Under Moonlight ( Chapter 1)

under-moonlight

Title : Under Moonlight || Author : Quimbkee || Rate : PG-17 || Length : Series || Genre : Romance, Fantasy, Action|| Cast’s : Kim Taeyeon [GG],  Lu Han [EXO]|| Credit Poster : High School Graphics by IWS ||  Disclaimair : ini FF fantasy action perdana dari Quimbkee, ini juga request dari my saeng Henny yang udah isi form request FF, semoga dia suka sama hasil ff aku, saeng gomawo untuk requestnya, karna kamu eon bisa bikin FF genre baru J

PROLOG

===

26 Juni 2014

Taeyeon POV

Sudah hampir sepekan sejak aku menetap di Seoul. Hawa panas kota Seoul perlahan membuat kulitku terbiasa dengan suhunya yang terlampau panas di siang hari dan begitu dingin malam harinya. Namun, saat aku melihat tempat aku tinggal—rumah Madam Geun serta Yoo ahjussi, aku merasa damai dan senang. Rumah Madam Geun dan Yoon ahjussi tidak mewah, hanya saja letaknya sangat strategis. Di pinggiran sungai Han. Aku hanya perlu berjalan kurang dari sepuluh menit untuk bisa menikmati sungai Han serta suasananya.

Sungai Han di siang hari akan di penuhi oleh keluarga yang mungkin sedang menikmati liburan singkat mereka. Sang ayah yang sibuk mengajak anak-anaknya bermain dan sang ibu menyiapkan makanan pikniknya. Namun, pada malam harinya, suasana kekeluargaan di siang hari akan tergantikan dengan suasana yang damai dan romantis. Akan banyak remaja yang menghabiskan malam indah nan romantis di pinggir Sungai Han.

“Huft…” aku menghembuskan napasku secara perlahan.

Duduk termenung seorang diri hampir tiga puluh menit membuatku mati kebosanan. Madam Geun sedang kedatangan tamu sejak dua jam tadi, sementara Yoon Ahjussi masih sibuk dengan pekerjaannya di pusat kontruksi. Mungkin kalian berpikir, dimana orangtuaku? Mereka tetap tinggal di Praha. Hanya aku yang tinggal di Seoul.

Awalnya aku tak menuruti keinginan kedua orangtuaku untuk pindah ke Seoul dan tinggal bersama Madam Geun. Bukan berarti aku adalah gadis manja atau apapun itu. Hanya saja, aku butuh jawaban yang logis agar aku mau ke Seoul dan tinggal dengan Madam Geun.

Dan aku mendapatkan alasannya…

“Kau harus mendapatkan calon suami disana” begitulah alasan yang terlontar dari mulut Appaku. Terdengar aneh dan tidak rasional. Aku masih muda untuk mencari jodoh, lagipula aku sudah mendapatkan posisi yang bagus di perkantoran Swasta di Praha selama empat tahun. Otakku yang encer, membuatku menyelesaikan gelar masterku pada usia dua puluh tahun. Hal itu membuatku dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Dengan setengah hati aku pun menyetujuinya.

“Tae, apa kau begitu bosan?” suara wanita tua masuk ke indra pendengaranku. Jika aku dengar dari jenis suaranya ini sudah pasti Madam Geun.

Aku beranjak dari dudukku segera, berjalan mendekati Madam Geun yang berada didepan pintu samping rumahnya.

“Sangat bosan Mam, hingga aku lupa bagaimana caranya bernapas” guyonku.

Madam Geun tertawa ringan. Saat dia menarik kedua sudut bibirnya terlihat jelas kerutan-kerutan tanda penuaan di wajahnya.

“Apa tamu itu sudah pergi?” tanyaku sambil celingak-celinguk ke arah ruang tamu.

“Ya, mereka baru saja pergi sepuluh menit yang lalu”

Aku mengangguk mengerti. “Jadi, apa kasus kali ini? apa mereka menyuruhmu membuat jimat penangkal iblis liar?” lagi-lagi mulutku bertanya.

Madam geun melangkah masuk lalu duduk di kursi goyang kesayangannya, aku pun mengikuti arah Madam Geun dan memilih mendudukkan pinggulku di kursi kayu yang penuh dengan ukiran-ukiran.

“Tidak, Tae. Mereka hanya bercerita” jawab Madam Geun akhirnya

“Bercerita? Apa yang mereka ceritakan hingga memakan waktu hampir dua jam, Mam?”

