Beautiful Creature (Chapter 2)

beautiful creature copy

Beautiful Creature chapter 2

Author : RYN

Length : Multichapter

Rating : M

Cast :

L INFINITE

Taeyeon SNSD

Other : find it by yourself

Genre : Dark Fantasy, Romance

Aku memiliki wp pribadi tapi masih ku protek. Jangan mengirimkan izin untuk melihatnya karena untuk sementara wp itu tidak kupublikasikan. Semua ff yang pernah kubuat akan berada disana, tapi masih dalam perbaikan. Aku akan mengedit (menulis ulang) hampir semua ff itu dengan bahasa yang mudah di pahami agar ceritanya lebih tertata rapi. Tapi ada sebagian pula yang ku post begitu saja tanpa mengalami proses pengeditan. Setelah semuanya siap, akan segera kupublikasikan^^

———————————————————————————————————————

This my own idea

Any similarities with other stories is pure coincidence

Please do not plagiarize and claim as your own

I have enough trouble writing chapter and,

I don’t need someone stealing my hardwork.

Prologue| 1 |

***

Ruangan luas nan megah di selimuti kebisuan. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara atau sekedar saling pandang di antara mereka. Semua menundukkan kepala dengan bayangan ketakutan yang tiba-tiba hinggap di benak masing-masing, merefleksikan kengerian yang memancar jelas dari tatapan. Kebekuan yang telah berlangsung semenjak kehadiran sang raja kegelapan beberapa menit yang lalu, perlahan-lahan terasa begitu menyesakkan. Keadaan yang terjadi baru beberapa saat bagaikan waktu yang berjalan selamanya. Kemudian, tatapan dingin dan seringaian dari sang penguasa hanya membuat ketegangan yang telah terjadi kian menjadi.

Ketidaknyamanan yang terasa, tak di lewatkan oleh Hoya dan Kai yang sudah berdiri di sisi kanan dan kiri singgasana sang raja. Posisi yang telah familiar oleh keduanya. Dalam kediamannya, Hoya menghela nafas dalam. Dibandingkan Kai yang begitu menikmati keadaan ini, tak jarang Hoya mengasihani barisan yang hadir setiap pertemuan dilaksanakan. Melihat bagaimana para petinggi Helios yang juga tak berdaya di hadapan sang penguasa mereka membuat Hoya berpikir, betapa menakutkannya pengaruh L pada mereka. Hanya dengan sekali menatap, L telah membuat bulu roma menegak, rasa tidak nyaman dan menyebarkan teror ketakutan. Termasuk kepada tiga obyek bergerak yang meringkuk ketakutan di lantai marmer berwarna gelap, tepat di ujung anak tangga ke delapan di bawah sana. Sebuah fakta yang menjawab alasan mengapa mereka berkumpul dalam ruangan itu.

Suara rintihan kesakitan yang keluar dari mulut ketiganya nyaris tak terdengar. Seolah-olah ketiganya sengaja menyembunyikan suara mereka, mungkin terlalu takut, dengan suara yang mereka timbulkan akan membuat nasib mereka semakin parah. Tubuh mereka penuh luka, terlihat jelas memar akibat pukulan di hampir seluruh tubuh termasuk wajah. Tidak ada pakaian, hanya celana lusuh dengan bekas robekan disana sini. Jelas sekali, sebelum menghadap ketiganya telah mengalami penyiksaan yang berat.

“jadi,” L memulai. Di balik ketenangannya dan sikap santainya, duduk bersandar dengan kaki menyilang di atas lutut, tekanan dalam suaranya mengirimkan getaran yang membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri. “ada yang bisa mengatakan padaku, mengapa kita berkumpul disini?” tanyanya, masih dengan intonasi yang sama.

Baik Hoya dan Kai, juga yang berada dalam ruangan mengetahui bahwa itu bukanlah sekedar pertanyaan wajar. Ada maksud yang tersembunyi di dalamnya, sesuatu mengerikan yang bisa mereka lihat dan rasakan dari seringaian sinis yang segera membentuk di bibirnya usai pertanyaan itu terucap.

Ketiga obyek itu lantas berjengit dan bergidik. Rasa dingin segera menjalari tulang punggung bersamaan dengan jelasnya kilatan amarah yang tersembunyi di balik senyuman dingin penguasa dihadapannya.

“t-tolong a-ampuni k-kami Yang Mulia..” terbata-bata, kalimat itu meluncur dari salah satu ketiganya. Pria bertubuh sedang dengan kulit kecoklatan, tampak menyedihkan dengan raut memelas meminta pengampunan meski seluruh tubuhnya bergetar hebat.

“ka-kami mengakui k-kesalahan kami Yang M-Mulia, k-kami be-berjanji t-tidak akan me-mengulanginya l-lagi.” Pria yang lain ikut memohon. Berharap keberuntungan berpihak padanya.

Senyuman dingin L berubah menjadi seringaian sinis. “mengulanginya?” ulangnya. Pancaran matanya yang berbinar terlihat seperti predator yang bersemangat ingin memakan mangsanya.

Mata pria itu segera membulat lebar, wajahnya memucat, sadar akan kesalahannya yang bertambah berasal dari kalimatnya. Kedua tangannya langsung mengibas cepat di depannya disertai gelengan bantahan yang tegas.

“tidak. A-Aku ti-tidak b-bermaksud m-mengatakan s-seperti i-itu Yang M-Mulia. Ampun Yang Mulia…t-tolong l-lepaskan kami.” Semakin lama, suaranya yang terputus-putus semakin buruk.

“k-kumohon Yang Mulia.”

“ampuni kami Yang Mulia.”

Dan selama beberapa saat kalimat memohon pengampunan itu terus terdengar berulang-ulang. Ketiganya menundukkan kepala, masih memegang harapan yang semu. Namun ketika tawa sinis itu terdengar, saat itulah mereka tahu bahwa harapan tinggallah harapan, tidak akan pernah menjadi nyata.

“mengapa aku harus melakukannya?” L bertanya seraya menatap dengan tatapan dingin.

