[Oneshoot] Because Of Music

[Oneshoot] Because Of Music

Because of Music - ChenTae

Title : Because Of Music

Author : Oh Eun Hye

Rated : T (PG-15)

Genre : romance, sad (maybe)

Length : Oneshoot

Main cats : SNSD Taeyeon, EXO Jongdae

Support cats : you will find other cats in the story

Disclaimer : all the main cats in this story don’t belong to the author. The author is only entitled to the story belongs to the author who in import directly from my brain.

Author note’s : typo (s) scatted. For those who don’t like the cats here in, please don’t vilify or bash the cats! Author never allow to anyone plagiarism for this Fanfiction. And remember to give a comment. Don’t be a silent readers.

 

Jongdae keluar dari mobil yang mengantarnya ke sekolahnya yang baru. Sejenak Jongdae memandang bangunan nan megah di depannya. Sekolah khusus seni. Jongdae merasa ia begitu beruntung bisa bersekolah di tempat elit ini.

Setelah lonceng berbunyi, ia segera menuju ruang guru. Bertanya di mana ia akan di tempatkan. Jongdae tahu, ia akan berada di kelas music. Ayahnya sudah memberitahu hal itu. Tapi, tetap saja. Ia murid baru dan pasti akan kesulitan menemukannya.

Guru Lee menyuruhnya mengikutinya. Jongdae hanya menurut saja. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah kelas dengan sebuah papan yang tergantung di atasnya. Tulisan Hangeul yang dapat Jongdae baca, “Music Class”. Guru Lee mempersilahkan Jongdae masuk dan memperkenalkan diri.

Saat itulah, Jongdae melihat seorang yeoja dengan mata hazel bulat miliknya yang begitu indah. Mampu membuat Jongdae terpaku sejenak sambil memadang ke arah mata itu. Sedangkan yeoja yang ia tatap juga memandang pada Jongdae dengan raut datarnya. Jongdae dapat melihat tag name yang ada di sebelah kiri yeoja itu.

 

‘Kim Taeyeon’.

 

 

Baiklah, sekarang Jongdae sudah berada di depan sebuah piano. Tugas pertama di hari pertama dirinya sekolah. Guru Lee menyuruhnya memainkan sebuah lagu dengan menggunakan piano itu. Menghela nafas, Jongdae segera memulai tugasnya

Sebuah applause menggema di kelas Music itu. Jongdae begitu bangga karena berhasil melakukan tugas itu dengan baik. Bahkan beberapa murid juga melayangkan pujian padanya. Kagum dengan permainan Jongdae yang begitu memukau. Belum lagi suara emasnya yang begitu indah.

Jongdae tersenyum manis. Tapi, satu orang yang tak begitu memperdulikan keberadaan Jongdae. Dia. Yeoja yang sama. Kim Taeyeon. Masih kukuh di posisi awal dan ekpresinya tak begitu banyak berubah. Begitu datar.

Jongdae berjalan menuju tempat duduknya. Memandangi Taeyeon yang masih tetap diam. Jongdae sedikit penasaran dengan apa yang terjadi pada yeoja itu. Dia begitu pendiam.

 

 

Hujan tak selamanya akan mendatangkan berkah. Seperti hari ini. Dengan terpaksa Jongdae harus bertahan dahulu di kelasnya gara-gara hujan yang datang tiba-tiba. Jongdae sedikit menggerutu. Ayolah, dia lupa membawa jaket tebal dan jas hujan. Bisa kau bayangkan bagaimana keadaan Jongdae sekarang?

Merasa seperti orang bodoh yang hanya berdiam di dalam kelas, Jongdae akhirnya memutuskan keluar. Berjalan-jalan di sekitar sekolah ini sepertinya bukan hal buruk. Toh, untuk membunuh waktu dan juga Jongdae ingin mengetahui seluk-beluk sekolah barunya itu.

Tanpa terasa, kaki Jongdae membawanya menuju sebuah ruangan. Dari dalam terdengar sebuah petikkan gitar yang begitu indah. Jongdae bagai terhipnotis terus mendengarkan lagu yang sedang di mainkan oleh entah siapapun itu. Belum lagi akan keindahan suara orang yang tengah memetik gitar itu.

Denga hati-hati, Jongdae membuka pintu ruangan itu. Begitu terkejut saat mendapati Kim Taeyeon yang sedang memetik gitar sambil bernyanyi. Jongdae tak dapat menduga, seorang Kim Taeyeon yang pendiam ternyata mempunyai suara seindah ini.

Jongdae gelagapan saat petikkan gitar itu berhenti. Begitu juga dengan Taeyeon yang berhenti bernyanyi. Dengan cepat Jongdae bersembunyi agar tak ketahuan oleh Taeyeon kalau Jongdae sedang mengintip Taeyeon.

Taeyeon sendiri merasa aneh. Ia merasa seperti sedang di perhatikan. Itu sebabnya ia menghentikan lagunya. Taeyeon melirik ke arah jendela. Menemukan kalau hujan sudah reda. Taeyeon menghela nafas lega. Akhirnya ia bisa pulang dan istirahat juga.

Jongdae semakin menyembunyikan dirinya saat Taeyeon keluar ruangan. Setelah merasa aman, Jongdae segera keluar. Dengan hati-hati ia kabur dari sana.

 

 

Jongdae datang ke sekolah dengan kantung mata yang hitam. Ini akibat Jongdae begadang hampir semalaman. Sebenarnya Jongdae bukannya begadang. Tapi, ia hanya tak bisa tidur. Bagaimana Jongdae bisa tidur? Saat ia menutup mata, bayangan Taeyeon yang sedang memetik gitar dan bernyanyi malah menari-nari di otaknya.

