[Freelance] Noona, I Love You (Chapter 1)

noona-i-love-you

 

Title : Noona, I love you…
Author : Taengkerbell Kim (byunkim12)
Main Cast : Kim Taeyeon | Byun Baekhyun
Genre : Romance | Little bit Comedy | Sad
Rating : PG 13
Leght : Chaptered
Disclaimer : Typo everywhere x_x Don’t bash don’t judge and please appreciate it. Gomawo readers~ Sorry for typos, imperfection is human!
Note : Ff ini murni dari pikiran author. Author hanya manusia biasa x_x Semua kesalahan yang ada pada ff ini mohon dimaafkan. Bahasa aneh, cerita ga nyambung, typo berdebaran itu sudah menjadi irri khas saya-_- Terima kasih buat yang udh baca ff ini ^^ Happy Reading !

***

Matahari mulai menyingsing kearah jarum jam 4, perlahan mulai menyembunyikan wujudnya dan menyisakan setengah cahayanya saja yang memantul ke dasar sungai Han. Di ikuti udara sore hari yang terasa sejuk dengan bau-bau khas dedaunan. Sungai yang cukup terkenal di Seoul ini pun mulai ramai dengan orang-orang yang habis melakukan aktifitas untuk melepas lelah atau berekreasi saja untuk melihat pemandangan sungai Han saat sore hari. Kebanyakan orang mungkin memilih duduk-duduk dipinggiran sungai Han sambil minum kopi atau hal lainnya. Tapi tidak untuk seorang gadis yang mempunyai perawakan dingin, cuek, dan jutek. Wajahnya memang terlihat lembut, namun tidak untuk sifatnya. Kim Taeyeon, itulah namanya.

Ia memilih untuk menghindar dari keramaian sungai Han dan memilih untuk berdiri di jembatan yang menggantung diatas sungai tersebut. Matanya ia pejamkan dan dirinya ia buat rileks hingga otaknya benar-benar bisa tenang. Ia merasa sangat lelah setelah seharian penuh harus bekerja di 3 tempat berbeda. Keadaan yang mendesak membuatnya harus melakukan hal tersebut. Namun dimatanya, ini tidak bisa dikatakan keadaan melainkan sudah takdirnya. Harus hidup sendiri dan menghidupi dirinya sendiri, selain untuk menghidupi dirinya ia juga harus mengumpulkan uang untuk membiayai biaya rumah sakit adiknya—Kim Taejoon. Adiknya mengalami koma karena insiden kecelakaan yang menimpa keluarganya saat hendak menghadiri acara kelulusannya di SMA 3 tahun lalu. Nyawa orang tuanya terenggut, sedangkan adiknya harus terbaring dirumah sakit karena kepala bagian belakangnya rusak akibat benturan cukup keras yang dialaminya saat kecelakaan. Niat untuk mati pernah ada dipikiran Taeyeon . Namun ia berpikir kembali, jika ia matipun tidak akan menyelesaikan masalah dan ia masih memikirkan nasib Taejoon jika noona satu-satunya telah tiada. Pasrah, mungkin itu yang bisa Taeyeon lakukan untuk menjalani ini semua.

Namun ketenangannya terusik saat suara gesekan benda yang membuat fokusnya hilang. Taeyeon menoleh. Dan ia mendapati seorang anak SMA yang masih memakai seragamnya memanjat tiang pembatas jembatan. Tidak ada ekspresi panik atau terkejut dari wajah Taeyeon, ia hanya menatap datar ‘anak bocah’ itu. Taeyeon memutuskan untuk menghampiri anak SMA itu, daripada nantinya ia disangka tidak punya hati nurani karena membiarkan orang bunuh diri.

“Ya! Neo.” Seru Taeyeon datar sambil mendekati lelaki itu. Taeyeon memerhatikan anak SMA itu sekilas.

“Mau apa kau memanjat jembatan ? Kau ingin berenang ?” Tanya Taeyeon. Sebetulnya ini terlihat konyol, jelas-jelas lelaki ini ingin mencoba bunuh diri. Tetapi dengan sangat entengnya Taeyeon bertanya seperti itu.

Lelaki itu menatap mata Taeyeon sinis. “Jika kau sedang mencari orang yang bisa diajak bercanda, mungkin kau salah orang. Jadi ku mohon jangan mengangguku.” Tuturnya.

“Kau ingin bunuh diri ?” Tanya Taeyeon kembali tak kalah santai. Lelaki itu kembali menatap Taeyeon jengkel. “Yak, noona. Kau kira aku panjat tiang ini untuk apa ? Apa IQ-mu dibawah rata-rata ?”

