[FREELANCE] One Love, Only You!! (Chapter 9)

[FREELANCE] One Love, Only You!! (Chapter 9)

|| Tittle : One Love, Only You!! || Author : Nurma Kierra S.L || Main Cast : GG Kim Taeyeon, Wu Yifan ‘Kris’, EXO- M Xi Luhan, Another from EXO & Girls’ Generation member (but not a rest them) || Genre : Romance, Friendship, Little Comedy, Family || Lenght : Chapter || Rating : T || Pairing : KrisYeon or maybe LuTae || Disclaimer : The story is mine, but inspired at korean drama, the entire cast belong to God and they parents. Please, don’t plagiation or publish this fanfic without my permission. || Summary : ‘Banyak yang lebih sempurna selain dirimu, tapi cinta ini hanya satu untukmu’ ||

 

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8

 
—One Love, Only You!! (Chapter 9)—
Setiap langkah yang ia lewati terasa begitu jauh disaat kakinya masih menapaki tanah di bumi. Padahal jarak dari pagar depan sampai pintu yang bisa menghubungkan sebuah bangunan yang adalah rumahnya sendiri tersebut dapat dikatakan lumayan dekat.
Berulang kali Kris, pria itu memastikan jika gadis terakhir yang ia temui hari ini sudah masuk ke dalam rumahnya dengan suara hentakkan kaki yang disengaja dilakukan olehnya. Tentu Kris masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Entah karena gadis tersebut tengah marah ataupun kesal, Kris sama sekali tak tahu. Ia hanya bisa mengedikkan bahu. Berusaha untuk mengabaikannya.
Kris sadar jika saat ini sudut bibirnya masih membentuk lengkukan ke atas. Ia benar-benar tak peduli jika saat ini, dirinya akan dianggap sudah gila jika ada orang tengah melihat senyuman aneh yang masih bertengger di bibirnya.
Pria itu benar-benar gila. Tak punya logika mengingat hal yang paling lumrah biasa sepasang kekasih lakukan pada umumnya. Ciuman. Tapi tunggu dulu, baik Kris maupun Taeyeon tak mempunyai hubungan apapun. Ini bukan atas kehendak dua orang, melainkan Kris yang bertindak seorang diri tanpa sepengetahuan sang pemilik bibir yang baru saja ia kecup, Kim Taeyeon.
“Jadi katakan, sampai sejauh mana hubungan kalian saat ini?” sebuah suara mengintrupsi dirinya kala ia tengah mengingat kejadian yang mungkin di katakan bodoh namun tak akan pernah ia lupakan sepanjang masa hidupnya. Jika ia bisa.
Kris menoleh. Mendapati ibunya tengah tersenyum geli disampingnya tersebut membuat kening pria itu mengerut. “Apa yang ibu bicarakan? Aku tak mengerti.”
“Jangan pura-pura tak mengerti atau ingin menyembunyikan semuanya dari ibu, Wufan.” jelas Nyonya Wu, singkat.
“Sungguh bu, aku tak mengerti arah pembicaraan ibu saat ini.” tambah Kris lagi dengan merotasikan bola mata coklatnya.
“Jadi, kau mengira hanya dirimu saja dan Tuhan yang tahu dengan apa yang kau lakukan pada Taeyeon tadi?”
“Taeyeon?” ulang Kris terlihat berpikir. Lantas, ia mengingat kejadian gegabah dirinya yang ia lakukan pada gadis yang disebut-sebut namanya oleh ibunya tersebut. “Astaga, bu-.”
Nyonya Wu terkekeh geli seraya mengangguk. “Iya, ibu tadi melihatnya.” ia cepat memotong.
Skak matt
Kris benar-benar mati gaya, gugup, terperangah, sama seperti hal yang ia rasakan tadi pada Taeyeon. Bibirnya kali ini benar-benar menutup rapat dengan pikiran melayang untuk mencari alasan yang masuk akal.
“Kau masih tak ingin menjelaskan semuanya pada ibu? Tentang hubungan kalian saat ini.” pinta Nyonya Wu semakin mendesak.
“Itu tak seperti yang ibu pikirkan.” suara Kris pada akhirnya terdengar pelan. Ia tak bisa berbohong pada ibunya.
“Ibu akan setuju saja. Taeyeon gadis yang sangat cantik, manis, ramah, sopan, lucu, menyenangkan dan penuh ceria. Cocok sekali untuk dijadikan seorang menantu yang diharapkan oleh ibu-ibu yang lainnya. Setidaknya juga, ia terlihat sangat hangat dibanding denganmu, Wufan.”
“Jangan terlalu berharap, bu.”
“Wae? Lalu dengan ciuman itu?” selidik Nyonya Wu. “Tunggu, kau diam-diam menciumnya karena tadi ibu melihat Taeyeon tertidur. Wufan, apa yang kau lakukan?” pekiknya terkejut dan wanita paruh baya itu baru menyadarinya.
Puk. Nyonya Wu memukul kepala Kris cukup keras.
“Aku sudah menerima balasan pukulan tangan di kepalaku darinya, dan ibu masih ingin menambahkan.” desis Kris sebal seraya mengusap-usap kepala yang kembali terasa sakit.
“Siapa yang mengajarimu berbuat seperti itu? Ibu tak habis pikir jika kau berani mencium Taeyeon tanpa sepengetahuan-..”
“Mencium?” ulang sebuah suara seorang gadis memotong ucapan Nyonya Wu.
Lantas, baik Nyonya Wu maupun Kris membalikkan tubuh lalu mendapati seorang gadis tengah menatap keduanya dengan pandangan keheranan.
“Taeyeon..” panggil ibu dan anak tersebut secara bersamaan.
“Ahjumma, annyeong.” Taeyeon memberi sapaan seraya membungkukkan tubuh sekilas. Setelah ia kembali berdiri, ia bisa melihat Kris melangkah panjang masuk ke dalam rumah begitu saja.
Pandangan Taeyeon kembali beralih pada wanita paruh baya yang memang adalah tujuannya. “Ah, maaf jika aku mengganggu kalian.” ujarnya merasa tak enak.
