Polkadot Man (Chapter 3)

PM

Title
Polkadot Man (Chapter 3)
Author
DeliaAnisa
Genre
Romance, Comedy, and Fantasy
Length
Multichapter
Rating
PG-15
Main Cast
Kim Taeyeon and Xiou Luhan
Other Cast
Bang MinAh and other
Disclaimer
Ini FF hasil dan murni dari imjinasi saya, maaf jika ada kesamaan dan tentunya itu tidak disengaja, and don’t plagiat.
Author Note
Chapter kali ini… akan terungkap siapa sebenarnya yang telah mengutuk luhan 
So, Happy reading and enjoy ^^

“apakah?” taeyeon menggantungkan kalimatnya ketika melihat pria polkadot itu tengah memandangnya dan tersenyum?
Luhan cepat-cepat membuang mukanya dan melanjutkan kembali untuk berjalan pergi menuju bukit.
“apakah ia yang melakukan ini semua? Sudah kuduga, pria itu memang punya sihir.”
.
.
.
Chapter 3
Taeyeon merasa bosan ketika hanya bermain-main dengan payungnya, setelah ekor matanya melirik pria asing itu pergi, ia tersenyum penuh arti. Ia rasa, ia perlu mengikuti langkah kemana perginya pria itu. toh, ia juga tak ada pekerjaan sama sekali. Akhirnya, taeyeon melangkah dan mengikuti pria itu dari belakang dan hanya punggung pria itulah yang dapat ia lihat sekarang.
Luhan bersmirk, saat ia mendengar suara ketukan langkah kaki yang begitu khas suara sepatu wanita dibelakangnya. Walaupun ia tau bahwa gadis itulah yang sejak tadi membuntutinya, namun luhan membiarkannya dan lebih memilih untuk mengabaikan keberadaan gadis itu. Setelah sampai dibukit, luhan menghentikkan langkahnya dan cepat berbalik. Taeyeon seketika tersentak dan hanya bisa tersenyum bodoh didepan luhan.
“annyeong.” Taeyeon mengangkat tangannya rendah dan masih dengan senyum bodohnya.
Luhan tidak menanggapi dan tak menghiraukan sapaan itu, lebih baik ia duduk dibawah pohon dan mulai kembali menjalani rutinitas disetiap paginya. Melukis.
Senyum taeyeon langsung lenyap, aneh? Tentu saja aneh, bukankah selama ini belum pernah ada lelaki yang mengacuhkan keberadaan dirinya?
“Lelaki itu, kenapa bisa mengabaikanku-“ taeyeon memberi jeda sementara dan dalam hitungan detik ia sudah menghadap cermin kecil yang ia ambil dalam tas selempang yang tersampir dibahunya.
“wajahku masih terjaga, tak ada jerawat dan tak ada juga noda hitam diwajahku. Pesonaku semakin tambah meningkat, tapi kenapa dia tidak tertarik denganku?” gumam taeyeon sambil mengerucutkan bibirnya, kesal. Ia memandang pria itu yang tengah melukis dengan tenang dibawah pohon maple.
Mata taeyeon mebelalak. “melukis? Sejak kapan ada sebuah kanvas dan cat air? Seingatku, pria itu hanya pergi dengan tangan kosong. Seingatku juga, tak ada apapun dipohon sana. Pria itu semakin mencurigakan.” Batin taeyeon dan pandangannya masih belum terlepas dari luhan, dengan tatapan menyelidiknya.
Taeyeon perlu penjelasan tentang ini, ia-pun melangkah mendekati luhan. Jangan lupakan, tangan kanan taeyeon memegang erat payungnya dan tangan kirinya masih memegangi kaca kecil berbentuk persegi.
Luhan lagi-lagi menggerutu dalam hati, gadis itu selalu muncul dimana saja. Disaat ia sedang butuh ketenangan, gadis itu pasti akan menghancurkan ketenangannya. Dan sekarang, saat luhan tengah dalam proses melukis objek didepannya –sebuah air mancur- tiba-tiba gadis itu menghalangi air mancur itu. luhan memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk tenang. Kemudian, matanya beralih pada gadis itu, dengan tatapan bingungnya.
“Jelaskan padaku tuan polkadot, kenapa kemarin kau dapat mengeluarkan cahaya ditengah kegelapan? saat aku terjangkit lem kayu kau menolongku dengan sangat cepat. Kalau itu bukan sihir, lalu apa namanya itu? aku tau, kau mungkin satu keluarga dengan spiderman, batman, capten amerika, dan super hero lainnya. Tunggu, mereka hanya punya kekuatan bukan sihir yahh. Ahh kalau begitu kau mungkin satu rumpun dengan peri yang selalu ada dibarbie bukan? Ckk… menggelikan. Jebal, katakan padaku.. sebenarnya kau ini apa? Dan siapa? Aku yakin pasti, kau bukanlah manusia biasa.” Ujar taeyeon dengan nada menuntut jawaban penuh.
Luhan terdiam, ia masih setia dengan wajah datarnya. Setelah cukup lama berdiam diri dan taeyeon-pun mulai resah karena tak ada jawaban. Pada akhirnya, luhan memberanikan diri untuk berdiri tepat dihadapan taeyeon. Ia menatapnya lekat-lekat sampai napasnya kembali tersenggal lagi karena sebuah pasang mata cantik itu bertemu dengan mata rusanya.
Taeyeon bersedekap. “kajja, bicaralah.”
“Untuk apa aku menceritakan sebuah hal penting seperti ini pada orang asing sepertimu? Atas dasar apa kau ingin tau semuanya? kau dan aku, tidak secepat itu seharusnya kita saling mengenal. Lain kali, kalau kau ingin menceritakan kisah hidupmu padaku. kau harusnya tau lebih dulu, aku orangnya seperti apa dan bagaimana. Jangan sampai kau salah bertindak. Bagaimana jika aku menyebarkan semua kisahmu pada media? Apa kau akan menyalahkanku? Jadi, maksudku adalah… kalau kau terus mencurigaiku, aku akan bergerak cepat menyebarkan semuanya.” jelas luhan panjang lebar.