Dengan langkah gontai, Jongdae segera menuju kelas music. Beberapa murid yang sekelas dengannya juga sudah datang. Jongdae segera menghempaskan pantatnya di kursi dan menenggalamkan kepalanya di lipatan tangannya. Berharap ia akan segera terbang ke alam mimpi.

 

PUK!

 

Sebuah tepukkan ringan melayang di pundaknya. Jongdae hampir menyumpahi orang yang sungguh tak tahu diri ini karena sudah mengganggu Jongdae. Sebelum akhirnya seraut wajah bulat dan juga wajah cantik memandangnya sambil tersenyum. Oh bukan, hanya si wajah bulat saja yang tersenyum manis padanya.

 

“Hey, kau Kim Jongdae, bukan?” tanya si wajah bulat. Jongdae hanya mengangguk.

“Kenalkan, aku Kim Minseok.” Ucap si wajah bulat yang ternyata bernama Kim Minseok itu. Mengulurkan tangan untuk mengajak Jongdae bersalaman. “Dan ini teman ku, namanya Xi Luhan. Lu, mana sopan santun mu? Ayo berjabat tangan!” si wajah bulat ini mendesak sang wajah cantik untuk berjabat tangan dengan Jongdae. Jongdae hanya bisa tertawa.

“Xi Luhan.” Ucap si wajah cantik dengan tidak minat. Minseok segera memukul pelan lengan Luhan.

“Yang sopan sedikit, Lu. Mian Jongdae, teman ku ini memang sedikit gila. Tapi, percayalah, ia sebenarnya ramah dengan wajah salah pahat. Haha.” Canda Minseok. Jongdae ikut tertawa dan Luhan segera memasang wajah cemberut.

“Haha, lucu, Kim Minseok.” Ucap Luhan sarkatis.

“Oh ayolah, Lu. Kau ini tidak asyik. Ohya, Jongdae-ah. Mau ke kantin bersama. Ku dengar bibi kantin akan memberikan semangkuk kari ramyeon gratis pada semua murid hari ini karena beliau berulang tahun.” Tawar Minseok.

Jongdae menggeleng. “Ani. Terima kasih Minseok-ah. Mungkin lain kali.” Tolak Jongdae.

Minseok mengangguk faham. “Begitu ya. Oh ya sudah. Ayo Lu!” setelah berpamitan, Minseok dan Luhan segera pergi dari hadapan Jongdae.

 

Jongdae hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakukan kedua anak itu. Tapi, Jongdae sedikit bersyukur. Akhirnya ia punya teman. Walaupun Minseok itu sepertinya kelewat hyperactive dan Luhan sepertinya pendiam, Jongdae tak akan mempersalahkan hal itu.

Saat Jongdae ingin kembali memejamkan matanya yang kelewat ngantuk, seketika itu pula rasa kantuk Jongdae seperti hilang. Saat matanya menangkap siluet mungil berambut coklat cerah yang masuk ke dalam kelas music itu. Jongdae tak begitu faham dengan apa yang terjadi. Entah kenapa, setiap bertatapan dengan Taeyeon, Jongdae selalu terpaku akan iris hazel indah milik Taeyeon.

Jongdae terus memperhatikan pergerakkan Taeyeon. Taeyeon sendiri terus saja diam dengan wajah datarnya. Jongdae tak dapat membayangkan, seandainya Taeyeon itu terus tersenyum, maka wajah manisnya akan semakin manis dengan sebuah senyuman. Sayangnya, Taeyeon sepertinya lebih memilih wajah sedatar tembok daripada segaris senyum.

Sepertinya Taeyeon mempunyai perasaan yang kuat. Karena merasa sedang di tatapi, Taeyeon segera melayangkan pandangannya dan segera bertemu dengan iris hitam pekat milik Jongdae. Keduanya seperti terpaku akan keindahan iris masing-masing. Jongdae sendiri begitu tidak ingin berkedip saat menatap iris hazel milik Taeyeon.

Jongdae hampir tidak dapat bernafas saat Taeyeon yang datar itu memberikan ia sebuah senyuman.

 

Seseorang, tolong pukul kepala Jongdae sekarang! Untuk menyakinkan, kalau Jongdae sedang tak bermimpi. Seorang Kim Taeyeon yang berwajah sedater papan telenan itu tersenyum manis pada Jongdae. Ah! Jongdae akan pingsan sekarang juga!

 

 

Jongdae menguap sesaat setelah Jung songsaenim keluar kelas. Pelajaran membosankan yang berlalu selama 2 jam sukses membuat kantuk Jongdae begitu sangat terasa. Apalagi tadi malam ia tidak bisa tidur.

Baru saja Jongdae akan terlelap, Han songsaenim sudah memasuki kelas music itu. Kalau Jongdae sudah tak memiliki rasa hormat, ia sudah akan menyumpahi guru berbadan berisi itu sekarang juga.

 

“Anak-anak, hari ini songsaenim ingin kalian membentuk kelompok dua orang untuk pasangan duet untuk tugas minggu depan. Kalian boleh menampilkan apapun. Boleh bernyanyi atau bermain alat music. Dan songsaenim memberikan kebebasan pada kalian untuk menentukan patner kalian dalam tugas ini. Silahkan memilih. Waktu kalian 5 menit saja.”

 

Dan setelah Han songsaenim selesai berkata, seketika kelas itu gaduh dengan para murid yang sibuk memilih pasangan. Beberapa murid terlihat sudah menemukan pasangan yang cocok dan segera berdiskusi. Beberapa di antaranya masih bingung. termasuk Jongdae. Ini bahkan hari keduanya berada di sekolah ini.