Tubuh ketiga pria itu seketika kaku hingga tak berani mengangkat kepala dan bertatapan langsung dengan sepasang mata tajam milik penguasa mereka. Aura gelap darinya terlalu kuat untuk di taklukkan. Hanya membayangkan konsekuensi dari perbuatan mereka, sudah membuat ketiganya gemetar oleh rasa ngeri. Mengapa mereka begitu bodoh menerjunkan diri ke dalam jurang yang terjal jika mereka sudah tahu akan seperti ini akhirnya? Perbuatan tanpa pikiran, sungguh-sungguh adalah suatu kebodohan.

Melihat tak satupun suara yang akan terdengar dari ketiganya, L kembali berbicara.

“jika kalian bisa menemukan alasan yang tepat, permintaan kalian akan kupertimbangkan.”

Ketiganya sontak mengangkat kepala. Tepat saat bertatapan dengan mata itu, mereka segera menyesali apa yang terjadi. Rasa takut itu semakin lama semakin membesar. Tubuh yang bergoncang hebat dengan bibir yang bergetar, sulit untuk mengeluarkan kata per kata dari sana. Tapi harapan yang tipis tadi kini perlahan-lahan bangkit kembali.

Kai menikmati setiap adegan di hadapannya dengan seringaian angkuh, seperti yang biasa ia lakukan. Ia terlalu ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutkanya pada ketiga pria itu. Apakah mereka bodoh atau cukup pintar mencerna makna yang tersirat dari kalimat sang raja. Ini terlalu menarik sekaligus menyenangkan untuk dilewatkan, begitulah apa yang ada di benaknya. Orang-orang seperti mereka yang terlalu meremehkan Yang Mulia, percayalah, selalu berakhir dengan sangat tidak menyenangkan. Dan Kai tersenyum sumringah dengan mata berbinar cerah seperti anak kecil.

“Yang Mulia, anda tidak perlu mengulur waktu lagi.”

Seluruh pandangan segera berpaling ke arah pria yang memakai jubah hitam berpenutup kepala, yang berdiri dengan wajah angkuh di ujung anak tangga.

“anda harus menghukum mereka bertiga seberat-beratnya karena telah menghina kepercayaan anda terhadap mereka.” lanjut pria itu lagi dengan suara menggebu.

Kai merotasikan bola matanya sementara Hoya menatap pria itu dengan tatapan datar. Seperti pemandangan yang tidak hanya terjadi sekali, raut wajah keduanya kelihatan tidak berminat mengetahui bahwa penyihir itu selalu berusaha mengambil hati L. Menyadari tatapan yang di arahkan padanya, penyihir itu hanya menyeringai sinis. Namun, si penyihir segera menundukkan kepalanya kala merasakan tatapan dingin L terhadapnya.

“maafkan aku Yang Mulia.”

Kai dan Hoya berganti tersenyum sinis. L sangat tidak menyukai apabila seseorang mengajarinya mana yang harus ia lakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan seperti yang di lakukan penyihir Socka. Terlebih lagi jika orang itu menyela tanpa izinnya. Hoya melirik penyihir Socka dengan pandangan heran. Terkadang penyihir itu melupakan dimana seharusnya tempatnya berada. Selalu saja ikut campur dan mencari jalan untuk menonjolkan dirinya di hadapan L. Satu hal yang pasti bagi Hoya, penyihir kurang bisa di percaya. Kebaikan yang tidak meyakinkan. Dan Hoya tak habis mengerti, mengapa dari awal L menerimanya sebagai penyihir ArLca. Tanpa bantuannya pun, ArLca sudah tak terkalahkan.

Ketiga pria itu masih diam di tempat mereka dengan kepala tertunduk. Suasana mendadak menjadi tegang kembali merasakan tatapan raja mereka.

“aku seharusnya memberikan selamat pada kalian bertiga karena telah berhasil membuatku meluangkan waktu demi menghadiri pertemuan membosankan ini. Bukankah aku harus menyiapkan hadiah untuk itu?” gumamnya di kalimat terakhirnya.

Melihat ketiganya, untuk kesekian kalinya membelalakkan mata dengan wajah pucat pasi membuat Kai tak dapat menghentikan senyumnya yang semakin melebar. Hoya tak gagal menyaksikan bayangan kegembiraan yang menakutkan dari balik tatapan mata L, juga seringaian yang awalnya sama menjadi jelas, membentuk sempurna di bibirnya. Sang raja kegelapan itu telah memutuskan. Hoya memandangi ketiga pria yang tak berdaya di bawah sana, ia menyayangkan mengapa kepercayaan yang telah diberikan semudah itu disalahgunakan. Tidak tahukah mereka bahwa L, cepat atau lambat akan mengetahui perbuatan mereka? Sungguh bodoh pemikiran mereka mengira dapat menipu penguasa mereka. Kening Hoya tiba-tiba berkerut, sekilas ia menangkap raut wajah penyihir Socka mendadak berubah. Penyihir itu sangat pintar menutupinya tapi tidak cukup baik menutupinya darinya.

Tiba-tiba saja suasana dalam ruangan terasa berbeda. Tidak ada yang tidak bisa merasakannya. Perasaan tidak nyaman ini hanya satu kemungkinannya. Seluruh pasang mata fokus pada satu arah di depan mereka. Ketiga tahanan gemetar ketakutan saat menyadari tatapan raja tak meninggalkan mereka. Mereka selalu mendengar tentang ini bahwa kekuatan raja kegelapan sangatlah hebat, tapi tak pernah benar-benar melihatnya. Selain karena raja kegelapan jarang menampakkan dirinya, hal itu sulit di percaya jika tak melihatnya sendiri. Sepertinya memang mereka terlalu meremehkan kekuatan pria yang bergelar penguasa kegelapan itu.

