[Freelance] Power Legend (Chapter 1)

12 Power Legend - EXOTaeng

12 Power Legend – Chapter 1
Title : 12 Power Legend 1
Author : Oh Eun Hye (Sparkpiglest3)
Rated : T (PG-15)
Genre : fantasy, adventure, mystery (little bit romance)
Length : Multi-Chapter
Main cats : SNSD Taeyeon, EXO member
Support cats : you will find other cats in the story
Disclaimer : all the main cats in this story don’t belong to the author. The author is only entitled to the story belongs to the author who in import directly from my brain.
Author note’s : typo (s) scatted. For those who don’t like the cats here in, please don’t vilify or bash the cats! Author never allow to anyone plagiarism for this Fanfiction. And remember to give a comment. Don’t be a silent readers.


And the twelve power will unite.

Forming a new tree of life.

Starting a new world.

Be something that will always be qualified.

However, when the forces of darkness will also awake.

At the moment, the twelve legend will united against it.

Freeing the world from the grip of thick darkness enveloping.


‘Dengar, Kim Taeyeon. Kau adalah gadis terpilih. Kau harus menyatukan ke-12 pemilik kekuatan legenda. Kau harus membuat mereka mereka bersatu, Kim Taeyeon. Buat mereka kuat dengan bersatu. Kami tau kau bisa, Kim Taeyeon. Ketika kau berhasil, maka mereka yang akan menjaga mu. Pergilah ke gua yang ada di sudut terpencil di Gangnam dan temukan buku ‘History’. Buku itu akan menjelaskan semuanya pada mu. Kau bisa, Kim Taeyeon.’


Taeyeon segera tersentak bangun saat suara yang ada di mimpinya itu menggema kembali. Untuk ke-5 kalinya, ia terus-terusan di terror oleh mimpi yang sama. Dan suara-suara yang menggema dengan isi yang sama. Taeyeon tak mengerti. sama sekali bagaimana bisa suara itu muncul terus dalam mimpinya. Taeyeon menelungkupkan wajahnya di telapak tangannya. Sakit. Kepalanya sangat sakit saat berusaha keras untuk menebak arti mimpinya. Semuanya nihil.
Taeyeon berpikir, apa ia harus mendatangi gua itu. Karena suara itu menyuruhnya mendatangi gua itu. Dan juga buku History yang terpendam di dalamnya. Taeyeon memutusan untuk pergi ke gua itu besok setelah pulang bekerja.


Taeyeon segera berganti seragam yang ia kenakan dengan pakaian casual miliknya. Setelah berpamitan dengan beberapa karyawan yang tersisa di cafe tempatnya bekerja juga dengan manager Lee, ia segera mengayuh sepedanya menuju ke sebuah gua di pinggir kota Seoul. Taeyeon mengayuh sepedanya dengan santai. Merasakan hembusan angin yang menerpa-nerpa wajah manisnya.
Kayuhan pedal sepeda itu mengantarkan Taeyeon sampai pada tempat yang ia tuju. Sebuah gua gelap dan besar terpampang di depannya. Taeyeon segera meletakkan sepedanya dan berjalan ragu memasuki gua.
Kegelapan dan sunyi menyambut Taeyeon saat ia memasuki mulut gua. Jantungnya berdetak kencang lantaran takut. Gua ini begitu terpencil. Sangat sulit untuk menemukan pertolongan kalau-kalau dia di serang binatang penghuni gua. Taeyeon segera menyingirkan semua prasangka buruk di kepalanya. Dengan berdo’a, Taeyeon memberanikan diri untuk masuk.
Dengan mengandalkan cahaya ponsel genggam miliknya, Taeyeon mulai menyusuri gua tersebut. Taeyeon berusaha menemukan buku itu dan segera pulang. Tapi, sepertinya menemukan buku itu lumayan butuh tenaga keras. Sudah sejam lebih Taeyeon berada di sana. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan menemukan buku History itu. Hari mulai gelap. Dan Taeyeon mulai kelaparan karena ia memang belum makan dari tadi siang.