“Ini bukan cerita biasa, Tae. Ini masalah serius”

Aku mengerutkan keningku, “Apa sekarang banyak perampok bersenjata?”

Madam Geun terlihat menggeleng, lalu kembali angkat suara “Bukan. Ini tentang siluman”

Aku hampir saja meledakkan tawaku, andai saja aku tak ingat saat ini aku tengah bersama Madam Geun, yang berprofesi—atau hanya bergelar sebagai cenayang. Ya, benar, Madam Geun adalah seorang cenayang yang cukup dikenal sekitarnya.

Aku tak pernah percaya dengan adanya hantu, iblis, bidadari dan juga siluman. Bagiku itu hanya imajinasi orang-orang dahulu kala untuk menakut-nakuti orang-orang yang akan berpergian dimalam hari, karena pada logikanya hewan buas berkeliaran dimalam hari.

“Siluman? Apa itu Gumiho?” aku bertanya. Mengetahui Gumiho bukan berarti aku percaya akan kehadirannya, hanya saja di Korea Gumiho terlalu terkenal hingga aku begitu hapal dengan kisahnya.

“Bukan, tapi ini siluman serigala. Werewolf” sambung Madam Geun segera.

Aku kembali menahan tawaku. Werewolf? Apa itu Jacob di Twilight? Atau itu mungkin saja Taylor Lautner? Ya Tuhan, memikirkannya saja sudah membuat perutku geli. Lucu sekali.

“Apa kau anggap ini lelucon?” aku tersentak kaget saat Madam Geun berkata sedikit membentak. Mungkin dia tahu saat ini aku tengah menahan tawaku yang bisa kapan saja meledak.

“Bagaimana mungkin ada werewolf didunia ini, Mam. Itu hanya terjadi jika kita berada dalam dunia Film atau buku cerita”

“Kau tak boleh berucap seperti itu! Dan jangan pernah berkata bahwa werewolf itu tidak ada!” suara Madam Geun terdengar penuh emosi.

Apa aku baru saja salah bicara? Ini bukan pertamakalinya aku mengatakan hal seperti itu. Sebelumnya aku pernah mengatakan bahwa ‘Perjalanan 49 hari’ itu hanya bohongan dan Gumiho itu hanya cerita palsu, namun reaksi Madam Geun tak semarah ini.

Aku hanya terdiam, tak bisa berkata-kata apalagi. Aku takut jika aku semakin bersuara, Madam Geun akan semakin marah.

“Kau boleh tidak percaya dengan Gumiho, Iblis atau apapun itu. Tapi, untuk werewolf kau harus mencoba untuk percaya dengan keberadaan bangsa mereka”

Aku semakin terdiam. Tersirat rasa marah dan kecewa dari nada suara Madam Geun.

“Mengapa aku harus percaya? Berikan aku sebuah alasan yang logis, maka aku akan percaya dengan keberadaan bangsa Werewolf” aku ingin sekali memaki mulutku yang terpancing. Terpancing rasa kesal dan penasaran.

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang bertebaran didalam pikiranku tentang bangsa Werewolf. Mengapa Madam Geun percaya? Mengapa Orangtuaku juga percaya dengan hal semacam itu—sementara mereka hidup dengan logika yang tinggi? Mengapa aku juga harus ikut percaya?

“Cepat atau lamabat kau akan mengetahui kebenarannya dan mau tak mau kau harus memercayainya” suara Madam Geun yang terkesan dingin menimbulkan perasaan takut dalam hatiku. Aku hanya bisa menatap langkah Madam Geun yang menjauh dengan tatapan penuh kebingungan.

===

Langkahku berhenti tepat disebuah kedai ramyeon dan beberapa makanan ringan yang rama dikunjungi pada sore hari di pinggiran sungai Han. Aku merasa bosan dan sedikit bersalah setelah perdebatanku dengan Madam Geun, hingga aku memutuskan untuk pergi mencari udara segar.

Mencium wangi ramyeon dan melihat betapa lahapnya para pengunjung kedai kecil ini menghabiskan setiap mangkok ramyeonya, membuatku tergiur. Sepertinya mengisi perut dengan ramyeon dapat membuat suasana hatiku lebih baik.

“YAK AHJUMMA! KAU INI LELET SEKALI! SEJAK TADI AKU MENUNGGU PESANANKU! APA KAU INI BERNIAT JUALAN ATAU TIDAK!” sebuah bentakan keras dari seorang pria berbadan kekar dengan pakaian yang memang cocok sekali dengan penampilannya yang arogan dan kasar, mengagetkan seluruh pengunjung.