Gumpalan bayangan hitam muncul entah darimana. Dengan arahan pikiran dari pemiliknya, bayangan itu semakin besar dan meluas, nyaris menutupi seluruh isi ruangan. Secepat kilat, bayangan hitam itu menyelimuti ketiganya tanpa memberikan jeda pada mereka untuk berpikir mengapa hal ini tiba-tiba terjadi. Suara memelas meminta pertolongan di iringi jeritan yang terdengar memilukan, menggema dalam ruangan. Bersamaan dengan itu, bayangan hitam itu dengan cepat membentuk sebuah tornado besar hingga menyentuh langit-langit dan akhirnya menelan ketiganya. Hampir semuanya menutup mata, sementara sebagian lainnya menaikkan lengan, melindungi mata mereka dari segala pengaruh kuat dari kekuatan tersebut.

Kai masih melihat dengan pandangan penuh minat, sementara Hoya memejamkan matanya. Ini selalu terjadi seperti ini. Hoya melirik ke sampingnya dimana L masih dengan posisi yang sama. Bila mengingat apa yang baru saja di lakukan Yang Mulia itu, jika saja dia tak mengetahui sifatnya, dan jika ia tak pernah melihat kejadian yang selalu terjadi itu, mungkin saja Hoya akan merinding dan di liputi rasa ngeri.

“menyedihkan.” Kata yang pertama kali terdengar setelah semuanya lenyap, termasuk ketiga tahanan itu. Raut wajahnya berubah kelam. “sekumpulan makhluk lemah yang menyedihkan. Masih memiliki nyali untuk bermain-main denganku.” ia tersenyum dingin.

“Yang Mulia, Jia dan lainnya sedang mengurus sisanya.” Hoya berbicara dengan tenang. “aku ragu, mereka mungkin akan membentuk pasukan baru.”

Semenjak ruangan itu kosong, L hanya menatap lurus dengan ekspresi yang datar. Laporan yang baru saja di dengarnya dari Hoya hanya di tanggapinya dengan senyuman sinis.

“mereka tidak akan mampu mengalahkan anda, Yang Mulia. Anda adalah raja kegelapan yang memiliki kekuatan kuat untuk menghancurkan siapapun yang menentangmu.” Penyihir Socka tersenyum lebar sambil memujinya.

*selalu di saat yang tepat.* Kai kembali merotasikan bola matanya. Penyihir itu benar-benar pintar memanfaatkan keadaan, menjilat di depan raja. Apa dia sungguh-sungguh berpikir, raja tak menyadarinya?

“kau mengenal rajamu dengan sangat baik Socka.”

Socka sontak mengangkat kepalanya dan mengejutkan, sang raja kegelapan itu tersenyum. Tapi senyuman itu seketika berubah, menjadikan aura di sekitarnya menjadi lebih menakutkan. Kai mengerjap kaget. Tanpa aba-aba, Socka tiba-tiba tersungkur ke lantai sambil memegangi leher dan dadanya bersamaan. Ekspresi kesakitan yang susah di tahannya tergambar dengan jelas di wajahnya. Hoya sempat tak percaya apa yang dilihatnya.

L beralih menatap tajam penyihir yang tampak kesakitan di lantai.

“Y-Yang…M-Muli-a.” Erang Socka terputus-putus. Tenggorokannya serasa tercekat membuatnya tak bisa bernafas, jantungnya seolah di remuk paksa oleh kekuatan yang tak terlihat. Dan saat ia menyadari apa yang terjadi pada dirinya, L tersenyum dingin padanya.

“kau terlalu meremehkanku. Apa kau benar-benar berpikir, aku tak mengetahui apa yang kau lakukan?”

Pertanyaan di warnai ancaman dan peringatan itu sontak menggetarkan tubuh Socka. Bayangan kengerian tampak dalam tatapannya. Kai hampir saja tertawa di depannya begitu melihat ekspresinya jika saja Hoya tak keburu melihatnya. Penyihir yang terlihat bangga awalnya, kini seperti kucing tersiram air. Ternyata penyihir Socka memang memiliki rahasia, huh? Hoya selalu memiliki firasat itu. Dan apa yang dikatakan L, membenarkan dugaannya.

Socka segera menghirup udara sebanyak-banyaknya. Nafasnya yang tak beraturan di karenakan jantungnya yang berpacu kencang, perlahan-lahan mulai normal kembali. Namun masih ada sebersit rasa was-was, Yang Mulia di hadapannya itu mungkin akan melakukannya lagi. Socka bersujud hingga dahinya menyentuh lantai.

“maafkan atas kelancanganku, Yang Mulia. A-Ampuni aku yang telah berdosa meremehkan kekuatan anda.” Socka memohon.

“terlalu dini untuk mengatakan itu Socka.” Ucapan L membuat Socka sontak mengangkat kepalanya, terkejut. “tidak ada yang bisa menjamin, kau tidak akan melakukannya tanpa sepengetahuanku. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menentangku.” Tatapnya tajam.

Socka diam membatu. Ketika L mengibaskan tangannya, memberikan isyarat agar ia segera pergi dari hadapannya, ia masih ragu-ragu. Tapi melihat tatapan mematikan Hoya dan Kai, Socka membungkuk hormat dan sambil tertatih ia berbalik pergi. Ruangan pertemuan itu kembali sunyi dalam beberapa menit.

“apa yang anda pikirkan, Yang Mulia?” Kai memecah kesunyian yang entah sudah berapa lama.

“orang-orang tidak berguna itu, mereka mengira akan semudah itu mengalahkanku.” L menyeringai sinis, membuat Kai dan Hoya berjengit tak nyaman. “bereskan seluruh kekacauan ini. Siapapun yang mencoba menentangku, hancurkan saja semuanya.” perintahnya seraya beranjak dari singgasananya.

“kita masih memiliki satu masalah, Yang Mulia.” Kata Hoya kemudian.

L menghentikan langkahnya tapi tak berbalik. Raja kegelapan itu melihat dari bahunya dengan raut wajah yang datar.

“aku lebih suka menyebutnya sebagai permainan daripada masalah, hyung.”

Hoya mengernyit bingung. “lalu apa tindakan kita, Yang Mulia?”

Bibir L segera membentuk senyum misterius. “mengunjungi tetangga kita.” Ujarnya mengakhiri pembicaraan itu.