KREK!

“Eh?!”

Taeyeon begitu kaget saat ia merasa kakinya menginjak sesuatu. Taeyeon segera mengarahkan cahaya ponsel miliknya dan membelalakkan mata ketika ia melihat sebuah buku yang terlihat sangat tua. Terbukti dari covernya yang lapuk dan penuh debu.
Taeyeon segera memungut benda itu. Taeyeon membersihkannya dan meniup-niup debunya sehingga ia harus bersin berkali-kali lantaran tak tahan akan debu.
Berbaris-baris huruf Hangeul menyambut penglihatannya. Taeyeon sedikit kesulitan dalam membaca dalam kegelapan begini. Jadi, ia segera menuju pintu keluar gua dan memutuskan untuk membaca buku tersebut di apartemannya.


Sakit kepala. Itulah hal yang di rasakan Taeyeon ketika membaca buku History. Tak
ada yang ia fahami dari sebuah buku dengan gambar sampul aneh dengan 12 lambang yang sama anehnya. Sungguh, rasanya Taeyeon ingin berteriak untuk melampiaskan rasa
frustasinya. Taeyeon mencoba sekali lagi untuk membaca lembar pertama.

‘Lambang ini adalah Frost yang menunjukkan pengguna dapat mengendalikan es dan mampu membuat sekitarnya menjadi beku. Bisa di sebut dengan Snowflakes atau Cryokinesis’

.

‘Lambang ini adalah mind/pikiran. Berupa sebuah kekuatan yang di miliki pengguna untuk dapat menggendalikan sesuatu dengan pikirannya. Di sebut sebagai mind power atau Telekinesis.’

.

‘Lambang ini adalah fly/terbang dengan dragon sebagai simbolnya. Menyatakan bahwa pengguna dapat terbang atau melawan gravitasi serta api sama seperti seekor naga. Di namakan sebagai Levitation.’

.

‘Lambang ini adalah Water atau air. Jadi, pengguna adalah seorang pengendali air. Lambang ini di namakan juga dengan Hydrokinesis’

.

‘Lambang ini adalah seperti pada Pegasus. Di sebut sebagai Healing atau juga Vitakinesis. Memungkinkan sang pengguna dapat memulihkan apapun dengan sentuhannya.’

.

‘Lambang ini adalah cahaya. Dalam artian sang pengguna adalah seorang penguasa cahaya. Lambang ini di namakan sebagai Light atau Lunarkinesis’

.

‘Lambang ini terlihat seperti Scorpion. Lambang ini juga di sebut dengan Lighting atau petir atau Thunder. Sehingga pengguna adalah orang yang bisa mengendalikan petir. Di namakan sebagai Electokonesis.’

.

‘Lambang ini adalah api. Dengan symbol sebuah burung phoenix. Dengan ini pengguna
dapat mengendalikan api atau flame atau fire dengan pikiran sesuai dengan symbol phoenix tersebut. Di namakan juga dengan Pyrokinesis.’

.
‘Lambang ini adalah bumi atau earth. Sesorang yang dapat mengendalikan bumi atau
tanah. Sebuah kemampuan pikiran untuk mengendalikan unsur bumi entah itu tanah,
bebatuan, atau sebagainya. Di namakan dengan Terrakinesis.’

.

‘Lambang ini adalah pengendali waktu atau time control. Dengan symbol jam pasir atau Hourglass. Sang pengguna dapat mengendalikan waktu untuk di berhentikan atau di putar ulang. Di sebut juga dengan Chronokinesis’

.

‘Lambang ini adalah sebuah keyhole. Sang pengguna dapat berpindah kemanapun sesuai dengan kehendaknya dan dengan waktu yang sudah di atur sendiri oleh sang pengguna. Di sebut sebagai Teleportation.’

.