Nyonya Wu menggelang cepat. “Tidak, Taeyeon. Maafkan Kris.”
“Ne?” Taeyeon terlihat bingung seperti ingin meminta penjelasan.
“Tidak, lupakan saja.” Nyonya Wu tersenyum sekilas. “Ada apa?”
“Eomma menyuruhku mengembalikan ini pada ahjumma.” jawab Taeyeon ramah seraya menyerahkan sebuah wadah plastik berbentuk bundar.
Nyonya Wu menerimanya karena ia sendiri tahu jika barang yang diserahkan Taeyeon adalah miliknya.
“Eomma berpesan, puding buah buatan ahjumma sangatlah lezat dan ia sangat berterima kasih.” Taeyeon menyampaikan sebuah ucapan yang memang disuruh oleh ibunya.
“Kau belum mencoba mencicipinya?” tanya Nyonya Wu.
Lantas, Taeyeon menggeleng. “Sepulang dari sini aku akan memakannya, ahjumma.”
“Cobalah, kau pasti akan sangat menyukainya.” jelas Nyonya Wu dengan pandangan meyakinkan.
Taeyeon mengangguk cepat. “Sekali lagi terima kasih, dan sampai jumpa.” ia salam membungkuk sebelum akhirnya berbalik pergi.
“Taeyeon..” baru satu langkah, ia mendengar Nyonya Wu memanggil namanya. Gadis itu berbalik, menghadap wanita paruh baya tersebut dengan kerutan di kening dan pandangan tak mengerti.
“Ini tentang Kris..” suara Nyonya Wu terdengar ragu. Sebenarnya ia ingin meminta maaf atas sikap Kris tadi pada Taeyeon. Tentang ciuman diam-diam yang dilakukan anak semata wayangnya tersebut pada seorang gadis yang kini berada didepannya.
“Ne?” bingung Taeyeon.
“Ia..-”
“Puding buah, aku sangat menyukainya.” potong Kris cepat seraya menatap ibunya dengan pandangan memohon untuk tak berbicara.
Taeyeon mengedikkan bahu tanpa berucap sepatah katapun begitu melihat Kris yang tiba-tiba sudah berada disana. Membalas senyuman Nyonya Wu yang terlihat sangat begitu kaku dan dipaksakan. Taeyeon menyadari, sepertinya ibu dan anak tersebut tengah menyembunyikan suatu rahasia.
“Hati-hati.” ucapan Kris terakhir sebelum berbalik pergi terdengar.
Taeyeon melangkah dengan pikiran melayang kemana-mana. ‘Apa yang harus ia takutkan? Rumahnya bahkan tepat bersebelahan dengan rumah ini. Kris sepertinya benar-benar sudah tak waras. ’
***
Pria bermata indah tersebut menatap sebuah bangunan yang tampak ramai. Suara hiruk-pikuk yang terngiang dalam pendengarannya membuat ia merasa terganggu dan merasa tak nyaman. Ini sama sekali bukan tempat yang ia sukai. Tempat dimana kalian bisa bepergian jauh dalam waktu singkat menggunakan transportasi pesawat udara. Salah satu tempat paling sibuk di Korea Selatan, Incheon International Airport.
“Tuan muda, anda akan pergi ke Beijing malam ini.” suara seseorang mengintrupsi dirinya.
“Apa?” ia berbalik dan mendapati pria setengah baya tengah menundukkan kepala dengan satu tangan membawa koper, dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk memegang tiket pesawat serta passport miliknya.
“Tuan besar sendiri yang meminta anda untuk pergi ke Beijing, sekarang juga.” jelas pria itu lagi.
“Tidak.” Luhan menolak keras. Ia mengedarkan pandangan mata saat beberapa pria yang menyeretnya tadi sudah tak ada disana.
Beruntung, karena sekertaris ayahnya tersebut tengah menunduk dan kesempatan itu ia gunakan untuk berlari sejauh yang ia bisa.
***
Peralihan dari musim dingin menuju musim semi merupakan hal yang sangat disukai oleh gadis bermarga Kim tersebut. Itu artinya, ia tak perlu repot-repot memakai mantel tebal untuk melindungi kulitnya dari hawa dingin yang bahkan bisa menusuk ke dalam tulang.
Tubuhnya berjingkrak-jingkrak layak seperti anak kecil yang baru mendapatkan sebuah mainan baru. Taeyeon, gadis tersebut melakukan hal itu karena ia berpikir jika berat tubuhnya akan tetap ideal setelah ia baru saja makan malam bersama ayah maupun ibunya.
Gaun rumahan yang dikenakan Taeyeon terlihat mengembang saat tubuh mungilnya melompat. Ia tak sadar, jika di pekarangan sebelah tampak seorang pria tinggi tengah memperhatikan gerak-gerik seorang Kim Taeyeon tanpa bersuara.
“Astaga Kris, apa yang kau lakukan?” pekik Taeyeon setengah terkejut setelah ia menggerakkan kepala ke samping dan mendapati Kris tengah menatapnya aneh.
“Kau yang sedang melakukan apa?” tanya balik Kris dengan satu alis terangkat.
“Ah, lupakan saja.” ujar Taeyeon melangkah masuk dan meninggalkan Kris.
Baru saja Kris akan masuk kedalam rumahnya, ia bisa mendengar bunyi pintu rumah Taeyeon yang terbuka kemudian tertutup kembali. Itu artinya seseorang kembali keluar dari rumah tersebut.
“Wufan..” panggil Taeyeon sebelum pria itu melangkah jauh.
Kris menoleh. “Ada apa?” ia bertanya dan memperhatikan Taeyeon kini sudah lengkap dengan jaket tipis transparan yang bisa memperlihatkan dress rumahan motif bunga-bunga yang Taeyeon kenakan sama seperti tadi.
“Kau ingin ikut bersamaku?” tawar Taeyeon pada Kris. Tampak ragu.
“Pergi kemana?” tanya balik pria itu.
“Kau ingin ddeokbokki terlezat di daerah sini?” tawar Taeyeon kembali.
“Ddeok.. apa?” bingungnya.