Hoya dan Kai terkejut lalu saling pandang. Keduanya hanya menatap kepergian penguasa mereka dalam diam. Hingga sosoknya menghilang, meninggalkan serpihan asap hitam yang berterbaran mengambang dalam ruangan, baik Kai maupun Hoya, keduanya tak pernah melepaskan pandangan dari sana. Tidak ada yang pernah tahu apa yang di pikirkan oleh sang penguasa kegelapan itu. Mereka hanya bisa menduga-duga, kiranya apa yang membuat L tertarik mengunjungi dunia yang tidak seharusnya mereka kunjungi.

***

Sang surya perlahan-lahan mulai menampakkan sinarnya. Kumpulan awan yang berarak lambat mengikuti tiupan angin di bawah langit biru, seolah-olah menyelimuti sekeliling negeri Utopia. Terlihat indah dan begitu menenangkan jiwa. Kicauan burung yang bersahut-sahutan di pucuk-pucuk pohon hijau terdengar seperti melodi yang indah di pagi hari.

Dua minggu setelah hari paling menyakitkan bagi para penghuni negeri putih di atas awan, keadaan kembali normal meskipun tidak sepenuhnya. Duka itu masih membekas disana, nampak dari raut wajah-wajah mereka yang merasakannya. Namun kehidupan terus berjalan, rasa sakit dan kehilangan harus segera disingkirkan. Dan kemudian, tugas tetaplah tugas. Kewajiban yang harus di penuhi demi melindungi dunia mereka. Masa berkabung itu akhirnya secara perlahan menipis lalu menghilang seolah tak pernah terjadi.

Taeyeon berdiri menatap pantulan dirinya pada cermin di depannya. Hampir seluruh penghuni Utopia yang mengenalnya, mengetahui bahwa ia belum sepenuhnya pulih dari kedukaan atas kehilangan saudarinya. Gadis itu memang hampir tak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan yang lainnya dan ia tak pernah ingin membebani siapapun dengan kondisinya. Air matanya menitik lagi tapi segera ia menghapusnya dan mencoba membuat sebuah senyuman bahagia, namun akhirnya selalu gagal karena ternyata itu tidak mudah. Ingatan tentang Yuri yang berdiri di ujung Oracle selalu menghantuinya. Bagaimana wajah Yuri yang selalu ceria bahkan di akhir hidupnya, membuat Taeyeon tak sanggup menahan air matanya tiap kali mengingatnya. Taeyeon tak habis pikir, bagaimana bisa gadis itu selalu menampakkan wajah bahagia tanpa rasa takut? Sungguh, ia terkadang tak mengerti jalan pikiran saudarinya itu.

Taeyeon mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan. Yuri telah pergi, itu adalah fakta. Bersedih terus tidak membuat saudarinya kembali. Dan lagi, Yuri pasti tidak akan senang jika melihatnya seperti ini terus. Taeyeon menatap pantulannya dan mencoba kembali tersenyum. Janjinya pada Yuri akan selalu di ingatnya. Taeyeon kemudian menggelung rambut panjangnya ke atas, mengambil untaian kristal putih yang berukuran kecil dan menyematkannya disekeliling kepalanya. Setelah selesai, ia memandangi sosok sama di dalam cermin dengan senyum tipis. Dress mini berwarna putih lembut melekat hingga batas pahanya dengan sepasang tali tipis yang terjalin ke belakang punggung lehernya. Seperti biasanya, punggungnya dibiarkan terekspos jelas, memperlihatkan sepasang tato silver yang melekat di kulit putih susunya. Taeyeon mendesah kecewa, tubuhnya terlihat sedikit lebih kurus di bandingkan dua minggu yang lalu. Ia bahkan nyaris lupa caranya tersenyum bahagia. Untuk terakhir kalinya Taeyeon menatap wajahnya di cermin sebelum meninggalkan kamarnya.

Segera setelah menginjakkan kakinya di luar halaman, angin segar langsung menyapanya. Taeyeon melempar pandangannya ke segala arah dan tersenyum. Sungguh pagi yang terasa damai. Para Angel telah sibuk melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Jika ia menengadahkan kepalanya ke atas, tampak Guardian dan Fayn tengah terbang kesana kemari. Beberapa diantaranya berkelompok, asyik berbincang sambil bercanda, tapi tidak sedikit pula dari mereka yang berdebat tentang beberapa masalah kecil.

Taeyeon melihat Krystal dan Luhan yang perlahan terbang rendah ke arahnya. Taeyeon tersenyum menyapa mereka.

“kau sudah mau pergi?” tanya Luhan begitu mendarat.

Taeyeon mengangguk, masih tersenyum. “aku harus ke Abyss sebelum pergi.”

Luhan mengernyit. “apa yang ingin kau lakukan disana?” tanyanya heran. Ketika menyadari perubahan air muka Taeyeon, matanya mengerjap kaget. “jangan katakan..kau akan…”

“aku hanya sebentar.” Jawabnya cepat.

Krystalpun ikut terkejut. “unni…”

Taeyeon melihat ke arahnya, menatapnya dengan penuh ketegasan. “aku ingin memastikan sesuatu. Barangkali saja ad-“

“Kris pasti tidak akan membiarkanmu!” potong Luhan.

Taeyeon membungkam.

“sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau terlalu keras pada dirimu sendiri.” Luhan meremas rambutnya dengan helaan nafas frustasi. “kau tahu seperti apa Kris. Setelah kejadian itu, apa kau pikir dia akan baik-baik saja sekarang?” suaranya meninggi.

“aku tahu itu.” tatap Taeyeon tajam. Sekalipun ia merasa bersalah dan terpaksa setuju dengan apa yang dikatakan Luhan, hatinya tetap tak bisa tenang sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“unni, pergi kesana sekarang mungkin adalah ide yang buruk. Sebaiknya kita pergi saja. Mereka telah menunggumu.” Krystal mencoba menyarankan.

Taeyeon menggeleng tegas. “aku akan segera kembali.”

Luhan secepat kilat menahan tangannya sebelum ia benar-benar pergi. Pria itu tak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja ke dalam penjara itu. Jika seluruh divisi 3 tahu, Taeyeon akan mendapat masalah karena di tuduh merebut wilayah kerja mereka.