‘Lambang terakhir adalah angin. Seorang pengguna yang dapat mengendalikan angin baik yang berhembus sepoi-sepoi atau sampai badai tornado sekalipun. Sang pengguna bahkan bisa mendengar suara bisikan sangat halus lewat angin miliknya. Lambang ini di namakan Aerokinesis’

.

Taeyeon memijit pelan kepalanya yang kini berdenyut sakit. Baiklah, untuk kekuatan ini mungkin ia bisa faham dan mungkin mudah untuk di ingat. Tapi, ya ampun. Bagaimana bisa ia menemukan 12 kekuatan legenda itu. Buku ini tak menyebutkan secara pasti bagaimana bentuk pengguna masing-masing kekuatan. Taeyeon merasa akan gila.
Mengacak sebentar rambut coklat miliknya. Taeyeon kini berpikir terlampau keras hanya untuk menemukan siapa-siapa saja pengguna kekuatan itu. Jangankan orangnya, ciri-cirinya saja Taeyeon tak tahu apa-apa. Kalau begini, bagaimana Taeyeon bisa melaksanakan perintah seperti suara terror dalam mimpinya itu.
Terlalu lama berpikir, Taeyeon dengan perlahan masuk ke dalam alam mimpinya. Terlelap begitu dalam.

.
.

Taeyeon tak tahu berapa lama ia terlelap. Yang ia tahu, suara jam weker miliknya yang memekakkan itu berbunyi nyaring. Seakan mengatakan bahwa ia harus segera bangun. Taeyeon mengerjab-ngerjabkan matanya. Berusaha menyesuaikan cahaya yang
masuk ke dalam iris hazel miliknya.
Taeyeon menatap ke arah buku History yang masih tergeletak di atas nakas samping
tempat tidurnya. Mengingat-ingat apa-apa saja yang di sebutkan dalam buku aneh itu. Taeyeon merasa kepalanya akan pecah sekarang juga. Bagaimana ia bisa menyelesaikan ini? Gah! Terkutuklah orang yang telah ‘memilih’nya untuh urusan sialan ini!
Beranjak pelan menuju ke kamar mandi. Taeyeon berniat untuk membersihkan diri. Ia ada sebuah pekerjaan yang lebih penting dari pada membahas isi dari buku History. Yang bahkan tak di mengerti oleh Taeyeon sendiri.
Di tengah acara gosok gigi, Taeyeon berpikir. Kalau ia berhasil menemukan ke-12 kekuatan legenda, lantas di mana ia akan menampung mereka? Tak mungkin di apartemen miliknya. Ia bisa habis di gunjing orang-orang karena memelihara 12 orang aneh dalam apartemennya. Dan bagaimana caranya mengenali mereka? Mereka pasti akan beradaptasi di dunia manusia untuk menyembunyikan identitas mereka.

Taeyeon merasa ia harus ke dokter psikologis sekarang juga.

.
.

Dengan muka di tekuk, Taeyeon datang ke cafe tempatnya bekerja. Sungguh, suasana hatinya yang tengah resah serta galau ini membuat wajah manisnya menjadi tidak enak di pandang. Cemberut yang menghiasi bibirnya benar-benar sangat mencoreng sisi manis wajahnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Taeyeon bahkan tak bisa berpikir untuk mengeluarkan ekpresi seperti apa agar semua orang bisa tahu kekesalan hatinya.
Taeyeon dengan cepat mengganti pakaiannya dengan seragam. Melihat cermin dan melihat mukanya yang tampak mengerikan. Taeyeon sedikit tak percaya bahwa wajah ini yang membuat semua orang meliriknya dengan wajah heran dan takut. Taeyeon berusaha agar tersenyum manis. Dan yang terlihat adalah senyum palsu. Taeyeon mengerang frustasi.