Luhan berbohong dengan perkataannya, luhan bukanlah manusia dengan mulut besarnya. Ia hanya tidak ingin taeyeon mencurigai wujud aslinya, untuk itu ia berusaha mungkin untuk menghindari hal itu dengan cara seperti ini. Mengancam taeyeon.
Taeyeon terdiam, ia menilik luhan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Taeyeon tidak yakin orang ini seperti itu.
“tidak, aku tidak percaya. Aku percaya dengan semua yang dikatakan oleh hatiku, dan hatiku… hatiku mengatakan kalau kau hanya ingin terus menutupi apa yang ingin selalu kau sembunyikan. Aku tau dari matamu, matamu bicara padaku.. kau takut akan sesuatu. Karena kau takut rahasiamu terbuka, akhirnya kau melakukan ini padaku. berpura-pura mengancamku demi bersembunyi pada kenyataan sebenarnya yang terjadi didalam dirimu,” Taeyeon menghentikan kalimatnya sementara, ia menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan.
“Kau mungkin beranggapan aku adalah gadis yang tak tau diri. Berani menceritakan semua masalahnya padamu, dan sekarang aku berani mendesakmu untuk menceritakan apa yang telah terjadi denganmu. Tapi, sekali lagi… ini hanya dorongan dari hatiku yang entah kenapa merasa begitu peduli padamu. Karena hatiku juga, aku mempercayaimu. Jadi, kumohon jangan membenciku karena aku bersikap seperti ini. salahkanlah pada hatiku saja karena telah mendorongku menjadi seperti ini.” ujar taeyeon dengan tatapan lembutnya –tidak biasa.
Luhan tergelak, mulutnya terasa mengatup rapat-rapat. Gadis ini, kali pertamanya ia menemukan seseorang yang begitu keras kepala ingin tau tentang dirinya.
Luhan memandang taeyeon dengan tatapan teduhnya. Ia mencoba melihat kebenaran dimatanya. Dan luhan, telah menemukannya. Nyatanya, gadis itu memang gadis yang benar-benar tulus dan peduli dengan dirinya.
Luhan memainkan buku-buku jarinya, gelisah. Apakah ia harus membeberkan semuanya? sama halnya, seperti saat gadis itu menceritakan masa lalunya pada dirinya.
Apakah ia harus percaya dengan gadis ini juga?
Luhan masih ragu, ia merasa waktunya masih belum tepat. ia bukanlah manusia yang dengan mudahnya percaya akan kata-kata manis berupa bujukan. Akhirnya, luhan terdiam tidak berniat kembali menjawab pertanyaan yang terlontar demikian dari taeyeon. Luhan hanya perlu waktu untuk bisa terbuka pada seseorang. Apalagi gadis itu yang namanya saja luhan masih belum mengetahuinya. Karena ia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang selalu menyendiri, menutup diri, dan menghindari kontak dengan manusia lain… membuat luhan sangat sulit untuk terbuka pada seseorang.
“Bisakah kau pergi, kau telah mengganggu ketenanganku.” Luhan sengaja mengalihkan pembicaraan, karena luhan masih belum siap untuk bercerita mengenai jati dirinya pada gadis itu. masih terlalu jauh.
Taeyeon masih diam, memandang penuh selidik pada luhan. Sementara luhan yang hendak kembali terduduk, ia urungkan niatnya saat taeyeon menarik lengannya hingga ia memaksakan diri untuk menghadap kembali pada gadis itu.
“aku mengerti perasaanmu. Tapi.. sebelum aku pergi, aku ingin memberitahukan hal penting ini padamu.” Taeyeon menatap mata luhan dan rambut luhan secara bergantian. Seperti ada sesuatu yang bertengger dirambutnya.
Luhan mengernyit bingung, ekspresi wajah gadis ini sangat sulit ia tebak.”Hal penting apa maksudmu?” Tanya luhan penasaran.
Taeyeon mendongakan kepalanya pada pohon, ada burung kenari yang bertengger didahannya. Lalu, matanya bergerak kembali tepat dirambut luhan. Astaga, taeyeon seratus persen yakin untuk sekarang, burung kenari itu membuang kotoran tepat dirambut luhan.
Taeyeon mengarahkan telunjuknya pada rambut luhan, seolah memberi isyarat pada luhan bahwa ada sesuatu disana. Yah, sesuatu yang amat menjijikan. Taeyeon diam-diam menahan tawanya saat luhan mulai memeriksanya.
Luhan segera mengangkat tangannya dan mencari apa yang dimaksud gadis itu. Setelah telapak tangannya menempel tepat dikotoran itu, luhan cepat menurunkan tangannya dari sana dan menatap apa itu. kotaran? Mata luhan terbelalak dan tangannya bergetar hebat. Ia benci dengan kotoran.
“tunggu, bersihkanlah dengan ini.” sergah taeyeon saat melihat luhan yang hampir saja berlari menuju sungai.
Luhan berdiam diri kembali, ekspresinya antara malu dan terkejut. Ia terpaku seketika mana kala taeyeon membersihkan telapak tangannya dengan tisu milik taeyeon. Taeyeon membersihkannya dengan cermat dan teliti, seperti tidak ingin menyisakan sedikitpun kotoran ditangan ini.
