Ma Boy~ (Chapter 3)

ma-boy-copy-8

Bina Ferina ( Kookie28)

 

Main Cast : Kim Taeyeon GG, Xi Luhan EXO, Kim Jaejoong JYJ

Genre : School-Life, Romance

Rating : PG

 

Thanks To :

BaeLyrii @Cafeposterart.wp.com for making this amazing poster 🙂

Author’s Note :

Annyeeeooongg^^ masih ingat siapa sayaaa?ahahahah mungkin ada yang ingat, mungkin juga ngga ada yang ingat#lapingus, okee, kali ini otak saya di penuhi oleh ide-ide baru yang terus bermunculan dan jujur saya kesel karena FF saya yang lain jadi ngadat hiks tapi saya janji bakalan terus lanjutin, kookk janji deehhhhh hehehe. Okelaah, happy reading ajadeh, yaaaa^^

Taeyeon membuka pintu kamar asramanya dan ia melihat sosok YoonA sudah duduk manis di atas ranjang sambil membaca salah satu novel yang ada di meja belajar Taeyeon. Begitu Taeyeon masuk dan ikut duduk di atas ranjangnya, YoonA menutup novel itu dan meletakkannya kembali ke tempat.

“Kenapa pagi-pagi begini sudah ke dapur asrama?” tanya YoonA.

“Temanmu yang menyebalkan itu memintaku untuk memasakkannya sarapan. Kemarin malam Jung seonsaengnim memintaku melakukannya sampai Luhan sembuh atas permintaan Luhan.  Aku benci sekali. Dia begitu berlebihan. Padahal tangannya mungkin sudah baik-baik saja,” jawab Taeyeon kesal.

“Nugu?” tanya YoonA.

“Xi Luhan,”

“Aahh, kenapa kau mau melakukannya?”

“Karena aku adalah asisten tim mereka. Luhan membawa-bawa itu,” jawab Taeyeon. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya ke jendela kamar. Ia menyibakkan gorden jendela kamarnya yang masih tertutup dan sinar matahari langsung merayap masuk ke dalam kamar Taeyeon.

Selain sinar matahari dan langit yang cerah yang dapat dilihat Taeyeon, ia juga dapat melihat Luhan di seberang, sedang memakai seragamnya dengan satu tangan. Kelihatannya ia memang sedikit kesusahan.

“Kajja, Taeyeon-ah. Kita berangkat sekarang saja,” ajak YoonA.

Taeyeon menganggukkan kepalanya dan ia segera mengambil tasnya dan mereka sama-sama keluar dari kamar asrama.

Sesampainya di gedung sekolah, Taeyeon langsung pergi ke taman sekolah. Ia dan Luhan memang sudah berjanji untuk sarapan di sana. Awalnya, Taeyeon ingin mengajak YoonA untuk bergabung. Tapi YoonA menolaknya dan memilih untuk menunggu Taeyeon di kelas saja.

Sementara Taeyeon menunggu Luhan datang, ia mengambil sapu tangan pemberian Jaejoong kemarin dari dalam tasnya. Sapu tangan itu sudah ia cuci kering kemarin malam. Sapu tangan itu memang awalnya tidak kotor sama sekali. Ia terlalu sayang menggunakannya untuk membersihkan sepatunya.

“Sunbae, eodisseoyo?” gumam Taeyeon.

Tepat saat itu, sesosok laki-laki datang menghampiri Taeyeon dan duduk di sampingnya, di bangku cokelat panjang yang ada di taman. Luhan datang dengan wajah sumringah dan senyuman yang mengembang di wajahnya yang tampan.

“Annyeong, Taeyeon-ah. Pagi ini aku merasa sangat lapar sekali. Kuharap kau membawa sarapan seperti yang kita janjikan kemarin,” sapa Luhan dengan riang.

Taeyeon melihat ke arah kanannya dan ia langsung menyimpan kembali sapu tangan hijau besar itu ke dalam tasnya. Luhan melihat kembali sapu tangan itu dan kembali mengernyitkan dahinya.

“Apa itu memang benar-benar milikmu?” tanya Luhan. Ekspresinya langsung berubah.

“Mwo?” Taeyeon balik bertanya, tidak mengerti arah pembicaraan Luhan.

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku seperti tidak asing dengan sapu tangan milikmu itu,” jawab Luhan.

“Aniya, ini bukan milikku. Ini milik seseorang,” ujar Taeyeon. Luhan ingin bertanya ‘siapa’, namun Taeyeon sudah memotongnya. “Sebaiknya kau cepat menghabiskan sarapanmu ini. Aku tidak ingin terlambat di hari keduaku,”

Taeyeon mengeluarkan kotak bekal sarapan Luhan dan membukanya. Luhan, yang awalnya berseri-seri melihat kotak bekal itu, langsung mengubah ekspresinya menjadi ekspresi yang seakan-akan mengatakan ‘apa-apaan ini?’.

“Kenapa isinya kebanyakan sayur?” tanya Luhan.