“Ya! Taeng, apa yang kau lakukan di depan cermin, eoh?! Get out and help us. You don’t know these day people are coming?.” Suara menyebalkan dari teman seperkerjaannya —Jessica— membuat Taeyeon menoleh dan memberikan tatapan menusuk dan Jessica malah membalasnya dengan tatapan santai.
“Ya! Dan bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu, idiot?! Beruntung aku sudah memakain pakaian. Kalau tidak, mungkin kau akan melakukan hal yang tidak-tidak pada tubuh mulus ku.” Ucap Taeyeon kesal. Kehadiran temannya ini malah membuat rasa frustasinya semakin meningkat. Taeyeon benar-benar harus ke dokter jiwa.
“Cih, teruslah berharap, Taeng. Kalaupun aku jadi penyuka sesama jenis, aku tak akan pernah mengencani mu.” Sahut Jessica. “ quickly finish the job that you are useless and help other!”

BRAK!

Sesudah berkata begitu, Jessica dengan tidak sopannya menutup kencang pintu kamar ganti tersebut. Taeyeon berdecak sebal melihat tingkahnya. Sudah idiot, dia juga tak punya sopan santun, pikir Taeyeon.
Setelah merapikan sedikit poninya, Taeyeon memberikan kata ‘semangat’ pada dirinya sendiri di depan cermin.

.
.

“You sure don’t want to have lunch?”

Pertanyaan dari Jessica membuat Taeyeon menghentikan pekerjaannya mengelap meja-meja kotor. Taeyeon menatap Jessica yang memakan makan siangnya. Memutar bola matanya, Taeyeon mengacuhkan keberadaan yeoja berwajah seperti boneka barbie itu.

“Ani.” Jawab Taeyeon singkat.
“You will be even shorter if not eating.” Komentar Jessica. Sukses membuat perempatan di kening Taeyeon. Taeyeon sungguh tidak suka jika ada seseorang yang menyinggung tinggi badannya.
“Bukan urusamu!” ketus Taeyeon. Jessica menyeringai. Mengerjai Taeyeon adalah salah satu agenda wajib bagi Jessica.
“Tentu saja urusan ku. I don’t want people to say I have a friend that has stunted height.” Ucap Jessica. Dan itu membuat perempatan imajiner di kening Taeyeon berkedut hebat.
“Diam kau, idiot! Bisakah kau membawa wajah sialan mu itu pergi dari hadapan ku?”
ucap Taeyeon menekankan kalimatnya. Jessica tertawa evil.
“Taeng sayang, cafe ini milik bersama. So, I have a right to be anywhere, right?” dan ucapan dari Jessica ini membuat Taeyeon ingin melemparkan kemoceng yang sedang di pegangnya.

KRING!

Belum sempat Taeyeon membalas perkataan Jessica, suara lonceng berbunyi. Menandakan seseorang sedang membuka pintu cafe mereka. Kedua gadis manis itu menolehkan wajahnya dan mendapati 2 orang namja berwajah tampan yang baru saja masuk. Lalu duduk di salah satu meja.

“Taeng, quick serve them! Don’t forget to smile. Aku harus menghabiskan bekal siang ku.”

Dengan seenak jidat, Jessica mendorong-dorong tubuh mungil Taeyeon agar melayani kedua namja yang baru datang itu. Taeyeon memberikan tatapan sengit pada Jessica dan di balas oleh tatapan ‘what?’ oleh Jessica. Memilih malas berdebat, Taeyeon segera menghampiri meja itu.

