semua tentang dara.

Sekarang tak heran kan kalau diotaknya terlintas sebuah prasangka buruk tentang chanyeol, kalau selama ini lelaki itu hanya menjadikannya mainan?

“Nah itu dia!mereka akhirnya datang”

“Babam. Perfect couple kita tiba”

Taeyeon membalikkan badannya sontak ketika mendengar seruan yuri yang menghentikannya dari semua pikiran diotaknya.

Taeyeon bisa melihat jelas bagaimana chanyeol memasuki kantin dengan dara bergelayut manja dilengannya. Walau lelaki itu menampakan tampang tak acuhnya tapi tetap saja mereka berdua berhasil memanas-manasi hati taeyeon.

Chu~

Satu ciuman singkat yang berani dara berikan pada pipi chanyeol itu membuat taeyeon geram bukan main. Oh sepertinya tidak taeyeon saja, tapi semua orang dikantin itu, oh tidak, mungkin hanya para fans chanyeol yang merasa sakit hati, bukan para dara-chanyeol shipper yang memimpikan keduanya untuk bersama.

Dilain tempat, chanyeol yang benar-benar dibuat kaget dengan kelakuan lancang dara membuatnya melayangkan tatapan dinginnya pada dara. Mengatupkan kedua gerahamnya kuat-kuat, menekan kemarahannya yang mulai menggelegak menginggat bahwa ini adalah tempat umum. Selama ini, ia memperbolehkan dara untuk mendekatinya. Sebenarnya bukan hanya dara saja, tapi seluruh yeoja disekolah. Ia selalu welcome dengan mereka, mau merangkulnya, bergelaut manja, terserah, asal mereka tanggung sendiri akibatnya. Buat apa mati-matian mendekati chanyeol tapi lelaki itu sama sekali tak merespon?

Dan mungkin sampai saat ini hanya dara saja yang bertahan, dan mungkin karena dara lah tandingannya, membuat banyak siswi lain menyerah untuk sekedar ingin mendekati chanyeol.

Tapi kali ini, sudah kelewatan batas. Chanyeol memang memperbolehkan yeoja itu melakukan apa saja, kecuali satu hal, yaitu menciumnya. Dan sekarang dara lancang melakukannya, didepan semua orang bahkan…

Pandangan chanyeol seketika membeku saat tak sengaja matanya mengarah pada taeyeon yang juga menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Parah, apa yeoja itu melihatnya? Batin chanyeol takut.

Dan benar saja, ia bisa memastikan itu semua karena tak lama setelah taeyeon sadar kalau chanyeol menyipitkan matanya menatap kedua iris hazelnya, yeoja itu lekas bangkit dari duduknya dan meninggalkan kantin itu. Bahkan yuri, teman taeyeon itu terburu-buru mengejarnya.

“Ikut aku!” Dengan tatapan penuh emosi, dengan paksa chanyeol menyeret dara yang ada disampingnya keluar dan menyisakan ketersimaan seluruh manusia yang berada dikantin.

.
.
.

Yuri benar-benar panik dengan taeyeon yang sedari tadi menangis tak berhenti. Mereka sekarang sedang duduk ditaman belakang sekolah. Terserah bila bel telah berbunyi menandakan jam pelajaran kembali berlanjut.

Dengan sebuah kotak ditangannya, taeyeon menundukkan kepalanya sambil menangis sesegukan. Sebagai sahabat yang baik, yuri tak berniat untuk menganggu tangisan taeyeon. Ia membiarkan yeoja itu meredakan tangisnya, menyuarakan seluruh kesalnya, baru ia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Dan ini waktunya,

“Kau kenapa?” Ucap lembut yuri sembari merangkul taeyeon.

“Dia jahat yul..” Marah taeyeon dengan isakan tangis yang masih kentara ditelinga yuri.

“Dia?” Tanya yuri tak mengerti.

Taeyeon mengangguk,”chanyeol!” Ucap taeyeon pelan.

“Kauuu?” Seketika yuri melepas rangkulannya dan sekarang menangkup pipi taeyeon, menuntun yeoja itu untuk menatapnya.

“Menyukainya?bagaimana bisa?” Kaget yuri tak percaya.

“Molla, yang pasti aku sudah bodoh telah suka padanya. Seharusnya aku tak perlu jatuh keperangkapnya. Dia itu memilih dara. Seharusnya aku sadar itu. Aku harus sadar kalau aku bukan siapa-siapa. ” Balas taeyeon mengerem ucapannya. Ia boleh mengatakan bahwa ia menyukai lelaki itu pada yuri. Tapi tidak dengan alasan utama yang membuat ia menangis seperti ini, ya ucapan lelaki itu. Pengakuan cinta dari chanyeol. Kalau ia benar mencintai yeoja itu, kenapa sekarang ia berani tampil mesra dengan dara bukan?

Yuri berdecak kagum mendengar pengakuan taeyeon, Ia memang sudah curiga dari awal.

Dengan menggunakan jempolnya, yuri menghapus airmata dipipi taeyeon, “kemana seorang taeyeon yang tak pernah menyerah eoh?” desisnya menyemangati taeyeon.

“Taeyeon, kau tau?kau itu adalah satu-satunya sahabat ku yang spesial. Kau mungkin saja dicap orang sebagai yeoja yang buruk. Tapi bagi ku, setelah mengenal kau lebih dalam. Aku melihat kau itu adalah yeoja yang cantik, yang berani, dan yeoja yang tak pernah pantang menyerah. Dan bila dibandingkan dengan dara,mungkin perbedaannya jauh lebih baik kau daripada dirinya”

Taeyeon berdecak dan sempat mengeluarkan tawa kecilnya saat mendengar sebuah hiburan yuri berhasil sedikit menghilangkan sakit hatinya walau hanya untuk sementara.

“Sekarang saja kau memuji ku,dulu kau mati-matian memuji yeoja itu kan?” Ucap taeyeon sambil menghapus airmatanya.