Mata hitam pekat milik Jongdae berkeliling kelas untuk menemukan patnernya. Sebagian besar teman sekelasnya sudah mendapatkan patner mereka. jongdae menghela nafas. Sebelum akhirnya ia melihat Taeyeon yang terduduk di bangkunya sendirian. Tak terlihat Taeyeon yang berusaha mencari patner. Jongdae heran.

Kaki Jongdae seakan bergerak sendiri menghampiri Taeyeon yang masih memasang wajah tanpa ekspresi miliknya.

 

“Hey.”

 

Panggilan pelan dari Jongdae sanggup membuat Taeyeon terkejut. Taeyeon segera menoleh dengan cepat dan menemukan Jongdae yang sedang tersenyum tampan di sana. Wajah Taeyeon seketika memerah walaupun ekpresinya masih sama. Datar.

 

“Kau mau jadi patner ku? Ku lihat hanya kau saja yang belum mempunyai patner.” Tawar Jongdae. Taeyeon kembali terkejut sebelum akhirnya ia menangguk kaku.

Jongdae kembali tersenyum tampan. “Baiklah, karena aku bisa memainkan piano dan sepertinya kau bisa memainkan gitar karena kau selalu membawanya, bagaimana kalau kita memadukan kepandaian kita. Di tambah dengan bernyanyi. Ku pikir itu bagus. Bagaimana menurut mu?” usul Jongdae.

“Terserah padamu saja.”

 

Itu adalah kalimat pertama yang di ucapkan Taeyeon pada Jongdae. Bahkan menurut Jongdae suara Taeyeon terdengar imut dan sama indahnya ketika ia bernyanyi. Jongdae merasa ini adalah suara terindah yang pernah ia dengar. Baiklah, apa Jongdae terlalu berlebihan?

 

 

Waktu satu minggu berlalu dengan cepat. Jongdae dan Taeyeon sekarang lumayan dekat karena mereka selalu berlatih bersama untuk penampilan mereka. Bahkan Jongdae sudah terbiasa untuk menggoda Taeyeon. Menyebabkan rona merah menjalar di pipi yeoja bertubuh mungil itu.

Dan selama seminggu itu pula, Jongdae merasa beruntung sudah berkali-kali mendengar suara Taeyeon. Baik itu ketika ia sedang berbicara ataupun sedang bernyanyi. Taeyeon selalu berkata dengan lemah lembut bahkan ketika Jongdae melakukan kesalahan dalam latihan mereka. Membenarkan letak kesalahan Jongdae dengan lemah lembut juga.

Hari ini, Jongdae dan Taeyeon akan menunjukkan hasil latihan keras mereka selama 1 minggu penuh. Jongdae sudah siap dengan piano di depannya dan Taeyeon juga sudah siap akan memainkan gitar yang tengah ia peluk ini.

 

 

[Taeyeon]

Sesang eoneugose geundae sumdeorado~

Naneun geudal chajanael suga isseoyo~

Geudaega eopdamyeon~

Geudaega eopdamyeon~

Nae simjangeun ttwiji anheunikka~

Eum~ eum~

 

Sarangira guji malhaji anhado~

Maeumeuro naneun alsuga itjyo~

Geudaeman itdamnyeon~

Geudaeman itdamyeon~

Amugeotda nan pillyo eomneunde~

 

You’re my everything to me~

You’re my everything to me~

Haneurui byeolchaeoreom hwanhage bichwojuri~

Geundaenaeun namanui sarang~

Yeongwonhan namanui sarang~

Uri saranghaeyo~

Geudae hanamyeon nan, chungbunhaeyo~

 

[Jongdae]

 

Geu mueotgwa bigyohalsu isseulkkayo~

Geu mueotgwa bakkulsuga innayo~

Geundaeui sarangeur~

Geudaeui maeumeur~

Geu nuga daesin halsu innayo~

 

You’re my everything to me~

You’re my everything to me~

Haneurui byeolchaeoreom hwanhage bichwojuri~

Geundaenaeun namanui sarang~

Yeongwonhan namanui sarang~

Uri saranghaeyo~

Geudae hanamyeon nan, chungbunhaeyo~

 

Ibyeolhaneun il eobseulkkeoeyo~

Geudaeega sangcheojuneuni~

Nunmul heullige haril na eopdorog~

 

[Taeyeon]

 

You’re my everything to me~

You’re my everything to me~

 

[Jongdae]

 

Uri byeonchimayo~

Sewori heureudaedo~

Geundaenaeun namanui sarang~

Yeongwonhan namanui sarang~

 

[Taeyeon ^ Jongdae]

 

Uri saranghaeyo~

Seulpeum eomneun sesangeseo…

Uri…~

 

 

(Taeyeon SNSD ft The One – Like A Star)

 

Suara tepuk tangan segera menggema di seluruh ruangan kelas music setelah Jongdae dan Taeyeon menyelesaikan lagu mereka dengan perpaduan suara mereka yang luar biasa. Jongdae memandang Taeyeon yang juga tengah menatap padanya. Lantas keduanya tersenyum.

Guru Lee memberikan tepuk tangan pada kedua muridnya yang sungguh berbakat ini. Di samping keahlian mereka dalam memainkan alat music, suara keduanya juga begitu indah. Berbagai decak kagum melayang pada Taeyeon dan Jongdae. Bahkan beberapa di antara mereka begitu tak percaya akan suara dari yeoja pendiam macam Taeyeon yang begitu memukau.