“Annyeong haseyo, ada yang bisa saya bantu, tuan-tuan?” ucap Taeyeon ramah dan berusaha tersenyum. Sedikit mengabaikan cekikikkan tak jelas dari Jessica mendengar perkataan sok manis yang keluar dari bibir —yang sebenarnya— tajam milik Taeyeon. Taeyeon berusaha mengatur emosinya.
‘Tenang Taeyeon. Kau bisa mencekiknya setelah ini.’ Gumam Taeyeon dalam hatinya.
“Aku ingin hot chocolate dan sepotong sandwich. Kau pesan apa, hyung?” ucap namja berkulit putih seperti albino itu. Taeyeon mencatatnya dengan baik.
“Hot cappuccino saja.” Sahut namja bermata bulat menyebutkan pesanannya. Kembali, Taeyeon mencatatnya.
“Baiklah, tunggu sebentar, tuan-tuan.” Ucap Taeyeon dan segera meleset pergi.
“Apa yang di pesan kedua namja tampan di sana, Taeng?” ucap Jessica. Taeyeon memutar bola mata. Dan memberikan catatan yang sedari tadi di pegangnya pada
temannya itu. Jessica manggut-manggut mengerti.
“Alright~ one hot chocolate, hot cappuccino, and sandwich, coming up~”

Taeyeon memberikan tatapan jijiknya mendengar suara sok imut —menurutnya―dari Jessica. Jessica tak ambil pusing dan segera melenggang untuk membuatkan pesanan.

Tak perlu waktu lama, Jessica kembali menghampiri Taeyeon dengan tangan membawa sebuah nampan berisi pesanan. Jessica dengan seenak jidatnya meletakkan nampan itu di tangan Taeyeon.

“Aku lagi?” ucap Taeyeon ingin protes. Jessica mengangguk dengan khidmat.
“Yes, darling.” Sahut Jessica.
“Tapi, aku harus… err, ah! Aku harus mencuci piring!” ujar Taeyeon saat mendapat ilham agar bisa menghindar. Entahlah, ia merasa dua pemuda itu aneh. Itu saja. Makanya ia takut.
“No no no. Ku lihat tadi Sooyoung bahkan sudah melakukannya.” ucap Jessica.
“Ah, aku harus membersihkan dapur.” Berkilah dan terus berkilah.
“Do it now or I told the manager Lee?” ancam Jessica. Taeyeon mendengus sebal. Terkutuklah Jessica dan otak kriminalnya.

Dengan agak kasar Taeyeon merebut nampan itu. Jessica makin melebarkan senyumnya. Taeyeon berpikir bahwa mulut Jessica bisa saja robek karena tersenyum selebar itu.
Lupakan Jessica dan senyum bodoh merobek mulut miliknya. Sebaiknya Taeyeon segera mengantarkan nampan ini pada dua namja aneh ―menurut Taeyeon― sebelum mereka berdua mengamuk karena keterlambatan datangnya pesanan.
Berusaha tersenyum manis, Taeyeon dengan langkah ragu menghampiri mereka. Tiba-tiba entah kenapa Taeyeon merasa lehernya kram. Oh, bukan lebih tepatnya seperti terbakar. Hampir saja yeoja mungil itu menjatuhkan nampan berisi pesanan dua namja itu. Bergegas ia segera mengantarkan pesanan itu dan segera berlari menuju ruang ganti pegawai.
Taeyeon memperhatikan lehernya. Sebuah lambang yang seperti pohon tampak menyala merah di lehernya. Sedikit mengernyit heran. Karena Taeyeon merasa tak pernah memiliki tanda aneh seperti ini. Taeyeon mengusap-usap lehernya yang terasa panas. Sampai akhrinya tanda aneh itu berhenti berwarna merah dan berubah menjadi hitam. Mirip tato.

“Taeng?”

Sebuah suara mengintrupsi kegiatan Taeyeon. Taeyeon menoleh dan mendapati wajah kepo dari Jessica. Memutar bola mata, Taeyeon segera tahu bahwa sebentar lagi Jessica akan cerewet bertanya macam-macam.

“Wae?” sahut Taeyeon malas.
“Taeng, what is it? You got a tattoo or birthmark” tanya Jessica sambil menunjuk ke arah symbol aneh di leher Taeyeon.
“Entahlah. Tiba-tiba saja dia ada.”
“Ngomong-ngomong itu keren.” Puji Jessica.
“gomawo.”

.
.