“Ddeokbokki. Entah mengapa, aku merasa lapar lagi. Padahal aku sudah makan malam. Bagaimana? Ini sebagai rasa permintaan maaf dan juga terima kasihku karena kau membiarkanku menumpang di mobilmu tadi.” jelas Taeyeon.
Kris terlihat berpikir dan sedetik kemudian ia mengangguk. Mungkin saja dengan menerima ajakan Taeyeon, ia akan melupakan sejenak masalah yang membuatnya kembali teringat akan masa lalunya. Ia melangkah menuju gerbang depan rumahnya dan Taeyeon mengikutinya disamping. Tentu menuju gerbang masing-masing rumah mereka.
“Kau tak mungkin akan menyesal.” sahut Taeyeon saat ia bertemu dengan Kris tepat didepan rumah mereka.
Taeyeon melangkah dan Kris ikut mengekorinya di belakang. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Kris menempelkan earphone di telinga tanpa memainkan lagu dan telinga Kris masih bisa mendengar derap langkah mereka dengan baik.
Suara dehaman yang dikeluarkan Taeyeon membuat Kris menoleh pada Taeyeon meskipun gadis itu berjalan membelakanginya. Alis Kris terangkat, bingung.
“Aku merasa aneh saat bersamamu. Mungkin karena kita baru saling mengenal, menjadi tetanggaku dan sekarang kita terlihat sangat akrab. Orang lain pasti menganggapmu selalu bersikap dingin. Iya, bagaimanapun juga aku setuju dengan pendapat orang-orang itu. Namun satu hal yang harus kau tahu Kris, tak peduli kau bersikap menyebalkan, keras kepala, atau semaumu tapi aku menyukaimu, Wufan. Aku menyukaimu.” jeda Taeyeon yang mana membuat Kris hampir mati menegang mendengar ujaran Taeyeon yang terdengar sangat jujur. “Suka dalam arti, perasaan ini sama seperti untuk Luhan, Sehun, Baekhyun maupun yang lainnya. Aku menyukai kalian. Kalian sudah kuanggap seperti adikku sendiri.” lanjutnya sebelum berbalik.
Taeyeon menoleh dan ia mendapati ekspresi Kris yang terlihat datar. Gadis itu menghela nafas kasar, baru menyadari jika Kris tak mendengar ucapannya saat melihat telinga Kris dipasangi earphone dan tangannya menggenggam ipad kecil milik pria itu.
“Ada apa?” tanya Kris setelah ia melepaskan earphone di telinganya seraya menatap Taeyeon dengan pandangan biasa.
“Ah, lupakan saja.” dengus Taeyeon lalu kembali melangkah.
Beruntung Kris bisa menutupi wajah keterkejutannya, ia kembali mengekori tubuh mungil Taeyeon yang jauh didepan. ‘Aku menyukaimu.’ itu kalimat yang ia ingat dengan baik dan ia sangat menyukainya. Tapi kalimat selanjutnya yang diucapkan Taeyeon membuat Kris kecewa tak teralaskan. ‘Suka dalam arti perasaan ini sama seperti untuk Luhan, Sehun, Baekhyun maupun yang lainnya. Aku menyukai kalian. Kalian sudah kuanggap seperti adikku sendiri’.
“Kajja, kita sudah sampai.” ujaran Taeyeon membuat Kris kembali ke alam nyata.
Kris memperhatikan Taeyeon yang kini tengah memesan makanan yang disebutkan Taeyeon tadi sementara ia duduk di kursi pengunjung kedai tersebut. Seperti sepasang suami-istri yang akan makan bersama.
Taeyeon datang dengan membawa nampan besar. Ia duduk berlawanan arah dengan Kris. Mata Kris bisa melihat semangkuk makanan berkuah merah dan bentuknya lonjong kecil. Dua buah gelas berisikan air putih yang sama dengan mengebul asap diatasnya. Pasti suhunya panas sekali.
“Apa ini?” itu pertanyaan singkat Kris pada Taeyeon setelah gadis itu duduk didepannya.
“Ddeokbboki. Ah, kue beras pedas.” jelas Taeyeon seraya menusukkan garpu kecil pada ddeokbboki berkuah merah yang menggugah selera.
“Kau tak takut badanmu melebar ke samping? Biasanya gadis seusia denganmu selalu menjaga bentuk tubuhnya agar terlihat menarik.” Kris berujar santai saat melihat Taeyeon memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Lantas, Taeyeon menggeleng. “Ini aman untuk berat badanku, kau tak perlu khawatir.” seraya mengunyah ddeokbboki yang terasa kenyal.
Kris mengernyit heran. ‘Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya ingin mengingatkanmu, saja.’ Ia membatin heran.
Taeyeon kembali meniup-niup ddeokbbeoki yang lainnya. Bibirnya mengerucut lucu saat makanan pedas itu sudah masuk ke dalam mulutnya lagi. Giginya bekerja bersamaan dengan lidah yang menahan rasa pedas dan panas.
Mata Kris beralih pada bibir Taeyeon yang kini tampak mengerucut tanpa disengaja. Ia menahan desiran aneh kala pikirannya kembali mengingat dirinya yang sudah menyentuh bibir milik gadis itu secara diam-diam.
“Ayo makan.” Taeyeon bersuara sebelum menjeda. “Jangan katakan kau alergi dengan makanan ini juga. Ayolah Kris, ini hanya terbuat dari tepung beras.” Ia menambahkan.
Kris sedikit merasa ragu. Ia menusuk potongan ddeokbboki dengan garpu kecil lainnya. Pandangan Kris terhadap makanan itu seolah mengatakan ‘apakah makanan ini bersih?’ Mengingat ini pertama kalinya ia diajak pergi ke kedai di pinggir jalan. Dan ya, pada akhirnya ia malah menyimpan garpu lengkap dengan ddeokbboki di mangkuknya. Kris belum berani memakannya.