Taeyeon mencoba melepaskan tangannya tapi genggaman Luhan terlalu kuat sampai membuatnya kesakitan.

“aku tidak akan mengizinkanmu.” Luhan berkata dengan suara tegang.

“coba saja.” Taeyeon menantangnya, menatapnya dengan tatapan penuh kejengkelan.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam saling tatap. Sampai kemudian, Luhan menyadari bahwa apapun yang terjadi, ia tetap tak bisa menghentikan keinginan gadis itu. Tatapan Luhan meneduh dan perlahan-lahan genggaman tangannya terlepas. Taeyeon menarik tangannya, mengusap daerah yang sakit sambil menggerutu.

Luhan menghela nafas pelan, kemudian berbicara dengan tenang. “para Rean pasti tidak akan menyukai hal ini. Dengan mencari tahu, kau secara langsung telah mengambil wewenang mereka. Dan sekaligus membuktikan bahwa kau adalah ketua Fayn yang tidak profesional. Kau tahu berapa banyak Angel yang menginginkan posisimu ini Taeyeon. Jangan bertindak gegabah.”

“Luhan sunbae benar, unni. Kita tidak seharusnya melakukan ini. Rean memiliki hak penuh terhadap seluruh penyelidikan.” Ujar Krystal, berharap Taeyeon membatalkan niatnya.

Taeyeon menatap dua orang itu dengan tatapan kosong. Apa yang dikatakan mereka memang benar, tapi keingintahuannya membunuhnya dari dalam. Sejujurnya, ia tak mempercayai siapapun di Utopia. Sebelum ia menemukan sendiri, ia tak bisa berhenti begitu saja.

“maafkan aku, aku tetap harus kesana sekarang.”

Tanpa mendengarkan panggilan Luhan dan Krystal yang menyuruhnya berhenti, Taeyeon telah terbang jauh menuju selatan.

– – –

Berbeda jauh dengan penampilan luarnya, di dalam penjara Abyss terlihat lebih menakutkan. Aura kegelapan itu terasa begitu kental sehingga saat Taeyeon pertama memasuki gedung tersebut, bulu kuduknya meremang dan ia hampir tak bisa bernafas lantaran hawanya yang terlalu sesak. Kegelapan pekat yang menyelimuti seluruh ruangan, hanya bisa di terangi oleh benda bulat yang terpasang melingkar di setiap pergelangan tangan para Rean. Benda bulat itu secara otomatis akan mengeluarkan kilauan cahaya putih yang terang sesuai keinginan pemiliknya, cukup untuk menyinari seisi ruangan penjara.

Beberapa Rean yang berjaga di setiap sudut penjara merupakan pemandangan yang sangat berbeda dengan Amethyst. Jika Amethyst hanya diberi dua Guardian untuk menjaga sebuah ruangan, satu ruangan Abyss menyita lima hingga enam Rean. Hampir sepanjang lorong Abyss di jaga oleh para Rean.

Ruangan persegi itu terasa seperti di selimuti kebekuan. Ketegangan yang berlangsung beberapa saat yang lalu, lambat laun terasa menyesakkan. Taeyeon hanya berdiri disana dengan mulut membungkam. Samar-samar kerutan khawatir nampak di wajahnya ketika ia mulai mengumpulkan pikiran, mereka-reka apa yang akan terjadi padanya setelah membuat keadaan tidak menjadi baik. Sosok tampan berpostur tubuh melebihi tingginya, berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin. Sebuah fakta dimana Taeyeon harus mengakui bahwa, tatapan pria itu mengintimidasinya. Lama mengenalnya ternyata tak membuatnya kebal terhadap pandangan itu. Dari sini, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kemarahan itu tengah bergolak disana. Ibarat bom waktu yang siap meledak, pimpinan Rea itu hanya berusaha menahan emosinya. Taeyeon tersenyum kecut, sekarang ia baru menyadarinya, seharusnya ia tadi mendengarkan ucapan Luhan.

“Kris…” Taeyeon memberanikan diri memanggilnya dengan suara sepelan mungkin. Keheningan di antara mereka, membunuhnya.

Pria itu memalingkan mukanya. Taeyeon mendesah pelan, sedikit kecewa. Berhadapan dengan Kris tidak semudah berbicara dengan Luhan.

“aku tahu ini sulit untukmu, tapi kau juga jangan lupa bahwa aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Aku melakukan semua ini demi Yuri.”

Kris sontak menegang. Taeyeon tak gagal mengamati reaksinya. Matanya menangkap kepalan tangan pria itu tengah mengepal kuat di bawah sana dan saat ia melihat wajahnya, ekspresi yang di tampakkan begitu sulit di artikan. Berbagai emosi yang lagi-lagi berusaha di tahannya. Andai saja Taeyeon bisa, ia ingin sekali mengatakan betapa gagalnya pria itu menyembunyikan perasaannya, berpura-pura tampak kuat padahal hatinya begitu rapuh.

Taeyeon masih berharap dan saat Kris akhirnya menatapnya, ia harus kembali kecewa.

“aku tidak punya alasan untuk memperlakukanmu secara istimewa.” Ujarnya dingin.

“oh ayolah Kris, kau tetap tidak mengizinkanku walau hanya beberapa menit?” Taeyeon meninggikan suaranya. Lama-lama sikap Kris membuatnya menjadi kesal.

“sudah kukatakan, aku tidak punya ala-“

“tapi ini penting bagiku!” Taeyeon tak memberikan kesempatan untuknya melanjutkan kalimatnya.

Kris memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan, kemudian berbicara dengan kalimat yang tegas.

“kami memiliki wewenang Taeyeon. Kau tidak bisa seenaknya datang dan mengacaukan semuanya.”

Mulut Taeyeon membuka. “aku tidak pernah berniat seperti itu Kris.” bantahnya. Untuk suatu alasan, dia membenci tuduhan itu.

“mungkin sekarang tidak, tapi perlahan.” Kris tersenyum sinis. “siapa yang tahu apa yang akan kau lakukan nanti pada tahanan itu.”