Sepertinya Taeyeon harus menghampiri toko 24 jam karena ia ingat bahwa ia belum belanja bulanan. Itu artinya, ia harus rela beberapa menit berharganya yang akan di gunakan untuk tidur terpaksa di korbankan untuk mengelilingi mini market terdekat. Menghembuskan nafas lelah, Taeyeon segera mencari toko yang buka 24 jam.
Setelah mendapat, Taeyeon segera mengambil troli dan mendorongnya dengan malas. Beberapa makanan yang ia lewati seperti tidak menarik. Taeyeon tak ingin repot-repot untuk belanja banyak-banyak. Hanya beberapa bungkus ramen instan, daging, sayur, roti, selai, dan beberapa buah susu. Ya, walaupun begitu, Taeyeon yakin kalau ia akan menguras keringat demi membawa semuanya ke apartemen miliknya.

NYUT!

“Akh!”

Taeyeon menjerit tertahan saat ia merasakan lehernya kembali berdenyut sakit. Tanpa perlu melihat, Taeyeon yakin symbol aneh di lehernya akan menyala merah lagi. Taeyeon mengenggam erat pinggiran troli untuk menyalurkan kesakitannya.

“Nona? Anda baik-baik saja?” tanya seseorang. Taeyeon terus mencengkram erat lehernya. Tak menghiraukan pemuda yang berdiri di depannya. “Nona?”
Taeyeon menengokkan kepalanya. Tampak seraut wajah tampan dari namja yang tengah memegang pundaknya. Taeyeon mengerjab-ngerjabkan matanya. Tersenyum dan berusaha menutupi apa yang tengah di rasakannya.
“Nae gwenchana.” Ucap Taeyeon seraya tersenyum.
“Jjinja? Tapi, wajahmu berkata lain.” Ucap namja bermata rusa itu.
“Geurae. Aku baik-baik saja. Mian, aku harus segera pulang.”

Taeyeon dengan segera meninggalkan tempat itu. Berlama-lama dengan namja bermata rusa itu membuat lehernya semakin terasa panas. Dan itu sungguh tidak menyenangkan. Namja itupun hanya diam mematung menatap kepergian Taeyeon hingga hilang dari pandangan.

.
.

Merebahkan tubuh di atas ranjangnya, Taeyeon berusaha untuk segera terlelap. Ternyata berbelanja begitu menguras tenangnya. Taeyeon tak habis pikir bagaimana bisa beberapa temannya suka shopping ke berbagai mall besar. Menjinjing berkantung-kantung belajaan dan menghamburkan uang. Apa mereka tidak lelah? Bahkan Taeyeon yang hanya mengelilingi sebuah mini market pun sudah terkapar seperti ini.

Baiklah, itu mereka. bukan Taeyeon. Begitu pikir Taeyeon

Taeyeon mengedarkan pandangannya. Seketika terlonjak kaget karena merasa ia ada di tempat yang asing. Bukan di kamar apartemennya yang beberapa menit lalu Taeyeon merebahkan tubuhnya. Okay, Taeyeon mulai takut sekarang. Ia sepertinya memang benar-benar harus mengunjungi dokter jiwa karena ia mulai berhalusinasi hingga berada
di tempat seperti era zaman 70-an.
Dinding-dinding yang terbuat dari batu bata yang di sambung menggunakan tanah liat
adalah pemandangan pertama yang Taeyeon lihat. Taeyeon semakin kaget saat mendapati dirinya seperti di sebuah ruangan penjara. Ya, penjara. Memangnya ada kamar dengan jeruji dari besi yang menghalangi pintu masuk?
Suara derap langkah sepertinya menghampiri sel di mana Taeyeon di sekap. Taeyeon diam saja saat beberapa orang memasukkan paksa seorang namja tampan berambut coklat ke dalam sel yang sama dengannya. Taeyeon mengumpat dan mencela kebodohan para penjaga penjara ini. Bagaimana mungkin mereka menyatukan dua orang lawan jenis dalam satu ruangan? Bagaimana kalau namja tampan ini berbuat yang tidak-tidak padanya?
Sang namja yang merasa ada seseorang yang berada di ruangan itu menoleh. Matanya menangkap sosok Taeyeon yang tersenyum kikuk sambil melambaikan tangannya. Mendengus pelan, namja itu berusaha mengabaikan keberadaan Taeyeon.