Taeyeon yang melihat itu hanya memutar bola mata. Tangannya meraih garpu milik Kris lalu menyodorkannya tepat di mulut pria itu. Lantas, Kris menatap Taeyeon bingung. “Ayo, makanlah.”
Pandangan mereka bertemu. “Akan kupastikan makanan ini tak beracun untukmu.” tambah Taeyeon.
Pandangan keduanya masih dititik yang sama. Saling menatap entah dengan maksud apa. Kris meraih tangan Taeyeon kemudian mendekatkan pada mulutnya.
Saat tangan Taeyeon menjauh, sepotong ddeokbboki sudah pasti masuk ke dalam mulut Kris. Bisa dirasakan mulut Kris terasa terbakar akibat panas juga rasa pedas. Alis Taeyeon bertaut bingung. Ia menatap aneh pria di depannya yang kini tampak mengunyah ddeokbboki secara cepat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon terlihat khawatir. Bibir Kris terlihat memerah dan terlihat sedikit peluh dikeningnya.
Taeyeon panik seorang diri saat melihat Kris meneguk minuman yang dibawa Taeyeon tadi. Orang lain mungkin akan merasa heran saat melihat raut wajah tampan pria itu saat ini. Aneh. Kris terlalu berlebihan.
Bibir Kris terlihat meniup-niup mulutnya sendiri. Menghilangkan rasa pedas sekaligus panas.
Gadis itu beranjak mendekati tempat duduk Kris lalu mengambil tisu untuk mengelap sisa saus ddeokbbeoki di sudut bibir pria itu. Kris mendongak dan tak sengaja pandangan mereka bertemu. Tangan Taeyeon terdiam disudut bibir pria itu, matanya mengerjap menatap Kris.
“Aku tak suka pedas.” ujar Kris membuat Taeyeon tersadar sebelum menjauh kembali ke tempatnya semula.
Taeyeon menggigit bibir bawah seraya kembali duduk di kursinya kembali. Suasana canggung kini menyelimuti keduanya. Kris yang kini sibuk meminum air putih, sedangkan Taeyeon kembali memakan ddeokbbeoki untuk menghilangkan perasaan aneh yang kembali muncul saat bertatapan begitu dekat dengan Kris.
***
Setengah jam lebih mereka habiskan di kedai. Ini bukanlah kencan seperti yang biasa sepasang kekasih lakukan. Tidak saling menyuapi, meskipun hanya Taeyeon yang melakukannya seorang diri. Bercanda-tawa membicarakan hal-hal yang menarik. Melempar senyuman diraut wajah keduanya. Atau mungkin tangan mereka saling menggengam. Tapi itu tak belaku untuk keduanya.
Langkah Taeyeon terhenti, begitu mendapati punggung seorang pria tengah berdiam diri didepan gerbang rumah besarnya. Ia mengerutkan kening. Pria itu memakai hoodie berwarna abu-abu dengan garis biru tua, lengkap dengan topi berwarna biru tua, celana jeans berwarna hitam dan sepatu bermerk vans berwarna hitam.
Lantas, Taeyeon berlari mendekat ke arahnya. Ia menebak jika pria tersebut adalah Luhan. Siapa lagi kalau bukan pria itu. “Baby rusa..” panggil Taeyeon pelan membuat pria itu berbalik.
“Noona..” ia membalas menyahut dengan senyuman tipis bertengger di bibirnya.
Taeyeon sibuk meneliti gerbang rumahnya. Itu belum terbuka dan berarti Luhan sedari tadi berada disana. “Mengapa tak masuk saja?”
Luhan menggeleng pelan dan ia tertunduk lesu.
“Hey, ada apa denganmu?” tanya Taeyeon merasa heran.
Luhan menarik lengan gadis itu sebelum memeluknya. “Aku tak baik-baik saja.” ia berbisik pelan.
“Jelaskan apa yang terjadi.” pinta Taeyeon dan disetujui anggukkan kepala oleh Luhan lalu pelukan mereka terpisah.
Sebuah kepalan tangan terlihat dari seorang pria yang berdiam diri tak jauh dari posisi keduanya. Darahnya memanas melihat sang gadis yang tadi pergi bersamanya kini tengah berpelukan dengan seorang pria yang sama untuk kedua kalinya.
Rahang Kris mengeras. Ada dua alasan pasti yang sudah menjadi penyebabnya. Pertama, karena pelukan kedua orang itu. Dan yang kedua adalah mengenai sebuah fakta yang baru ia ketahui. Fakta mengejutkan tentang hubungan darah antara dirinya dengan pria yang tengah berpelukan dengan gadis yang tadi mengajaknya pergi.
Taeyeon menoleh ke arah belakang dan Luhan mengikuti arah pandangan gadisnya. Taeyeon tahu, Kris masih bersama mereka membuat pria tinggi itu menatapnya datar. Ternyata tebakan Kris salah, awalnya ia berpikir jika Taeyeon lupa akan kehadirannya. Sementara Luhan, ia sempat merasa tercekat saat baru menyadari ada kehadiran Kris diantara mereka.
“Wu Yifan, kita sudah impas. Dan itu berarti aku tak mempunyai hutang apapun padamu.” ujar Taeyeon pada Kris.
Kris menatapnya datar tanpa berujar, tak peduli tatapan Luhan yang kini tengah menatapnya tajam. Ia berlalu, melangkah masuk ke dalam gerbang rumahnya sendiri.
“Noona, kalian pergi bersama?” tanya Luhan membuat Taeyeon menoleh saat tubuh Kris sudah tak terlihat oleh pandangan mata.
“Aku mentraktirnya karena ia tadi sudah berbaik hati memberi tumpangan padaku. Meskipun aku sendiri yang memintanya.” Jelas Taeyeon.
“Maafkan aku…” sesal Luhan karena ia tadi meninggalkan Taeyeon.
“Gwaenchana. Ayo, masuklah.” ujar Taeyeon dan keduanya melangkah menuju taman samping rumah tersebut.