“Orang sakit memang seharusnya makan ini,” jawab Taeyeon ketus. Ia menyendok nasinya dan menyodorkannya ke hadapan mulut Luhan. “Say ‘aahh’,”

Luhan mengernyitkan dahinya terlebih dulu baru membuka mulutnya dan memakan nasi yang di sodorkan Taeyeon.

“Otte? Ini aku yang memasaknya sendiri. Aku bilang pada kokinya untuk menyisakan sedikit bahan untukmu. Dan aku buat ini. Aku sengaja memperbanyak sayurannya agar kau lebih cepat sehat. Aku juga malas kalau seminggu penuh ini terus membuatkan bekal untukmu,” ujar Taeyeon.

Luhan hanya menganggukkan kepalanya. “Kita seperti suami istri, ya? Sang suami yang sedang jatuh sakit dan istri yang baik menyuapinya. Keutchi?”

Taeyeon hanya memberikan pandangan “Terserah-apa-katamu” pada Luhan dan kembali menyuapinya.

“Kau mau aku memakan wortel dan segala pernak-perniknya itu, ‘kan? Suapi dengan mulutmu,” kata Luhan dengan smirk­-nya.

Taeyeon mengerling menatap Luhan dan segera memukul jidat Luhan dengan sendoknya cukup keras. Luhan mengaduh pelan dan memanyunkan bibirnya dengan imut.

“Kalau seperti itu mungkin akan terasa enak. Soalnya yang kau masak ini sama sekali tidak enak,” kata Luhan tanpa ragu dan dengan polosnya.

Hati perempuan mana yang tidak sakit jika makanan yang dia buat di katakan tidak enak? Luhan memang bukan siapa-siapanya. Tapi perkataan Luhan yang dengan gampangnya mengatakan hal seperti itu membuat Taeyeon luar biasa sakit. Setidaknya ia membuat bekal ini tulus untuk membantu Luhan. Ternyata Luhan menghargainya dengan cara mengatakan hal itu.

“Jika memang tidak enak, kenapa kau memintaku membuatkannya? Kalau memang tidak enak dan kau tidak suka, mulai besok aku tidak perlu bangun pagi-pagi sekali dan langsung pergi ke asrama dapur hanya untuk memasakkan ini untukmu. Maaf jika tidak enak, tapi aku membuatnya secara tulus,” jawab Taeyeon dengan suara kecil.

Luhan, yang sedang mengunyah makanannya langsung mendadak berhenti setelah mendengar pernyataan Taeyeon. Ia menatap Taeyeon bingung. Sampai saat Taeyeon bangkit dan meninggalkan Luhan sendirian dengan bekalnya, Luhan tetap menatap Taeyeon dengan pandangan bingung.

“Namja pabo!” seru Taeyeon kesal saat ia melangkahkan kakinya menuju kelas. Ia masih di sekitar taman dan hendak keluar dari taman itu.

Niatnya langsung terhenti ketika ia menangkap sosok laki-laki yang ingin di temuinya. Jangkung, berbadan tegap, rambut hitam legam, dan berwajah sangat tampan itu sedang duduk di bangku panjang di taman sekolah sambil memegang sebuah pulpen dan kertasnya di tangannya. Ia seperti sedang berpikir keras. Mungkin bimbang ingin menulis apa di kertas itu.

Taeyeon perlahan-lahan mendekat kearahnya. Namun, ia langsung mengurungkan niatnya. Taeyeon takut ia membuat Jaejoong merasa terganggu. Sebelum akhirnya ia memutuskan apakah sebaiknya ke kelas atau menghampiri Jaejoong, Jaejoong menengadahkan wajahnya menatap Taeyeon.

Taeyeon gelagapan dan memutar balik tubuhnya, gugup. Jaejoong yang melihat Taeyeon tiba-tiba memutar balik tubuhnya merasa heran. Ia terus menatap punggung Taeyeon.

Taeyeon sedikit mengerling ke belakang dan sadar Jaejoong sedang memerhatikan dirinya yang tampak seperti orang bodoh. Akhirnya, muncul ide Taeyeon yang mungkin juga bisa di bilang bodoh, tapi setidaknya itu tidak membuatnya membatu di tempat. Ia merogoh saku seragamnya dan mengambil ponselnya.

“Annyeonghaseyo, aaahh mianhae. Maksudku, yeoboseo,” sapa Taeyeon pura-pura di ponselnya.

Ya, ia pura-pura sedang menerima telepon seseorang. Sayangnya, ia salah mengucapkan sapaan. Taeyeon merutuki dirinya sendiri dan semakin bingung harus melakukan apa. Dan itu membuat Jaejoong sedikit menyunggingkan senyuman manisnya. Jaejoong mengalihkan tatapannya dari Taeyeon ke kertas yang di pegangnya. Namun, telinganya tetap fokus ke suara Taeyeon.