Taeyeon mendengus. Ia tidak habis pikir dengan anak SMA yang satu ini. “Hehh, anak ini benar-benar. Terserah kau saja lah. Jika kau ingin mati mengambang sana loncat ke bawah.” Taeyeon memilih untuk meninggalkan anak bocah itu. Ia tidak ingin terlalu membuat pusing hal konyol seperti itu.‘Hah, akhir-akhir ini banyak sekali orang gila yang mau bunuh diri. Jinjja.”—gerutunya dalam hati.

Lelaki itu menatap punggung Taeyeon jengkel. Harga dirinya seakan di injak-injak oleh seorang wanita yang memanggilnya ‘bocah’ itu. Niatnya untuk bunuh diri pun terasa sangat konyol jadinya jika sudah begini. ‘Wanita sinting!’

***

Grugg~

Cacing-cacing diperut Taeyeon terus berseru karena tuannya tidak memberi nutrisi pada perutnya. Sedangkan Taeyeon kini hanya bisa meneguk salivanya dan sesekali memegangi perutnya, berusaha menenangkan perutnya yang mulai meraung. Persediaan makanan yang ia punya sudah habis semua, karena kemarin Sunny—temannya saat SMA—menginap dirumahnya. Jalan keluar satu-satunya untuk Taeyeon mungkin ia harus membeli dulu ke supermarket, walau terpaksa. Taeyeon paling malas jika disuruh keluar malam-malam apalagi cuaca sedang dingin begini. Tapi karena keadaan, terpaksa ia harus benar-benar keluar dan pergi ke supermarket.

Taeyeon memilih untuk melewati jalan raya karena jaraknya lebih dekat daripada harus melewati perkampungan. Tangannya ia masukan kedalam kantung yang ada pada sweater-nya, dan pandangannya ia fokuskan ke atas langit bukan ke jalanan. Semburat wajah bahagia terpancar dari wajahnya, namun dibalik raut wajahnya ada sebuah luka yang tergores dihatinya. Luka dimana ia merasa rindu pada keluarganya. ‘Eomma, appa. Apa kalian melihatku sekarang ? Lusa adalah hari ulang tahunku, kalian tau ? Umurku akan beranjak menjadi 22 tahun. Hah, tidak terasa aku sudah tumbuh sebesar ini. Apa kalian telah menyiapkan hadiah untukku ? Apa aku bisa meminta sesuatu pada kalian ?’

Perhatiannya lengah hingga ia tidak sadar jika sebuah mobil berkecapatan max. kini tengah mengarah padanya—kini posisi Taeyeon berada di 3 langkah dari trotoar untuk menyebrang. Namun seseorang langsung menariknya dari belakang dan tanpa sadar memeluknya pula. Taeyeon membelalak matanya dan sekujur tubuhnya terasa membeku, hingga ia tidak bisa memberontak karena dirinya dipeluk oleh seseorang tanpa izin. Merasa sudah cukup tenang orang yang menariknya tadi melepas pelukannya dan menggenggam bahu Taeyeon erat.

“Mengapa kau sangat ceroboh ?! Kau ingin mati, hah ?” Bentak si orang itu. Taeyeon menatap sekilas orang tersebut. Lelaki dengan wajah yang terlihat baby face dan masih mengenakan seragam. Sepertinya ia pernah melihat orang ini sebelumnya.

“Eoh, bocah besar.” Lelaki itu, lelaki yang ia temui tadi sore dijembatan sungai Han hendak bunuh diri. Wah, daebak. Dia bisa bertemu Taeyeon secara kebetulan begini, apalagi ia datang saat Taeyeon dalam bahaya.

Ekspresi yang tadinya khawatir sedetik kemudian berubah jengkel. “Yak, noona. Aku ini punya nama.” Gerutu lelaki itu.

“Ya yaa, baiklah. Terserah kau saja. Untuk yang barusan, gomawoyo.” Ucap Taeyeon singkat. Setelah itu ia meninggalkan lelaki yang ia panggil ‘bocah besar’ itu. Namun langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggilnya.

“Noona!”

Noona ? Apa itu untuknya ? Taeyeon menoleh kearah suara tersebut. Anak SMA yang barusan menyelamatkan Taeyeon tadi kini tengah berlari kecil menghampirinya. “Noona-ya. Apa aku boleh ikut denganmu ?”