 

 

Jongdae untuk pertama kalinya berhasil di ajak Minseok ―sebetulnya Minseok yang menyeret Jongdae― untuk di ajak ke kantin. Jongdae hanya dapat bergeleng-geleng kepala. Tubuh mungil dari Minseok hanya tipuan belaka. Sungguh tak dapat di duga kalau Minseok ternyata adalah atlet taekwondo sbauk hitam. Jongdae jadi berpikiran, apa Taeyeon juga memiliki kekuatan bak kingkong seperti halnya Minseok.

Jongdae kembali menggelengkan kepalanya. Akhir-akhir ini entah kenapa Jongdae jadi sering memikirkan Taeyeon. Ah, mungkin karena efek Jingdae pernah menghabiskan waktu seminggu penuh dengan Taeyeon. Dan akhirnya ia terbiasa akan gadis bermata hazel itu.

Baik Luhan maupun Jongdae, mereka berdua tak begitu memperhatikan ocehan Minseok. Membuat Minseok ancap kali berdecak kesal karena di acuhkan. Tapi, Jongdae tentu saja sedang memikirkan Taeyeon. Sudah ku bilang, Jongdae begitu sering memikirkan Taeyeon akhir-akhir ini. Kalau Luhan, Jonhdae tak dapat memahami apa yang sebenarnya di pikirkan namja berwajah cantik itu. Wajah datarnya begitu tak terbaca. Sehingga susah mengetahui apa yang sedang di pikirkan Luhan.

Iris pekat milik Jongdae melihat Taeyeon yang sedang berjalan sendirian sambil memeluk bekalnya. Sepertinya ia akan ke kantin ini. Tapi, sedetik kemudian, ia ragu dan berbalik pergi meninggalkan kantin. Jongdae heran. Ada apa? Apa karena Taeyeon begitu membenci keramaian hingga ia memilih pergi dari kantin. Tapi, jika di perhatikan lagi, Taeyeon seperti ketakutan. Jongdae heran, tentu saja.

 

Kenapa? Batin Jongdae berbicara.

 

Jongdae segera berlari mengikuti ke mana Taeyeon pergi. Mengabaikan tatapan heran dan terkejut dari Luhan. Dan juga mengabaikan teriakkan melengking dari Minseok. Jongdae merasa benar-benar ada yang tidak beres dengan Taeyeon. Begitu misterius dan membuat Jongdae gemas sendiri karena ia memang kepo (?).

Jongdae dapat melihat Taeyeon yang berjalan pelan sambil terus memeluk kotak bekalnya. Jongdae terus mengikuti Taeyeon di belakang dalam jarang 5 meter. Mengawasi kemana pun Taeyeon akan melangkah.

Dan seperti yang sudah ku katakan, Taeyeon sepertinya memang memiliki perasaan kuat. Taeyeon merasakan adanya ketukkan sepatu yang berada di belakang. Dalam artian ia sedang di ikuti. Maka, Taeyeon dengan cepat berbalik. Begitu terkejut mendapati Jongdae yang sedang tersenyum kikuk karena ketahuan.

 

“Jongdae-ah? Kau…. mengikuti ku?” tanya Taeyeon.

Jongdae menggaruk belakang lehernya canggung. “Ahaha, apa itu terlalu ketahuan?” tawa Jongdae dengan malu.

Taeyeon menggelengkan kepalanya. “Memangnya ada apa Jongdae-ah? Ada sesuatu yang ingin kau katakan?”

“Tak enak rasanya jika kita bicarakan di sini. Bagaimana kalau kita ke kantin saja. Ku lihat kau tadi ingin ke kantin, bukan? Lantas kenapa berbalik?” tanya Jongdae. Giliran Taeyeon yang salah tingkah.

“A-a-aku…. a-aku hanya tak su-suka keramainan. Bagaimana kalau kita ke taman belakang saja?” tawar Taeyeon.

“Ani. Aku tadi meninggalkan teman ku hanya untuk menyusul mu. Aku merasa tak enak meninggalkannya tanpa alasan. Kajja!”

 

Tanpa meminta persetujuan dari Taeyeon, Jongdae segera menarik tangan Taeyeon untuk mengikutinya. Taeyeon merasa percuma saja untuk berontak hanya bisa pasrah di tarik oleh Jongdae. Dengan terseok-seok, ia menyamakan langkah kaki Jongdae yang lebar. Berbanding terbalik akan kaki-kakinya yang mungil.

Sampai akhirnya mereka sudah berada di kantin yang begitu ramai. Taeyeon merasa takut sekarang. Genggaman tangan Jongdae ia eratkan. Sebuah gambaran yang ia tunjukkan pada Jongdae kalau ia merasa tak nyaman akan suasana seperti ini. Jongdae meliriknya sebentar dan mengangguk serta memberikan tatapan kalau semuanya akan baik-baik saja.

Jongdae menghampiri meja di mana tadi ia, Minseok, dan Luhan duduk. Lalu menyeret Taeyeon ke sana. Jongdae sedikit bersyukur karena Minseok dan Luhan masih berada di sana.

 

“Jo-Jongdae-ah, ki-kita mau ke m-mana?” tanya Taeyeon tergagap. Sebuah ekspresi dari Taeyeon yang menggambarkan jika Taeyeon sedang takut.

“Menghampiri teman ku. Kau tak keberatan, kan? Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Sahut Jongdae. Taeyeon hanya mengangguk.

“Hey, mian karena aku tiba-tiba pergi. Aku hanya ingin menyusul teman ku. Tak apa, kan?” Jongdae berkata dengan nada bersalah saat ia dan Taeyeon sampai di tempat Minseok dan Luhan. Sedangkan Taeyeon hanya menunduk.