Kulihat Ahjumma—pemilik kedai, itu menatap penuh ketakutan. Wajar saja dia takut, si pria itu berbadan besar sementara Ahjumma itu berbadan kurus dan berumur yang kukira menginjak kepala lima.

Aku tak mau ikut campur dengan urusan ini. tapi, aku tahu Ahjumma ini kedatangan banyak pengunjung, hanya saja dia seorang diri tanpa ada yang membantunya hingga pelanggan harus sedikit bersabar mendapatkan pesanan mereka.

“Maafkan aku, aku akan segera membawa pesananmu” jawab Ahjumma ituu dengan nada bergetar, mungkin dia semakin ketakutan saat ini.

Aku berpikir si pria berbadan besar tersebut akan duduk kembali dan menunggu dengan manis, tapi, mataku menangkap dia membuang mangkok-mangkok untuk ramyeon. Pengunjungpun semakin terdiam dengan kericuhan yang di buatnya.

Aku yang melihat pemandangan tersebut tak bisa diam. Kali ini aku harus bertindak. Jika dia dibiarkan, maka dia akan semakin menjadi.

Dan, dengan mengumpulkan seluruh keberanianku aku mendekat dan menatap tajam si pria pembuat ulah tersebut.

“Jika kau memang tak ingin menunggu, sebaiknya kau pergi saja jangan membuat ulah lagi!” aku berkata cukup menantang dan berusaha menunjukkan bahwa aku tak takut dengannya.

Ia tampak mendesis pelan “Apa urusanmu gadis kecil? Berlagak menjadi pahlawan? Kau bukan tandinganku, kau harus ingat itu”

“Cih, seharusnya aku yang berkata seperti itu. Kau bukan tandinganku tuan berbadan besar tapi berotak kecil”

Mendengar ucapanku ia semakin tersulut, “Kau benar-benar ingin menantangku? Kau melawanku, jadi kau harus merasakan ini!”

Aku melihat pria itu melayangkan tangan kanannya mengarah kewajahku. Aku refleks menutup mata, aku takut jika dia benar-benar ingin menamparku.

Tapi, entah kenapa, tamparan itu tidak terjadi saat sebuah suara seorang pria menghentikannya.

“Jika kau menyentuhnya sedikit saja, aku pastikan hidupmu dalam kekacauan” suara itu terkesan dingin dan over protective.

Dengan perlahan aku membuka sedikit demi sedikit mataku. Pria itu. Pria itu tak asing lagi bagiku. Dia pria aneh yang aku temui beberapa hari yang lalu. Pria yang melempariku dengan kaleng minuman itu.

“Apalagi ini? apa gadis ini kekasihmu? Aku tak takut denganmu anak muda” si pria berbadan kekar itu tertawa meremehkan.

“Cepat pergi dari sini, atau kau benar-benar dalam masalah yang serius” lagi-lagi pria itu angkat suara. Aku hanya menatapnya tak percaya. Meskipun badannya lebih kecil di bandingkan si pria arogan ini, tapi aku yakin ia memiliki kekuatan yang lebih kuat dari si arogan tersebut.

“Kau melawanku ternyata, rasakan i—“ ucapan pria itu terpotong saat tangannya yang hendak meninju pria ‘penolong’ itu tertahan lalu tersungkur saat badannya dibanting dengan mudah oleh pria ‘penolong’ itu.

“Kau akan pergi atau aku harus menghancurkan seluruh tubuhmu agar kau pergi dari sini?” aku menatapnya penuh kekaguman. Dia sangat pemberani dan jantan. Berbeda sekali saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Pria arogan itu meludah lalu pergi dengan tampang kesal dan penuh amarah. Aku melihat Ahjumma yang segera memungut pecahan mangku-mangkuknya. Aku pun turut membantu.

“Kau gadis yang pemberani” aku tersenyum mendengar tanggapan Ahjumma itu tentangku.

‘Tidak, yang pemberani itu pria i—“ aku menghentikan ucapanku saat aku tak melihat pria itu. Kemana dia? Mataku menelisik mencari keberadaannya. Aku melihatnya duduk disalah satu sudut kursi lalu menatap dengan datar ke arah luar. Dia hobi sekali pergi seenaknya, pikirku.

Saat telah selesai dengan pecahan kaca tersebut. Aku juga ikut membantu membawa pesanan-pesanan yang sudah mengantri lama karena insiden tadi.