“Burung memang tidak punya sopan santun, seenaknya saja membuang kotoran dimana saja. Seharusnya burung punya polisi, tidak harus manusia saja. Kalau burung memiliki polisi dan keamanan lainnya, pasti dunia akan terlihat jauh lebih indah.” Ujar taeyeon disela-sela ia masih focus membersihkan tangan luhan.
Luhan tak henti-hentinya memandang taeyeon, jantungnya kembali berdemo. Apalagi ketika tangan gadis ini menyentuh tangannya, jantungnya semakin berdetak 100 kali lebih cepat dibandingkan biasanya.
“burung tidak berakal, jangan samakan manusia dengan burung. Bodoh.” Ucap luhan sambil tersenyum mengejek.
Taeyeon menatap luhan sengit, detik selanjutnya ia melemparkan tisu itu tepat diwajah luhan.
“bersihkan saja sendiri.” taeyeon berbalik cepat dan kembali mengambil payungnya, ia melangkah sembari menghentak-hentakkan kakinya –menjauhi pria itu. Tepat setelah ia mendaratkan payungnya diatas kepalanya, tiba-tiba hujan datang disertai guyuran angin kencang menerpa tempat ini.
“OMO.. Hujaaannn.” Taeyeon berteriak sesaat setelah hembusan angin yang kencang membuat air hujan menetes kemana-mana. Kerambutnya, kewajahnya, dan berakhir mulus dijaket tebal dan celana jeansnya.
Taeyeon harus rela dibuat kesal kembali oleh payungnya karena tidak henti-hentinya payung itu bergerak kesana-kemari. Lengkaplah sudah penderitaannya sekarang, taeyeon sudah dibanjiri air hujan ditambah kekasihnya –payung- yang tidak bisa diam.
“chagiaa.. apa kau marah padaku? kenapa kau bersikap aneh pagi ini? kau cemburu padaku karena pria itu (luhan) mendekatiku? Tenang saja, seluruh cintaku ini hanya untuk dirimu seorang, tidak ada yang lain. Kau mengerti? Maka dari itu, tolong jangan lari lagi dariku.. tetaplah bersamaku. Jebal.” Ucap taeyeon memelas, masih dalam menenangkan payungnya.
Setelah setengah jam membujuk payungnya agar tetap diam dan tenang. Taeyeon baru menyadari bahwa pria polkadot itu masih dibelakangnya. Tatapannya teralihkan menuju pria itu. astaga, taeyeon terkaget saat pria itu tengah meringkuk dan memeluk lututnya dibawah pohon. Keadaannya terlihat tidak baik.
Tanpa sadar, taeyeon membiarkan payung-nya terlepas dari genggamannya hingga kabur dan melayang-layang diudara. Kondisi pria itu jauh lebih penting untuk sekarang dibandingkan menenangkan payung-nya. ia berlari cepat dan berjongkok menyesuaikan diri dengan luhan.
“kau tidak apa-apa?” taeyeon bertanya dengan nada penuh kecemasan.
“pergilah.. aku tidak apa-apa.” Luhan menatap taeyeon sekilat dengan tatapan sayunya.
“sudah kubilang, matamu selalu membenarkan semua kebohonganmu. Sekarang, aku tau.. kau sedang tidak baik-baik saja.” Taeyeon mengguncang bahu luhan berkali-kali.
Luhan memandang taeyeon masih dengan tatapan sayunya. Melihat raut wajah gadis itu yang terlihat jelas mengkhawatirkan keadaannya, hatinya mencelos.
Tak ada sosok manusia yang memperdulikan keberadaannya, apalagi mengkhawatirkan keadaannya. Kecuali ibunya dan…gadis ini.
Ada kesamaan, antara gadis ini dengan ibunya. Akhirnya.. bayangan yang selama ini ia coba hindari, datang kembali.
“Anakku. Sudah kukatakan kulitmu akan sensitive dengan hujan. bukankah kau sudah tau tubuhmu jadi lemah jika kau terkena percikan air hujan eoh? kau harusnya mendengarkan ibu.. cuaca mendung kau tidak boleh pergi kemana-mana. Kau membuat ibu takut, ibu takut air hujan memisahkanmu dengan ibu. Karena ibu tau, kelemahanmu adalah hujan. hujan adalah musuhmu.. lain kali, jangan pergi saat cuaca gelap.. arra?”
“Apa perlu aku menghubungi ambulance untuk mengantarmu kerumah sakit? Kau terlihat sangat tidak baik.”
Bayangan ibunya lenyap, digantikan menjadi sosok wanita cantik yang tengah mengkhawatirkan dirinya didepannya sekarang, bukan ibunya lagi. Detik sebelumnya, ia dapat melihat bayangan ibunya beberapa taun yang lalu –sebelum ibunya pergi meninggalkan dirinya. Saat ibunya selalu memperdulikan dirinya, hingga saat itu ia merasa beruntung telah memiliki seorang ibu seperti ibunya. Namun, luhan salah mengartikan ketika ibunya meninggalkan dirinya sendirian. Ia merasa, tidak cukup beruntung memiliki ibu seperti ibunya.
Setelah semuanya normal kembali, luhan sudah menyadari bahwa didepannya sekarang bukanlah ibunya..Luhan hanya dapat tersenyum pahit.
“mereka meninggalkanku, mereka juga membuangku. Aku tidak percaya pada orang-orang yang terlihat peduli padaku, itu hanya sebuah kebohongan bukan? Kau.. tinggalkan aku sendiri, jangan peduli padaku. pada akhirnya itu akan menyakitiku juga, selanjutnya kau akan meninggalkanku juga. Sekarang, pergilah.” Ucap luhan dengan suara yang tercekat hebat. Ia melepaskan tangan taeyeon yang semula bertengger dibahunya. Lalu , ia berdiri dan mencoba berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh.