“Aahh, kau dimana? Aku sudah ada di taman. Mwo? Kembali ke kelas? Kalau begitu, aku juga akan kembali ke kelas. Eoh, arraseo. Annyeong,”

Taeyeon pura-pura memutuskan sambungan teleponnya dan ia langsung melesat pergi dari hadapan Jaejoong. Secepat mungkin karena ia yakin mungkin Jaejoong sudah menganggapnya sebagai perempuan yang aneh. Sementara itu, Jaejoong yang melihat Taeyeon yang langsung melarikan dirinya, tersenyum kecil. Lalu ia kembali memfokuskan dirinya pada kertas yang ada di tangannya.

Taeyeon melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kelas tanpa menolehkan lagi kepalanya. Sesampainya di kelas, ia langsung duduk di samping tempat duduk YoonA, yang sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone-nya.

“Ada apa denganmu? Wajahmu memerah seperti baru dikejar makhluk gaib,” tanya YoonA, yang langsung melepas earphone-nya begitu Taeyeon duduk di sampingnya.

“Ani. Aku…”

Baru saja Taeyeon ingin menceritakan semuanya dari awal, Luhan tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua dan ia meletakkan kotak bekal yang Taeyeon bawa tadi di meja tempat Taeyeon duduk.

Taeyeon diam dan tidak berkata apa-apa. Ia bahkan tidak memandang wajah Luhan. Ia hanya memandang ke bawah, tepatnya ke kotak bekal itu. YoonA memandang Luhan dan Taeyeon secara bergantian, merasa heran dengan sikap dingin yang ditunjukkan Taeyeon ke Luhan.

“Gomawoyo. Makanannya enak. Nanti malam tolong buatkan lagi, ya?” pinta Luhan dan ia membalikkan tubuhnya dan langsung menghilang di tengah kerumunan teman-teman sekelasnya.

“Kau dan dia…” ujar YoonA. “Sedang bertengkar? Kenapa ekspresimu seperti itu ketika dia ada disini?”

Taeyeon tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan YoonA. Ia membuka tutup kotak bekalnya dan melihat isinya. Kosong. Luhan memakannya semua, kecuali tomat dan wortel.

“Kami tidak bertengkar ataupun rukun. Kami, ‘kan tidak ada hubungan apa-apa,” jawab Taeyeon sambil tersenyum pada YoonA.