Ahjumma pemilik kedai yang aku baru saja mengetahui namanya beberapa menit yang lalu memanggilku “Taeyeon-ssi, apa pria itu benar kekasihmu?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan Ahjumma Min, “Oh, tentu saja bukan. Aku baru sepekan tinggal di Seoul, manamungkin secepat itu mendapatkan kekasih”

Ahjumma Min tampak mengangguk, tapi kemudian kembali berucap “Tapi, sepertinya pria itu tertarik padamu”

“Mengapa Ahjumma bisa berpikiran begitu? Dia seperti tadi karena ingin menolong kita, kan?”

“Dia setiap hari akan berada disini, dan kejadian seperti tadi bukan pertama kalinya disini. Setiap ada kejadian yang seperti tadi, dia tak pernah bertindak, dia tak pernah peduli tapi, saat kau ada, dia dengan gagahnya melawan si kurang ajar tadi” jelas Ahjumma Min.

Aku berpikir sejenak. Apakah dia melawan si arogan itu untukku? Jika dia adalah seseorang yang dingin seperti yang diceritakn oleh Ahjumma Min, maka terlintas sebuah pertanyaan baru di kepalaku.

‘Mengapa dia sangat ingin menolongku?’

===

Lu Han POV

“Ini ramyeonmu” aku menoleh ke asal suara saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

Aku melihat gadis itu. Ia mengambil posisi duduk didepanku lalu menatapku dengan penuh selidik. Aku mengamatinya. Matanya indah, kulitnya bersih dan bibirnya….aku tak bisa menahannya.

Aku hanya diam, lalu menatap ramyeon yang tadi dia hidangkan tanpa berniat sedikitpun untuk mencicipinya.

“Kau sering kesini, tapi kau tak pernah memesan ramyeon. Jadi, apa yang kau lakukan disini jika bukan untuk membeli ramyeon?” lagi-lagi gadis itu bersuara. Mendengar suaranya semakin membuatku merasa gejolak yang aneh.

“Dari mana kau tahu?” akhirnya aku pun buka suara.

“Dari Ahjumma Min, yang memiliki kedai ini.Oh, namaku Taeyeon dan terimaksih atas bantuanmu tadi”

Taeyeon? namanya Taeyeon? nama yang cocok untuk gadis cantik sepertinya.

“Aku Lu Han. Untuk yang tadi, sudah seharusnya aku melakukan hal itu” jawabku berbohong. Ini pertama kali aku terlibat dengan urusan manusia dan itu hanya untukmu Taeyeon.

“Kau berbohong. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya” Taeyeon menyahut cepat ucapanku. Aku heran mengapa dia begitu antusias?

Aku tak bisa menjawab. Sepertinya Ahjumma si pemilik kedai ini membongkar semua kehidupan tentangku.

“Jadi…mengapa kau tadi mau menolong kami?”

Aku menatap Taeyeon sekilas. Benar-benar hanya sekilas, karena jika aku menatap matanya terlalu lama, jantungku semakin berdebar tak karuan. Mungkin ini karena dia memiliki batu hitamku.

“Karena aku melemparmu dengan kaleng minuman malam itu” jawabku singkat

Kulihat Taeyeon mengangguk mengerti. Bibirnya yang mengerucut membuatku benar-benar tak bisa menahan gejolak yang entah sejak kapan mulai terasa semakin kuat sejak aku bertemu dengannya. Gejolak yang sangat sulit untuk dijelaskan, yang membuatku bingung sendiri.

“Apa kau orang baru disini, Han?”

Aku merasakan desiran lain saat ia menyebut namaku dengan sebutan ‘Han’. Tak biasanya aku dipanggil dengan nama seperti itu. Orang-orang akan memanggilku dengan Lu Han.

“Han, kau melamun?” tanya Taeyeon lagi.

Aku menatapnya dan sedikit tersenyum, “Sudah hampir dua puluh lima tahun aku berada disini. Dan itu hanya untuk menunggu seorang gadis”

Dia tampak menganga mendengar penjelasanku. Kurasa, semakin banyak pertanyaan yang akan ia lontarkan untukku dan itu adalah pertanda buruk, jika ia berucap lagi, maka aku tak yakin akan bisa menahan gejolak setiap mendengar suaranya.

“Ternyata kau—“ saat Taeyeon belum selesai dengan ucapannya aku tiba-tiba menyela, “Jangan bersuara lagi, kumohon”

Keningnya berkerut menandakan ia bingung dengan permintaanku, aku meneliti pergerakan mulutnya. Dan berdoa dalam hati agar ia tak bersuara lagi. aku benar-benar tak bisa lagi menahannya.