Yuri tersenyum lebar saat akhirnya sahabatnya itu menghentikan tangisnya dan sudah mau mengeluarkan tawanya, “Begini dong, kembali menjadi Taeyeon yang selalu tak pernah mau kalah. Berhentilah menangis ne? kalau menurutmu chanyeol adalah orang jahat, kau tak perlu bersikap seperti ini. Cari saja lelaki yang lain. Masih banyak yang lebih baik darinya taeyeon. Dan menginggat wajah chanyeol saat dicium dara tadi, aku bisa memastikan bahwa chanyeol 100% gay. Bagaimana bisa kan ia tidak memberikan ekspresinya?” Panjang lebar yuri menasehati taeyeon layaknya seorang sahabat, bila dimata taeyeon chanyeol jahat, dan begitu pula dimata yuri.

Taeyeon hanya menghembuskan nafasnya setelah mencerna ucapan sang sahabat, “kita kekelas huh?” Tawar yuri.

Taeyeon menggeleng. “Aku pusing, mau mengantarkan ku ke uks?” Pinta taeyeon.

Yuri mengangguk mengiyakan permintaan itu dengan tulus, “baiklah tuan putri” sigapnya.

“Oh iya,ini. Tolong taruh ditas ku ya, atau tidak buang saja ke bak sampah” ujar taeyeon seraya memberikan kotak makanan yang awalnya akan ia berikan pada chanyeol itu ke yuri.

“Kau tidak mau memakannya diuks?”

“Bukan untuk ku yul” hela taeyeon.

“Jadi?” Tanya yuri menaikan alisnya.

“Sebenarnya itu untuk dia. Tapi sudahlah.. Buang saja kebak sampah.” Akhir taeyeon menaruh kotak itu ditangan kanan yuri. Meminta yeoja itu untuk menggengamnya dan menjauhkannya dari pandangannya.

Membuka,menutup,membuka,menutup matanya gelisah. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang . Berbaring diruang uks dengan mata yang susah diatur. Taeyeon semakin bertambah pusing karena dirinya tak mau sebentar saja mengistirhatkan dirinya. Entah apa yang membuat dirinya pusing,apa karena lelaki itu?ah mungkin saja.

suara langkah kaki terdengar jelas ditelinga taeyeon sehingga membuatnya bangkit dari tidurnya. Sekarang, ia bisa melihat dengan sempurna wajah lelaki yang sedari tadi memenuhi otaknya. Dengan gaya khasnya, lelaki itu bersandar dipinggiran pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang ekspresi uniknya yang selalu membuat yeoja mana pun tersihir.

“Sakit lagi atau hanya pura-pura sakit?” Tebak chanyeol tenang menginggat saat tadi dikantin ia melihat yeoja itu baik-baik saja.

Taeyeon membuang muka,tak ingin sedikit saja melihat lelaki itu. Ingat saja chanyeol,aku tak akan pernah terbuai dengan sikap manismu lagi, tekatnya.

Yeoja itu memilih untuk tidak bicara, karena ia tau, kalau ia mengeluarkan sedikit saja kata, chanyeol pasti akan berbicara lebih banyak lagi padanya.

Chanyeol menghela kesal melihat sikap taeyeon padanya. Ia pun menggelengkan kepalanya lalu pergi berlalu keluar dari ruangan itu.

See? Taeyeon membulatkan matanya seketika. Marahnya pun semakin membesar saat ia melihat lelaki itu malah pergi dari pada memilih untuk meminta maaf atau berusaha agar taeyeon tak salah paham. Mungkin benar pikirnya, lelaki itu hanya pura-pura baik padanya.

Ketika taeyeon sibuk mengutuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya mempercayai ucapan lelaki itu dan lebih bodohnya taeyeon telah jatuh cinta pada lelaki itu. Dari luar chanyeol mati-matian menyeret dara untuk mengikutinya ke uks,menemui taeyeon.

Taeyeon kaget bukan main melihat lelaki itu kembali dan bahkan sekarang membawa dara, yeoja yang tadi sangat berani mencium chanyeol didepan semua orang, didepan dirinya.

“Chanyeol-ya aku tak mau!” dara akhirnya melepaskan tangan chanyeol dan sekarang menatap taeyeon yang binggung bukan main.

“Oh jadi ini?” Ucap dara sambil menajamkan matanya kearah yeoja dihadapannya. Jadi ini yeoja yang disukai lelaki itu?ia pikir yeoja itu akan jauh lebih cantik daripada dirinya, tapi ternyata..

She’s nobody, pikir dara.

Chanyeol tak memilih kedua yeoja itu untuk ia tatap. Ia menatap kelangit-langit ruangan itu sembari menghembuskan nafasnya pelan, “minta maaf” singkatnya pada dara.

Dara menatap chanyeol tak percaya, dan taeyeon hanya diam dan menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ini benar-benar diluar pemikiran taeyeon. Harapannya dari tadi hanya sebatas perminta maafan chanyeol, bukan dara.

“Maksudmu?”

“Jelaskan semuanya!” Tegas chanyeol pada yeoja itu. Suara yang terdengar seperti bentakan tapi tetap tenang itu berhasil membuat dara terdiam geram. Tangan yeoja itu dikepalkannya kuat.

Taeyeon, yeoja yang sekarang mengerutkan alisnya itu masih memilih untuk tak mengeluarkan kalimatnya. Ia begitu binggung dengan kedua orang yang sedang beradu dihadapannya ini.

Dara memutar kedua bola matanya, malas rasanya untuk berbicara pada taeyeon. Tapi menginggat segala macam ancaman halus lelaki disampingnya sepertinya harus memaksanya untuk menatap wajah yeoja yang telah merebut lelakinya itu.