“Yaa! Kau ini seenaknya saja mening―” Minseok menghentikan perkataannya saat melihat siapa yang di maksud ‘teman’ oleh Jongdae dan terkaget. Termasuk Luhan juga. “Lho? Taeyeon?” kaget Minseok.

“Ne, ini Taeyeon. Aku mengejar dia. Mian.”

“Ah, gwenchana. Silahkan duduk.” Tawar Minseok.

 

Taeyeon hanya menunduk. Degup jantung seketika berdetak kencang saat bertatap mata dengan Luhan. Ya, Taeyeon memang menyukai Luhan saat pertama kali mereka bertemu di perpustakaan sekolah. Taeyeon langsung merasa jatuh cinta pada pandangan pertama pada Luhan saat Luhan menolongnya mengambil sebuah buku di rak atas. Tak ada seorang pun yang tahu kalau dia menyukai Luhan. Taeyeon hanya bisa menyimpan perasaanya dalam-dalam.

Jongdae memperhatikan Taeyeon yang sedari tadi menunduk dengan gelisah. Jongdae heran. Apalagi wajah Taeyeon seketika merona saat ia tak sengaja bertatapan dengan Luhan. Baiklah, pasti ada yang tidak beres di sini, begitu pikir Jongdae.

 

“Taeyeon-ah, kenapa menunduk.”

“Eh? A-ani.” Sahut Taeyeon dengan terkejut.

 

Jongdae tak lantas percaya begitu saja akan perkataan Taeyeon. Segala gerak-gerik yang Taeyeon perbuat membuat Jongdae berkesimpulan kalau sebenarnya Taeyeon menyukai Luhan. Yah, memangnya siapa yang tak terpesona akan ketampanan Luhan. Jongdae jadi merasa kecewa karena bukan dia yang di sukai oleh Taeyeon.

 

Eoh?!

 

Apa itu berarti Jongdae memiliki sebuah perasaan pada Taeyeon?

 

Jongdae lantas menggelengkan kepalanya cepat. Apa-apaan dia. Dia baru mengenal Taeyeon selama 1 minggu. Tak mungkin dia dengan lekas menyatakan kalau dia menyukai Taeyeon. Tak mungkin secepat ini.

 

TRIIIING! TRIIIING! TRIIIIING!

 

Suara memekakkan dari lonceng membuat semuanya tersadar. Segera Jongdae menarik tangan Taeyeon untuk kembali ke kelas. Sebelumnya berpamitan dengan Minseok dan Luhan. Karena mereka berdua ada kelas dance bersama. Ya, Minseok dan Luhan memang mengambil dua kelas. Dance dan Music. Berbeda dengan Jongdae dan Taeyeon yang hanya mengambil kelas Music.

Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan antara Jongdae dan Taeyeon. Kduanya sama-sama larut dalam keheningan. Sehingga Jongdae yang penasaran menyeret Taeyeon menuju arah yang berlainan dari jalan menuju kelas mereka. Taeyeon yang memang dari awal adalah seorang yang penakut dan mudah panic seketika terbelalak kaget saat Jongdae menyeretnya menuju belakang sekolah.

 

“Jo-Jongdae-ah, ke-kenapa membawa ku ke si-sini? Bell su-sudah berbunyi, kan? Se-sebenta lagi Ha-Han songsaenim akan ma-masuk kelas Mu-music.” Ucap Taeyeon takut-takut.

“Ikuti saja aku. Ada yang perlu aku bicarakan dengan mu.” Ucap Jongdae membuat Taeyeon bungkam. Akhirnya menurut saja di bawa oleh Jongdae.

 

Jongdae akhirnya berhenti menyeret Taeyeo. Mereka berdua sampai di sebuah pohon besar di belakang sekolah. Taeyeon seketika kembali takut karena pohon ini sering di ceritakan berhantu oleh penduduk sekolah.

 

“Jo-Jongdae-ah, k-kenapa ke si-sini?” tanya Taeyeon.

“Kau…. menyukai Luhan, kan?”

 

Taeyeon terbelalak mendengar perkataan Jongdae. Bagaimana bisa Jongdae mengetahui sebuah rahasia besar yang ia sembunyikan rapat-rapat selama lebih 1 tahun. Taeyeon menatap Jongdae dengan kening berkerut.

 

“Bagaimana bisa kau tahu, Jongdae-ah?” tanya Taeyeon.

“Gerak-gerik mu sungguh mencurigakan. Aku heran, kenapa tak ada yang tahu. Apa Luhan mengetahuinya?”

Taeyeon menggeleng cepat. “Ani. Aku tak ingin Luhan mengetahuinya. Aku takut, Luhan membenci ku karena aku mencintainya.” Larang Taeyeon.

“Semua orang berhak mencintai, Taeyeon-ah. Begitu juga dengan kau. Tak ada yang salah kalau kau mencintai Luhan.” Ucap Jongdae. ‘Tapi, mungkin aku salah karena sudah jatuh cinta pada mu.’ Batin Jongdae.

“Luhan terlalu sempurna untuk ku Jongdae-ah. A-aku tak pantas jika bersanding dengannya.” Ucap Taeyeon menunduk.

“Kenapa tidak? Ku pikir ku pantas bersama Luhan.” Sangkal Jongdae. ‘Yah, walaupun aku tidak rela sih.’ Kembali, batin Jongdae bicara.

“A-apa aku harus b-bi-bicara hal ini pada Lu-Luhan?”

“Ku rasa…. iya.”

“Gomawo Jongdae-ah. Aku akan bicara dengan Luhan sepulang sekolah.”

 

 

Penyesalan selalu datang terlambat. Taeyeon yang akan menemui Luhan untuk menyatakan perasaannya harus rela melihat pemandangan menyakitkan. Luhan, seseorang yang di sukainya sedang berciuman di lorong sepi sekolah dengan Jung Jessica. Teman sebangkunya di kelas Music.