Luhan belum tau bahwa taeyeon adalah seseorang yang keras kepala, ia tidak peduli apa yang sedang didalam pikiran luhan. Dengan sigap, taeyeon manarik tangan kanan luhan dan melingkarkan kebahunya.
“jangan menyombongkan dirimu, kau ini tidak akan selamat jika tanpaku. Sekarang jangan mencoba berontak dan jangan mengatakan apapun. Kata-katamu tadi, aku masih penasaran. Tapi, aku tidak akan menanyakannya dalam kondisi buruk seperti ini.” setelah menyelesaikan kata itu, napas taeyeon terengah-engah karena membopong tubuh luhan. Luhan benar-benar dalam keadaan setengah sadar, yang membuat ia membiarkan taeyeon membantunya dalam berjalan. Ia sama sekali tidak memberontak, entah kenapa posisi seperti ini membuatnya merasa tenang dan nyaman.
.
.
.
Taeyeon menghela napas lega dan mengusap keringat yang berada disekitar wajahnya dengan sebuah tisu. Taeyeon berhasil membawa luhan kerumahnya dan ia sudah membaringkan tubuh luhan diranjangnya dalam pakaian yang dibiarkan basah kuyup. Taeyeon memperhatikannya disegala sudut, pria itu tampak damai saat tertidur.. bibir tipisnya dan lekukan-lekukan wajahnya begitu mempesona. Dalam kulit seperti ini saja sangat menarik, apalagi jika dalam keadaan normal? Waw taeyeon tidak dapat membayangkan seberapa tampannya luhan dimatanya kalau seperti itu.
Taeyeon menyadari seluruh pakaiannya juga basah kuyup, tapi ia tidak cukup peduli dengan kondisinya saat ini. ia hanya tengah menimbang-nimbang, apakah ia perlu menggantikan pakaian luhan? Kondisi luhan jauh lebih buruk darinya. Bibirnya pucat pasi, dan kulit polkadotnya sedikit ada tanda kemerahan. Taeyeon berjalan kesana-kemari, ia memainkan tangannya penuh kegelisahan.
Apakah harus ia membukanya?
Atau tetap seperti ini?
Jika dibiarkan seperti ini terus, bukankah kondisinya akan lebih memburuk?
“Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin jika aku melakukannya. Oh my god, situasi ini benar-benar buruk.” taeyeon masih bergerak kesana-kemari dan mengacak-acak rambutnya asal.
Taeyeon tersentak kaget saat mendengar suara erangan penuh kesakitan dari luhan, itu sukses membuat taeyeon mengiyakkannya. Ya, ia harus melakukannya demi menolong seseorang. Well, ini pertama kalinya ia benar-benar peduli akan seseorang.
Perlahan, taeyeon mendekatkan diri dengan luhan ditepi ranjang. Belum sempat ia menyentuh pakaian luhan, tiba-tiba.. ada cahaya yang berkilat sekilat dimatanya. Setelah cahaya itu hilang, pakaian luhan sudah berbeda.
Taeyeon membulatkan matanya dan langsung menjauhkan diri dari luhan hingga punggungnya bertubrukan dengan dinding.
“astaga. Bagaimana bisa kau sudah mengganti bajumu dalam satu detik?” taeyeon mengelus-elus jantungnya yang berdetak cepat karena kaget saat luhan tiba-tiba bisa mengganti bajunya dalam waktu yang sesingkat itu.
Mata luhan masih terpejam erat, tapi ia masih merasakan kehadiran taeyeon disana. ia hanya ingin beristirahat dan mencoba menormalkan kembali suhu tubuhnya yang semula mendingin nyaris menjadi patung es. Ia menarik selimutnya dan berbalik memunggungi taeyeon yang masih terpaku hebat disana.
“Itu hebat tuan polkadot, apakah itu termasuk dalam trick sulap? Kalau itu benar, aku ingin kau mengajariku trick itu. Oh aku juga ingin trick seperti dirimu yang mengeluarkan cahaya indah ditubuhmu. Selain kedua trick itu, apakah ada yang lain? Aku akan memberikanmu banyak uang kalau kau mengajariku itu semua. Kau.. ingin berapa? Katakan cepat? Kau pasti menginginkan uang kan?”
“Bukankah kau sudah tau aku tengah sakit? Kenapa kau bertanya hal aneh seperti itu padaku? lebih baik kau pulang dan ganti pakaianmu!!” luhan sedikit meninggikan nada suaranya. Gadis itu kembali berulah lagi. Apakah ia perlu memberikan lem kayu dibibir gadis itu? Percayalah, luhan tidak akan melakukan hal kasar seperti itu.
“sebenarnya aku ingin segera pulang dan mengganti pakaianku. Tapi aku masih penasaran denganmu, perkataanmu tadi terdengar sama seperti yang kualami. Katamu, kau ditinggalkan.. katamu juga, kau dibuang. Oleh siapa? Oleh kedua orang tuamu? Kenapa?” kali ini nada yang terlontar dari bibir taeyeon sedikit serius.
Luhan mendengarnya, sangat mendengarnya. Dan gadis itu kembali mengingatkannya pada masa lalunya. Hatinya kembali sakit, seperti sebuah benda berbentuk runcing menusukkan tepat diulu hatinya. Teramat sakit.
“aku berbeda denganmu. Aku tidak akan bercerita pada sembarang orang. Jangan bertanya lagi, dan sekarang aku mengusirmu. Cepatlah pergi dari rumahku.” Kalimat terakhir yang terucap dari luhan sangatlah mendesis. Itu menandakkan bahwa ia memang tidak menyukai bila gadis itu tetap disini dan terus menerus mendesaknya untuk bercerita.