“Memangnya kenap—“

Tanpa sadar tubuhku mencondong ke arah Taeyeon. secara cepat aku mencium bibirnya dengan memberikan sedikit lumatan kecil. Aku tahu saat ini ia terkejut dengan mata membelalak. Ini sepenuhnya bukan salahku, dia yang selalu bersuara membuatku tak bisa untuk menahan gejolak mencium bibirnya.

Taeyeon tak memberontak, karena sepertinya dia benar-benar terkejut dengan tindakanku. Melihat reaksinya yang diam saja, aku pun menggigit pelan bibir atasnya dan membuatnya sedikit mendesah. Semakin dia mendesah, semakin tak bisa aku menahannya. Namun, saat aku perlahan ingin memasukkan lidahku, dia mendorong kuat dadaku. Hingga bibir kami yang bertaut pun terlepas dengan sedikit kasar.

Aku menatap Taeyeon penuh penyesalan. Mata gadis itu terlihat memancarkan sinar amarahnya. Aku tahu dia pasti sangat kesal. Apalagi aku melakukannya didepan umum. Memalukan!

Dia beranjak dari kursinya dan melempariku dengan tatapan tajam, “Apa yang kau lakukan, Han? Apa kau pikir aku ini kekasihmu? Aku ini gadismu? Aku ini milikmu?” tanyanya menggebu-gebu dengan suara marah yang tertahan.

Aku terdiam menatapnya dengan tatapan datar. Aku benar-benar tak tahu harus berkata seperti apa. Jika aku mengatakan bahwa dia memang sudah menjadi milikki sejak dua puluh lima tahun yang lalu, aku sangat yakin ia akan mengejek dan tak akan percaya.

“Apa kau pikir aku ini gadis murah—“

“Kau memang gadisku, kau milikku” aku segera memotongnya. Cepat atau lambat ia juga akan tahu dengan kenyataan ini. memberitahunya lebih awal sepertinya bukan hal yang buruk.

“Apa? Kau manusia aneh, Lu Han”

“Aku tak peduli dengan pendapatmu. Cepat atau lambat kau juga akan mengetahuinya, kenyataan bahwa kau memang milikku. Dan, mulai sekarang aku akan berada didekatmu. Jika kau menghindar, aku akan semakin membuatmu terikat denganku. Karena kita memang sudah ditakdirkan sejak dua puluh lima tahun yang lalu”

Taeyeon POV

Aku tak mengerti dengan ucapan Lu Han yang entah kenapa sangat tak masuk akal. Menciumku sembarangan di tempat umum, mengatakan aku adalah miliknya dan sudah ditakdirkan bersam sejak dua puluh lima tahun yang lalu adalah hal yang paling gila yang pernah aku dengar. Lebih gila daripada semua legenda-legenda yang diceritakan oleh Madam Geun.

“Sepertinya kau benar-benar tak waras tuan Han. Bersamamu hanya akan membuang-buang waktuku”

Aku pergi meninggalkannya yang menatapku dalam. Aku tak peduli apa yang akan ia lakukan. Aku tak peduli dengan kebaikannya yang telah menolongku dari amukan si arogan itu. Bagiku, Lu Han lebih brengsek dari pria arogan itu.

Aku melangkah dengan sedikit berlari. Tangan kananku tanpa sadar menyentuh bibirku. Ini bukan pertama kali untukku berciuman, tapi ini pengalaman pertamaku di cium oleh pria asing di tempat umum. Dan satu hal yang membuatku sedikit terlarut dengan ciuman tadi adalah bibir Lu Han sangat hangat. Sangat hangat hingga aku hampir lupa dan akan membalas ciumannya. Mengapa dia bisa memiliki bibir sehangat itu?

Aku memukul kepalaku pelan. Kenapa aku memikirkan hal yang iya-iya dengan pria bernama Lu Han itu?

Aku yang memang terburu-buru, tak sadar bahwa akan ada mobil yang melintas didepanku. Aku terkejut saat seseorang menggendongku dengan cepat. Begitu cepat, seperti angin. Aku hanya bisa menutup mataku.

“Kau harus lebih berhati-hati. Apa kau senang membuatku khawatir?”

Suara itu. Aku terkejut mendengar suara itu. Dengan perlahan aku membuka mataku. Dan, benar dia Lu Han.

Aku segera turun dari pangkuannya. Dan segera juga menjauh.