Taeyeon menggeleng tak percaya. Ia terlalu kesal hingga tak bisa mengeluarkan kalimat untuk membalasnya. Tadi Kris menuduhnya, sekarang Kris tak mempercayainya.

“pergilah. Kami akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu khawatir.”

“bagaimana bisa..bagaimana bisa kau sesantai itu?” Taeyeon berbisik lirih. Tatapan matanya memancarkan duka yang mendalam. Ia terluka dan Kris menjadi merasa bersalah. Namun itu tak berlangsung lama karena apa yang keluar dari mulut Taeyeon selanjutnya malah memicu pertengkaran di antara mereka. “bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak khawatir?! Yuri menderita dan kau ingin aku diam saja?! Apa kau sungguh-sungguh tak peduli?!” serunya penuh amarah.

Wajah Kris seketika mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat, tatapannya tajam seolah menembus jiwa. “kau tidak tahu apa yang kau katakan.” Geramnya dengan amarah tertahan. Kalimat penuh penekanan itu, entah mengapa membuat Taeyeon bergidik ngeri. Dalam hatinya bertanya, apakah ia sudah terlalu jauh? Tapi karena kekesalannya, Taeyeon memilih untuk mengabaikannya.

“aku tidak percaya, setelah apa yang terjadi kau masih diam disini dan tidak melakukan apa-apa sementara Yuri di perlakukan tidak adil.” Taeyeon melipat tangannya sambil mencela. Ia terlalu sibuk mengeluarkan kata-kata sindirannya hingga tak sadar aura kelam di wajah Kris. “aku tidak yakin kau peduli padanya!”

“aku sangat peduli padanya karena aku sangat mencintainya!”

Taeyeon tersentak kaget. Mulutnya langsung terkatup rapat. Untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, dadanya menjadi sesak. Seperti ribuan jarum yang menusuk paksa jantungnya, perih segera mengisi relung hatinya. Selama beberapa detik, jantungnya berhenti berdetak.

“sial!” Kris menggebrak meja dengan sekuat tenaga, menyalurkan amarahnya lewat meja tak berdosa itu.

“Kris..kau..” Taeyeon tak sanggup meloloskan kalimat selanjutnya. Emosi yang terlihat, seharusnya ia tahu dari awal, Kris tidak menyayangi Yuri dengan rasa sayang seperti dugaannya. Keakraban yang terjalin di antara mereka ternyata bernilai lebih.

“yah, aku sangat mencintainya.” Dengan penuh keyakinan, Kris memberitahunya. “kami belum lama menjadi sepasang kekasih. Meski begitu, aku sangat bahagia bersamanya. dia adalah gadis yang hebat dan aku sangat mengaguminya. Saat-saat terindah dalam hidupku adalah mengenalnya.” pandangannya menerawang jauh.

Taeyeon merasakan dunianya runtuh mendengar pernyataan cinta itu. Melihat bagaimana tatapan Kris tiba-tiba menjadi teduh ketika membicarakan tentang Yuri, membuktikan bahwa pria itu sungguh-sungguh mencintai saudarinya. Lalu bagaimana dengannya? Taeyeon tersenyum pahit. Matanya menghangat tanda sebentar lagi bulir bening akan keluar dari sana. Jika ia tak berusaha menghentikannya sekarang, ia akan mempermalukan dirinya sendiri dihadapan Kris. Semakin ia mengikuti pembicaraan ini, semakin sakit pula yang ia rasakan.

“Taeyeon, aku..”

“aku harus pergi.” Taeyeon segera memotongnya. Tanpa melihat Kris, ia berbalik meninggalkannya.

***

“bukankah aku menyuruhmu untuk menyelesaikan semuanya dalam satu jam?” Luhan menaikkan sebelah alisnya sembari melipat tangannya.

Raut wajah Bomi segera berubah, senyum diwajahnya menghilang seketika. Salahnya tidak segera kembali tepat pada waktu yang di tentukan. Jika saja dia tidak tinggal lebih lama dan membantu salah satu pendeta disitu, dia mungkin menjadi salah satu Guardian yang akan menikmati waktu istrahatnya lebih awal. Yang berarti menghindari berhadapan dengan pria yang selalu membuat urat syarafnya tegang dan memperlakukannya dengan cara yang tidak menyenangkan.

Suara-suara ejekan dan cekikikan mengolok-olok di belakangnya terkadang membuatnya kesal. Ini memang bukan pertama kalinya ia mengalami situasi menjengkelkan seperti ini, tapi sekali saja, bisakah mereka tak mengusiknya? Bomi mendengus kesal. Andai saja ia memiliki keberanian membentak teman-temannya di depan Luhan. Jika mata yang melotot tak mampu mendiamkan suara mereka, paling tidak suara yang keras bisa. Tapi terakhir kali ia melakukannya, Luhan malah menambahkan hukumannya. Sungguh tak adil baginya. Pria itu seperti mengetahui bagaimana cara menyiksanya sekaligus membuatnya semakin malu.

“karena kau tidak melaksanakan tugasmu sesuai jadwal,” mata Bomi langsung membulat lebar. oh jangan lagi! jeritnya dalam hati. Terlambat, Luhan telah memutuskan. “tidak ada waktu istrahat untukmu.” Ujarnya datar.

“apa?!” Bomi berseru keras dengan mata mengerjap terkejut. Ia ingin memprotes saat itu juga tapi Luhan yang memberikan tatapan peringatan membuatnya menyadari ketidak sopanannya. “maafkan aku sunbae, tapi itu sungguh tidak adil.”

“seharusnya kau mengetahui itu sebelum membuang-buang waktumu.” Tandas Luhan.

Bomi menundukkan kepalanya dengan penyesalan dan rasa kecewa. Suara-suara di belakangnya sudah tak terdengar lagi. Mungkin karena mereka iba padanya atau mungkin juga ketakutan, siapa tahu saja mentor itu beralih memberikan hukuman pada mereka sebagai pelajaran karena telah mengolok-olok teman mereka. Bomi menggerutu dalam hati sambil memberikan ribuan umpatan untuk Luhan. Gadis itu tak habis pikir, mengapa di balik wajah polos itu, pria itu memiliki kekejaman yang tak terhingga? Bomi merasa, pria itu hanya memanfaatkan posisinya agar bisa menyiksa yuniornya.