“geurae, aku akan segera pergi. Tapi, setelah kau percaya padaku.. kau boleh menceritakan semuanya sesuka hatimu padaku. aku akan selalu menjadi pendengar yang baik untukmu. Aku hanya ingin sepertimu, kemarin malam kau mendengar dan menyimak ceritaku dengan sangat baik. Setelah aku membuka semua ceritaku padamu, rasanya aku jauh lebih baik dari sebelumnya. Beban berat yang selama ini menanggungku sedikit berkurang karena aku telah mengungkapkannya dan kau telah memberikan solusi yang baik terhadapku. Untuk itu, kau harus jadi sepertiku dan aku akan berusaha menjadi seperti dirimu.. menjadi pendengar yang baik. Kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau jika kau perlu mengungkapkan semua isi hatimu. Aku pasti akan mendengarmu. Aku pergi.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, taeyeon pergi kembali kerumahnya.
Luhan tak berhenti memikirkan kalimat gadis itu, apakah ia harus seperti taeyeon? Berani menceritakan semua mengenai dirinya?
Luhan masih tetap meragukannya.
.
.
.
Sebelum tidur, taeyeon memainkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang, manajer kim.
“yeobseo.. oh taengi, kau baik-baik saja disana?”
“sangat baik, disini aku bisa mencium aroma pepohonan.. aku menyukainya. Tapi, kurasa beberapa hari kedepan aku akan merasa bosan. Untuk itu, aku punya satu permintaan untukmu.”
“ehmm.. permintaan.. apa itu?”
“aku ingin mengikuti casting drama kembali.”
“jangan bercanda taengi, kau ingin tim produksi drama itu menolak acting burukmu itu? ahh maksudku, kau tidak ingin dipermalukan oleh mereka bukan?”
“aku benar-benar serius. Aku ingin mencobanya kembali, dan manajer kim kau harus tau aku bukannya tidak memiliki kemampuan dalam berakting. Hanya saja, aku tidak terlalu focus saat itu. Apa kau tetap meragukan kemampuanku eoh?”
“ahh.. tidak, aku tau kau pandai dalam berakting. Tapi aku hanya mengingatkanmu agar tidak terlalu cepat mengambil sebuah keputusan. Kau harus ingat satu tahun yang lalu, banyak artikel mempermalukan dirimu dan fansmu sangat menyayangkan keputusanmu itu. Kau cukup menyanyi dan menari sajalah taengi, kau sudah sangat keren seperti itu.”
“Tapi aku berjanji, kali ini kasus seperti itu tidak akan pernah terjadi kembali. Aku akan berlatih keras disini, suasana disini sangatlah cocok untukku berlatih. Kalau kau masih tidak percaya denganku, apa aku perlu mengingatkanmu tentang konsekuensinya?”
“a..anni.. tidak perlu, baiklah aku percaya padamu. Besok akan aku kirimkan naskahnya padamu. Sekarang tidurlah.”
“Oke.”
Setelah menutup komunikasi dengan manajer kim, taeyeon segera memindahkan ponselnya kenakas samping ranjangnya dan menarik selimut, lalu tertidur.
.
.
.
Matahari sudah memunculkan sinarnya dan telah keluar dari peraduaannya. Taeyeon menyibakkan selimutnya dengan mata yang masih belum sempurna terbuka.
“hoaaamm.. mana ponselku?” tangan taeyeon bergerak kesana-kemari. Ia mencari ponselnya dibalik bantal, selimut, dan dibawah ranjang.
“MANA PONSELKU?” Ia berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Ohh, penampilannya semakin buruk saja.
Ia keluar dari kamarnya mencari ponselnya yang faktanya memang berada dinakas tepat disamping ranjangnya. Taeyeon melupakan itu.
Taeyeon mencari-cari ponsel itu sampai keluar rumahnya, ia merangkak menuju rerumputan dihalaman rumahnya. Jangan lupakan, rambutnya masih berantakan dan penampilannya terlalu kusut –lazim pada seseorang yang baru terbangun dari tidurnya.
“Kitty (nama ponsel) kitty.. kitty.. please come here, baby.” Taeyeon mengambil pot tanaman, barangkali ponselnya tertimpa disana.
“tak ada? Ohh kitty.. kitty.. kau dimana?” taeyeon berdiri, kepalanya ia putarkan kekanan dan kekiri, barangkali ponselnya dapat terbang dan ingin mengerjai dirinya.
Taeyeon berkacak pinggang, mulai kesal.
“Kitty sayang, kalau kau tetap seperti ini. Eomma akan menggantikan dirimu dengan yang baru. Jadi, please jangan mengerjai eomma seperti ini. Bukankah kau pernah bilang padaku, kalau kau tidak ingin tergantikan huh?” taeyeon mendengus kesal.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
“Oh My God, mianhae kitty. Eomma tidak ingat kalau kau tidur disamping eomma.” Ujar taeyeon sambil menepuk dahinya, lalu ia berlari menuju kamarnya dan menemukan ponselnya masih tertidur dengan baik disana.
“anak baik…-huh? naskahnya sudah terkirim baby? Eomma akan segera membukanya.”
Taeyeon tersenyum senang saat membaca isi ceritanya. Ia memainkan jari-jarinya lihat diatas sana. Sampai jarinya berhenti tatkala ia menemukan kata ‘kiss’. Itu berarti akan ada kiss scene?