Air mata turun membasahi pipi Taeyeon. Dengan cepat ia menghapusnya. Tidak, ia tidak boleh seperti ini. Ia memang tak pantas bersama Luhan. Hanya Jessica. Bukan dirinya.

Jongdae yang tak sengaja melihat Taeyeon seperti sedang memperhatikan sesuatu menghampiri Taeyeon. Jongdae terkejut saat melihat bahu Taeyeon seperti bergetar dan suara isakkan yang lolos dari mulutnya. Jongdae sudah dapat menduga kalau Taeyeon menangis.

Jongdae mengikuti arah pandangan Taeyeon. Dan begitu terkejut saat melihat Luhan yang masih mencium Jessica. Tak perlu penjelasan apapun, Jongdae sudah dapat menduga, hal ini yang menyebabkan Taeyeon menangis.

Taeyeon tersentak kaget saat ia merasa tangannya di genggam seseorang. Taeyeon berbalik dengan cepat dena menemukan Jongdae yang sedang tersenyum tampan dan segera membawa Taeyeon pergi dari tempat itu segera mungkin. Taeyeon sendiri tak banyak memprotes hanya mengikuti ke mana Jongdae akan membawanya.

Langkah kaki Jongdae ternyata membawa ke atas atap sekolah mereka. Taeyeon yang bahkan sudah 2 tahun bersekolah di sini baru tahu kalau atap sekolah mereka seindah ini. Ia tak pernah berani ke sini. Tapi, Jongdae dengan baik hati mau membawanya ke tempat indah ini. Untuk beberapa saat Taeyeon lupa akan kesedihannya.

Jongdae memperhatikan Taeyeon yang kini sedang tersenyum manis. Kagum akan pemandangan yang ada di depannya ini.

 

“Taeyeon-ah, di sekolah ku dulu, ketika aku ada masalah, maka aku akan pergi ke atas atap dan berteriak dengan keras agar beban ku sedikit berkurang. Karena itulah aku mengajak mu ke sini. Sekarang, teriakkan segala yang kau pendam. Aku jamin itu akan membuat mu lebih baik.” saran Jongdae. Taeyeon menatapnya ragu sebelum akhirnya Jongdae mengangguk.

“AAAAAARRRRRGGGHHHH!” teriakkan Taeyeon segera menggema. Sampai akhirnya Taeyeon kembali menangis setelah berteriak keras. Segera, Jongdae merekuhnya dalam pelukkan.

“Sudahlah, Taeyeon-ah. Tak hanya ada Luhan saja di dunia ini. Banyak namja lain yang lebih menyayangi mu.” Ucap Jongdae. ‘Termasuk aku juga.’ batinnya.

“A-aku, hiks. Kenapa kisah cinta ku jadi tragis seperti ini, hiks, Jongdae-ah? Bahkan aku belum, hiks, sempat memulainya.” Isak Taeyeon.

“Tidak apa-apa, Taeyeon-ah. Daripada kau tidak tahu sama sekali. Kalau tahu kalau sebenarnya Luhan sudah memiliki Jessica, setidaknya kau tak lagi membuat harapan pada Luhan.” Nasehat Jongdae. Taeyeon mengangguk.

“Aku mau ke ruang music. Kau mau mengantarkan aku, kan, Jongdae-ah?” pinta Taeyeon.

“Ne. Tentu saja. Kajja!”

 

Segera Jongdae dan Taeyeon pergi dari atap sekolah. Berjalan menuju ruang music yang berada tak jauh dari atap. Sehingga tak perlu waktu lama untuk mereka berdua agar segera sampai di tempat itu.

Taeyeon segera mengambil sebuah gitar yang bersandar pasrah pada sebuah kursi. Jongdae sudah dapat menduga, kalau setelah ini Taeyeon akan bernyanyi. Sebuah petikkan gitar menjadi awal mula Taeyeon memulai lagunya.

 

 

Haji mothan mari neomu manhayo

Hanbeondo dangsineun deutji mothaetjiman

Nae ape boyeojin nugungal amuna saranghal

Geureon sarameun aniyo

 

Sesangui geu manheun saramdeul soge

Naegen ojik geudaega boyeojyeotgie

 

Geudaeman bomyeo seoitneungeolyo

I sarang heun nan jal moreugesseoyo

Aju eorin aiga hangsang geureohadeusi

Jigeum isungan ttaseuhi anajulleyo

 

Eonjengan natseon ireumi doeeodo

Nae gaseumi geu chueogi gieokhal tenikka

Hoksirado apeun ibyeori ondaedo

Oneureun geureon saenggageun haji mayo

 

Isesang geu manheun saramdeul soge

Naegen ojik geudaega boyeojyeotgie

 

Geudaeman bomyeo seoitneungeolyo

I sarang huen nan jal moreugesseoyo

Aju eorin aiga hangsang geureohadeusi

Deo gakkai deo ttaseuhi anajullaeyo

 

Ije nan honjaga anin geojyo

Geu jarieseo oneul naega on geundae mani

 

Geudaeman naui jeobuingeolyo

I sarang huen nan jal moreugesseoyo

Aju eorin aiga hangsang geureohadeusi

Deo gakkai deo ttaseuhi anajullaeyo

 

Deo gakkai

Deo ttaseuhi

Anajullaeyo

 

(Taeyeon SNSD – Closer)

 

 

Setelah selesai dalam menyanyikan lagu tersebut, Taeyeon kembali terisak pelan. Jongdae yang tak tega melihat Taeyeon seperti itu, lantas membawa tubuh mungil Taeyeon dalam dekapannya. Membuat isakkan Taeyeon semakin membesar. Sungguh hancur hati Taeyeon karena mendapati orang yang ia suka malah bersama sahabatnya.