“Aku dan chanyeol tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku minta maaf karena telah menciumnya,puas kan?” Dara seakan muak dengan keadaan saat itu, setelah ia mengucapkan kalimat maafnya dengan terpaksa, dara pergi berlari keluar dari ruangan itu dan menyisakan dua orang yang ogah saling pandang itu, oh bukan keduanya. Hanya taeyeon, ketika mendengar kalimat dara, taeyeon langsung menundukkan kepalanya. Menatap kedua ujung kakinya yang menggantung bebas. Ia benar-benar tak percaya yeoja itu benar-benar meminta maaf padanya. Walau chanyeol hanya memaksanya

Sedangkan chanyeol, lelaki itu tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari taeyeon, “sudah jelas kan?aku dan dara tidak memiliki hubungan apa-apa” jelas lelaki itu slangsung keinti permasalahan.

Yeoja itu sangat setia untuk membungkam mulutnya. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan dari awal.

“Aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi yeon. Aku mohon jangan marah padaku..” tambahnya semakin khawatir pada taeyeon, lelaki itu tau jika taeyeon sudah tak mau berbicara itu berarti taeyeon sudah benar-benar sangat marah.

Taeyeon menghela nafasnya berat, menyiapkan sebuah kalimat yang tepat untuk lelaki itu, “siapa yang menyuruhmu meminta maaf? Siapa yang meminta mu untuk memaksa dara untuk minta maaf? Memangnya siapa sih yang mengatakan padamu kalau aku marah?”

Taeyeon telah mendustai hatinya, siapa bilang ia tak marah? ia marah. Benar-benar marah.

Setelah 3 pertanyaan dusta yang taeyeon ucapkan itu, chanyeol sempat terperangah dengan ucapan yeoja itu. Tanpa segan-segan ia pun memutuskan untuk mendekati yeoja itu. Ia berdiri dihadapan taeyeon yang duduk menyamping dikasur uks itu. Lelaki itu menaruh kedua telapak tangannya disamping kiri dan kanan taeyeon. Menumpu beratnya dengan telapak tangannya. Membuat taeyeon sekarang berada dalam kurungannya.

Taeyeon mendongakkan kepalanya dan terkesiap. Pengurangan jarak yang chanyeol ciptakan berhasil membuat taeyeon ternganga. Wangi parfum maskulin lelaki itu menyeruak dan semakin membuat nafas taeyeon semakin tersengkal.

Dan lelaki itu sekarang menajamkan matanya kearah kedua iris taeyeon, seakan mengunci taeyeon untuk tidak melepas pandangannya padanya.

“Jangan pernah bohong padaku.” Ucap chanyeol terdengar seperti bisikan.

Taeyeon yang tersadar bahwa ini bukan saatnya untuk menanggumi wajah tampan lelaki itu memundurkan kepalanya. Mencoba menjauhkan wajahnya dari chanyeol.

“Bohong untuk apa?”

Chanyeol tersenyum geli menatap ucapan yeoja itu, “kau Menyukaiku bukan?”

Sontak taeyeon berdesis, dan menolehkan wajahnya kelain arah.

.
Kalau ia aku mencintaimu,apa kau juga benar-benar mencintaiku?aku takut kau hanya mempermainkan ku.
.

“Ani. Kau jangan terlalu percaya diri. Karena dari dulu aku tak pernah tertarik padamu” Tampik taeyeon lagi-lagi berdusta.

Chanyeol yang mendengar sebuah kalimat yang lebih mengarah pada penolakan itu berdesis pelan. Ia melepaskan kedua tangannya dan mundur satu langkah kebelakang. Merasa kecewa dengan ucapan yeoja itu. Tapi tidak, ia tak pernah mau menyerah. Ia harus berusaha lebih karena ia tau taeyeon gadis yang berbeda.

“thanks atas makanannya” Chanyeol berusaha untuk tidak meladeni ucapan terakhir taeyeon. Ia kembali teringat saat yuri, teman taeyeon itu pergi kekelasnya hanya untuk memberikan masakan taeyeon padanya. Memang aneh bentuk makanan itu. Dan soal rasa, chanyeol benar-benar tak mengerti kenapa taeyeon selalu pdaddy dalam segala hal.

Taeyeon yang sedari tadi menyesali semua ucapannya menatap chanyeol tak percaya.

Yeoja itu menghela nafasnya malu. Ia sudah mengatakan bahwa ia menolak lelaki itu, tapi sekotak makanan itu berhasil membuat pengakuan itu gagal total.

“Katanya kau memasak sendiri untuk ku?” Sekarang chanyeol menatap taeyeon dengan berpura-pura tak tau. Kalau sebenarnya ia sudah tau segalanya.

Taeyeon membalas tatapan chanyeol dengan paksa, “jangan kepedean deh” ucapnya tak tau harus berbuat apa. Ia rasanya ingin sekali membunuh yuri yang sangat comel itu saat ini juga.

Chanyeol tersenyum geli, “lagi-lagi berbohong. Kau itu tau kan kalau bohong itu dosa?”

“Tidak usah menggurui ku!” Sekarang semua amarah yang tadi memenuhi taeyeon tergantikan dengan perasaan malunya.

Lelaki itu menyadari wajah taeyeon yang sekarang mungkin lebih tenang daripada awal tadi. Chanyeol kembali mendekati taeyeon. Dan duduk disamping yeoja itu.

“Minggu depan, temani aku keacara prom night.”

Sebuah permintaan yang lebih terkesan bagai perintah itu menganggetkan taeyeon, ia tercengang dengan ucapan chanyeol yang ada disampingnya.

“Kenapa aku?”

Chanyeol berdecak sebal sembari mengacak rambut yeoja itu yang alhasil membuat taeyeon harus menghentikan tangan chanyeol dan merapikan rambutnya.

“Hatimu itu sebenarnya terbuat dari apa sih?” Tanya chanyeol kesal sembari bersandar kedinding, lebih menaikan tubuhnya dikasur itu.

Dari awal ia tak mengerti kenapa taeyeon harus mempunyai hati sekeras batu.

Taeyeon tak bergeming. Hanya mengigit bibirnya tak berani menjawab apa-apa.

“Pokoknya,aku tak mau tau. Jika ada siswa lain yang mengajak mu,aku tak akan membiarkannya untuk bersamamu. Walau kami harus berkelahi sekalipun. Tapi- sepertinya mustahil. Mungkin hanya aku saja yang berminat mengajakmu yeon.”