Taeyeon langsung menyentuh bibirnya, ia tidak ingin bibirnya menempel dengan bibir sembarang orang. Ia punya kriteria khusus bagi pria yang ingin menciumnya.
“aku tidak mau melakukannya kalau pria itu tidak memiliki bibir yang menarik. Bibir itu harus semerah cherry, bibir itu harus terlihat manis dan selain bibir, pria itu harus punya mata yang mempesona. Seperti lee min ho? Song Joongki? Jang Geun Suk? Dan Kim Woobin. Ahh tapi, mana mungkin untuk sebuah casting drama dapat dimunculkan pria tampan seperti mereka…” Ucap taeyeon seraya mengacak-acak rambutnya frustasi kembali.
Tapi..
Taeyeon tiba-tiba saja teringat akan bibir itu (luhan), bibir pria itu sangatlah mempesona. Bibir sewarna cherry dan manis, itu adalah criteria pas untuk bibir taeyeon. Tanpa sadar, jantung taeyeon berdetak cepat saat ia membayangkan ia dengan luhan berciuman.
“argggghhh.. itu menjijikan! Kenapa harus pria polkadot itu huh? astaga taeyeon, sadarlah!!” taeyeon menepuk-nepuk pipinya berusaha menyadarkan pikiran kotor yang semula terlintas diotaknya.
.
.
.
Ditempat yang berbeda, diruangan tertutup dengan interior bernuansa Negara tiongkok ini terdapat kedua wanita paruh baya yang tengah saling menyesap teh herbal. Suasana ditempat ini sangatlah sunyi dan tentram, dalam beberapa menit lamanya mereka saling menikmati kepulan asap yang berasal dari teh herbal itu sendiri. Rasanya hangat, namun tetap menyegarkan.
Setelah dirasa cukup puas menyesap teh, kim haneul (nenek taeyeon) menyimpan kembali cangkir teh itu pada tempatnya. Ia merogoh sesuatu ditasnya dan mengambil sebuah amplop cokelat, lalu ia perlihatkan pada seorang wanita yang seumuran dengannya didepannya. Ia menggeser amplop itu tepat dihadapan wanita tua itu.
“apa ini?” Choi Hana (nenek luhan) menatap amplop dan kim haneul secara bergantian, dengan tatapan tidak mengertinya.
“Aku perlu menjelaskan maksudku datang kemari. Itu adalah uang, besarnya sama seperti saat kau memberikannya padaku beberapa tahun yang lalu..-“
“Aku tidak ingat, kapan aku memberikanmu uang.” Potong choi hana masih dengan ekspesi bingungnya.
“Saat kau memintaku untuk mengutuk cucumu ditahun 1990, kau memintaku agar putrimu dapat menyesali perbuatannya karena telah menikah dengan pria yang menurutmu salah. Maka dari itu, kau memohon padaku untuk tidak memberikan kebahagian pada mereka. Kau memberikanku 1 milyar won setelah aku berhasil mengutuk cucumu, putera dari anakmu. Aku menyelesaikan tugasku dengan sangat baik, aku berhasil membuat anakmu dan suaminya tidak berbahagia. Aku telah berhasil memberikan sebuah penderitaan bagi mereka, terutama pada anaknya (luhan). Cinta mereka yang kau tantang, akhirnya berakhir sudah karenaku, karena putera mereka yang terkutuk.”
“Jika saat itu aku tidak mendengarmu, dan tidak memenuhi permintaanmu.. cucumu tidak akan mendapatkan luka seperti ini. dia tidak sama, dia sangat berbeda dengan manusia lainnya.. dan tidak seharusnya dia mendapatkan kutukan ini. Setelah aku menyadari semuanya, pria itu nyatanya tidaklah salah.. anak itu tidak ada sangkut pautnya dengan dendammu pada pria yang dicintai puterimu. Anak itu sangatlah malang, tidak sepantasnya kita memperlukan hal ini padanya.”
“Uang ini aku berikan kembali padamu, aku menyesali apa yang telah aku perbuat dimasa lalu. jumlahnya sama dengan jumlah uang yang kau berikan padaku saat itu. Tapi, kesalahanku tidak dapat terhapuskan begitu saja. Jika perlu, lebih baik aku diperlakukan sama pula seperti saat aku menghancurkan kebahagiaan seseorang. Aku pantas mati ditangan mereka.” Jelas kim haneul dengan nada suara penuh penyesalan.
Choi Hana tercengang dan membeku, tidak bergerak sama sekali. Ia sibuk mencerna setiap kalimat yang diutaran oleh sahabatnya ini –kim haneul. Ia terdiam bukan karena ia ikut bersalah karena hal ini –tentang kesepakatan dalam pengutukan pada cucunya 24 tahun silam, melainkan ia masih tidak percaya jika kim haneul, akan bersikap merasa bersalah seperti ini. Kim Haneul yang ia tahu adalah seorang wanita dengan kelebihan yang ia miliki –ilmu hitam tidak pernah bersikap penuh penyesalan seperti ini. Kim haneul sangat bahagia ketika menghancurkan kebahagiaan seseorang, kim haneul akan bangga setelah ia berhasil mengutuk seseorang. Tidak ada kata ‘kasihan’ dikamus hidupnya. Seperti langit dan bumi dari kim haneul yang dulu dan sekarang, perubahannya begitu sangat jauh. Kim Haneul adalah wanita dengan julukan ‘iblis’ karena ilmu yang ia miliki sangat menyimpang pada ajaran Tuhan. Tapi, sekarang? kim haneul begitu mulia dan seperti manusia yang terlepas dari dosanya. Kim Haneul (nenek taeyeon) telah berubah.