Taeyeon mengerutkan dahinya. “Wae ? Apa kau tak punya rumah ? Apa jangan-jangan kau tengah kabur dari rumah ?” Tanya Taeyeon bertubi-tubi. Ia kembali melanjutkan. “Aa, apa kau takut orang tuamu memarahimu karena tadi kau mencoba bunuh diri ?” Tanya Taeyeon kembali.

“Aniyo. Hanya saja aku tidak ingin tinggal dirumahku…” Jawabnya ragu-ragu dengan tampang memelas. Taeyeon mengerti alasan anak SMA ini tidak ingin pulang kerumah, dan juga tadi sore ia mencoba bunuh diri. Pasti ada masalah yang membuatnya benar-benar ingin mati. Taeyeon mempertimbangkannya beberapa saat. Jika dipikir pakai logika, tak mungkin dia tega meninggalkan anak SMA sepertinya dijalanan. Apalagi cuaca sedang sedingin ini, sedangkan bocah ini hanya mengenakan seragam dan jas sekolah saja. ‘Baiklah, Kim Taeyeon. Jangan terlalu dibawa pusing masalah ini, hitung-hitung dia kan bisa membantu pekerjaanmu dirumah.’

“Geure, kau boleh ikut denganku.” Anak SMA itu langsung tersenyum menyeringai, namun Taeyeon kembali melanjutkan. “Keunde! Kau tinggal dirumahku tidaklah gratis. Kau akan kuberi pekerjaan yang mudah. Setidaknya itu akan sangat membantuku. Arrachi ?” Tawarnya.

Lelaki itu hanya menghela napas kasar. Pikirnya, jika dia tidak bisa tidur dirumah noona ini dia harus tidur dimana lagi ? Yasudahlah, lebih baik diterima saja. “Arraseo.”

Grugg~

Taeyeon hampir melupakan niatnya—untuk membeli makanan—hingga cacingnya meraung lagi untuk mengingatkan. Namun ini terlihat memalukan karena sepertinya anak SMA itu mendengar suara keroncong perut Taeyeon, dan ia terus memerhatikan Taeyeon dengan tatapan bingungnya. “Apa itu bunyi perutmu ?”

Merasa malu, Taeyeon memilih untuk mengalihkan pembicaran. “Sebaiknya kita cepat pulang, aku sudah tidak tahan berada diluar terlalu lama. Oh ya, aku mau beli makanan. Kau ikut tidak ?” Taeyeon lupa jika anak ini belum tau rumahnya. “Ah, sudah kau ikut saja.”

Taeyeon langsung berjalan mendahului anak itu, entah kenapa ia merasa dipermalukan karena cacing-cacing diperutnya. Sedangkan anak SMA itu hanya menatap jengkel noona yang suka memanggilnya ‘bocah besar’ itu. ‘Dasar orang aneh!’

***

Setelah tadi ke supermarket bersama ‘bocah besar’ itu, kini Taeyeon tengah berada diperjalanan menuju kerumahnya. Tak ada satu percakapan pun yang tercipta dari mulut mereka berdua. Ya tau saja, Taeyeon adalah gadis yang tidak ingin banyak tau dan tipikal orang yang cuek. Sedangkan anak SMA itu hanya diam dan sibuk bermain dengan jari telunjuknya, berjalan bersama seorang noona disampingnya membuatnya menjadi canggung. Sejujurnya Taeyeon juga merasa canggung karena harus berjalan berduaan bersama lelaki yang umurnya lebih muda darinya.

“Ya, bocah besar. Yang tadi sore, mengapa kau ingin bunuh diri ?” Tanyanya. Anak SMA itu menoleh kearah Taeyeon dengan ekspresi jengkelnya.

“Eoh, jinjja. Noona, bisakah kau memanggil namaku saja ?” Gerutunya. Taeyeon lalu memerhatikan name tag yang terpasang didada kiri jas sekolahnya. Ia sedikit memicingkan matanya, karena cahaya gelap dan matanya memang silindris.

“Byun-Baek-Hyeon.” Eja Taeyeon. Ia kembali melanjutkan. “Aa, Byun Baekhyun. Yak neo, Byun Baek.. Apa otakmu tidak waras ingin bunuh diri tadi sore ? Kau tidak memikirkan nasib orang tuamu jika kau mati, hah ?”

“Aniyo, aku memang benar-benar gila tadi sore hingga aku benar-benar ingin mati rasanya. Haha, orang tuaku memikirkanku ? Dunia benar-benar kiamat kurasa.” Jawabnya. Dugaan Taeyeon benar ternyata, anak ini benar-benar gila.