Beberapa menit berlalu. Jongdae masih mendekap erat tubuh Taeyeon. Dan isakkan Taeyeon terdengar perlahan. Sebelum akhirnya berhenti sendirinya. Jongdae masih memeluk Taeyeon. Tak menyadari kalau Taeyeon sebenarnya tertidur karena kelelahan menangis.

 

“Taeyeon-ah?” panggil Jongdae.

 

Tak da respon. Tentu saja karena Taeyeon tertidur cukup lelap. Jongdae yang akhirnya mengetahui kalau Taeyeon tertidur akhirnya memilih untuk menggendong Taeyeon di punggungnya. Jongdae tak tega jika harus membangunkan orang yang terlelap ini.

Helaan nafas Taeyeon yang teratur dan hangat menyapa leher Jongdae. Dengkuran halus dari Taeyeon membuat Jongdae tersenyum.

 

“Gomawo… Dae-ie.”

 

Igauan Taeyeon kembali membuat Jongdae tersenyum tampan. Entah apa yang di mimpikan oleh gadis beriris hazel itu hingga mengigau seperti itu. Jongdae segera berjalan menuju gerbang sekolah.

Jongdae memilih untuk berjalan kaki agar sampai ke rumah Taeyeon. Bukan hal yang sulit mengingat Jongdae sudah menghabiskan waktu 1 minggu bersama Taeyeon. Jadi, Jongdae mengetahui di mana rumah Taeyeon begitupun sebaliknya.

 

 

Penjaga gerbang di rumah Taeyeon menyadari kedatangan Jongdae beserta anak majikannya. Dengan serta merta dia membukan pintu untuk Jongdae yang memang sudah di kenalnya. Jongdae berterima kasih sebelum akhirnya masuk ke rumah Taeyeon.

 

TING…. TONG…. TING…. TONG!

 

Jongdae menekan bell pintu dengan agak susah di karena ada Taeyeon di punggungnya. Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya namun masih tetap cantik membukakan pintu. Begitu terkejut mendapati Taeyeon yang tertidur di punggung Jongdae.

 

“Annyeong haseyo, ahjumma Kim.” Sapa Jongdae ramah dan sopan.

“Annyeong haseyo, Dae-ah. Omona, Taeyeon kenapa, Dae-ah?” tanya ahjuma Kim yang merupakan eomma Taeyeon.

“Dia tertidur, ahjumma. Karena saya tak tega membangunkannya, jadi saya menggendongnya pulang.” Jelas Jongdae.

“Aigoo, maaf merepotkan mu, Dae-ah. Bawa saja ia ke kamarnya.” Ucap ahjumma Kim.

“Tidak masalah, ahjumma. Baiklah, saya akan membawanya ke kamarnya.”

 

Jongdae segera menuju kamar Taeyeon. Sedangkan ahjumma Kim hanya mengikuti di belakang sambil membawakan tas Taeyeon. Sampai di kamar, Jongdae segera membaringkan Taeyeon dengan hati-hati di atas ranjangnya. Setelah berpamitan dengan ahjumma Kim, Jongdae segera pulang dengan alasan masih ada tugas yang masih belum di kerjakan.

 

 

Pagi ini, Jongdae mendapati Taeyeon yang pertama kali ia lihat. Dingin, datar, dan tanpa ekspresi. Saat bertemu dengan Jongdae pun, Taeyeon hanya melayangkan senyuman palsu. Jongdae dapat mengetahui kalau sebenarnya Taeyeon habis menangis. Terbukati dari matanya yang terlihat sembab.

Jongdae berjalan dengan tangan penuh dengan buku. Ia disuruh mengantarkan buku ini oleh Choi songsaenim ke perpustakaan. Sungguh, berat sekali buku-buku yang kini Jongdae bawa.

Setelah mengantar buku-buku itu, rencananya Jongdae akan segera pergi ke kantin untuk makan siang. Tapi, matanya menangkap sesosok yeoja berambut coklat cerah yang tengah membaca buku. Tapi, jika di perhatikan baik-baik, sebenarnya yeoja itu tak sepenuhnya membaca buku. Tatapannya kosong dan terlihat melamun. Dan Jongdae mengenali sebagai Taeyeon.

Jondae memutuskan untuk tidak jadi pergi ke kantin. Tapi, ia berjalan menunju ke tempat Taeyeon duduk. Benar saja. Taeyeon melamun dan tak menyadari kedatangannya. Jongdae mengerti, pasti Taeyeon masih merasa patah hati akan kejadian kemarin.

 

“Taeyeon-ah.” Jtak! Jongdae menjentikkan jarinya di depan muka Taeyeon.

Taeyeon lantas terkejut dan menjadi gelagapan sendiri saat melihat Jongdae di depannya. “Mwo? Wae, Jongdae-ah?” tanya Taeyeon.

“Aku ingin bicara dengan mu di atas atap sekarang!” Jongdae segera memegang tangan kanan Taeyeon.

“Wae? Apa yang ingin kau bicarakan, Jongdae-ah?” tanya Taeyeon.

“Kalau aku bicara di sini, berarti aku ingin berbicara dengan mu di perputakaan. Sudahlah, ikuti saja aku.”

 

Taeyeon hanya bisa pasrah karena Jongdae menyeretnya. Jongdae terus menarik tangannya hingga keduanya sampai di atap sekolah mereka. barulah Jongdae melepaskan genggamannya.