Taeyeon menyipitkan matanya tak mengerti kenapa lelaki itu seenak jidatnya memaksa dan sekarang secara tidak langsung mengatainya tidak laku.

Yeoja itu berencana menolak permintaan lelaki itu, tapi ketika ia berbalik ingin menatap lelaki itu, satu ciuman cepat chanyeol dibibir taeyeon meleburkan segala penolakan taeyeon. Ciuman manis yang tidak terkontaminasi dengan hawa nafsu. Dan sekaligus ciuman pertama yang dirasakan taeyeon.

Chanyeol melepaskan bibirnya dari bibir milik taeyeon. Lelaki itu tersenyum tapi tidak dengan taeyeon yang masih tertegun dengan apa yang telah chanyeol lakukan.

“Tidak ada alasan untuk menolak. No matter what happen,right?” Ringkas chanyeol lalu mengedipkan sebelah matanya. Lelaki itu beranjak turun dari kasur itu

“Aku kekelas ya? sudah terlalu lama sepertinya untuk sekedar alasan ketoilet. Oh iya nanti kau ku jemputya? Temani aku mencari jas yang cocok. Kau tau sendiri kan aku selalu payah dalam masalah fashion. Bye yeon ” Tukas chanyeol meninggalkan taeyeon yang masih terbayang-bayang dengan ciuman refleks tadi.

***

Taeyeon terburu-buru memarkirnya mobilnya. 10 menit yang lalu, chanyeol menelponnya dan mengatakan bahwa ia sudah berada dirumahnya. Lebih cepat dari perkiraan yeoja itu. Taeyeon yang pada saat itu berada disalon bersama yuri memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Ia tak mau bukan membiarkan chanyeol berlama-lama menunggunya. Langkahnya pun ia percepat saat memasuki rumahnya, tapi suara decak tawa menghentikan langkahnya tepat dipintu yang terbuka separuh itu.

“Om benar – benar berterima kasih padamu karena telah merubah taeyeon sedikit demi sedikit. Om benar-benar tak menyesal telah mempercayaimu dalam melakukan ini”, Tuan kim menampakkan kebanggaannya pada chanyeol, anak sahabatnya yang menurutnya telah berhasil merubah sikap taeyeon.

Chanyeol yang mendenggar pujian lelaki yang sudah lama ia anggap paman sendiri itu menggelengkan kepalanya pelan, “Tak perlu berterima kasih paman, dari awal aku memang sudah berniat untuk membantumu. Paman telah membantu keluarga ku begitu banyak,jadi apa salahnya bukan bagiku untuk-”

“Jadi selama ini?”

Chanyeol menghentikan kalimatnya dan memalingkan wajahnya menatap taeyeon yang sekarang memilih untuk menampakan dirinya. Taeyeon melangkah mendekati kedua orang itu dengan tatapan kesal. Yeoja itu mendengar semua percakapan kedua lelaki itu. Percakapan tentang dirinya.

“Kalian sudah saling kenal?”

“Well,apa aku sedang dikelabui oleh kalian berdua?” dengan berkacak pinggang ia menginstrogasi kedua orang didepannya.

“Taeyeon, dengarkan daddy. Apa melakukan ini untuk mu dear. Agar kau bis-”

“Sudahlah daddy aku tak perlu penjelasanmu”

Chanyeol sempat terkejut melihat taeyeon yang lepas kendali,bahkan yeoja itu membentak daddynya sendiri.

“Taeyeon-”

“Shut up!” Tanpa memandang siapa chanyeol sekarang, taeyeon menunjukkan telunjuk kanannya pada chanyeol.

“Kau chanyeol, apa sudah puas mengerjai ku hah?apa kau sudah puas sudah membohongi ku?sudah puas menjadi seorang artis yang sangat pintar berakting ?” Sorotnya tajam.

Chanyeol ingin sekali mengatakan pada yeoja itu bahwa tidak ada kepura-puraan dengan segala perilakunya. Tapi melihat taeyeon seperti ini,ia tau taeyeon tak akan membiarkannya untuk berbicara apalagi membela diri.

Ia memilih diam.

“Aku tau, aku adalah anak yang manja, banyak tingkah,suka memerintah, dan kekanak-kanakan. Tapi aku juga manusia biasa yang tak suka dibohongi. Aku juga bisa marah!”

Dan bagi taeyeon, tak ada yang lebih menyakitkan baginya selain dibohongi. Dikhianati.

Chanyeol mati-matian mencoba diam dan menatap kearah lain. Melihat mata taeyeon yang berkaca-kaca hanya akan membuatnya merasa semakin bersalah.

“Kalian merencanakan semua ini kan? hukuman, dan segalanya? terima kasih untuk kejutannya..” Yeoja itu memainkan nada katanya dengan penuh ejekan.

Mata mereka bertemu.

“aku lelah. Aku tak mau ikut bersama mu ke prom night tak jelas itu.” Taeyeon memberikan keputusannya. Ia berlalu meninggalkan kedua orang itu dengan berlari. Terserah dengan semangatnya tadi siang saat memilih gaun, terserah bila lelaki itu sudah menunggunya dan berpakaian rapi serta terlihat tampan dengan jas yang beberapa hari lalau ia pilihkan, toh ia tau lelaki itu tak tulus saat memintanya menjadi pasangan prom night terakhirnya.

Ia benar-benar marah. Sangat kecewa. Ya kecewa. Pada daddynya dan terutama pada chanyeol. Ia kira semua ini adalah ketulusan dari lelaki itu. Ia kira.. lelaki itu juga mencintainya. Tapi ternyata lelaki itu melakukannya semata-mata hanya untuk berterima kasih pada daddynya.

BAM

Sangat nyaring taeyeon menghempas pintu kamarnya.