Mengenai, masalah choi hana (nenek luhan) dengan puterinya masih berlanjut. Seperti tak ada celah untuk bisa menemukan jalan keluar untuk mereka. Terlalu rumit permasalahan mereka. Sampai choi hana sudah menutup rapat-rapat rumahnya, seolah tidak memberikan kembali kesempatan untuk puterinya datang kembali kerumahnya. Ia membiarkan puterinya berkeliaran diluar sana dan satu tahun yang lalu, choi hana sudah menghapus puterinya (ibu luhan) dari daftar keluarga. Hal itu disebabkan karena sang anak pergi dan menikah diam-diam dengan pria yang amat ia benci. Dan sekarang, choi hana tidak pernah kembali bertemu dengan puterinya.
“Aku tidak pernah bertemu kembali dengan puteriku, aku sudah tidak memperdulikan dia lagi. Aku tidak peduli jika anaknya menderita, aku juga tidak terlalu memusingkan hal itu. Aku sudah cukup bahagia tanpa puteriku. Jadi, tentang pengutukan itu… aku tidak pernah menyesalinya.” Ucap choi hana sambil menyesap kembali teh herbal yang sudah tidak hangat lagi.
.
.
.
.
Sudah lebih dari 2 jam taeyeon menjadikan sebuah pohon sebagai lawan mainnya disebuah casting drama nanti. Ia meringis sesaat setelah ia menyadari bahwa ia cukup gila karena telah melakukan hal ini dengan makhluk yang sama sekali tidak berakal. Terpaksa ia melakukan pelatihan bersama dengan pohon, tentunya penyebab utamanya adalah karena tak ada orang disini yang mau ia jadikan sebagai lawan mainnya, tak terkecuali pria polkadot itu. taeyeon sudah beberapa kali memperlihatkan aegyonya –seperti biasa- pada pria itu agar mau berpura-pura menjadi aktornya. Tidak perlu berbicara dan bergerak, luhan hanya perlu melihat matanya saja. Namun, luhan enggan melakukannya dan tetap dalam prinsipnya –ia tidak ingin kembali beruurusan dengan taeyeon.
“Pria berkepala batu, kau seharusnya beruntung aku bisa mengajakmu untuk berakting bersama. Semua laki-laki didunia ini mengantri begitu panjang karena ingin bernyanyi bersamaku, tidak peduli dengan panas dan hujan atau meteor sekalipun.. mereka tetap ingin bernyanyi denganku. Aisshh.. lelaki yang satu ini memang benar-benar sangat aneh. Aku penasaran… isi kepalanya apa yah? Apakah warna otaknya juga polkadot? Ckk.. lucu sekali.” ujar taeyeon sembari tersenyum kecut diakhir kalimatnya.
Tidak lama setelah taeyeon mengatakan kalimat itu, luhan keluar kembali dari rumah tuanya. Kali ini ia tidak memakai jubah hitam yang selalu ia pakai ditiap pagi. Sekarang luhan hanya memakai kaus berlengan pendek dengan celana sepanjang lututnya. Terlihat sangat sederhana, tapi begitu memikat.
Luhan berjalan mendekati taeyeon dan segera taeyeon menatap antusias kearah luhan.
“tuan polkadot, apa kau berubah pikiran? Kau ingin membantuku bukan?” Tanya taeyeon percaya diri.
Luhan memandang taeyeon dengan tatapan datarnya. “aku hanya tidak ingin mendengar suaramu yang mengganggu ketenanganku. Kau berteriak seperti seseorang yang tidak punya akal sehat. Sepertinya ada yang salah dengan otakmu, nona.”
Taeyeon menepuk tangannya satu kali sambil mengerjapkan matanya. “astaga, kau terganggu karena suaraku? kalau begitu…mianhae.” Ucap taeyeon dengan mimic wajah yang dibuat semenyesal mungkin.
“apa yang kau inginkan?” Tanya luhan dengan volume suara yang sedikit ia tinggikan.
“Bukankah kau sudah tau? Aku ingin menjadikanmu sebagai pemeran laki-lakinya, hanya untuk berlatih. Sudah kuduga, kau pasti berpikir dua kali untuk tidak menolak tawaran dariku ini bukan?” Tanya taeyeon balik, kali ini dengan tatapan menggodanya.
“Aku hanya tidak ingin kembali mendengar suara teriakanmu yang menjengkelkan. Jadi, cepatlah lakukan… waktukku tidak banyak hanya untuk melakukan hal bodoh ini.” ucap luhan terdengar mendesak.
Sebelum menjawab dan melakukannya, taeyeon maju 2 langkah dan ia sudah sangat dekat dengan luhan. Ia berjinjit dan mengarahkan bibirnya menuju tepat ditelinga luhan, lebih tepatnya ia akan berbisik.
“Begini, karena aku sudah lelah dan bosan berlatih dialog berkali-kali… jadi aku ingin melakukan hal lain. Tenang saja, ini masih termasuk dalam naskah. Hanya..hanya.. kau akan akan mendapatkan keuntungan sendiri. Aku diberi tarif paling mahal satu Negara hanya untuk satu kali berciuman. Kau tau? Bibirku ini terlalu sexy dan indah, tanpa perubahan apapun sejak aku masih diperut ibuku. Jadi maksudku adalah… kau pria pertama yang beruntung karena aku akan memberikan bibirku secara gratis untukmu. Jangan salah paham, aku melakukan hal ini denganmu agar bibirku tidak terlalu kaku saat aku melakukan casting nanti. Ahh.. sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Kau pasti tidak akan keberatan karena aku akan menciummu bukan?”
“mwo?”