“berapa lama kau akan berdiri disitu?”

Bomi tersentak dan sontak mengangkat kepalanya. Untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, tatapan Luhan membuatnya salah tingkah dan gugup. Meskipun itu kalimat dingin penuh kesan sindiran yang sering di dengarnya, jantungnya di dalam sana tak berhenti berdebar-debar.

“yaa!!” melihat Bomi hanya diam di tempatnya membuat Luhan menjadi tak sabaran. “kau ingin aku menambahkan hukumanmu?” tanyanya memberi peringatan.

Bomi menggeleng cepat. “tidak sunbae.” Ujarnya cepat, kemudian segera terbang meninggalkan area itu tanpa menoleh lagi.

– – –

Luhan melayangkan pandangannya ke sekelilingnya, menyibak seluruh penjuru tempat itu dengan tergesa. Sambil melangkah ke depan, matanya sibuk melihat sekitarnya seperti tengah mencari-cari sesuatu. Raut wajahnya tampak khawatir.

“apa Taeyeon sudah kembali?” tanya Luhan saat melihat Krystal yang berjalan bersama Ace, salah satu pengawal setia Taeyeon.

Krystal mengangguk, tapi ekspresi mukanya mendadak berubah. Luhan menyadari perubahannya dan mulai merasa cemas. Ia kembali melihat sekitar, berharap sosok gadis yang di carinya tiba-tiba muncul.

“aku tidak bisa menemukannya dimanapun.” Luhan berujar. “apa terjadi sesuatu padanya?” tanyanya.

Krystal dan Ace saling bertukar pandang, menimbang-nimbang apakah harus memberitahu Luhan tentang ketua mereka.

“setelah kembali dari kota Shayra, unni meminta kami untuk tidak mengikutinya. Ia tidak ingin siapapun berada di dekatnya.”

Luhan mengernyit. “apa terjadi sesuatu di kota Shayra?”

Krystal menggeleng pelan. “sepertinya tidak. Unni sudah kelihatan tidak sehat bahkan sebelum berangkat.”

Luhan tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk dan tersenyum. “aku mengerti.” ucapnya.

“sunbae mengetahui dimana Taeyeon unni berada?” tanya Krystal heran.

Luhan hanya mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun bergegas ke tempat Taeyeon.

 Tidak sulit menemukan Taeyeon. Lagipula ini biasa terjadi, jika suasana hati gadis itu sedang tidak baik, ia pasti akan berakhir di tempat ini. Luhan akhirnya tersenyum lebar. Seperti dugaannya, gadis itu pasti akan berada disini. Duduk pada salah satu cabang pohon yang membentang panjang. Sepasang sayap putih milik gadis itu tampak berkilauan diterpa sinar matahari. Tidak selebar sayapnya, tapi selalu menjadi pemandangan yang indah baginya. Gadis itu, dengan cara yang tak bisa dimengertinya, begitu menarik perhatiannya. Bisa melihat seperti ini setiap hari, Luhan tak merasa keberatan.

Taeyeon merotasikan bola matanya begitu merasakan pergerakan di bawah sana. Dalam sekejap, ketenangannya menjadi terusik karena kehadiran seseorang.

“aku sudah mengatakan pada Krystal dan Ace untuk tidak menggangguku. Hanya karena kau mengetahui tempat ini, bukan berarti aku memberikan pengecualian padamu.”

Luhan terkekeh pelan mendengar nada ketus dalam kalimatnya. Ia sudah membayangkan wajah cemberut gadis itu saat mengatakannya.

“apa yang kau lakukan di atas sana?” Luhan menanyainya dengan penuh kelembutan.

Taeyeon terdiam, tak segera menjawab. Ia malah memejamkan matanya sembari menikmati tiupan angin yang menyapu wajahnya. Kedua sayapnya yang mengembang kini perlahan-lahan menghilang. Luhan menghela nafas pelan kemudian menyandarkan punggungnya di batang pohon itu sembari menyilangkan tangannya.

“apa suasana hatimu sedang tidak baik?” Luhan mencoba bertanya lagi, sambil berharap gadis itu akan menjawabnya sekarang.

Taeyeon membuka matanya dan tersenyum pahit. “kau mengetahuinya ‘kan?” ia balik bertanya.

Kerutan heran di kening Luhan nampak samar. Pandangannya lurus ke depan sembari mencerna inti pertanyaan itu. Tapi meskipun telah berusaha, ia tetap tak bisa.

“Kris dan Yuri.” Seolah tahu apa yang di pikirkan Luhan, Taeyeon menyempurnakan kalimatnya.

Luhan membungkam. Dalam hatinya merasa sangat bersalah. Entah untuk apa tapi yang jelas, secara tidak langsung ia merasa ini salahnya telah membuat Taeyeon sedih.

Keheningan menyelimuti keduanya. Berbagai pikiran mengisi benak Taeyeon, sementara bagi Luhan, ia tak memiliki keberanian untuk memulai pembicaraan lagi. Luhan takut, kalimat yang keluar dari mulutnya mungkin saja semakin menyakiti Taeyeon. Ia hanya tak bisa melihat gadis itu terus merasa terluka. Apapun akan ia lakukan demi membuat gadis itu ceria kembali.

“itukah sebabnya kau melarangku menemuinya?”

Luhan berjengit, sontak gelagapan. Ia sudah siap dengan kata-kata bantahannya, tapi mendengar suara tawa Taeyeon membuatnya mengangkat kepalanya, memandangi gadis itu dari bawah.

“kau seharusnya melihat bagaimana wajahmu sekarang.” kata Taeyeon di sela-sela tawa riangnya.

“kau mengerjaiku.” Luhan pura-pura memasang wajah cemberut. Tapi tersenyum ketika Taeyeon menjulurkan lidahnya.