Setelah itu, Taeyeon langsung melupakan niatnya untuk bercerita tentang Jaejoong kepada YoonA.

~~~

“Mana Luhan?” tanya Taeyeon pada Chanyeol, yang sedang memain-mainkan bola dengan kakinya di lapangan sepak bola.

Taeyeon membawa kotak  bekal untuk makan malam Luhan. Ia membawanya ke lapangan karena mengira Luhan akan di sana juga. Namun, tidak ada Luhan di sana.

“Hari ini kami tidak bertanding. Itu sebabnya daritadi siang Luhan pergi entah kemana. Kau, ‘kan teman sebangkunya. Kenapa tidak sadar dia tidak ada daritadi siang?” Chanyeol balik bertanya.

“Aku juga tidak peduli dengan urusannya,” jawab Taeyeon. “Mungkin saja kencan dengan siswi lain,”

“Sekarang ini Luhan hyung tidak punya incaran. Coba check di asrama. Mungkin dia ada sana,” kata Chanyeol. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci dan menyerahkannya pada Taeyeon.

“Apa ini?” tanya Taeyeon.

“Kunci duplikat kamar Luhan. Masuk saja, tidak apa-apa,”

“Dan bagaimana kalau ia sedang tidak dalam keadaan yang pantas kalau aku kesana?” tanya Taeyeon, yang langsung bergidik ngeri membayangkannya.

“Kau bisa mengetuk kamarnya dulu. Tidak apa-apa, coba saja. Luhan hyung belum makan dari tadi siang,” kata Chanyeol. “Tapi kalau dia sedang tidur, biasanya dia memang tidak pakai baju. Jadi, aku tidak tahu sedang apa saat ini dia di kamar asrama,”

“Aiish,” keluh Taeyeon sambil memukul lengan kiri Chanyeol dengan menggunakan kotak bekalnya. Chanyeol hanya terkekeh geli.

Setelah menerima kunci duplikat kamar Luhan, Taeyeon dengan memberanikan diri pergi melangkahkan kakinya menuju asrama laki-laki. Perempuan memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam asrama laki-laki, begitupun sebaliknya. Tapi Taeyeon sudah menerima izin dari Jung seonsaengnim kemarin malam. Yang meminta izin tentu saja Chanyeol dan teman-temannya.

“Fiuh~” Taeyeon menghembuskan nafasnya ketika ia membuka pintu asrama dan sudah masuk ke dalamnya.

Asrama laki-laki sama besarnya dengan asrama perempuan. Hanya saja jika di malam hari, aula asrama akan dipenuhi para perempuan yang asyik mengobrol dengan teman-temannya. Beda denga n laki-laki, aulanya sama sekali kosong. Mereka semua mungkin ada di kamar masing-masing dan ada sebagian yang di lapangan sepak bola.

Taeyeon melihat nomor kunci yang di berikan Chanyeol tadi padanya. Kamar nomor 201. Ada di lantai 3. Dan Taeyeon langsung menaiki tangga menuju lantai 3 dan langsung mencari kamar nomor 201.

Saat Taeyeon sudah menemukan kamarnya dan hendak mengetuk pintunya, pintu kamar Luhan terbuka dan betapa terkejutnya Taeyeon yang membuka pintu kamar Luhan ternyata adalah seorang gadis yang Taeyeon perkirakan umurnya lima tahun di bawah Taeyeon. Gadis itu memiliki kulit putih bersih dan ia memiliki paras yang cantik. Rambutnya hitam panjang dan bergelombang dan tubuhnya ramping juga tinggi, lebih tinggi 10 cm dari Taeyeon.

Gadis itu juga terkejut melihat Taeyeon yang ada di depan pintu. Sontak, Taeyeon langsung menjauhkan dirinya dari kamar Luhan ke kamar di sebelahnya. Gadis itu membungkuk ke arah Taeyeon dan ia keluar dari kamar Luhan sambil mengatakan, “Oppa, aku pergi dulu,” dan ia langsung melesat pergi.

Taeyeon menatap gadis itu hingga bayangan gadis itu sudah tidak kelihatan lagi. Pikiran Taeyeon langsung menuju hal yang negative. Buat apa gadis itu ada di dalam kamar Luhan malam hari begini? Ingin rasanya Taeyeon juga ikut pergi dari hadapan kamar Luhan. Sayang, Luhan sudah melihat Taeyeon duluan, saat ia hendak menutup pintu kamarnya.

“Taeyeon?” sapa Luhan.

Taeyeon menatap Luhan dan tersenyum dengan canggung. “Annyeong. Aku kesini ingin memberikan bekal ini padamu,”

Taeyeon menyerahkan bekal itu dengan kaku. Luhan menerimanya dan ia lamgsung tersenyum lebar ke arah Taeyeon. Dan entah kenapa senyuman lebar yang ditunjuk Luhan itu membuat bulu kuduk Taeyeon naik.

“Ayo, masuk,” kata Luhan, mempersilakan Taeyeon masuk ke dalam kamarnya.

“Buat apa aku masuk?” tanya Taeyeon, ekspresinya sangat kaget.

“Bukannya kau akan menyuapiku?” Luhan balik tanya.

“Aahh, keundae…”

Belum selesai Taeyeon bicara, Luhan langsung menarik tangan Taeyeon untuk masuk ke dalam kamarnya. Taeyeon kaget dan ia semakin shock lagi ketika Luhan menutup pintu kamarnya.

“Ya!” seru Taeyeon.

“Mwo? Aissh, jangan berteriak seperti itu Kim Taeyeon. Kau akan membangunkan seluruh siswa di sini,” kata Luhan. Ia meletakkan jari telunjuknya di mulut Taeyeon , menyuruh Taeyeon memelankan suaranya.

Taeyeon menganggukkan kepalanya. “Bagaimana kalau perempuanmu datang lagi kemari? Apa dia tidak akan berpikir macam-macam?” tanya Taeyeon.

“Perempuanku? Nugu?” tanya Luhan, yang sudah duduk di tepi tempat tidurnya.

“Perempuan yang tadi baru saja keluar dari kamarmu. Itu pacarmu, ‘kan? Aku tahu kalian pacaran. Tapi setidaknya tidak perlu di kamar. Orang pasti akan berpikiran yang tidak-tidak,” jawab Taeyeon.