NYUT!

Kembali, rasa terbakar menjalari lehernya. Taeyeon mengcengkram kuat lehernya dan mengigit bibir bawahnya kencang. Ia takut mengelurkan suara. Tapi, kalau di hatinya, Taeyeon sudah berteriak sambil mengumpat dengan kencang.
Dan sepertinya namja itu menyadari keadaan Taeyeon yang seperti kesakitan itu. Ia menoleh dan mendapati Taeyeon tengah mengcengkram kuat lehernya. Dan hati nuraninya bergerak untuk bertanya.

“Nona? Anda baik-baik saja?” tanya namja tampan itu. Taeyeon mendongak.
“Gwenchana. Tak perlu hiraukan aku. Ini biasa terjadi.” Ucap Taeyeon. Dan tanpa aba-aba, namja itu menarik Taeyeon mendekat ke arahnya. Taeyeon tentu saja terkejut dengan kelakukannya.
“A-apa y-yang akan k-kau la-lakukan?” ucap Taeyeon takut-takut. Berbagai pikiran aneh berseliweran di otaknya.
“Coba ku lihat.” Tangan namja itu menyingkirkan tangan Taeyeon yang masih melindungi lehernya.
“Andwe. Aku baik-baik saja. Percayalah.” Ucap Taeyeon setengah panic.
“Aku berjanji akan menyembuhkannya.” Janji namja itu. Taeyeon menatapnya sebelum akhirnya melepaskan tangannya.

Mata sang namja terbelalak kaget saat melihat leher Taeyeon yang terukir lambang aneh yang seperti pohon. Taeyeon heran. Mungkin tanda miliknya benar-benar mengerikan hingga membuat orang terkejut.
Mata namja itu berubah kuning setelah tadi ia tutup sebentar. Ia menyentuhkan tangannya ke leher Taeyeon. Sebuah lambang yang ada di tangannya menyala biru. Dan Taeyeon merasa lehernya terasa lebih baik dari yang tadi. Dan sekarang, giliran Taeyeon yang kaget saat melihat mata dan lambang di tangan namja asing yang satu sel dengannya itu. Taeyeon merasa pernah melihatnya.

‘Lambang ini adalah seperti pada Pegasus. Di sebut sebagai Healing atau juga Vitakinesis. Memungkinkan sang pengguna dapat memulihkan apapun dengan sentuhannya.’

Taeyeon tersentak saat mengingat tulisan yang ada di buku History. Ya, lambang yang ada di tangan namja ini sangat mirip dengan apa yang ada di buku History.
Namja itu mengerjab-ngerbkan matanya dan akhrinya berubah menjadi warna biasa. Taeyeon mengucapkan terima kasih dan di balas senyuman ber-dimple milik namja itu.

 

 
TBC

 
Author note’s : Semoga ini tidak membosankan. Dan juga ini FF chapter dengan genre fantasy pertama ku.

Jadi, aku mohon, kalian para readers ku yang terhormat mau menginggalkan jejak dengan kritik, saran, atau ocehan kalian yang membangun.

Bagi silent readers, aku tetap menghormati kalian. Tapi, yang ku tanya kan, kenapa susah bagi kalian untuk menghargai karya orang lain?

 

Advertisements

79 comments on “[Freelance] Power Legend (Chapter 1)

  1. aku reader baru, dan pertama kali baca ff ini langsung tertarik. jalan ceritanya seru, sumpah ini ff keren abiis 🙂

  2. Annyeong thor, maaf thor baru baca. Wah keren thor, kok bisa ya keluar tato dileher taeyeon?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s