“Yak, bocah besar. Eoh aniyo, Ya Byun Baekhyun. Kau pikir didunia ini hanya kau saja yang paling menderita ? Jangan pernah lakukan itu lagi selama aku masih mengawasimu!”

“Arrayo. Sebetulnya aku juga takut melakukannya.” Tuturnya dengan ekspresi datar.

Pletakk!

“Seharusnya kau tidak usah melakukannya, babo!” Ujar Taeyeon setelah menjitak kepala Baekhyun.

“Ya! Aku mana tau! Saat itu aku benar-benar merasa ingin mati. Tapi setelah kau datang, aku merasa aksi bunuh diriku menjadi sangat konyol. Aku tak mungkin mati ditertawakan, makanya aku mengundurakan niatnya itu.”

Entah kenapa Taeyeon rasanya sangat bahagia karena berhasil menggagalkan aksi bunuh diri seseorang. “Anak pintar.” Tuturnya sambil mengelus kepala Baekhyun gemas. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya ia mengelus kepala lelaki seperti itu kecuali terhadap adiknya—Taejoon. Dan elusan dari Taeyeon terasa sangat nyaman dikepala Baekhyun, hingga Baekhyun hanya bisa tersenyum menanggapinya. Dalam hatinya ia berkata, ‘Gomawo… noona.’

“Rumah atap ?” Tanya Baekhyun saat mereka berdua telah sampai didepan rumah Taeyeon yang berada diatas sebuah rumah makan. Ya, disini Taeyeon tinggal. Disebuah rumah atap yang lebarnya tak lebih 8 x 6 meter, yang hanya memiliki satu kamar tidur, ruang tengah yang menyatu dengan dapur, dan satu kamar mandi. Tidak terlalu buruk bagi Taeyeon, setidaknya ia bisa terlindung dari hujan atau panas dan ia punya tempat untuk istirahat.

“Wae ? Kau tidak ingin tinggal ? Pergilah.”

“Bukan begitu.” Sambar Baekhyun. “Apa ini akan cukup jika aku menginap ?”

Taeyeon masih belum bisa mencerna perkataan Baekhyun. “Apa maksudmu ?”

“Bukankah keluargamu tinggal disini juga ?”

Entah kenapa Taeyeon merasa tubuhnya terasa membeku dan otaknya seakan berhenti bekerja seketika. Tangannya serasa mati rasa, dan tangannya berhenti begitu saja saat sebelumnya ia tengah menekan knop pintu rumahnya. Sedangkan Baekhyun kini tengah menatap Taeyeon dengan ekspresi yang entah khawatir atau merasa ada yang aneh pada noona-nya itu.

“Noona, gweanchanayo ?” Tanya Baekhyun sambil memegangi lengan Taeyeon, sepertinya ada yang tidak beres pada Taeyeon—bahunya gemetaran dan matanya mulai berair. Apa ia menanyakan hal yang salah ?

Taeyeon langsung membuyarkan lamunannya. “Ani, gweanchana.” Taeyeon kembali membuka knop pintu rumahnya dan langsung masuk menuju kamarnya. Namun sebelum ia menggeser pintu kamarnya, ia menoleh kearah Baekhyun. “Kau tidur saja disofa, jika kau merasa tidak nyaman kau bisa membangunkanku. Nanti biar aku yang tidur disofa. Aku merasa lelah sekarang, aku ingin tidur.” Nada bicaranya sangat menunjukan jika ia benar-benar lelah, dan rasa lapar yang tadinya menghantui perutnya entah sejak kapan telah menghilang. “Selamat malam.” Lanjut Taeyeon kembali sebelum dirinya benar-benar berada di dalam kamarnya.

Baekhyun hanya bisa menatap Taeyeon yang memang kelihatan sangat lelah, makanya ia membiarkannya masuk kekamar. Padahal masih ada banyak pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Apa dia punya baju lelaki yang bisa dipakai olehnya ? Apa dia punya selimut untuk ia tidur ? Ia ingin air hangat, apa dia bisa membuatkannya ? Perutnya juga mulai lapar, ia ingin makanan. Namun Taeyeon meletakannya dimana ?