“Kapan kau berada disini? Bukankah kau tak mengikutiku?” tanyaku bertubi-tubi. Aku heran, aku yakin dia tidak mengikutiku saat keluar dari kedai ramyeon itu. Tapi, mengapa dia bisa berada disini dengan cepat?

“Kau tak perlu tahu, tapi yang pasti kau harus berhati-hati. Jika tidak, aku tak akan membiarkanmu hilang dari pandanganku” ucapnya yang terdengar menjijikkan di telinga. Memangnya dia siapa? Hanya orang asing yang aneh.

Saat aku akan bersuara kembali, pria aneh itu segera memotong “Jangan bersuara lagi. apa kau ingin kejadian seperti di kedai ramyeon itu terjadi lagi?”

Aku hanya melongo mendengarnya. Dasar pria brengsek dan sialan. Apa jika aku bersuara dia berniat menciumku lagi? di depan umum lagi? jika itu terjadi, aku akan mematahkan lehernya. Aku jamin.

Baru saja aku akan membuka mulut, Lu Han mendekatkan wajahnya ke arahku. Napasnya menderu di wajahku jarak ini terlalu dekat, “Sudah kubilang, jangan bersuara. Aku benar-benar tak bisa menahannya”

Aku meneguk ludah takut. Dia sangat berbahaya. Dan tak main-main dengan ucapannya.

Setelah menjauhkan wajahnya. Lu Han pergi seenaknya meninggalkanku yang masih terpaku kaget dengan tindakannya. Aku menatap punggunya dengan banyak pertanyaan. Sebenarnya dia siapa?

Siapa sebenarnya dirimu, Lu Han?

TBC

Paart 1 kelar kelar, ada yang senang? Sukakah? Baguskah? Suwer, aku senang banget dapat respon yang benar-benar bagus, aku semangat banget BANGET lanjutinnya, ide ngalir gitu aja, dan jari-jari pun lihai ngetiknya *walaupun typo masih eksis* henny saeng gimana? Kamu suka gk? Semoga kamu gk kecewa ya saeng.

Mungkin banyak yg nanya, kenapa Luhan? Karena ini request saengku, judul, cast, dan ide cerita dari dia *hebatkan?* aku Cuma melebarkan ceritanya. Dan satu lagi, rencananya aku akan memberi password *yang udah disetujui sama saengku* jika masih banyak siders. Untuk part ini aku minta 50 komenan untuk lanjut ke part 2 nya, jika gk nyampai terpaksa aku protek dan aku akan membagikan passwordnya pada readers yang baik. Jadi, ayoooo komen~

Kecup basah dari bias masing-masing

GOMAWO dan MOHON MAAF LAHIR BATIN

Advertisements

121 comments on “Under Moonlight ( Chapter 1)

  1. ANYEONG~ i’m new rider, ^^ *bow
    Thor… SUMVEH INI KEREN BGT >///<
    next chap-ny jangan lama2 Yo… 😉
    kalo bisa jgn d protec ya ya ya /kedip2+towel2 dagu author/rider kurang ajar wkwk :v) *w*

  2. KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKYAAAAAAAAAAAAAAAA AUTHOOOOOR AKHIRNYAAAAA DAEBAAAAK UAAAAAAAAA SERIUS AKU TEREAK TEREAK BACANYAAA KEREN;——; SUKAAA! /lebay fighting !!!!!!

  3. Hai aku komen langsung d part ini ya? soalnya ga bisa post comment d part 2:(
    Aku ngebet bacanya:v
    Shitbangetlah ceritanya kampret bikin degdegan haha
    Takut ntar cenayang dan ortu teyon misahin luhan dari teyon:(((
    chap selanjutnya d tunggu yaaaa;33

  4. Suka sama pairingnya dan suka sama bahasanya. Keren! wkwk~ bacanya udah lama, tapi baru bisa ninggalin jejak sekarang, hehe 😀

  5. kyaa~ *jeritjeritimut luhan agresif bgt di sini :v bukan ciuman pertama? terus ciuman pertama taeyeon sm siapa? o.O oke lanjut~

  6. wahh…. wahh…. Taeng eonni sudah menjadi milik Luge sejak 25th yg lalu??? DAEBAK!!!! Luge agresif banget tapi suka sih sama sifat dia di FF ini. Daebak pokoknya sama FF ini. FIGHTAENG!!!!

  7. Luhan itu sapa?? Terus kenapa Taeyeon di suruh omma ama oppa nya pindah? Bikin kepo.. Bagus kok. Next thor 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s