Tuan kim menghela nafasnya pasrah dan chanyeol hanya bisa mengusap kedua wajahnya bersalah.
***

Taeyeon melipat ujung rotinya yang telah ia oleskan nutela, selai kacang favoritnya. Minggu yang cerah dengan perasaan yang biasa saja. Ia duduk diruang tengah sambil memakan rotinya dan mengganti channel tv besar didepannya. Tak ada kerjaan.

Drrt-drrt-drrt

Hanpdhone bercase night blue yang ia taruh diatas meja kaca itu berbunyi, dengan segera ia pun membaca pesan itu.

From : Chanyeol
Morning!
Aku hanya ingin mengatakan kalau hari ini aku pergi ke london. Jaga dirimu diseoul ya

Taeyeon mengerutkan alisnya dan kembali menaruh handphonenya. Ia tak membalas pesan yang menurutnya sama sekali tidak penting itu. Pagi-pagi seperti ini mengirim pesan yang tidak jelas. Entah kau mau pergi ke london, amerika, china, kemana pun aku tak peduli.

“Annyeong!” Dari belakang, tuan kim datang dan mengacak rambut anaknya itu.

Taeyeon hanya mengendus kaget dengan kebiasaan daddynya itu lalu kembali menujukan matanya kearah tv.

“Tumben anak daddy bangun pagi dan wow kau membersihkan rumah taeyeon?” Seru tuan kim setelah ia menyadari seisi rumah telah rapi. Meja makan yang bersih, buku yang berada ditempatnya,dan hilangnya tumpukan piring kotor.

“Hmm” hanya sekedar gumaman yang taeyeon keluarkan meyakinkan tuan kim kalau anaknya masih marah padanya.

“Bahkan hampir satu minggu huh? kau tau daddy sudah hampir seperti orang gila yang mencoba berbicara pada mu si manusia batu.” Tuan kim duduk disamping taeyeon.

Taeyeon masih tak bergeming dan tetap menonton tv sambil menghabiskan rotinya.

“Ayolah, daddy kan sudah minta maaf padamu. Taeyeon! Daddy hanya ingin kau menjadi orang yang lebih baik saja. Daddy tak bermaksud untuk membohongimu. Daddy benar-benar tak tau harus berbuat apa lagi padamu.” Cecar tuan kim panjang lebar. Anak ini memang sangat keras, seperti ibunya.

“Mianhe” Taeyeon akhirnya mengeluarkan maafnya dan menatap tuan kim yang berada disampingnya.

“Mungkin kau benar, aku harus berubah bukan? maaf karena aku mendinginkan daddy beberapa hari ini. Aku hanya-”

Ia menghela nafas,

“Sebal saja.” Akhirnya.

Tuan kim menyunggingkan senyumnya lega mendengar anak itu melunak, ia memajukan kepalanya dan mencium puncak kepala taeyeon dengan penuh kasih sayang kepala anak semata wayangnya itu.

“Maaf kan daddy ne?daddy tak akan pernah mengulanginya lagi”

Mendengarkan janji sang daddy, taeyeon hanya menangguk-angguk mengerti serta menampakkan senyumnya. Sudah cukup taeyeon kau mendiamkan pahlawan mu satu ini.

“Oh ya, apa kau juga sudah bermaafan dengan chanyeol?”

Senyuman taeyeon berubah datar setelah ia mendengar nama lelaki itu. Bagaimana aku bisa memaafkan pendusta sepertinya?

“Apa kau belum mau memaafkannya?”

Taeyeon menggeleng, “tak akan” balasnya sembari meminum susunya.

“Aigoo, sebegitu marah kah kau padanya?”

Dan lagi yeoja itu hanya mengangkat kedua bahunya, “sudahlah appa aku malas untuk membahasnya”

“Taeyeon, jangan seperti ini. Chanyeol itu sudah baik mau membantumu untuk berubah, seharusnya kau berterimakasih padanya bukan malah marah seperti ini”

“Tapi daddy dia itu-” taeyeon menahan katanya ragu untuk mengatakan bahwa lelaki itu seperti menggantungkan harapannya. Berperilaku manis seakan-akan lelaki itu mencintainya bahkan membuat taeyeon jatuh hati. Dan..apakah ia harus malu karena ia merasa ia hanya dipermainkan?

“Dia kenapa?” Tanya tuan kim penasaran.

“Tidak apa-apa” balas taeyeon cepat. Sudahlah, biarkan semua ini menjadi sebuah ke-na-ngan. Ya move on taeyeon, ia hanya ingin mempermainkanmu. Jangan berharap ucapan manisnya, perilakunya itu untukmu, karena jelas-jelas ia hanya melakukannya untuk membantu daddymu.

“Taeyeon, apa kau menyukai chanyeol?”

“WHAT?” Yeoja itu seakan ingin menyemburkan susunya saat ia mendengar tebakan sang daddy.

“Ah I know you love him.”

“NO!NO WAY! Daddy apa-apaan sih? daddy harus tau ya kalau sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau mencintainya. titik!”

Tuan kim tertawa melihat ekspresi wajah taeyeon yang berubah drastis, anaknya sudah mulai dewasa sekarang.

“Daddy tau taeyeon, dan daddy pikir ia juga mencintaimu”

Taeyeon menampakkan senyum paksanya, “don’t tease me dad”

“I don’t tease you, I just want you to think more about your heart. Cobalah sekarang belajar menjadi seorang yeoja yang dewasa yeon. coba kau pikirkan ya, kalau ia tak suka padamu kenapa ia harus bersusah pdaddy meminta maaf padamu? daddy tau kau selalu mematikan hp mu saat ia menelpon, tak membalas smsnya, membuang bunga yang selalu ia kirimkan kan?”

“Daddy sok tau!” Tukas taeyeon membantah.

.
Tidak daddy tolong jangan terbangkan aku kalau pada akhirnya aku tau aku akan terjatuh. Seorang park chanyeol yang populer dan sangat rupawan itu menyukainya?tak mungkin.
.