Entahlah, mungkin Baekhyun harus menjawab pertanyaan itu sendiri. Dengan sangat terpaksa Baekhyun harus tidur dengan kemeja sekolahnya. Dan selimut untuknya tidur terpaksa harus memakai jas sekolahnya pula. Air hangat ? Mungkin niatnya itu harus diurung untuk sementara. Makanan ? Jika keadaan sedang seperti ini, pikiran untuk makan tidak terlalu dinomor satukan oleh Baekhyun.

‘Selamat malam juga, noona. Mimpi indah.’

Sedangkan didalam kamar, Taeyeon kini tengah meringkuk didalam selimut tidurnya. Pertanyaan Baekhyun tadi membuat rasa rindu itu kembali mengiang dipikirannya. Saat ada seseorang menanyakan seperti itu, entah kenapa Taeyeon selalu berpikir jika kebahagiaan memang tidak berpihak kepadanya. Jika sudah begini, air mata Taeyeon secara otomatis bereaksi. Namun tangisan itu tidak akan bertahan lama, Taeyeon menangis semata-mata hanya untuk pelampiasan saja.

Grugg~

Lagi-lagi, cacing-cacing diperut Taeyeon kembali meraung. Niatnya untuk makan sudah 2x terlupakan, padahal ia sudah seharian tidak memberi nutrisi pada perutnya. Kali ini Taeyeon benar-benar harus beranjak dan mengisi perutnya dengan makanan yang barusan ia beli disupermarket.

Ia menggeser pintu kamarnya, pandangannya ia edarkan keseluruh ruangan. ‘Kemana bocah itu?’, pandangannya berhenti saat ia mendapati si bocah itu kini telah tertidur disofa dengan hanya berselimutkan jas sekolah saja. Taeyeon tidak mungkin membiarkan orang itu tidur seperti itu, walaupun Taeyeon sejudes apa hati nuraninya masih bekerja dengan baik.

Ia kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil selimut dan bantal untuk anak itu. Ia lalu mengangkat kepala Baekhyun dan menaruh bantal yang tadi ia ambil agar menopang kepalanya, lalu selimut itu ia gerai dan menariknya hingga sebagian tubuh Baekhyun tertutupi. Selesai. Taeyeon memerhatikan wajah anak itu sejenak, jika melihatnya tidur seperti ini ia sangat mirip dengan Taejoon. Tapi kenyataan, lelaki yang tengah tertidur dihadapannya kini bukanlah adiknya—melainkan orang lain. Lupakan. Yang penting Taejoon masih ada walaupun bukan dirumahnya—melainkan rumah sakit—itu tidak jadi masalah, selama adiknya masih hidup kata kebahagiaan mungkin masih berpihak pada Taeyeon jika suatu saat adiknya benar-benar siuman dan ia bisa kembali hidup normal bersama adiknya.

Taeyeon sengaja membawa ramen yang telah ia seduh keluar, ia tidak ingin menganggu anak itu tidur dan memilih makan diteras rumahnya. Hitung-hitung Taeyeon juga bisa makan sembari menikmati pemandangan malam kota Seoul. Walau rumahnya terlihat sangat tidak menarik, tapi Taeyeon bisa mengambil sisi positif tinggal dirumah atap—ia bisa tinggal dan juga bisa menikmati pemandangan kota Seoul kapan saja. Efektif.

***

“Eomma! Eodiga ?” Teriak Baekhyun saat ia mendapati dirinya kini tengah berada disebuah tempat yang hampir seluruhnya berwarna putih dan penuh asap-asap tebal yang mengumpul disekitar kakinya. Tak ada satu orang pun yang berada ditempat ini. Namun seingatnya barusan ia masih melihat Ibunya, tapi tiba-tiba saja ibunya menghilang dan dirinya kini berada disebuah tempat yang sangat sulit dideskripsikan. ‘Aku dimana ?’

Kakinya terus ia paksa untuk melangkah, walau sesungguhnya ia merasa takut karena ia tidak pernah kesini sebelumnya. Namun matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang terlihat seperti ibunya. “Eomma ?” Dengan sangat perlahan ia mendekati wanita itu. Setelah jaraknya berada tak lebih 6 langkah Baekhyun kembali memanggilnya. “Eomma ?”

“Eoh, Baekhyun-ah.” Seru wanita itu saat mendapati anaknya tengah menatapnya khawatir. Perasaan senang, bahagia, namun ia merasa sedih pula campur aduk Baekhyun rasakan. “Mengapa eomma meninggalkanku ? Aku takut sendirian.” Gumamnya memelas. Ingin rasanya ia menangis sekarang, namun ini terlihat memalukan jika ia melakukannya. Umurnya bukan 7 tahun lagi, melainkan 18. Ia bukan lagi anak kecil yang akan menangis jika ibunya meninggalkannya sebentar. Namun air matanya lebih jujur daripada perasaannya, sekuat apapun ia menahan air mata itu untuk jatuh tapi itu akan jatuh pula.