Luhan mencerna perkataan Taeyeon selama beberapa detik. Lalu, ia tertawa terbahak-bahak.

“Wae?” tanya Taeyeon, sedikit kesal.

“Ya, gadis itu bukan pacarku,” ujar Luhan, ia mengeluarkan smirk-nya. “Berpikiran yang tidak-tidak bagaimana maksudmu? Aahh, apa kau juga berpikiran yang tidak-tidak, ya? Kau juga berpikiran kalau aku macam-macam dengannya?”

“Bagaimana orang bisa tidak berpikiran seperti itu kalau kau dan dia berduaan di kamar?” tanya Taeyeon.

“Dan kami memang tidak melakukan apa-apa. Aku tidak menyukainya dan dia tidak menyukaiku. Itu sebabnyakah kau takut saat kutarik ke dalam kamar?”

“Aku…” ujar Taeyeon terbata-bata. “Aku hanya takut kalau gadis itu masuk lagi ke dalam kamar dan berprasangka buruk padaku,”

Luhan hanya tersenyum dan ia bangkit dari tepi tempat tidurnya dan ia mendekati Taeyeon. Taeyeon menatap Luhan dengan pandangan bingung. Sedangkan Luhan hanya terus berjalan mendekati Taeyeon sekaligus memandangi Taeyeon lekat-lekat. Taeyeon mendadak gugup dan ia melangkah mundur ke belakang. Ia menghindari tatapan Luhan.

Sampai akhirnya punggung belakang Taeyeon menabrak pintu kamar Luhan, Luhan terus mendekat. Mata Taeyeon terbelalak lebar, bingung sekaligus kaget dengan tingkah laku Luhan saat ini.

“Ya, menjauh dariku,” kata Taeyeon gelagapan.

Luhan berhenti tepat 5 cm di depan Taeyeon. Sangat dekat, bahkan Taeyeon bisa mencium wangi tubuh Luhan yang menyelimuti hidungnya. Luhan sedikit membungkukkan badannya agar wajahnya bisa sejajar dengan Taeyeon. Lengan kirinya yang tidak sakit ia tumpu ke dinding di samping pundak Taeyeon. Taeyeon, yang semula tidak ingin membalas tatapan Luhan, akhirnya juga ikut menatap manik mata itu. Indah, mata yang cantik seperti wajahnya.

“Aku akan berteriak kalau kau tidak menjauh selangkah saja dariku,” ancam Taeyeon. Suaranya kecil sekali. Taeyeon bahkan ragu Luhan akan takut.

“Kau polos sekali. Teriak saja. Ini, ‘kan kamarku. Kau yang masuk ke sini,” jawab Luhan. Suaranya pelan, seperti berbisik.

Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon, hingga Taeyeon dengan refleks menutup matanya rapat-rapat, takut dengan apa yang selanjutnya akan Luhan lakukan. Luhan tersenyum kecil dan ia mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Taeyeon.

“Mungkin kalau orang melihat kau dan aku berduaan di kamar ini, orang-orang itu yang akan mengira kita yang berbuat macam-macam di kamar ini. Kau lebih memungkinkan karena kaulah gadisku,” bisik Luhan.

Taeyeon membuka matanya dan ia mengerutkan dahinya. Lalu, ia mendorong tubuh Luhan kuat-kuat agar menjauh darinya. Luhan menjauh dan ia nyengir lebar ke arah Taeyeon. Wajah Taeyeon sudah seperti kepiting rebus. Merah sekali. Jantungnya juga berpacu cepat.

“Neo micheosseo?! Aku bukan siapa-siapamu,”

“Sebentar lagi, mungkin,” jawab Luhan enteng. “Oh, ya kenapa kau tadi menutup matamu? Kau mengharapkan seseuatu? Katakan saja. Aku bisa memberikan lebih,”

“Ya! Dasar mesum!” seru Taeyeon. Ia hendak melemparkan buku-buku Luhan ke arah wajah pemiliknya.

Luhan hanya tertawa. “Mian. Aku hanya bercanda. Aku senang melihatmu marah dan kesal. Lucu sekali. Sekarang, kau mau menyuapiku, ‘kan? Tanganku masih sakit. Sepertinya dua hari lagi baru akan normal. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam denganmu. Ini belum terlalu malam. Kalau sudah terlalu malam, aku bisa menjadi seekor wolf yang lupa diri,”

“Arraseo, arraseo,” kata Taeyeon.

Ia melangkahkan kakinya ke tempat tidur Luhan dan membuka kotak bekalnya. Luhan ikut duduk di samping Taeyeon dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah imutnya.

“Sebenarnya aku agak kesal karena kau mengatakan makananku tidak enak. Hanya karena kau sedang sakit, aku tetap membuatkannya. Aku juga terpaksa memikirkan sakitmu, karena ini bagian dari hukumanku. Kalau tidak, aku juga tidak akan peduli. Lagipula kau juga sudah menghabiskannya. Aku sedikit merasa terobati,” kata Taeyeon saat ia menyuapi Luhan.

“Aah, itu. Aku juga hanya bercanda. Aku hanya sedikit mengetes saja. Padahal masakanmu sangat enak, dan aku sangat menyukainya,” jawab Luhan. Ia sibuk memainkan rubiknya.

“Tes? Kenapa kau mau mengetesku?” tanya Taeyeon.

“Kalau perempuan lain aku katakan seperti itu, mungkin mereka akan pura-pura merajuk dengan memanyunkan bibirnya dan minta dibujuk. Tipe perempuan seperti itu adalah perempuan yang manja dan ingin cari perhatian. Aku tidak suka. Ternyata, saat kau langsung pergi dan bahkan tidak minta dibujuk, aku tahu kalau kau bukan perempuan seperti itu,” jelas Luhan.

“Kau tahu darimana kalau aku tidak ingin dibujuk?”

“Kalau kau ingin dibujuk, kau pasti balik badan untuk melihatku apakah aku mengejarmu atau tidak. Tapi kemarin kau sama sekali tidak menoleh. Membuatku semakin mengagumimu,” ujar Luhan.

Taeyeon hanya memutar bola matanya. “Aku memang bukan perempuan seperti itu. Dan aku juga bukan perempuan yang langsung meleleh begitu mendengar omong kosongmu,”

Luhan hanya tersenyum manis.