TBC..
Mohon komentar dan sarannya ^^

Advertisements

42 comments on “Polkadot Man (Chapter 3)

  1. Yahyahyah kok tbc hiaaa ga relaa:”
    Lanjut thor lebih romantis lutaenya yess 😀
    Semoga kutukan luhan hilang dengan adanya taeng semogaa 😀
    Ga sabar untuk liat selanjutnya adegan c**/?
    Ahaaii lutae jjang 😀
    Fighting

  2. Jadi neneknya luhan sama neneknya itu sekongkolan ? tapi aku masi rada bingung nih sama pembicaraan kedua nenek” itu ;-; Waa lutae mau kiss ya :v pasti lucu deh xD update soon^^ yaa Figthing!! 🙂

  3. Next next next thor..
    Taeng n luhan akn melakukan kiss..?
    Wow.. Cepetan ne thor chap selanjutny, tmbahin moment lutae yg so sweet ne..
    Ok fightaeng thor.. 😉

  4. Yaelah… Malah tbc..
    Hilangin kutukannya luhan dong thor..
    Smakin bgus thor.. Daebak. Lanjut ne..

  5. haah Taeng bener bener gak waras lagi ya ?-,-
    aku ngebayangin Luhan gitu aja , udah gimana gituu
    hilangin ya kutukannya , kasian uri Luhan *puppy eyes.
    ntuh 2 nenek nenek jahat banget ya ??! ckck
    next ditunggu !
    HWAITING!!

    • salahin yg nulisnya yhh.. taeng msih normal kok ?/
      yaudah, gk usah dibayangin aja yahh.. susah emg klo dibayangin, nnti mlah pusing lg.. 🙂
      okke HWAITING 😀

  6. ye akhirnya di lanjut juga
    baguss bgt
    suka suka suka sama momentnya lutae
    jahat bgt sih neneknya luhan tga tganya ngutuk cucunya sndiri
    trus bagaimana supaya kutukannya hilang
    semoga aja kutukannya hilang karena dapat menemukan cinta sejatinya dan
    cinta sejatinya itu taeyeon unnie #maksa kwkkwkkw
    pokoknya suka bgt tpi yg di akhir itu sayang ko tbc sih padahal
    pengen tau bgt lanjutannya apa
    update soon ya thor dan banyakin moment lutaenya fightaeng gomawo 😉 <3<3<3

  7. hahaha apa ekspresi luhan ya? #kkkkk pasti lucu banget pas tau taeng mau cium luhan hahaha, next chap di tunggu thor^^ Hwaiting!!!^^

  8. Ah.. Sudah lama sekali aku tidak melakukannya.” maksud dari kalimat taeyeon, berarti taeyeon pernah kiss dong sebelumnya? Sama siapa??
    Ah.. Gak sabar pengin liat utae kiss, kayanya bakalan lucu deh, wkwk
    eh, saying i love you chapter 4 kapan nih dikeluarin dari sarangnya???
    Udah gak sabar pengin tau kelanjutan ff itu..

  9. Bgs2
    Lucu jg, masa otak nya si luhan warna nya polkadot jg lol
    Itu berarti si luhan bs ga polkadot lg yah?
    Trs apaan syaratnya?
    Pasti makin seru next chap nya
    Klo bs buat luhan nya ga polkadot lg yah
    Hehe
    Ditunggu next chap nya deh
    Klo bs agak cpt yah 🙂

  10. itu bagian percakapan halmoni lutae msih dibuat binggung-_-
    oh oh oh eonnie tnggu kissing scenenya*otakyadongkambuh*
    fighting jgn lama yeeeeeeee

  11. Haha ya ampyun taeng -_- 😀
    oh ternyata luhan dikutuk sama neneknya taeng? 😮
    Omonaaaa.. speechless.. o.o
    terus gimana nantinya kalau luhan tau itu semuaa?
    Omg lutae mau kissing, aish.. itu tbc nya nyebelin ><
    nextnya ditunggu yaa 🙂

  12. Lnjut eonni…
    Eon bwat ff tentang BaekYeon dong kn mreka pcran tu..tpi critanya chapter ya..dn happy ending

  13. Ahaha, taeyeon benar benar gila. PD dia luar biasa, kkkk
    Kira kira chapter 4 ada adegan kissnya gak yaa? Wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s