“Eh jangan salah. Tua-tua begini daddy juga pernah muda. Dan kau harus ingat, daddy juga lelaki yang bisa tau gelagat seseorang namja yang sedang jatuh cinta. Saat chanyeol menceritakan mu, daddy bisa merasakan ia begitu sangat senang dan bersemangat.”

“kau harus tau taeyeon, chanyeol itu adalah anak yang baik. Ia anak dari sahabat ayah dikantor. Ia senang membantu orang, sangat santun, dan tak pernah sombong dengan segala kekayaan kedua orang tuanya.”

Taeyeon memutar kedua bola matanya, “terserahlah apa yang kau bilang dad” ucapnya tak mau tau.

“Kau tau chanyeol akan kuliah dilondon?” Sebuah pertanyaan yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan bagi yeoja itu sontak membuatnya terkejut bukan main.

.
London?bukan kah tadi dia mengirim pesan kalau ia akan pergi kelondon?
.

“Nde?jeongmal?”

Tuan kim mengangguk, “nde. Kemarin dia bilang akan pindah kelondon hari ini. Dan melihatmu tidak memaafkannya sampai hari ini.. daddy benar-benar tak mau bertanggung jawab bila kau menangis dan menyesal nanti saat ia mengganti nomer telponnya.”

“Daddy!Mana kunci mobil?”


Taeyeon melangkahkan kakinya cepat dibandara itu. Tak peduli jika ia hanya memakai jaket biru rumahan serta sendal jepit. Wajahnya juga tak dihiasi make up sama sekali. Ia hanya ingin mengejar lelaki itu, mengatakan bahwa ia mengucapkan maaf sedalam-dalamnya, ia tak rela perpisahan mereka terjadi dalam situasi seperti ini.

Ia menuju gate tempat keberangkatan. Matanya mencari-cari monitor jadwal keberangkatan pesawat saat itu.

Shit.lelaki itu sudah pergi!

Taeyeon memegang dahinya dengan tangan kanannya dan telapak tangan kirinya ia eratkan kepinggangnya.

“Aishh, kenapa kau pergi huh?kenapa tak datang kerumah huh?dasar chanyeol paboya!” Runtuknya sambil menatap kepergian pesawat yang menuju london itu dari kaca besar transparan disampingnya.

“Sorry?”

.
Suara familiar itu..
.

Taeyeon segera membalikkan badannya cepat dan terngangga menatap chanyeol yang sekarang berada dihadapannya, Plus dengan sebuah coffe starbuck ditangan kirinya.

“Taeyeon?” Tanya chanyeol tak percaya. Bagaimana bisa yeoja ini sampai kesini?

“Kau? chanyeol? bukannya pesawatmu..” Sekarang malah taeyeon tak percaya dengan kehadiran lelaki itu.

“Aku ikut penerbangan kedu-”

Taeyeon menghentikan jawaban lelaki itu dengan tindakannya yang tak diduga oleh chanyeol.

Taeyeon memeluknya erat. Bodoh amat dengan pandangan orang-orang. Dengan keterkejutan lelaki itu.

Chanyeol menunjukkan senyumnya saat benar-benar sadar dari ketidak-percayaannya.

“Kenapa kau itu suka sekali membingungkan ku hah? seenaknya datang kehidupku lalu membentak ku, mengejek ku, memerintahkan ku layaknya seorang pembantu! Lalu tiba-tiba bersikap manis pada ku, berbuat baik pada ku seolah-olah kau peduli!dan sekarang kau malah meninggalkan ku lagi? Mana sikap yang selalu kau bangga kan itu? Sikap bertanggung jawab mu? Mana sikap gentleman mu yang katanya tak mau menyakiti orang?” Omel taeyeon panjang lebar dalam pelukan chanyeol. Ia benar-benar mengeluarkan segala isi hatinya.

“Kau benar-benar jahat yeol. You fucking bad..worst person I’ve ever met!” Seru taeyeon masih dalam posisi memeluk lelaki yang sempat membeku itu.

“Hei-taeyeon-na..”Chanyeol melepaskan pelukan yeoja itu darinya walau ia sendirinya sebenarnya masih ingin merasakan pelukan yeoja itu lebih lama. Ia memegang bahu yeoja itu dikedua sisi.

“Maaf,maaf,maaf. Aku benar-benar tak tau harus berbuat apa agar kau memaafkan ku. Aku sudah habis pikir. Aku sudah mencoba segalanya yeon, mengirimkan mu pesan setiap saat, voice message, bunga, semua. Tapi kau malah tak mau mendengarkan ku” Chanyeol sempat menjeda perkataannya.

“Aku minta maaf atas semua hal yang pernah aku lakukan. Maaf aku berbohong padamu. Maaf kalau aku berkating tidak kenal dengan ayahmu, maaf aku harus berpura-pura meninggalkan mu dihalte bus. Sebenarnya aku tak berniat untuk menurunkanmu yeon, tapi ayahmu meminta ku agar satu kali itu saja, terakhir untuk memberimu sebuah pelajaran. Kau bisa saja mempertanyakan semua hukuman selama satu minggu itu. Tapi jangan pernah mempertanyakan tentang ketulusan ku padamu.”

Taeyeon mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Menatap lurus mata chanyeol. Mendengar penjelasan lelaki itu membuat hatinya bergetar. Ia diam, Menunggu bibir lelaki itu mengucapkan kata-katanya lagi.

“Maafkan aku ya?yeon..” Chanyeol mengeluarkan ucapan maafnya dengan sepenuh hati, dengan semua ketulusan hatinya ia memohon pada taeyeon. Meyakinkan yeoja itu kalau ia tak memiliki maksud apa-apa.

Taeyeon kembali menunduk. Ia merasa bersalah karena tuduhannya pada chanyeol. Niat lelaki itu baik padanya, lelaki itu tak salah.

Melihat yeoja itu diam menatap lantai putih itu membuat chanyeol mengangkat dagu taeyeon dengan tangan kanannya

“Kau menangis?” Panik lelaki itu melihat gadis dihadapannya sudah berlinang airmata.