~~~

“Perlu kuantar?” tanya Luhan.

“Asramaku ada di depan, tidak perlu diantar,” tolak Taeyeon.

“Kalau kau mengantuk, kau bisa tidur di sini,” kata Luhan.

“Lucu sekali,” sindir Taeyeon.

Ia segera bersiap-siap untuk keluar dari kamar Luhan, sebelum apa yang di katakan Luhan itu terwujud. Luhan membuka pintu kamarnya untuk Taeyeon dan menunggu Taeyeon keluar.

“Gomawo,” kata Luhan lembut, ketika Taeyeon hendak keluar dari kamar Luhan.

Taeyeon mengangguk dan ia sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Luhan mengelus-elus kepala Taeyeon sambil tersenyum manis.

“Besok pagi aku akan menunggumu di taman seperti kemarin,” ujar Luhan sebelum Taeyeon benar-benar pergi keluar dari kamar Luhan.

Ketika Luhan menutup pintu kamarnya, Taeyeon menghembuskan nafasnya keras.

“Pabo namja,” gumam Taeyeon dan ia buru-buru keluar dari asrama laki-laki itu. Walaupun begitu, di benak Taeyeon masih terngiang-ngiang sebuah pertanyaan siapa gadis yang baru saja keluar dari kamar Luhan.

~~~

“Seorang gadis keluar dari kamar Luhan?” tanya YoonA pada Taeyeon ketika mereka jalan bersama menuju gedung sekolah.

“Kau mengulangi pertanyaanmu untuk yang ketiga kalinya, YoonA-ah. Jawabannya sama. Ya,” jawab Taeyeon dengan nada kesal. “Wae? Bukankah kau bilang dia playboy? Justru hal itu adalah hal yang biasa, ‘kan baginya? Aku benar-benar takut jika berada di dekatnya berdua saja,”

“Luhan tidak pernah sampai membawa perempuan ke kamar asramanya. Setahuku, baru dirimu perempuan yang masuk ke kamarnya,” kata YoonA.

“Kejadian kemarin bagaimana? Aku jelas melihatnya. Bukan perempuan jadi-jadian,” kata Taeyeon, membuat YoonA sedikit tertawa. “Aku juga melihatnya di belakang gedung sekolah dengan perempuan lain. Tidak ada hal yang perlu dipertanyakan lagi, ‘kan?”

“Kalau dia yang sering bersama perempuan di belakang gedung sekolah aku juga tahu. Sudah menjadi rahasia umum juga. Tapi aku tidak pernah dengar dia mengajak perempuan ke kamar asramanya. Harus dapat izin dari guru dulu, ‘kan?”

“Mungkin perempuan itu juga dapat izin,” celetuk Taeyeon. “Lagipula, kenapa kau sulit percaya dia membawa masuk perempuan?”

YoonA ingin menjawab pertanyaan Taeyeon. Namun, YoonA segera menghentikannya karena di depan mereka baru saja lewat seorang laki-laki yang selama dua hari ini mampu membuat Taeyeon bermimpi tentang dia. Dan beberapa siswi yang ada disitu meneriakkan namanya. Jaejoong hanya berlalu begitu saja, tidak balik menyapa.

Jaejoong sunbae.

“Dia…” ujar Taeyeon.

Jaejoong melangkahkan kakinya dengan ringan menuju taman sekolah sambil membawa sebuah buku dan satu pensil. Di sisi lain, Taeyeon juga melihat Luhan yang baru saja masuk ke dalam taman itu.

“YoonA-ah, sepertinya Luhan sudah menungguku. Kau boleh ke kelas terlebih dahulu,” ujar Taeyeon sambil nyengir.

“Okay, aku akan menunggu di kelas. Selamat bersenang-senang. Bye,” goda YoonA. Ia mengedipkan sebelah matanya, membuat Taeyeon malu seketika.

Setelah YoonA pergi, secara perlahan-lahan Taeyeon mengikuti jalan yang di lalui oleh Jaejoong tadi. Ia juga berusaha untuk tidak ketahuan lagi. Kali ini, Taeyeon ingin melihat Jaejoong lebih lama dan apa yang dilakukannya.

Ternyata Jaejoong duduk di bangku panjang seperti kemarin. Dengan gayanya yang santai, Jaejoong menuliskan sesuatu di dalam buku itu. Taeyeon memerhatikannya di balik pohon rindang yang ada di taman itu. Melihat seluruh gerak-geriknya saja membuat Taeyeon senyum-senyum sendiri.

Sekitar lima belas menit Taeyeon memerhatikan Jaejoong dan Jaejoong tidak menunjukkan tanda-tanda ia curiga. Jaejoong terus menulis di buku itu. Sesekali ia menatap langit dan kembali menulis. Tepat saat itu, bel sekolah berbunyi, menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Taeyeon tersentak kaget. Dan yang lebih membuatnya kaget adalah saat Jaejoong menolehkan kepalanya ke arah pohon rindang tempat Taeyeon bersembunyi.

Dengan sigap Taeyeon menyembunyikan tubuhnya dan ia berdoa dalam hati semoga Jaejoong sama sekali tidak sadar akan keberadaannya. Hati dan jantung Taeyeon benar-benar panik. Ia menunggu Jaejoong pergi dari taman dan setelah itu ia juga akan keluar.