Pandangan Luhan melembut. Satu-satunya kebahagiaannya adalah mendengar tawa gadis itu dan melihatnya tersenyum cerah seperti saat ini.

“sekarang, apa kau bisa mengizinkanku ke atas?” tanyanya dengan kilau jenaka di matanya.

Taeyeon tersenyum sumringah dan mengangguk. Dalam beberapa detik, Luhan telah berada di sampingnya, lengkap dengan sayapnya yang masih mengembang.

“yaa! Sayapmu membuat tempat ini sempit!”

“aku tahu! aku tahu! aish!”

Keduanya akhirnya menikmati kebersamaan di atas pohon itu. Dari tempat itu, mereka bisa melihat keseluruhan Utopia dan kumpulan angel yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak ada lagi pembicaraan tentang Kris dan Yuri, yang ada hanya canda dan tawa dari keduanya.

 

To be continued…

Jangan mengharapkan update-nya bakal cepat^^

Penjelasan :

Divisi 1 adalah Fayn. Tugasnya adalah menjaga Utopia dan daerah di dunia bawah.

Divisi 2 adalah Guardian. Tugasnya adalah menjaga Utopia dan sebagian di tugaskan menjaga penjara Amethsyt (penjara para Angel).

Divisi 3 adalah Rean. Tugasnya adalah sebagai tim investigasi dan kriminal. Seluruh Rean di tugaskan menjaga Abyss. (penjara para penyusup dari dunia kegelapan).

Aku belum bisa mempertemukan kedua main cast di chapter ini. sory.

Mungkin next or nextnya lagi. Yup, seperti yang kalian baca, Luhan menyukai Taeyeon sementara Taeyeon menyukai Kris. dan Kris, kita tahu ia menyukai siapa. ~kekeke

Aku mencantumkan rate M untuk jaga-jaga. Mungkin nanti, aku berencana memprotek ff ini jika itu disetujui oleh main admin.

Untuk endingnya, haruskah aku menjawab pertanyaan kalian? Bukankah kalian nanti juga akan membacanya sendiri? ^^

Biarlah itu menjadi rahasia dari Author.

Silahkan komentarnya.

© RYN

 

Advertisements

115 comments on “Beautiful Creature (Chapter 2)

  1. aduuh taeng eon g’ usah sedih yaa krn kris, kan da luhan yg selalu setia mndmpingi eonni 🙂
    author l tae’y kpn ktemu’y??
    next… 🙂

  2. Pingback: Beautiful Creature (chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Jadi pada cinta segitiga ya semuanya..
    Tenang aja Taeyeon eonni, masih ada Luhan dan L kok hihii

    Tapi Yuri eonni uda pergi 😦 Untung aja Taeyeon tetap tegar..
    Kalau dilihat-lihat Luhan dan Taeyeon lucu juga ya, wkwkk 😁

  4. Pingback: Beautiful Creature (chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Aku udah komen di FF ini atay belum yah ?? /mikir/
    uughh lupa >_< eonni tepat pilih L sebagai pairing Taeng eeonni . nama Couple.nya apa nih? MyungTae apa TaeMyung or TaeSoo? ㅋㅋㅋ
    L agak pervert yadong gimana gitu . bayanginnya bikin merinding/? ㅋㅋ

  6. Wahhh cinta segi 4?menarik,L kejamnyaaaaa,tapi suka karakternya kayak itu,cocok deh wajah L ma karakternya hehehhehe,ga sabar liat L bertemu taeyeon,

  7. akhirnya aku ngerti apa itu rean, guardian, dan fayn *manggutmanggut tp ace itu siapa thor? gak kebayang nih mukanya siapa. tp kedengerennya keren ya 😀 kayaknya cinta di sini bertepuk sebelah tangan semua ya? bomi suka luhan, luhan suka taeyeon, taeyeon suka kris, kris suka yuri. complicated bgt. dan satu pertanyaanku yg paling besar, apa yuri bener2 mati gitu aja? atau oracle itu malah tempat kegelapan?

  8. apakah akan ada cinta segitiga antara L, Taeng, Luhan ?
    wah seru ni #senyumevil
    lalu kris ? bakal tau gk perasaan taeng ?
    eoh, aku menunggu scene yadongnya hihi 😀
    next chapter eonni
    hwaiting 😉

  9. makin seruu ffnya >…< yaampun kasian bgt taeng 😦 jadi bomi suka luhan, luhan suka taeyeon, taeyeon suka kris, kris suka yuri? yaampun rumit bgt cinta mereka. terus itu siapa sih socka nyebelin bgt :v

  10. Emmmmm taeyeon suka sma kris kris suka sama yuri dan luhan suka taeyeon. Terus L dan taeyeon nanyinya saling mencintai apa gmna? Apa hanya taeyeon yang menyukai L dan bagaimna caranya mereka bertemu?
    Aku pernah baca ff ini smpai chap 3 atau 4 klu gk slah tp jujur aku lupa lagi

  11. Pas chapter awal aku masih agak bingung 😒 tapi pas baca ini mulai ngerti dehh 😁 baru momen btw 😉

  12. Ace ? Siapa ace ? Bukan ace age kan thor ? 🔫
    Becanda kok hehehehe
    Mau kasih saran thor kalo bisa jangan gadis gunakan kata kata mainstream kayak ‘merotasikan bola mata’
    Kata itu udah bejibun banget di ff-ff
    Tapi keseluruhan alur sip banget 👍

  13. Taeyeon kasian. oh itu ya devisi 1,2,3 tugasnya. pertama aku bingung karena istilah asing itu dan tugasnya masing masing. entahlah comment ku di baca atau enggak, tapi Eonni aku di kasih pass nya ya? please? Ne? Ne?

  14. Ternyata luhan suka sama taeyeon, tapi taeyeon suka sama kris
    Tapi kris suka sama yuri..
    Benar-benar kisah Cinta yang rumit.. Kkkkk
    Sebenarnya penasaran sama L yang menjadi raja dunia kegelapan
    , dan penasaran sama kai & hoya
    Next chapter ..😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s