Dengan cepat, taeyeon menghapus airmatanya. Taeyeon, jangan mempermalukan dirimu sendiri didepan lelaki ini.

“An-iyo. Gwenchana. Aku hanya kelilipan” cobanya untuk mengukir senyum.

.
Jawaban yang bodoh kim taeyeon
.

“Kau yakin?” Chanyeol mengerutkan dahinya rapat

“Bukan karena kau takut kehilangan ku kan?” Goda lelaki tanpa menghilangkan ekspresi paniknya.

Taeyeon sekarang melotot kearahnya.

“Jangan mulai sekarang. Aku benar-benar tak sanggup untuk bertengkar dengan mu” ucap taeyeon masih menghapus pipinya yang basah dan mengalihkan pandangnya.

Chanyeol berdecak senang melihat yeoja yang ada dihadapannya ini terlihat merona. Lelaki itu menggulum senyumnya.

“Jadi-sekarang kau sudah mau memaafkan ku?” Tanya chanyeol kembali kepertanyaan awalnya.

Taeyeon hanya menggangguk, “Aku juga minta maaf karena telah mendiamkanmu”

Chanyeol tersenyum lega. Akhirnya yeoja ini berhenti marah padanya.

“Jadi- kau benar-benar pindah hari ini ke London?kenapa mendadak sekali?” Seru taeyeon

“Mwo?” Chanyeol membelalakan matanya.

“Ya.ya- waeyo?” Heran taeyeon ketika melihat lelaki itu tiba-tiba tertawa. Apa yang salah dengan ucapannya?

“Aku memang akan kuliah dilondon. Tapi bukan sekarang. Aku hanya ingin mengurus dokumen ku saja”

Taeyeon sontak tersenyum kikuk saat mendengar jawab lelaki itu.

.
Sembunyikan aku sekarang juga tuhan. Hilangkan aku dari hadapan lelaki ini
.

“Oh ya?oh…daddy..” Yeoja itu mengangguk – anggukkan kepalanya mengerti dengan keadaan sekarang. Lelaki tua itu sudah berani menipunya, dan sekarang sangat tega mempermalukan anaknya ini dihadapan chanyeol.

Lelaki itu tertawa geli ketika melihat taeyeon memasang wajah kesalnya sambil menggelengkan kepalanya.

“Sepertinya aku harus berterima kasih pada paman kim”

Taeyeon menatap chanyeol binggung. Berterima kasih? Taeyeon malah berniat akan mengamuk dirumah nanti.

“Wae?kenapa harus berterima kasih padanya?”

“Karena kalau bukan dia. Aku yakin kau masih marah padaku” Ucapan chanyeol kembali membuat taeyeon berpikir.

.
Kau benar, tapi tetap saja ini memalukan. Ah apa aku terlihat bagaikan yeoja yang mengejar-ngejar lelaki?
.

“Andwe!” Taeyeon berteriak keras membayangkan betapa buruknya derajat dirinya sekarang dihadapan chanyeol.

“Ya, gwenchana?” Kejut chanyeol bukan main. Yeoja ini diam dan tiba-tiba berteriak seperti orang yang ingin diapa-apakan. Lelaki itu sempat melihat orang-orang disekelilingnya menatap mereka berdua binggung.

“Ah-ani. Chanyeol, kau tidak boleh ge-er ya? aku kesini bukan karena mu atau karena aku merindukanmu, aku kesini hanya untuk minta maaf. tidak lebih. Aku hanya tak ingin berdosa karena aku menaruh benci terlalu besar pada orang.”

Chanyeol menggerutkan alisnya menatap taeyeon yang seakan bicara terburu-buru.

“Aku harus pergi. Goodbye.” Taeyeon mengibaskan telapak tangan kanannya sekilas lalu berbalik dan meninggalkan lelaki itu tanpa sempat chanyeol memberikan balasan ataupun sekedar ucapan selamat tinggal

.
Taeyeon, kau terlihat lebih dari perempuan bodoh sekarang!
.

Yeoja terus mengutuki dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya cepat tanpa berani menoleh, sampai ketika tangan kirinya ditarik seseorang secara tiba-tiba.

Chanyeol menghentikan gerak kaki gadis itu. Dengan paksa lelaki itu memalingkan tubuh taeyeon dan mencium bibir manis itu dengan tiba-tiba. Tanpa diduga.

Chanyeol bagaikan memberi berjuta kembang api dihati taeyeon. Mata taeyeon membesar ketika lelaki bertubuh tinggi itu melumat bibirnya dengan matanya yang tertutup. Bibir lelaki itu seperti memintanya untuk memberikannya sebuah peluang dengan kedua tangannya memegang wajahnya erat. *well chanyeol taeyeon baru kelas 1 sma kelessss*

Entah apa yang ada dibenak taeyeon, ia malah membalas ciuman lelaki itu. Memberikan peluang untuk lelaki itu melumat bibir merah mudanya

.
Oh no!!!
.

Taeyeon buru-buru melepaskan ciuman itu dengan paksa. Ini dibandara! tempat umum! ah,ia sangat malu.

Chanyeol mengerti gelagat risih yeoja itu, “Tenang saja, bila mereka bertanya siapa kau, aku akan menjawab kalau kau gadis yang hanya ingin memberikan ciuman perpisahan pada pacarnya”

Taeyeon yang sedari tadi mengedarkan matanya menatap beberapa orang yang terlihat intens melihat mereka berdua terlihat kaget mendengar kalimat chanyeol yang mengandung kata pacar itu. Wajahnya semakin memerah.

.
Tidak,aku salah dengar.
.

Yeoja itu menatap chanyeol dengan tatapan -tolong-ulangi-sekali-lagi.

“mau jadi pacar ku tidak?” Pinta chanyeol dengan nada khasnya.

.
Oh god
.

“Pacar?”

“Bukan! Tapi pembokat! Aish bagaimana bisa aku menyukai perempuan oon sepertimu!” Desis chanyeol tiba-tiba sebal. Ia tak mengerti kenapa taeyeon selalu terserang penyakit lambat dan oon saat ia mencoba mengungkapkan perasaannya.