***
Sepasang mata terlihat penuh selidik memperhatikan pekarangan sebelah rumahnya yang tampak remang-remang karena kurang pengcahayaan disekitar sana. Ia menatap waspada tempat itu yang mana kini ditempati hanya oleh dua orang saja. Dua orang berbeda jenis kelamin. Entah apa yang membuat Kris melakukan hal-hal seperti saat ini. Ia terlihat seperti seorang mata-mata, khawatir pada kedua orang itu yang mungkin akan melakukan hal yang diluar batas. Astaga pikiran Kris terlalu liar.
“Jadi, pria itu kekasih Taeyeon?” sebuah suara pelan terdengar di telinganya.
“Dia bukan kekasihnya.” sahut Kris tanpa sadar dan tanpa menoleh.
“Astaga, bu. Apa yang ibu lakukan disini?” Kris yang baru tersadar lantas memekik kaget melihat ibunya kini tengah ikut-ikutan mengintip jendela kecil samping rumahnya.
Nyonya Wu sedikit menjauh. “Harusnya ibu yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan? Mengintip sepasang kekasih yang tengah berpacaran? Astaga, itu juga merupakan perbuatan yang tak baik.”
Kris memutar bola mata. “Sudah kubilang. Mereka bukan sepasang kekasih.” sangkal Kris tanpa sadar.
“Hey, keep calm boy. Are you jealous, right?” goda Nyonya Wu.
Kepala Kris menggeleng tegas. “Aku tak menyukainya.”
“Hey, ibu bertanya apa kau cemburu? Bukan apa kau menyukainya?” koreksi Nyonya Wu.
“Sudahlah bu, berhenti menggodaku.” sela Kris menatap ibunya dengan pandangan sulit diartikan.
“Katakan saja dengan jujur, kau menyukai Taeyeon?” tanya Nyonya Wu lagi menatap Kris.
Pria itu tak menjawab pertanyaan ibunya barusan. Entahlah, ia merasa lidahnya kelu tak bisa berujar untuk mengatakan yang sebenarnya. Dari raut wajah Kris saja Nyonya Wu sudah bisa mengetahuinya dengan sangat mudah.
“Kau tak bisa menjawabnya, tapi ibu bisa menebak jika kau menyukai Taeyeon. Cintamu bertepuk sebelah tangan karena Taeyeon sudah memiliki pria lain yang saat ini tengah bersamanya. Apa ibu benar?”
Kepala Kris menoleh sekali lagi pada Luhan dan juga Taeyeon. Kedua orang yang sedari tadi ia perhatikan. Entah mengapa, kali ini Nyonya Wu bersumpah jika mata Kris terlihat berkilat. “Dengarkan aku, bu. Pria yang bersama Taeyeon saat ini adalah putra paman Xi. Orang yang telah menjebak ayah dan membuat keluarga kita terbuang begitu saja.” jelas Kris tenang yang membuat Nyonya Wu terperangah tak percaya.
“Kau pasti berbohong pada ibu’kan? Jelaskan semuanya, Wufan.” suara Nyonya Wu terdengar surau.
Kris menghela nafas sekilas. Ia menundukkan kepala belum siap berujar. “Aku tak berbohong, bu. Sejak awal bertemu dengan Luhan di hari pertama sekolah, aku merasa tak asing dengan wajahnya. Mungkin beberapa hari setelah hari itu aku berusaha mengabaikannya, tapi semakin ditahan aku semakin penasaran. Dan hari ini, aku mengetahui segalanya. Tentang Luhan, tentang paman Xi.” Ia menjelaskan tanpa menatap wajah ibunya yang mendengarkan penjelasannya dengan serius.
***
“Bagaimana, apa kau merasa lebih baik?” tanya Taeyeon terlihat khawatir.
Luhan mengangguk seraya menyeruput cokelat panas buatan gadis itu, ia tersenyum tipis setelah berbicara panjang lebar mengenai keadaannya sekarang. Tentang mengapa ia tadi pergi begitu saja, meninggalkan Taeyeon. Juga mengenai paksaan dari ayahnya agar ia pergi ke Beijing. “Aku sudah merasa baik.” Terlihat sekali Luhan tak berbohong. Ia merasa mendapatkan efek berlebih setelah bertemu dan menceritakan semuanya pada Taeyeon. Gadis yang menjadi sandaran dirinya.
Tangan mungil Taeyeon menepuk-nepuk bahu Luhan pelan. “Aku belum pernah bertemu dengan ayahmu sebelumnya. Tapi setelah mendengar apa yang terjadi padamu, aku takut dan tak ingin bertemu dengannya.”
Pria itu kembali tersenyum mendengar ujaran jujur gadis disampingnya. Tangan Luhan meraih tangan Taeyeon yang masih tersampir dibahunya. “Noona..” panggil Luhan seraya menggenggam tangan mungil gadis itu.
“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Luhan tanpa menunggu sahutan dari gadis yang kini menatapnya bingung.
Taeyeon terdiam selama beberapa detik sebelum ia mengangguk. “Tentu, Lu. Kau boleh memelukku.” Ia menyetujui permintaan Luhan.
“Terima kasih.” Lantas, Luhan menarik bahu Taeyeon kemudian memeluknya.
Rasa hangat langsung menjalar saat tubuh keduanya menyatu dalam sebuah pelukan erat. Taeyeon menaruh dagunya di pundak pria itu, melingkarkan kedua lengannya di leher Luhan. Semantara pria itu, melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Taeyeon dan satunya lagi mengelus rambut panjang sampai punggung gadis itu berulang kali.
Tak ada yang berujar, tak ada yang bersuara. Yang terdengar hanya hembusan nafas yang keluar dari keduanya dikesunyian malam yang sepi. Pelukan mereka masih berlangsung bahkan lebih dari sepuluh menit.
Tangan Luhan kembali mengelus lembut rambut panjang Taeyeon dengan sayang. “Aku ingin selalu bersamamu. Aku menyukaimu, aku mencintaimu noona.” bisiknya pelan.
Hening. Luhan bisa merasakan hembusan nafas Taeyeon normal di lehernya. Tapi ia tak mendengar balasan Taeyeon mengenai ungkapan perasaannya selama ini, sampai pada akhirnya Luhan melepas pelukan mereka dengan tangan menahan kedua lengan atas gadis itu.