“Kau tidak perlu menangis seperti itu. Anak eomma-kan sudah besar, eomma tidak pernah mengajarkanmu untuk lemah bukan ? Kau tidak perlu takut. Eomma sudah mengirimkan seseorang untuk memberi kekuatan padamu, ia akan selalu ada padamu. Sebaliknya, kau juga harus selalu ada padanya. Arrachi ?”

Baekhyun hanya bisa mengangguk menanggapi perkataan eomma-nya. Bibirnya serasa membeku dan pita suara seakan menghilang hingga untuk berbicara sepatah katapun tidak bisa. Namun sedetik kemudian wujud eomma-nya menghilang, dan Baekhyun hanya bisa melihat senyuman eomma-nya—yang mungkin untuk terakhir kalinya—samar. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh tempat itu, namun matanya tidak menangkap sosok apapun. “Eomma! Eomma! EOMMAA!”

“EOMMA!” Keringat bercucuran dipelipisnya, semburat rasa ketakutan sangat terlihat diwajahnya. Sekujur tubuhnya bergetar seakan menggigil kedinginan, dan tak lama akhirnya ia sadar jika ia berada di dunia mimpi barusan. Baekhyun menghela napasnya panjang. Entah kenapa mimpi itu selalu datang akhir-akhir, mimpi dimana Eomma-nya datang lalu pergi. Itu lebih menakutkan dibandingkan mimpi dikejar-kejar setan menurutnya. Ia merasa takut jika Eomma-nya pergi dan ia hidup sendiri—walau nyatanya ia masih memiliki ayahnya. Namun Baekhyun selalu menganggap dia tidak punya ayah, karena ayahnya menganggap sebaliknya. Ayahnya memutuskan untuk menikah dengan gadis lain saat ibunya sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, namun status cerai belum ada pada mereka berdua. Hanya saja Ibunya menganggap hubungannya dengan ayah Baekhyun telah selesai, begitupun dengan Baekhyun. Makanya, saat ibunya meninggal 2 minggu lalu niatan untuk mati selalu mengiang dipikirannya. Namun selalu gagal karena ada saja yang menghalanginya.

Baekhyun mengedarkan pandangannya kesekitar ruangan, masih sepi dan keadaan tidak berubah seperti semalam. Apa noona itu belum bangun ? Saat dirinya ingin beranjak dari sofa ia baru sadar jika ada selimut menutupi sebagian kakinya. ‘Eoh, sejak kapan aku memakai selimut ?’—Batinnya.

“Noona! Noona-shi!” Panggil Baekhyun dari balik pintu kamarnya Namun tak ada respon dari sipemilik kamar. “Apa dia masih tidur ?” Gumamnya sendiri. Mungkin menceknya sendiri lebih baik. Perlahan Baekhyun menggeser pintu kamar Taeyeon—takut sipemilik kamar akan terganggu dengan suara gesekan pintu. Baekhyun sengaja hanya membuka sedikit pintu itu dan memilih untuk mengintipnya saja. Namun matanya tak menangkap sosok noona tersebut dikamarnya. “Kemana noona itu ? Apa dia sudah pergi ? Jam berapa sekarang ?”

Baekhyun tidak membawa jam tangan kemarin dan dirumah noona ini tidak ada jam yang menggantung didinding. Mungkin melihat keluar rumah bisa menjadi cara lain. Baekhyun beranjak dari kamar noona itu dan pergi menuju pintu rumah. Dirinya sedikit terlonjak saat mendapati noona itu tengah tertidur diteras rumahnya.

“Yak, jinjja. Noona ini benar-benar.” Gerutunya karena noona ini sudah tidur diluar, bungkus makanannya berantakan disampingnya, dan mulutnya… err, mengeluarkan anya . Namun tidurnya benar-benar lelap hingga cuaca dingin tidak dihiraukan olehnya, sedangkan ia tidur tanpa menggunakan selimut dan hanya memakai jaket tipis. Ash, jika sudah begini untuk membangunkannya saja Baekhyun merasa tidak tega. Sebaiknya ia memindahkannya saja kekamar. Ya, sepertinya itu lebih baik daripada membangunkannya.