Satu pukulan keras mendarat tepat didada lelaki itu, “Jangan pernah bilang aku oon!karena kau lebih buruk daripada ku!”

“Bagaimana bisa kau menyukai dan mencintaiku tapi tak pernah sedikit pun bersikap baik padaku? Menyuruhku untuk membersihkan toilet, bermesraan dengan dara dihadapanku, menurunkan ku dari mobil tanpa perasaan sedikitpun? seharusnya kau yang oon karena seenaknya mengatakan cinta padaku!” Semua kekesalan taeyeon kembali ia lontarkan, walau ia tahu semua kebenarannya, tetap saja ia sebal dengan lelaki itu.

“aku kan sudah bilang kalau semua itu aKting taeyeon!AKU HANYA BERPURA-PURA!” Seru chanyeol penuh penekanan. Yeoja ini sampai kapan pun tetap saja memiliki hati yang keras.

“Ok!” Sekarang chanyeol menghela nafasnya mengerti.

“Kalau kau tetap bersikeras terus berlagak seperti orang bodoh yang tak mengenal cinta… Baiklah,anggap saja kau menolak ku kan?ok bhay!aku akan pergi saja!” Lelaki yang tadi bersikap sangat manis itu tiba-tiba berubah menjadi seorang chanyeol yang dingin dan menyebalkan dipandangan taeyeon.

Chanyeol pergi menjauhi yeoja itu dengan langkah santai. Meningalkan taeyeon yang geram.

.
Benar-benar lelaki itu. Bagaimana bisa ia dengan mudah menyerah? Bahkan ketika aku belum sempat membalas ucapannya?
.

“Yak!tunggu!” Taeyeon terkejut pada dirinya sendiri saat bibirnya meneriaki lelaki itu untuk berhenti dan kakinya berlari kearah lelaki itu.

Chanyeol sontak menghentikan langkahnya, senyum khasnya perlahan tercipta diwajah tampannya.

“Aku mau!” Apa yang terjadi padanya? taeyeon terkesan pada dirinya sendiri bahwa ia mengucapkan 2 kata itu.

Chanyeol belum membalikkan badannya. Ia masih ingin lebih dari sekedar kata mau itu. Kakinya pun kembali melangkah.

“Park chanyeol!kau tuli ya?aku mau menjadi pacarmu!ya!”

Taeyeon jaket lelaki itu erat dari belakang. Chanyeol sekarang benar-benar berhenti dari langkahnya. Ia menampakan senyum kemenangannya penuh.

“Ulangi!” Perintah chanyeol setelah membalikkan badannya.

“Nde?”

“Ulangi bodoh!”

Taeyeon menghela nafas

.
Sabarkan aku ya tuhan..
.

“Aku mau jadi pacarmu. Sudah kan?” Ucapnya dengan penuh penekanan disetiap kata.

“Kau mengucapkan seperti orang terpaksa saja!ulangi dengan benar!”

Taeyeon cemberut, “Sebenarnya apa sih yang kau inginkan?aku sudah mengulangnya,sudah sejelas mungkin. Memangnya kau tak bisa mendengar ucapan ku? kau tuli ya?”

“Aku tak akan berhenti menyuruhmu mengulang sebelum kau mengatakan bahwa kau juga mencintaiku”

Omelan taeyeon terhenti ketika kalimat chanyeol berhasil menyihirnya. Taeyeon menatap kedua mata itu tak percaya. Hatinya semakin bergetar menjadi-jadi. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ketika chanyeol ikut menatap manik matanya juga, gugup.

“Baiklah-”

Taeyeon menahan kalimatnya. Ia bisa melihat chanyeol seperti menunggu-nunggu sambungan kalimatnya.

“Aku mencintaimu. Makasih karena kau telah membuat ya.. Sikap ku ini berubah. Walau kau galak,dingin,sok tampan, bahkan cerewet,aku tau..kau sebenarnya orang yang baik. Dan maaf, selama ini aku tak begitu peka dengan sikap baik mu, dengan perasaan mu. Tapi kau harus tau, kalau dari awal aku.. sudah suka padamu”

Taeyeon mengucapkan kata-katanya dengan tulus dari dalam hati. Ia sadar, chanyeol lah pria yang selama ini ia cari-cari. Pria yang bisa merubahnya.

Kejujuran dari taeyeon sontak membuat chanyeol menyemburkan senyum bahagianya. Bergantian, sekarang lelaki itu yang mengagetkan taeyeon dengan memeluk tubuh mungil yeoja itu.

“Dan meski kau adalah gadis yang manja, kekanak-kanakan, ingusan, keras kepala. Tapi aku tau dari awal, kau adalah gadis yang sangat sangat sangat baik.”

Chanyeol mencium puncak surai gadis itu dalam.

“I love you yeon” ucapnya tulus

“I love you too-oppa” balas taeyeon yang semakin mengeratkan pelukannya pada chanyeol dan tersenyum bahagia.

.
FIN
.

Kan happy kan happy :’)

Komentar wajib nihhhhhh ya haha soalnya udah susah nih bikin happy ending padahal maunya sad tapi karena kalian ya udah happy ending :b komentar ya guys komentar meskii ffnya udah aku fix-in feelnya ngak dapet sama sekali. Ngak tau nih kayanya beberapa hri ini nulis ngak dapet klimaks banget 😦 oh iya chapter depan gimana kalo baekhyun?dan maunya nih bakal long story sampe ada sub-chapter. Gimana?saran dan komentar aku tunggu terimakasih 🙂
 

Advertisements

96 comments on “[FREELANCE] Meet You (3 of 12 season)

  1. Terbaiklah Thor👏👍
    Salah satu ff paling kusuka 😍
    Lama” posisi kai bisa tertukar dgn ketampanan chanyeol 😂
    Buatin fanfic cast Chanyeol – Taeyeon yaa author 😁😊 tp kalo sempat 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s