Setelah merasa yakin Jaejoong sudah pergi dari taman, Taeyeon mengintip ke arah bangku panjang itu. Dia tidak ada lagi. Bangku itu kosong. Taeyeon menghela nafas panjang dan ia segera terduduk di rerumputan. Kakinya benar-benar lemas saking takutnya Jaejoong mengetahui keberadaan dirinya.

Taeyeon memegang dada kirinya dan ia dapat merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Apalagi saat ia melihat Jaejoong tadi. Rasanya ia bahagia.

Apa ini cinta?

Taeyeon kembali teringat percakapan antara dirinya dan YoonA kemarin malam tentang perasaannya yang bahagia dan jantungnya yang serasa melayang begitu melihat Jaejoong. Dan jawaban YoonA benar-benar membuatnya kaget.

-Flashback-

“Aku begitu terpesona saat melihatnya pertama kali, YoonA-ah. Entahlah, tapi aku menyukai sikap dinginnya saat ia menyelamatkanku. Kau tahu, ‘kan aku benci laki-laki yang mengumbar kata-kata manis? Jaejoong sunbae berbeda. Perlakuannya kemarin sangat gentle dan menurutku laki-laki seharusnya seperti dia.

“Aku juga merasa senang bertemu dengannya. Dan jantung ini tidak bisa diam saat melihatnya. YoonA-ah, aku belum pernah merasa seperti ini kepada laki-laki lain,”

YoonA terdiam mendengar curahan hati Taeyeon. Tampaknya ia sibuk berpikir. Dan matanya mendadak berbinar-binar sekali. Wajahnya menampilkan senyumannya yang teramat manis.

“Ya, Taeyeon-ah! Pabo! Kau jatuh hati pada Jaejoong sunbae, apa kau tahu? Woaah, untuk pertama kalinya sahabat terbaikku menyukai laki-laki!!” seru YoonA sambil tertawa.

“Jatuh hati?” tanya Taeyeon. Ia sedikit bimbang dengan jawaban YoonA. “Apa memang iya? Tapi, aku tidak ingin merasakannya sekarang YoonA-ah. Kau tahu, ‘kan jatuh hati itu selalu sakit di ujung?”

“Aniya, tidak selamanya seperti itu. Dengar, love is never fails, honey. Cinta tidak akan selamanya membawa kesedihan. Kalau kau jatuh hati pada orang yang salah, kau akan merasakannya. Tapi kau jatuh hati dengan seseorang yang baik seperti Jaejoong sunbae. Dia tidak pernah menyakiti hati perempuan. Oke, memang tidak pernah karena ia juga tidak peduli dengan perempuan. Maksudku, hey. Kau mungkin bisa saja jadi seseorang yang ia ‘lihat’. Aku bisa mencari tahu bagaimana tipenya melalui Chanyeol.

“Jangan pernah takut untuk mencoba merasakan bagaimana rasanya cinta, apa kau tahu? Ini pertama kalinya kau jatuh cinta dan nikamtilah. Belajar sesuatu hal yang baru. Tidak selamanya laki-laki di dunia ini brengsek. Kalau kau yakin dengan cintamu, aku juga merasa yakin kau bisa menjadi cinta Jaejoong sunbae. Ini cinta pertamamu, cobalah untuk mengembangkannya dengan tulus. Bersabarlah, karena suatu saat nanti cintamu akan menjadi cinta yang indah. Dan aku akan selalu memberimu support,”

“Dan kalau aku bukanlah perempuan yang diimpikan Jaejoong sunbae? Aku tahu, tidak semestinya seseorang yang kita suka harus menyukai kita juga. Tapi, mungkin aku akan sedikit merasa patah hati. Itu yang paling aku takutkan. Aku takut jatuh cinta karena tidak ingin merasakan itu. Kalau aku merasakan itu, kau akan selalu ada di sampingku, ‘kan YoonA-ah?” tanya Taeyeon.

“Eoh, tentu saja. Alaways stay by your side,” jawab YoonA sambil tersenyum manis.

-Flashback end-

Taeyeon tersenyum kecil ketika ia teringat kembali ucapan YoonA yang membuatnya tetap menjaga perasaan ini agar selalu hangat untuk Jaejoong.

“Kalau aku bertemu dengan dia nanti, aku akan langsung mengembalikan sapu tangannya,” gumam Taeyeon.

Taeyeon bangkit dari rerumputan itu dan ia hendak menuju ke kelas. Namun, ia langsung teringat dengan janjinya pada Luhan. Bekal sarapan Luhan.

“Aigoo,” keluh Taeyeon. Ia menepuk dahinya pelan.

Secepat kilat, Taeyeon berjalan cepat masuk ke dalam taman sekolah. Ia mencari-cari Luhan di taman itu dan menemukannya sedang asyik bermain rubiknya di sebuah bangku panjang. Taeyeon menghembuskan nafasnya, lega karena ia masih menunggu. Walaupun sedikit merasa bersalah karena terlambat, Taeyeon langsung menghampirinya.

“Aku tidak menyangka kau masih menungguku,” sapa Taeyeon. Ia duduk di samping Luhan sambil membuka kotak bekalnya. “Mian, aku sedikit terlambat,”