Jongdae menatap Taeyeon dengan tatapan serius. Taeyeon jadi agak kaget karena sebelumnya Jongdae tidak pernah seperti ini.

 

“Kau… apa kau masih sakit hati akan kejadian kemarin, Taeyeon-ah? Jujurlah!” ucap Jongdae.

Taeyeon seketika gemetar. “Ti-tidak, Jongdae-ah. A-aku tak me-memikirkan hal ke-kemarin.” Elak Taeyeon.

“Jujur saja.”

“Jo-Jongdae-ah….”

“Bisakah kau tak usah memikirkan Luhan lagi? Bisakah kau mulai membuka hati untuk namja lain? Bisakah kau membuka pintu hati mu untuk ku, Taeyeon-ah? Katakana pada ku.”

“M-mwo?”

“Apa perlu aku berteriak di tengah lapangan dan mengatakan dengan lantang kalau aku Kim Jongdae jatuh cinta pada gadis sedater tembok bernama Kim Taeyeon?”

 

Perkataan Jongdae itu sukses membuat Taeyeon terbelalak kaget. Apa ia tak salah dengar? Kim Jongdae jatuh cinta pada Taeyeon? Tapi, sejak kapan?

 

“Jo-Jongdae-ah… a-aku….”

“Ya, aku tahu. Kau pasti masih belum bisa membuka pintu hati mu. Aku mengerti, Taeyeon-ah.”

Taeyeon menggeleng kepalanya dengan cepat. “Jika aku sudah bisa membuka pintu hati ku, maukah seorang Kim Jongdae membantu Kim Taeyeon agar ia bisa melupakan namja bernama Xi Luhan dan hanya memastikan kalau hanya Kim Jongdae-lah pemilik hati dari Kim Taeyeon?” ucap Taeyeon panjang lebar dengan pipi yang memerah.

Jongdae terbalalak. “Ma-maksudmu?”

“Ya, aku akan mencoba mencintai mu, Jongdae-ah. Bantu aku untuk melupakan Luhan, ne?”

 

Jongdae sudah tak dapat berkata apa-apa lagi. Dengan cepat ia mendekap erat tubuh mungil Taeyeon. Taeyeon hanya tersenyum.

 

Cerita Jongdae dan Taeyeon yang di mulai karena music dan berakhir dengan sebuah happy ending.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FIN

 

 

Author note’s : Miaaaan, Mianhamnida. Jeongmal Mianhamnida. Aku bukannya mau lepas tanggung jawab pada FF ’12 Power Legend’ yang bahkan belum sampai seper-empat-nya. Tapi, keadaan ku yang drop membuat ku mau tak mau harus mem-pending FF tersebut.

Nah, sebagai ganti pelipur lara (?) aku persembahkan Ff Oneshoot dengan Pairing ChenTae. Semoga FF ini bisa mengobati rasa ke-kepo-an (?) kalian akan lanjutan FF ’12 Power Legend’ yang bakalan akan aku pending. Yaaah, itupun kalau kalian setia menunggu lanjutan FF itu dan kalian harapakan (semoga ada).

Baiklah, ku kira ini ocehan ku sudah amat panjang.

Sampai jumpa di chapter 4 FF ’12 Power Legend’

Advertisements

42 comments on “[Oneshoot] Because Of Music

  1. Wiihh cast baru ckkckc jarang bgt ni cast q sukaa ceritanya baguss…. Lebih bagus lagi kalo luhan tau perasaan taeng ya meski nantinya bertepuk sebelah tangan tpi kan lega udah ngungkapin,, yang penting ada jongdae hehehhe dtunggu ff lainnya

  2. muka taeyeon sedatar tembok??? hahaha kok aku jadi ketawa… tapi aku sedih juga… knp harus sahabatnya yg ngambil orang yg d sukai taeyeon sejak 1 thn… yasudah biarkan… yg penting ada penggantinya… chen…^^

    ditunggu ff selanjutnya thor^^ Hwaiting!!!^^

  3. Jarang” ada ff yang pairingnya chentae 😀
    Bagus thor ffnya ><
    aku tunggu ff yg 12power legend nya ^^

  4. Yaelaaaah , suka dahhhh!!!
    Jarang2 ada pairing chentae, suka sma alur ceritanya ..
    Mayo..Mayo.. Lanjutkan 12 power legend , update soon authornim, fighting!!!

  5. Nice 😀 wlopun taeng hrus skit hti tpi yg pnting ad chen oppa 🙂

    ff power legendx cpat di post ne thor
    fighting

  6. Maaf y aku blng gni
    Emmm sebener y aku gx suka sih yg cast cowo y jongdae tpi berhubung cerita y seru jdi baca aj dari pada bosen…
    Dan cepet sembuh ya …
    Kami akan slalu nunggu ff kmu kok:-)
    Fighting ya…
    Fighting ya…

  7. Wh kren,, eonni lnjuting ff yg dlu2 tntang LuTae & BaekYeon dong..dn d tunggu jga ya 12 power legend chapter slanjutnya..ff favoritku tu..

  8. yeayyyy penantianku selama ini akhirnya terbalas juga (PLAK LEBAY), ak udh lma nunggu ff couple chentae eonn. pokoknya deabbak pke BGT deh heheheh

  9. Keren thor..
    Q tnggu ff lainnya..
    Kalau bisa buat yg castnya lutae dan huntae..
    Aq tnggu ffnya thor..
    Keep writing and fighting!!

  10. Hei hei thor, romantis bgt ff nya
    Feelnya tu loh, dapet bgt,…
    Hehehe, eh thor boleh request gk
    Ff pairingnya lutae…
    Mudah2han boleh Чα”̮ thor
    Fighting buat author unyu !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s