Terpaksa Baekhyun harus membopong tubuh mungil noona itu kekamarnya. Tubuhnya mungil, tapi berat badannya! Eghh.. “Eoh, omo jinjja! Noona ini berat sekali.” Dengan tenaga ekstra Baekhyun mengerahkan semua tenaganya untuk mengangkat noona itu. Untung saja jarak dari teras kekamarnya sangat dekat, jika tidak mungkin urat otot Baekhyun bisa putus karena terlalu berat membawanya. Dengan sangat perlahan Baekhyun meletakkan noona itu dikasur yang hanya beralaskan selimut tebal itu.

Hoh, akhirnya selesai juga. Baekhyun lalu menarik selimut yang terdapat pada kasur tersebut dan menutupi sebagian tubuh noona itu sampai dada. Ia juga membersihkan anya yang menempel disudut bibir noona itu—yaa, walau sejujurnya ini sangat menjijikan bagi Baekhyun—menggunakan tisu basah yang terdapat diatas laci kamar noona itu. Namun tangannya bereaksi aneh saat tangannya mendarat dibibir noona itu. Mendadak mati rasa dan rasanya sangat susah untuk digerakan.

‘Ah, jebal.’ Gerutunya karena tangannya mulai bereaksi aneh jika tengah gugup atau ketakutan. Baekhyun mempunyai keanehan—atau bisa dibilang kelainan—pada tangannya, saat ia merasa gugup atau semacamnya dan merasa takut tiba-tiba saja tangannya menjadi mati rasa dan sulit digerakan. Jika sudah begini biasanya Baekhyun akan memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha membuang rasa gugup itu pada dirinya. Dan akhirnya itu berhasil juga.

Takut rasa gugup itu kembali datang lagi, Baekhyun memilih untuk membersihkan mulut noona itu sambil menutup mata. Entah kenapa fokusnya hilang dan otaknya mulai berkhayal aneh, begitupun hatinya yang berdebar-debar tak jelas. Selesai! Ia menghela napasnya kasar. ‘Hoh, kenapa membersihkan lendirnya saja sangat menyusahkan ? Ouh, jinjja.’

Baekhyun memilih untuk segera keluar daripada harus berlama-lama dikamar noona ini, entah kenapa ia merasa tidak nyaman—walau nyatanya ia merasa canggung sebetulnya—menatapi noona itu kelamaan. Namun saat dirinya baru beranjak ia tak sengaja mendapati bingkai foto yang terdapat foto keluarga noona ini. Ia terlihat sangat bahagia difoto ini, begitupun keluarganya yang lain—ayah, ibu, dan adiknya. Dengan seragam yang ia kenakan noona ini terlihat sangat cantik difoto tersebut. Tanpa sadar ulasan senyum itu terukir dibibirnya, entah kenapa hatinya merasa sangat lega—atau bisa dikatakan tenang—saat melihat noona itu tersenyum bak bidadari. Padahal sebelumnya Baekhyun belum pernah melihat senyum noona itu secerah ini.

Tapi ngomong-ngomong, dari kemarin ia belum mengetahui nama noona ini. Baekhyun menoleh kebelakang dan menatapnya penuh tanda anya. ‘Siapa namanya ?’ Sepertinya jawaban itu tidak akan terjawab sebelum ‘si yang punya nama’ menjawabnya sendiri. Baekhyun kembali asyik menggeledah kamar noona ini, entah sejak kapan rasa penasaran tentang noona ini membenalu dalam dirinya. Namun jujur, ia memang merasa penasaran dengan noona ini sebetulnya. Entah apa alasannya.

Baekhyun kembali mendapati barang yang terdapat pada kamar noona ini. Kalender. Kalendar itu penuh dengan coretan-coretan noona ini.
– Tanggal 1 Maret : Terima gaji dari Bos Lee, Bos Ahn dan ayah Sunny.
“Dia kerja di 3 tempat ?”
– Tanggal 2 Maret : Bayar tagihan rumah sakit.
Tunggu, dia sakit ? Baekhyun membelalak matanya. Daftar pertanyaan diotaknya kembali bertambah mengenai noona ini. “Wah, sepertinya noona ini benar-benar menarik.” Gumamnya sendiri. Ia kembali menjelajahi tanggalan tersebut.
– Tanggal 7 Maret : Bayar tagihan kost.
– Tanggal 9 Maret : Hari ulang tahunku, yang sepertinya akan gagal kembali T_T.
“Dia ulang tahun ? Besok ?” Namun yang menjadi pertanyaan besar bagi Baekhyun adalah, mengapa ada kata ‘gagal’ pada note-nya ? Apa maksudnya ? “Ouh, noona ini benar-benar membuatku penasaran.”
– Tanggal 11 Maret : Hari peringatan kematian Eomma dan Appa.
Untuk note kali ini entah kenapa tenggorokan Baekhyun mendadak tercekat. Noona ini yatim piatu ? Dan hari kematian orang tuanya bertepatan 2 hari setelah ulang tahunnya. Menyakitkan tentunya. Apa semalang ini nasib noona ini ? Lalu kemana adiknya ?