“Aku sudah tidak selera makan lagi,” kata Luhan dengan ketus dan tanpa memandang ke arah Taeyeon. “Bawa saja sana dan masuk ke dalam kelas. Kelas pasti sudah dimulai,”

“Mianhae. Aku tahu aku salah, mianhae. Tapi bukan berarti kau tidak sarapan, ‘kan? Ayolah, tidak perlu marah seperti itu. Aku janji tidak akan mengulanginya. Dan kalau kau menyuruhku ke kelas, bagaimana denganmu?”

“Aku tidak masuk. Aku tidak bisa mencerna pelajaran jika perut kosong,” jawab Luhan, dengan ketus lagi.

“Kalau begitu makanlah. Ya, aku bisa kena marah Jung seonsaengnim nanti. Chanyeol dan yang lainnya juga akan marah padaku karena aku tidak mengerjakan hukumanku dengan baik,”

“Memang tidak baik. Kau sangat terlambat,” kata Luhan.

“Aku sudah minta maaf. Apa lagi yang harus aku lakukan? Kau seperti anak kecil,”

Luhan diam. Tampaknya ia sibuk berpikir. Sebuah ide brilliant muncul dalam benaknya dan smirk-nya pun muncul.

“Aku mau makan asal wortel dan tomat kau yang memakannya,” kata Luhan tiba-tiba.

“Arraseo, arraseo. Aku akan memakannya. Padahal tomat ini untuk kesembuhanmu,” ujar Taeyeon, sedikit kesal.

Luhan tersenyum senang dan ia mulai makan dengan senang hati disuapi oleh Taeyeon. Taeyeon sengaja menyisakan wortel dan tomat-tomat bulat yang kecil-kecil itu agar Luhan tidak memakannya.

“Nah, ayo makan. Kalau dibuang, sayang sekali. Kau sudah memasaknya dengan susah payah,” kata Luhan.

Taeyeon menatap tajam Luhan dan ia mulai mengambil wortel itu dan memakannya. Ketika Taeyeon mengambil tomat kecil itu dan mengapitnya di bibirnya untuk membelah duanya, Luhan tiba-tiba memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Taeyeon. Taeyeon terbelalak kaget sekali ketika Luhan mengambil tomat yang ada di bibirnya dengan menggunakan bibir milik Luhan. Dan Taeyeon dapat merasakan sentuhan kecil bibir Luhan yang lembut di bibirnya.

“Rasanya enak. Aku baru saja berpikir untuk harus memakan sayuran ini,” kata Luhan. Ia tersenyum lebar kearah Taeyeon sambil mengunyah tomatnya dengan santai.

Taeyeon terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Luhan, dengan sengaja merebut ciuman pertamanya. Dan itu membuat ubun-ubun di kepala Taeyeon meledak. Jantungnya berdebar kencang sekali.

“YA! XI LUHAN!”

 

-To Be Continued-

 

Sesuai janji, autor update ff ini lebih cepat hahaha^^. Dan chapter selanjutnya juga akan lebih cepat dipublish jika banyak SIDERS yang taubat kekekekek^^

Oh, ya gamsahamnida buat readers yang semangatin author UAS hehehehe.

Ini on the way to UAS, kalau agak lama publish ff-nya, harap dimaklumi, ne?^^ annyeong #kiss

Advertisements

76 comments on “Ma Boy~ (Chapter 3)

  1. wanjeon! ciuman kecil rupa’a hohohohoho
    aku suka karakter jaejoong di sini….thor nnti klo buat ff lgi, maincast namja’a dingin trus taeng’a polos cute2 gtu #plak!…CAYO author-nim!!!

  2. AAAAA!! LUHANN!
    Gakebayang ekspresi taeyeon gimana :v luhan..luhan –”
    anu (?) tadi saya masi liat ada sedikit kesalahan ama bakornya, mohon diperbaiki dan di cek lagi.

  3. Aaaaaaaaaaaaaahhhhh~~~~~
    Demi apapun
    Luhan BYUNTAE sekaleeeeeeeee
    itu itu bisa banget alasan jadi asisten digunain buat deketin Taeng eonni

  4. O M O
    O M O
    O M O

    O C I D A K
    LUGE NGEREBUT FIRST KISS TAENG EONNI >_____________<
    caranya sweet bangettttt ikhhhhhh

    ❤ ❤ ❤ I LIKE IT ❤ ❤ ❤

  5. Auh auh auh , aku senyam senyum sendiri baca chap 3 ini . .
    Yeonnie Yeonni kau ternyata benar benar polos. Wkwkwkwk . . .
    Jaejoong nulis surat cinta ya ? hayoloh buat siapa itu ?? dan Luhan err begitu WOW ternyata mengambil wortel langsung dari mulut Taeyeon -,-”
    next ditunggu ne ^^
    BIG HWAITNG ^^!!! Author-ssi ^^~

  6. omo luhan menyebalkan kau merebut first kiss uri Taeyeonie but gwaenchana itu really really romantis. authornim daebakkkk^^

  7. Penasaran ama kelanjutannya. Serius deh
    Awal2nya bikin ngakak. Sweet bgt pas adegan taeyeon curi2 pandang ke jaejoong. Bagusss
    Fighting thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s