Luhan menghela nafas panjang, mendapati Taeyeon tengah tertidur adalah sesuatu yang baru ia sadari. Puluhan menit berpelukan saja sudah membuat Taeyeon tertidur lelap di pelukannya.
Dengan hati-hati, ia membawa tubuh Taeyeon dikedua lengannya ke dalam rumah. Tak mungkin Luhan membiarkan Taeyeon tertidur dalam pelukannya meskipun Luhan sangat menginginkannya.
Luhan bahkan sudah tahu letak kamar Taeyeon. Ia sudah menebak jika ibu dan ayah dari gadis yang kini dalam pangkuannya sudah tertidur lelap.
Tanpa menimbulkan suara, perlahan Luhan membaringkan tubuh Taeyeon di ranjangnya. Ia menarik selimut sampai sebahu pada gadis itu seraya memperhatikan mata Taeyeon yang terpejam menikmati tidur malamnya. “Selamat tidur, noona.” ia berbisik tepat di telinga gadis itu sebelum memberikan kecupan di keningnya dua kali. Sempat ada pikiran melintas dari Luhan ingin memberi kecupan di bibir Taeyeon, tapi ia tak bisa melakukan hal yang tak wajar tersebut.
Setelah mematikan lampu, Luhan pergi keluar dari kamar Taeyeon lalu melangkah pergi keluar rumah.
Ia baru saja menutup gerbang kecil disamping taman rumah gadisnya. Belum ada tempat tujuan selanjutnya yang Luhan sudah putuskan. Setelah menemui gadis ini, entah kemana lagi ia akan pergi. Tidak mungkin Luhan akan pulang ke rumahnya, jika saja ia bisa pulang maka yang akan didapatnya adalah kemarahan besar sang ayah.
“Kalian sangat dekat.” suara berat seorang pria terdengar dibelakangnya. Lantas, Luhan menoleh dan mendapati Kris tengah menatapnya datar.
“Ralat ucapanmu, kami sangatlah dekat lebih dari apa yang kau pikirkan.” balas Luhan.
Pria itu berniat melangkah melewati Kris, tapi ia belum ingin melangkah lebih jauh lagi saat tubuhnya berhadapan dengan pria tersebut. “Jangan dekati, gadisku.” ucap Luhan penuh dengan penekanan.
Suara tawaan renyah Kris terdengar. “Gadisku? Sejak kapan Taeyeon menjadi gadismu?” tanyanya sarkastis.
Senyuman kecut tampak terlihat di raut wajah Xi Luhan. Ia belum ingin mengalah pada pria bermarga Wu tersebut. “Siapa kau, Wu Yi Fan? Nama itu seperti tak asing bagiku.”
Seketika, Kris menegang kala Luhan menyebut nama aslinya. Bagaimana pria itu tahu tentang nama tiongkok-nya? Ini benar-benar membuat Kris menjadi tak nyaman. Hanya satu orang yang ia tebak siapa yang memberitahukan nama itu, siapa lagi kalau bukan Kim Taeyeon. Hanya gadis itu satu-satunya yang tahu nama aslinya tersebut.
Kris tak bisa menahannya lagi. Detik ini juga, ia harus memberitahukan identitas yang sebenarnya pada Luhan. Saudara sepupu dari ibunya. Kris sangat penasaran bagaimana reaksi Luhan jika pria itu tahu tentang segalanya. “Bagaimana kabar ayahmu? Apa ia masih bersikap rakus seperti dulu?” pertanyaan Kris terdengar tenang.
Luhan yang tengah menunggu jawaban dari Kris malah merasa kebingungan saat pria itu bertanya mengenai ayahnya. “Kau mengenal ayahku?” tanya Luhan.
“Ibuku sangat mengenalinya. Perempuan tak berdosa yang dibuang begitu saja oleh keluarganya.” Mata Kris menajam menatap Luhan dengan ucapannya.
“Tunggu, jangan katakan jika adik perempuan ayah yang diusir kakek lima belas tahun lalu adalah ibumu.” Tebak Luhan terperangah dengan ucapannya sendiri.
“Kau tahu semuanya, ternyata. Padahal saat itu kita masih berusia dua tahun. Xi Chun Lai. Ah, ibuku sudah berubah marga semenjak kakek mengusirnya pergi.”
Luhan tampak terkejut, terperangah, tak percaya. “Oh tidak, kalian masih hidup?” tanya Luhan.
Kris salah mengambil pengertian saat Luhan menanyakan tentang hidup-mati keluarganya. Tangannya mengepal menahan amarah. “Jadi, kau menginginkan kami mati setelah apa yang dilakukan ayahmu pada ayahku?”
Luhan tampak mengerutkan kening, ia ingin menyahut dan mengoreksi pertanyaannya tadi. Tapi belum sempat ia berucap, Kris memotongnya. “Aku akan melakukan sama persis, apa yang dilakukan ayahmu pada keluarga kami.”
“Bahkan aku tak segan akan membunuh ayahmu.” Kris berujar dengan aura yang sangat menakutkan. Sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan, mungkin akibat kemarahan yang selama ini ia pendam, akibatnya ancaman yang terakhir ia lontarkan keluar begitu saja dari mulutnya.
Telinga Luhan mendengar jelas perkataan Kris yang terakhir. Sudah dikejutkan ia dengan kenyataan yang sebenarnya ia baru ketahui, tentang hubungan darah dirinya dengan Kris. Sekarang ia lebih dikejutkan lagi dengan ancaman pria itu. Tangan Luhan mengepal lalu melayangkan tinjuan kerasnya tepat di sudut bibir Kris. Bug.
Tepat sasaran. Kepalan tangan Luhan membuat tubuh Kris jatuh tersungkur dan sudut bibirnya terasa perih. Kris tersenyum kecut, ia menggunakan punggung tangan untuk mengusap cairan merah yang keluar dari rasa perih tadi.
Keduanya saling memandang dengan pandangan tajam. Ancaman Kris benar-benar sangat menakutkan. Luhan melakukan itu bukan karena ingin membela ayahnya. Hanya saja, Luhan ingin mencegah Kris untuk tak berbuat kejahatan paling keji tersebut.