“Eoh, ayolah Byun Baekhyun. Pertanyaanmu sama sekali belum ada yang terjawab olehnya ? Jangan membuat dirimu bingung sendiri. Ouh jinjja!” Baekhyun mengacak-acak rambutnya frustasi. Noona ini membuatnya penasaran setengah mati. Namun tak lama ia kembali mengangkat kepalanya dan menoleh kearah noona tersebut. Ia menatap lekat-lekat wajah noona itu dari tempatnya sekarang. Dibalik wajahnya yang terlihat ceria, ia menyimpan duka yang cukup mendalam ternyata. Dan kini Baekhyun baru sadar jika memang bukan dia saja yang paling menderita didunia, tenyata masih ada yang 2x lipat lebih menderita darinya… Noona itu.
‘Apa aku bisa membantumu ? Noona…’

—To Be Continued—

Yethh~ Saya kembali bawa epep couple paporit—BaekYeon. ^^ Sebelumnya saya udah pernah share epep disini juga, dan ini adalah kedua kalinya saya ngeshare epep disini\gaada yang nanya tapinya :3/. Part selanjutnya saya usahain post cepet ya 😉 Makasih sebelumnya buat ka nadia udah share epep aku disini 😀 Dan buat readers yang udah bersedia baca epep—gaje—saya ini 😀 Silent readers? It’s not my style-_-

Advertisements

41 comments on “[Freelance] Noona, I Love You (Chapter 1)

  1. Akhirnya ada BaekYeon couple jga..
    Aku suka alur ceritanya, menarik!!!
    Aku susah nebak nihh utk chap berikutnya tapi. .
    Updatesoon authornim, fighting!!!

  2. wahh.. keren ff nya.. 😃😃 d tunggu chap selanjutnya yahh… 😆😆 jangan lama lama… 👍👍👍

  3. wah mau diusahain cepet 😀
    ya baekhyunnya kenapa mau bunuh diri 😦
    untungnya taeyeon dateng ~kkk
    lucu juga ya , tapi sad mendominasi 😦
    ditunggu ya next chapternya 😉

    #fighting^^

  4. Wow Ad ff baekyeon lgi @aq suka aq suka /lebay
    Aq gak bsa byangin waktu baekki oppa bershin mulut taeng eonni smbil ttup mta….

    Next chapx jgan lma2 ne thor
    fightaeng

  5. YEYYY UDAH DIPOST KEREN LAGI HAHAH
    o iya aku Livana Migan yg difacebook itu loh wkwkwk
    ff nya keren banget
    taeyeonnya kasian 😥 baekhyun bantu noona mu itu 😀 taejoon nya cepet siuman okeyyy hahah

  6. ya baekhyun, kau bisa membantu noona mu dengan cara menjadi pacarnya^^ #apa ini? *abaikan*
    kasian tae unnienya aku ngebayanginnya seperti di drakor 49 days yg jadi kakaknya yg nyari air mata murni *lupa namanya*
    keren thor!!! untuk chap selanjutnya di tunggu thor^^ Hwaiting!!!^^

  7. Akhirnya ada FF BaekYeon lg 😀
    Kasian banget hidup mereka berdua 😥
    Ditunggu nect chapnya 🙂

  8. Mengharukan keduanya saling membutuhkan ya… baekhyun harus jagain taeyeon noona ya wkwkwk di tunggu chapter selanjutnyaa

  9. Baekyeon it real dan memang real ..
    Tapi aku sedih 😥
    knp exotic pada benci baekhyun?
    Bahkan ada yg bilang mendingan baekhyun tinggalin exo aja?!
    What the hell?
    sedih rasanya liat Taetae di bully 😥 ..
    Taetae nangis & minta maaf ama fans nya bikin aku tambah sedih TT___TT

  10. Pingback: Noona, I love you… [ Chapter 2 ] | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Noona, I love you… [ Chapter 3 ] | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s