“Kendalikan emosimu, Kris.”
Kris beranjak melangkah mendekati Luhan. Tanpa aba-aba, telapak kaki Kris terangkat dan langsung mendorong tubuh Luhan tepat di perut pria itu. Luhan kehilangan keseimbangan. Ia merasa kesakitan dibagian perutnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga ia terbaring jatuh.
Luhan memegangi perutnya. Ia segera beranjak menyadari Kris tengah mendekat dengan kepalan tangannya. Baru saja ia berdiri sempurna, Kris melayangkan tinjuannya di pipi Luhan.
Luhan tersenyum kecut, sudut bibirnya juga terlihat memerah. “Jadi, apa yang kau inginkan? Membunuh ayahku agar kau merasa puas, bukan begitu?” tanya Luhan murka.
Kris tak menjawab, sampai Luhan kembali menyahut. “Aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya di masa lalu, aku meminta maaf atas nama ayahku.”
Masih tak ada sahutan, dan untuk yang kedua kalinya Kris melayangkan tinjuannya disudut bibir pria itu. Luhan tak bisa mendiamkannya lagi saat ia hanya berdiam untuk menerima pukulan dua kali ini. Setelah kekuatannya hampir terkumpul, kali ini Luhan yang terlihat mengepalkan tangan.
Ia mendorong bahu Kris keras. Meskipun pria itu lebih tinggi darinya, tapi Luhan sama sekali tak takut. Tangannya mencengkeram kerah baju hitam Kris. “Mungkin saat masih kecil kita hanya bertemu beberapa kali. Aku tinggal di Beijing sementara kau di Guangzhao, meskipun aku tak tahu dimana lagi kau tinggal. Kita masih satu saudara, Kris. Hentikan sekarang sebelum aku berbuat lebih padamu.”
Kris siap menantangnya. “Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Aku akan menerimanya.”
Tangan Luhan mengepal kuat, Kris lebih keras kepala. Ia kali ini yang kehilangan kendali. Tangannya kembali mendorong bahu Kris membuat pria itu terdorong kebelakang. Kepalan tangannya terangkat hendak memukul pipi Kris, tapi Kris bisa membacanya hingga ia berhasil menghindar. ‘Shit’ ujar Luhan dalam hati.
Luhan melangkah dengan pandangan tajam sementara Kris tersenyum mengejek. “Hanya itu saja kemampuanmu? Kau payah, saudaraku.” ujar Kris menyeringai seraya berjalan mundur. Kris tak tahu jika punggungnya sebentar lagi akan bertabrakan dengan gerbang besi rumah besar Taeyeon.
Hingga pada akhirnya, Luhan menggunakan kesempatan itu untuk kembali mendorong bahu Kris dan sekarang membuat tubuh Kris malah tersudut. Luhan kini tersenyum penuh arti, ia menarik kerah baju Kris dengan sebelah tangan. Tangan satunya lagi ia gunakan untuk memukul pipi Kris beberapa kali tanpa ia berpikir lagi.
Kris tidak membalas, ia merasakan rasa sakit yang amat luar biasa. Bisa dipastikan sudut bibirnya lecet dan pipi-pipinya mempunyai luka lebam. Sudah cukup ia menerima pukulan dari Luhan. Kakinya terangkat dan cukup sekali tendangan di perut Luhan membuat pria itu tersungkur jatuh.
Luhan berbaring dengan sebelah tangan memegang perutnya seperti tadi. Kris tak peduli jika ia terlalu kasar atau hal itu bisa membuat perut Luhan merasa kesakitan.
“Bangunlah.” Kris berujar dingin mendengar suara ringisan Luhan.
“Pukul aku kembali, kau terlalu lemah.” lanjutnya.
Kaki Kris yang tepat disamping tubuh Luhan membuat pria itu menarik kaki panjang Kris hingga membuatnya ikut berbaring.
Kris terkejut saat ia baru menyadari tangan Luhan bisa menarik kakinya. Suara tawaan Luhan terdengar lalu ia beranjak dan membalas menendang perut Kris.
Kris tak bisa melawan saat tubuh Luhan menahannya untuk berdiri. Luhan menimpa tubuh Kris lalu membabi buta memukul wajah pria dibawahnya. Tak peduli dengan apa yang ia lakukan saat ini sangatlah berlebihan. Luhan sepertinya benar-benar hilang akal, bisa saja tanpa sengaja membunuh pria yang masih ia pukuli dengan genggaman tangannya tanpa henti. Tapi sepertinya itu tak berlangsung lama saat sebuah suara menginterupsi dan menyadarkan Luhan.
“Xi Luhan, Wu Yifan.. hentikan.” teriak suara nyaring seseorang. Pemilik suara tersebut menatap keduanya dengan pandangan ketakutan. Ia menggunakan tangannya untuk membekap mulutnya sendiri setelah berhasil mengeluarkan suara sekeras yang ia bisa.
Melerai perkelahian dua orang pria beranjak dewasa yang ia kenali dengan sangat baik. Kris serta Luhan segera menoleh, mereka dikejutkan dengan kehadiran seseorang berjenis kelamin perempuan yang menatap keduanya dengan pandangan tak percaya.
Luhan segera bangkit menjauhi tubuh Kris saat mengetahui siapa seseorang itu. Pandangannya merasa bersalah dan Luhan terlihat sangat cemas.
“Astaga…”
TBC
A/N : hai, annyeong ^^
sengaja posting cepat, biar selesai sampai ending dalam waktu dekat. Maaf ceritanya lumayan aneh, bertypo, kurang jelas ataupun bisa kalian tebak.
Masih shock dengan kenyataan WU YIFAN yang benar-benar keluar dari EXO ://
Oh, saya tidak ingin membahas ini.. biarlah waktu yang menjawab segalanya..
Read, like and leave a comment readers. Not silent ^^
Gomawo~~

Advertisements

35 comments on “[FREELANCE] One Love, Only You!! (Chapter 9)

  1. wekaweka , mamanya Kris gaul banget , tau caranya nge-goda anaknya kkk
    oh ‘Tuan Muda’ yang malang cup cup cup
    siap tu , tengah malem neriakin BERHENNTI ? Taengii ya ? *nebak nebak
    kyaaa , sampe kutuan nunggu nih chap keluar , kok pendek unnie ? *ini bener bener reader gak nyadar diri -,- maafkan aku unnie
    next ditunggu ne^^ (bimbang milih couple yang mana -,- lebih baik Taeyeon sama Chanyeol aja -,- )
    BIG FIGHTING!! saranghaeee~~

  2. Bgs2
    Itu yg bilang berhenti pas terakhir itu kyknya Taeng atau ga eomma nya kris
    Hehe
    Soalnya cuma 2 itu aj yg perempuan
    Makin penasaran sama kelanjutannya
    Next chap nya jgn lama2 yah

  3. Itu Taeng?? Ato mmgnya Kris???
    Ada yg aneh, kyknya pph Lohan mnceritakan ke Luhan klo Kris dan mmhnya itu meninggal pdhl engga *mian klo salah,,
    Gasabar next chapnya, updatesoon authornim, fighting!!!

  4. KYAAAA AKHIRNYA DIUPDATE JUGAAAAAAAAA ><
    Nuguya? Siapa yeoja yg mergokin mereka berantem? Taeng kah? 😮
    hahah kristae momennya lucuuuuuu dan lutae momennya aigoo.. romantis T.T
    next chapnya ditunggu 🙂

  5. Yeayyyyy akhirx chap 9nya di post jga 😀
    lulu oppa sma wuyi oppa kok brantem sih kan msih punya hbungan drah;(
    siapa tuh eonnni yg ngelerai mreka ??? Ap mmax wuyi ato kakakq (?) yg dorky it ????

    Next nya jgan lma2 ne eonni
    fightaeng :*

  6. Thoorr! Lanjut, lanjut pokoknya lanjut #jambak rambut sehun
    terungkaplah hubungan kluarga kris dan luhan, kris jealous. Hahaha.. Ny Wu gtu” mata” jga ya
    ternyata luhan tak se pervert kris
    pokoknya lanjut cpet ya thor! Dtnggu!
    FIGHTAENG!

  7. senyum-senyum sendiri waktu bagian KrisTae eonnie hehe . moment LuTaenya juga gak kalah sweet . itu yang tiba2 dteng siapa ya? taeyeon eonnie? atau ibunya kris ge? duh penasaran^^ update soon!!!! miss you daddy laxy!!~~

  8. Moment nya KrisTae sama LuYeon cute banget >.<
    Hahahaha eommanya abang Yifan kece badai hahahaha
    Luhan sama Yifan tobat nak! kalian masih sedarah /abaikan
    Btw, siapa cewek yang tiba-tiba dateng? eommanya abang Yifan apa Taeng eonni?
    Ditunggu next chapter nya! KEEP WRITING AND HWAITING!!

  9. itu Tae unnie ya yg bilang “BERHENTI” ,, waw kayaknya luhan sama kris pada babak belur ya? ayahnya luhan kok bisa jahat sama keluarganya kris oppa? penjelasan di tunggu chap selanjutnya thor^^ Hwaiting!!!^^

  10. neomu2 daebak
    tpi di chap ini momentnya lucu2 gmana gtu
    apalagi eomanya kris ge wduh gaul bkan main
    seneng sih sma kristaeng tpi lbih seneng lgi sma lutae#abaikan
    hembt kris ge n luhan ge jangan berantem donk kan kalian berdua bias ku
    taeyeon unnie nantinya sama siapa yha ???
    ditunggu chap brikutnya yha update soon gomawo !

  11. kyaaaa Kris oppa dan Luhan oppa knpa kalian berantem/?kalian kan masih saudaraan :v
    kira2 siapa ya yg nyuruh mereka berhenti,Taeyeon eonni kah?atau eomma Kris oppa?
    cepetan ya thor update chapter selanjutnya,penasaran bgt nih sama kelanjutannya ><

  12. luhaaaann !!! kriss!!!
    apa yg kalian lakukan??!!
    tpi bgitu bca ada yg berhentiin mereka trus muncul kta TBC jdi kesal + penasaran, unniee knapa hrus berhenti disistu !!!
    btw saeng lbih dapat feel yg lutae dri pada kristae, mungkin karena krisnya ngga berani ngelakuin sesuatu yg nunjukin klau dia itu tertarik,suka,dan posesif terhadap taeyeon di depan taeyeon dan luhan, but semuanya udah bagus bgt eon ^^
    keep writing ya, and publish as soon as posible but i hope secepatnya . kkk~

  13. Meski gue ngerti cerita ini bakalan kebanyakan tentang Kris sama Taeyeon atau bahkan mungkin ending-nya bakalan bareng.. Tapi gue gak bisa berhenti ngeharapin Luhan sama Taeyeon!!! Mereka terlalu lucu pas barengan… Lagian Luhan sama Taeyeon udah deket dari lama banget jadi mereka pasti udah bisa ngerti satu sama lain ^^
    Nice story btw author ㅋㅋㅋ

  14. daebaaaaaaaaaaaaaaaaaaak author!!!! itu taeyeon kah?’-‘ fightinggg authoor!! semoga kris ga beneran sama ucapannya;___________; semangat!

  15. kira2 siapa yg bilang “berhenti” yya??? Next chap thor,, tp aku lebih suka moment lutae daripada kristae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s